• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tiap aspek dalam penilaian afektif maupun psikomotorik dapat

4.2.2. Hasil Belajar Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik

4.2.2.1.Hasil Belajar Kognitif

Perlakuan berbeda antara kelas eksperimen dan kelas kontrol memberikan hasil belajar kognitif yang berbeda yang diukur dengan post test di akhir pertemuan. Hal ini disebabkan karena kelas eksperimen mendapat tambahan modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry untuk membantu proses belajar mandiri siswa, sedangkan kelas kontrol tidak memiliki modul baik dari peneliti maupun dari sekolah. Rata-rata post test yang diperoleh kelas eksperimen yaitu 84,277 sedangkan kelas kontrol memperoleh 78,039 dengan rentang nilai yaitu 35. Rentang nilai post test antara kelas eksperimen dan kelas kontrol sebesar 6,238. Lebih jelasnya lihat Gambar 4.1.

Gambar 4.1. Diagram Hasil Belajar Ranah Kognitif

Hasil post test yang telah dianalisis dengan uji normalitas dan kesamaan dua varians, menunjukkan bahwa data berdistribusi normal dan memiliki varian yang sama. Analisis dilanjutkan dengan uji hipotesis untuk mengetahui pengaruh penggunaan modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry. Berdasarkan analisis terhadap pengaruh variabel menggunakan Koefisien korelasi biserial dan Koefisien determinasi diperoleh penggunaan modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry berpengaruh terhadap hasil belajar siswa sebesar 26,32%. Pengaruh sebesar 26,32% dihasilkan karena masih ada beberapa siswa dari kelas eksperimen yang merasa kesulitan untuk belajar secara mandiri menggunakan modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry. Hal ini disebabkan karena siswa dalam satu kelas memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga tipe belajar mereka juga tidak sama. Kebanyakan orang mampu belajar dengan ketiga tipe (visual, auditorial, dan kinestetik), namun hampir semua orang cenderung pada salah satu tipe belajar saja (Bandler & Grinder dalam DePorter, 2010: 123). Sebagian besar siswa kelas eksperimen yang lain memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Kelas Penelitian Eksperimen Kontrol

mandiri menggunakan modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry. Hal ini dibuktikan dengan uji perbedaan dua rata-rata hasil belajar.

Uji perbedaan dua rata-rata hasil belajar menggunakan satu pihak kanan, sehingga kesimpulan yang diperoleh adalah rata-rata post test siswa kelas eksperimen lebih baik dari kelas kontrol. Sesuai dengan pernyataan Mulyasa (2004: 99), keberhasilan kelas dapat dilihat dari sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa yang ada di kelas tersebut telah mencapai ketuntasan individu, yaitu 76. Maka kelas eksperimen dapat dikatakan telah memperoleh keberhasilan kelas dengan persentase ketuntasan belajar klasikal sebesar 93,33%, sedangkan kelas kontrol hanya memperoleh 80% sehingga belum mencapai ketuntasan belajar klasikal.

Kelas eksperimen dan kelas kontrol keduanya mendapatkan inquiry based learning, namun hasil belajar kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Hal ini disebabkan karena kelas eksperimen diberi modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry sedangkan kelas kontrol tidak menggunakan modul. Modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry yang memiliki tampilan yang menarik dan bersifat baru bagi siswa, membuat siswa lebih termotivasi untuk belajar secara mandiri.

Belajar secara mandiri menjadi faktor penting dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Materi pelajaran yang banyak kurang seimbang dengan alokasi waktu yang tersedia. Terlebih lagi, pada semester genap ini jadwal pelajaran kelas X sering terganggu dengan program kelas XII yang menyebabkan siswa harus belajar mandiri di rumah. Penggunaan modul

Chemistry Magazine berbasis Inquiry yang memiliki tampilan yang menarik mampu membantu proses belajar mandiri siswa, sehingga di dalam kelas siswa menjadi lebih siap belajar dan mengeksplorasi pengetahuannya. Modul termasuk media cetak. Penggunaan media dalam pembelajaran dapat melibatkan panca indera yang lebih banyak, sesuai dengan pernyataan Magnesen, sebagaimana dikutip oleh DePorter (2010: 94), 90% hasil belajar yang kita serap bersumber dari apa yang kita katakan dan lakukan. Pada kelas kontrol, siswa kurang termotivasi untuk belajar mandiri karena tidak adanya modul dan tugas yang diberikan dari guru kurang menarik bagi siswa. Tipe belajar siswa pada kelas kontrol lebih cenderung pada audio, sehingga mereka lebih suka mendengarkan di dalam kelas daripada mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Hal ini tentunya juga mempengaruhi hasil belajar siswa kelas kontrol.

4.2.2.2.Hasil Belajar Afektif

Hasil belajar afektif merupakan hasil belajar yang berhubungan dengan sikap siswa selama pembelajaran. Tujuan pembelajaran ini berhubungan dengan perasaan, sikap, minat, nilai, penghargaan, dan penyesuaian diri, mencakup lima tingkatan yaitu menerima, merespon, menilai, dan mengamalkan. Penilaian aspek afektif dilakukan dengan melakukan pengamatan selama pembelajaran di kelas. Pengamat dalam penelitian ini berjumlah tiga orang, hal ini bertujuan untuk memperkecil kesalahan pengamat dan nilai yang dihasilkan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Penilian dilakukan dengan menggunakan lembar

pengamatan yang didalamnya terangkum aspek afektif yang dinilai beserta rubriknya.

Kelas eksperimen memperoleh persentase nilai rata-rata sebesar 85,1% dengan predikat yang diperoleh berdasarkan kriteria adalah sangat baik. Kelas kontrol hanya memperoleh presentase nilai rata-rata sebesar 74,72% dengan predikat baik. Hasil ini diperoleh dari rata-rata nilai tiap aspek dari ketiga pengamat. Lebih jelasnya lihat Gambar 4.2.

Gambar 4.2. Diagram Hasil Belajar Ranah Afektif Keterangan :

1 : Kehadiran dalam mengikuti pelajaran. 2 : Keantusiasan mengikuti KBM.

3 : Mampu membuat hipotesis setelah diskusi. 4 : Kerjasama dalam kelompok.

5 : Disiplin dalam mengumpulkan tugas. 6 : Kerapian pakaian.

Aspek kerapian pakaian dari keenam aspek penilaian afektif menjadi aspek yang memperoleh nilai tertinggi dengan kategori sangat tinggi, baik dari

0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 4.50 1 2 3 4 5 6 R ata -r ata n il ai tiap asp e k

Aspek penilaian afektif

Ekperimen Kontrol

kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Berdasarkan Gambar 4.2., dapat dilihat pada aspek kerapian, selisih nilai kelas eksperimen dan kelas kontrol hanya sedikit. Siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol selalu berpakaian rapi setiap harinya, hal ini mencerminkan sikap peduli pada diri sendiri dan patuh pada aturan sekolah yang berlaku. Apabila siswa tidak mematuhi aturan sekolah, maka siswa akan mendapat poin pelanggaran. Aturan sekolah inilah yang menjadi salah satu motivasi siswa untuk berpakaian rapi.

Kelas eksperimen dan kelas kontrol juga mendapat kategori sangat tinggi untuk aspek kehadiran dalam mengikuti pelajaran. Jadwal pelajaran kimia untuk kelas eksperimen adalah pada hari Senin dan Rabu, keduanya dimulai setelah jam istirahat. Sebagian besar siswa kelas eksperimen tidak terlambat, bahkan banyak diantaranya sudah berada di dalam kelas sebelum guru datang. Kelas kontrol mendapat pelajaran kimia pada hari Selasa dan Kamis. Pada hari Selasa, mata pelajaran kimia dijadwalkan pada jam ke-5 setelah mata pelajaran yang lain, sehingga tidak ada siswa yang terlambat dalam mengikuti pelajaran. Jadwal pelajaran kimia pada hari Kamis dijadwalkan setelah jam istirahat ke-2, sehingga membuat beberapa siswa masih terlambat namun sebagian besar sudah berada di kelas sebelum pelajaran dimulai.

Fakta ini menunjukkan bahwa keantusiasan siswa tinggi untuk mengikuti pelajaran kimia. Selama kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung, siswa kelas eksperimen dan kontrol juga menunjukkan keantusiasannya yang dibuktikan dengan perolehan kategori tinggi untuk kelas

eksperimen dan kelas kontrol pada aspek keantusiasan mengikuti KBM. Sikap siswa yang bekerja keras, kreatif, komunikatif, dan rasa ingin tahu muncul selama KBM berlangsung. Inquiry based learning mengajak siswa untuk memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Menurut Price (sebagaimana dikutip dalam Shih, 2010: 51), dalam inquiry based learning, siswa tidak hanya mengembangkan pemahaman yang mendalam, namun mereka juga belajar bagaimana caranya belajar. Artinya, siswa diajak membuat self concept yang membuat mereka nyaman dengan konsep belajarnya sendiri.

Berdasarkan hasil penilaian aspek keantusiasan mengiktui KBM, kelas eksperimen sudah cukup mampu beradaptasi dengan pembelajaran yang diterapkan selama penelitian. Kedisiplinan siswa juga muncul ketika siswa harus mengumpulkan tugas, sehingga aspek kedisiplinan dalam mengumpulkan tugas memperoleh kategori sangat tinggi, sedangkan kelas kontrol hanya memperoleh kategori tinggi dengan selisih nilai antara kelas eksperimen dan kontrol cukup tinggi. Kelas kontrol memperoleh nilai yang lebih rendah karena tidak adanya modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry yang membuat siswa mengerjakan tugas dengan menyenangkan.

Kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki perbedaan nilai yang besar pada aspek mampu membuat hipotesis setelah diskusi. Sebagian besar siswa kelas eksperimen hanya mampu membuat hipotesis yang tepat dengan bantuan guru, sedangkan kelas kontrol dalam membuat hipotesis banyak yang kurang tepat meskipun sudah dibantu guru. Ini merupakan pengaruh dari penggunaan modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry. Siswa kelas

eksperimen yang menggunakan modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry sudah terbiasa untuk membuat hipotesis sendiri dalam menjawab pertanyaan. Di dalam modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry terdapat pengetahuan-pengetahuan baru yang penyusun kumpulkan dari berbagai sumber. Penyusun juga memasukkan alamat sumber agar pengguna modul dalam penelitian ini adalah siswa kelas eksperimen, terpancing untuk mengaksesnya dan mendapatkan informasi tambahan. Pengaruhnya terlihat pada kelas eksperimen legih banyak bertanya daripada kelas kontrol, sehingga kelas kontrol kurang mengeksplorasi pengetahuan mereka.

Pada aspek kerjasama dalam kelompok, kedua kelas memperoleh kategori tinggi dengan nilai yang hampir sama. Diskusi pada kedua kelas berlangsung dengan baik, siswa tampak aktif dalam bertukar pikiran dengan teman, namun beberapa siswa belum memunculkan sikap percaya diri dalam mengutarakan pendapatnya. Hal ini karena beberapa siswa kurang memperdalam pemahamannya pada materi Reaksi Oksidasi dan Reduksi. Waktu penelitian yang tidak kontinu karena sering terpotong untuk kegiatan siswa kelas XII menyebabkan siswa lupa dengan materi yang telah dipelajari sebelumnya.

Hasil belajar afektif kelas kontrol memang lebih rendah daripada kelas eksperimen, namun kedua kelas sudah termasuk memperoleh hasil yang baik pada aspek ini. Hal ini berarti bahwa inquiry based learning memberikan pengaruh yang baik pada sikap siswa selama pembelajaran. Menurut Keller yang dikutip oleh Wena (2012: 37), untuk membangkitkan rasa ingin tahu

siswa dan memperhatikan dalam pembelajaran, dapat dilakukan dengan menggunakan sesuatu yang baru, mengherankan, atau peristiwa-peristiwa pembelajaran yang tidak menentu. Inilah yang menjadi dasar pemikiran mengapa kelas eksperimen lebih unggul daripada kelas kontrol karena kelas eksperimen menggunakan modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry, yang merupakan hal baru dalam pembelajaran kimia. Modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry dapat membantu siswa ketika belajar secara mandiri.

4.2.2.3.Hasil Belajar Psikomotorik

Tujuan pembelajaran ranah psikomotorik menunjukkan adanya kemampuan fisik, seperti keterampilan motorik dan syaraf. Terdapat lima aspek yang dinilai untuk hasil belajar psikomotorik. Penilaian diambil ketika siswa diberi demonstrasi pengenalan reaksi oksidasi dan reduksi. Jumlah pengamat yang melakukan penilaian psikomotorik sama dengan penilaian afektif, yaitu berjumlah tiga pengamat. Kelas eksperimen memperoleh persentase nilai rata-rata sebesar 85,83%, sedangkan kelas kontrol memperoleh 82,56%. Nilai yang dihasilkan oleh kelas eksperimen dan kontrol tergolong sangat baik. Hal tersebut dikarenakan kegiatan demonstrasi secara otomatis menjadi daya tarik bagi siswa yang sesuai dengan pernyataan Bruce : ”Experimenting and gathering data are essential to science course and are usually interesting to students” (praktikum dan pengumpulan data merupakan sesuatu yang penting dalam sains dan biasanya menarik bagi siswa). Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4.3.

Gambar 4.3. Diagram Hasil Belajar Ranah Psikomotorik Keterangan :

1 : Mengamati demonstrasi dari guru. 2 : Mencoba melakukan praktikum. 3 : Keterampilan menggunakan alat. 4 : Kebersihan tempat dan alat.

5 : Menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan hasil percobaan. Aspek mengamati demonstrasi guru menjadi aspek dengan nilai tertinggi diantara keempat aspek yang lain yang diperoleh oleh kelas eksperimen dan kelas kontrol. Demonstrasi menjadi kegiatan pada pertemuan pertama untuk materi Reaksi Oksidasi dan Reduksi, sehingga keingintahuan siswa yang besar membuatnya mengamati dengan teliti dan cermat. Agar pengetahuan menjadi bermakna, maka siswa tidak hanya mengamati namun juga diberi kesempatan untuk mencoba melakukan praktikum.

Baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol membentuk kelompok menjadi lima kelompok. Masing-masing kelompok diminta mewakilkan dua temannya untuk mencoba melakukan praktikum. Pada aspek ini, kelas eksperimen memperoleh nilai yang lebih tinggi daripada kelas kontrol, yaitu

0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 1 2 3 4 5 rata -r ata sko r aspek psikomotorik Eksperimen Kontrol

3,47 dengan kategori sangat tinggi sedangkan kelas kontrol memperoleh 3,13 dengan kategori tinggi. Kelemahan pada kelas kontrol adalah sebagian siswa terutama siswa putra kurang santun ketika mencoba melakukan praktikum. Siswa saling berkomentar sehingga acap kali muncul kata-kata kasar yang tidak sesuai dengan karakter bangsa.

Menurut Raiser & Gagne dalam Wena (2012: 100), keterampilan kerja hanya dapat diajarkan dengan baik apabila mereka dilatih secara langsung dengan peralatan sebenarnya. Cara menggunakan alat-alat praktikum harus dilatih secara langsung melalui praktikum atau demonstrasi agar siswa memiliki keterampilan dalam bekerja di laboratorium. Kelas eksperimen dan kelas kontrol baru dua kali memperoleh kegiatan demonstrasi, meskipun demikian siswa mampu menggunakan alat dengan tepat pada fungsinya. Hal ini dikarenakan peralatan yang dipakai untuk demonstrasi merupakan peralatan yang sederhana. Kedua kelas memperoleh kategori tinggi dalam aspek ini yaitu 3,13 untuk kelas eksperimen dan 3,08 untuk kelas kontrol. Ketika mencoba melakukan praktikum, siswa juga dinilai kebersihan tempat dan alat praktikum. Untuk aspek ini, kedua kelas memperoleh nilai yang sama yaitu 3,58 dengan kategori sangat tinggi. Hal ini juga berarti bahwa siswa memiliki rasa peduli pada lingkungannya. Kepedulian terhadap lingkungan yang merupakan salah satu nilai dari karakter bangsa ini terkait dengan pembelajaran pada awal siswa menerima mata pelajaran di semester gasal, siswa sudah menerima tata cara bekerja di laboratorium.

Pada aspek terakhir yaitu menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan hasil percobaan, kedua kelas memperoleh kategori kategori tinggi, namun kelas eksperimen mendapatkan nilai lebih tinggi dari kelas kontrol. Siswa kelas eksperimen mampu menarik kesimpulan dan mengkomunikasikannya dengan cepat, benar, berani, dan percaya diri. Kelas kontrol masih harus diberi petunjuk lain oleh guru dalam menarik kesimpulan. Kedua kelas tidak memiliki selisih nilai yang besar karena mereka tampak antusias ketika mengamati demonstrasi. Keantusiasan inilah yang mendorong siswa mampu menarik kesimpulan dan mengkomunilasikannya.

Kelas eksperimen dan kelas kontrol memperoleh hasil belajar psikomotorik yang sangat baik, yang berarti bahwa kegiatan demonstrasi yang dilakukan berhasil dengan baik. Kegiatan demonstrasi ini berpengaruh terhadap kegiatan belajar mengajar berikutnya, karena dengan demonstrasi mampu melatih siswa untuk membuat hipotesis sendiri, selain itu juga membuat siswa lebih tertarik untuk mempelajari materi Reaksi Oksidasi dan Reduksi.

4.2.2.4.Hasil Angket Tanggapan Siswa

Angket tanggapan siswa disebarkan pada kelas eksperimen untuk mengetahui penerimaan siswa pada penggunaan modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry. Selain itu, angket juga digunakan oleh peneliti sebagai refleksi pada penelitian yang telah dilakukan. Dalam pengisisan lembar angket, siswa tidak diminta untuk menuliskan namanya namun hanya ditulis jenis kelaminnya saja. Sistem ini bertujuan agar siswa tidak canggung dalam

menuliskan pendapatnya, sehingga hasil angket tidak mengada-ada dan dapat dipertanggungjawabkan. Angket memiliki tingkatan respon mulai dari sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Angket diberikan pada pertemuan terakhir setelah kegiatan post test. Hasil angket tanggapan dapat dilihat pada Gambar 4.4.

Gambar 4.4. Diagram Hasil Angket Tanggapan Siswa Keterangan :

1 : Proses pembelajaran selama penelitian ini menyenangkan.

2 : Dengan menggunakan modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry saya termotivasi untuk belajar lebih giat.

3 : Dengan menggunakan modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry, membantu saya untuk belajar mandiri.

4 : Dengan menggunakan modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry membuat suasana belajar lebih menyenangkan.

5 : Dengan menggunakan modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry, konsep materi reaksi oksidasi dan reduksi menjadi lebih mudah dan menyenangkan.

6 : Dengan menggunakan modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry membuat saya aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran. 7 : Modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry hendaknya

digunakan dan dikembangkan pada anak-anak SMA. 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 1 2 3 4 5 6 7 % J u m lah Re spo n d en

Pernyataan dalam Angket

SS

S TS STS

Hasil angket menyatakan bahwa sebagian siswa memilih sangat setuju sedangkan sisanya memilih setuju untuk pernyataan proses penelitian berlangsung dengan menyenangkan. Proses penelitian yang berlangsung menyenangkan tentunya tidak lepas dari metode pembelajaran yang diterapkan oleh peneliti. Dari hasil penyebaran angket juga mengindikasi bahwa siswa merasa senang dan lebih mudah memahami materi Reaksi Oksidasi dan Reduksi dengan menggunakan modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry.

Pembelajaran berbasis inquiry memberi dorongan untuk meningkatkan rasa ingin tahu siswa, sedangkan modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry memberi bantuan pada siswa untuk lebih mudah memahami materi Reaksi Oksidasi dan Reduksi dan membuat proses belajar menjadi menyenangkan. Hal ini disebabkan karena modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry memiliki tampilan unik yang mampu mendorong emosi siswa untuk menarik minat dalam mempelajarinya. Menurut Goleman, sebagaimana dikutip dalam DePorter (2010: 53), tanpa keterlibatan emosi, kegiatan saraf otak kurang mampu merekatkan pelajaran dalam ingatan. Modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry didalamnya terdapat pengetahuan tentang reaksi reduksi dan oksidasi dalam kehidupan nyata yang baru dan berbeda dari buku-buku siswa.

Sebanyak 86,66% siswa merasa penggunaan modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry membantunya belajar secara mandiri, namun 13,33% siswa tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Siswa yang tidak setuju pada pernyataan tersebut adalah siswa yang masih kesulitan untuk diajak belajar

secara mandiri. Siswa yang demikian, harus mendapatkan bimbingan yang lebih banyak agar mereka mampu mengembangkan pola berfikirnya. Beberapa siswa juga merasa penggunaan modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry belum memotivasi mereka untuk belajar lebih giat dan aktif dalam pembelajaran di kelas. Sebanyak 3,33% siswa juga tidak setuju dengan pengembangan modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry. Hasil analisis angket menunjukkan jumlah siswa yang memilih tidak setuju hanya sedikit, namun hal ini menjadi kritik yang membangun bagi peneliti untuk meningkatkan kualitas modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry sehingga nantinya akan menjadi modul yang berkualitas bagi siswa. Berikut disajikan beberapa potongan halaman dari modul Chemistry Magazine berbasis Inquiry.

Dokumen terkait