Gambar 3 Struktur organisasi “Rumah Talas” Tahun 2013
Sumber : “Rumah Talas” Gurih 7, 2013
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Lingkungan PerusahaanAnalisis lingkungan adalah proses awal dalam manajemen strategi yang bertujuan untuk memantau lingkungan perusahaan. Lingkungan perusahaan mencakup semua faktor baik yang berada di dalam maupun di luar perusahaan yang dapat mempengaruhi kelangsungan pencapaian tujuan yang diinginkan. Secara garis besar analisis lingkungan dapat dikategorikan ke dalam dua bagian
besar, yaitu lingkungan internal dan lingkungan eksternal perusahaan. “Rumah Talas” dipengaruhi oleh lingkungan eksternal dan internal yang ada di sekitarnya. Hasil penelitian ini menggambarkan kondisi eksternal dan internal yang
Produksi Driver Distribusi Administrasi
Direktur utama Direktur Operasional Manager Sales & Marketing
Kaizen Operasional HRD Keuangan
SPV Outlet Customer service SPV Produksi SPV Operasional Leader front liner 1 Leader front liner 2 Leader produksi 1 Leader produksi 2 Tim Front liner Tim Front liner Tim produksi Tim produksi
mempengaruhi jalannya operasional perusahaan dan mempengaruhi perencanaan strategis yang sesuai dengan kondisi lingkungan tersebut.
Analisis Lingkungan Eksternal
Lingkungan eksternal merupakan situasi dan kondisi yang berada di luar perusahaan yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi kinerja perusahaan. Lingkungan eksternal terdiri dari lingkungan umum dan lingkungan industri. Analisis lingkungan eksternal bertujuan untuk mengidentifikasi
faktor-faktor kunci yang menjadi peluang dan ancaman bagi “Rumah Talas”.
1) Lingkungan Umum
Lingkungan umum adalah faktor lingkungan eksternal yang merupakan lingkungan jauh operasional perusahaan. Lingkungan umum dipengaruhi oleh faktor politik dan hukum, sosial, ekonomi dan teknologi.
a) Lingkungan Ekonomi
Umumnya kondisi ekonomi memiliki pengaruh secara tidak langsung terhadap perkembangan usaha yang terdapat pada suatu daerah. Jika kondisi ekonomi cenderung stabil bahkan menunjukkan pertumbuhan ke arah positif maka kondisi tersebut dapat mendukung kelancaran usaha yang berkembang di suatu daerah tertentu dan dapat pula mendorong tumbuhnya kelompok-kelompok usaha yang baru, begitu sebaliknya. Adapun beberapa faktor yang berkaitan dengan kondisi ekonomi suatu daerah, antara lain:
i) Pertumbuhan Sektor Ekonomi
Indikator untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun digunakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan. PDRB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun tertentu sebagai dasar. Laju pertumbuhan ekonomi yang semakin baik ditandai dengan nilai PDRB atas dasar harga konstan yang semakin meningkat. Adapun nilai PDRB ini dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga konstan kota Bogor tahun 2006-2010
Tahun Nilai PDRB (Juta Rupiah)
2006 3 782 390
2007 4 012 861
2008 4 252 822
2009 4 508 601
2010 4 782 307
Sumber: BPS kota Bogor (2013)
Data yang tertulis pada Tabel 4 menunjukkan bahwa nilai PDRB atas dasar harga konstan yang dihasilkan oleh kota Bogor mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi kota Bogor semakin membaik.
Pengeluaran rumah tangga adalah rata-rata biaya yang dikeluarkan rumah tangga untuk konsumsi. Pengeluaran rumah tangga dapat dibedakan menurut pengeluaran makanan dan non makanan, yang menggambarkan cara masyarakat mengalokasikan kebutuhan rumah tangganya. Pengeluaran rata-rate per kapita sebulan di kota Bogor dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Pengeluaran rata-rata per kapita sebulan Kota Bogor tahun 2008-2012 Kelompok Barang Tahun (%) 2008 2009 2010 2011 2012 Makanan 50.17 50.62 51.43 49.45 52.08 Non Makanan 49.83 49.38 48.57 50.55 48.92
Sumber: BPS kota Bogor (2013)
Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanandari tahun 2008 sampai 2010 selalu meningkat, tetapi pada tahun 2011 terjadi penurunan sebesar 1.98 persen. Pada tahun 2012 pengeluaran rata-rata untuk produk makanan kembali meningkat sebesar 2.63 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat masih lebih memilih untuk membeli produk makanan dibandingkan non makanan. Besarnya pengeluaran untuk kelompok makanan menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk kota Bogor masih mementingkan kebutuhan pokok. Karenanya, kondisi ini dapat menjadi peluang bagi kelompok usaha berbasis makanan dan minuman jadi untuk mengembangkan usahanya.
iii) Laju Inflasi
Laju inflasi adalah meningkatnya tingkat harga barang atau jasa secara keseluruhan. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menggambarkan laju inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). Indeks Harga Konsumen adalah suatu angka yang dapat menggambarkan perbandingan harga yang terjadi pada dua periode waktu yang berbeda. Berdasarkan perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) kota Bogor, maka tahun 2012 kembali terjadi inflasi. Data tentang perkembangan laju inflasi selama periode 2008-2012 dengan menggunakan IHK dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 menunjukkan bahwa perkembangan laju inflasi kota Bogor cukup fluktuatif. Meskipun pada tahun 2012 angka inflasi lebih tinggi dibanding 2011, namun masih dikategorikan cukup baik karena angka inflasi ini masih jauh dibawah inflasi pada tahun 2008. Adapun penyebab kenaikan inflasi pada tahun 2008 karena terjadi krisis global. Meskipun tingkat inflasinya tidak sebesar tahun 2008, hal ini bisa menjadi ancaman bagi kelompok usaha yang beroperasi di bidang makanan siap saji. Tingginya tingkat inflasi menunjukkan adanya kenaikan harga rata-rata barang atau jasa tingkat konsumen yang cukup
tinggi,. Sehingga terjadi penurunan kemampuan daya beli masyarakat untuk memperoleh barang atau jasa. Singkatnya, tingkat inflasi yang tinggi dapat berdampak terhadap daya beli masyarakat yang rendah. Tabel 5 Perkembangan laju inflasi Kota Bogor pada tahun 2008-2012
Tahun Tingkat Inflasi (%)
2008 14.20
2009 2.16
2010 6.57
2011 2.85
2012 4.06
Sumber: BPS kota Bogor (2014)
b) Lingkungan Sosial Budaya
Perkembangan perusahaan juga dapat dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya, serta perubahan yang dihasilkan akan cukup signifikan. Perubahan-perubahan yang terjadi akan memberikan dampak positif bahkan negatif atau dapat disebut peluang atau ancaman terhadap perkembangan perusahaan ke depan.
Faktor sosial budaya yang perlu diperhatikan adalah terjadinya perubahan pola konsumsi. Pola konsumsi dari negara-negara luar yang terkenal dengan makanan modern. Perubahan gaya dan mobilitas yang tinggi ini disebabkan oleh dekatnya kota Bogor dengan ibukota Jakarta. Kedekatan ini yang menyebabkan perubahan gaya masyarakat Bogor yang meniru gaya hidup masyarakat Jakarta. Mobilitas yang tinggi di kota Bogor ini terlihat sangat jelas ketik musim libur biasa dan libur panjang tiba,kota Bogor didatangi oleh masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Kosekuensinya, hampir seluruh ruas utama jalan utama kota Bogor terkena macet. Mobil-mobil pribadi berplat
nomor “B” tampak mendominasi ruas jalan yang berhubungan dengan pusat
jajanan dan factory outlet seperti jalan Pajajaran, jalan Suryakencana, jalan Sukasari, jalan Juanda, hingga jalan Sudirman.
Peningkatan jumlah penduduk merupakan salah satu faktor sosial lain yang berpotensi terhadap penciptaan pangsa pasar bagi setiap bidang usaha dalam suatu wilayah. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia. Potensi jumlah penduduk Indonesia yang besar ini sering menjadi pusat perhatian dan pasar sasaran bagi negara lain untuk memasarkan produk mereka. Peningkatan jumlah penduduk Indonesia selama periode 2005-2010 dapat dilihat pada Tabel 6. Pada Tabel 6 dapat diketahui bahwa laju pertumbuhan penduduk Indonesia setiap tahunnya selama periode 2005-2010 sebesar 1.25 persen. Salah satu wilayah di Indonesia yang terjadi peningkatan jumlah penduduk adalah kota Bogor. Laju pertumbuhan jumlah penduduk kota Bogor selama periode 2005-2010 sebesar 2.08 persen. Jumlah penduduk kota Bogor yang semakin meningkat
merupakan pangsa pasar yang potensial dan peluang bagi “Rumah Talas”
Tabel 6 Jumlah penduduk Kota Bogor tahun 2005-2010
Tahun Jumlah Penduduk
(Jiwa) Pertumbuhan (%) 2005 855 085 - 2006 879 138 2.73 2007 905 132 2.87 2008 942 204 3.93 2009 946 204 0.42 2010 950 334 0.43 Rata-rata 2.08
Sumber : BPS kota Bogor (2013)
Banyak hal-hal yang menyebabkan masyarakat lebih memilih makanan sebagai kebutuhan yang diutamakan. Hal tersebut disebabkan karena waktu, pendapatan, perjalanan, prestise, dan lainnya. Singkatnya, perkembangan
atau perubahan sosial budaya dapat meningkatkan pangsa pasar “Rumah Talas”.
c) Lingkungan Politik dan Hukum
Kebijakan politik mempunyai dampak yang sangat penting bagi para pengusaha. Kebijakan politik yang baik akan menciptakan iklim usaha yang kondusif dan sebaliknya jika kebijakan yang terjadi kurang baik, maka akan sangat tidak menguntungkan bagi para pengusaha.
Kota Bogor yang letaknya dekat dengan ibukota Jakarta dan memiliki tempat-tempat wisata yang indah, mampu mendorong pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi tersebut. Hal ini dibuktikan dengan dikeluarkannya peraturan daerah kota Bogor No.2 tahun 2004 tentang rencana strategis pemerintah kota Bogor 2003-2008. Peraturan ini jelas akan sangat berdampak pada potensi pariwisata, seni, dan budaya serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada wisatawan secara bertahap guna meningkatkan kunjungan wisata ke kota Bogor. Hal ini merupakan suatu peluang karena kota Bogor sebagai daerah tujuan wisata dan juga merupak transit menuju kota/kabupaten lain.
Kebijakan pemerintah tentang skim kredit bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah juga membantu usaha kecil dalam mengembangkan usahanya. Hal ini terdapat pada Undang-Undang No.20 tahun 2008 tentang usaha mikro, kecil, dan menengah. Diberlakukannya otonomi daerah maka setiap daerah diberi kewenangan untuk ikut serta dalam mengatur rumah tangga daerahnya sendiri, termasuk dalam mengembangkan potensi usaha yang ada di wilayahnya.
d) Lingkungan Teknologi
Perkembangan teknologi yang sangat cepat juga dapat memberikan kemudahan bagi para pelaku usaha dalam upaya mengembangkan bisnisnya
terutama dalam aspek pemasaran. Dalam industri bakery, perkembangan teknologi pada aspek pemasaran adalah perkembangan di bidang telekomunikasi seperti telepon atau handphone. Teknologi ini mempermudah komunikasi antara pelaku usaha dengan pemasok bahan baku atau antara pelaku usaha dengan pelanggan ketika melakukan pemesanan produk. Telepon dan website juga berguna bagi mereka yang ingin menyampaikan keluhan ataupun sekedar masukan.
Perkembangan teknologi di bidang transportasi , seperti jasa pengiriman akan mempercepat pendistribusian produk dari produsen ke konsumen sehingga akan memperlancar proses pemasaran produk. Untuk mendukung
pemasaran produk, pihak “Rumah Talas” telah melengkapi tempat
produksinya dengan fasilitas berupa telepon dan mobil yang digunakan untuk mengangkut bahan baku dari pemasok atau digunakan untuk pendistribusian produk ke pengecer atau ke semua outlet. Kekuatan teknologi pada suatu usaha dapat meningkatkan kesejahteraan suatu usaha. Hal ini disebabkan karena perkembangan teknologi mampu meningkatkan efisiensi biaya maupun waktu.
2) Lingkungan Industri
Lingkungan industri menggambarkan posisi perusahaan di tengah persaingan yang ada di dalam industri yang digelutinya. Lingkungan ini dijelaskan oleh model lima kekuatan Porter melalui kombinasi lima kekuatan, yaitu pendatang baru potensial, pesaing antar industri, adanya produk pengganti/substitusi, kekuatan tawar menawar pemasok dan kekuatan tawar menawar pembeli. a) Persaingan antar industri
“Rumah Talas” merupakan usaha makanan jadi yang menawarkan produk
rol talas, bolu lapis, brownies,dan berbagai macam olahan lain yang terbuat
dari tepung talas. “Rumah Talas” memiliki banyak pesaing di kota Bogor
dengan berbagai macam produk yang ditawarkan, mulai dari produk sejenis hingga lain jenis. Salah satunya yang memiliki kesamaan produk adalah
“Lapis Bogor Sangkuriang” yang mengusung lapis Bogor sebagai
produknya. Produk lain yang menjadi pilihan di kota Bogor seperti Pia Apple Pie, Macaroni Panggang, Roti Unyil Venus, Pizza meteran, Alania Choco Lava,Death by Chocolate, Miss Pumpkin, dan masih banyak lainnya
merupakan pesaing lain bagi “Rumah Talas”. Hal tersebut disebabkan
karena rendahnya hambatan untuk memasuki usaha ini, sehingga mendorong pengusaha sejenis masuk ke dalam persaingan usaha.
Persaingan industri makanan jadi di kota Bogor terutama sebagai buah tangan sangat ketat. Hal ini menyebabkan perusahaan mengalami
persaingan yang sangat tinggi. “Rumah Talas” juga merasakan ketatnya
persaingan dengan berkembangnya usaha jenis yang mengusung olahan tepung talas (lapis talas khususnya),sehingga perusahaan harus lebih siaga
dalam menghadapi persaingan. Karenanya, “Rumah Talas” memiliki
ancaman dari persaingan industri sejenis dari Lapis Bogor Sangkuriang yang menawarkan produk sejenis.
b) Pendatang baru potensial
Keberadaan suatu industri tidak akan lepas dari ancaman masuknya pendatang baru, sehingga masuknya perusahaan tersebut dapat berimplikasi terhadap perusahaan yang telah ada, contohnya perebutan pangsa pasar.
Ancaman masuknya perusahaan pendatang baru tersebut tergantung dari hambatan masuk dan kemampuannya dalam merespon hambatan masuk yang ada.
Menurut Porter (1991), terdapat enam faktor hambatan masuk bagi pendatang baru ke dalam suatu industri, yaitu skala ekonomis, diferensiasi produk, kebutuhan modal, biaya beralih pemasok, akses ke saluran distribusi, dan biaya tidak menguntungkan terlepas dari skala.
i) Skala ekonomis
Usaha bakery tidak harus beroperasi pada skala usaha yang besar. Hal ini disebabkan karena semua pengusaha memiliki peluang memulai usaha mulai dari skala kecil yang disesuaikan dengan kemampuan kapasitas produksi tanpa harus mengikuti skala usaha bakery yang telah
ada. Saat ini “Rumah Talas” merupakan usaha berskala menengah,
yang usahanya diawali dari Home Industry. Hal ini berarti hambatan masuk pendatang baru ke dalam industri bakery tergolong rendah. ii) Diferensiasi produk
Pada umumnya produk yang dihasilkan oleh perusahaan bakery hampir sama secara fisik. Perbedaan yang terjadi antara perusahaan bakery
dapat dilihat dari mutu produk termasuk kualitas rasa, variasi bentuk atau ukuran, harga jual produk, serta labelisasi produk seperti pencantuman merek produk, komposisi bahan baku, nomor izin Dinas
Kesehatan (No.PIRT), serta tulisan “Oleh-oleh khas Bogor”. “Rumah Talas” belum mencantumkan semua hal tersebut, hanya sertifikasi halal saja.
iii) Kebutuhan modal
Kebutuhan modal dalam mendirikan usaha bakery tidak sekecil yang dibayangkan, meskipun skala usahanya kecil. Hal ini disebabkan karena modal tersebut digunakan untuk pemvelian peralatan pembuatan produk, seperti oven, steamer, mixer, dan loyang yang harganya tidak murah.
iv) Biaya beralih pemasok
Secara umum, biaya beralih pemasok yang harus dikeluarkan oleh pendatang baru cukup besar agar pelaku usaha bakery yang telah pindah dari pemasok tetapnya. Hal ini disebabkan karena hubungan antara pelaku usaha (pembeli) dengan pemasok telah terjalin cukup baik sehingga pendatang baru akan merasa kesulitan untuk memaksa pelaku usaha bakery yang telah ada agar beralih dari pemasok lama. Hal ini menjadi keunggulan dari pihak “Rumah Talas” untuk menghadapi
pendatang baru yang ada. v) Akses ke saluran distribusi
Pada industri tertenru, perusahaan yang telah mapan biasanya telah memiliki saluran distribusi sendiri untuk memasarkan produknya, sehingga perusahaan pendatang baru mungkin sulit memasuki saluran yang ada dan harus mengeluarkan biaya yang besar untuk membangun saluran sendiri. Kondisi yang demikian pada umumnya tidak terjadi pada industri bakery, karena pendatang baru pun berpeluang menguasai saluran yang ada. Penguasaan saluran tersebut akan terjadi jika pendatang baru mampu memproduksi produk dengan mutu yang sama
atau bahkan lebih baik dari produk yang ada dengan harga yang lebih murah.
vi) Biaya tidak menguntungkan terlepas dari skala
Para produsen bakery yang telah mapan mungkin mempunyai keunggulan biaya yang mungkin tidak dapat ditiru oleh perusahaan pendatang baru. Contohnya dari segi pengalaman, teknologi, penguasaan terhadap sumberdaya produksi, atau lokasi yang menguntungkan. Disamping hal tersebut, pendatang baru masih berpotensi masuk ke dalam industri karena bahan baku maupun peralatan untuk pembuatan produk bakery cukup banyak tersedia. c) Ancaman produk pengganti/substitusi
Produk substitusi atau produk pengganti adalah produk lain yang memiliki fungsi yang sama dengan produk perusahaan dan dapat mempengaruhi keberadaan produk perusahaan selama di pasar. Keberadaan produk substitusi dapat menjadi ancaman bagi suatu perusahaan jika produk tersebut mempunyai harga yang lebih murah namun memiliki kualitas yang sama dengan produk yang ditawarkan perusahaan. Karenanya, faktor harga jual dan mutu produk sering digunakan oleh pelaku usaha sebagai alat dalam menghadapi keberadaan produk substitusi.
“Rumah Talas” merupakan perusahaan yang menghasilkan produk talas rol, lapis talas, brownies, muffin dan olahan talas berbentuk bakery lainnya. Produk yang dapat digolongkan menjadi produk substitusi adalah olahan dari komoditi lain dengan jenis yang sama seperti lapis labu, brownies singkong, dan lainnya. Tingginya keberadaan produk substitusi dengan berbagai Merek, harga jual, hingga mutu produk dapat memberikan
ancaman bagi “Rumah Talas” sebagai salah satu produsen makanan jadi.
Keberadaan produk substitusi yang tinggi, tidak terlalu berpengaruh secara signifikan karena keputusan pembelian berada di tangan konsumen yang memiliki kebebasan untuk memilih produk yang sesuai dengan seleranya. d) Kekuatan tawar menawar pemasok
Kekuatan tawar menawar pemasok dapat mempengaruhi intensitas pesaingan dalam suatu industri ketika terdapat sejumlah pemasok tetapi hanya sedikit barang substitusi yang cukup bagus dan biaya untuk
mengganti bahan baku sangat tinggi. Bagi “Rumah Talas”, keberadaan
pemasok bahan baku seperti telur, tepung talas, gula, dan bahan lainnya merupakan peran terpenting guna kelangsungan produksi. Oleh karena itu,
guna menjaga kontinuitas persediaan bahan baku, pihak “Rumah Talas”
tidak hanya terikat pada satu pemasok saja.
Saat ini “Rumah Talas” sudah memiliki pemasok tetap yang tersebar di
wilayah Jabodetabek, sehingga perusahaan tidak menghadapi biaya peralihan yang tinggi pada saat berganti pemasok jika salah satu pemasok tidak mampu mencukupi kebutuhan bahan baku perusahaan, atau jika bahan baku yang dibeli tersebut kurang memenuhi standar dari segi harga, kualitas, maupun kuantitasnya. Penjelasan diatas membuktikan bahwa
kekuatan tawar menewar pemasok terhadap “Rumah Talas” tidak terlalu
kuat, karena perusahaan tidak mengalami kesulitan dalam mengganti pemasok.
e) Kekuatan tawar menawar pembeli
Kekuatan tawar menawar pembeli atau konsumen dikatakan cukup kuat, jika konsumen dekonsentrasi atau besar jumlahnya. Konsumen membeli dalam jumlah banyak, produk yang dibeli standar atau tidak terdiferensiasi,
dan pembeli menghadapi biaya peralihan yang kecil. Konsumen “Rumah
Talas” dapat dikatakan memiliki kekuatan tawar menawar yang cukup kuat dan kondisi ini dapat menjadi ancaman bagi “Rumah Talas”. Semakin
meningkatnya jumlah perusahaan dalam industri bakery,di Bogor, maka semakin tinggi juga kekuatan tawar menawar pembeli karena alternatif produk yang semakin beragam dan bervariasi. Pembeli juga menghadapi biaya peralihan yang relatif kecil karena pembeli mudah berpindah dari merek satu ke lainnya.pembeli juga memiliki informasi yang lengkap tentang pasar, karena pembeli mengetahui lokasi produksi atau toko serta harga jual dari masing-masing produk di tiap perusahaan bakery. Kekuatan tawar menawar pembeli yang kuat ini berdampak terhadap permintaan
produk dari “Rumah Talas” yang stagnan bahkan kalah saing dengan
pesaingnya, sehingga perusahaan perlu waspada terhadap kondisi ini.
Analisis Lingkungan Internal
Lingkungan internal adalah lingkungan yang berada dalam organisasi tersebut dan secara normal memiliki implikasi langsung pada perusahaan. Analisis faktor internal merupakan proses identifikasi terhadap faktor kelemahan dan kekuatan dari dalam perusahaan. Pemasaran merupakan proses mendefinisikan, mengantisipasi, menciptakan, serta memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan atas barang dan jasa. Pemasaran terkait dengan unsur pemasaran (STP), dan bauran pemasaran, yaitu aspek 4P (product, price, place, promotion). Berikut adalah penjelasan mengenai unsur dan bauran pemasaran “Rumah Talas” Gurih 7:
1) Unsur Pemasaran a) Segmentation
Segmentasi pasar merupakan langkah awal yang harus dilakukan oleh suatu usaha dalam memasuki suatu industri yang kompetitif. Segmentasi sendiri merupakan proses membagi pasar menjadi beberapa kelompok pembeli yang dibedakan berdasarkan kebutuhan, karakteristik atau tingkah laku yang berbeda sehingga membutuhkan buram pemasaran atau produk yang
berbeda. Segmentasi yang dilakukan “Rumah Talas” berdasarkan
demografi, psikografik, dan tingkah laku.
Segmentasi demografi merupakan suatu proses membagi pasar berdasarkan umur, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan, agama, ras, pekerjaan, dan
kebangsaan. Pada pemasaran produknya, “Rumah Talas” memilih
konsumen dari segala usia, jenis kelamin. Hal ini disebabkan karena produk
“Rumah Talas” yang aman dikonsumsi.
Segmentasi psikografik merupakan proses membagi konsumen berdasarkan
karakteristik sosial, gaya hidup, dan kepribadian. “Rumah Talas” tertarik
pada karakteristik sosial karena konsumen dalam kelas sosial tertentu memiliki kecenderungan pembelian yang sama. Faktor lain adalah karena konsumen dalam mengkonsumsi makanan ditentukan dari gaya hidupnya dan produk yang mereka beli menggambarkan gaya hidup tersebut.
Karenanya, “Rumah Talas” menawarkan produk yang berkualitas untuk
konsumen menengah ke atas.
Segmentasi tingkah laku merupakan proses membagi konsumen berdasarkan pengetahuan, sikap, dan penggunaan atau reaksi terhadap
produk yang dibeli. “Rumah Talas” memilih segmentasi berdasarkan penggunaan atau manfaat yang dicari oleh konsumen. Karenanya, “Rumah Talas” menawarkan produk yang berkualitas dan pelayanan yang memuaskan bagi konsumen.
b) Targetting
Target pasar merupakan suatu proses mengevaluasi daya tarik dari setiap segmen pasar dan memilih salah satu atau beberapa segmen pasar yang
ingin dimasuki. Dalam menentukan sasaran pasar, “Rumah Talas” harus
memperhatikan tiga faktor, yaitu ukuran dan pertumbuhan segmen, daya
tarik struktural segmen, sasaran dan sumberdaya dari “Rumah Talas”.
Pada menargetkan pasar, “Rumah Talas” harus memperhatikan permintaan
dari setiap segmen. Biaya yang dikeluarkan untuk melayani segmen, dan
biaya produksi atas barang dan jasa yang ditawarkan oleh “Rumah Talas”.
Berdasarkan segmentasi yang dipilih, target utama penasaran produk
“Rumah Talas” adalah keluarga dan non keluarga yang berasal dari
kalangan menengah ke atas. c) Positioning
Positioning atau posisi pasar merupakan suatu proses mengatur agar suatu