Dalam penelitian ini, pembelajaran tentang sifat-sifat cahaya akan disampaikan dengan pendekatan kontekstual dan pembelajaran konvensional. Dengan diterapkannya pendekatan kontekstual dan pembelajaran konvensional diharapkan akan membuat hasil belajar siswa akan meningkat karena selama pembelajaran berlangsung siswa dilibatkan secara aktif dalam penemuan konsep, dan penggunaan konteks-konteks kehidupan nyata akan memberikan makna yang kuat melalui percobaan. Untuk melihat sejauh mana evaluasi yang diberikan kepada siswa dapat tercapai maka data tersebut perlu dianalisis. Data yang dianalisis kemudian di uji normalitas, jika normal dilanjutkan kepada uji homogenitas varians, dan yang terakhir dilakukan uji perbedaan rata-rata dari kedua tes.
Adapun hasil belajar kedua kelas dapat dilihat pada Tabel 4.34. Tabel 4.34
Data Hasil Belajar Kelas Eksperimen dan Kontrol
No
Indentitas Siswa
Nilai Hasil Belajar Kelas Kontrol
Nilai Hasil Belajar Kelas Eksperimen 1 siswa 1 50 75 2 siswa 2 55 70 3 siswa 3 35 75 4 siswa 4 45 65 5 siswa 5 60 75 6 siswa 6 55 55 7 siswa 7 50 60 8 siswa 8 40 65 9 siswa 9 65 60 10 siswa 10 70 65 11 siswa 11 75 65 12 siswa 12 65 85 13 siswa 13 75 60 14 siswa 14 70 60 15 siswa 15 50 65 16 siswa 16 65 65 17 siswa 17 70 50 18 siswa 18 50 65 19 siswa 19 80 60 20 siswa 20 60 60 21 siswa 21 55 75 22 siswa 22 55 75 23 siswa 23 50 80 24 siswa 24 65 45 25 siswa 25 70 60 26 siswa 26 75 70 27 siswa 27 55 85 28 siswa 28 50 80 29 siswa 29 85 60 30 siswa 30 65 60 Jumlah 1810 1990 Rata-rata 60,33 73,70
Setelah dilaksanakan evaluasi di kedua kelas, diperoleh hasil belajar siswa sekolah dasar pada materi sifat-sifat cahaya. Hasil belajar kedua kelas dapat dilihat dari nilai tertinggi, nilai terendah dan rata-rata nilai pada masing-masing kelas yang terlihat pada Tabel 4.35 berikut ini.
Tabel 4.35
Statistik Deskriptif Hasil Belajar Eksperimen dan Kelas Kontrol Kelas Nilai Ideal Nilai Tertinggi Nilai Terendah Rata-rata Kontrol 100 85 35 60,33 Eksperimen 100 85 45 73,70
Berdasarkan tabel di atas, diperoleh rata-rata nilai evaluasi kelas kontrol 60,33 dengan nilai terendah 35 dan rata-rata nilai evaluasi kelas eksperimen diperoleh rata-rata 73,70 dengan nilai terendah 45. Dari deskripsi data tersebut terlihat bahwa rata-rata evaluasi kelas kontrol dan kelas ekperimen terdapat perbedaan. Selisih dari nilai rata-rata kedua tes adalah 13,37. Namun, Untuk melihat apakah hasil belajar pada kelas eksperimen dan kontrol sama atau berbeda, dilakukanlah uji normalitas, uji homogenitas dan uji beda rata- yang diperoleh oleh kedua kelas. Berikut ini hasil pengujian pada kelas eksperimen dan kelas kontrol
1) Uji Normalitas Data
Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui normalitas data hasil belajar kedua kelas. Analisis data ini dilakukan dengan menggunakan uji
Kolmogorov-Smirnov pada taraf signifikansi α = 0,05. Penghitungan uji
normalitas data ini menggunakan bantuan software SPSS v.16 for Windows. Hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut ini.
H0 = data berasal dari sampel yang berdistribusi normal H1 = data berasal dari sampel yang berdistribusi tidak normal
Hasil uji normalitas data tes hasil belajar kedua kelas dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.36
Hasil Uji Normalitas Data Tes Hasil Belajar Kedua Kelas
Tests of Normality Kelas Kolmogorov-Smirnova Statistic df Sig. hasil_belajar Eksperimen .176 30 .018 kontrol .138 30 .151
Berdasarkan Tabel 4.36, diketahui bahwa hasil uji normalitas data tes hasil belajar kelas eksperimen memiliki P-value (Sig.) senilai 0,18. Dengan demikian,
uji normalitas Kolmogorov-Smirnov data postes lebih kecil nilainya dari α = 0,05,
sehingga yang menyatakan bahwa data berasal dari populasi yang berdistribusi normal ditolak. Artinya, data postes untuk kelas eksperimen berdistribusi tidak normal. Sedangkan, untuk data tes hasil belajar kelas kontrol memiliki P-value
(Sig.) senilai 0,151. Dengan demikian, uji normalitas Kolmogorov-Smirnov data tes kelas kontrol nilainya lebih besar dari α = 0,05, sehingga yang menyatakan
bahwa data berasal dari populasi yang berdistribusi normal diterima. Artinya, data tes hasil belajar kelas kontrol berdistribusi normal. Karena salahsatu data tes berdistribusi tidak normal, maka dapat diketahui bahwa kedua tes tidak homogen, sehingga tidak perlu dilakukan uji homogenitas.
2) Uji Perbedaan Rata-rata
Uji perbedaan rata-rata dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal dan akhir kelas eksperimen. Uji perbedaan rata-rata yang digunakan adalah uji-U dari
Mann Whitney pada taraf signifikansi α = 0,05. Hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut ini.
H0 = rata-rata hasil belajar kelas eksperimen sama dengan kelas kontrol. H1 = rata-rata hasil belajar eksperimen tidak sama dengan kelas kontrol.
Hasil uji perbedaan rata-rata data tes kelas eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.37
Hasil Uji Perbedaan Rata-rata Data Tes Hasil Belajar Kedua Kelas
Test Statisticsa
hasil_belajar
Mann-Whitney U 321.000
Wilcoxon W 786.000
Z -1.927
Asymp. Sig. (2-tailed) .054
Dari tabel 4.37, didapatkan nilai P-value (Sig.2-tailed) senilai 0,054. Karena dibutuhkan P-value (Sig.1-tailed) maka P-value (Sig.2-tailed) dibagi dua.
P-value (Sig.2-tailed) 0,054/2 = 0,027 lebih kecil nilainya dari 0,05. Kondisi demikian menunjukkan bahwa H0 diterima. Dengan demikian, rata-rata hasil belajar eksperimen tidak sama dengan kelas kontrol.
B. PEMBAHASAN
Perlakuan yang diberikan pada kelas kontrol dan kelas eksperimen sebanyak 3 kali pertemuan dengan alokasi waktu 2×35 menit. Pembelajaran IPA di kelas eksperimen menggunakan pendekatan kontekstual sedangkan di kelas kontrol menggunakan pendekatan konvensional. Selanjutnya dilakukan postes untuk mengetahui adanya peningkatan yang terjadi setelah diberikan perlakuan. Hal ini sesuai dengan hipotesis yang dirumuskan.
Pembelajaran konvensional yang digunakan adalah metode ceramah. Secara umum pembelajaran konvensional yang telah dilaksanakan dapat diuraikan sebagai berikut. Pada kegiatan awal, guru mengondisikan siswa agar siap belajar, memimpin berdoa dan membagikan nomor absen. Nomor absen yang diberikan bertujuan untuk mempermudah observer dalam menilai aktivitas siswa. Di kegiatan inti guru menjelaskan materi dengan bantuan media pembelajaran. Media yang digunakan benda-benda konkret lain yang ada di dalam kelas yang berhubungan dengan sifat-sifat cahaya. Piaget (dalam Syah, 2010) berpandangan bahwa perkembangan mental setiap pribadi melewati empat tahapan, diantaranya yaitu tahap konkret-operasional. Pada tahap ini, anak baru mampu berpikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang kongkret. Dengan demikian, untuk memahami konsep-konsep sifat-sifat cahaya yang bersifat abstrak, maka dibutuhkan bantuan benda-benda konkret agar diperoleh pengalaman langsung yang bermakna. Berdasarkan hal tersebut, dalam pembelajaran konvensional pun menggunakan media yang dapat membantu siswa dalam memahami materi yang disampaikan.
Setelah menjelaskan materi, guru membuat kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang siswa dan dibagikan LKS percobaan. Guru membimbing siswa ketika proses percobaan dan pengerjaan LKS. Setelah semua kelompok menyelesaikan percobaannya, guru bersama siswa membahas hasil percobaan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang kurang dipahami. Pada kegiatan akhir guru bersama siswa menyimpulkan pembelajaran. Setelah keseluruhan pembelajaran dilaksanakan, siswa mengerjakan postes. Pada kelas konvensional sebelum diberi perlakuan diperoleh nilai pretes rata-rata 23,06 dengan nilai terendah 0. Setelah diberi pelakuan diperoleh rata-rata nilai postes
rata-rata 42,26 dengan nilai terendah 7. Terlihat kenaikan nilai sebelum dan sesudah diberi perlakuan. Namun, untuk mengetahui ada atau tidak adanya perbedaan kemampuan awal dan akhir, dilakukan analisis uji normalitas, uji homogenitas dan uji perbedaan rata-rata dua sampel. Perhitungan data ini menggunakan bantuan software SPSS v.16 for Windows. Hasil analisis uji normalitas untuk pembelajaran konvensional adalah data postes dan pretes untuk kelas kontrol berdistribusi normal. Karena kedua tes berdistribusi normal, maka dapat diketahui bahwa kedua tes homogen, sehingga perlu dilakukan uji homogenitas. Hasil uji homogenitas memiliki memiliki P-value (Sig.) senilai 0,119 lebih besar nilainya dari α = 0,05, kondisi demikian menunjukan H0 diterima. Dengan demikian, tidak terdapat perbedaan variansi antara kedua kelas sampel. Sedangkan, hasil uji perbedaan rata-rata didapatkan nilai P-value
(Sig.2-tailed) senilai 0,000. Karena dibutuhkan P-value (Sig.1-tailed) maka P-value
(Sig.2-tailed) dibagi dua. P-value (Sig.2-tailed) 0,000/2 = 0,000 lebih kecil nilainnya dari 0,05. Kondisi demikian menunjukkan bahwa H0 ditolak. Dengan demikian, pembelajaran konvensional meningkatkan kemampuan keterampilan proses sains siswa secara signifikan pada mata pelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya.
Berdasarkan hasil observasi di kelas kontrol, guru sudah menunjukkan kinerjanya dengan baik pada setiap pertemuannya. Hal ini karena guru merencanakan dan mempersiapkan pembelajaran dengan matang meskipun pada pelaksanaannya masih terdapat kekurangan. Sejalan dengan pendapat Fil’ardhi
(2013) yaitu hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran konvensional yang optimal yaitu perencanaan yang matang. Dengan perencanaan yang matang, proses pembelajaran pun akan optimal. Dalam pembelajaran konvensional, yang harus direncanakan oleh guru adalah RPP yang di dalamnya terdapat tujuan, metode, media, langkah-langkah, dan evaluasi pembelajaran.
Aktivitas siswa di kelas kontrol pada pertemuan ke-1 sampai ke-3 semakin meningkat. Pada pertemuan ke-1 siswa masih dalam tahap pengenalan, akibatnya saat melakukan percobaan dan diskusi kelas siswa masih bekerja sendiri bahkan ada yang bercanda dan mengganggu temannya. Pertemuan ke-2 sebagian siswa masih belum terbiasa dalam bertanya dan masih terlihat malu-malu ketika di beri
pertanyaan oleh guru. Pertemuan ke-3, siswa mulai terbiasa berdiskusi dan bekerja sama dengan kelasnya. Hal ini terlihat pada saat pembelajaran yang berlangsung suasana kelas cukup hidup dan penuh semangat. Berdasarkan hasil observasi siswa di kelas kontrol, terjadi peningkatan aktivitas siswa selama pembelajaran. Hal ini berdampak pada peningkatan kemampuan keterampilan proses sains siswa.
Sedangkan pada pembelajaran kontekstual, kegiatan awalnya tidak jauh berbeda dengan pembelajaran di kelas kontrol. Guru mengondisikan siswa agar siap belajar, memimpin berdoa dan membagikan nomor absen. Nomor absen yang diberikan bertujuan untuk mempermudah observer dalam menilai aktivitas siswa. Selanjutnya guru melakukan kegiatan komponen konstruktivisme melalui kegiatan apersepsi. Sebagaimana menurut Bruner (dalam Widodo, dkk., 2010, Hlm 35) bahwa orang mengkontruksikan pengetahuannya dengan menghubungkan informasi masuk dengan informasi yang diperoleh sebelumnnya. Dengan cara mengaitkan materi sifat-sifat cahaya dengan kehidupan nyata siswa, diharapkan siswa terdorong untuk mempelajari materi yang akan disampaikan. Salahsatu contoh komponen kontruktivisme di kelas eksperimen adalah pemberian konteksyang dekat dengan kehidupan siswa seperti pengenalan konsep cahaya yang dilakukan dengan pemodelan nyala senter. Kemudian, siswa dibimbing untuk mengkonstruksi pengetahuannya dengan materi yang akan disampaikan. Hal tersebut sesuai dengan teori belajar Piaget (Sanjaya, 2006) bahwa setiap siswa memiliki skemata yang merupakan hasil pengalamannya. Penggunaan konteks tersebut dapat membantu siswa lebih memahami materi.
Pada kegiatan inti, guru melakukan pemodelan dan komponen inkuiri. Dalam pembelajaran kontekstual, inkuiri digunakan untuk melatih siswa dalam berpikir secara sistematis. Berfikir sistematis merupakan salahsatu kemampuan berfikir tingkat tinggi. Selain itu pembelajaran sains sangat berkaitan erat dengan proses inkuiri. Pembelajaran sains bukan hanya difokuskan kepada kompetensi yang berkaitan dengan potensi kognitif saja, melainkan ada komponen lainnya yang harus diperhatikan. Sejalan dengan Bundu (2006, hlm. 49), kurikulum KTSP dalam pembelajaran sains sebaiknya memuat tiga komponen, diantaranya:
Pertama, pengajaran sains harus merangsang pertumbuhan intelektual dan perkembangan siswa. Kedua, pengajaran sains harus melibatkan siswa
dalam kegiatan praktikum/percobaan tentang hakikat sains. Ketiga, sains disekolah dasar seharunya: 1) merangsang dang mendorong sikap ilmiah, 2) mengembangkan kemampuan penggunaan keterampilan proses sains, (3) mengetahui pola dasar pengetahuan sains, 4) merangsang tumbuhnya sikap berpikir kritis dan rasional.
Dalam proses perencanaan, guru merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Hal ini untuk memahamkan konsep cahaya yang bersifat abstrak dan agar siswa diperoleh pengalaman langsung yang bermakna. Hal ini sejalan dengan William Brownell (dalam Pitajeng, 2006, hlm. 37) yang menyatakan bahwa pada hakikatnya belajar merupakan suatu proses yang bermakna.
Salahsatu komponen masyarakat belajar dalam penelitian ini dirancang melalui kegiatan percobaan dan pengerjaan LKS. Guru membuat kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang siswa. Kemudian guru mengawasi dan membimbing jalannya diskusi kelompok dan pengerjaan percobaan. Percobaan yang dilakukan siswa dimaksudkan untuk memberikan pengalaman pribadi. Sehingga setiap siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran ini akan mendapatkan manfaatnya. Sejalan dengan itu, prinsip belajar Glaser (dalam Abidin, hlm 227) menyebutkan bahwa:
Kita belajar 10% dari yang kita baca, kita belajar 20% dari yang kita dengar, kita belajar 30% dari yang kita lihat, kita belajar 50% dari yang kita dengar dan lihat, kita belajar 70% dari yang kita diskusikan dengan orang lain, kita belajar 80% dari yang kita alami sendiri, kita belajar 95% dari yang kita ajarkan kepada orang lain.
Pada dasarnya siswa memiliki rasa ingin tahu yang tinggi untuk menemukan sesuatu. Melalui percobaan siswa dirangsang untuk mempraktikan sendiri, sehingga pembelajaran terasa lebih bermakna dan konsep yang diperoleh akan lebih lama diingat oleh siswa.
Selain itu siswa dilatih untuk bekerjasama dengan temannya. Hal ini sejalan dengan satu prinsip pembelajaran IPA yang terdapat dalam bahan ajar PLPG 2010 (dalam Sujana, 2013) yaitu pada prinsip sosial bahwa guru harus mampu membuat pembelajaran IPA dapat menumbuhkan sikap sosial diantara siswa seperti kerjasama dan saling menolong. Melalui kerjasama dan saling menolong, siswa dilatih untuk memiliki empati kepada orang lain. Hasil akhirnya ketika mereka terjun ke masyarakat mereka memiliki jiwa sosial yang tinggi.
Setelah waktu untuk berdiskusi habis, guru memberi kesempatan kepada perwakilan kelompok untuk menyajikan hasil diskusinya di depan kelas. Guru membimbing siswa untuk mengomunikasikan pendapat terhadap jawaban kelompok lain dan memberi kesempatan kelompok lain untuk aktif bertanya atau mengungkapkan pendapat dalam diskusi kelas.
Pada kegiatan akhir, guru bersama siswa melakukan refleksi dan menyimpulkan pembelajaran. Melalui proses refleksi, siswa diingatkan kembali mengenai hal-hal yang telah mereka pelajari sehingga dapat memaknai konsep sifat-sifat cahaya lebih baik. Setelah keseluruhan pembelajaran dilaksanakan, siswa mengerjakan postes pada pembelajaran kontekstual terlihat kenaikan nilai sebelum dan sesudah diberi perlakuan. Sebelum diberi perlakuan diperoleh nilai pretes rata-rata 24,10 dengan nilai terendah 0. Setelah diberi pelakuan diperoleh rata-rata nilai postes rata-rata 47,70 dengan nilai terendah 20. Namun, untuk mengetahui ada atau tidak adanya perbedaan kemampuan awal dan akhir, dilakukan analisis uji normalitas, uji homogenitas dan uji perbedaan rata-rata dua sampel. Perhitungan data ini menggunakan bantuan software SPSS v.16 for Windows. Diketahui bahwa hasil uji normalitas data postes memiliki P-value
(Sig.) senilai 0,063 Dengan demikian, uji normalitas Kolmogorov-Smirnov data postes lebih besar nilainya dari α = 0,05, sehingga yang menyatakan bahwa data
berasal dari populasi yang berdistribusi normal diterima. Artinya, data postes untuk kelas eksperimen berdistribusi normal. Sedangkan, untuk data pretes memiliki P-value (Sig.) senilai 0,200. Dengan demikian, uji normalitas
Kolmogorov-Smirnov data pretes nilainya lebih besar dari α = 0,05, sehingga yang
menyatakan bahwa data berasal dari populasi yang berdistribusi normal diterima. Artinya, data pretes untuk kelas eksperimen berdistribusi normal. Karena kedua data tes berdistribusi normal, maka dapat diketahui bahwa kedua tes homogen, sehingga perlu dilakukan uji homogenitas. hasil uji homogenitas memiliki memiliki P-value (Sig.) senilai 0,424 lebih besar nilainya dari α = 0,05, kondisi
demikian menunjukan H0 diterima. Dengan demikian, tidak terdapat perbedaan variansi tes antara kedua kelas sampel. Hasil uji beda rata-rata didapatkan nilai didapatkan nilai P-value (Sig.2-tailed) senilai 0,000. Karena dibutuhkan P-value
0,000/2 = 0,000 lebih kecil nilainya dari 0,05. Kondisi demikian menunjukkan bahwa H0 ditolak. Dengan demikian, pembelajaran kontekstual meningkatkan kemampuan keterampilan proses sains siswa secara signifikan pada mata pelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya.
Peningkatan kemampuan keterampilan proses sains siswa secara signifikan pada mata pelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya membuktikan bahwa pembelajaran kontekstual terbukti memiliki beragam keunggulan. Hal ini Sejalan dengan Sutardi dan Sudirjo (2007, hlm. 99) beberapa keunggulan dari pembelajaran kontekstual sebagai berikut:
Real world learning; mengutamakan dunia nyata; berpikir tingkat tinggi; pembelajaran berpusat pada siswa; siswa aktif, kritis, dan kreatif; pengetahuan bermakna pada kehidupan; pekat dengan kehidupan nyata; adanya perubahan perilaku; pengetahuan diberi makna; kegiatannya bukan mengajar tetapi belajar; kegiatannya lebih kepada pendidikan bukan pengajaran sebagai pembentukan manusia; memecahkan masalah; siswa aktif guru hanya mengarahkan; hasil belajar diukur dengan berbagai alat ukur tidak hanya tes saja.
Hasil observasi di kelas eksperimen, menunjukkan kinerja guru yang sangat baik pada setiap pertemuannya. Hal ini karena guru merencanakan dan mempersiapkan pembelajaran dengan matang. Kinerja guru di kelas eksperimen pada pertemuan ke-1 mencapai 94,5%. Selama melaksanakan pembelajaran, kekurangan dari kinerja guru pada pertemuan ke-1, yaitu terletak pada aspek menjelaskan proses pembelajaran. Guru tidak memberikan arahan pembelajaran yang jelas kepada siswa, sehingga siswa merasa kurang memahami pembelajaran yang akan disampaikan. Dalam penyampaian pembelajaranpun guru kurang bisa menggunakan bahasa yanng mudah dipahami siswa. Kinerja guru pertemuan ke-2 mencapai 98,75%. Kekurangan dari kinerja guru pada pertemuan ke-2, yaitu terletak pada aspek pengkondisian siswa. Guru kurang mampu menarik perhatian siswa secara keseluruhan, sehingga beberapa kali kelas menjadi gaduh. Sedangkan, pada pertemuan ke-3 mencapai 100%, hal ini karena guru belajar dari kekurangan sebelumnya, sehingga pada pembelajaran terakhir semua aspek yang di targetkan guru dapat tercapai.
Aktivitas siswa di kelas eksperimen sangatlah tinggi, hal ini terlihat dari antusias siswa ketika proses pembelajaran berlangsung. Berdasarkan hasil observasi siswa di kelas eksperimen, terjadi peningkatan aktivitas siswa selama
pembelajaran. Hal ini berdampak pada peningkatan kemampuan keterampilan proses sains siswa yang awalnya rendah menjadi sedang.
Berdasarkan hasil angket terhadap pembelajaran kontekstual, respon positif yang diberikan siswa terhadap pembelajaran. Sebagian besar siswa menunjukkan kepercayaan dirinya dalam belajar dan mengerjakan soal-soal IPA meskipun ada sebagian yang mengalami kesulitan dalam mengerjakannya. Selain itu, siswa merasa senang dengan IPA dan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan baik yang menggunakan pendekatan kontekstual. Hasil angket tersebut didukung dengan adanya wawancara siswa. Berdasarkan hasil wawancara siswa, diperoleh bahwa secara keseluruhan siswa menunjukkan respon positif terhadap pembelajaran IPA yang menggunakan pendekatan kontekstual. Hal ini karena siswa merasa senang dengan belajar secara berkelas dan melakukan percobaan. Selain terdapat faktor-faktor pendukung terlaksananya pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, terdapat pula faktor-faktor penghambat terlaksananya pembelajaran kontekstual. Adapun faktor penghambat terlaksananya proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah sulitnya membuat siswa aktif secara keseluruhan. Hal ini sejalan dengan pendapat Sutardi dan Sudirjo (2007, hlm. 100) mengenai kelemahan pendekatan kontekstual bagi guru harus memiliki kemampuan untuk memahami secara mendalam dan
komprehensif tentang: “Konsep pembelajaran kontekstual; potensi perbedaan individual siswa di kelas; beberapa pembelajaran yang berorientasi kepada aktivitas siswa, dan sarana, media, alat bantu, kelengkapan pembelajaran yang
menunjang aktivitas siswa dalam pembelajaran”.
Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan kemampuan keterampilan proses sains siswa dikelas kontrol dan kelas eksperimen. Hal ini terjadi karena kemampuan awal siswa di kelas eksperimen dan kontrol sama. Dengan demikian, pembelajaran IPA yang menggunakan pendekatan kontekstual dan konvesional dapat meningkatkan kemampuan keterampilan proses sains siswa. Kemudian dilakukan uji awal untuk mengetahui apakah kemampuan awal siswa pada kelas eksperimen dan kontrol sama atau berbeda, Uji beda rata-ratanya menghasilkan P-value (Sig.2-tailed) 0,196/2 = 0,098 lebih besar nilainya dari 0,05. Dengan demikian, tidak terdapat perbedaan kemampuan awal antara siswa
pada kelompok eksperimen dengan kemampuan awal siswa pada kelompok kontrol. Selanjutnya, untuk melihat sejauh mana peningkatan keterampilan proses sains pada kelas kontrol dan kelas eksperimen setelah memperoleh pembelajaran, perlu dilakukan uji beda rata-rata postes kedua kelas. Adapun hasil postes kedua kelas didapatkan P-value (Sig.1-tailed) maka P-value (Sig.2-tailed) dibagi dua. P-value (Sig.1-tailed) = 0,237/2 = 0,118. Kondisi demikian menunjukkan bahwa H0 diterima. Hal ini karena nilai P-value (Sig.1-tailed) yang didapat nilainya lebih
dari α = 0,05, H0 diterima. Dengan demikian, Dengan demikian, kemampuan keterampilan proses sains siswa yang mendapat pembelajaran kontekstual dan konvensional tidak ada perbedaan.
Ada beberapa hal yang kemungkinan membuat kemampuan keterampilan proses sains siswa yang mendapat pembelajaran kontekstual dan konvensional tidak ada perbedaan, diantaranya :
1. Desain pembelajaran antara kelas kontrol dan eksperimen hampir sama, yaitu percobaan. Perbedaannya hanya pada tahapan tujuh tahapan pada pembelajaran kontekstual sedangkan pembelajaran konvensional tidak ada.
2. Pada kelas eksperimen sudah terbiasa dengan pembelajaran kontekstual, sehingga saat melakukkan penelitian hasilnya akan bias. Dalam KBBI (1992) Istilah konvensional artinya kebiasaan atau tradisional. Jadi pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang biasa dilakukan oleh guru.
3. Dalam penelitian ini, untuk melatih keterampilan proses sains lebih menonjol pada penggunaan LKS. Karakteristik LKS yang digunakan pada kedua kelas hampir sama, hal ini disebabkan karena kedua kelas sama-sama mengujikan keterampilan proses sains.
4. Soal keterampilan proses sains yang di ujikan lebih sulit dibandingkan soal hasil belajar. Hal ini karena soal-soal keterampilan proses sains merupakan soal berfikir tingkat tinggi. Sehingga siswa mengalami kesulitan ketika mengerjakannya.
Berbanding terbalik dengan data uji peningkatan keterampilan proses sains, data hasil belajar siswa didapatkan nilai P-value (Sig.2-tailed) senilai 0,054.
Karena dibutuhkan P-value (Sig.1-tailed) maka P-value (Sig.2-tailed) dibagi dua.
P-value (Sig.2-tailed) 0,054/2 = 0,027 lebih kecil nilainya dari 0,05. Kondisi demikian menunjukkan bahwa H0 diterima. Dengan demikian, rata-rata hasil belajar eksperimen tidak sama dengan kelas kontrol.