• Tidak ada hasil yang ditemukan

TERHADAP REDUKSI RADIASI ELEKTROMAGNETIK PADA HANDPHONE

3. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan untuk

menggunakan SPSS. Langkah pertama adalah menghitung rata-rata data tiap perlakuan. Kemudian dilanjutkan membuat grafik dari keseluruhan data untuk dibandingkan dengan variabel kontrol. Hasil dari perbandingan data tersebut akan didapatkan suatu kesimpulan.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak biji semangka terhadap penurunan suhu tubuh mencit. Penelitian ini menggunakan mencit sebagai hewan percobaan, yang dibagi menjadi lima kelompok yaitu kelompok kontrol positif dan kelas kontrol negatif. Berikut adalah hasil pengukuran rata-rata suhu tubuh mencit.

RJKM, Research Journal of KSI Mist| 37

Tabel 1. Rata-Rata Suhu Tubuh Mencit

A (Dosis 1) B (Kontrol Positif) C (Kontrol Negatif) D (Dosis 2) E (Dosis 3) Suhu Awal 36,6 36 36,67 36,23 36,43 Suhu Suntik 37,97 37,87 38,3 37,4 38 6 Jam 36,53 37,5 37,63 36,1 36,17 12 Jam 35,03 35,1 37,13 34,47 36,03

Pada penelitian ini hasil pengukuran suhu tubuh mencit pada kondisi awal (T1) menunjukan suhu rata-rata kelompok perlakuan dosis 1 36,6

oC, kelompok dosis 2 36,2 oC, kelompok dosis 3 36,4 oC, kelompok kontrol positif 36 oC dan kelompok kontrol negatif 36,67 oC. Untuk mengetahui pengaruh antipiretik ekstrak biji semangka (Citrullus lanatus) terhadap penurunan suhu tubuh mencit harus dilakukan pada tikus yang kondisinya dalam keadaan demam. Oleh karena itu diperlukan demam buatan untuk mendemamkan tikus yaitu dengan metode pemberian ragi roti. Pengujian antipiretik dilakukan dengan menginduksi suspensi ragi 20% secara subkutan. Setelah 16 jam suhu tubuh tikus mengalami kenaikan

akibat dari induksi. Ragi (Saccharomyces cereviceae)

sebagai agen penginduksi memiliki molekul yang besar. Saat diinjeksikan secara subkutan pada tikus, molekul ragi yang besar ini dapat memicu proses pertahanan tubuh terhadap molekul asing. Sistem imun merespon ragi sebagai pirogen eksogen yang kemudian memicu demam (Maulidina dkk., 2016). Setelah pemberian ragi diperoleh rata-rata suhu pada masing-masing kelompok perlakuan dosis I, dosis II, dosis III, kelompok kontrol positif dan kelompok kontrol negatif secara berturut-turut 37,9 oC; 37,4 oC; 38 oC; 37,8 oC; dan 38,3 oC. Data tersebut menunjukan terjadinya kenaikan suhu tubuh mencit akibat diinduksi ragi roti.

RJKM, Research Journal of KSI Mist| 38 Grafik 1. Rata-Rata Suhu Tubuh Mencit

Berdasarkan data yang diperoleh, dosis ekstrak biji semangka sebesar 0,5 ml/100 gBB, 1 ml/100 gBB dan 2

ml/100 gBB mampu

menghasilkan efek penurunan suhu tubuh tikus. Pada dosis 0,5 dan 1 mL/100 gBB suhu tubuh mengalami penurunan di 6 jam pertama setelah perlakuan. Penurunan suhu tubuh tikus terus terjadi hingga 12 jam setelah perlakuan. Pada dosis 2 ml/100 gBB suhu tubuh tikus mengalami penurunan pada 6 jam setelah perlakuan dan mengalami penurunan yang tidak begitu signifikan hingga 12 jam setelah perlakuan. Dosis ekstrak 0,5 dan 1 mL/100 gBB bekerja efektif memberikan aktivitas antipiretik pada 6 jam pertama dan kemampuan mengembalikan suhu tubuh tikus menjadi normal (suhu tubuh tikus sebelum induksi) sedangkan dosis 2 ml/ 100 g bekerja lebih cepat dengan menurunkan suhu tubuh tikus di

6 jam setelah perlakuan dan penurunan suhu tubuh berjalan lebih lambat hingga 12 jam setelah perlakuan. Sehingga dapat dikatakan ekstrak biji semangka memiliki aktivitas antipiretik. Hal ini didasarkan atas perbandingan suhu tubuh tikus kontrol negatif dengan uji. Pada tikus kontrol negatif, suhu tubuh tikus setelah induksi tidak mengalami penurunan yang signifikan hingga 12 jam setelah perlakuan. Berdasarkan literatur, kondisi pireksia yang diakibatkan oleh induksi ragi dapat bertahan hingga 6 jam. Akan tetapi ekstrak biji semangka mempengaruhi kondisi pireksia dengan menurunkan suhu tubuh tikus.

Penurunan suhu rektal pada pemberian parasetamol lebih signifikan dibandingkan dengan kelompok yang diberi dosis ekstrak biji semangka 0,5, 1 dan 2 ml/100 gBB. Berdasarkan hasil penelitian yang didapat, efek antipiretik dari ekstrak biji

32 33 34 35 36 37 38 39

Suhu Awal Suhu Demam 6 Jam 12 Jam A B C D E

RJKM, Research Journal of KSI Mist| 39 semangka ini diduga karena

adanya senyawa flavonoid yang terkandung dalam bij semangka. Hasil penelitian Adesokan tahun 2008 membuktikan bahwa flavonoid dapat bersifat antipiretik. Selain flavonoid, efek antipiretik dari biji semangka juga mungkin disebabkan oleh kandungan kimia lainnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kandungan kimia lain yang berperan sebagai

antipiretik beserta mekanisme kerjanya.

4. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa ekstrak biji semangka (Citrullus lanatus)

memiliki efek antipiretik terbaik pada dosis 2 ml/100 g BB mencit terhadap mencit yang diinduksi ragi roti.

5. REFERENSI

Artés F, Pedro A, Robles PA, Alejandro G, Callejasa T. Low UV-C illumination for keeping overall quality of fresh-cut watermelon. Postharvest Biol Technol. 2010;55:114–20. Carbonetti & Nicholas H. 2010.

Pertussis toxin and adenylate cyclase toxin : key virulence factor of Bordatella pertussis and cell biology tool.

NationalInstitutes of Health, vol. 5, pp. 455-469.

Dawud, F., Bodhi, W., Lolo, W.A. (2014). Uji Efek Antiinflamasi Ekstrak Etanol Kulit Buah Mahkota Dewa terhadap Edema Kaki Tikus Putih Jantan. Program Studi Farmasi FMIPA Unsrat Manado.

Deshmukh, 2015. Translation of Basic and Clinical Pharmacology Eight Edition

Alih bahasa oleh Bagian Farmakologi Fakultas kedokteran Universitas Airlangga. Jakarta: Salemba Medika.

Dinarello, C.A., Gelfand, J.A., 2011, Fever and Hyperthermia. Dalam: Kasper DL, Fauci AS, Longo DL, Braunwald E,Hauser SL, Jameson JL, editor. Harrison’s Principles of

Internal Medicine. Ed.18.

USA: McGraw-Hill

Companies: 143- 147.

FAO,Legumes in Human Nutrition: Food and Agricultural Organization Report of the United Nations, 1994

Freddy IW. 2007. Analgesik, antipiretik, antiinflamasi nonsteroid dan obat pirai. Farmakologi dan Terapi, Edisi ke-5. Jakarta : Bagian Farmakologi, Fakultas

RJKM, Research Journal of KSI Mist| 40 Kedokteran, Universitas

Indonesia

Gunawan, S.G., Setiabudy, R., Nafrialdi, dan Elysabeth. 2007.

Farmakologi dan Terapi, 5 th ed. Jakarta : Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.

Hay, W. W., Levin, M. J., Sondheimer, J. M., Deterding, R. R., 2007. Lange : Current

Diagnosis and Treatment in Pediatrics. 18th edition. Mac

Graw Hills.

Hollman, P.C.H, M.G.L. Hertog and M.B. Katan, 1996. Analysis and Health Effects of

Flavonoids. Food Chemistry, 57 (1) : 43-46.

James dkk. 2008. Prinsip-prinsip

Sains untuk Keperawatan. Alih

Bahasa Wardhani. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Johnson J. T., Iwang E. U., Hemen J. T., Odey M. O., Efiong E. E. and Eteng, O. E. Evaluation of anti-nutrient contents of watermelon Citullus lanatus. Annals of Biological Research, 2012, 3 (11):5145- 5150

Katzung, B. G., 2004. Farmakologi

Dasar dan Klinik Edisi XIII.

Malole, M.B.M., Pramono C.S.U., 1989. Penggunaan Hewan-hewan Percobaan di Laboratorium. Bogor : PAU Pangan dan Gizi, IPB.

Mradu, G., Dalia, B., Arup, M. 2013.

Studies of Anti-Inflammatory, Antipyretic and Analgesic Effect of Aqueous Extract of Traditional Herbal Drug on

Rodents, JInt Res Pharm;

4(3):113-120.

Priambodo, Swastiko. 1995.

Pengendalian Hama Tikus Terpadu. Jakarta: Penebar Swadaya .

Robinson T. 1991. Kandungan organik tumbuhan tinggi. Edisi

ke-6. Penerbit ITB Press, Bandung.

Sodikin.2012.Prinsip Perawatan

Demam Pada

Anak.Yogyakarta:Pustaka

Pelajar

Setyowati, Lina. 2013. Hubungan Tingkat Pengetahuan Orang Tua Dengan Penanganan Demam Pada Anak Balita Di

Kampung Bakalan Kadipiro Banjarsari Surakarta.Skripsi. Surakarta : STIKES PKU Muhamadiah Surakarta

Varghese S, Narmadha R, Gomathi D, Kalaiselvi M, Devaki K (2013). Phytochemical screening and HPTLC finger

RJKM, Research Journal of KSI Mist| 41 printing analysis of Citullus

lanatus (Thunb.) seed. J. Acute

RJKM, Research Journal of KSI Mist| 42 PENGARUH PEMBERIAN PAKAN FERMENTASI LIMBAH AMPAS BIR TERHADAP PENINGKATAN PERTUMBUHAN AYAM PEDAGING

Yustia Pramesti1), Melati Arifina Alanis2), Ferawati Tri Ningsih3)

1Pendidikan IPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta email: [email protected]

2Pendidikan IPAFakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta email: [email protected]

3Pendidikan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta email: [email protected]

Abstrak

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar ketiga di dunia. Persaingan di era gloabalisasi yang semakin meningkat menyebabkan perlunya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Peningkatan kualitas sumber daya manusia perlu dilakukan terutama dalam gizi makanan yaitu protein hewani. Permintaan akan konsumsi daging ayam setiap harinya semakin meningkat. Akan tetapi, hal tersebut tidak diimbangi dengan pengiriman daging yang stabil setiap hari dari rumah potong hewan dikarenakan mahalnya harga pakan dan lamanya proses penggemukan. Banyak limbah agroindustri yang masih mengandung banyak nutrisi yang kurang dimanfaatkan oleh peternak salah satunya yaitu limbah ampas bir. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan yang berasal dari limbah ampas bir yang difermentasi dengan menggunakan molase terhadap peningkaan pertumbuhan ayam pedaging. Limbah ampas bir mampu meningkatkan pertumbuhan berat ayam potong antara 1,3-1,8 ons perminggun. Limbah ampas bir memiliki kandungan yang dibutuhkan oleh ayam. Pakan limbah ini sesuai untuk meningkatakn pertumbuhan berat badan ayam potong.

RJKM, Research Journal of KSI Mist| 43 1. PENDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar ketiga di dunia. Jumlah penduduk Indonesia yang besar ini membuat persaingan di era globalisasi semakin meningkat. Persaingan di era gloabalisasi yang semakin meningkat menyebabkan perlunya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Peningkatan kualitas sumber daya manusia mulai dilakukan oleh pemerintah Indonesia melalui beberapa bidang yaitu pendidikan, kesehatan dan juga perbaikan gizi. Perbaikan gizi dilakukan dengan meningkatkan sumber gizi yang ada saat ini. Salah satu sumber gizi yang masih perlu diperbaiki yaitu protein hewani. Protein hewani ini salah satunya yaitu yang berasal dari daging ayam. Menurut Badan Pusat Statistika, rata-rata konsumsi per kapita seminggu daging ayam selalu meningkat pada tahun 2013 (0,078 kg), 2014 (0,086 kg), 2015 (0,103 kg), 2016 (0,111 kg), dan 2017 (0,124 kg).

Jumlah peternakan di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan. Akan tetapi, yang menjadi problematika umum bagi usaha peternakan ayam di Indonesia dewasa ini yaitu harga pakan yang semakin tinggi, ketersediaan bahan pakan ternak yang terbatas dan juga sistem-sistem pemeliharaan yang masih tradisional. Padahal jumlah permintaan akan konsumsi daging ayam setiap harinya semakin meningkat.

Pakan merupakan hal utama dalam tata laksana pemeliharaan, apabila

kebutuhan pakan tidak terpenuhi maka akan berdampak pada status gizi ternak. Status gizi ternak merupakan ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk ternak yang diindikasikan oleh bobot tubuh dan tinggi badan ternak. Status gizi juga didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrien. Pakan yang baik adalah pakan yang kandungan gizinya dapat diserap tubuh dan mencukupi kebutuhan ternak sesuai status fisiologisnya. Nilai gizi bahan pakan bervariasi, maka penyusunan bahan pakan yang baik adalah ketepatan memasangkan satu jenis bahan pakan dengan bahan pakan lain untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya.

Limbah ampas bir merupakan limbah agroindustri. Limbah ampas bir ini memiliki kandungan gizi yang dapat dimaksimalkan dengan proses fermentasi menggunakan limbah dari agroindustri yaitu molase. Fermentasi limbah ampas bir ini nantinya akan meningkatkan kandungan dari gizi pakan tersebut. Menurut Juwono (2007) ampas bir merupakan salah satu limbah industri pengolahan hasil pertanian yakni pembuatan bir dengan bahan baku 17 barley, beras dan jagung. Menurut Lubis (1992) kandungan ampas bir antara lain berupa protein 25,9%, serat kasar 15 %. lemak 6,50 % dan abu 3,40 %.

Limbah ampas bir memiliki potensi yang cukup besar sebagai sumber pakan. Limbah ampas bir ini dapat dimanfatkan, untuk meningkatkan kebutuhan protein hewani menuju Indonesia Emas 2045 melalui

RJKM, Research Journal of KSI Mist| 44 peningkatan kualitas SDM yang

dimiliki bangsa ini. Berdasarkan permasalahan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui “Pengaruh Pemberian Pakan Dari Limbah Ampas Bir Terhadap Pertumbuhan Ayam Pedaging”. Dengan mengetahui pengaruh pemberian pakan fermentasi limbah ampas bir ini nantinya apakah berpengaruh terhadap pertumbuhan berat badan ayam atau tidak. Proses pembuatan pakan dilakukan dengan cara fermentasi yang bertujuan pakan dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama. Pakan ini nantinya kan memenuhi kebutuhan potein hewani melalui daging ayam untuk meningkatkan kualitas SDM menuju Indonesia emas 2045 dan meningkatkan daya saing bangsa Indonesia dengan bangsa lain didunia. 2. METODE

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Subjek dalam penelitian ini adalah fermentasi limbah ampas bir dan objek dalam penelitian ini adalah pertumbuhan berat badan ayam pedaging. Variabel bebas penelitian yang digunakan adalah pemberian pakan fermentasi dengan pemberian pakan konstrat dan bekatul dengan variabel terikat yaitu peningkatan pertumbuhan ayam pedaging yang diberikan pakan fermentasi dari limbah ampas bir dengan pakan konsentrat dan bekatul. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni di Pongangan, Wates, Magelang Utara, Kota Magelang.

Alat yang digunakan adalah penggiling pakan, mesin pemotong, karung, pengaduk dari plastik, mesin penyaring/ayakan, mesin pengering (oven), ember, nampan. Sedangkan bahan yang dibutuhkan adalah premik, dedak halus, ampas bir.

Pada pembuatan pakan dengan bahan baku limbah ampas bir terdapat enam tahap. Tahap pertama yaitu menimbang semua bahan. Selanjutnya memasukkan bahan dedak halus dan ampas bir dalam mesin penggiling. Lalu bahan tersebut ditambahkan dengan sedikit air dan premik, kemudian menunggu hasil penggilingan sampai halus. Tahap selanjutnya memasukkan hasil penggilingan ke dalam karung dan menutup rapat selama 7 hari. Selanjutnya menggeringkan bahan yang telah difermentasi menggunakan mesin oven. Lalu memasukkan pakan fermentasi yang telah kering ke dalam karung atau wadah plastik yang bertujuan untuk menyimpan pakan agar tahan lama. Pakan fermentasi siap untuk dijadikan pakan ayam.

Takaran pakan fermentasi diberikan sesuai dengan berat badan ternak ayam yaitu 2% dari berat badan ayam setiap harinya. Sebagai contoh, untuk ayam dengan berat badan 4 kg akan diberikan pakan fermentasi 2% dari 4 kg yaitu 80 gram. Pakan fermentasi diberikan tidak sekali makan, tetapi dengan aturan pagi dan sore hari, dengan perbandingan pagi hari dan sore hari 25%:75%. Contoh, pakan fermentasi gram/hari maka dibagi menjadi 20 gram pada pagi hari dan 60 gram pada sore hari. Sedangkan untuk air minum dibuat

RJKM, Research Journal of KSI Mist| 45 nonstop 24 jam dengan memanfaatkan

hukum archimedes pada bak penampungan air.