• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

5. Hasil Belajar

minimal.

C. Pembatasan masalah

Karena keterbatasan waktu, tenaga dan biaya maka peneliti akan

1. Meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika

melalui model pembelajaran tipe Jigsaw II dengan bantuan media pembelajaran (alat peraga) dan LKS.

2. Peningkatan hasil belajar siswa jika pembelajaran menggunakan model

kooperatif tipe Jigsaw II dengan bantuan media pembelajaran (alat peraga) dan LKS.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah, perumusan masalah dalam

penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimana tingkat keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran

Matematika dengan metode kooperatif tipe Jigsaw II?

2. Bagaimana pengaruh pembelajaran kooperatif tipe “Jigsaw II” pada

pokok bahasan bangun ruang kubus dan balok terhadap hasil belajar

siswa kelas IV SD Kanisius Minggir tahun ajaran 2013/2014.

E. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :

1. Tingkat keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika

dengan metode kooperatif tipe “Jigsaw II” yang diterapkan.

2. Pengaruh pembelajaran kooperatif tipe “Jigsaw II” pada pokok

bahasan bangun ruang kubus dan balok terhadap hasil belajar siswa

F. Definisi Istilah

Agar tidak terjadi kesalahpahaman penafsiran tentang judul

tersebut di atas, maka peneliti perlu memberikan pembatasan dan

penjelasan dari judul penelitian tersebut, yaitu:

1. Belajar

Slameto ( 1995 : 2 ) belajar merupakan suatu proses yang

dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku

yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri

dalam interaksi dengan lingkungannya.

2. Hasil belajar

Hasil belajar menurut Nana Sudjana ( 2010 : 22 ) merupakan

kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima

pengalaman belajarnya.

3. Efektifitas

Efektivitas berasal dari kata efektif yang menurut Kamus Besar

Bahasa Indonesia ( Depdiknas : 2008 ) yang berarti dapat membawa

hasil, berhasil guna ( tentang usaha atau tindakan ). Sehingga

efektifitas dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan yang diperoleh

dari suatu tindakan atau usaha.

4. Pembelajaran kooperatif

Nurhadi dan Gerrad Senduk ( 2003:60 ) pembelajaran kooperatif

mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh

antar sesama siswa sebagai latihan hidup dalam masyarakat nyata.

5. Metode jigsaw

Metode jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran

kooperatif yang menekankan pada aktifitas dan interaksi antar siswa

dalam proses pembelajaran untuk saling memotifasi dan membantu

dalam memahami suatu materi pelajaran.

6. Alat peraga / media pembelajaran

Menurut Djoko Iswadji dalam ( Widyantini dan Sigit Tg, 2010 :

8 ) menjelaskan bahwa alat peraga merupakan seperangkat benda

konkret yang dirancang, dibuat, dan disusun secara sengaja yang

digunakan untuk membantu menanamkan atau mengembangkan

konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika.

7. LKS

LKS merupakan singkatan dari Lembar Kerja Siswa. LKS

digunakan untuk mengukur kemampuan siswa setelah mendapat

penjelasan dari guru tentang materi yang diajarkan.

8. Bangun ruang

Merupakan bangun tiga dimensi baik berongga maupun padat

G. Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut:

1. Bagi Peneliti

Sebagai latihan dalam penyusunan karya ilmiah dan menambah

pengalaman khususnya dalam penerapan metode pembelajaran

kooperatif tipe Jigsaw II pada pembelajaran matematika. 2. Bagi Guru

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi guru

tentang penggunaan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II dengan bantuan alat peraga dan LKS terhadap hasil belajar siswa sehingga

guru dapat menerapkan metode pembelajaran ini dalam menjelaskan

materi tentang bangun ruang balok dan kubus.

3. Bagi Sekolah

Memberi masukan bagi sekolah tentang pentingnya penerapan metode

pembelajaran kooperatife tipe Jigsaw II dengan bantuan alat peraga dan LKS dalam proses pembelajaran sehingga dapat menambah

kemajuan pendidikan khususnya bidang matematika.

4. Bagi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

9 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori

1. Pengertian Belajar

Kegiatan belajar dilakukan oleh semua makluk hidup, mulai dari

kehidupan yang sederhana hingga dalam kehidupan yang paling

kompleks. Jika berbicara mengenai belajar, banyak ahli-ahli pendidikan

yang mencoba mendefinisikan arti belajar, antara lain (Oemar Hamalik,

2003 : 4 ) menjelaskan bahwa definisi belajar merupakan suatu proses

perubahan tingkah laku melalui interaksi antara individu dan lingkungan.

Pendapat lain menjelaskan bahwa belajar merupakan suatu rangkaian

proses psikis yang berlangsung dalam interaksi subjek dengan

lingkungannya yang dapat menghasilkan perubahan-perubahan dalam

pengetahuan, pengalaman dan nilai sikap yang bersifat konstan dan

menetap.

AM Sardiman ( 2000 : 22 ) belajar merupakan perubahan tingkah

laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan

membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya.

Herman Hudoyo (1990:10 ) belajar merupakan suatu proses untuk

mendapatkan pengetahuan atau pengalaman sehingga mampu mengubah

tingkah laku manusia dan tingkah laku tersebut bersifat konstan atau

Dari beberapa pendapat tentang definisi belajar yang sudah

diuraikan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar

merupakan suatu proses berkesinambungan yang dilakukan oleh individu

sehingga menghasilkan perubahan tingkah laku secara keseluruhan, baik

dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai maupun sikap yang

bersifat konstan dan menetap sebagai hasil pengalaman individu itu

sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan.

Dengan memahami kesimpulan di atas, setidaknya belajar

memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a. Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan tingkah laku

tersebut bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor),

maupun nilai dan sikap (afektif).

b. Perubahan tersebut tidak berlangsung sesaat saja, melainkan menetap

atau dapat disimpan.

c. Perubahan itu tidak terjadi begitu saja, melainkan harus dengan usaha.

Perubahan terjadi akibat interaksi dengan lingkungan.

d. Perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan fisik atau

kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh

obat-obatan.

2. Jenis-jenis belajar

Dalam kehidupannya manusia memiliki beragam potensi, karakter,

dilakukan oleh manusia. Gagne 1985 (dalam Udin, 2007:1.9) mencatat

delapan macam tipe belajar yang dilakukan manusia, yaitu:

a. Belajar Isyarat (signal learning), adalaah melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena adanya tanda atau isyarat.

b. Belajar Stimulus Respons(Stimulus-Response Learning), terjadi pada diri individu karena adanya rangsangan dari luar.

c. Belajar Rangkaian (Chaining Learning). Tipe belajar chaining

merupakan cara belajar yang terjadi melalui perpaduan berbagai

proses stimulus respon (S-R) yang telah dipelajari sebelumnya

sehingga melahirkan perilaku yang segera atau spontan seperti konsep

merah-putih, panas-dingin, dan sebagainya.

d. Belajar Asosiasi Verbal (Verbal Association Learning). Tipe ini terjadi bila individu telah mengetahui sebutan bentuk dan dapat

menangkap makna yang bersifat verbal.

e. Belajar Membedakan (Discrimination Learning), tipe belajar ini terjadi bila individu berhadapan dengan benda, suasana, atau

pengalaman yang luas dan mencoba membeda-bedakan hal-hal yang

jumlahnya banyak.

f. Belajar Konsep (Concept Learning), terjadi bila individu menghadapi berbagai fakta atau data yang kemudian ditafsirkan ke dalam suatu

pengertian atau makna yang abstrak.

g. Belajar Hukum atau Aturan (Rule Learning), terjadi bila individu menggunakan beberapa rangkaian peristiwa atau perangkat data yang

terdahulu atau yang diberikan sebelumnya dan menerapkannya atau

menarik kesimpulan dari data tersebut menjadi suatu aturan.

h. Belajar Pemecahan Masalah (Problem Solving Learning), terjadi bila individu menggunakan berbagai konsep atau prinsip untuk menjawab

suatu pertanyaan.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar

Bimo Walgito ( 1980 : 124 ) faktor yang mempengaruhi belajar

adalah faktor anak atau individu yang belajar, faktor lingkungan anak,

dan faktor bahan atau materi yang dipelajari.

a. Faktor anak atau individu yang belajar

Faktor individu merupakan faktor yang penting. Anak suka

belajar atau tidak, tergantung kepada anak itu sendiri. Faktor-faktor

lain telah memenuhi persyaratan, tetapi apabila individu tidak

mempunyai kemauan untuk belajar maka proses belajar itu tidak akan

terjadi. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dari diri anak antara

lain:

1) Faktor fisik

Agar prestasi belajar anak menjadi lebih baik, maka kondisi

fisik siswa harus baik atau sehat. Maka dari itu untuk menjaga

kesehatan badan perlu menjaga aktifitas fisik sebagai selingan

belajar untuk menjaga agar badan selalu berada dalam kondisi

Orang yang memiliki tubuh yang sehat akan mempunyai

pengaruh yang besar terhadap proses belajarnya. Sebaliknya orang

yang kondisi tubuhnya tidak sehat akan berpengaruh tidak baik

terhadap proses belajar yang dilakukannya.

2) Faktor psikis

Setiap individu harus memiliki kesiapan mental dalam

menghadapi tugas yang perlu dipelajari. Kesiapan mental akan

mempengaruhi:

a) Motif, merupakan hal penting dalam manusia untuk berbuat

(kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk

melakukan sesuatu). Dengan motif yang kuat maka anak akan

berusaha menghadapi dan mengerjakan tugas yang telah

diberikan. Ada dua macam motif yaitu : (1) motif intrinsik

adalah motif yang berasal dari dalam diri anak itu sendiri; (2)

motif ekstristik adalah motif yang berasal dari luar individu.

b) Minat, merupakan suatu gejala psikis yang didalamnya

terkandung perasaan senang dan menunjukkan adanya

pemusatan perhatian terhadap suatu objek tertentu.

c) Konsentrasi, merupakan aktivitas yang tertuju pada sesuatu

yang dikehendaki. Seluruh perhatiannya akan dicurahkan

kepada apa yang harus dipelajari, sehingga nantinya dapat

d) Intelegensi, merupakan kemampuan untuk menggunakan dan

mempertahankan kesiapan mental dan merupakan kemampuan

untuk menyesuaikan diri terhadap tujuan yang akan dicapai

dan merupakan kekuatan dari kritik terhadap diri sendiri.

e) Ingatan, merupakan pengulangan terhadap materi atau objek

tertentu agar yang dipelajari tetap dalam ingatan. Pengulangan

sering dilakukan agar materi yang dipelajari itu tetap tinggal

secara mantap didalam ingatan.

b. Faktor lingkungan anak

Dalam proses belajar faktor lingkungan juga memiliki peranan

yang penting. Maka dari itu hal ini harus mendapatkan perhatian yang

sebaik-baiknya. Faktor lingkungan anak ini meliputi :

1) Tempat belajar

Tempat belajar sebaiknya berada dalam kamar atau tempat

tersendiri yang memiliki suasana yang tenang, ventilasi atau

pertukaran udara cukup, dan memiliki penerangan yang cukup,

sehingga dalam belajar perhatian dan konsentrasi dapat terpusat.

2) Alat-alat untuk belajar

Belajar tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya

alat-alat belajar yang memadahi. Semakin lengkap alat-alat-alat-alat belajarnya

maka semakin baik pula kegiatan belajar yang dilakukan anak,

sebaliknya jika alat-alat belajar kurang lengkap maka dapat

3) Suasana belajar

Suasana sangat berhubungan erat dengan tempat belajar.

Hendaknya dapat diciptakan suasana yang baik, karena dalam

suasana yang baik dapat memberikan motivasi yang baik dalam

proses belajar, sehingga mempunyai pengaruh yang baik terhadap

prestasi belajar pada anak.

4) Waktu belajar

Dalam pembagian waktu belajar harus diperhatikan dengan

baik. Belajar harus teratur sesuai dengan waktu yang telah

ditentukan dalam perencanaan. Lamanya waktu tergantung kepada

banyak sedikitnya materi yang dipelajari.

5) Pergaulan anak

Pergaulan anak akan mempunyai pengaruh di dalam proses

belajar anak. Maka dari itu hendaknya dijaga agar anak bergaul

dengan anak-anak yang suka belajar.

c. Faktor bahan atau materi yang dipelajari

Bahan yang dipelajari dapat menentukan bagaimana cara atau

metode belajar apa yang cocok digunakan. Sehingga teknik atau

metode belajar ditentukan atas dasar materi yang akan dipelajari. Cara

belajar tentang pelajaran yang bersifat eksak akan berbeda dengan

cara belajar yang bersifat sosial. Tetapi disamping adanya berbagai

sifat yang berbeda, terdapat juga hal-hal yang bersamaan yang

1) Pada umumnya belajar dengan cara keseluruhan lebih baik dari

pada belajar bagian-bagian. Hal ini berdasarkan prinsip totalitas

karena keseluruhan merupakan kebulatan. Tetapi kalau bahan

terlalu panjang dapat ditempuh dengan kombinasi, yaitu dengan

membagi materi menjadi beberapa bagian tetapi bagian tersebut

masih berupa satu kebulatan.

2) Sebagian waktu belajar disediakan untuk mengadakan ulangan.

Ulangan ini digunakan untuk mengecek sampai dimana bahan

yang sudah dipelajari dapat tinggal di dalam ingatan.

3) Apa yang sudah dipelajari hendaknya diadakan kegiatan ulangan

sesering mungkin. Semakin sering diulang maka bahan yang

dipelajari akan semakin baik tinggal dalam ingatan.

4) Di dalam mengulangi bahan pelajaran yang sudah dipelajari

hendaknya dipakai spaced repetition yaitu mengulangi dengan waktu tenggang. Dalam metode ini seorang anak memiliki energi

yang baru setelah istirahat sebentar.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada berbagai macam

faktor yang dapat mempengaruhi proses belajar yang dilakukan oleh

anak. secara garis besar ada lima faktor yang dapat mempengaruhi proses

belajar anak, yaitu: faktor anak yang belajar, faktor lingkungan anak,

faktor materi yang dipelajari, faktor yang bersumber dari kepribadian

siswa, dan faktor yang menyangkut sifat pendidikan. Jika semua faktor

Akan tetapi jika salah satu faktor tidak terpenuhi maka akan mengganggu

proses belajar yang dilakukan oleh anak. Misalnya faktor lingkungan

anak tidak terpenuhi; tempat belajar yang kotor, perlengkapan belajar

yang sangat minim, dan suasana yang tidak mendukung. Keadaan seperti

ini dapat mengganggu proses belajar anak dan dapat berakibat tidak

maksimalnya proses belajar anak.

4. Teori Belajar Menurut Ausubel, Jean Piaget, dan Jerome Bruner

Dalam penelitian ini, pemilihan alat peraga dan metode

pembelajaran yang digunakan didasari oleh teori Ausubel, Piaget, dan

Bruner. Teori Ausubel (Brownel dan Chazal) menyatakan bahwa

pembelajaran bermakna dalam proses pembelajaran matematika sangat

penting adanya. Kebermaknaan dalam suatu pembelajaran akan

menimbulkan pembelajaran lebih menarik, lebih bermanfaat, dan lebih

menantang sehingga konsep matematika akan bertahan lama dalam

ingatan peserta didik. Dengan demikian pada saat dibutuhkan, siswa

dapat dengan mudah menggali memori yang telah tertanam dalam

ingatannya.

Teori lain yang menjadi dasar pemilihan alat peraga dan metode

yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori perkembangan

intelektual menurut Jean Piaget yang manyatakan bahwa kemampuan

yang dimiliki seorang anak berkembang secara bertingkat dan bertahap,

a. Sensori motor, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi

pada usia 0 sampai 2 tahun.

b. Pra-operasional, yakni perkembangan ranah kognitif yang

terjadi pada usia 2 sampai 7 tahun.

c. Operasional konkret, yakni perkembangan ranah kognitif yang

terjadi pada usia 7 sampai 11 tahun.

d. Operasional, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi

pada usia lebih dari 11 tahun. (Udin Winataputra, 2007:3.40)

Teori ini merekomendasikan perlunya seorang guru mengamati

tingkat perkembangan intelektual pada anak sebelum suatu bahan ajar

matematika diberikan. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan keabstrakan

bahan ajar matematika dengan kemampuan berpikir anak pada saat itu.

Berdasarkan teori ini peneliti memutuskan untuk memilih alat

peraga dan metode kooperatif. Hal ini karena anak kelas IV SD berada

pada masa operasional konkret yang mengharuskan untuk membawa

materi yang bersifat konkret atau nyata. Sehingga seorang guru dituntut

agar mau dan mampu mewujudnyatakan hal-hal yang akan dipelajari

siswa agar siswa semakin tertarik mengikuti pembelajaran dan

memahami materi yang dipelajari.

Teori perkembangan mental dari Jarome Bruner juga menjadi

acuan peneliti dalam memilih alat peraga dan metode yang digunakan.

secara bertahap mulai dari sederhana hingga rumit, mulai dari yang

mudah menuju hal yang sulit, dan mulai dari yang nyata ke yang abstrak.

Tahap tingkat perkembangan mental anak menurut Jarome Bruner

adalah sebagai berikut:

1. Enactive ( menipulasi objek langsung ) 2. Iconic ( manipulasi objek tidak langsung ) 3. Symbolic ( manipulasi symbol )

Dalam hal ini anak kelas IV SD berada dalam situasi enactive yang artinya matematika lebih banyak diajarkan dengan manipulasi objek

langsung dengan memanfaatkan berbagai benda yang terdapat di sekitar

siswa seperti buku, mistar, tempat pensil, dan benda-benda lain yang ada

disekitar siswa.

Dari uraian di atas, jadi jelas kiranya jika dalam penelitian ini

peneliti memilih dan memutuskan menggunakan alat peraga berupa

kubus dan balok, kerangka kubus dan balok, serta jaring-jaring kubus dan

balok. Metode yang digunakan adalah metode kooperatif tipe Jigsaw II yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan yang dialami di kelas IV

SD Kanisius Minggir, agar siswa mendapatkan gambaran yang lebih jelas

tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses mengatur sesuatu,

proses membuat sesuatu, proses bekerjanya sesuatu, proses mengerjakan

atau menggunakannya, komponen yang membentuk sesuatu, serta untuk

5. Hasil belajar

Hasil belajar merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam

proses pembelajaran. Hamalik (2001:31) menyatakan bahwa hasil-hasil

belajar diterima oleh murid apabila memberikan kepuasan pada

kebutuhannya dan berguna baginya. Hasil belajar yang utama adalah pola

tingkah laku yang bulat. Nana Sudjana (2009:22) mendefinisikan hasil

belajar yaitu kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia

menerima pengalaman belajarnya. Howard Kingsley (dalam Nana

Sudjana, 2009:22) membagi hasil belajar menjadi tiga macam, yaitu:

ketrampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, sikap dan

cita-cita.

Menurut Nana Sudjana (1987:49) hasil belajar merupakan

perubahan tingkah laku siswa yang luas mencakup bidang kognitif,

afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dalam didang kognitif merupakan

hasil belajar yang menunjukkan kemampuan siswa mengenai penguasaan

intelektualnya, berawal dari tidak bisa menjadi bisa. Sedangkan hasil

belajar dalam bidang afektif menunjukkan perubahan sikap atau nilai dan

hasil belajar dalam bidang psikomotorik adalah hasil belajar yang

ditunjukkan lewat kemampuan berperilaku atau ketrampilan dalam

bertindak. Sedangkan Gagne (dalam Nana Sudjana, 2009:22) membagi

hasil belajar menjadi lima kategori, yaitu: informasi verbal, ketrampilan

Benyamin Bloom (dalam Nana Sudjana, 2009) secara garis besar

membagi hasil belajar ke dalam tiga ranah, yaitu: ranah kognitif, ranah

afektif, dan ranah psikomotoris. Ranah kognitif berkaitan dengan hasil

belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu: pengetahuan,

pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Ranah afektif

berhubungan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yaitu:

penerimaan, jawaban dan reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.

Sedangkan ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar

keterampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri dari enam aspek,

yaitu: gerakan refleks, ketrampilan gerakan dasar, kemampuan

perceptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan

kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif.

Dari beberapa teori di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar

merupakan hasil yang dicapai dari proses hasil pembelajaran sesuai

dengan tujuan pendidikan, dimana manusia yang belajar mengalami

perubahan perilaku yang meliputi tiga aspek, yaitu: aspek kognitif, aspek

afektif, dan aspek psikomotorik.

Dalam kegiatan penelitian ini peneliti membatasi hasil belajar

sebagai kemampuan intelektual anak yaitu pada bidang kognitif yang

diukur dengan penggunaan tes. Winkel (1986:315) menjelaskan tentang

dua jenis tes yaitu tes formatif dan tes sumatif. Tes formatif merupakan

tes yang dilakukan selama proses belajar mengajar masih berlangsung,

telah dicapai. Sedangkan tes sumatif adalah tes yang dilakukan guna

memperoleh informasi mengenai penguasaan pelajaran yang telah

direncanakan sebelumnya dalam suatu program pengajaran. Oleh karena

itu, tes sumatif merupakan pengukuran akhir dalam suatu periode

pengajaran.

Dokumen terkait