BAHAN DAN METODE PENELITIAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
Konsumsi Ransum
Konsumsi ransum merupakan jumlah makanan yang dikonsumsi oleh ternak yang akan digunakan untuk mencukupi hidup pokok dan untuk produksi hewan tersebut. Konsumsi ransum dapat dihitung dengan pengurangan jumlah ransum yang diberikan dengan pakan sisa.Rataan konsumsi ransum selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 4 sebagai berikut : Tabel 4 Rata konsumsi ransum ayam broiler (g/ekor/minggu)
Minggu Perlakuan KP KO K1 K2 K3 Sebelum infeksi 436.06 427.17 433.25 424.9 438.96 (0-3 minggu) tn Setelah infeksi Minggu ke 4 tn 738.06 722.56 722.44 724.38 712.88 Minggu ke 5 tn 601.54 607.75 613.38 614.56 623.38 (4-5 minggu) 669.8 665.16 667.91 669.47 668.13 Keterangan : tn = tidak nyata (P>0,05)
Pada minggu ke 4 seluruh ayam diinfeksi dengan Eimeria tenella. Konsumsi ransum untuk minggu ke 4 belum menunjukan penurunan yang signifikan walaupun dalam keadaan ayam terinfeksi Eimeria tenella. Dari tabel 4 juga menunjukan bahwa konsumsi ransum pada minggu ke 4 tidak menunjukan perbedaan yang nyata (P>0,05). Rataan konsumsi ransum tertinggi terdapat pada perlakuan KP sebesar 738,06 g dan terendah terdapat pada perlakuan K3 sebesar 712,88 g. Ini artinya konsumsi ransum pada ayam broiler umumnya tidak berpengaruh terhadap ayam broiler, kecuali jika dalam keadaan sakit. Hal ini ditunjukan pada kondisi ayam pada minggu ke 5 (setelah terinfeksi Eimeria tenella selama 1 minggu). Pada minggu ke 5 kondisi ayam dalam keadaan sakit setelah terinfeksi Eimeria tenella, hal ini berdampak juga pada konsumsi ransum. Dari tabel 4 menunjukan konsumsi ransum tidak berbeda nyata dimana rataan tertinggi terdapat pada perlakuan K2 sebesar 669,47 g dan rataan terendah terdapat pada perlakuan 601,54 g.
Grafik 1. Persentase penurunan konsumsi konsumsi minggu ke 5
. Dari grafik diatas menunjukan bahwa persentase penurunan konsumsi setelah diinfeksi dan diberi jahe merah serta koksidiostat lebih baik dibandingkan tanpa diberikan jahe merah dan koksidiostat. Dimana persentase tertinggi terdapat pada perlakuan yang tidak diberikan jahe merah dan koksidiostat yaitu KP sebesar (18,45%), KO (15,8%), K2 (15,09%), K1 (15,08%) dan terendah terdapat pada K3 (12,52%). Hal ini disebabkan pada jahe merah terkandung minyak atsirih (gingerol) dengan bau rasa yang khas dihasilkan oleh larutan jahe yang diberikan kepada ternak mampu menstimulasi sistem pencernaan. Kemampuan ini mengakibatkan ternak lebih toleran terhadap stres. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kemper (1999), yang menyatakan bahwa senyawa bioaktif yang terkandung dalam rimpang jahe (Zingiber officinalle var rubra) seperti senyawa phenolic (shogaol dan gingerol) dan minyak atsirih, seperti zingiberen, zingiberol, asam gingesulfonat, zingeron, geraniol, meral. Jahe mengandung minyak atsirih yang bersifat anti inflamasi (anti peradangan), menambah nafsu makan, memperkuat lambung, jahe dapat memobilisasi atau mengubah lemak menjadi energi, dan memperbaiki pencernaan.
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 KP KO K1 K2 K3
Rataan
RataanPertambahan Bobot Badan
Pertumbuhan merupakan suatu proses peningkatan ukuran tulang, otot, organ dalam dan jaringan bagian tubuh lainnya. Pertambahan bobot badan dapat dihitung dengan menimbang bobot badan setiap minggu dikurangi dengan bobot badan minggu sebelumnya.
Rataan pertambahan bobot badan broiler selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 5 berikut. Minggu Perlakuan KP KO K1 K2 K3 Sebelum infeksi 285.29 287.58 289.94 294.08 293.77 (0-3 minggu) tn Setelah infeks tn 404.31 402.75 401.63 403.94 398.69 Minggu ke 4 tn Minggu ke 5 tn 425.75 442.25 445.25 481.81 448.25 (4-5 minggu) 415.03 422.5 423.44 442.88 423.47 Keterangan : tn = tidak nyata (P > 0,05)
Table 5 menunjukan bahwa pertambahan bobot badan sebelum infeksi menunjukkan perbedaan yang tidak nyata pada perlakuan (KP, KO, K1, K2, K3) terhadap pertambahan bobot badan ayam broiler, adapun rataan pertambahan bobot badan yang tertinggi terdapat pada perlakuan K2 sebesar 294,08 dan terendah terdapat pada perlakuan KP sebesar 285,29 g. Hal ini dikarenakan konsumsi dari pakan yang diberikan sama baiknya sehingga laju pertambahan bobot badan ayam sama dan salah satu faktor yang mempengaruhi laju pertambahan bobot badan yaitu konsumsi ransum. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kartadisastra (1994), yang menyatakan berat badan ayam akan ditentukan oleh jumlah konsumsi pakannya, semakin besar bobot badan ayam sebakin banyak jumlah konsumsi pakannya.
Pada minggu ke 4 ayam diinfeksi Eimeria tenella dan diukur pertambahan bobot badanya tiap perlakaun, hasilnya menunjukan belum ada pertambahan yang signifikan antar perlakuan, artinya belum ada dampak dari Eimeria tenella pada konsumsi maupun
pertambahan bobot badan. Rataan tertinggi terdapat pada KP sebesar 404,31 dan terendah pada K3 sebesar 398,69. Seminggu setelah ayam terinfeksi Eimeria tenella (Minggu ke 5) dapat dilihat bahwa ayam yang diberi perlakuan jahe merah dan koksidiostat menunjukan pertambahan bobot badan yang lebih tinggi dibandingkan dengan ayam yang tidak diberi perlakuan jahe merah dan koksidiostat. Dikarenakan jahe dapat membantu sistem pencernaan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Supriadi (2001), yang menyatakan bahwa larutan jahe dapat merangsang dinding kantung empedu, mengeluarkan cairan empedu dan merangsang keluarnya getah pankreas yang mengandung amilase, lipase dan protease. Enzim-enzim tersebut dapat meningkatkan pencernaan. Disamping itu adanya peranan dari antibiotik yang terdapat dalam larutan jahe (gingerol), sehingga pengontrolan bakteri ataupun kuman penyakit semakin efisien.
Setelah diinfeksi ayam mengalami penurunan berat badan artinya ayam yang terinfeksi dalam keadaan sakit sehingga mempengaruhi laju pertambahan bobot badan ayam. Hal ini jelas terlihat pada table 5 dimana terjadi penurunan drastis pada pertambahan bobot badan.Tabel 5 juga menunjukkan bahwasanya tidak ada perbedaan yang signifikan antara perlakuan. Dimana rataan perlakuan tertinggi terdapat pada perlakuan K2 sebesar 442,88 g dan terendah terdapat pada perlakuan KP sebesar 415,03 g.
Grafik 2. Persentase pertambahan bobot badan minggu ke 5
0 5 10 15 20 25 KP KO K1 K2 K3
Rataan
RataanDari grafik diatas menunjukan bahwa persentase pertambahan bobot badan setelah diinfeksi dan diberi jahe merah serta koksidiostat lebih baik dibandingkan tanpa diberikan jahe merah dan koksidiostat. Dimana persentase tertinggi terdapat pada perlakuan yang diberikan jahe merah dan koksidiostat, perlakuan tertinggi terdapat pada K2 (19,6%), K3 (12,4%), K1 (11%), KO (9,8%) dan terendah terdapat pada KP sebesar (5,3%). Hal dikarenakan pemberian jahe merah diduga juga menyebabkan proses pencernaan pakan terstimulasi, sehingga konversi pakan menjadi daging berjalan lebih optimal. Jahe merah memiliki sifat sebagai digestant dan stimulant. Apabila proses konversi pakan menjadi daging berjalan dengan baik, maka laju pertumbuhan (pertambahan bobot badan) akan menjadi lebih baik (Conley, 1997).
Konversi Ransum
Konversi ransum adalah sebagai rasio antara konsumsi ransum dengan pertambahan bobot badan yang diperoleh selama kurun waktu tertentu.
Rataan konversi ransum ayam broiler selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 6 berikut:
Tabel 6. Rataan konversi ransum selama penelitian Minggu Perlakuan KP KO K1 K2 K3 Sebelum infeksi (0-3 minggu) tn 1.44 1.40 1.47 1.42 1.41 Setelah infeksi Minggu ke 4 tn 1.83 1.79 1.80 1.80 1.79 Minggu ke 5 tn 1.42 1.38 1.38 1.28 1.39 (4-5 minggu) 1.68 1.63 1.58 1.57 1.63
Keterangan : tn = tidak nyata (P > 0,05)
Tabel 6 menunjukan rataan konversi ransum sebelum diinfeksikan perlakuan (KP, KO, K1, K2, K3) tidak menunjukan perbedaan yang tidak nyata dan angka rataan konversi ransum sangat baik (masih dibawah 2) artinya semua perlakuan yang diteliti dapat
menstimulasi ransum menjadi daging. Hal ini dikarenakan pada minggu sebelum diinfeksi
Eimeria tenella semua ayam dalam keadaan sehat sehingga dapat menyebabkan proses pencernaan pakan terstimulasi, serta konversi pakan menjadi daging berjalan dengan lebih opimal, hal ini sesuai dengan pernyataan (Conley, 1997) yang menyatakan Apabila proses konversi pakan menjadi daging berjalan dengan baik, maka laju pertumbuhan (pertambahan bobot badan) akan menjadi lebih baik.
Tabel 6 menunjukan rataan konversi ransum pada minggu ke empat tidak berbeda nyata terhadap perlakuan KP, KO, K1, K2, K3 dikarenakan pada minggu ke empat semua perlakuan diinfeksi Eimeria tenella sehingga angka rataan konversi ransum tidak jauh berbeda, sedangkan pada minggu kelima rataan tertinggi terdapat pada perlakuan KP dan diikuti secara berturut-turut K3, KO, K1, K2. Hal ini dikarenakan perlakuan selain KP diberikan larutan jahe merah dan koksidiostat sehingga tingkat konsumsi pakan pada perlakuan K3, KO, K1, K2 tidak terlalu tinggi namun diiringi oleh pertambahan bobot badan yang baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rasyaf (2003), menyatakan bahwa konversi pakan dipengaruhi oleh besar badan dan bangsa ayam, tahap produksi, temperatur lingkungan dan yang terpenting adalah kesehatan ternak. Jika keadaan ternak sehat berarti proses pencernaan yang terjadi juga semakin baik, penyerapan zat-zat yang penting untuk pertumbuhan lebih sempurna sehingga dalam memenuhi kebutuhan energi untuk pertumbuhan dari mengkonsumsi pakan tidak terlalu banyak.
Grafik 3. Persentase penurunan konversi ransum minggu ke 5
Setelah ayam terinfeksi Eimeria tenella konversi ransum pada ayam jauh lebih tinggi diatas konversi ransum sebelum infeksi. Artinya diantara perlakuan terjadi perbedaan yang tidak nyata pada konversi ransumnya. Dari grafik 3 menunjukan bahwasanya pemberian jahe merah dan koksidiostat menunjukan penurunan konversi ransum yang lebih besar dimana K2 sebesar (28,4%), K3(22,3%), K1 (23%), KO (23%) dan terendah terdapat pada KP sebesar (22,3%). Hal ini menunjukkan bahwa apabila semakin kecil angka konversi ransum semakin baiklah konsumsi ransum dan laju pertambahan bobot badan ayam. Ayam yang terinfeksi
Eimeria tenella secara tidak langsung akan menurunkan konsumsi maupun pertambahan bobot badan dengan begitu akan terdampak dengan konversi ransumnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Rasyaf, 2003) menyatakan bahwa konversi pakan dipengaruhi oleh besar badan dan bangsa ayam, tahap produksi bangsa ayam, tahap produksi, temperatur lingkungan dan yang terpenting adalah kesehatan ternak. Jika keadaan ternak sehat berarti proses pencernaan yang terjadi juga semakin baik, penyerapan zat-zat yang penting untuk pertumbuhan lebih sempurna sehingga dalam memenuhi kebutuhan energi untuk pertumbuhan, mengkonsumsi pakan tidak terlalu banyak.
0 5 10 15 20 25 30 KP KO K1 K2 K3
Rataan
RataanIndeks Penampilan (IP)
Tabel 7. Indeks penampilan ayam broiler selama penelitian Perlakuan Ulangan Rataan±SD tn U1 U2 U3 U4 KP 290.0 309.0 326.0 333.0 314.50±19,2 KO 330.0 324.0 325.0 309.0 322.00±9,1 K1 310.0 332.0 342.0 327.0 327.75±13,4 K2 336.0 325.0 347.0 339.0 336.75±9,1 K3 339.0 331.0 338.0 322.0 332.50±7,9
Keterangan : tn = tidak nyata
Pada penelitian ini nilai IP rataan berkisar 314,50-336,75 dimana kriteria rataan IP baik (326-320) dan nilai ini terdapat pada perlakuan K1 = (327,75), K2 = (336,75) dan K3 = (332,50) yang artinya pemberian jahe merah tersebut mampu mengatisipasi ayam yang telah terjangkit Eimeria tenella. Sementara itu ayam yang dapat perlakuan KO dan KP termasuk dalam kategori cukup (301-325) dimana KO mempunyai nilai IP (322) dan KP (314,50). Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya nilai IP konsumsi ransum, berat badan konversi ransum dan mortalitas. hal ini sesuai dengan pernyataan (Kamara, 2007) yang menyatakan nilai indeks performans dihitung berdasarkan bobot badan siap potong, konversi pakan, umur panen, dan jumlah persentase ayam yang hidup selama pemeliharaan.