• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Geografis Kota Bogor

Secara geografis Kota Bogor terletak di antara 106° 48‟ Bujur Timur dan 6° 26‟ Lintang Selatan. Luas wilayah Kota Bogor adalah sebesar 11.850 ha. Suhu udara rata tiap bulan di Kota Bogor adalah 26° C dengan curah hujan rata-rata 3500-4000 mm/tahun. Secara umum, Kota Bogor memiliki topografi datar hingga bergelombang dan berada pada ketinggian 190-330 meter di atas

7

permukaan laut (mdpl). Kota Bogor dialiri oleh aliran Sungai Ciliwung dengan sebaran luas sebesar 3.500,82 ha yang termasuk kedalam wilayah DAS Ciliwung bagian tengah (BPDAS Citarum Ciliwung, 2013). Daerah bantaran Sungai Ciliwung di Kota Bogor didominasi oleh permukiman. Hal ini disebabkan karena bertambahnya kebutuhan akan lahan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Adapun beberapa kecamatan di Kota Bogor yang dilalui oleh aliran Sungai Ciliwung, diantaranya adalah Kecamatan Bogor Selatan, Kecamatan Bogor Tengah, Kecamatan Bogor Timur, Kecamatan Bogor Utara, dan Kecamatan Tanah Sereal. Pada penelitian ini telah dipilih tiga sampel kelurahan yang mewakili tiga kecamatan, yaitu Kelurahan Katulampa, Kelurahan Sempur, dan Kelurahan Kedunghalang (Tabel 3).

Tabel 3 Data umum masing-masing kelurahan di Kota bogor

No. Kecamatan Kelurahan Luas (ha) Jumlah Penduduk (jiwa)

1. Bogor Timur Katulampa 491 31.421

2. Bogor Tengah Sempur 63 8.053

3. Bogor Utara Kedunghalang 192 22.508 Sumber : BPS Kecamatan Bogor Tengah, Bogor Timur, dan Bogor Utara (2015)

Kelurahan Katulampa didominasi oleh area permukiman berpenduduk padat dan perumahan. Diantara permukiman tersebut mengalir Sungai Ciliwung yang sangat bermanfaat bagi masyarakat setempat, terutama sebagai sumber air bagi kehidupan sehari-hari. Secara umum, kondisi lanskap sungai/RTB di Kelurahan Katulampa tergolong cukup baik karena masih terdapat RTH dan areal pertanian seperti sawah dan kebun, namun sebagian besar pembagunannya masih berorientasi water back landscape. Berdirinya bangunan Bendung Katulampa di kelurahan ini menjadikan Kelurahan Katulampa sering dikunjungi oleh peneliti dari dalam maupun luar negri, terutama saat musim hujan di Kota Bogor. Bendungan Katulampa ini berfungsi untuk memantau ketinggian air di Sungai Ciliwung yang akan di alirkan ke Jakarta, serta berfungsi sebagai sistem irigasi yang mengalirkan air dari Sungai Ciliwung melalui Kali Baru ke areal perasawahan yang berada di antara Kota Bogor dan Kota Jakarta. Namun seiring dengan menurunnya luasan areal persawahan, saat ini Kali Baru dimanfaatkan sebagai ruang aktivitas bagi masyarakat setempat seperti mandi, cuci, kakus (MCK), memancing, dan bermain (Gambar 3).

Gambar 3 Kondisi Umum RTB Ciliwung di Kelurahan Katulampa (a) sempadan sungai dipadati oleh bangunan (b) RTH di sekitar bantaran sungai (c) kondisi

pintu air katulampa saat musim hujan

8

Kelurahan Sempur merupakan kelurahan yang berada di pusat Kota Bogor. Luas wilayah kelurahan yang terletak di daerah bantaran Sungai Ciliwung yaitu seluas 5 ha dan didominasi oleh permukiman. Letak Sungai Ciliwung di Kelurahan Sempur terbilang cukup strategis, karena berada diantara permukiman dan perumahan, serta fasilitas umum seperti jalan raya, lapangan olahraga, dan taman publik. Secara umum, kondisi lanskap sungai/RTB di Kelurahan Sempur tergolong cukup baik karena masih terdapat Ruang Terbuka Hijau (RTH) di sekitar bantaran sungai, namun pengembangannya masih berorientasi water back landscape. Di area pinggiran sungai terdapat beberapa kolam/tambak ikan milik warga sebagai bentuk RTB lain di Kelurahan Sempur (Gambar 4). Dalam kesehariannya, keberadaan sungai dimanfaatkan untuk kegiatan rekreasi seperti memancing dan duduk/jalan santai di pinggir sungai, kegiatan sosial seperti gotong royong membersihkan sampah setiap minggu serta kegiatan menambang pasir untuk mata pencaharian.

Gambar 4 Kondisi Umum RTB Ciliwung di Kelurahan Sempur (a) sempadan sungai dipadati oleh bangunan (b) RTH di sekitar bantaran sungai (c) kolam atau

tambak ikan milik warga

Gambar 5 Kondisi Umum RTB Ciliwung di Kelurahan Kedunghalang (a, b) RTH di sekitar bantaran sungai (c) aktivitas warga yang menambang pasir

Kelurahan Kedunghalang merupakan kelurahan yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Bogor, sehingga letaknya jauh dari pemerintahan pusat Kota Bogor. Kelurahan Kedunghalang didominasi oleh area permukiman. Kondisi lanskap RTB di Kelurahan Katulampa masih cukup alami, meskipun sebagian bantaran sudah dipadati perumahan dan jalan. Secara umum

a b c

9

pembangunannya masih berorientasi water back landscape walaupun letak bangunan rumah penduduk tidak langsung berbatasan dengan tepi sungai. Hal ini menyebabkan masyarakat setempat jarang beraktivitas di sekitar sungai. Berdasarkan hasil yang ditemukan di lapang, sungai dimanfaatkan untuk area menambang pasir sebagai sumber mata pencaharian mereka (Gambar 5).

Kondisi Geografis Kabupaten Bogor

Secara geografis Kabupaten Bogor terletak di antara 6º18'0-6º47'10 Lintang Selatan dan 106º23'45- 107º13'30 Bujur Timur. Luas wilayah Kabupaten Bogor adalah sebesar 298.838.304 ha. Suhu udara rata-rata tahunan di Kabupaten Bogor adalah 25° C dengan curah hujan rata-rata 2500-5000 mm/tahun. Secara umum, wilayah Kabupaten Bogor berada pada ketinggian berkisar antara 15-2500 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan tipe morfologi wilayah yang bervariasi yaitu dataran tinggi di bagian selatan dan dataran yang relatif rendah di bagian utara. Menurut BPDAS Citarum Ciliwung tahun 2013, sebagian besar wilayah Kabupaten Bogor termasuk kedalam wilayah DAS Ciliwung Hulu dan sebagian kecil termasuk kedalam wilayah DAS Ciliwung Tengah dengan total sebaran luas sebesar 19.884,08 ha. Daerah bantaran Sungai Ciliwung di Kabupaten Bogor dipadati oleh permukiman, namun daerah kiri kanan sungai masih dibiarkan alami dan didominasi oleh deretan pohon bambu. Beberapa kecamatan di Kabupaten Bogor dilalui oleh aliran Sungai Ciliwung, dua diantaranya adalah Kecamatan Cibinong dan Kecamatan Bojonggede yang telah dipilih sebagai lokasi titik sampel dalam penelitian ini (Tabel 4).

Tabel 4 Data umum masing-masing kelurahan di Kabupaten bogor

No. Kecamatan Kelurahan Luas (ha) Jumlah Penduduk (jiwa)

1. Cibinong Karadenan 404 27.500

2. Cibinong Sukahati 469 27.024

3. Bojonggede Waringin Jaya 170 11.884 Sumber : BPS Kecamatan Cibinong dan Bojonggede (2014)

Kelurahan Karadenan memiliki ketinggian wilayah 200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Letak Sungai Ciliwung di Kelurahan Karadenan relatif dekat dengan permukiman kumuh padat penduduk, sehingga sungai sering dimanfaatkan sebagai tempat beraktivitas masyarakat setempat. Kondisi lanskap RTB di Kelurahan Karadenan masih cukup alami, hal ini dibuktikan dengan banyaknya deretan pepohonan di sekitar bibir sungai dan masih terlihat burung berterbangan di sore hari. Namun, pembangunan di daerah bantaran Sungai Ciliwung masih berorientasi water back landscape, meskipun beberapa rumah penduduk menghadap ke sungai tetapi sungai masih di anggap bagian belakang dari rumah tinggal mereka. Dalam kesehariannya, keberadaan sungai dimanfaatkan untuk kegiatan sehari-hari seperti mandi dan mencuci, kegiatan menambang pasir sebagai mata pencaharian dan sebagai tempat bermain anak-anak. Selain itu, tidak adanya fasilitas untuk membuang sampah dari pemerintah menyebabkan masih ada sebagian warga yang menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan (Gambar 6).

10

Gambar 6 Kondisi Umum RTB Ciliwung di Kelurahan Karadenan (a) view sungai dari salah satu halaman rumah warga (b,c) RTH di sekitar bantaran sungai

Kelurahan Sukahati merupakan kelurahan yang berbatasan langsung dengan Kelurahan Karadenan di bagian selatan. Kelurahan ini memiliki karaktersitik dan kondisi lanskap RTB yang hampir sama dengan Kelurahan Karadenan, namun penggunaan lahannya lebih di dominasi oleh perumahan sehingga jarang ditemukan masyarakat yang beraktivitas di sungai. Secara fisik, sungai di Kelurahan Sukahati lebih lebar dibanding dua sampel kelurahan lainnya di Kabupaten Bogor. Daerah kiri dan kanan sungai didominasi oleh lahan curam dan deretan pohon bambu, serta sebagian lahan datar akibat longsor dan sedimentasi (Gambar 7).

Gambar 7 Kondisi Umum RTB Ciliwung di Kelurahan Sukahati (a,b) deretan pohon bambu di kanan dan kiri sungai

Kelurahan Waringin jaya terletak bersebrangan dengan Kelurahan Karadenan, yakni dibatasi oleh aliran Sungai Ciliwung. Daerah bantaran sungainya dipatadati oleh permukiman penduduk, tetapi masih terdapat RTH yang dibiarkan alami di sekitar sungai. Masyarakat yang beraktivitas di sekitar sungai jarang sekali ditemui di Kelurahan Waringin Jaya, masyarakat setempat lebih aktif melakukan aktivitas lingkungan di sekitar rumah mereka seperti pembuatan lubang biopori dan penyuluhan pemilahan sampah. Namun, tidak adanya fasilitas pembungan sampah di wilayah Kelurahan Waringin Jaya menyebabkan masih adanya perilaku masyarakat yang menumpuk sampah dipinggir sungai dan menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan mereka (Gambar 8).

.

a b

11

Gambar 8 Kondisi Umum RTB Ciliwung di Kelurahan Waringin Jaya (a, b) RTH di sekitar bantaran sungai (c) tumpukan sampah warga di bantaran sungai

Kondisi Geografis Kota Jakarta

Kota Jakarta merupakan wilayah yang berada pada ketinggian rata-rata 7 meter di atas permukaan laut dengan luas wilayah sekitar 661,52 km². Pada umumnya, Kota Jakarta merupakan kota yang beriklim panas memiliki suhu udara berkisar antara 23,8-34°C dan curah hujan 237,96 mm/tahun (Perda DKI Jakarta No. 1 Tahun 2008). Kota Jakarta memiliki sebaran luas DAS Ciliwung terbesar kedua setelah Kabupaten Bogor, yaitu sebesar 9517,8 ha (BPDAS Citarum Ciliwung, 2013). Sungai Cilwung mengalir ditengah-tengah Kota Jakarta dan bermuara di Teluk Jakarta. Daerah bantaran Sungai di Kota Jakarta dikelilingi oleh permukiman kumuh padat penduduk yang menjadikan sungai sebagai bagian belakang dari tempat tinggal mereka (water back landscape). Terdapat 21 kecamatan yang dilalui oleh Sungai Ciliwung, dua diantaranya seringkali terjadi banjir yaitu Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan dan Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur telah dipilih sebagai lokasi sampel dalam penelitian ini (Tabel 5).

Tabel 5 Data umum masing-masing kelurahan di Kota Jakarta

No. Kecamatan Kelurahan Luas (ha) Jumlah Penduduk (jiwa)

1. Tebet (Jakarta Selatan) Bukit Duri 108 41.860 2. Jatinegara (Jakarta Timur) Kampung Melayu 48 30.416 Sumber : BPS Kota Jakarta timur dan Jakarta Selatan (2015)

Kelurahan Bukit Duri dan Kelurahan Kampung Melayu termasuk kedalam wilayah permukiman yang padat penduduk. Akses menuju permukiman di Kelurahan Bukit Duri termasuk mudah, karena terdapat fasilitas jalan yang dapat dilalui oleh kendaraan roda empat, sementara akses menuju permukiman di Kampung Melayu hanya berupa gang-gang kecil yang dapat dilalui dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan roda dua. Kedua kelurahan ini terletak bersebrangan, yakni dibatasi oleh aliran Sungai Ciliwung. Daerah bantaran Sungai Ciliwung di di kedua kelurahan sudah dipadati oleh deretan rumah tinggal yang dibangun membelakangi sungai (water back landscape), oleh karena itu kondisi lanskap RTB pada kedua kelurahan tersebut sangat buruk. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya lahan ruang terbuka yang tersisa, kualitas air yang tercemar

12

dan berwarna coklat, serta tumpukan sampah di kiri dan kanan sungai (Gambar 9 dan 10). Namun demikian, keberadaan Sungai Ciliwung masih dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai sumber air untuk mencuci, mandi, dan buang air. Berdasarkan hasil survey lapang, saat ini sebagian wilayah di Kelurahan Kampung Melayu sedang dilakukan normalisasi sungai sehingga masyarakat yang bermukim di bantaran sungai sudah di relokasi ke rumah susun. Sementara untuk wilayah lainnya termasuk Kelurahan Bukit Duri akan di relokasi kemudian

Gambar 9 Kondisi Umum RTB Ciliwung di Kelurahan Bukit Duri (a) sempadan sungai dipadati oleh bangunan yang membelakangi sungai (b) salah satu alat transportasi air untuk menyebrangi sungai (c) lahan kosong di pinggir sungai

dijadikan tempat menumpuk barang bekas dan kandang burung

Gambar 10 Kondisi Umum RTB Ciliwung di Kelurahan Kampung Melayu (a) sempadan sungai dipadati oleh bangunan yang membelakangi sungai

(b, c) tumpukan sampah di kiri dan kanan sungai

Kondisi Demografis Karakteristik Masyarakat

Karakteristik demografis masyarakat pada masing-masing sampel kelurahan dapat dilihat pada Tabel 6. Berdasarkan perhitungan yang mengacu pada Standar Nasional Indonesia tentang Tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan (2004), dapat diketahui bahwa ketiga kelurahan di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor termasuk kawasan dengan kepadatan rendah yaitu kurang dari 150 jiwa per hektar, sementara dua kelurahan di Kota Jakarta

a b c

13

termasuk dalam kawasan dengan kategori kepadatan tinggi hingga sangat padat yaitu berkisar antara 300 sampai lebih dari 400 jiwa per hektar. Data tersebut menunjukkan bahwa telah terjadinya persebaran penduduk yang tidak merata pada ketiga lokasi utama yang menjadi wilayah sampel. Persebaran penduduk yang tidak merata dapat berpengaruh terhadap kualitas lingkungan hidup, yaitu eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan yang akan mengganggu keseimbangan alam. Salah satunya adalah terjadinya perubahan tata guna lahan untuk kebutuhan kawasan terbangun.

Arifin (2013) menyebutkan bahwa pola perubahan lahan terbesar pada periode waktu 30 tahun di DAS Ciliwung adalah perubahan dari badan air/RTB menjadi lahan permukiman yaitu sekitar 76,39% dari total luasan badan air/RTB yang berubah. Hal tersebut dikarenakan kebutuhan manusia akan lahan yang semakin besar sementara jumlah lahan semakin terbatas, sehingga lahan-lahan yang seharusnya dimanfaatkan sebagai kawasan penyangga seperti daerah bantaran sunagi terkonversi menjadi kawasan permukiman, khususnya bagi masyarakat dengan pendapatan menengah kebawah. Hal ini menyebabkan munculnya konsep water back landscape atau membangun fasilitas, infrastuktur, sarana prasarana, gedung dan bangunan yang selalu membelakangi lanskap badan air sehingga sungai menjadi bagian belakang, bagian kotor dan tempat pembuangan segala jenis kotoran (Arifin 2014). Selain itu, Berkembangnya bantaran sungai sebagai kawasan permukiman membawa dampak menurunnya fungsi bantaran sungai sebagai retarding pond, ancaman bencana banjir dan tanah longsor, menurunnya kualitas lingkungan dan fungsi-fungsi lestari kawasan (Rahmadi 2009) dan terjadilah pencemaran sungai.

Tabel 6 Karakteristik masyarakat berdasarkan jenis kelamin dan kepadatan penduduk

Kota/Kelurahan

Jenis Kelamin (jiwa) Jumlah

Penduduk (jiwa) Kepadatan Penduduk (jiwa/ha) Rasio Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Kota Bogor 1. Sempur 4023 4030 8.053 127,83 99,83 2. Katulampa 15834 15587 31.421 63,99 101,58 3. Kedunghalang 11405 11103 22.508 117,23 102,72 Kabupaten Bogor 1. Karadenan 14138 13362 27.500 68,07 105,81 2. Sukahati 14009 13015 27.024 57,62 107,64 3. Waringin Jaya 6075 5809 11.884 69,91 104,58 Kota Jakarta 1. Bukit Duri 21313 20545 41.860 387,59 104 2. Kampung Melayu 15701 14715 30.416 633,7 107 Sumber : BPS Kota Bogor (2015), BPS Kabupaten Bogor (2014), BPS Kota Jakarta selatan dan Jakarta Timur (2015)

Berdasarkan Tabel 6, diketahui pula jumlah sebaran penduduk berdasarkan jenis kelamin dan rasio jenis kelamin. Rasio Jenis Kelamin ini menjelaskan perbandingan antara banyaknya penduduk laki-laki dengan banyaknya penduduk perempuan pada suatu daerah dan waktu tertentu. Biasanya dinyatakan dengan banyaknya penduduk laki-laki untuk 100 penduduk perempuan (BPS 2015). Dari data tersebut dapat dilihat bahwa rasio jenis kelamin pada masing-masing kelurahan menunjukkan jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan penduduk perempuan, kecuali di Kelurahan Sempur.

14

Dalam analisis demografi, struktur umur penduduk dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu (a) kelompok umur muda, dibawah 15 tahun; (b) kelompok umur produktif, usia 15 – 64 tahun; dan (c) kelompok umur tua, usia 65 tahun ke atas (Tjiptoherijanto 2001). Berdasarkan Tabel 7, dapat diketahui bahwa struktur penduduk pada lokasi penelitian di Kota bogor, Kabupaten Bogor, dan Kota Jakarta terkonsentrasi pada penduduk dengan usia produktif yaitu pada rentang umur 15-64 tahun. Responden dalam penelitian ini rata-rata termasuk penduduk dengan kelompok usia tersebut. Jumlah responden pada penelitian ini adalah 70 orang, dengan komposisi responden yang berusia 15-64 tahun sebanyak 65 orang dan diatas 65 tahun sebanyak 5 orang.

Tabel 7 Karakteristik Masyarakat Sampel Berdasarkan Usia

Kelurahan

Usia (tahun)

0-14 15-64 >65

jiwa % jiwa % jiwa %

Kota Bogor 1. Sempur 1627 20,2 5729 71,3 684 8.5 2. Katulampa 7662 26,7 19627 68,3 1429 5 3. Kedunghalang 4079 19,3 16311 77,2 732 3,5 Kabupaten Bogor 1. Karadenan 9409 26 25762 71,1 1052 2,9 2. Sukahati 9677 35,8 16775 62,1 575 2,1 3. Waringin Jaya 3866 32,5 7730 65,1 288 2,4 Kota Jakarta 1. Bukit Duri 11257 30,2 24795 66,4 1257 3,4 2. Kampung Melayu 8217 27 21080 69,3 1119 3,7

Sumber : Laporan profil desa dan Kelurahan Sempur (2014), laporan profil desa dan Kelurahan Katulampa (2012), laporan profil desa dan Kelurahan Kedunghalang (2014), laporan profil desa dan Kelurahan Karadenan (2015), laporan profil desa dan Kelurahan Sukahati (2015), laporan profil desa dan Kelurahan Waringin Jaya (2015), laporan profil desa dan Kelurahan Bukit Duri (2014), laporan profil desa dan Kelurahan Kampung Melayu (2014)

Penduduk dengan usia produktif seharusnya berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup untuk tinggal di lingkungan yang lebih layak. Namun, tingginya laju pertumbuhan penduduk menyebabkan tingginya persaingan untuk memperoleh lapangan pekerjaan, sehingga banyak masyarakat yang tidak memperoleh pekerjaan dan meningkatnya angka pengangguran. Menurut BKKBN (2013), Pertumbuhan penduduk dewasa ini mengalami pertumbuhan relatif cepat, yang berimplikasi pada kondisi biofisik lingkungan, permasalahan ekonomi, kesenjangan sosial dan ketersediaan lahan yang cukup untuk menopang kesejahteraan hidup manusia. Sementara lahan yang tersedia bersifat tetap dan tidak bertambah sehingga menambah beban lingkungan. Daya dukung alam ternyata makin tidak seimbang dengan laju tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup penduduk. Aktivitas seperti eksplorasi dan eksploitasi sistematis terhadap sumber daya alam dan lingkungan secara terus menerus dilakukan dengan alasan faktor ekonomi dan sosial. Sebagai contohnya adalah munculnya konsep water back landscape seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu dibangunnya perumahan kumuh di area pinggir sungai yang memberikan pengaruh buruk terhadap sungai dan lingkungan.

15

Mata Pencaharian

Kondisi sosial masyarakat pada ketiga lokasi utama yang menjadi wilayah sampel menunjukkan mata pencaharian yang beragam. Pada ketiga kelurahan sampel di wilayah Kota Bogor yaitu Kelurahan Sempur, Kelurahan Katulampa dan Kelurahan Kedunghalang mayoritas bermatapencaharian sebagai karyawan perusahaan swasta dan pemerintah, Pegawai Negri Sipil (PNS) dan TNI/POLRI, sehingga masyarakat sulit ditemui ketika hari kerja. Selain itu, ada masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan buruh tani di Kelurahan Katulampa karena masih terdapat area yang cukup luas untuk bercocok tanam.

Mata pencaharian pada ketiga kelurahan sampel di wilayah Kabupaten Bogor sedikit berbeda dengan Kota Bogor. Pada Kelurahan Karadenan dan Kelurahan Sukahati mayoritas bermatapencaharian sebagai pedagang, pengrajin, buruh industri, dan sebagian kecil berprofesi sebagai PNS dan Petani. Sementara di Kelurahan Waringin Jaya mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai petani, baik pemilik lahan, petani penggarap, maupun buruh tani. Semakin beragamnya mata pencaharian ini juga menjadi faktor sulitnya memperoleh responden pada hari-hari tertentu, karena jam kerja setiap profesi yang berbeda.

Namun jika dibandingkan dengan Kota Bogor dan Kabupaten Bogor, pencarian responden di Kota Jakarta khususnya dalam dua kelurahan yang menjadi wilayah sampel jauh lebih sulit. Hal tersebut disebabkan oleh mata pencaharian penduduk di Kelurahan Bukit Duri dan Kelurahan Kampung Melayu di dominasi oleh pedagang, baik sebagai pedagang kecil di pasar maupun home industry seperti usaha pembuat tempe, tahu, dan tauge, wartel/warnet, salon, pemilik warung rumahan/toko/bengkel, percetakan spanduk/souvenir, dan penyalur gas elpiji. Sehingga semakin sulit memperoleh responden karena mayoritas masyarakat setiap hari bekerja dengan jam pergi dan pulang yang tidak menentu.

Pendidikan

Berdasarkan tingkat pendidikan, masyarakat yang menjadi responden pada tiga lokasi utama wilayah sampel cukup bervariasi. Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner secara acak kepada 70 responden pada tiga lokasi utama penelitian, sebanyak 18% responden lulusan SD, 16% lulusan SMP, 47% lulusan SMA, dan 19% lulusan Perguruan Tinggi/Akademi (Gambar 11). Hasil tersebut menunjukan bahwa sebagian besar responden yang menjabat sebagai tokoh masyarakat (ketua RT/RW maupun anggota organisasi) berpendidikan cukup tinggi, meskipun masih ada sebagian hanya lulusan SD dan SMP. Tingkat pendidikan tersebut diharapkan mampu meningkatkan pemahaman serta kepedulian responden terhadap RTB dan ingin turut berpartisipasi dalam mengelola RTB di daerah bantaran Sungai Ciliwung. Namun, dalam kenyataannya masih banyak masyarakat yang belum paham akan pentingnya keberadaaan sungai dan rendahnya kepedulian terhadap RTB. Hal tersebut dibuktikan dengan minimnya pastisipasi masyarakat dalam kegiatan lingkungan yang berkaitan dengan sungai.

16

Gambar 11 Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan

Analisis Persepsi Masyarakat Persepsi Terhadap Ruang Terbuka Biru

Ruang Terbuka Biru (RTB) adalah cekungan-cekungan, lembah-lembah yang sangat potensial sebagai wadah menampung air. Mereka bisa berbentuk kolam/balong, setu/situ, embung, waduk, dam, atau danau serta aliran-aliran air yang bergerak mulai dari selokan, saluran irigasi, kanal hingga sungai besar yang dapat menampung air dengan cepat (Arifin 2014).

Gambar 12 Persepsi Masyarakat tentang Istilah Ruang Terbuka Biru

Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner, tampaknya istilah Ruang Terbuka Biru (RTB) belum terlalu familiar bagi masyarakat di ketiga lokasi penelitian. Hal ini terlihat dari jawaban responden yaitu di Kota Bogor (97%), Kabupaten Bogor (95%) dan Kota Jakarta (95%) mengaku tidak pernah mendengar istilah RTB. Sisanya mengaku pernah mendengar istilah RTB dari

17

televisi dan mahasiswa, baik di Kota Bogor (3%), Kabupaten Bogor (5%), maupun Kota Jakarta (5%) (Gambar 12).

Pengertian masyarakat tentang Ruang Terbuka Biru jika dilihat dari persentase rata-rata sebesar 33% berpendapat bahwa RTB terkait dengan langit, 37% berpendapat terkait dengan air, dan sisanya 30% mengatakan tidak tahu apa yang dimaksud dengan RTB (Gambar 13). Dari hasil tersebut terlihat bahwa jumlah persentase responden yang menjawab RTB tidak terkait dengan air lebih besar dibandingkan dengan yang menyebutkan bahwa RTB tekait dengan badan air. Hasil tersebut menunjukkan bahwa istilah RTB secara umum merupakan istilah baru bagi masyarakat, sehingga responden memiliki persepsi yang berbeda-beda terkait istilah tersebut.

Gambar 13 Persepsi Masyarakat tentang Pengertian Ruang Terbuka Biru Responden yang menjawab tidak tahu, memberikan berbagai macam pendapat tentang pengertian RTB sesuai dengan persepsi masing-masing. Tidak sedikit yang berpendapat bahwa RTB berkaitan dengan lingkungan, kebersihan dan keindahan, namun tidak menyebutkan berhubungan dengan badan air. Responden yang menjawab bahwa RTB berkaitan dengan badan air pun masih belum bisa dikatakan tahu dan paham tentang RTB, karena banyak yang belum bisa menyebutkan dan menginterpretasikan seperti apa bentuk-bentuk RTB. Hal tersebut terlihat dari responden yang menyatakan bahwa Sungai Ciliwung tidak atau belum termasuk salah satu bentuk RTB karena airnya tidak berwarna biru, melainkan coklat dan kotor. Pengertian sebagian besar masyarakat yang menjawab RTB berkaitan dengan air bahwa yang termasuk RTB hanyalah badan air yang berair jernih dan biasanya identik dengan warna biru.

Persepsi Terhadap Lanskap Muka Air dan Lanskap Belakang Air

Lanskap muka air atau sering disebut water front landscape adalah suatu paradigma dimana bentang lanskap yang menghadap pada muka badan air, dan

Dokumen terkait