• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Analisis dan Pembahasan

C. Hasil Dan Pembahasan

Pengolahan data dilakukan secara elektronik mempergunakan Microsoft Excel dan SPSS 16.0 for Windows untuk mempercepat perolehan data hasil yang dapat menjelaskan variabel-variabel yang diteliti. Tabel deskriptif menunjukkan semua variabel yang digunakan

64 dalam model analisis Regresi Berganda, yaitu variabel Y (Volatilitas Harga Saham), variabel X1 Dividen Yield, X2 Dividen Payout Ratio, X3 Volatilitas Earning, X4 DAR, X5 Firm Size dan Growth In Asset sebagai variabel bebas. Penjelasan lengkap masing-masing variabel adalah:

a. Dividen Yield

Dividend Yield adalah dividen yang dibayarkan dibagi dengan harga saham sekarang (Jones, 2004:41). Dividend yield dinyatakan dalam bentuk persentase yang merupakan salah satu komponen dari total return Tabel 4.2 Dividen Yield Perusahaan LQ45 tahun 2005 - 2009 EMITEN 2005 2006 2007 2008 2009 ANTM 7,79 4,07 4,81 5,27 47,45 ASII 6,96 2,80 0,59 8,25 163,20 BBCA 6,47 3,27 1,62 3,03 16,60 BBRI 10,22 3,36 2,65 3,69 93,29 AALI 6,63 2,58 2,91 5,15 52,73 BDMN 5,69 1,97 2,61 2,93 56,39 BLTA 3,37 2,30 1,89 0,86 37,56 BMRI 5,20 2,41 5,31 4,37 18,66 BUMI 1,97 1,78 1,28 5,56 71,85 INDF 2,47 2,30 1,67 5,05 22,00 TINS 14,45 4,67 6,18 12,31 26,25 TLKM 6,17 3,00 4,49 4,30 14,62 UNSP 3,61 1,55 0,75 3,46 16,09 UNTR 3,95 1,98 1,93 7,72 9,33

Berdasarkan hasil perhitungan Dividen Yield masing-masing perusahaan pada Tabel 4.2, Pada Tahun 2005, Dividen Yield, tertinggi dimiliki oleh PT.Timah Tbk sebesar 14,45 dan terendah dipegang oleh PT.

65 Bumi Resource Tbk sebesar 1,97. Pada Tahun 2006, Dividen Yield, tertinggi dimiliki oleh PT. Timah Tbk sebesar 4,67 dan terendah dipegang oleh PT. Bakrie Sumatra Plantions Tbk sebesar 1,55. Pada Tahun 2007, Dividen Yield, tertinggi dimiliki oleh PT. Timah Tbk sebesar 6,18 dan terendah dipegang oleh PT. Astra International Tbk sebesar 0,59. Pada Tahun 2008, Dividen Yield, tertinggi dimiliki oleh PT. Timah Tbk sebesar 12,31 dan terendah dipegang oleh PT. Berlian laju Tanker Tbk sebesar 0,86. Dan pada Tahun 2009, Dividen Yield, tertinggi dimiliki oleh PT. Astra International Tbk sebesar 163,20 dan terendah dipegang oleh PT. United Tractors Tbk sebesar 9,33.

Jika investor bermaksud menyimpan saham selamanya, ia mengharapkan dividen saham. Jika investor bermaksud menjual saham dikemudian hari, ia mengharapkan dividen saham dan keuntungan akibat kenaikan harga saham. Ini berarti apabila dividend yield dari perusahaan yang efisien semakin tinggi maka semakin besar kemungkinan saham itu dinilai tinggi. Hal ini akan membuat investor mau menanamkan dananya pada saham tersebut, sehingga permintaan akan saham tersebut naik pada akhirnya menyebabkan harga saham akan naik juga.

b. Dividen Payout Ratio

Dividend Payout Ratio (DPR) adalah perbandingan antara dividen per share dengan earning per share. DPR digunakan untuk mengukur berapa rupiah yang diberikan kepada pemegang saham dari keuntungan yang diperoleh perusahaan setelah dikurang pajak.

66 Tabel 4.3

Dividen Payout Ratio

Perusahaan LQ45 tahun 2005 - 2009 EMITEN 2005 2006 2007 2008 2009 ANTM 63,11 40,00 40,00 40,07 90,55 ASII 52,67 47,99 9,94 38,32 46,32 BBCA 75,34 49,39 32,54 42,68 19,38 BBRI 97,67 49,94 49,99 34,92 0,88 AALI 64,75 65,00 65,03 30,23 27,76 BDMN 66,35 49,58 49,67 29,95 0,76 BLTA 22,55 13,80 27,40 1,47 8,76 BMRI 286,53 59,66 88,80 34,84 8,74 BUMI 23,82 15,47 20,10 13,89 4,08 INDF 171,34 44,28 41,42 39,90 1,02 TINS 123,16 50,00 50,00 4,99 13,54 TLKM 91,74 55,54 71,44 56,37 5,78 UNSP 30,22 20,22 31,17 19,64 6,13 UNTR 39,35 39,85 40,11 40,01 663,85

Berdasarkan hasil perhitungan Dividen Payout Ratio masing-masing perusahaan pada Tabel 4.3, Pada Tahun 2005, Dividen Payout Ratio, tertinggi dimiliki oleh PT. Bank Mandiri Tbk sebesar 286,53 dan terendah dipegang oleh PT. Berlian Laju Tanker Tbk sebesar 22,55. Pada Tahun 2006, Dividen Payout Ratio, tertinggi dimiliki oleh PT. Astra Agro Lestari Tbk sebesar 65,00 dan terendah dipegang oleh PT. Berlian Laju Tanker Tbk sebesar 13,80. Pada Tahun 2007, Dividen Payout Ratio, tertinggi dimiliki oleh PT. Bank Mandiri Tbk sebesar 88,80 dan terendah dipegang oleh PT. Astra International Tbk sebesar 9,94. Pada Tahun 2008, Dividen Payout Ratio, tertinggi dimiliki oleh PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk sebesar 56,37 dan terendah dipegang oleh PT. Berlian Laju Tanker Tbk sebesar 1,47. Dan pada

67 Tahun 2009, Dividen Payout Ratio, tertinggi dimiliki oleh PT. United Tractors Tbk sebesar 663,85 dan terendah dipegang oleh PT. Bank Danamon Tbk sebesar 0,76. DPR memberikan gambaran tingkat pembagian dividen terhadap Net income yang diperoleh perusahaan. Semakin mapan suatu perusahaan pada umumnya memiliki tingkat DPR yang semakin tinggi.

c. Volatilitas Earning

Earning volatility adalah standar deviasi laba sebelum bunga dan pajak (EBIT). Variabel ini di gunakan proxy untuk mengukur tingkat resiko bisnis dan potensi kebangkrutan perusahaan.

Tabel 4.4 Volatilitas Earning Perusahaan LQ45 tahun 2005 - 2009 EMITEN 2005 2006 2007 2008 2009 ANTM 0,0069 0,1395 0,4221 (0,5243) (0,1569) ASII 0,0042 (0,0403) 0,0750 0,0586 (0,0402) BBCA 0,0041 0,0053 0,0015 0,0054 (0,0044) BBRI 0,0089 0,0029 0,0028 0,0046 (0,0024) AALI (0,0138) (0,0009) 0,3973 0,1588 (0,2652) BDMN (0,0203) (0,0083) 0,0089 (0,0055) (0,0016) BLTA 0,0502 0,0683 (0,0216) 0,0320 (0,0653) BMRI 0,0004 0,0068 0,0060 0,0027 (0,0019) BUMI (0,0455) 0,0346 0,2043 1,0855 (1,0576) INDF (0,0289) 0,0496 0,0466 (0,0135) 0,0253 TINS (1,0432) 0,0413 0,4583 (0,0942) (0,3626) TLKM 0,0668 0,0766 0,0439 (0,5789) (0,0266) UNSP 0,0166 0,0501 0,0217 (0,0136) 0,0123 UNTR 0,0092 (0,0190) 0,0536 0,0789 0,0144

Berdasarkan hasil perhitungan Volatilitas Earning masing-masing perusahaan pada Tabel 4.4, Pada Tahun 2005, Volatilitas

68 Earning, tertinggi dimiliki oleh PT. Telekumonikasi Indonesia Tbk sebesar 0,0668 dan terendah dipegang oleh PT. Timah Tbk sebesar -1,0432. Pada Tahun 2006, Volatilitas Earning, tertinggi dimiliki oleh PT. Aneka Tambang Tbk sebesar 0,1395 dan terendah dipegang oleh PT. Astra International Tbk sebesar -0,0403. Pada Tahun 2007, Volatilitas Earning, tertinggi dimiliki oleh PT. Timah Tbk sebesar 0,4583 dan terendah dipegang oleh PT. Berlian Laju Tanker Tbk sebesar -0,0216. Pada Tahun 2008, Volatilitas Earning, tertinggi dimiliki oleh PT. Bumi Resource Tbk sebesar 1,0855 dan terendah dipegang oleh PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk sebesar -0,5789. Dan pada Tahun 2009, Volatilitas Earning, tertinggi dimiliki oleh PT. Indofood Sukses Makmur Tbk Tbk sebesar 0,0253dan terendah dipegang oleh PT. Bumi Resource Tbk sebesar -1,0576.

d. Firm Size

Firm Size diberi simbol size. Variabel ini diukur dengan natural log total asset (Masdupi, 2005).

Tabel 4.5 Firm Size Perusahaan LQ45 tahun 2005 – 2009 EMITEN 2005 2006 2007 2008 2009 ANTM 29 30 30 30 30 ASII 31 32 32 32 32 BBCA 33 33 33 33 33 BBRI 32 33 33 33 33 AALI 31 29 29 30 30 BDMN 32 32 32 32 32 BLTA 30 30 31 31 31 BMRI 33 33 33 34 34

69 BUMI 30 31 31 32 32 INDF 30 30 31 31 31 TINS 29 29 29 29 29 TLKM 32 32 32 30 32 UNSP 28 28 29 29 29 UNTR 30 30 30 31 31

Berdasarkan hasil perhitungan Firm Size masing-masing perusahaan pada Tabel 4.5, Pada Tahun 2005, Firm Size, tertinggi dimiliki oleh PT. Bank Central Asia Tbk Dan PT.Bank Mandiri Tbk sebesar 33 dan terendah dipegang oleh PT. Bankrie Sumatra Plantions Tbk sebesar 28. Pada Tahun 2006, Firm Size, tertinggi dimiliki oleh PT. Bank Central Asia Tbk, PT.Bank Mandiri Tbk dan PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk sebesar 33 dan terendah dipegang oleh PT. Bakrie Sumatra Plantion Tbk sebesar 28. Pada Tahun 2007, Firm Size, tertinggi dimiliki oleh PT. Bank Central Asia Tbk, PT.Bank Rakyat Indonesia Tbk dan PT. Bank Mandiri sebesar 33 dan terendah dipegang oleh PT. Astra Agro Lestari Tbk, PT.Timah Tbk dan PT.Bakrie Sumatra Plantion Tbk sebesar 29. Pada Tahun 2008, Firm Size, tertinggi dimiliki oleh PT.Bank Mandiri Tbk sebesar 34 dan terendah dipegang oleh PT. Timah Tbk sebesar 29. Dan pada Tahun 2009, Firm Size, tertinggi dimiliki oleh PT. Bank Mandiri Tbk sebesar 34 dan terendah dipegang oleh PT. Timah Tbk dan PT.Bakrie Sumatra Plantion sebesar 29. Perusahaan besar lebih mempunyai pengendalian terhadap pasar. Oleh karena itu, perusahaan besar mempunyai tingkat daya saing yang tinggi dibandingkan dengan perusahaan kecil (Harianto

70 dan Sudomo, 2001:182). Keputusan investasi yang dilakukan di pasar modal pada dasarnya merupakan proses yang berorientasi informasi, di mana informasi digunakan sebagai bahan untuk memprediksi ramalan. e. Debt to Assets Ratio

Tabel 4.6 DAR Perusahaan LQ45 tahun 2005 - 2009 EMITEN 2005 2006 2007 2008 2009 ANTM 0,53 0,41 0,27 0,21 0,21 ASII 0,48 0,54 0,50 0,50 0,45 BBCA 0,89 0,90 0,91 0,91 0,90 BBRI 0,89 0,89 0,90 0,91 0,91 AALI 0,15 0,19 0,21 0,18 0,19 BDMN 0,87 0,88 0,88 0,90 0,84 BLTA 0,75 0,62 0,84 0,76 0,74 BMRI 0,91 0,90 0,91 0,91 0,91 BUMI 0,88 0,85 0,50 0,60 0,66 INDF 0,68 0,65 0,63 0,67 0,64 TINS 0,44 0,52 0,33 0,34 0,33 TLKM 0,52 0,52 0,48 0,52 0,50 UNSP 0,61 0,64 0,45 0,47 0,48 UNTR 0,61 0,59 0,55 0,51 0,42

Berdasarkan hasil perhitungan DAR masing-masing perusahaan pada Tabel 4.6, Pada Tahun 2005, DAR, tertinggi dimiliki oleh PT. Bank Mandiri Tbk sebesar 0,91 dan terendah dipegang oleh PT.Astra Agro Lestari Tbk sebesar 0,15. Pada Tahun 2006, DAR, tertinggi dimiliki oleh PT. Bank Central Asia Dan PT.Bank Mandiri Tbk sebesar 0,90 dan terendah dipegang oleh PT.Astra Agro Lestari Tbk sebesar 0,19. Pada Tahun 2007, DAR, tertinggi dimiliki oleh PT. Bank Central Asia Tbk dan PT.Bank Mandiri Tbk sebesar 0,91 dan terendah dipegang oleh PT. Astra agro Lestari Tbk sebesar 0,21. Pada Tahun

71 2008, DAR tertinggi dimiliki oleh PT. Bank Mandiri Tbk, PT.Bank Central Asia Tbk dan PT. Bank Rakyat indonesia Tbk sebesar 0,91 dan terendah dipegang oleh PT. Astra Agro Lestari Tbk sebesar 0,18. Dan pada Tahun 2009, DAR tertinggi dimiliki oleh PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk dan PT.Bank Mandiri Tbk sebesar 0,91 dan terendah dipegang oleh PT. Astra Agro Lestari Tbk sebesar 0,19.

f. Growth In Asset Tabel 4.7 Growth In Asset Perusahaan LQ45 tahun 2005 - 2009 EMITEN 2005 2006 2007 2008 2009 ANTM 0,06 0,14 0,65 (0,15) (0,02) ASII 0,20 0,23 0,10 0,27 0,06 BBCA 0,01 0,18 0,23 0,13 0,11 BBRI 0,16 0,26 0,32 0,21 0,12 AALI 8,52 (0,89) 0,53 0,22 0,20 BDMN 0,15 0,21 0,09 0,20 (0,07) BLTA 0,81 0,04 1,52 0,21 (0,05) BMRI 0,60 0,02 0,19 0,12 0,02 BUMI 0,20 0,38 0,17 1,19 0,09 INDF (0,06) 0,09 0,83 0,34 0,03 TINS 0,14 0,26 0,45 0,15 (0,14) TLKM 0,10 0,21 0,09 (0,89) 9,43 UNSP 0,11 0,43 1,42 0,09 0,09 UNTR 0,57 0,06 0,16 0,76 0,02

Berdasarkan hasil perhitungan Growth In Asset masing-masing perusahaan pada Tabel 4.7, Pada Tahun 2005, Growth In Asset, tertinggi dimiliki oleh PT. Bank Mandiri Tbk sebesar 0,60 dan terendah dipegang oleh PT. Indofood Sukses Makmur Tbk sebesar -0.06. Pada Tahun 2006, Growth In Asset, tertinggi dimiliki oleh PT. Bakri Sumatra

72 Plantion Tbk sebesar 0,43 dan terendah dipegang oleh PT. Astra Agro Lestari Tbk sebesar -0,89. Pada Tahun 2007, Growth In Asset, tertinggi dimiliki oleh PT. Bakri Sumatra Plantion Tbk sebesar 1,42 dan terendah dipegang oleh PT. Bank Damon Tbk dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk sebesar 0,09. Pada Tahun 2008, Growth In Asset, tertinggi dimiliki oleh PT. Bumi Resource Tbk sebesar 1,19 dan terendah dipegang oleh PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk sebesar -0,89. Dan pada Tahun 2009, Growth In Asset, tertinggi dimiliki oleh PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk sebesar 9,43 dan terendah dipegang oleh PT. Timah Tbk sebesar -0,14. Menurut Eko Wahyudi dan Baidori (2008), semakin besar growth in net assets maka dividen yang dibayarkan oleh perusahaan kepada pemegang saham semakin rendah sebaliknya semakin rendah growth in net assets maka dividen yang dibayarkan oleh perusahaan semakin besar.

g. Volatilitas Harga Saham

Varians yang berubah seiring dengan perubahan waktu umumnya disebut volatiles (sigit dan bambang,2006:29). Volatilitas mengukur banyaknya fluktuasi underlying asset dalam satu periode. Pada dasarnya volatilitas dapat dilihat sebagai kecepatan perubahan dalam pasar, meskipun lebih tepatnya disebut kebingungan pasar.

73 Tabel 4.8

Volatilitas Harga Saham Perusahaan LQ45 tahun 2005 - 2009 EMITEN 2005 2006 2007 2008 2009 ANTM 0,08 0,11 0,33 0,18 0,08 ASII 0,09 0,04 0,07 0,22 0,08 BBCA 0,05 0,04 0,04 0,17 0,09 BBRI 0,08 0,07 0,05 0,18 0,07 AALI 0,08 0,07 0,08 0,20 0,06 BDMN 0,07 0,05 0,07 0,24 0,11 BLTA 0,09 0,07 0,11 0,27 0,11 BMRI 0,07 0,08 0,06 0,25 0,08 BUMI 0,26 0,06 0,11 0,22 0,20 INDF 0,10 0,08 0,07 0,15 0,09 TINS 0,19 0,17 0,13 0,46 0,11 TLKM 0,04 0,49 0,04 0,11 0,05 UNSP 0,06 0,08 0,08 0,28 0,15 UNTR 0,09 0,05 0,07 0,29 0,09

Berdasarkan hasil perhitungan Volatilitas Harga Saham masing-masing perusahaan pada Tabel 4.8, Pada Tahun 2005, Volatilitas Harga Saham, tertinggi dimiliki oleh PT.Bumi Resource Tbk sebesar 0,26 dan terendah dipegang oleh PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk sebesar 0,04. Pada Tahun 2006, Volatilitas Harga Saham tertinggi dimiliki oleh PT. Telekomunikasi indonesia Tbk sebesar 0,49 dan terendah dipegang oleh PT. Astra International Tbk dan PT. Bank Central Asia Tbk sebesar 0,04. Pada Tahun 2007, Volatilitas Harga Saham tertinggi dimiliki oleh PT. Aneka Tambang Tbk sebesar 0,33 dan terendah dipegang oleh PT. Bank Central Asia Tbk Dan PT.Telekomuniksi Tbk sebesar 0,04. Pada Tahun 2008, Volatilitas Harga Saham, tertinggi dimiliki oleh PT. Timah Tbk sebesar 0,46 dan terendah dipegang oleh

74 PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk sebesar 0,11. Dan pada Tahun 2009, Volatilitas Harga Saham tertinggi dimiliki oleh PT. Bumi Resouce Tbk sebesar 0,20 dan terendah dipegang oleh PT. Astra Agro Lestari Tbk sebesar 0,06. Volatilitas dipandang sebagai ukuran resiko dan return yang paling akurat. semakin tinggi volatilitas semakin tinggi pula resiko dan juga return.

2. Pengujian Asumsi Klasik a. Uji Normalitas Data

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel dependen, variabel independen atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal.

Untuk mengetahui model regresi variabel dependen, variabel independen atau keduanya berdistribusi normal atau tidak.

Gambar 4.2

75 Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa data penelitian memiliki penyebaran dan distribusi yang normal karena data memusat pada nilai rata-rata dan median atau nilai plot PP terletak digaris diagonal, maka dapat dikatakan bahwa distribusi data return saham adalah normal.

b. Uji Multikolinieritas

Penelitian dilakukan pengujian terhadap data bahwa data harus terbebas dari gejala multikolinearitas, gejala ini ditunjukan dengan korelasi antar variabel independen. Pengujian dalam uji multikolinearitas dengan melihat nilai VIF (Variance Inflation Factor) harus berada di bawah 10, hal ini akan dijelaskan sebagai berikut :

Tabel 4.9

Hasil Pengujian Multikolinearitas Collinearity Statistics Tolerance VIF .471 2.125 .499 2.002 .844 1.185 .536 1.867 .527 1.896 .804 1.244 a. Dependent Variable:

VOLATILITAS HARGA SAHAM (Sumber data diolah)

Tabel di atas menjelaskan bahwa data yang ada tidak terjadi gejala multikolinearitas antara masing-masing variabel independen yaitu dengan melihat nilai VIF. Nilai VIF yang diperbolehkan hanya mencapai 10 maka data di atas dapat dipastikan tidak terjadi gejala multikolinearitas. Karena

76 data di atas menunjukan bahwa nilai VIF lebih besar dari 10, keadaan seperti itu membuktikan tidak terjadinya multikolinearitas.

c. Uji Autokolerasi

Autokorelasi digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Untuk mendeteksi autokorelasi dalam penelitian ini maka digunakan uji Durbin Watson (DW).

Pada tabel 4.7 diketahui nilai Durbin Watson (d) sebesar 1.562 nilai ini akan dibandingkan dengan nilai tabel dengan menggunakan nilai signifikansi 5%, jumlah sample (n) 70 dan jumlah variabel independen (k) adalah 6. Maka dari tabel didapat nilai du = 1.340 dan 4 – du = 4 – 1.340 = 2.66. Oleh karena nilai du < d < 4-du atau 1.340 < 1.562 < 2,66 maka dapat disimpulkan tidak ada autokorelasi baik positif maupun negatif.

Tabel 4.10

Hasil Pengujian Autokolerasi

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

Durbin-Watson

1 .574a .330 .266 17.436666 1.562

a. Predictors: (Constant), GROWTH IN ASSET, FIRM SIZE, DIVIDEN PAYOUT RATIO, VOLATILITAS EARNING, DAR, DIVIDEN YIELD

b. Dependent Variable: VOLATILITAS HARGA SAHAM

77 d. Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas varian variabel dependen dalam model tidak equal terhadap variabel independen. Konsekuensi adanya heteroskedastisitas dalam model regresi adalah estimator yang diperoleh tidak efisien, baik pada sampel kecil maupun besar. Diagnosis adanya heteroskedastisitas dalam uji regresi dapat diidentifikasi dari pola scatter plot diagram.

Gambar 4.3 Uji Heteroskedastisitas

(Sumber data diolah)

Pada gambar 4.3 terlihat bahwa titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y dan tidak terlihat pola tertentu. Dengan demikian pada persamaan regresi linier berganda dalam model ini tidak ada gejala atau tidak terjadi heteroskedastisitas.

78 3. Uji Signifikansi

a. Uji Signifikansi Parsial (Uji t)

Uji t bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independen yang terdiri dari dari Dividend Yield, Dividend Payout Ratio, Earning Volaitity, firm Size, debt to Asset Ratio dan Growth In Asset terhadap Volatiltas Harga saham di Bursa Efek Indonesia secara parsial.

Tabel 4.11 Hasil Pengujian Uji t Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 1.356 55.653 1.803 .076 DIVIDEN YIELD .659 .151 .658 4.377 .000

DIVIDEN PAYOUT RATIO .703 .146 .702 4.812 .000

VOLATILITAS EARNING .030 8.557 .092 .822 .414

FIRM SIZE .072 1.890 .154 1.096 .277

DAR .015 .142 .015 .108 .914

GROWTH IN ASSET .012 .115 .012 .105 .917

a. Dependent Variable: VOLATILITAS HARGA SAHAM

(Sumber : Data diolah)

Variabel Dividen Yield, dengan nilai t hitung sebesar 4.377 >2,00 atau nilai alpha lebih kecil dari 0,05 (0.000 < 0,05), maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti Dividen Yield berpengaruh signifikan secara parsial terhadap Volatilitas Harga Saham.

Variabel Dividen Payout Ratio, dengan nilai t hitung sebesar 4.812 > 2,00 atau nilai alpha lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05), maka

79 dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti Dividen Payout Ratio berpengaruh signifikan secara parsial terhadap Volatilitas Harga Saham.

Variabel Volatilitas Earning, dengan nilai t hitung sebesar 0.882 < 2,00 atau nilai alpha lebih besar dari 0,05 (0.414 > 0,05), maka dapat disimpulkan Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti Volatilitas Earning tidak berpengaruh signifikan secara parsial terhadap Volatilitas Harga Saham.

Variabel Firm Size, dengan nilai t hitung sebesar 1.096 < 2,00 atau nilai alpha lebih besar dari 0,05 (0.277 > 0,05), maka dapat disimpulkan Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti Firm Size tidak berpengaruh signifikan secara parsial terhadap Volatilitas Harga Saham.

Variabel DAR, dengan nilai t hitung sebesar 0,108 < 2,00 atau nilai alpha lebih besar dari 0,05 (0.914 > 0,05), maka dapat disimpulkan Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti DAR tidak berpengaruh signifikan secara parsial terhadap Volatilitas Harga Saham.

Variabel Growth In Asset, dengan nilai t hitung sebesar 0.105 < 2,00 atau nilai alpha lebih besar dari 0,05 (0.917 > 0,05), maka dapat disimpulkan Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti Growth In Asset tidak berpengaruh signifikan secara parsial terhadap Volatilitas Harga Saham.

80 b. Uji Signifikansi Simultan (Uji F)

Uji F digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen yang terdiri dari Dividen Yield, Dividen Payout Ratio,Volatilitas Earning, Firm Size, DAR dan Growth In Asset terhadap Volatilitas Harga Saham secara simultan atau serentak.

Tabel 4.12 Hasil Pengujian Uji F

ANOVAb

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 9423.149 6 1570.525 5.166 .000a

Residual 19154.351 63 304.037

Total 28577.500 69

a. Predictors: (Constant), GROWTH IN ASSET, FIRM SIZE, DIVIDEN PAYOUT RATIO, VOLATILITAS EARNING, DAR, DIVIDEN YIELD

b. Dependent Variable: VOLATILITAS HARGA SAHAM

(Sumber : Data diolah)

Hasil pengujian ANOVA dengan menggunakan uji F dapat dilihat nilai F hitung sebesar 5.166 dengan signifikan 0,000. Dengan mencari pada table F, diperoleh nilai F tabel 2.37. Dengan kondisi dimana F hitung lebih besar daripada F tabel dan nilai signifikan lebih kecil dari alpha (0,05), maka dapat diambil kesimpulan adalah Ho ditolak dan Ha

diterima yang berarti variabel-variabel independen berpengaruh signifikan secara simultan terhadap Volatilitas Harga Saham.

81 c. Koefisien Determinasi (R Square)

Melalui pengujian serentak dapat diketahui besarnya koefisien determinasi (R

2

). Dari koefisien determinasi (R

2

) dapat diketahui derajat ketepatan dari analisis regresi linier berganda menunjukkan besarnya variasi sumbangan seluruh variabel bebas terhadap variabel terikatnya.

Besarnya nilai pengaruh variabel bebas ditunjukkan oleh nilai (R

2

) = 0,330 yaitu persentase pengaruh variabel Dividen Yield, Dividen Payout Ratio,Volatilitas Earning, Firm Size, DAR dan Growth In Asset terhadap Volatilitas Harga Saham sebesar 33,0%.

Tabel 4.13

Hasil Pengujian Adj R Square Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

Durbin-Watson

1 .574a .330 .266 17.436666 1.562

a. Predictors: (Constant), GROWTH IN ASSET, FIRM SIZE, DIVIDEN PAYOUT RATIO, VOLATILITAS EARNING, DAR, DIVIDEN YIELD

b. Dependent Variable: VOLATILITAS HARGA SAHAM

(Sumber : Data diolah)

4. Analisis Regresi Linier Berganda

Adapun hasil regresi linier berganda pengaruh Dividend Payout Ratio, Dividen Yield, Volatilitas Earning, DAR, Firm Size dan Growth In Asset terhadap Volatilitas Harga Saham di BEI adalah sebagai berikut:

82 Tabel 4.14.

Hasil Analisis Regresi Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 1.356 55.653 1.803 .076 DIVIDEN YIELD .659 .151 .658 4.377 .000

DIVIDEN PAYOUT RATIO .703 .146 .702 4.812 .000

VOLATILITAS EARNING .030 8.557 .092 .822 .414

FIRM SIZE .072 1.890 .154 1.096 .277

DAR .015 .142 .015 .108 .914

GROWTH IN ASSET .012 .115 .012 .105 .917

a. Dependent Variable: VOLATILITAS HARGA SAHAM

(Sumber : Data diolah)

Dari tabel di atas dapat dirumuskan suatu persamaan regresi untuk mengetahui pengaruh Dividen Yield, Dividen Payout Ratio,Volatilitas Earning, Firm Size, DAR dan Growth In Asset terhadap Volatilitas Harga Saham sebagai berikut:

Y = 1.356 + 0.659 X1 + 0.703 X2 + ei Keterangan :

Y = Volatilitas Harga Saham a = konstanta

x1 = Dividen Yield

x2 = Dividen Payout Ratio ei = error term

83 Koefisien-koefisien persamaan regresi linier berganda di atas dapat diartikan koefisien regresi untuk konstan sebesar 1.356 menunjukkan bahwa jika variabel Dividen Yield, Dividen Payout Ratio,Volatilitas Earning, Firm Size, DAR dan Growth In Asset bernilai nol maka nilai Volatilitas Harga Saham adalah 1.356. Sedangkan variabel Dividen Yield sebesar 0.659 menunjukkan bahwa jika variabel Dividen Yield meningkat 1 satuan maka akan meningkatkan Volatilitas Harga Saham sebesar 0.659 satuan, Variabel Dividen Payout Ratio sebesar 0.703 menunjukkan bahwa jika variabel Dividen Payout Ratio meningkat 1 satuan maka akan meningkatkan Volatilitas Harga Saham sebesar 0.703 satuan, dengan catatan variabel lain dianggap konstan.

Dokumen terkait