• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Dan Kontribusi Pajak Hotel Terhadap Pajak Daerah

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

F. Hasil Dan Kontribusi Pajak Hotel Terhadap Pajak Daerah

Disini peneliti hanya ingin megetahui hasil dan kontribusi pajak hotel terhadap PAD dalam 5 tahun anggaran yaitu 2007 sampai 2011. Apabila penerimaan pajak hotel mengalami peningkatan, maka pajak hotel dapat memberikan kontribusinya dalam meningkatkan pajak daerah. Meningkatnya penerimaan pajak hotel tentu saja juga akan meningkatkan kontribusinya terhadap pajak daerah serta meningkatkan kontribusinya terhadap PAD. Maka dari itu perlu diketahui posisi pajak hotel terhadap pajak daerah, serta posisi pajak hotel terhadap pajak daerah selama 5 tahun anggaran yaitu 2007 sampai dengan 2011.

1. Perkembangan Penerimaan Pajak Hotel

Penerimaan pajak hotel mengalami peningkatam dari tahun ke tahun. Sebagai suatu organisasi pemerintah daerah, Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Dan Aset (DPPKA) Kota Surakarta merupakan suatu kesatuan yang berusaha mengalokasikan sumber dayanya secara rasional melalui kegiatan-kegiatan pengupayaan dalam meningkatkan penerimaan pajak hotel. Salah satu kegiatan DPPKA Kota Surakarta dalam pelaksanaan pemungutan pajak hotel tidak lepas dengan adanya target

commit to user

122

penerimaan pajak hotel dengan adanya target tersebut maka akan mendorong pegawai DPPKA dalam memaksimalkan penerimaan pajak hotel, sehingga mampu memberikan kontribusinya dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Berikut perincian mengenai penerimaan pajak hotel di Kota Surakarta tahun anggaran 2007-2011, sebagai berikut :

Tabel 4.8

Penerimaan Pajak Hotel Kota Surakarta Tahun Anggaran 2007-2011 Tahun Anggaran Pajak Hotel (Rp) Peningkatan Tiap Tahun (%) 2007 4.403.515.967 4,78 2008 5.213.358.162 18,39 2009 7.251.331.746 39,09 2010 10.799.468.707 48,93 2011 15.266.131.499 41,36 Rata-rata 30,51

(Sumber: DPPKA Kota Surakarta)

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa penerimaan pajak hotel dalam waktu 5 tahun anggaran meningkat dari tahun ke tahun. Dilihat dari jumlah penerimaannya pajak hotel setiap tahunnya meningkat, namun apabila dilihat dari persentase peningkatan tiap tahunnya, yang paling menonjol adalah penerimaan pada tahun 2010 yang persentase kenaikannya mencapai 48,93 %, yaitu dari perolehan sebelumnya pada tahun 2009 sebesar 7.251.331.746 dan pada tahun 2010 perolehan mencapai 10.799.468.707.

commit to user

123

Penerimaan pajak daerah di Kota Surakarta selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun selama anggaran 2007 sampai dengan tahun 2011. Apabila dilihat nominal mengalami peningkatan setiap tahunnya, namun apabila kita lihat dari persentase kenaikan dari tahun ke tahun penerimaan pajak daerah ini fluktuatif. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut :

Tabel 4.9

Penerimaan Pajak Daerah Kota Surakarta Tahun Anggaran 2007-2011 Tahun Anggaran Pajak Daerah (Rp) Peningkatan Tiap tahun (%) 2007 41.404.082.034 15,96 2008 46.855.622.021 13,16 2009 52.423.668.000 11,88 2010 61.641.623.410 17,58 2011 118.816.234.506 92,75 Rata-rata 30,26

(Sumber : DPPKA Kota Surakarta)

Peningkatan penerimaan pajak daerah tersebut didukung oleh peningkatan dari beberapa sektor pajak termasuk yang bersumber dari pajak hotel. Untuk mengetahui presentase pajak hotel dalam memberikan sumbangan terhadap pajak daerah dapat kita lihat dalam tabel berikut ini :

commit to user

124

Tabel 4.10

Kontribusi Pajak Hotel terhadap Pajak Daerah Kota Surakarta Tahun Anggaran 2007-2011 Tahun Anggaran Pajak Hotel (Rp) Pajak Daerah (Rp) Persentase Kontribusi (%) 2007 4.403.515.967 41.404.082.034 10,63 2008 5.213.358.162 46.855.622.021 11,12 2009 7.251.331.746 52.423.668.000 13,83 2010 10.799.468.707 61.641.623.410 17,51 2011 15.266.131.499 118.816.234.506 12,84 Rata-rata 13,18

(Sumber : DPPKA Kota Surakarta)

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa sumbangan pajak hotel terhadap keseluruhan penerimaan pajak daerah, tidak terlalu besar namun juga tidak dapat dikatakan terlalu kecil, rata-rata kontribusi nya sebesar 13,18 %(persen) untuk tiap tahun anggaran. Hal ini dikarenakan kontribusi pajak hotel terhadap pajak hotel persentasenya mengalami kenaikan di setiap tahun.

Pajak hotel mampu memberikan kontribusi terhadap pajak daerah rata-rata hanya sebesar 13,18% setiap tahunnya. Kondisi pajak hotel tidak terlalu besar untuk dapat menunjang pendapatan asli daerah Kota Surakarta namun pajak hotel masih menjadi andalan bagi penerimaan pajak daerah yang dapat digunakan untuk pembangunan daerah. Pajak hotel hanyalah sebagai salah satu sumber dalam pajak daerah. Namun tidak berarti pajak hotel tidak penting untuk meningkatkan pajak daerah.

commit to user

125 BAB V

PENUTUP

G. Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa DPPKA Kota Surakarta dalam mengoptimalkan penerimaan pajak hotel yaitu meliputi, sosialisasi, audit/pemeriksaan, dan yustisi.

1. Dalam tahap sosialisasi dilakukan melalui pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh DPPKA maupun oleh Perkumpulan Hotel dan Restoran (PHRI), sosialisasi tersebut dapat dilakukan dengan cara lain yaitu melalui media massa contonya koran maupun melalui siaran di TATV (televisi lokal di Surakarta), dan dapat juga melalui surat edaran dari kepala dinas. Dengan diadakannya sosialisasi ini mampu membangun kesadaran wajib pajak dalam membayar kewajiban pajaknya serta untuk menjelaskan peraturan-peraturan baru.

2. Dalam tahap audit terdapat 3 tahapan yang pertama adalah tahap persiapan, pada tahapan ini tim audit mempersiapkan segala sesuatunya demi kelancaran proses pemeriksaan diantaranya mempelajari setoran wajib pajak tiap bulan dan melakukan peninjauan secara langsung. Yang ke dua tahap pelaksanaan merupakan pemeriksaan wajib pajak, yang dilakukan ditempat wajib pajak diantaranya adalah melakukan peminjaman buku-buku, memeriksa pembukuan dan melakukan interview kemudian membuat resume hasil penelitian. Dan yang ke 3 adalah tahap

commit to user

126

pembuatan Laporan Pemeriksaan Pajak (LPP) laporan tersebut berisi tentang identitas wajib pajak, identitas petufas pemeriksa, temuan hasil penelitian, penghitungan pajak hasil pemeriksaan, dan kesimpulan. Laporan hasil penelitian yang telah disusun oleh tim audit kemudian disampaikan kepada kepala DPPKA selanjutnya berdasarkan laporan hasil pemeriksaan kepada wajib pajak akan diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) dan Surat Tagihan Pajak Daerah.

3. Dan yang terakhir adalah yustisi merupakan langkah yang dilakukan oleh DPPKA apabila wajib pajak yang bermasalah, contonya seperti mengalami keterlambatan dalam penyetoran pajak terutang, apabila DPPKA sudah mengeluarkan STPD (Surat Tagihan Pajak Daerah) namun tidak adanya tanggapan baik dari wajib pajak, maka dari itu yustisi dilakukan dengan penyegelan bahkan penutupan ijin usaha. yustisi tidak semata-mata apabila ada wajib pajak yang menunggak langsung di ambil tindakan menyegel tempat usaha maupun mencabut perijinan, tetapi dengan prosedur yang sudah ada, yakni melalui beberapa tahapan pemanggilan, ada 3 (tiga tahap) pemanggilan apabila wajip pajak bersedia datang dan menjelaskan persoalan atau pun kendala-kendala yang dihadapinya sehingga pembayaran pajaknya menunggak, dan dari dinas memberi jangka waktu pembayaran dalam pembayarannya

Berdasarkan penelitian juga diketahui faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam penerimaan pajak hotel sehingga penerimaan dari sektor pajak ini meningkat dari tahun ke tahun.

commit to user

127

Secara keseluruhan dari data yang didapat di lapangan terlihat bahwa pajak hotel dan di Kota Surakarta cukup potensial. Penerimaan dari sektor pajak hotel ini memberikan kontribusi terhadap pajak daerah Kota Surakarta berkisar antara 13,18 % tiap tahunnya. DPPKA Kota Surakarta pun memiliki kinerja yang cukup baik dalam menggali potensi penerimaan dari sektor pajak hotel ini terbukti dari kemampuan DPPKA mencapai target dan bahkan cenderung melebihi target.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan DPPKA Kota Surakarta dalam menggali potensi pajak hotel yaitu sumber daya manusia yang dimiliki, kepatuhan wajib pajak, ketegasan kebijakan/aturan pajak serta kondisi sosial ekonomi daerah.

Namun dari keberhasilan tersebut DPPKA masih menyadari bahwa potensi ini belum tergali secara optimal karena diperkirakan masih bisa ditingkatkan penerimaan pajak ini dengan syarat adanya kesadaran dari wajib pajak untuk melaporkan omset mereka secara jujur. Karena peraturan perundang-undangan perpajakan Indonesia menggunakan sistem self assessment, sistem ini memberikan kepercayaan dan tanggungjawab kepada wajib pajak untuk menghitung dan membayar sendiri pajak yang terhutang. Dari kendala yang dihadapi ini seharusnya pemerintah daerah dalam hal ini DPPKA melakukan sosialisasi yang berkelanjutan dalam rangka meningkatkan kesadaran wajib pajak. H. Saran

Dari hasil penelitian yang dilakukan, maka ada beberapa saran mengenai langkah-langkah dalam mengoptimalkan penerimaan dari sektor pajak hotel yang

commit to user

128

dilaksanakan oleh Dinas pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Surakarta (DPPKA) sebagai berikut :

1. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kota Surakarta untuk lebih tegas dalam memberikan sanksi terhadap para wajib pajak yang melakukan pelanggaran-pelanggaran, misalnya pemberian denda administrasi yang hanya sebesar 2% (persen) kurang membebani wajib pajak, sehingga wajib pajak tersebut cenderung mengalami keterlambatan dalam penyetoran, seharusnya dinaikan agar tingkat kepatuhannya lebih baik lagi serta lebih tegas lagi dalam pengenaan sanksi.

2. Terdapat wajib pajak yang mengelabui para petugas pemeriksa dengan cara memanipulasi data. Mereka memberikan keterangan yang tidak sesuai dengan fakta sehingga data yang diperoleh kurang akurat. Dari hasil pemeriksaaan lebih lanjut diketahui mereka juga melakukan pembukuan ganda agar pendapatan mereka lolos dari pajak. Untuk mengatasi hal tersebut Tim audit/ pemeriksa sebaiknya menggunakan strategi lain dengan cara para Tim audit/pemeriksa melakukan pengamatan kondisi usaha wajib pajak di lapangan secara langsung dan mencari berbagai tambahan informasi dari pihak lain yang dapat memberikan keterangan mengenai kondisis yang sebenarnya dari wajib pajak. Hal ini sangat penting karena dengan mengetahui kondisi yang sebenarnya secara otomatis dapat diketahui omset-omset penjualan dari wajib pajak itu sendiri.

Dokumen terkait