• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Tinggi Tanaman

Data pengamatan tinggi tanaman 2 s/d 7 MST (cm) selang waktu 2 minggu sekali dan hasi sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 5 s/d 13. Dari hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa hasil mutasi M2 untuk karakter tinggi tanaman 4 s/d 7 MST tidak berbeda nyata pada 5 varietas yang diamati. Rataan tinggi tanaman dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rataan tinggi tanaman 2 MST, 4 MST, 6 MST dan 7 MST (cm)

Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa varietas tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Pada 2 MST rataan tinggi tanaman tertinggi yaitu pada M2V5 (16.72 cm) dan terendah pada M2V4 (15.52 cm). Pada 4 MST rataan tinggi tanaman tertinggi yaitu pada M2V5 (43.35 cm) dan terendah pada M2V4 (37.65 cm). pada 6 MST rataan tetinggi tanaman yaitu pada M2V5 (60.95 cm) dan terendah pada M2V4 (53.10 cm). pada 7 MST rataan tinggi tanaman tertinggi yaitu pada M2V5 (69.90 cm) dan terendah pada M2V4 (61.42 cm).

Hasil analisis dengan menggunakan uji t (uji progenitas) menunjukkan bahwa karakter tinggi tanaman dari mutan M2 tidak berbeda nyata dengan tinggi

Varietas Rataan Tinggi Tanaman

2 MST 4MST 6 MST 7 MST M2V1 16.32 43.08 59.08 67.63 M2V2 16.53 42.13 57.12 68.47 M2V3 16.15 39.95 54.71 63.43 M2V4 15.52 37.65 53.10 61.42 M2V5 16.72 43.35 60.95 69.90

tanaman dari mutasi M1. Perbandingan tinggi tanaman antara M1 dengan M2 berdasarkan uji Progenitas dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Uji prognesitas tinggi tanaman M2 dengan M1

Perlakuan M1 M2 M1-M2 thit t05 Ket

M2V1 36.20 67.63 -31.43 -14.9068 2.306 tn

M2V2 36.45 67 -30.55 -14.4895 tn

M2V3 39.98 63.43 -23.45 -11.122 tn

M2V4 41.70 61.42 -19.72 -9.35294 tn

M2V5 43.47 69.9 -26.43 -12.5354 tn

Keterangan: M2 berbeda nyata pada M1 jika angka angka pada lajur t hitung tidak berada Pada daerah penerimaan t.05 berdasarkan uji t.

Jumlah Cabang

Data rata-rata jumlah cabang dan hasil analisis sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 14 s/d 16. Dari hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa perlakuan bebeberapa varietas hasil mutasi M2 untuk jumlah cabang tidak berbeda nyata pada 5 varietas yang diamati. Rataan tinggi tanaman dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Rataan jumlah cabang (cabang)

Tabel diatas menunjukkan bahwa rataan jumlah cabang tidak berbeda nyata pada 5 varietas yang diamati. Nilai tertinggi terdapat pada M2V1 yaitu 4.50 dan yang terendah pada M2V4 yaitu 3.33

Varietas Rataan M2V1 4.50 M2V2 4.33 M2V3 4.16 M2V4 3.33 M2V5 4.33

Hasil analisis dengan menggunakan uji t (uji Progenitas) menunjukkan bahwa karakter jumlah cabang dari M2 berbeda nyata dengan jumlah cabang dari M1. Perbandingan jumlah cabang antara M2 dengan M1 berdasarkan uji Progenitas dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Uji prognesitas jumlah cabang M2 dengan M1

Perlakuan M1 M2 M1-M2 thit t05 Ket

M2V1 4.50 4.5 0.00 0 2.306 tn

M2V2 5.83 4.33 1.50 5.111657 2.306 *

M2V3 5.67 4.16 1.51 5.145734 2.306 *

M2V4 4.50 3.33 1.17 3.987092 2.306 *

M2V5 3.33 4.33 -1.00 -3.40777 2.306 tn

Keterangan: M2 berbeda nyata pada M1 jika angka angka pada lajur t hitung tidak berada pada daerah penerimaan t.05 berdasarkan uji t.

Umur Berbunga

Data rata-rata umur berbunga (HST) dan hasil analisis sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 17 s/d 19. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan varietas berbeda nyata untuk pengamatan umur berbunga hasil mutasi M2. Rataan tinggi tanaman dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Rataan umur berbunga (HST)

Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) dengan taraf 0.05.

Tabel diatas menunjukkan bahwa rataan umur berbunga yang tertinggi terdapat pada M2V4 yaitu 43.83 dan yang terendah pada M2V1 yaitu 38.33.

Varietas Rataan M2V1 38.33 c M2V2 39.17 b M2V3 39.5 b M2V4 43.83 a M2V5 39.33 b

Hasil analisis dengan menggunakan uji t (uji progenitas) menunjukkan bahwa karakter umur berbunga M2 tidak berbeda nyata dengan umur berbunga M1. Perbandingan jumlah cabang antara M2 dan M1 berdasarkan uji Progenitas dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Uji prognesitas umur berbunga M2 dengan M1

Perlakuan M1 M2 M1-M2 thit t05 Ket

M2V1 35.33 38.33 -3.00 -7.11512 2.306 tn

M2V2 38.00 39.17 -1.17 -2.7749 2.306 tn

M2V3 38.00 39.5 -1.50 -3.55756 2.306 tn

M2V4 45.67 43.83 1.84 4.363943 2.306 *

M2V5 37.67 39.33 -1.66 -3.93704 2.306 tn Keterangan: M2 berbeda nyata pada M1 jika angka angka pada lajur t hitung tidak berada pada daerah penerimaan t.05 berdasarkan uji t.

Warna Daun

Pengamatan visual dengan menggunakan leaf chart colour yaitu warna daun antara Mutan (M2) dan Mutasi (M1) dapat dilihat pada Lampiran 20. Warna daun dapat dilihat pada Tabel 7.

Hasil analisis pengamatan warna daun secara visual pada gambar diatas menunjukkan warna daun varietas (V1) pada M1 dan M2 memiliki warna daun yang sama,varietas (V2) pada M1 memiliki warna daun hijau muda kuningan dan M2 memiliki warna hijau tua kekuning-kuningan,varietas (V3) pada M1 memiliki warna daun hijau muda dan M2 memiliki warna daun hijau tua kekuning-kuningan, variatas (V4) pada M1 memiliki warna daun Hijau Muda dan M2 memiliki warna daun hijau kekuning-kuningan.

Tabel 7. Warna daun

Varietas M1 M2 Keterangan Warna

V1

M1V1. 3. Hijau tua kekuning-kuningan M2V1. 3. Hijau tua kekuning-kuningan

V2

M1V1.1.Hijau muda kekuning-kuningan M2V1. 3. Hijau tua kekuning-kuningan

V3 V4 V5 M1. 2. Hijau Muda

M2.3.Hijau tua kekuning-kuningan

M1. 2. Hijau muda

M2.1.Hijau muda kekuning-kuningan

M1. 2. Hijau muda

Jumlah Klorofil a dan b

Data rata-rata jumlah klorofil a dan b dan sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 21 s/d 24. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan bebeberapa varietas M2 untuk klorofil a dan b tidak berbeda nyata pada 5 varietas yang diamati. Rataan klorofil a dan b dapat dilihat pada tabel

Tabel 8. Rataan klorofil a dan b (g/ml)

Varietas Rataan Klorofil a Klorofil b M2V1 9.55 9.55 M2V2 9.23 8.89 M2V3 10.80 9.02 M2V4 11.92 11.73 M2V5 11.80 13.39

Tabel diatas menunjukkan bahwa rataan jumlah klorofil a yang tertinggi terdapat pada M2V4 yaitu 11.92 dan yang terendah pada M2V2 yaitu 9.23,dan pada rataan klorofil b yang tertinggi terdapat pada M2V5 yaitu 13.39 dan yang terendah pada M2V2 yaitu 8.89.

Luas Daun Spesifik

Data rata-rata luas daun spesifik dan hasil sidik ragam dapat dilihat pada Tabel Lampiran 25 s/d 27. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan bebeberapa varietas M2 untuk luas daun spesifik tidak berbeda nyata. Rataan luas daun spesifik dapat dilihat pada Tabel 9.

Pada tabel menunjukkan luas daun spesifik yang tertinggi terdapat pada M2V1 yaitu 329.29 dan yang terendah pada M2V2 yaitu 272.99.

Tabel 9. Luas daun spesifik (cm2/g)

Varietas Luas Daun

M2V1 329.29

M2V2 272.99

M2V3 328.54

M2V4 298.10

M2V5 322.98

Hasil analisis dengan menggunakan uji t menunjukkan bahwa karakter luas daun spesifik dari M2 tidak berbeda nyata dengan luas daun spesifik dari M1. Pada M2 varietas M2V2 dan M2V4 lebih rendah dibandingkan dengan M1 dan varietas M2V1,M2V3,dan M2V5 lebih tinggi dari M1. Perbandingan luas daun spesifik antara M2 dengan M1 berdasarkan uji Progenitas dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Uji prognesitas luas daun spesifik M2 dengan M1

Perlakuan F1 P F1-P thit t05 Ket

M2V1 222.31 329.29 -106.98 -2.52257 2.306 tn M2V2 298.51 272.99 25.52 0.601757 2.306 * M2V3 307.05 328.54 -21.49 -0.50673 2.306 tn

M2V4 309.31 298.10 11.21 0.26433 2.306 *

M2V5 316.09 322.98 -6.89 -0.16246 2.306 tn Keterangan: M2 berbeda nyata pada M1 jika angka angka pada lajur t hitung tidak berada pada daerah penerimaan t.05 berdasarkan uji t.

Umur Panen

Data rata-rata umur panen dan hasil sidik ragam dapat dilihat pada Tabel Lampiran 28 s/d 30. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa varietas M2 untuk karakter Umur panen berbeda nyata. Rataan umur panen dapat dilihat pada Tabel 11

Tabel 11. Rataan umur panen (HST) Varietas Rataan M2V1 100.33 c M2V2 101.50 c M2V3 107.33 b M2V4 116.67 a M2V5 103.83 bc

Keterangan: angka - angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) dengan taraf 0.05.

Tabel diatas menunjukkan bahwa umur panen yang tertinggi terdapat pada M2V4 yaitu 116.67 dan yang terendah pada M2V1 yaitu 100.33.

Data rata-rata menggunakan uji t menunjukkan bahwa karakter umur panen dari M2 tidak berbeda nyata dengan umur panen dari M1. Perbandingan umur panen antara M2 dengan M1 berdasarkan uji Progenitas dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Uji prognesitas umur panen M2 dengan M1

Perlakuan M1 M2 M1-M2 thit t05 Ket

M2V1 98.00 100.33 -2.33 -0.71055 2.306 tn

M2V2 98.00 101.5 -3.50 -1.06735 2.306 tn

M2V3 93.33 107.33 -14.00 -4.26941 2.306 tn M2V4 107.33 116.67 -9.34 -2.84831 2.306 tn M2V5 100.33 103.83 -3.50 -1.06735 2.306 tn Keterangan: M2 berbeda nyata pada M1 jika angka angka pada lajur t hitung tidak berada pada daerah penerimaan t.05 berdasarkan uji t.

Jumlah Polong per Sampel dan Jumlah Polong Berisi Per Sampel

Data rata-rata jumlah polong per sampel, jumlah polong berisi per sampel dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 31 s/d 36. Data rata-rata menunjukkan bahwa perlakuan bebeberapa varietas M2 untuk jumlah polong per sampel dan jumlah polong berisi per sampel tidak berbeda nyata. Rataan Jumlah Polong dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Rataan jumlah polong dan jumlah polong berisi (polong)

Tabel diatas menunjukkan bahwa jumlah polong per sampel yang tertinggi terdapat pada M2V1 yaitu 72.67 dan yang terendah terdapat pada M2V4 yaitu 61.00. Jumlah polong berisi per sampel yang tertinggi terdapat pada M2V3 yaitu 55.66 dan yang terendah pada M2V2 yaitu 52.17. Jumlah polong hampa yang tertinggi terdapat pada M2V1 yaitu 19.34 dan yang terendah terdapat pada M2V5 yaitu 1.70.

Bobot 100 Biji (g)

Data rata-rata bobot 100 biji dan sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 37 s/d 39. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan beberapa varietas M2 pada kondisi naungan berbeda nyata pada 5 varietas yang diamati, rataan jumlah bobot 100 biji dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Rataan jumlah bobot 100 biji (g)

Keterangan: angka - angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) dengan taraf 0.05.

Tabel diatas menunjukkan bahwa bobot 100 biji yang tertinggi terdapat pada M2V5 yaitu 17.57 dan yang terendah pada M2V3 yaitu 7.08.

Varietas Jumlah Polong Jumlah Polong Berisi Polong Hampa

M2V1 72.67 53.33 19.34 M2V2 63.00 52.17 10.83 M2V3 64.33 55.66 8.67 M2V4 61.00 52.33 8.67 M2V5 71.17 54.17 1.70 Varietas Rataan M2V1 12.48 b M2V2 9.82 b M2V3 7.08 c M2V4 8.38 b M2V5 17.57 a

Hasil analisis dengan menggunakan uji t (uji progenitas) menunjukkan bahwa karakter bobot 100 biji dari M2 tidak berbeda nyata dari M1. Pada M2 semua varietas lebih rendah dibandingkan dengan M1. Berdasarkan uji progenitas dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Uji prognesitas bobot 100 biji M2 dengan M1

Perlakuan M1 M2 M1-M2 thit t05 Ket

M2V1 10.83 12.48 -1.65 -3.42317 2.306 tn

M2V2 9.36 9.82 -0.46 -0.95434 2.306 tn

M2V3 6.78 7.08 -0.30 -0.62239 2.306 tn

M2V4 9.95 8.38 1.57 3.2572 2.306 * M2V5 16.75 17.57 -0.82 -1.70121 2.306 tn Keterangan: M2 berbeda nyata pada M1 jika angka angka pada lajur t hitung tidak berada pada daerah penerimaan t.05 berdasarkan uji t.

Produksi Per Plot (g) dan Produksi Per Sampel (g)

Data rata-rata jumlah produksi per plot dan jumlah produksi per sampel beserta sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 40 s/d 45. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa produksi per plot dan produksi per sampel varietas M2 pada kondisi naungan berbeda nyata terhadap produksi per sampel (g) pada 5 varietas yang diamati,dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Rataan jumlah produksi per sampel (g)

Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) dengan taraf 0.05.

Tabel diatas menunjukkan bahwa produksi per plot tertinggi terdapat pada M2V5 yaitu (56.29 g) dan yang terendah pada M2V3 yaitu (34.94 g).

Varietas Produksi Per Plot Produksi Per Sampel Rataan

M2V1 34.54 c 14.33 ab 23.44 M2V2 43.39 b 12.73 ab 30.66 M2V3 34.94 c 8.93 b 26.01 M2V4 40.26 bc 9.25 b 29.94 M2V5 56.29 a 19.72 a 36.57

Produksi per sampel tertinggi terdapat pada M2V5 yaitu (19.72 g) dan yang terendah terdapat pada M2V3 yaitu (8.93 g).

Keragaman Genotip dan Fenotip

Hasil perhitungan variabilitas genetik (2g), variabilitas fenotip (2p), koefisian variabilitas genotip (KVG) dan koefisian variabilitas fenotip (KVP) dapat dilihat pada Tabel 15 . Nilai KVG berkisar antara 4.78 – 33.99 dan nilai KVP berkisar antara 5.78 – 34.94.

Tabel 15. Variabilitas Genotip (2g), Variabilitas Fenotip (2p), Koefisien Variabilitas Genotip (KVG) dan Koefisien Variabilitas Fenotip (KVP).

Parameter σ2g σ2p KVG KVP

Tinggi Tanaman (cm) 9.38 36.36 4.64 r 9.15 r

Jumlah Cabang (cabang) 0.17 2.16 8.64 r 30.8st

Umur Berbunga (hst) 4.62 15.7 5.36 r 9.89 r

Jumlah Klorofil a (butir/mm3) 0.44 3.77 6.22 r 18.21s

Jumlah Klorofil b 2.79 6.08 15.87 s 23.43t

Luas Daun Spesifik (cm/g) 300.32 2397.48 5.58 r 15.77s

Umur Panen (mst) 37.77 53.90 5.80 r 6.93 r

Jumlah Polong per Sampel(Polong) 16.98 46.28 6.20 r 10.23s

Jumlah Polong Berisi per Sampel

(Polong) 3.80 13.83 3,64 r 6.94 r

Bobot 100 Biji (g) 17.11 17.45 38.5 st 38.89st

Produksi per Sampel (g) 19.19 19.79 33.72 st 34.24st

Produksi per Plot (g) 68.50 98.93 19.76 s 23.74 t

Keterangan : r = rendah t = tinggi s = sedang st = sangat tinggi

Heritabilitas

Nilai duga heritabilitas (h2) untuk masing-masing parameter dapat dievaluasi dan dapat dilihat pada Tabel 14 . Nilai duga heritabilitas berkisar antara 0.22 – 1. Berdasarkan kriteria heritabilitas diperoleh empat parameter yang mempunyai nilai heritabilitas sedang dan delapan parameter yang lain mempunyai nilai heritabilitasnya tinggi.

Tabel 14. Nilai duga heritabilitas (h2) masing-masing parameter.

Parameter Tanaman Heritabilitas

(h2) I II III

Tinggi Tanaman (cm) 0.58 s 0.98 t 0.99 t 0.99 t

Jumlah Cabang (cabang) 0.57 s 0.99 t 0.99 t 0.99 t

Umur Berbunga (hari) 0.95 t 0.99 t 0.99 t 0.99 t

Jumlah Klorofil a (g/ml) 0.12 s 0.97 t 0.98 t 0.98 t Jumlah Klorofil b (g/ml) 0.46 s 0.98 t 0.98 t 0.98 t Luas Daun Spesifik (cm/g) 0.13 r 0.98 t 0.98 t 0.98 t

Umur Panen (hari) 0.70 t 0.99 t 0.99 t 0.99 t

Jumlah Polong Per Sampel(Polong) 0.37 t 0.99 t 0.99 t 0.99 t Jumlah Polong Berisi Per Sampel (Polong) 0.28 r 0.99 t 0.99 t 0.99 t

Berat 100 Biji (g) 0.98 t 0.99 t 0.99 t 0.99 t

Produksi Per Sampel (g) 0.97 t 0.99 t 0.99 t 0.99 t Produksi Per Plot (g) 0.72 t 0.98 t 0.99 t 0.99 t

Keterangan : r = rendah s = sedang t = tinggi

Tabel 13 menunjukkan nilai heritabilitas tertinggi terdapat pada parameter bobot 100 biji yaitu 0.98 sedangkan nilai heritabilitas terendah terdapat pada parameter jumlah klorofil a yaitu 0.12.

Korelasi

Hasil perhitungan korelasi pada setiap parameter dapat dilihat pada Lampiran 38. Koefisien korelasi antara parameter umur berbunga dengan umur panen, jumlah klorofil dengan luas daun spesifik, jumlah polong berisi dengan produksi per sampel, dan jumlah cabang dengan jumlah polong berisi dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 16. Nilai koefisien korelasi pada beberapa parameter

Pembahasan

Dari hasil sidik ragam (Lampiran 5 s/d 16 dan lampiran 18 s/d 20) dapat dilihat bahwa varietas berbeda nyata terhadap parameter tinggi tanaman dan jumlah cabang, dimana tinggi tanaman lebih tinggi dibandingkan tanaman pada lingkungan tanpa naungan,dan jumlah cabang juga lebih sedikit dibandingkan tanpa naungan. Diduga perbedaan jumlah tinggi tanaman dan jumlah cabang ini dikarenakan dari faktor kurangnya penyerapan sinar matahari yang menyebabkan tanaman mengalami pemanjanagan sel. Hal ini sesuai dengan Gatut (2011) yang menyatakan bahwa Tanaman yang mendapat cekaman naungan cenderung mempunyai jumlah cabang sedikit dan batang yang lebih tinggi dibanding tanaman yang ditanam dalam kondisi tanpa naungan. Perubahan tinggi batang tanaman pada beberapa tanaman akibat naungan sudah tampak mengalami etiolasi pada naungan lebih dari 25%. Etiolasi yang terjadi pada sebagian besar tanaman akibat naungan disebabkan karena adanya produksi

TT UB JC Jka JKb LDS UP JP/S JPB/S B100 P/S P/P TT - -0.758 -0.437 -0.291 0.233 0.156 -0.558 0.591 0.591 0.865 0.927 0.925 UB _ 0.820 0.652 0.376 -0.305 0.820 -0.678 -0.472 -0.387 -0.487 -0.487 JC _ -0.606 -0.905 -0.433 -0.352 0.596 -0.658 -0.823 -0.729 -0.737 Jka _ 0.815 -0.905 0.947 -0.145 0.331 0.178 0.057 0.053 JKb _ 0.190 0.635 0.238 0.484 0.673 0.577 0.576 LDS _ 0.088 0.660 0.818 0.285 0.217 0.229 UP _ -0.440 0.044 -0.123 -0.238 -0.246 JP/S _ 0.793 0.778 0.774 0.786 JPB/S _ 0.713 0.678 0.680 B100 _ 0.988 0.990 P/S _ 0.999 P/P -

dan distribusi auksin yang tinggi,sehingga merangsang pemanjangan sel yang mendorong meningkatnya tinggi tanaman.

Berdasarkan pengamatan fisual (Lampiran 15) dapat dilihat bahwa warna daun dari setiap varietas berbeda,terdapat tiga varietas yang memiliki warna daun tua yaitu M2V1,M2V2 dan M2V3 dan dua varietas memiliki warna daun muda yaitu M2V4 dan M2V5. Perbedaan warna daun ini terjadi karena varietas tanaman yang peka terhadap intensitas cahaya rendah sehingga memiliki warna daun hijau muda dengan jumlah daun sedikit sedangkan varietas tanaman yang toleran terhadap intensitas cahaya rendah sehingga memiliki warna daun hijau tua dengan jumlah klorofil yang banyak. Hal ini sesuai dengan Wirnas (2005) yang menyatakan bahwa hasil penelitia pada kedelai menunjukkan bahwa tanaman yang toleran terhadap intensitas cahaya rendah memiliki jumlah klorofil lebih banyak dibandingkan dengan tanaman yang peka.

Berdasarkan analisis sidik ragam (Lampiran 41 s/d 43) menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan pada tiap varietas berpengaruh nyata terhadap parameter 100 biji,dimana bobot 100 biji tertinggi terdapat pada M2V5 yaitu 17.57 yang berbeda nyata terhadap seluruh perlakuan dan terendah pada M2V3 yaitu 7.08. Bobot 100 biji pada kelima varietas ini berbeda dengan deskropsi dari masing-masing varietas,dimana pada M2V1,M2V2 dan M2V3 tidak mengalami perubahan tetapi pada M2V4 mengalami penurunan dan pada M2V5 mengalami peningkatan bobot 100 biji, sedangkan perbandingan bobot 100 biji dengan penelitian sebelumnya Yuliana (2011) pada M2V1,M2V3 dan M2V5 mengalami Peningkatan,pada M2V2 memiliki nilai yang sama dan pada M2V4 mengalami penurunan. Diduga penyebab perbedaan ini yaitu karena

respon dari setiap varietas berbeda terhadap lingkungannya,dan dipenelitian ini lingkungan berada dibawah paranet 50% selama 7 hari dan hasil Mutasi. Sesuai dengan literatur Adisarwanto (2005) yang menyatakan hasil potensi biji dilapangan masih dipengaruhi oleh interaksi antara faktor genetik varietas dengan pengelolaan kondisi lingkungan tumbuh dan didukung penelitian sihar (1997) bahwa penguranagan tingkat intensitas cahaya matahari dibawah 60% dapat mendukung pertumbuhan vegetatif kedelai,tetapi penguranagan intensitas cahaya tersebut akan menyebabkan berkurangnya serapan unsur hara N,P dan K. Berkurangnya unsur hara tersebut akan mengurangi tingkat alikasi bahan kering, dimana tingkat alokasi baha kering selama pertimbuhan sangat menentukan besarnya tingkat produksi yang dihasilkan dan didukung juga penelitian Soverda dkk (2009) bahwa cekaman naungan sebesar 50% terhadap tanaman kedelai yang berkriteria sangat toleran tidak mengakibatkan penurunan signifikan pada jumlah polong, ukuran biji, maupun hasil biji tanaman.

Dari hasil analisis uji t atau uji progenitas antara generasi mutasi M1 dengan M2 berbeda nyata pada karakter tinggi tanaman, umur berbunga, luas daun spesifik, umur panen, jumlah polong, jumlah polong berisi, produksi per sampel,produksi per plot, dan produksi per hektar. Perbedaan ini dapat dilihat pada tabel uji t yang mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa populasi M2 hasil Mutasi dapat mempengaruhi proses pertumbuhan pada setiap fasenya. Hal ini juga dinyatakan oleh oeliem,dkk (2008) yang menyatakan bahwa mutasi dapat terjadi pada setiap bagian tanaman dan fase pertumbuhan tanaman.

Dari hasil analisis uji t progenitas antara turunan M1 dan M2 berbeda nyata pada karakter tinggi tanaman, jumlah cabang, umur berbunga, luas daun spesifik, umur panen dan bobot 100 biji. Perbedaan ini ditunjukkan tanda negatif (-) pada uji t yang berarti terjadi penurunan hasil. Diduga penyebab terjadi hal ini yaitu akibat kondisi lingkungan, dimana penelitian ini berada dibawah naungan paranet 50% dan lokasi penelitian ini tidak sama dengan lokasi penelitian sebelumnya dan benih yang dipakai merupakan mutasi turunan kedua (M2) yang kemungkinan besar mengalami peningkatan dan penurunan hasil dari turunannya. Sesuai dengan Liu dkk (2010) dimana intensitas dan kualitas radiasi matahari yang diterima oleh kanopi kedelai selama masa reproduksi merupakan faktor lingkungan dan menentukan hasil produksi kedelai.peningkatan hasil biji kedelai melalui jarak tanam, dapat dikaitkan dengan peningkatan intersepsi cahaya selama periode reproduktif. Penguranagan cahaya dimulai pada tahap awal reproduktif berbunga, jumlah polong menghasilkan peningkatan pada produksi biji. Sebaliknya,mengurangi sumber cahaya melalui naungan selama benih mengisi dapat mengurangi produksi biji dan Oelem juga mengatakan bahwa mutasi dapat terjadi pada setiap bagian tanaman dan fase pertumbuhan tanaman, namun lebih banyak terjadi pada bagian yang sedang aktif mengadakan pembelahan sel seperti tunas, biji dan sebagainya.

Berdasarkan hasil yang diperoleh, pada karakter umur berbunga dan umur panen (M2) berbeda dengan penelitian sebeumnya (M1) yaitu mengalami penurunan, dimana pada (M2) lebih lama Munculnya bunga dan Lebih lama umur panennya yaitu pada (M1) umur berbunga memiliki rataan (38.93) dan umur panen (99.40) sedangkan pada (M2) umur berbunga memiliki rataan

(40.03) dan umur panen (105.93). Perbedaan ini diduga karena benih hasil mutasi yang digunakan,yang menyebabkan perbedaan gen yang dimilikinya sesuai dengan pernyataan Mugiono (2001) perlakuan dengan mutagen dapat menyebabkan sterilitas, yaitu hambatan pertumbuhan sehingga mengalami pembungaan, terbentuknya bunga yang tak sempurna, terbentuknya bunga dengan tepung sari mandul, biji terbentuk tetapi tidak mampu berkecambah, memiliki masa panen yang lambat.

Nilai variabilitas genetik untuk masing-masing parameter dapat dilihat pada tabel 15. Nilai variabilitas yang diperoleh berkisar antara 3.64 – 37.36. criteria variabilitas genetic menurut Murdaningsih dkk(1990) adalah rendah jika nilainya berkisar antara 0 – 25% dari KVG tertinggi, sedang jika nilainya berkisar antara 25 – 50% dari KVG tertinggi, tinggi jika nilainya berkisar antara 50 – 75% dari KVG tertinggi dan sangat tinggi jika nilainya 75 – 100% dari KVG tertinggi.

Nilai duga heritabilitas (h2) pada Tabel 14 berkisar antara 0.12 – 0.98. Dari data diperoleh satu komponen hasil mempunyai nilai heritabilitas sedang yaitu bobot 100 biji (0.98), sedangkan sembilan komponen hasil mempunyai nilai heritabilitas rendah yaitu tinggi tanaman (0.58), umur berbunga (0.95), jumlah cabang (0.57), umur panen (0.70), jumlah polong per sampel (0.37), produksi per sampel (0.97), produksi per plot (0.69), jumlah klorofil b (0.46) dan jumlah klorofil a (0.12). Berdasarkan pernyataan Stansfield (1991) merumuskan kriteria heritabilitas adalah sebagai berikut yaitu heritabilitas tinggi > 0.5, heritabilitas sedang = 0.2 – 0.5, dan heritabilitas rendah < 0.2. Kemudian dari nilai heritabilitas ini kita dapat melihat sejauh mana sifat tanaman dapat

diturunkan ke generasi berikutnya. Hal ini didukung oleh pernyataan dari Welsh (2005) bahwa nilai heritabilitas secara teoritis berkisar dari 0 sampai 1. Nilai 0 ialah bila seluruh variasi yang terjadi disebabkan oleh faktor lingkungan, sedangkan nilai 1 bila seluruh variasi disebabkan oleh faktor genetik. Dengan demikian nilai heritabilitas akan terletak antara kedua nilai ekstrim tersebut.

Dari hasil data yang dilakukan diperoleh hasil bahwa heritabilitas klorofil b lebih tinggi dibandingkan dengan klorofil a (tabel 15). Hal ini diduga karena faktor mekanisme adaptasi tanaman terhadap cekaman naungan. Hal ini sesuai dengan Pernyataan Kisman (2008) yang menyatakan bahwa genotip yang toleran naungan mempunyai daun yang lebih lebar dan tipis,kandungan klorofil b yang lebih tinggi dan rasio klorofil a/b yang lebih rendah dari pada genotip peka. Perubahan karakter morfologi dan fisiologi daun tersebut merupakan bentuk mekanisme adaptasi tanaman terhadap cekaman naungan. Dengan demikian, karakter morfologi daun dapat memberikan faktor besar dalam perbaikan adaptasi kedelai terhadap cekaman naungan.Dari hasil yang diperoleh dapat dilihat perbandingan karakter vegetatif dan generatif antara tanaman yang ternaungi dengan tanaman yang tidak ternaungi.

Pengaruh Naungan Tidak Ternaungi

Vegetative

- Tinggi Tanaman (cm) 66.17 41.23

- Jumlah Cabang (Cabang) 4.13 4.83

- Luas Daun Spesifik (mm2/g) 310.38 272.42

Genertif

- Umur Berbunga (hst) 40.03 38.53

- umur panen (hst) 105.93 100.35

- Jumlah Polong Per Sampel (g) 66.43 98.09

- Jumlah Polong Berisi per Sampel (g) 53.53 82.38

- bobot 100 Biji (g) 11.07 11.58

-Produksi per Sampel (g) 12.99 16.44

Dokumen terkait