• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Bobot Potong

Bobot potong merupakan bobot yang diperoleh setelah ternak dipuasakan selama 12 jam dengan pemberian air minum secara adlibitum. Bobot potong perlu diperhatikan karena berpengaruh terhadap kualitas karkas itik peking. Data rataan bobot potong itik peking umur 8 minggu dapat dilihat pada Tabel 7di bawah ini. Tabel 7. Rataan bobot potong itik peking umur 8 minggu (g/ekor)

Tabel diatas menunjukkan bahwarataan bobot potong tertinggi diperoleh dari hasil penelitian terdapat pada perlakuan P2 (ransum dengan 10% tepung ikan gabus pasir)sebesar 1384,89 g dan terendah pada perlakuan P0 (kontrol) sebesar 1334,22 g. Hal ini dikarenakan ternak itik memanfaatkan protein yang terdapat pada ransum pada setiap perlakuan yang dibutuhkan ternak berbeda-beda. Protein sebagai bahan pembangun tubuh menganti sel-sel tubuh yang telah rusak. Pendapat tersebut didukung oleh Maynard dan Loosli (1969) dan Santoso (1986) yang menyatakan bahwa protein dalam tubuh ternak berperan sebagai bahan pembangun tubuh danpengganti sel-sel yang sudah rusak serta bahan penyusun beberapa hormon danprotein merupakan materi penyusun dasar dari semua jaringan tubuh yang dibentuk, misalnya otot-otot, sel darah untuk pertumbuhan dan perkembangan.Pemberian protein ternak harus dilakukan dengan

Perlakuan Ulangan

1 2 3 4 5 6 Rataan±sd

P0 1253,33 1413,33 1274,33 1458,00 1283,00 1323,33 1334,22±83,00 P1 1401,00 1304,66 1380,33 1247,33 1442,00 1352,66 1354,66±69,94 P2 1376,00 1390,33 1376,33 1580,33 1209,66 1376,66 1384,89±117,6

berkesinambungan melalui ransum untuk pertumbuhan, pergantian sel dan produksi lainnya, jika protein yang diberikan tidak cukup maka akan menyebabkan pertumbuhan dari ternak tidak normal.

Bobot potong dipengaruhi oleh pertambahan bobot badan dan konsumsi. Untuk mengetahui pertambahan bobot badan dapat dilihat pada di Lampiran 19.

Pertambahan bobot badan tertinggi terdapat pada perlakuan sebesar 33,12 g/ekor/hari sedangkan pertambahan bobot badan terendah terdapat pada

perlakuan P0 sebesar 31,98 g/ekor/hari sedangkan P1 sebesar 32,35 g/ekor/hari. Untuk rataan konsumsi pakan dapat dilihat pada Lampiran 22. Konsumsi pakan tertinggi terdapat pada perlakuan P0 sebesar 110,38 g/ekor/hari dengan standar deviasi sebesar 2,0921 sedangkan konsumsi ransum yang terendah terdapat pada perlakuan P1 sebesar 107,78 g/ekor/hari dengan standar deviasi sebesar 1,6657 sedangkan konsumsi ransum pada perlakuan P2 sebesar 108,37 g/ekor/hari dengan standar deviasi sebesar 2,2977. Hal ini sesuai yang dikemukakan Srigandono (1998) bahwa untuk mencapai berat badan sekitar 3,5 kgpada umur 8 minggu, itik peking harus menghabiskan pakan sebanyak 9,5 kg dengan rata-rata konsumsi pakan 170 g/hari selama 8 minggu.

Pengaruh pemberian tepung limbah ikan gabus dalam ransum tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap bobot potong terdapat pada lampiran 2. Rataan bobot potong itik peking yang diperoleh antar perlakuan tidak terdapat perbedaan yang sangat signifikan. Tidak adanya pengaruh yang nyata terhadap bobot potong itik peking antar perlakuan dipengaruhi oleh kandungan nutrisi ransum yang hampir sama pada tiap perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa ransum P1 dan P2 mempunyai kandungan nutrisi yang sama baiknya dengan ransum P0.

Rataan bobot potong itik peking umur 8 minggu hasil penelitian ini lebih tinggi dibandingkan hasil penelitian yang dilaporkan oleh Rosmauli (2006) bahwa rataan bobot potong itik peking dengan pemanfaatan tepung temulawak sebesar 1274,50 g. Hasil penelitian ini juga lebih tinggi dibandingkan hasil penelitian yang dilaporkan Yulinar (2006) rataan bobot potong itik peking dengan pemanfaatan kulit biji kakao sebesar 1343,25 g. Rataan bobot potong hasil penelitian ini lebih rendah dibandingkan hasil penelitian yang dilaporkan oleh Hasibuan (2007) sebesar 1614,17 g. Hal ini dikarenakan semua protein dalam pakan secara sempurna dicerna menjadi asam-asam amino dalam alat pencernaan kemudian diserap oleh tubuh melalui usus halus (intestine). Bobot potong juga berhubungan dengan suhu lingkungan, konsumsi ransum pada perlakuan yang sama. Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh Rasyaf (1992) mengatakan bahwa pertambahan bobot badan dapat dipengaruhi oleh konsumsi ransum, kesehatan, suhu lingkungan dan jenis kelamin.

Bobot Karkas

Bobot karkas merupakanselisih bobot tubuh setelah dipuasakan (bobot potong) yang diperoleh dari hasil penimbangan daging bersama tulang dari hasil pemotongan setelah dipisahkan bulu, darah, kepala sampai batas pangkal leher, kaki sampai batas lutut dan isi rongga bagian dalam selain ginjal. Rataan bobot karkas dapat dilihat dari Tabel 9di bawah ini.

Tabel 8. Rataan bobot karkas itik peking umur 8 minggu(g/ekor)

Perlakuan Ulangan

1 2 3 4 5 6 Rataan±sd

P0 793,00 933,66 824,33 972,33 810,00 853,00 864,38±72,44 P1 896,66 755,66 895,66 785,83 897,33 859,66 848,46±62,60 P2 836,66 891,33 869,66 990,33 856,00 888,33 888,71±53,80

Berdasarkan tabel diatasrataan bobot karkas tertinggi yang diperoleh dari hasil penelitian terdapat pada perlakuan P2 yaitu sebesar 888,71g dan terendah pada perlakuan P1 sebesar 848,467 g. Bobot karkas P1 lebih rendah dibandingkan bobot karkas P0. Hal itu dipengaruhi oleh adanya hubungan metabolisme lemak yang berbeda antar perlakuan. Ukuran bobot karkas P0, P1, P2 yang diperoleh dari hasil penelitian masuk dalam kriteria bobot karkas ukuran kecil. Hal ini sesuai pernyataan Sembiring (1993) yang menyatakan bahwa ukuran karkas ditentukan berdasarkan bobot, bobot individual ditentukan oleh bobot karkas itu sendiri, berdasarkan pembagiannya adalah : ukuran kecil 0,8 kg-1,0 kg, ukuran sedang 1,0 kg-1,2 kg, ukuran besar 1,2 kg-1,5 kg.

Pengaruh pemberian tepung limbah ikan gabus dalam ransum tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap bobot karkas. Penelitian ini memberikan hasil bahwa itik peking yang memiliki bobot potong besar tidak selamanya memiliki bobot karkas yang besar juga. Bisa dilihat pada perlakuan P1, rataan bobot potong P1 lebih tinggi dibandingkan rataan bobot potong P0 tetapi jika dilihat rataan bobot karkas, perlakuan P0 lebih tinggi dibandingkan P1. Hal tersebut dikarenakan non karkas pada perlakuan P0 lebih besar dibandingkan P1, tetapi P2 memiliki bobot potong dan bobot karkas yang tinggi. Hal ini sesuai sesuai dengan yang dikemukakan oleh Soeparno (1994) yang menyatakan bahwa bobot karkas dan bobot hidup yang mempunyai faktor penting dalam produksi ternak potong sebenarnya, dikarenakan dalam bobot hidup masih ada saluran pencernaan dan organ dalam yang mempunyai berat masing-masing ternak berbeda. Persentase karkas bisa dipengaruhi oleh bertambahnya umur serta bobot hidup dan yang akan diikuti dengan meningkatnya bobot karkas yang dihasilkan.

Pemberian ransum yang berenergi tinggi dengan imbangan yang baik antara protein, vitamin dan mineral akan menghasilkan bobot karkas yang tinggi. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Nataamidjaya et al.,(1995) yang menyatakan bahwa produksi karkas sangat erat kaitannya dengan bobot badan, dimana pertambahan bobot badan dipengaruhi oleh bahan pakan penyusun ransum. Adapun bahan-bahan pakan penyusun ransum dilakukan satu kali seminggu, sehingga ketengikan pakan tersebut dapat dihindari.

Rataan bobot karkas itik peking umur 8 minggu hasil penelitian ini lebih tinggi dibandingkan hasil penelitian yang dilaporkan oleh Rosmauli (2006) bahwa rataan bobot karkas itik peking dengan pemanfaatan tepung temulawak sebesar 860,45 g. Rataan bobot potong hasil penelitian ini lebih rendah dibandingkan hasil penelitian yang dilaporkan oleh Yulinar (2006) rataan bobot karkas itik peking dengan pemanfaatan kulit biji kakao sebesar 896,50 g. Rataan bobot karkas hasil penelitian ini lebih rendah juga dibandingkan hasil penelitian yang dilaporkan oleh Hasibuan (2007) dengan pemanfaatan tepung bawang putih sebesar 1057,50 g.

Persentase Karkas

Persentase karkas merupakan perbandingan antara bobot karkas dengan bobot potong dikalikan 100 %. Rataan persentase karkas itik peking dapat dilihat pada Tabel 9 di bawah ini.

Tabel 9. Rataan persentase karkas itik peking umur 8 minggu (%) Perlakuan Ulangan 1 2 3 4 5 6 Rataan±sd P0 P1 P2 63,23 66,10 64,51 66,41 63,09 64,41 63,99 57,90 64,80 63,05 63,05 63,59 61,16 64,4 63,14 62,30 70,92 64,58 64,62±1,394 62,73±2,455 64,41±3,436

Berdasarkan tabel diatas diperoleh bahwa rataan persentase karkas tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol yaitu P0 sebesar 64,62%,sedangkan persentase terkecil pada P1 sebesar 62,73%. Persentase terbesar tidak dihasilkan dari bobot karkas yang terbesar. Hal ini dipengaruhi oleh non karkas ternak itik sendiri, hal itu juga dikarenakan ternak tersebut mendeposisikan protein berbeda-beda. Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh Maynard dan Loosli (1969) bahwa meningkatkan kandungan protein dalam karkas, dan meningkatnya deposisi protein yang merupakan indikasi dari proses pemanfaatan protein pakan. Deposisi protein yang bernilai positif, berarti ternak tersebut memanfaatkan protein yang tinggal di tubuh untuk meningkatkan bobot badan. Hal ini juga sesuai pernyataan Boorman (1980) menyatakan bahwa energi yang cukup bagi tubuh ternak akan mencegah pemanfaatan protein tubuh, sehingga deposisi protein tidak menurun. Pemberian pakan dengan kadar protein tinggi diharapkan dapat meningkatkan jumlah protein yang terdeposisi di dalam tubuh.

Pemberian tepung limbah ikan gabus dalam ransum tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap persentase. Hal ini disebabkan bobot potong dan bobot karkas sangat mempengaruhi besar kecilnya persentase karkas. Pendapat ini juga didukung oleh teori yang dikemukakan oleh Morran (1970) bahwa semakin bertambahnya bobot potong maka produksi karkas semakin meningkat.

Hasil penelitian menunjukkan rataan persentase karkas yang diperoleh P0 sebesar 64,62% dengan standar deviasi sebesar 1,39, P1 sebesar 62,73 dengan standar deviasi sebesar 2,45 dan P2 sebesar 64,41% dengan standar deviasi sebesar 3,43%. Hal itu mengartikan bahwa persentase itik peking umur 8 minggu bisa mencapai ± 65%. Hal ini juga didukung oleh teori Srigandono (1997) yang menyatakan bahwa itik peking pada umur 50-56 hari mencapai persentase karkas sampai 65%, namun tingkat pertumbuhan tersebut terjadi pada keadaan suhu lingkungan pemeliharaan 13-27 C. Didaerah yang suhunya lebih tinggi, misalnya didaerah tropis yang suhu udaranya berada diantara 28-29 C, tingkat pertumbuhan yang dapat kira-kira 10% lebih rendah.

Bobot Lemak Abdominal

Lemak abdominal diperoleh dari hasil penimbangan lemak yang terdapat disekitar rongga perut dan sekitar kloaka yang dihitung dalam satuan gram. Rataan lemak abdominal itik peking umur 8 minggu dapat dilihat pada Tabel 13 di bawah ini.

Tabel 10. Rataan lemak abdominal itik peking umur 8 minggu (g)

Perlakuan Ulangan 1 2 3 4 5 6 Rataan±sd P0 P1 P2 9,00 7,66 7,33 10,00 11,66 10,00 10,66 9,00 14,66 7,00 11,00 10,33 7,00 8,00 11,33 14,33 10,33 19,00 9,27±1,62 10,44±2,53 11,66±4,42

Berdasarkan tabel di atas lemak abdominal tertinggi yang diperoleh terdapat pada perlakuan P2 yaitu sebesar 69,99 g dan terendah terdapat pada perlakuan P0 yaitu sebesar 9,27 g. Hal ini dikarenakan kelebihan protein yang diserap oleh mukosa tubuh yang digunakan sebagai sumber energi pada perlakuan

P2 akan disimpan dalam bentu lemak. Hal ini sesuai pernyataan Wahyu (1997) yang menyatakan bahwa protein dalam tubuh akan digunakan sebagai sumber energi, kelebihan protein ini akan disimpan dalam bentuk lemak dan juga dibuang melalui urin. Semua protein dalam makanan secara sempurna dicerna menjadi asam-asam amino dalam alat pencernaan kemudian diserap oleh tubuh melalui usus halus (intestine).

Berdasarkan analisis ragam pada lampiran 8 diketahui pemberian tepung limbah ikan gabus pasir dalam ransum tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap lemak abdominal itik peking antar perlakuan dipengaruhi oleh kandungan nutrisi ransum yang hampir sama pada setiap perlakuan dan tingkat konsumsi ransum yang tidak berbeda nyata pada tiap perlakuan. Hal ini sesuai pernyataan Zuheid (1990) yang menyatakan bahwa faktor-faktor yangmempengaruhi lemak tubuh, maka faktor ransum adalah yang palingberpengaruh.

Perlemakan tubuh diakibatkan dari konsumsi energi ransum yangberlebih yang akan disimpan dalam jaringan tubuh, yaitu bagian dariintramuskuler, subkutan dan abdominal. Hal ini juga sesuai teori Anggorodi (1995) mengemukakan bahwa hubungan antara lemak yang dikonsumsi dan lemak yang disimpan dalam tubuh unggas dapat diubah hanya bila sejumlah besar lemak dikonsumsi. Kelebihan lemak hanya dapat disimpan dalam sel-sel lemak. Bila karbohidrat dan lemak yang dikonsumsi lebih dari yang diperlukan unggas, penyimpanan lemak akan berlanjut dan tidak terbatas.

Persentase Lemak Abdominal

Persentase lemak abdominal merupakan perbandingan berat lemak abdominal dengan berat karkas dikalikan 100%. Rataan persentase lemak abdominal itik peking dapat dilihat pada Tabel 11 di bawah ini.

Tabel 11. Rataan persentase lemak abdominal itik peking umur 8 minggu (%)

Perlakuan Ulangan 1 2 3 4 5 6 Rataan±sd P0 P1 P2 1,12 0,82 0,89 1,00 1,36 1,16 1,18 1,18 1,69 0,87 1,23 1,18 0,83 0,95 1,28 1,36 1,20 2,09 1,05 ± 0,197 1,22 ± 0,263 1,28 ± 0,442

Tabel diatas rataan persentase lemak abdominal tertinggi terdapat pada perlakuan P2 (10% tepung limbah ikan gabus pasir) sebesar 1,28% dan yang terendah terdapat pada perlakuan P0 (0% tepung limbah ikan gabus pasir) yaitu sebesar 1,05%.

Berdasarkan analisis ragam diketahui pemberian tepung limbah ikan gabus pasir dalam ransum tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap persentase lemak abdominal itik peking antar perlakuan.

Lemak abdominal itik peking dipengaruhi oleh konsumsi energi dan disimpan dalam jaringan tubuh. Hal ini sesuai pernyataan Gaman (1992) yang menyatakan bahwa perlemakan tubuh diakibatkan darikonsumsi energi yang berlebih yang akan disimpan dalam jaringan tubuh yaitupada bagian

intramuscular, subcutan dan abdominal. Kelebihan energi akan menghasilkan

karkas yang mengandung lemak lebih tinggi. menurut pernyataan Wahyu (1985) salah satu cara untuk mengurangi lemak adalah dengan jalan memvariasikan dengan nutrien ransum terutama energi dan protein dengan meningkatnya kandungan energi ransum, sehingga akan meningkatkan kandungan lemak

abdominalnya secara keseluruhan. Sebaliknya dengan meningkatnya kandungan protein ransum maka jumlah lemak abdominalnya juga akan menurun.

Rekapitulasi Hasil Penelitian

Rekapitulasi penelitian terhadap bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, bobot lemak abdominal dan persentase lemak abdominal dapat dilihat pada Tabel 12 di bawah ini.

Tabel 12. Rekapitulasi hasil penelitian pemanfaatan tepung limbah ikan gabus pasir dalam ransum terhadap karkas itik peking umur 8 minggu

Perlakuan Bobot potong (g) Bobot karkas(g) Persentase karkas(%) Bobot Lemak abdominal (%) Persentase lemak abdominal (%) P0 1334,22 tn 864,38 tn 64,62 tn 9,27 tn 1,05 tn P1 1354,66 tn 848,46 tn 62,73 tn 10,44 tn 1,22 tn P2 1384,89 tn 888,71 tn 64,41 tn 11,66tn 1,28 tn

Dokumen terkait