ANOVA Skor Hasil Belajar
1. Hasil Belajar Siswa yang belajar
dengan Paduan Pembelajaran
Konvensional dan Media Animasi Hasil analisis menggunakan analisis ANOVA dengan program SPSS seperti yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya
memberikan petunjuk bahwa paduan
pembelajaran konvensional dan media
animasi memberikan perbedaan yang
signifikan dibandingkan dengan hasil belajar
siswa yang diajar dengan paduan
pembelajaran kooperatif TGT dan media animasi dan pembelajaran kooperatif TGT tanpa media animasi. Data yang diperoleh rata-rata hasil belajar siwa yaitu 78,54; standar deviasi 7,18; nilai terkecil 66,67 dan nilai maksimum 93,33. Nilai rerata tersebut berada pada tingkatan lebih baik bila dibandingkan dengan kelompok siswa yang diajar dengan kooperatif TGT tanpa media animasi. Hal ini disebabkan karena proses pemahaman materi oleh siswa lebih mudah sebagai akibat dari penggunaan pendekatan mikroskopis berbantukan media animasi dalam proses penyajian materi elektrokimia. Hal ini selaras dengan hasil penelitian Silbermen (2011) dengan penambahan visual pada pembelajaran menaikkan ingatan dari 14% ke 38%. penelitian itu menunjukkan perbaikan sampai 100% ketika kosa kata diajarkan dengan menggunakan alat visual. Bahkan, waktu yang diperlukan untuk
menyampaikan konsep berkurang sampai
40% ketika visual digunakan untuk
menambah persentasi verbal. Sebuah gambar barangkali tidak bernilai ribuan kata, namun tiga kali lebih efektif dari pada hanya dengan kata-kata.
Simpulan
1. Keberlangsungan proses belajar dengan paduan model kooperatif tipe TGT dan
media animasi program flash
menunjukkan hasil yang lebih baik
dibandingkan dengan paduan
pembelajaran konvensional dan media
animasi program flash serta bila
dibandingkan dengan pembelajaran model kooperatif tipe TGT tanpa penggunaan media animasi program flash.
2. Terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang dibelajarkan dengan paduan model kooperatif tipe TGT dan media animasi program flash dengan hasil belajar kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model kooperatif tipe TGT tanpa media animasi.
3. Terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang dibelajarkan dengan paduan model kooperatif tipe TGT dan media animasi program flash dengan hasil belajar kelompok siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional dan media animasi program flash.
4. Secara keseluruhan siswa memberikan persepsi positif terhadap ke tiga model pembelajaran yang diterapkan, tetapi persepsi siswa pada paduan pembelajaran kooperatif tipe TGT dan media animasi flash adalah yang tertinggi, disusul oleh penerapan pembelajaran konvensional dan
Jurnal Kependidikan 13 (2): 173-182
182
pembelajaran kooperatif tipe TGT tanpa media animasi.
Daftar Pustaka
Arsani, A. 2007. Pengembangan Modul
Elektrokimia Dengan Model
Multimedia Untuk Mata Kuliah Kimia Terapan Pada Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Bali. Tesis tidak dipublikasukan. Malang: PPS. IKIP Malang.
Ceyhun.I. & Karagole, Z. 2005. Chemisty
student’Misconseption in
electrochemistry. Australian Journal of Education in Chemistry. 65
Cole, P, G and Chan, L, K, S. 1990. Methods and strategis for special education. Auatralia: Prentice Hall.
Gambel, D. 1996. The Complexcity Of
Chemistry Research for Teaching In
The 21th Century Chemistry
Expanding The Boundaris. Preceding Of The 14th International Confrence On Chemical Education: Brisbane. Garnet, P, J, &Treagust. Conceptual
Difficulties Experienced By Senior
High School Students Of
Electrochemistry: Electrochemical
(Galvanic) and Electrolytic Cells.
Jurnal of Research in Sciene
Teaching 26 (a): 301
Herron, J. D. 1975. Piaget For Chemist;
Explaning What “Good” Student
Cannot Understand. Journal of
Chemical Education. 52(3): 146-150 Kleinman, R.W., Griffin, H.C. and Kenner.
1987. Images in Chemistry. Journal of Chemical Education. 64 (9): 766 – 769.
Lie, A.2002. Cooperative Learning.
Mempraktikkan Kooperative
Learning di Ruang-ruang Kelas, Jakarta: PT Gramedia
Leundgren, L. 1994. Cooperative Learning In The Science Classroom. New York: GLENCO Mc Milan/Mc. Graw Hill.
Riduwan & Akdon. 2007. Rumus dan Data Dalam Analisis Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta
Slavin,R.E. 2005. Cooperative Learning. Terjemahan oleh Nurlita yusron. 2008. Bandung: Nusa Media.
Slavin, R, E. 1995. Cooperative Learning Theory Research and Practice: Boston Allya and Bacon.
Slavin,R.E. 2005. Cooperative Learning. Maryland: John Hopkins University. Silbermen (2011). Active Learning 101
strategi pembelajaran aktif .
© 2014 LPPM IKIP Mataram
Uji Daya Terima Tempe Gembus pada Masyarakat Kota Mataram Ni Ketut Yani Ulandari, AA Sukarso, Dewa Ayu Citra Rasmi
Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Mataram Email:
Abstract: Sasak people of Lombok island especially in Mataram City still have strange impression towards tempeh gembus. The availability and existence of tempeh gembus are still limited both in quantity and distribution. This research is purposed to gather information about public acceptance of Mataram City towards organoleptic properties of tempeh gembus. The sample of tempeh gembus and tempeh gembus with addition of soybeans were tested in hedonic characteristics with tempeh made of soybean as a compering. Data is taken by using hedonic test towards 30 panelists of Sasak peoples in Mataram City. Criteria of valuation including color, aroma, texture and flavor of tempe. Data were analyzed use One-Way Anova with confidence level at
95% , then followed by BNT test and Duncan test at α = 5%. Data analysis showed that tempeh gembus still
less acceptable by Sasak society preffered with the tempeh, however, it is still possible to be developed. Abstrak: Tempe gembus bagi masyarakat di pulau Lombok khususnya masyarakat Sasak di kota Mataram masih dianggap asing. Keberadaan dan ketersediaan tempe gembus juga masih sangat terbatas baik jumlah maupun penyebarannya. Telah dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang daya terima masyarakat Kota Mataram terhadap sifat organoleptik tempe gembus. Sampel tempe gembus dan tempe gembus dengan penambahan kedelai diuji sifat-sifat hedoniknya dengan pembanding tempe kedelai. Pengambilan data dilakukan terhadap 30 panelis konsumen masyarakat Sasak yang awam terhadap tempe gembus. Kriteria yang dinilai meliputi warna, aroma, tekstur dan rasa tempe. Data dianalisis menggunakan ANOVA satu arah pada taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji BNT dan Uji Duncan pada α 5%. Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada perbedaan antar perlakuan tempe gembus dan tempe kedelai terhadap daya terima masyarakat. Tempe gembus masih belum terlalu diminati oleh masyarakat Sasak dibandingkan tempe kedelai, namun demikian masih dimungkinkan untuk dikembangkan.
Kata kunci: Uji Daya Terima, Tempe Gembus.
Pendahuluan
Kacang kedelai merupakan salah satu bahan makanan dengan kandungan protein tinggi. Sebagai sumber protein nabati, kedelai juga memiliki daya cerna tinggi dan harga yang relatif murah dibandingkan dengan harga protein hewani. Oleh karena itu kedelai banyak diusahakan dan diolah menjadi berbagai produk olahan. Produk olahan
kedelai yang banyak di masyarakat
diantaranya tahu dan tempe. Kedua produk olahan ini dapat dengan mudah dijumpai masyarakat hampir di semua tempat di Indonesia. Masyarakat di kota Mataram khususnya mengenal tahu dan tempe sebagai produk makanan memiliki nilai gizi tinggi dan terjangkau karena harganya relatif
murah. Sebagai makanan hasil olahan kacang kedelai, tahu dan tempe merupakan makanan andalan yang dapat digunakan untuk perbaikan gizi karena memiliki komposisi asam amino lengkap dan mudah dicerna tubuh.
Tingginya tingkat konsumsi tahu dan tempe di masyarakat ditandai dengan berkembangnya industri tahu dan tempe baik dalam skala rumah tangga (kecil) ataupun menengah. Biasanya industri pembuatan tempe juga diikuti oleh pembuatan tahu. Teknologi pembuatan tempe melibatkan pemanfaatan mikroorganisme (jamur tempe) dan relatif tidak banyak menyisakan permasalahan limbah yang ditimbulkan. Lain halnya dengan industri pembuatan
Jurnal Kependidikan 13 (2): 183-192
184
tahu, proses pengolahan kacang kedelai menjadi tahu ternyata menyisakan bahan sisa baik berupa bahan cair maupun padatan. Sisa bahan cair terutama dihasilkan dari proses perendaman kedelai dan proses akhir pemisahan jonjot-jonjot tahu. Sisa bahan padat berupa ampas tahu dihasilkan dari hasil perasan sari kedelai menjadi krim kedelai sebagai bahan pembuat tahu. Bahan-bahan sisa tadi jika tidak ditangani dengan benar akan menyebabkan pencemaran di lingkungan sekitar.
Selama ini khususnya di wilayah kota Mataram sisa-sisa bahan padat buangan proses pembuatan tahu dikenal sebagai ampas tahu belum banyak diolah dan dimanfaatkan menjadi produk yang lebih bermanfaat. Pemanfaatan ampas tahu masih terbatas sebagai pakan ternak dan sebagian kecil dijadikan bahan pembuatan kerupuk ampas tahu. Ampas tahu sebagai sisa pembuatan tahu sebenarnya masih bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan makanan lain yang lebih bermanfaat dan bernilai gizi tinggi. Di beberapa daerah, sisa bahan-bahan tadi telah dimanfaatkan untuk pembuatan nata de soya, oncom ampas tahu dan tempe gembus. Pembuatan produk olahan ini melibatkan mikroorganisme berguna dan menambah nilai gizi seperti protein yang lebih baik.
Tempe Gembus merupakan bahan makanan hasil fermentasi ampas tahu oleh jamur Rhizopus oligosporus. Jamur ini sama sebagai mana jamur untuk pembuatan tempe kedelai. Proses pembuatannya pun sama
seperti pembuatan tempe kedelai.
Pemanfaatan dan pengolahan ampas tahu menjadi tempe gembus diakui hanya dikembangkan di beberapa tempat tertentu
saja sehingga selama ini tempe gembus kurang populer dibandingkan tempe kedelai. Penggunaan ampas tahu sebagai bahan dasar pembuatan tempe gembus menimbulkan kesan tersendiri yang kurang popular dan
menyebabkan tempe gembus menjadi
kurang popular di masyarakat (Kasmidjo, 1990 dalam Kusumaningsih, dkk., 2006).
Tempe gembus dibuat dengan cara mengintroduksi jamur Rhizopus oligosporus
ke dalam ampas tahu yang telah
diperlakukan khusus dan diinkubasi selama 2-3 hari. Tempe gembus yang dihasilkan mengandung komposisi gizi yang cukup baik. Kandungan gizi tempe gembus terdiri dari protein 5%, lemak 2%, karbohidrat (sebagai serat) 11%, dan kadar abu 1%, kadar air 81%, (Snyder dan Kwon, 1987 dalam Bintaratih, 2009).
Tempe gembus bagi masyarakat di pulau Lombok khususnya masyarakat Sasak di kota Mataram masih dianggap asing. Keberadaan dan ketersediaan tempe gembus juga masih sangat terbatas baik jumlah maupun penyebarannya. Hal ini tentu berbeda dari masyarakat dan tempat lain seperti masyarakat Jawa yang sudah sejak dulu mengupayakan dan mengkonsumsi tempe gembus. Oleh sebab itu tempe gembus perlu dikenalkan kepada masyarakat kota Mataram sebagai bahan makanan bergizi tinggi sekaligus sebagai alternative pemenuhan kebutuhan protein masyarakat kota Mataram. Jika ampas tahu sebagai bahan sisa pembuatan tahu dimanfaatkan untuk pembuatan tempe gembus, maka keberadaannya dapat membantu mencukupi kebutuhan masyarakat terhadap gizi tinggi
terutama protein. Dengan demikian
Ni Ketut Yani Ulandari, Uji Daya Terima Tempe Gembus
185
menggantungkan pemenuhan kebutuhan
proteinnya pada bahan makanan berupa daging, ikan, telur atau susu, terlebih-lebih harga bahan makanan tersebut cukup mahal dan tidak terjangkau oleh masyarakat yang berpenghasilan kecil.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap meliputi tahap pembuatan tempe gembus
yang dilakukan di Laboratorium
Mikrobiologi FKIP Universtas Mataram dan tahap penleitian lapangan berupa pengujian tingkat kesukaan konsumen yang dilakukan di Taman Rekreasi Loang Baloq Kecamatan
Sekarbela Kota Mataram. Penelitian
dilaksanakan selama 5 bulan dari bulan Mei sampai dengan Oktober 2013. Rancangan
penelitian laboratorium menggunakan
Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan percobaan satu faktor (faktor tunggal) yaitu perbandingan persentase kedelai yang terdiri dari 3 aras, yakni: G0 : ampas tahu 100 %, kedelai 0 %; G1 : ampas tahu 50 %, kedelai 50 % dan G2 : ampas tahu 0 %, kedelai 100 %. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan menggunakan Analisis of Varians (Anova) satu arah, kemudian dilanjutkan dengan uji BNT dan uji Duncan pada taraf 5% (Hanafiah, 2010).
Tahap Pembuatan tempe gembus dilakukan menurut Ganjar dan Slamet (1971) yang dimodifikasi dengan cara sebanyak 4 kg ampas tahu yang diambil dari sisa pembuatan tahu Abiantubuh direndam menggunakan air sumur selama 12 jam kemudian peras dengan menggunakan kain bersih. Pemerasan dilakukan sampai ampas tampak tidak berair lagi. Perasan ampas tahu kemudian dikukus dengan dandang selama 1
jam. Ampas tahu yang telah dikukus, didinginkan dalam wadah (nampah). Ampas tahu diberi ragi tempe (20 g) dengan cara menaburkan dan mengaduknya hingga merata. Sebanyak 200 g ampas tahu yang telah diinokulasi ragi tempe (perlakuan G2 = 100% media ampas tahu) dimasukkan ke dalam kantong plastik yang telah dilubangi kecil dan dikemas rapih. Untuk perlakuan G1 (50% ampas tahu dan 50% kedelai) dilakukan cara mencampurkan sebanyak masing-masing 100 g ampas tahu dan 100 g kedelai bahan pembuatan tempe yang telah diinokulasi ragi tempe dan mengemas dalam kantong plastik yang telah dilubangi kecil. Bahan-bahan yang telah dikemas tadi selanjutnya diinkubasikan untuk terjadinya fermentasi pada suhu kamar selama 1-2 hari sampai terbentuk tempe gembus. Tempe gembus yang terbentuk ditandai dengan telah menyatu dan ditumbuhinya media oleh miselium jamur tempe yang massif dan tempe tampak berwarna putih bersih.
Pembuatan tempe kedelai sebagai perlakuan G0 (100% medium kedelai) dilakukan dengan mengacu pada Muchtadi (2000) yang dimodifikasi. Sebanyak 4 Kg
kedelai dibersihkan dan direbus
menggunakan panci hingga setengah
matang. Biji kedelai dipisahkan dan
dibersihkan dari kulitnya dengan cara diremas-remas dalam air. Selanjutnya biji kedelai tersebut direndam dalam air sumur selama 12 jam kemudian direbus dengan
panci hingga matang. Biji kedelai
didinginkan dan ditiriskan dengan cara diletakkannya di atas nampah hingga airnya tidak menetes lagi. Biji kedelai selanjutnya diinokulasi dengan ragi tempe dengan cara menaburkan dan mengaduknya hingga
Jurnal Kependidikan 13 (2): 183-192
186
tercampur rata. Sebanyak 200 g kedelai yang telah diinokulasi ragi tempe dikemas dalam kantong plastik yang diberi lubang-lubang kecil dan diinkunbasi pada suhu kamar selama 2 hari hingga terbentuk tempe. Tempe yang terbentuk ditandai dengan telah menyatu dan ditumbuhinya media oleh miselium jamur tempe yang massif dan tempe tampak berwarna putih bersih.
Tahap pengujian terhadap kesukaan dan organoleptic dilakukan berdasarkan skala hedonik mengacu pada Hegel (2012) dan Rozaki (2012) oleh panelis konsumen sebanyak 30 orang. Penentuan panelis terpilih didasarkan pada Metrizal (2011). Pengujian sifat organoleptik dilakukan terhadap warna, aroma, rasa dan tekstur dari tempe dilakukan di Taman Wisata Loang Baloq Sekarbela Mataram. Kriteria penilaian dengan uji hedonik didasarkan pada angka kesukaan dengan skala empat tingkat (1-4), dimulai dari 1 = tidak suka, 2 = kurang suka, 3 = suka, dan 4 = sangat suka. Data hasil penilitian diolah dan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis ragam dan jika terdapat perbedaan nyata dilanjutkan dengan uji lanjut menggunakan uji uji BNT dan uji Duncan pada α 5% (Hanafiah, 2010).
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Tempe merupakan bahan makanan yang dibuat dengan cara fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan lain oleh kapang Rhizopus oligosporus. Kapang yang
tumbuh pada kedelai menghidrolisis
senyawa-senyawa yang kompleks menjadi senyawa-senyawa yang sederhana (Joe, 2011). Pada penelitian ini tempe yang
diteliti adalah tempe gembus tanpa
penambahan kedelai, tempe gembus dengan
penambahan kedelai dan tempe kedelai. Daya terima tempe gembus oleh masyarakat diujikan terhadap panelis konsumen yang dipilih berdasarkan pada pertimbangan keadaan fisiknya diantaranya tidak sedang makan, tidak sedang dalam keadaan lapar, tidak dalam keadaan terburu-buru, tidak dalam keadaan sakit dan bersedia menjadi
panelis. Ringkasan hasil penelitian
ditunjukkan pada Tabel 1 (data lengkap tidak dipublikasikan).
Tabel Data hasil uji hedonic daya terima tempe gembus oleh masyarakat (suku Sasak) kota Mataram.
Perlakuan Rata-rata nilai Indikator
Rasa Tekstur Warna Aroma
G0 2,92 2,70 2,47 2,48
G1 2,47 2,81 2,76 2,68
G2 2,97 2,92 2,94 3,13
Keterangan : G0 = perlakuan ampas tahu 100%; G1 = perlakuan 50% ampas tahu dan 50% kedelai; G2 = perlakuan kedelai 100%. Rasa
Rasa merupakan rangsangan yang ditimbulkan oleh bahan yang dimakan, yang dirasakan oleh indra pengecap (deMan, 1997). Instrumen yang paling berperan mengetahui rasa suatu bahan pangan adalah indera lidah. Dalam pengawasan mutu makanan, rasa termasuk komponen yang
sangat penting untuk menentukan
penerimaan konsumen. Meskipun rasa dapat dijadikan standar dalam penilaian mutu, disisi lain rasa adalah sesuatu yang nilainya sangat relatif (Winarno, 2004).
Dalam penelitian ini, rasa tempe gembus yang dihasilkan dipengaruhi oleh penambahan kedelai. Penilaian oleh panelis dalam penelitian ini menunjukkan skala
Ni Ketut Yani Ulandari, Uji Daya Terima Tempe Gembus
187 kesukaan pada setiap perlakuan berkisar
pada angka 2-3 yang berarti tempe gembus yang dihasilkan disukai oleh konsumen. Nilai rata-rata dari skala hedonik yang diberikan oleh panelis sebesar 2,92 pada G0; 2,47 pada G1 dan 2,97 pada G2. Berdasarkan uji hedonik untuk rasa pada tempe gembus, menunjukkan bahwa Fhitung >
Ftabel yaitu 45,06 > 10,92 sehingga dapat diketahui bahwa ada perbedaan pada rasa tempe gembus dengan penambahan kedelai 0%, 50%, dan 100% .
Hasil uji BNJ, menunjukkan bahwa nilai rata-rata yang didapat pada setiap perlakuan sebesar 72 pada perlakuan G1, 82,3 pada perlakuan G0 dan 116 pada perlakuan G2. Dari hasil uji BNJ dapat diketahui bahwa ada perbedaan yang nyata daya terima rasa antara perlakuan G1 dan perlakuan G0. Ada perbedaan yang nyata daya terima rasa antara perlakuan G1 dan
perlakuan G2, sedangkan tidak ada
perbedaan yang nyata daya terima rasa antara perlakuan G0 dan perlakuan G2. Rasa tempe gembus perlakuan G0 dan G2 tidak
berbeda, sedangkan tempe gembus
perlakuan G1 memiliki rasa yang berbeda dari perlakuan G0 dan G2. Hal ini dikarenakan adanya perpaduan antara ampas tahu dan kedelai. Diketahui bahwa nilai rata-rata penerimaan tempe gembus 100% lebih besar daripada rata-rata tempe gembus 50%, tetapi masih dibawah rata-rata tempe kedelai. Hal ini berarti rasa tempe gembus 100% lebih disukai dibandingkan dengan rasa tempe gembus 50%. Pada penelitian Dwinaningsih (2010), rasa pada tempe dengan penambahan beras dan angkak yang paling diterima adalah tempe dengan konsentrasi kedelai/beras 100/0 karena tidak
ada penambahan beras sehingga tidak mempengaruhi rasa tempe itu sendiri
sedangkan tempe dengan konsentrasi
kedelai/beras 40/60, 50/50, dan 60/40 yang ditambahkan angkak tidak disukai. Pada penelitian Sarbini (2010), tempe dengan penambahan bekatul 0% lebih diterima dibandingkan dengan penambahan bekatul
4%, 8%, 12%. Penambahan bekatul
menyebabkan rasa pahit yang tidak disukai panelis.
Tekstur
Tekstur makanan dapat didefinisikan sebagai cara bagaimanan berbagai unsur komponen dan unsur struktur ditata dan digabung menjadi mikro dan makrostruktur (deMan, 1997). Tekstur tempe merupakan sifat kekompakan dari tempe yang diamati dengan indera peraba. Tekstur tempe ditentukan oleh stabilitas emulsi. Emulsi tempe yang stabil akan menghasilkan tekstur lunak atau kompak dan sifat irisan halus. Tekstur yang kompak pada tempe akan membuat produk tersebut lebih enak (Winarno, 2004).
Dalam penelitian ini, tekstur tempe gembus yang dihasilkan dipengaruhi oleh penambahan kedelai pada masing-masing
perlakuan. Tempe gembus tanpa
penambahan kedelai menunjukan tektur lembek, sedangkan tempe gembus dengan penambahan kedelai memiliki tekstur yang padat. Penilaian oleh panelis tekstur tempe dalam penelitian ini menunjukkan skala kesukaan pada setiap perlakuan berkisar pada angka 2-3 yang berarti tempe gembus yang dihasilkan masuk dalam taraf disukai oleh konsumen. Berdasarkan uji hedonik
untuk tekstur pada tempe gembus,
Jurnal Kependidikan 13 (2): 183-192
188
13,34 > 10,92 sehingga dapat diketahui bahwa ada perbedaan pada tekstur tempe gembus 100%, tempe gembus 50%, dan tempe kedelai.
Hasil uji BNJ, menunjukkan nilai rata-rata yang didapat pada setiap perlakuan sebesar 81 pada perlakuan G0, 84,33 pada perlakuan G1 dan 87, 66 pada perlakuan G2. Dari hasil uji BNJ dapat diketahui bahwa ada perbedaan yang nyata daya terima tekstur antara perlakuan G0 dan G2. Sedangkan tidak ada perbedaan yang nyata daya terima tekstur antara perlakuan G1 dan perlakuan G0, dan tidak ada perbedaan yang nyata daya terima tekstur antara perlakuan G1 dan perlakuan G2. Tekstur yang paling dapat diterima oleh masyarakat adalah pada perlakuan G2. Tekstur tempe gembus perlakuan G1 lebih diterima dibandingkan tekstur tempe gembus perlakuan G0. Namun hasil G0 pada rata-rata skala hedonik sebesar 2,7 yang berarti masuk dalam taraf suka. Pada penelitian Sarbini (2010), tekstur tempe dengan penambahan bekatul yang diterima adalah dengan penambahan bekatul 0%. Penambahan bekatul pada tempe dengan konsentrasi 12% menghasilkan tempe yang tidak keras menyebabkan semakin banyak penambahan bekatul tekstur menjadi tidak baik.
Warna
Warna penting bagi makanan, baik bagi makanan yang tidak diproses maupun yang diproses. Warna memegang peranan penting dalam penerimaan makanan. Selain itu, warna dapat memberikan petunjuk mengenai perubahan kimia dalam makanan seperti pencoklatan (deMan, 1997). Warna tempe merupakan kenampakan dari tempe yang teramati dengan indera penglihatan.
Warna dapat juga digunakan sebagai indikator penentuan mutu, warna dapat digunakan sebagai indikator kematangan (Winarno, 2004).
Warna pada tempe dihasilkan oleh kapang yang tumbuh selama fermentasi. Penilaian oleh panelis dalam penelitian ini menunjukkan skala kesukaan terhadap ketiga perlakuan tempe gembus berkisar pada angka 2-3 yang berarti tempe gembus yang dihasilkan disukai oleh konsumen. Berdasarkan uji hedonik untuk warna pada tempe gembus dengan penambahan kedelai, menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel yaitu 243,36 > 10,92 sehingga dapat diketahui bahwa ada perbedaan penerimaan terhadap warna tempe gembus 100%, tempe gembus 50%, dan tempe kedelai.
Hasil uji BNJ, menunjukkan nilai rata-rata yang didapat pada setiap perlakuan sebesar 76,87 pada perlakuan G0, 82,87 pada perlakuan G1 dan 96,21 pada perlakuan G2 bahwa ada perbedaan yang nyata daya terima warna pada masing-masing perlakuan tempe gembus 100%, tempe gembus 50%, dan tempe kedelai. Dari data hasil uji BNJ tersebut dapat dketahui bahwa warna yang paling diterima oleh masyarakat adalah warna perlakuan G2. Warna tempe gembus perlakuan G1 lebih
dapat diterima dibandingkan warna
perlakuan G0. Namun hasil G0 pada rata-rata skala hedonik sebesar 2,48 yang berarti masuk dalam taraf suka. Pada penelitian Dwinaningsih (2010), warna tempe yang
paling diterima dengan penambahan
kedelai/beras 100/0 lebih diterima bila
dibandingkan dengan konsentrasi