• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORETIK, KERANGKA BERPIKIR DAN

A. Landasan Teoretik

2. Hasil Belajar Matematika

2. Hasil Belajar Matematika a. Pengertian Hasil Belajar

Dari proses belajar maka akan menghasilkan hasil belajar. Selama ini hasil belajar merupakan cerminan dari keberhasilan proses belajar yang dilakukan. Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya, yaitu ”hasil” dan ”belajar”. Pengertian hasil (product) menunjuk pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional.17

Menurut pendapat Nana Sudjana bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.18 Sedangkan Soedijarto mendefinisikan hasil belajar sebagai tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang diterapkan.19 Tingkat penguasaan atau hasil yang diperoleh dari proses belajar adalah perubahan-perubahan dalam berbagai aspek yaitu aspek berpikir (cognitive), aspek kemampuan merasakan (afective) dan aspek keterampilan (psychomotoric).

Ketiga aspek hasil belajar tersebut diklasifikasi oleh Benyamin Bloom secara garis besar terbaginya menjadi tiga ranah, yaitu:20

1) Ranah kognitif (al-Nahiyah al-Fikriyah)

Dari ketiga aspek hasil belajar tersebut aspek kognitiflah yang paling sering digunakan untuk mengukur hasil belajar. Menurut

17

Purwanto, Evaluasi Hasil Belaja, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), Cet. I, h. 44.

18

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya, 2004), Cet.IX, h. 22.

19

Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, ...h. 46.

20

Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), Cet I, Ed. 1, h. 49.

jenjang yaitu mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan menciptakan (berkreasi).21

Keenam jenjang tersebut adalah sebagai berikut:

a) Mengingat (C1) adalah mengingat kembali pengetahuan yang pernah tersimpan Mengingat ini merupakan proses berpikir yang paling rendah.

b) Memahami (C2) adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Seorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan kata-katanya sendiri.

c) Menerapkan (C3) adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori, dan sebagainya, dalam situasi baru dan konkret.

d) Menganalisis (C4) adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan diantara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan yang lain.

e) Mengevaluasi (C5) adalah menguraikan bahan/materi kedalam berbagai bagiannya dan menentukan bagaimana antar bagian terkait satu dengan lainnya serta bagaimana keseluruhan terpadu dalam mencapai tujuan.

f) Menciptakan/berkreasi (C6) adalah membuat penilaian sesuatu berdasarkan standar atau kriteria. Kata kunci dari berkreasi adalah

21

Richard I. Arends, Learning to Teach-Belajar untuk mengajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), Ed.7, h.85.

menemukan, memperbaharui, menyempurnakan, memperkuat, dsb

Gambar 1. Dimensi Kognitif Dalam Taksonomi Bloom Yang Telah Direvisi

(Sumber: http://www.hilman.web.id)

Dari berbagai aspek dan setelah melalui revisi, taksonomi Bloom tetap menggambarkan suatu proses pembelajaran, cara kita memproses suatu informasi sehingga dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa prinsip didalamnya adalah :22

Sebelum kita memahami sebuah konsep maka kita harus mengingatnya terlebih dahulu.

Sebelum kita menerapkan maka kita harus memahaminya terlebih dahulu.

Sebelum kita mengevaluasi dampaknya maka kita harus mengukur atau menilai.

Sebelum kita berkreasi sesuatu maka kita harus mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis dan mengevaluasi, serta memperbaharui.

22

n.n, “Revisi Taksonomi Bloom atau Revised Bloom Taxonomy” darii

http://www.hilman.web.id/posting/blog/852/revisi-taksonomi-bloom-atau-revised-bloom-taxonomy.html, 6 mei 2010, 15:14 WIB.

Evaluasi Sintesis Analisis Aplikasi Pemahaman Ingatan Level tinggi Level rendah Evaluasi Analisis Level tinggi Level Aplikasi Pemahaman Ingatan rendah Kreasi

Taksonomi untuk daerah afektif mula-mula dikembangkan oleh David R. Krathwohl dan kawan-kawan (1974) dalam buku yang berjudul Taxonomy of Educational Objectives: Afective Domain.

Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku.

3) Ranah Psikomotor (Nahiyah al-harakah)

Ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar ranah psikomotor dikemukakan oleh Simpson (1956) yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan hasil belajar kognitif dan afektif. Hasil belajar kognitif dan afektif akan menjadi hasil belajar psikomotor apabila peserta didik telah menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan afektifnya.

Adapun hasil belajar itu dikatakan benar-benar baik, apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut:23

1) Hasil itu tahan lama dan dapat digunakan dalam kehidupan oleh siswa. Dalam hal ini guru akan senantiasa membimbing dan melatih siswanya dengan baik. Jika hasil pengajaran yang diberikan itu tidak tahan lama, berarti pengajaran tersebut tidak efektif.

23

Sardiman A.M., Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2009), Ed. 1, h. 49.

Pengetahuan yang didapat dari proses pengajaran itu merupakan bagian dari kepribadian setiap siswa. Sehingga akan mempengaruhi pandangannya dalam menghadapi suatu permasalahan. Sebab pengetahuan yang didapat dirasakan lebih bermakna oleh siswa.

Bukti bahwa seseorang itu telah belajar adalah terjadinya perubahan dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Hasil belajar merupakan pencapaian tujuan pendidikan pada siswa yang mengikuti proses belajar. Selain itu hasil belajar merupakan realisasi tercapainya tujuan pendidikan, sehingga hasil belajar yang diukur tergantung kepada tujuan pendidikannya.

2 Insrtumental input/ Masukan alat 1 4 5 6 Raw input/ Masukan mentah Hasil langsung Hasil akhir Proses pengajaran 3 Lingkungan

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Pada proses belajar mengajar tentunya ada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Untuk mengetahui faktor-faktor tersebut maka perlu dianalisis, untuk menemukan persoalan-persoalan apa yang terlibat di dalam kegiatan belajar. Kegiatan belajar mengajar dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2. Proses belajar mengajar

1. Masukan mentah/ raw input: siswa/subjek belajar.

2. Masukan alat/ instrumental input, terdiri: tenaga, fasilitas, kurikulum, sistem administrasi dan lain-lain.

3. Lingkungan: antara lain keluarga, masyarakat, sekolah.

4. Proses pengajaran, merupakan proses interaksi anatara unsur

raw input, instrumental input dan juga pengaruh lingkungan. 5. Hasil langsung: merupakan tingkah laku siswa setelah belajar

melalui proses belajar-mengajar, sesuai dengan materi/bahan yang dipelajarinya.

6. Hasil akhir: merupakan sikap dan tingkah laku siswa setelah ada dalam masyarakat.

Siswa dalam hal ini sebagai subjek belajar yang diberi pengalaman belajar dalam proses pengajaran. Proses belajar mengajar dapat dipengaruhi oleh masukan mentah/ raw input, masukan alat/

instrumental input dan lingkungan. Siswa sebagai raw input

mempunyai karakteristik, baik fisiologis maupun psikologis. Yang dimaksud fisiologis adalah bagaimana kondisi fisiknya, panca indera dan sebagainya. Sedangkan yang termasuk psikologis adalah minatnya, tingkat kecerdasannya, bakatnya, motivasinya, kemampuan kognitifnya dan sebagainya. Karakteristik yang dimiliki siswa juga dapat mempengaruhi proses serta hasil belajarnya.

Selain itu, yang mempengaruhi proses serta hasil belajar adalah

instrumental input dan lingkungan. Yang termasuk instrumental input

adalah tenaga, fasilitas, kurikulum, sistem administrasi dan lain-lain.

Instrumental input inilah yang sangat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Karena instrumental input yang sangat menetukan bagaimana proses belajar mengajar dirasakan oleh siswa.

Setelah proses pengajaran berlangsung maka ada sesuatu yang dihasilkan. Hasil langsung dari proses pengajaran adalah berupa tingkah laku sesuai dengan materi/ bahan yang diajarkan. Materi yang

sering diukur adalah pada aspek berpikir (ranah kognitif). Dan pada hasil akhirnya akan tercermin pada sikap dan tingkah laku siswa setelah ada dalam masyarakat.

Dokumen terkait