Pemanfaatan Limbah Onggok dan Ampas Tahu sebagai Pakan Kaya Nutrisi untuk Mempercepat Pertumbuhan Cacing ANC
3. HASIL DAN PEMBAHASAN a. Sintesis Bioplastik
Proses pembuatan bioplastik selulosa rumput gajah terdiri dari dua tahapan yaitu isolasi selulosa rumput gajah dan sintesis bioplastik. Tahap isolasi selulosa rumput gajah dilakukan dengan metode delignifikasi yaitu menghilangkan lignin untuk memperoleh selulosa. Batang rumput gajah terlebih dahulu dibentuk menjadi serbuk melalui proses pemotongan, penghalusan dan pengeringan untuk mempermudah proses isolasi selulosa. Serbuk rumput gajah yang telah kering dipanaskan dalam larutan 1 liter HNO3 3,5 % yang mengandung 10 mg NaNO2. Proses tersebut bertujuan untuk menghilangkan lignin. Kemudian, campuran dicuci dan disaring. Ampas yang diperoleh selanjutnya dicampur dengan larutan NaOH 2% dan NaSO3 2 % serta dipanaskan selama 1 jam
RJKM, Research Journal of KSI Mist| 84 pada suhu sekitar 50°C. Hal ini
bertujuan untuk menyempurnakan pembebasan lignin dari ampas. Selanjutnya, ampas dicuci dan disaring serta dipanaskan dalam larutan NaOH 17,5% pada suhu sekitar 80°C selama 30 menit yang bertujuan untuk melarutkan β-selulosa dan 𝛾-selulosa sehingga hanya tersisa α-selulosa. Kemudian campuran dicuci dan disaring. Ampas yang diperoleh dididihkan dalam 500 ml campuran larutan natrium hipoklorit 3,5 % dan air (1:1) pada suhu 90°C selama 10 menit untuk proses pemutihan. Adapun selulosa yang diperoleh berupa serbuk putih dan tidak berbau. Selanjutnya, pada tahap kedua dilakukan sintesis bioplastik dengan menambahkan kitosan dan juga minyak biji jarak sebagai pemlastik. Hasil sintesis bioplastik selulosa rumput gajah ditunjukkan pada Gambar 1.
Gambar 1. Bioplastik dengan kitosan (a) 0% (b) 1% (c) 2% (d)
3% (e) 4% (f) 5%
Bioplastik dengan penambahan kitosan 1%, 2%, 3%, 4% dan 5% berbentuk lembaran berwarna
coklat dengan permukaan atas lebih halus daripada permukaan bawah. Adapun sampel kitosan 0% tidak terbentuk lembaran melainkan hanya seperti gel berminyak. Bioplastik dengan kitosan 15 1%, bentuk lembarannya lebih rapuh dibandingkan dengan sampel berkonsentrasi kitosan lebih besar. Hal ini dikarenakan, kitosan memberikan sifat kaku pada bioplastik (Kristiani, 2015). b. Analisa Gugus Fungsi
Hasil analisis gugus fungsi hasil sintesis bioplastik yang diidentifikasi menggunakan FTIR ditunjukkan pada Gambar 2.
Gambar 2. Spektrum FTIR Bioplastik
Interpretasi gugus fungsi bioplastik tanpa dan dengan penambahan kitosan ditunjukkan Tabel 1.
RJKM, Research Journal of KSI Mist| 85 Tabel 1. Interpretasi Gugus Fungsi Bioplastik Tanpa dan dengan Penambahan
Kitosan No.
Bilangan Gelombang (cm-1) Interpretasi
Gugus Fungsi Bioplastik dengan Konsentrasi Kitosan
0% 1% 2% 3% 4% 5% 1. 3372,38 3371,98 3351,91 3357,68 3371,1 3352,16 O-H/N-H 2. 2924,59 2924,76 2925,02 2924,93 2924,86 2924,95 C-H 3. 2855,54 2855,73 2856,03 2855,86 2855,77 2855,88 C-H 4. 1741,74 1741,65 1740,96 1741,71 1741,69 1741,68 C=O 5. - - 1545,57 1536,82 1536,9 1534,45 C=C aromatik 6. 1459,42 1459,03 1411,06 1410,99 1457,89 1410,59 C=C aromatik 7. 1162,83 1161,53 1156,7 1157,97 1159,93 1158,52 C-O glikosidik 8. - 1031,39 1023,69 1076,39 1087,79 1088,25 C-O glikosidik
Sampel bioplastik tanpa penmabahan kitosan memiliki daerah serapan 3372,38 cm-1 yang menunjukan gugus O-H, daerah 2924,59 cm-1 dan 2855,54 cm-1 yang menunjukkan gugus -CH, daerah 1459,42 yang menunjukkan C=C aromatic, daerah 1741,74 cm-1 yang menunjukkan gugus C=O dari minyak biji jarak, dan 1162,83 cm-1 yang menunjukkan gugus C-O glikosidik dari selulosa. Jika dibandingkan, daerah serapan O-H pada sampel bioplastik tanpa kitosan lebih lebar dan kuat dibandingkan sampel bioplastik dengan penambahan kitosan 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5%. Hal ini menunjukkan adanya interaksi antara gugus O-H tersebut dengan gugus N-H pada kitosan melalui ikatan hidrogen sehingga daerah
serapan O-H dengan penambahan kitosan lebih sempit dan lebih lemah. Adapun sampel bioplastik dengan kitosan 2% memiliki puncak serapan yang paling sempit. Hal ini menunjukkan gugus O-H bioplastik dengan kitosan 2% berikatan paling kuat dengan gugus N-H dari kitosan. Perbedaan lain terlihat pada daerah serapan C=C aromatik (1534,65 cm
-1-1545,57 cm-1) dan C-O glikosidik (1023,69 cm-1 -1088,25 cm-1), dimana bioplastik tanpa penambahan kitosan hanya terjadi 1 puncak serapan sedangkan pada bioplastik dengan kitosan 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5% terjadi 2 puncak serapan, hal ini menunjukkan adanya deformasi pada daerah serapan tersebut akibat adanya penambahan kitosan.
RJKM, Research Journal of KSI Mist| 86 4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis gugus fungsi menggunakan FTIR maka dapat disimpulkan bahwa gugus fungsi penyusun bioplastik selulosa rumput gajah adalah gugus O-H, C-H, C-O glikosidik, dan C=C aromatik. Penambahan kitosan pada bioplastik mengakibatkan daerah serapan O-H lebih sempit, terjadi deformasi pada 1534, 65 cm-1 - 1545,57 cm-1 dan munculnya 2 pita serapan C-O glikosidik. Dengan demikian, sampel bioplastik selulosa rumput gajah berhasil dimodifikasi dengan kitosan
5. REFERENSI Fazira, E. 2014. Plastik Biodegradable dapat Atasi Masalah Lingkungan. http://www.writing-contestBisnis.com . Diakses 12 Oktober 2017.
Fitriani, Syaiful B., dan Nurhaeni. 2013. Produksi Bioetanol Tongkol Jagung (Zea Mays) dari Hasil Proses Delignifikasi.
Natural Science. Vol.
2(3): 66-74.
Hasan , A. A., Kusmiyati. 2014. Pengaruh Pretreatment Basa Pada Produksi Bioetanol Dari Rumput Gajah (Pennisetum
Purpureum). Seminar Rekayasa Kimia Dan
Proses. 2014. D-5-1 –
D-5-6.
Kristiani, M. 2015. Pengaruh Penambahan Kitosan dan Plastisizer Sorbitol terhadap Sifak Fisiko-Kimia Bioplastik dari Pati Biji Durian (Durio
zibethinus). Skripsi.
Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara. Medan.
Ohwoavworhua, F.O., T.A. Adelakun dan A.O. Okhamafe, 2009. Processing Pharmaceutical grade microcrystalline cellulose from groundnut husk: Extraction methods and characterization.
International Journal of Green Pharmacy, 70,
97-104.
Purba, N. P. 2017. Status
Sampah Laut Indonesia.
http://indosmarin.com/s tatus-sampah-laut-indonesia/. Diakses 10 November 2017.
Sanjaya, I. G dan Puspita, T. 2011. Pengaruh penambahan kitosan dan plasticizer gliserol pada karakteristik plastik biodegradable
dari pati limbah kulit singkong. Jurnal Jurusan Teknik Kimia,
ITS. Surabaya.
Sari, K., 2009, Purifikasi
RJKM, Research Journal of KSI Mist| 87 Gajah dengan Destilasi Batch, Surabaya : Universitas Pembangunan Nasional. Sumartono, N. W., Handayani, F., R. Desiriana, Novitasari, W., Hulfa, D. S. 2015. Sintesis dan Karakterisasi Bioplastik Berbasis Alang-Alang (Imperata cylindrica(L.)) dengan Penambahan Kitosan,
Gliserol, dan Asam Oleat. Pelita, Vol. 10(2).
Sutiya, B., Wiwin T. I. , Adi R. , Sunardi. 2012. Kandungan Kimia dan Sifat Serat Alang-alang (Imperata
cylindrica) sebagai Gambaran Bahan Baku Pulp dan Kertas.
Bioscientiae.Vol. 9, Hal.8-19.
RJKM, Research Journal of KSI Mist| 88 MEDIA PENINGKATAN EFISIENSI PERTUMBUHAN DAN REPRODUKSI
CACING TANAH (Lumbricus rubellus) DENGAN CAMPURAN AZOLLA PINATA
Kahfi Imam Faqih Kurnia1), Raden Rara Fadhila Kirana2), Dhindha Normala Kusumastuti3)
1Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, UNY Email: [email protected]
2Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, UNY Email: [email protected]
3Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, UNY Email: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Azolla pinnata pada media Lumbricus rubellus terhadap pertumbuhan dan reproduksi cacing tanah. Azolla pinnata yang memiliki kandungan nitrogen tinggi dapat digunakan sebagai media pertumbuhan cacing tanah. Lumbricus rubellus memiliki peran dalam proses dekomposisi bahan organik dalam tanah sehingga reproduksinya perlu dikembangkan. Lokasi penelitian ini dilakukan di Taman Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, UNY. Penelitian ini menggunakan Randomized Complete Design metode (CRD) dengan 3 perawatan dan satu tes: (P1) Azolla pinnata 300 gram (P2) Azolla pinnata 450 gram. Fase penelitian meliputi persiapan cacing Lumbricus rubellus, persiapan alat dan media cacing Lumbricus rubellus, pemeliharaan, dan pemrosesan data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian Azolla pinnata sebagai campuran pada media cacing tanah tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan bobot cacing tanah dan jumlah kepompong yang dihasilkan oleh cacing tanah. Dari penelitian ini dapat dilihat bahwa pemberian Azolla pinnata tidak berpengaruh pada pertumbuhan dan reproduksi cacing tanah.
RJKM, Research Journal of KSI Mist| 89 1. PENDAHULUAN
Meskipun terlihat menjijikkan bagi sebagian orang, budidaya cacing tanah merupakan salah satu kegiatan yang menjanjikan. Selain perawatan yang tidak membutuhkan lahan dan biaya yang besar, pemberian makan berupa limbah organik dan perawatan cacing tanah pun terbilang mudah serta tidak memakan banyak waktu.
Salah satu jenis cacing tanah yang mudah dibudidayakan adalah cacing tanah (Lumbricus
rubellus). Hal ini dikarena
dalam pertumbuhan serta perkembangbiakan yang paling cepat. Cacing tanah merupakan sumber protein sangat tinggi dengan kadar sekitar 76% yang lebih tinggi daripada daging mamalia (65%) dan ikan (50%).
Selain itu cacing tanah juga
mengandung 17% karbohidrat, 45% lemak dan abu 1,5% (Rusmini, 2016). Dengan adanya berbagai kandungan tersebut, cacing tanah dapat dimanfaatkan dalam bidang peternakan, industri, pertanian dan bahan baku dalam kosmetik serta media bekas pertumbuhan cacing atau yang sering disebut kascing dapat digunakan sebagai pupuk organik yang mudah diserap tanaman.
Roslim, 2008 menyatakan bahwa cacing tanah sangat menyukai tanah yang banyak mengandung unsur N yang salah satunya terdapat pada
pupuk kotoran sapi. Hal tersebut karena sangat baik untuk pertumbuhan cacing tanah. Faktor penentu keberhasilan dalam budidaya cacing tanah diantaranya adalah media budidaya cacing tanah, proses fermentasi bahan organik, padat penebaran, kualitas air (oksigen terlarut, pH, dan suhu), dan sirkulasi udara (Astuti, 2001).
Untuk pertumbuhan media cacing tanah, Azolla piñata merupakan sejenis tumbuhan air yang biasa ditemukan di danau, kolam, sungai, dan persawahan. Tanaman ini memiliki daya adaptasi lingkungan yang tinggi, laju pertumbuhan yang relatif cepat, dan memiliki kandungan protein yang cukup tinggi dengan komposisi asam amino yang lengkap Azolla piñata dapat digunakan sebagai pakan karena memiliki sumber protein kandungan azolla. Selain itu Azolla piñata berpotensi menjadi kompos karena memiliki kandungan nitrogen yang tinggi, yaitu 3-5% (Sari, 2013). Hal tersebut
mendasari dalam
pemanfaatan Azolla piñata sebagai salah satu alternatif bahan baku protein yang semakin lama semakin tinggi kebutuhannya.
Beberapa penelitian telah membuktikan tentang pemberian tanaman Azolla piñata baik dalam bentuk segar maupun kompos ternyata mampu meningkatkkan pertumbuhan tanaman. Fiksasi
RJKM, Research Journal of KSI Mist| 90 nitrogen oleh Azolla piñata
mencapai 1.1 kg N2/hari sehingga berpotensi sebagai bahan pembenah struktur tanah, peningkatan permeabilitas tanah serta sebagai sumber protein nabati bagi cacing tanah (Hartadi, 1995).
Berdasarkan hal-hal tersebut, diharapkan penelitian ini akan meningkatkan hasil budidaya cacing tanah dan dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik dengan memanfatkan kascing dengan campuran Azolla pinata sebagai pupuk organik pada tumbuhan.
Cacing Lumbricus rubellus Cacing tanah (Lumbricus rubellus) termasuk dalam kelompok hewan averterbrata atau sering disebut binatang lunak. Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) termasuk dalam filum Annelida karena seluruh tubuhnya tersusun atas segmen yang berbentuk cincin. Segmentasi ini meliputi otot, saraf, alat sirkulasi, maupun alat reproduksi (Sugiri, 1998).
Struktur cacing tanah (Lumbricus rubellus), cacing
tanah (Lumbricus rubellus)
berbentuk gilig dan silinder dengan tubuh bagian depan silindris sedangkan again belakang dorsoventral. Pada cacing tanah dewasa terdapat
klitelum (segmen 32-37). Sedangkan pada cacing tanah muda terbentuk pada umur 2,5-3 bulan (Palungkun, 2008).
Sistem reproduksi cacing tanah bersifat hemaprodit yang berarti memiliki alat kelamin jantan dan betina dalam satu tubuh, akan tetapi cacing tidak dapat membuahi dirinya sendiri.
Sedangkan siklus hidup cacing tanah (Lumbricus rubellus) dimulai dari kokon, cacing muda, cacing produktif, dan cacing tua. Siklus hidup cacing dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan keberadaan makanan (Astuti, 2001).
Kokon yang baru keluar dari tubuh cacing umumnya berwarna kuning kehijauan dan akan berubah menjadi warna kemerahan pada saat akan menetas. Kokon akan menetas pada hari ke 14-21 setelah terlepas dari tubuh cacing. Setelah menetas, cacing muda ini akan mencapai dewasa kelamin dalam waktu 2,5-3 bulan. Saat dewasa, cacing tanah akan kewin selama 6-10 hari dan akan menghasilkan kokon (Astuti, 2001).
Cacing tanah sangat sensitive terhadap pH dalam media. Media yang terlalu asam akan menyebabkan pembengkakan tembolok cacing dan empelanya dan mengakibatkan kematian pada cacing. Sedangkan media yang memiliki pH terlalu basa mengakibatkan dehidratasi pada tubuh cacing tanah(Astuti, 2001). pH optimum untuk
pertumbuhan dan
perkembangbiakan cacing berkisar 6.8-7.2 (Puspitasari,
RJKM, Research Journal of KSI Mist| 91 1995).
Kelembaban sangat berpengaruh terhadap kehidupan cacing tanah untuk menjaga kulit agar berfungsi normal. Udara yang terlalu kering akan merusak keadaan kulit, namun jika kelembaban udara terlalu tinggi menyebabkan cacing tanah lari ke tempat yang memiliki aerasi lebih baik. Kelembaban yang dibutuhkan cacing berkisar antara 28- 42% (Minnich, 1997). Sedangkan suhu optimum pemeliharaan sekitar 23-26 derajat celcius (Puspitasari, 1995).
Azolla pinnata
Azolla pinnata merupakan tanaman yang masuk ke dalam kingdom plantae dan tergolong dalam kelompok paku- pakuan. Tanaman ini dapat dengan mudah dijumpai di perairan tawar daerah tropis dan daerah subtropis dan termasuk ke dalam kelompok paku heterosporus. Azolla pinnata jarang ditemui berkoloni pada permukaan air tawar.
Hal itu disebabkan karena angin dan gelombang akan menghancurkan koloni yang terbentuk serta dapat menghambat pertumbuhan. Oleh karena itu Azolla pinnata sering ditemukan pada permukaan rawa, kolam yang tenang, dan celah-celah yang terdapat ditepi perairan tawar (Maulana & Haniswita, 2016).
Umumnya Azolla pinnata
berkembangbiak secara vegetatif menggunakan spora. Azolla pinnata dapat tumbuh di air yang mengandung sedikit nitrogen karena tanaman ini mempunyai kemampuan mengikat nitrogen dalam air. Namun akan tumbuh sangat cepat apabila di habitatnya tersedia kadar nitrogen yang tinggi. Berikut ini adalah taksonomi Azolla pinnata berdasarkan system binomial nomenclature (Global Invasive Species Database, 2019). Kingdom : Plantae Divisio : Pteridophyta Kelas : Filicopsida Ordo : Hydropteridales Family : Azollaceae Genus : Azolla
Spesies : Azolla pinnata Secara morfologi, fase sporofit Azolla pinnata terdiri atas rimpang yang terapung pada permukaan air dengan tambahan cabang di bagian peripheral. Pada cabangnya terdapat daun dan akar adventif. Akar ini memiliki peran utama yaitu mengangkut air dan mineral dengan anjang batang yaitu 1-11 cm yang seluruhnya terendam dalam air. Di bagian ventral daun tidak memiliki klorofil serta berperan sebagai pengapung, sedangkan bagian dorsal daun yang terpapar ke udara memiliki klorofil dan berperan dalam fotosintesis (Maulana & Haniswita, 2016).
RJKM, Research Journal of KSI Mist| 92 Dalam sektor pertanian,
Azolla pinnata biasa dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang ramah lingkungan. Penggunaan pupuk hijau Azolla pinnata dinilai lebih murah dan mudah karena memiliki kemampuan pertumbuhan yang cepat serta dapat mengikat nitrogen guna meningkatkan kesuburan tanah. Hasil penelitian menjelaskan bahwa kandungan nitrogen pada Azolla pinnata berkisaran 4,0-5,0% dan klorofil sebesar 0,34-0,55% dari bobot kering Azolla pinnata. Selain itu, Azolla
pinnata mengandung protein
yang baik sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan hewan ternak, unggas, maupun ikan (Arizal, 2011).
Pada keadaan normal,
Azolla pinnata berinteraksi
dengan cyanobacterium yang merupakan simbion endofit.
Anggota kelompok
cyanobacterium yang bersimbiosis mutualisme dengan Azolla pinnata adalah
Anabaena azollae. Organisme
ini berperan sebagai pemfiksasi nitrogen bebas dari atmosfer sehingga dapat mencukupi kebutuhan tanaman inangnya maupun tanaman disekitarnya (Maulana & Haniswita, 2016). Proses fiksasi nitrogen di udara yang terjadi pada daun Azolla pinnata selama kurun waktu 106 hari saat tebar dapat mencapai 120-140 kg N/ha
atau rata- rata 1,1-1,3 kg N/hari. Hasil fiksasi nitrogen ditransfer ke seluruh bagian tubuh Azolla pinnata secara merata dengan laju pertumbuhan sekitar 35%/hari (Arizal, 2011).
2. METODE
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan menggunakan massa Azolla pinnata yang berbeda pada media pertumbuhan dan reproduksi cacing Lumbricus rubellus. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan di Kebun Biologi Universitas Negeri Yogyakarta. Alat yang digunakan pada penelitian ini yaitu sekop, pengaduk/ spatula, wadah plastik, alat ukur/penggaris, kamera, kantong plastik, timbangan digital, ember, sarung tangan lateks, masker. Bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu cacing tanah (Lumbricus rubellus), Azolla pinnata, tanah, dan air.
a. Prosedur Penelitian 1) Tahap Persiapan
Persiapan alat dan bahan yang akan digunakan. Kemudian menimbang kotoran kambing sebanyak 4 kg,
Azolla piñata sebanyak
2,5 kg, batu bata sebanyak 3 kg, akuades. Pembuatan
Medium Pertumbuhan
Media untuk
pertumbuhan cacing dibuat dengan cara mendiamkan Azolla
RJKM, Research Journal of KSI Mist| 93 pinata selama 3x24 jam,
dilanjutkan dengan menghancurkan batu bata terlebih dahulu lalu mencampurkan batu bata halus, Azolla pinata yang telah didiamkan, dan kotoran kambing dan akuades selanjutnya dicampur dan didiamkan selama 7x24 jam. di letakkan media pada tabung jar, dan terakhir diberi cacing sebanyak lima ekor setiap wadahnya.
2) Tahap Penelitian
Setelah didiamkan selama 1x24 jam diamati bagaimana reaksi cacing tanah terhadap media, selanjutnya di ukur untuk pertambahan panjang, berat, dan jumlah cacing pada hari ke- 7, 14, 21, dan 28. Parameter dalam penelitian ini adalah pertumbuhan dan perkembangbiakan cacing tanah cacing tanah (Lumbricus rubellus). b. Teknik Analisa Data
1) Perhitungan Pengamatan Pertambahan Bobot Cacing
Induk cacing tanah dikeluarkan dari media, dibersihkan kemudian ditimbang. 2) Reproduksi Cacing Pengukuran reproduksi L. rubellus dengan menghitung jumlah
kokon yang dihasilkan oleh induk cacing dengan mengeluarkannya dari media perlakuan.
c. Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam atau analysis of variance (ANOVA) pada taraf kepercayaan 95%.
RJKM, Research Journal of KSI Mist| 94 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian yang berjudul Media Peningkatan Efisiensi Pertumbuhan dan Reproduksi Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) dengan Campuran Azolla pinnata memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Azolla pinnata dan efisiensi reproduksi cacing tanah. Azolla pinnata adalah salah satu tanaman yang tergolong dalam paku-pakuan yang dapat digunakan sebagai pupuk organik karena mengandung nitrogen dan klorofil.
Dalam Azolla pinnata terkandung nitrogen sebanyak 4,0-5,0% dan klorofil sebesar 0,34-0,55% dari bobot kering Azolla pinnata. Selain itu, Azolla pinnata mengandung protein yang baik sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan hewan ternak, unggas, maupun ikan (Arizal, 2011).
Sebelum digunakan untuk media pertumbuhan cacing tanah, Azolla pinnata difermentasi terlebih dahulu dengan mikroba EM4 yang bertujuan untuk merombak senyawa kompleks menjadi lebih sederhana. Dalam menyiapkan media pertumbuhan cacing ini,telah dipastikan terlebih dahulu
bahwa pH media sebesar 6,7 dan suhu sebesar 25°C. Kale & Karmegan (2010)
menyatakan bahwa pertumbuhan cacing
tanah akan optimal pada suhu 25-28°C dan pH berkisaran antara 6,55-7,98. Perlakuan pemberian Azolla pinnata sebagai media pertumbuhan cacing dengan perbandingan yang berbeda memiliki hasil yang berbeda pula. Variabel yang diamati yaitu berat cacing (gram). Pada media kontrol, Azolla pinnata tidak diberikan di dalam media cacing. Pertumbuhan cacing ditimbang beratnya dari minggu pertama yaitu sebesar 12 gram, kemudian bertambah menjadi 15 gram pada minggu kedua. Pada minggu ketiga dan minggu keempat diperoleh berat cacing sebesar 16 gram. Sehingga hasil yang didapatkan pada minggu kedua yaitu pertambahan berat cacing sebesar 3 gram dan minggu ketiga pertambahan berat cacing sebesar 1 gram, sedangkan pada minggu keempat tidak terdapat pertambahan berat cacing.
Pada media 2, banyaknya Azolla
pinnata yang dipakai dalam media sebanyak 300 gram. Pertumbuhan cacing ditimbang beratnya dari minggu pertama yaitu sebesar 12 gram, kemudian bertambah menjadi 15 gram pada minggu kedua. Pada minggu ketiga dan
minggu keempat diperoleh berat cacing
sebesar 17 gram. Sehingga pada minggu kedua didapatkan pertambahan berat cacing sebesar 3 gram dan minggu ketiga sebesar 2 gram, sedangkan pada minggu keempat tidak terdapat pertambahan berat cacing.
RJKM, Research Journal of KSI Mist| 95 Pada media 3, digunakan Azolla
pinnata sebanyak 450 gram. Pertumbuhan cacing ditimbang beratnya dari minggu pertama yaitu sebesar 12 gram, kemudian bertambah menjadi 14 gram pada minggu kedua. Pada minggu ketiga diperoleh berat cacing sebesar 18 gram dan minggu keempat sebesar 19 gram. Sehingga hasil yang didapatkan pada minggu kedua yaitu pertambahan berat cacing sebesar 2 gram, minggu ketiga sebesar 4 gram, dan minggu keempat diperoleh pertambahan berat cacing sebesar 1 gram.
Dari ketiga media tersebut, tidak ditemukan adanya kokon. Namun pada saat dilakukan pengambilan data, ditemukan 2 anakan cacing dari media
Azolla pinnata 3. Hal ini dikarenakan cacing Lumbricus rubellus belum melakukan perkawinan secara menyeluruh sehingga perkembangbiakan
yang dilakukan melalui fertilisasi silang yaitu terjadinya proses kopulasi dan fertilisasi secara eksternal belum terjadi sepenuhnya (Budiarti & Asiani,
1993).
Dalam penelitian ini tidak terjadi proses fermentasi Azolla pinnata yang sempurna untuk media pertumbuhan cacing tanah. Ketidaksempurnaan ini dikarenakan senyawa protein yang tidak teurai berakibat pada proses pembusukan Azolla pinnata.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan dua hal, yaitu sebagai berikut:
1. Dilihat dari pertambahan berat cacing pada ketiga media yaitu media kontrol, media Azolla 2 dan media Azolla 3, perlakuan yang paling efektif untuk meningkatkan pertambahan berat cacing adalah media Azolla 3.
2. Reproduksi cacing tanah dapat dilihat dari jumlah kokon yang ada di ketiga media, tidak ditemukan adanya kokon di ketiga media selama pengamatan.
5. REFERENSI
Arizal, A. (2011). Kandungan Nitrogen (N) pada Azolla pinnata yang Ditumbuhkan dalam Media Air dengan Kadar yang Berbeda [skripsi]. Bogor: Institut
Pertanian Bogor.
Budiarti, & Asiani. (1993). Cacing Tanah. Jakarta: Swadaya.
Global Invasive Species Database. (2019). Diambil kembali dari
Species profile: Azolla pinnata:
Downloded from
http://www.iucngisd.org/gisd/sp ecies.php?sc=204 on 21-02-2019.
Handayani, S. (2010). Kualitas Batu Bata Merah Dengan Penambahan Serbuk Gergaji. Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan, No.1 Vol.12, 41-50.
Maulana, M. F., & Haniswita. (2016). Implementasi Biofertilizer Azolla
RJKM, Research Journal of KSI Mist| 96 pinnata dalam Sistem Produksi
Padi Indonesia: Upaya Mencapai Ketahanan Pangan
Demi Pembangunan
Berkelanjutan.
RD, K., & M, K. (2010). The role of earth- worms in topics with emphasis on Indian ecosystems. Applied and Environmental Soil Science.
Minnich. 1997. The Earthworm Book. How To Rise and Use EarthwormFor Your Form. Rodale press Emmaus. NewYork. 90-127.
Palungkun, R. 2008. Sukses Beternak Cacing Tanah Lumbricus
rubellus. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal 5- 15.
Puspitasari,W.1995. Pengaruh Beberapa Media Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Cacing Tanah. Skripsi.jurusan Biologi FMIPA. IPB.Bogor.39
Rusmini. 2016. Pelatihan Budidaya Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) Bagi Para Tani Desa Sumberdukun, Ngariboyo, Magetan. ABDI. No.2 Vol.1, 114- 120.
Sari, Indriati Meilina. 2013. Uji Pemberian Kompos Azolla microphylla Pada pertumbuhan Bibit Karet Stum Mini.
Sugiri, N. 1998. Zoologi Avertebrata II Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat.IPB.Bogor. 50.
Wanasuria,S. 1997. Perunggasan Ayam dan Telur. 26:21-22.