HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
3. Hasil Belajar Siswa Aspek Kognitif
a. Hasil Belajar Kognitif dari Awal Pembelajaran sebelum Siklus, Siklus I dan Siklus II
Hasil belajar kognitif diperoleh dari nilai tes hasil belajar setelah menjawab soal-soal uraian yang diberikan pada awal sebelum siklus, soal pilihan ganda 10, uraian 5, siklus I dan siklus II. Soal yang diberikan pada awal pembelajaran sebelum siklus (prasiklus) sebanyak 10 soal, sedangkan siklus I dan siklus II sebanyak 15 soal. Ketuntasan belajar klasikal siswa dinilai berhasil apabila sekurang-kurangnya 75 % siswa menguasai materi yaitu dilihat dari hasil belajar siswa yang mencapai nilai ≥ 67.
Hasil belajar kognitif siswa kelas VIII A dengan menggunakan model pembelajaran Make A Match pada awal pembelajaran (prasiklus), siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5.2. Ketuntasan Klasikal Aspek Kognitif Siswa Pelaksanaan
Tindakan
Rata-rata Ketuntasan Presentase
Awal 58,80 7 20,59 %
Siklus I 70,86 25 75,76 %
Siklus II 80,71 33 100 %
Tabel 5.2. menunjukkan bahwa dari awal pembelajaran sebelum siklus (prasiklus) hingga siklus II jumlah siswa yang tuntas selalu mengalami peningkatan. Pada pembelajaran pra siklus jumlah siswa
yang tuntas KKM sebanyak 7 siswa (20,59 %), kemudian pada siklus I meningkat menjadi 25 siswa (75,76 %) dan pada siklus II ketuntasan meningkat menjadi 33 siswa (100 %).
b. Keaktifan Siswa dari Awal Pembelajaran (Prasiklus), Siklus I Sampai Siklus II
Keaktifan siswa dilihat dari perolehan skor siswa selama kegiatan pembelajaran yaitu pada saat siswa memperhatikan dan mendengarkan pada saat pembelajaran, membaca materi, kemampuan menjawab pertanyaan dan pada saat melaksanakan kegiatan Make A Match selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Untuk hasil pengamatan keaktifan siswa secara kumulatif dapat menggunakan PAP II dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 5.3. Kriteria Deskriptif Presentase Keaktifan Siswa secara Kumulatif Interval Kriteria 81 % - 100 % Sangat Tinggi 66 % - 80 % Tinggi 56 % - 65 % Sedang 46 % - 55 % Rendah 0 % - 45 % Sangat Rendah Sumber : Masidjo, 1995 : 157
Dari data diatas diubah menjadi 3 kategori, sebagai berikut :
Interval Kriteria
66 % - 100 % Tinggi
56 % - 65 % Sedang
Pengamatan keaktifan siswa dilakukan pada setiap tindakan yaitu pada awal pembelajaran (prasiklus), siklus I pertemuan 1 dan 2, siklus II pertemuan 1 dan 2. Keaktifan siswa dari awal pembelajaran (prasiklus), siklus I sampai siklus II diperoleh dari lembar pengamatan yang dilakukan oleh guru kolaborasi yang dalam hal ini dilakukan oleh guru mata pelajaran IPS yaitu Sukarjono. Untuk hasil pengamatan keaktifan siswa secara kumulatif dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 5.4. Keaktifan Siswa pada Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II dalam %
Pelaksanaan Tindakan Awal Siklus I Siklus II Pertemuan 1 dan 2 Pertemuan 1 dan 2 Skor rata-rata 58,71 64,94 85,76
Kriteria Sedang Sedang Tinggi
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa keaktifan siswa mulai dari awal pembelajaran sebelum siklus (pra siklus) hingga siklus II pertemuan 2 mengalami peningkatan. Pelaksanaan tindakan pada awal kegiatan sebelum siklus yaitu sebesar 58,71% yang berarti bahwa keaktifan siswa dalam pembelajaran “Sedang”, kemudian pada siklus I pertemuan 1 dan 2 keaktifan juga dikategorikan “Sedang” yaitu sebesar 64,94%, sedangkan pada siklus II pertemuan 1 dan 2 keaktifan siswa sudah dikategorikan “Tinggi” yaitu sebesar 85,76%.
Untuk mengetahui peningkatan keaktifan siswa dari awal pembelajaran sebelum siklus sampai siklus II pertemuan 2 dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 5.5. Peningkatan Keaktifan Siswa
Pelaksanaan Tindakan Peningkatan Keaktifan (%)
Siklus I 6,23
Siklus II 20,82
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dari awal sebelum siklus sampai siklus I pertemuan 1 dan 2 terjadi peningkatan sebesar 6,23% kemudian dari siklus IIpertemuan 1 dan 2 terjadi peningkatan sebesar 20,82%.
Sedangkan untuk menentukan keaktifan siswa dari aspek yang diamati digunakan kriteria pada tabel di bawah ini :
Tabel 5.6. Kriteria Deskriptif Presentase dari Masing-masing aspek Keaktifan Siswa
Interval Kriteria
66 % - 100 % Tinggi
56 % - 65 % Sedang
0 % - 45 % Rendah
Tabel 5.7. Rincian Keaktifan Siswa dari Setiap Aspek yang diamati (%)
Aspek Awal K SIP1 dan SIP2 K SIIP1 dan SIIP2 K Memperhatikan dan mendengarkan 46,44 R 6656,29 S 84,10 T Membaca 62,44 S 64,88 S 84,10 T Kemampuan 62,44 S 65 S 87,42 T
menjawab pertanyaan kerjasama dengan pasangan
63,53 S 64,88 S 87,42 T
Pada awal sebelum siklus keaktifan siswa “Rendah”, untuk aspek memperhatikan dan mendengarkan sebesar 46,44%, pada aspek membaca materi, aspek kemampuan menjawab pertanyaan, dan aspek kerjasama dengan pasangannya 62,44%, sebesar 62,44% dan sebesar 63,53%. Pada siklus I pertemuan 1 dan 2 keaktifan siswa “Sedang” untuk aspek memperhatikan dan mendengarkan sebesar 65%, aspek membaca materi sebesar 64,88%, aspek kemampuan menjawab pertanyaan sebesar 65% dan aspek kerjasama dengan pasangan sebesar 64,88%.
Pada siklus II pertemuan 1 dan 2 keaktifan siswa untuk aspek memperhatikan dan mendengarkan dan membaca materi tergolong “Tinggi”, yaitu sebesar 84,10% dan sebesar 84,10%, untuk aspek kemampuan menjawab pertanyaan dan aspek kerjasama dengan pasangannya sebesar 87,42% dan sebesar 87,42%.
c. Motivasi Belajar Siswa dari Awal Pembelajaran (PraSiklus), Siklus I sampai Siklus II
Motivasi belajar siswa dilihat dari perolehan skor siswa selama kegiatan pembelajaran yaitu pada saat siswa mempunyai keinginan untuk berhasil, mempunyai dorongan dan kebutuhan dalam belajar,
adanya harapan dan cita-cita masa depan, adanya penghargaan dalam belajar, adanya kegiatan yang menarik dalam belajar dan adanya lingkungan belajar yang kondusif pada saat melaksanakan kegiatan diskusi kelompok selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Untuk menentukan kriteria motivasi belajar siswa dengan menggunakan diskriptif presentase, digunakan kriteria sebagai berikut :
Tabel 5.8. Kriteria Deskriptif Presentase Motivasi Belajar Siswa secara kumulatif Interval Kriteria 81 % - 100 % Sangat Tinggi 66 % - 80 % Tinggi 56 % - 65 % Sedang 46 % - 55 % Rendah 0 % - 45 % Sangat Rendah Sumber : Masidjo, 1995 : 157
Dari data diatas diubah menjadi 3 kategori, sebagai berikut :
Interval Kriteria
66 % - 100 % Tinggi
56 % - 65 % Sedang
0 % - 45 % Rendah
Pengamatan motivasi belajar siswa dilakukan pada setiap tindakan, yaitu pada awal pembelajaran (prasiklus), siklus I pertemuan 1 dan 2, siklus II pertemuan 1 dan 2. Motivasi belajar siswa dari awal pembelajaran (prasiklus), siklus I sampai siklus II diperoleh dari lembar pengamatan yang dilakukan oleh guru kolaborasi yang dalam hal ini dilakukan oleh guru mata pelajaran IPS yaitu Sukarjana. Untuk hasil
pengamatan motivasi belajar siswa secara kumulatif dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 5.9. Motivasi Belajar Siswa pada Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II (%) Pelaksanaan Tindakan Awal Siklus I Siklus II Pertemuan 1 dan 2 Pertemuan 1 dan 2 Skor rata-rata 58,86 66,78 79,47
Kriteria Sedang Sedang Tinggi
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa motivasi belajar siswa mulai dari awal pembelajaran sebelum siklus (prasiklus) hingga siklus II pertemuan 2 mengalami peningkatan. Pelaksanaan tindakan pada awal kegiatan sebelum siklus yaitu sebesar 58,86% yang berarti bahwa motivasi belajar siswa dalam pembelajaran “Sedang”, kemudian pada siklus I pertemuan 1 dan 2 motivasi belajar juga dikategorikan “Sedang” yaitu sebesar 66,78%, sedangkan pada siklus II pertemuan 1 dan 2 motivasi belajar siswa dikategorikan “Tinggi” yaitu sebesar 79,47%.
Untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa dari awal pembelajaran sebelum siklus sampai siklus II pertemuan 2 dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5.10. Peningkatan Motivasi Siswa
Pelaksanaan Tindakan Peningkatan Keaktifan (%)
Siklus I 7,92
Siklus II 12,69
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dari awal sebelum siklus sampai siklus I pertemuan 1 dan 2 terjadi peningkatan sebesar 7,92%, siklus 2 pertemuan 1 dan 2 terjadi peningkatan sebesar 12,69%.
Sedangkan untuk menentukan motivasi belajar siswa dari aspek yang diamati digunakan kriteria pada tabel di bawah ini :
Tabel 5.11. Kriteria Deskriptif Presentase dari Masing-masing aspek Motivasi Belajar Siswa
Interval Kriteria
75,00% ≤ 100% Tinggi (T) 50,00% ≤ 75,00% Sedang (S) 25,00% ≤ 50,00% Rendah (R)
Tabel 5.12. Rincian Motivasi Belajar Siswa dari Setiap Aspek yang diamati (%)
Indikator Awal K SIP1 dan SIP2 K SIIP1 dan SIIP2 K Adanya hasrat dan keinginan berhasil 61,32 S 64,61 S 78,33 T Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar 61,76 S 76,06 B 82,12 T Adanya harapan dan cita-cita masa depan 62,94 S 65,15 S 82,27 T Adanya penghargaan dalam belajar 56,03 S 64,94 S 78,33 T
Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar 56,03 S 64,94 S 77,42 T Adanya lingkungan belajar yang kondusif 55,09 S 65 S 78,33 T
Pada awal sebelum siklus motivasi belajar siswa “Sedang” untuk indikator adanya hasrat dan keinginan untuk berhasil sebesar 61,32%, pada indikator adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, adanya harapan dan cita-cita masa depan, adanya penghargaan dalam belajar, adanya kegiatan yang menarik dalam belajar dan adanya lingkungan belajar yang kondusif “Sedang” yaitu sebesar 61,76%, sebesar 62,94%, sebesar 56,03%, sebesar 56,03% dan sebesar 55,09%. Pada siklus I pertemuan 1 dan 2 motivasi belajar siswa “Sedang” untuk indikator adanya hasrat dan keinginan untuk berhasil sebesar 64,64%, indikator adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar sebesar 76,06%, adanya harapan dan cita-cita masa depan sebesar 65,15%, adanya penghargaan dalam belajar sebesar 64,94%, adanya kegiatan yang menarik dalam belajar sebesar 64,94% dan adanya lingkungan belajar yang kondusif sebesar 65%.
Pada siklus II pertemuan 1 dan 2 motivasi belajar siswa “Tinggi” untuk indikator adanya hasrat dan keinginan untuk berhasil sebesar 78,33%, sedangkan untuk indikator adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, indikator adanya harapan dan cita-cita masa
depan, indikator adanya penghargaan dalam belajar, indikator adanya kegiatan yang menarik dalam belajar dan adanya lingkungan belajar yang kondusif “Tinggi” yaitu sebesar 82,12%, sebesar 82,27% sebesar 78,33%, sebesar 77,42% dan sebesar 78,33%.
B. Pembahasan
Siklus I berdasarkan tabel 5.12 persentase motivasi belajar siswa sedang, karena siswa belum tertarik materi pelajaran, guru belum memberi motivasi secara baik
Siklus II berdasarkan tabel 5.12 persentase motivasi belajar siswa tinggi karena guru memotivasi siswa dengan memberi contoh kehidupan sehari-hari didalam keluarga atau dalam masyarakat sesuai dengan materi yang dipelajari dan siswa lebih cepat paham dan tertarik dengan pelajaran karena kalau tidak ada motivasi akan mempengaruhi siswa dalam kegiatan pembelajaran, mereka menjadi malas untuk belajar dan tidak suka atau bosan dengan pelajaran IPS, maka guru harus memberi motivasi yang membuat anak semangat dalam pembelajaran.
Siklus I berdasarkan tabel 5.7 persentase keaktifan sedang karena siswa belum mengenal metode pembelajaran kooperatif Make-A Match. Siswa masih banyak yang bingung dengan pelaksanaan pembelajaran dikelas dengan menggunakan model Make-A Match. Proses pembelajaran di kelas pada siklus I masih belum dapat terkondisikan, sehingga konsentrasi belajar siswa belum terfokus.
Pada siklus ke II berdasarkan tabel 5.7 persentase keaktifan menunjukkan adanya peningkatan, aktifitas belajar siswa meningkat. Meningkatnya aktifitas belajar siswa karena siswa telah memiliki pengalaman pada siklus I. Mereka sudah memiliki gambaran model pembelajaran Make-A
Match. Sehingga pada siklus ke II siswa sudah mulai mempunyai tanggung
jawab terhadap tugas individu maupun dengan pasangannya.
Siswa terlihat antusias dan aktif saat mengikuti proses pembelajaran pada siklus ke II. Siklus ke II sudah tidak ada siswa pasif.
Hasil belajar dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan tes di setiap akhir siklus untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model Make-A Match. Analisa data yang telah dilakukan diperoleh nilai rata-rata kelas pra tindakan sebesar 58,80, pada tes akhir siklus I sebesar 70,86, dan pada siklus ke II 80,71. Hasil tersebut menunjukkan bahwa selama proses pembelajaran ada peningkatan hasil belajar siswa.
Menurut Sardiman (2005 : 100) aktifitas belajar adalah aktifitas yang bersifat fisik maupun mental. Dalam kegiatan belajar kedua aktifitas itu harus selalu berkait.
Sesuai teori bahwa aktifitas belajar mempengaruhi hasil belajar siswa. Secara teori jika aktifitas siswa yang didapatkan pada kegiatan pembelajaran tinggi, maka hasil belajar siswa juga meningkat dengan nilai yang tinggi. Peningkatan pada siklus I sedang, tidak tuntas 8 sesuai KKM 67. Model
Make-A Match menurut Lie (2003 : 55) “Siswa mencari pasangan sambil
belajar konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan”. Pembelajaran
siklus I pada dasarnya siswa belum mengetahui bagaimana pelaksanaan dan tahap-tahap yang ada pada model. Siswa belum menyiapkan diri untuk belajar mengenai konsep dalam materi yang akan dipelajari pada siklus I, sehingga perolehan pemakaian pada siklus I masih rendah.
Siklus ke II terjadi peningkatan hasil belajar namun tidak semua siswa mengalami peningkatan, masih ada siswa yang nilainya turun, tetapi siswa tuntas belajar sesuai KKM. Siswa yang turun nilainya belum paham materi pelajaran.
Motivasi, keaktifan dan hasil belajar siswa lebih baik atau lebih meningkat karena :
1. Siswa memperoleh kesempatan untuk menyampaikan pendapat. 2. Siswa dapat berinteraksi langsung dengan teman
3. Suasana pembelajaran sesuai dengan keinginan siswa yaitu menyenangkan dan bebas mengemukakan pendapat.
4. Siswa saling membantu dalam memecahkan masalah. Kasus :
1. Motivasi untuk menguasai materi yang sedang di bahas 2. Pemahaman ini menyebabkan penguasaan materi lebih baik 3. Hasil belajar juga akan mengalami paningkatan.
Pembelajaran tindakan kelas siklus II jauh lebih baik dibandingkan dengan tindakan kelas pada kegiatan pembelajaran siswa sebelum siklus (prasiklus) dan siklus I. Peneliti sudah bertindak sebagai fasilitator dan memberikan bimbingan kepada siswa secara menyeluruh.
Secara keseluruhan guru menyambut baik terhadap penerapan pembelajaran dengan model Make-A Match karena dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran, meningkatkan motivasi belajar siswa dan meningkat hasil belajar siswa. Semakin banyaknya siswa yang tuntas dalam pembelajaran dengan model pembelajaran Make-A Match disebabkan karena pada proses pembelajaran siswa tidak lagi dijadikan sebagai objek melainkan siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Dari proses pembelajaran tersebut siswa mendapatkan pengalaman belajar sesuai dengan kajian ilmu pengetahuan yang dipelajarinya secara optimal. Pada pembelajaran Make-A Match siswa dilatih, dituntut agar dapat bekerja sama dengan pasangannya.
Berdasarkan hasil yang telah dicapai selama pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Make-A Match, siswa mengalami peningkatan aktivitas siswa, peningkatan motivasi belajar siswa dan peningkatan hasil belajar aspek kognitif. Mulai dari prasiklus hingga siklus II terjadi peningkatan hasil belajar. Berdasarkan hasil yang diperoleh maka uraian teori yang terdapat dalam BAB II mendukung terhadap hasil tindakan kelas yang telah dilaksanakan yaitu penerapan model pembelajaran Kooperatif Metode Make-A Match dalam upaya meningkatkan keaktifan, motivasi dan hasil belajar IPS Ekonomi pokok bahasan sistem perekonomian dan pelaku-pelaku ekonomi kelas VIII A SMP Muhammadiyah Mungkid Kabupaten Magelang tahun ajaran 2011/2012.
Siklus I berdasarkan tabel 5.12 persen motivasi belajar siswa sedang 60,78% karena siswa belum tertarik materi pelajaran. Berdasarkan tabel 5.7 persen keaktifan sedang 64,94%, karena siswa belum mengenal pembelajaran kooperatif Make –A Match. Hasil belajar rata-rata 70,86% sebelumnya 58,80%.
Siklus II berdasarkan tabel 5.12 persen motivasi tinggi 79,47%, karena guru memotivasi siswa dengan memberi contoh materi kehidupan sehari-hari. Berdasarkan tabel 5.7 persen keaktifan meningkat karena siswa telah memiliki pengalaman pada siklus I. Hasil belajar rata-rata 80,71%.
BAB VI
PENUTUP
Berdasarkan hasil seluruh penelitian tindakan kelas di kelas VIII A SMP Muhammadiyah Mungkid, dapat disimpulkan penggunaan model pembelajaran Make-A Match dapat meningkatkan keaktifan, motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIII A SMP Muhammadiyah Mungkid. Yang paling menonjol yaitu hasil belajar siswa. Dimana hasil ulangan pra siklus, siklus I, siklus II selalu meningkat dan semua siswa tuntas KKM dengan nilai rata-rata pra siklus 58,80, siklus I 70,86, siklus II 80,71.
B. Saran
Berdasarkan simpulan penelitian tindakan di kelas VIII A SMP Muhammadiyah Mungkid tahun ajaran 2011/2012, ada beberapa saran peneliti :
1. Dengan menggunakan model Make-A Match dapat meningkatkan hasil belajar siswa, oleh karena itu guru IPS SMP Muhammadiyah Mungkid hendaknya menerapkan model Make-A Match pada materi-materi ekonomi yang lainnya, namun harus disesuaikan dengan karakteristik materi dengan model pembelajaran Make-A Match, sehingga diharapkan hasil belajar siswa lebih optimal.
2. Sekolah melalui sosialisasi-sosialisasi hendaknya mengarahkan guru-guru di SMP Muhammadiyah Mungkid untuk lebih kreatif dan mengembangkan suatu model pembelajaran untuk meningkatkan keaktifan, motivasi dan hasil belajar siswa