BAHAN DAN METODE PENELITIAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
Letak dan Geografi Kabupaten Langkat
Secara geografis letak Kabupaten Langkat berada diantara 03014’00’’ dan 04013’00’’ lintang utara, serta 93051’00’’ Bujur Timur dengan luas 6.272 km2. Stabat adalah ibukota Kabupaten Langkat. Kabupaten Langkat terketak di sebelah Utara berbatas dengan Selat Malaka dan Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, sebelah Timur berbatas dengan Dati II Deli Serdang, sebelah Selatan berbatas dengan Dati II Karo dan sebelah Barat berbatas dengan provinsi Nangroe Aceh Darussalam.
Tata Laksana Pemeliharaan Sapi Potong
Pemeliharaan sapi potong di Kabupaten Langkat terutama di Kecamatan Batang Serangan, Besitang dan Sirapit dilakukan dengan cara digembalakan pada pagi hari sampai sore hari.
Lokasi kandang pada umunya berada dibelakang rumah peternak itu sendiri, biasanya ternak diikat di bawah pohon sehingga jika hujan ataupun panas ternaknya dapat berlindung dibawah pohon tersebut. Ketersediaan air minum dikandang dilakukan setiap hari secaraad libutum. Pembersihan kotoran sapi di kandang dilakukan setiap hari dengan cangkul, sekop, sapu dan kereta sorong, kemudian kotoran dikumpulkan dibelakang kandang sampai menjadi kompos sehingga bisa dimanfaatkan peternak untuk tanaman.
Pemberian obat cacing diberikan 6 bulan sekali, dengan dosis 1 tablet dalam sekali pemberian, harga 1 tablet obat cacing adalah Rp. 10.000 sampai
dengan Rp. 20.000. Obat cacing yang digunakan adalah Brenkazol, obat cacing dapat diperoleh dari toko poultry shop.
Karakteristik Responden
Karakteristik responden dalam penelitian ini di Kecamatan Batang Serangan, Besitang dan Sirapit Kabupaten Langkat meliputi karakteristik sosial dan ekonomi. Karakteristik sosial peternak yang dianalisis meliputi, umur peternak, tingkat pendidikan, pengalaman berternak dan jumlah tangungan keluarga. Sedangkan karakteristik ekonomi responden yang dianalisis meliputi: skala usaha, total penerimaan dari usaha ternak, total biaya produksi dan pendapatan bersih usaha. Karakteristik responden di daerah penelian dapat dilihat Tabel 2 berikut :
Tabel 2. Karakteristik responden di daaerah penelitian 2014
Karakteristik peternak sampel
Satuan Rentang Rataan
Skala usaha Ekor 2-23 5
Umur peternak Tahun 27-63 42
Tingkat pendidikan Tahun 6-12 11
Pengalaman beternak Tahun 3-22 10
Jumlah tanggungan keluarga Orang 1-7 3
Total penerimaan dari usaha Rp./tahun 8.000.000-108.500.000 21.679.223 Total pengeluaran dari usaha Rp./tahun 5.460.000-66.300.000 11.787.740 Pendapatan bersih usaha Rp.tahun 925.000-49.275.000 9.891.484
Dari tabel 2 diatas ada beberapa pembahasan antara lain: 1. Skala Usaha
Berdasarkan hasil penelitian Di kecamatan Batang Serangan, Kecamatan Besitang dan Kecamatan Sirapit Kabupaten Langkat dapat diperoleh jumlah skala usaha ternak sapi potong pada Tabel 3.
Tabel 3. Skala Usaha
No. Satuan (orang) Skala Usaha (Jumlah Ternak)
1. 6 2 2. 38 3 3. 64 4 4. 48 5 5. 21 6 6. 11 7 7. 20 8 8. 8 9 9. 2 12 10. 1 23 Total 1105 Rataan 5
Total skala usaha ternak sapi potong responden sebanyak 1105 ekor sapi. Skala usaha yang dikelola peternak responden menyebar antara 2-23 ekor dengan rataan 5 ekor. Hal ini diketahui bahwa jumlah ternak yang dikelola oleh peternak responden relatif banyak.
2. Tingkat Pendidikan
Berdasarkan hasil penelitian terdapat tingkat pendidikan peternak yang berbeda dari peternak lainnya. Berikut dapat dilihat Tabel 4 berikut ini.
Tabel 4. Tingkat Pendidikan Peternak
No. Satuan (orang) Tingkat Pendidikan (tahun)
1 30 SD (6 tahun)
2 41 SMP (9 tahun)
3 148 SMA (12 tahun)
Tingkat pendidikan peternak sapi potong menyebar antara 6 sampai 12 tahun dengan dominan pendidikan SMA. Hal ini menunjukkan bahwa lamanya pendidikan responden umumnya Sekolah Menengah Atas (SMA) atau pendidikan responden umumnya masih sekolah formal.
2. Umur Peternak
Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan umur setiap peternak. Dimana umur peternak mempengaruhi dalam tatalaksana dalam beternak. Karakteristik umur peternak dapat dilihat Tabel 5.
Tabel 5. Umur Peternak
No. Satuan (orang) Umur Peternak (tahun)
1. 1 27 2. 2 28 3. 4 29 4. 4 30 5. 5 31 6. 7 32 7. 6 33 8. 5 34 9. 5 35 10. 11 36 11. 5 37 12. 14 38 13. 14 39 14. 11 40 15. 8 41 16. 14 42 17. 8 43 18. 11 44 19. 11 45 20. 3 46 21. 13 47 22. 6 48 23. 6 49 24. 13 50 25. 2 51 26. 10 52 27 4 53 28. 2 54 29. 1 55 30. 3 56 31. 3 57 32. 4 58 33. 1 60 34. 1 63 Rataan 42
Umur peternak dapat didominasikan pada umur 27 tahun sampai dengan 63 tahun dengan jumlah rataan sebesar 42 tahun. Bila dikaji dari karaketeristik umur diatas, sebagian besar peternak dalam kategori usia yang produktif. Hal ini sesuai dengan pernyataan Chamdi (2003), bahwa semakin muda usia peternak produktif 20-45 tahun. Sehingga kemampuan untuk bekerja dan mengelola usaha ternak sapi masih besar.
4. Pengalaman Beternak
Dari hasil penelitian diketahui bahwa lama pengalaman berternak dapat dilihat Tabel 6.
Tabel 6. Pengalaman Beternak
No. Satuan (orang) Pengalaman Beternak (tahun)
1. 11 3 2. 13 4 3. 20 5 4. 15 6 5. 23 7 6. 25 8 7. 21 9 8. 12 10 9. 14 11 10. 15 12 11. 7 13 12. 7 14 13. 5 15 14. 4 16 15. 7 17 16. 5 18 17. 4 19 18. 3 20 19. 2 21 20. 7 22 Rataan 10
Pengalaman beternak sapi potong didominasikan pada antara 3 tahun sampai 22 tahun dengan rataan 10 tahun. Berdasarkan data tersebut dapat dikatakan bahwa tingkat pengalaman beternak responden sudah relatif lama.
5. Jumlah Tanggungan Keluarga
Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa setiap keluarga mempunyai tanggungan keluarga yang berbeda-beda. Jumlah tanggungan keluarga setiap keluarga dapat dilihat Tabel 7.
Tabel 7. Jumlah Tanggungan Keluarga
No. Satuan (orang) Jumlah Tanggungan Keluarga
1. 13 1 2. 35 2 3. 68 3 4. 70 4 5. 25 5 6. 7 6 7. 1 7 Rataan 3
Jumlah tanggungan keluarga dapat didominasikan dari 1 sampai 7 orang dengan rataan 3 orang. Jumlah tanggungan keluarga akan mempengaruhi keputusan petani dalam berternak.
Pada usaha ternak sapi potong di daerah penelitian diperoleh total penerimaan dari usaha ternak sapi selama 1 (satu) tahun adalah berkisar antara Rp. 8.000.000 sampai dengan Rp. 108.500.000/tahun/peternak dengan rataan sebesar Rp. 21.679.223/tahun/peternak.
Pada usaha ternak sapi potong di daerah penelitian diperoleh total pengeluaran (bibit, obat-obatan dan pakan) dari usaha ternak sapi potong selama 1 tahun adalah berkisar antara Rp. 5.460.000 sampai Rp. 66.00.000/tahun/peternak dengan rataan sebesar Rp. 11.787.740/tahun/peternak.
Pendapatan bersih setiap responden dari usaha ternak sapi potong selama 1 (satu) tahun berkisar Rp. 925.000 sampai Rp. 49.275.000/tahun/peternak dengan rataan bekisar Rp. 9.891.484/tahun/peternak. Dari nilai rata-rata pendapatan
peternak dari usaha ternak sapi potong ini dapat digambarkan bahwa responden sudah termotivasi untuk mengembangkan usaha ternak sapinya, tetapi mereka belum mampu menganalisis dengan baik bahwasannya usaha ternak sapi potong dapat menghasilkan pendapatan yang lebih besar jika dilakukan dengan serius.
Pengaruh Variabel Terhadap Pendapatan Peternak
Untuk dapat menguji faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan peternak sapi potong di Kecamatan Batang Serangan, Kecamatan Besitang dan Kecamatan Sirapit di Kabupaten Langkat dapat digunakan analisis regresi linear berganda, dimana yang menjadi variabel bebas (independent) adalah umur peternak (X1), tingkat pendidikan (X2), pengalaman beternak (X3), jumlah
tanggungan keluarga (X4), skala usaha (X5), dan biaya produksi (X6). Sedangkan menjadi variable terikat/tidak bebas (dependent) adalah pendapatan (Y).
Hasil pengujian dari faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan peternak sapi potong di Kecamatan Batang serangan, Kecamatan Besitang dan Kecamatan Sirapit Kabupaten Langkat dapat dilhat dari tabel 8 berikut.
Tabel 8. Analisis varian pendapatan dan hasil penduga variabel
Sumber Derejat Bebas F Tabel F Hitung Tingkat Signifikansi Regresi Residual 6 212 2,14 42.952 0.000a Total 218
Keterangan : a. Predicators : (constant), skala usaha, umur peternak, tingkat pendidikan, pengalaman beternak, jumlah tanggungan keluarga. b. Dependent Variabel : Pendapatan Peternak
Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, maka untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan dengan meggunakan Model Pendekatan Ekonometri dengan menggunakan analisis regresi linear berganda alat bantu
Sofware Statistical Package for Social Sciences (SPSS 18) dapat dilihat tabel 9 berikut :
Tabel 9. Analisis regresi linear berganda pengaruh skala usaha, biaya produksi, umur peternak tingkat pendidikan, pengalaman beternak dan jumlah tanggungan keluarga terhadap pendapatan peternak sapi potong di Kecamatan Batang Serangan, Kecamatan Besitang dan Kecamatan Sirapit Kabupaten Langkat
Variabel Koefesien regresi Std. Error t-hitung Signifikan Konstanta 9193423.539 4877597.688 1.885 .061 X1 (umur peternak) -151049.705 87386.839 -1.729 .085 X2 (tingkat pendidikan) -692791.632 220184.747 -3.146 .002 X3 (pengalaman beternak) 240529.820 127403.492 1.888 .060 X4 (jumlah tanggungan keluarga)
-234379.802 302996.955 .-774 .440 X5 (skala usaha 1987000.137 304963.160 6.516 .000 X6 (biaya Produksi) 155087,100 130526.091 1.192 .235 R square 0.546 Regresion 6.997E15 Residual 5.756E15 F-tabel (α=0.05) 2,14 t-tabel (α=0.05) 1,971
Berdasarkan Tabel 9 diperoleh persamaan sebagai berikut :
Ŷ =9.193.423,539–151.049,705X1–692.791,632X2+ 240.529,820X3 +234.379,802X4+1.987.000,137X5+155.087,100X6 + µ
Keterangan:
Ŷ : Pendapatan usaha sampingan peternak sapi potong X1 : Umur peternak (tahun)
X2 : Tingkat pendidikan (tahun) X3 : Pengalaman beternak (tahun) X4 : Jumlah tanggungan keluarga (jiwa)
X5 : Skala Usaha (ekor) X6 : Biaya Produksi (Rp.)
berdasarkan Hasil Regresi di atas diketahui :
1. Nilai Konstanta/Interespt adalah sebesar9.193.423,539. Artinya apabila variabel bebas yaitu umur peternak, tingkat pendidikan, lama berternak, jumlah tanggungan keluarga, skala usaha dan biaya produksi dilakukan maka peternak sapi potong tetap akan menerima pendapatan sebesar nilai konstanta yaitu Rp. 9.193.423,539/tahun.
2. R Square bernilai 0,546 artinya bahwa semua variabel bebas umur peternak, tingkat pendidikan, pengalaman beternak, jumlah tanggungan keluarga, skala usaha dan biaya produksi mempengaruhi variabel terikat sebesar 54,6% dan selebihnya yaitu sebesar 45,4% dijelaskan oleh variabel lain (µ) yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
3. Secara serempak nilai F-hitung (42.952) lebih besar dari F-tabel (2,14). Hal ini menunjukkan bahwa secara serempak semua variabel bebas yaitu skala usaha, umur peternak, tingkat pendidikan, pengalaman beternak dan jumlah tanggungan keluarga berpengaruh secara nyata (berpengaruh positif) terhadap pendapatan peternak sapi potong dengan taraf signifikan 0,000 dan pada taraf kepercayaan 95%.
4. Secara parsial nilai t-hitung variabel yang mempengaruhi adalahvariabel umur peternak (-1,729), variabel tingkat pendidikan (-3,146), variabel pengalaman beternak (1,888), variabel jumlah tanggungan keluarga (0,774), variabel skala usaha (6,516) dan variabel biaya produksi (1,192).
a. Variabel umur peternak tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan usaha sampingan ternak sapi potong, jika diukur pada tingkat kepercayaan 95% yang ditunjukkan oleh nilai t-hitung (X1) sebesar -1,729lebih kecil dari t-tabel
(α =0,05) yakni sebesar 1,971variabel ini bernilai negatif karena disebabkan oleh kriteria umur peternak yang tidak mendorong peternak dalam mengembangkan usaha ternak sapi potong di Kecamatan Batang Serangan, Kecamatan Besitang dan Kecamatan Sirapit Kabupaten Langkat. Di daerah penelitian peternak yang berumur produktif tidak terlalu tekun dalam mengelola usaha ternak sapipotong karena masih menerapkan sistem berternak tradisonal. Sedangkan peternak yang berumur tidak produktif sudah tidak memiliki kinerja yang penuh lagi. Suratiyah (2009) mengemukakan bahwaumur seseorang menentukan prestasi kerja atau kinerja orang tersebut. Semakin berat pekerjaan secara fisik maka semakin turun pula prestasinya. Namun, dalam hal tanggung jawab semakin tua umur tenaga kerja tidak akan berpengaruh karena justru semakin berpengalaman.
b. variabel tingkat pendidikan tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan peternak usaha sapi potong, jika diukur pada tingkat kepercayaan 95% yang ditunjukkan t-hitung (X2) sebesar-3,146 lebih kecil dari (α=0,05) yakni sebesar 1,971. Hal ini disebabkan peternak yang tingkat pendidikannya lebih tinggi seharusnya dapat meningkatkan lebih besar pendapatan peternak, namun kenyataan di daerah penelitian peternak enggan memanfaatkan inovasi dan teknologi baru dan masih menggunakan sistem beternak secara tradisional. Pendidikan peternak masih pendidikan formal bukan pendidikan yang khusus mempelajari ilmu dibidang peternakan atau non formal sehingga pendidikan peternak tidak mempengaruhi peningkatan pendapatan peternak sapi potong.
c. Variabel pengalaman berternak tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan peternak sapi potong, jika diukur pada tingkatkepercayaan 95% ditunjukkan nilai t-hitung (X3) sebesar 1,888lebih kecil dari nilai t-tabel (α=0,05) yakni sebesar 1,971.Pada umumnya pengalaman berternak diperoleh dari orang tuanya secara turun-menurun. Didaerah penelitian menunjukkan pengalaman beternak yang cukup tinggi, seharusnya dengan pengalaman berternak yang cukup tinggi mampu menguasai tatalaksana beternak dengan baik seperti pemberian pakan, perawatan dan kebersihan kandang dan ternak, perawatan kesehatan ternak dan pencegahan penyakit. Namun pada kenyataannya tidak memberi pengaruh yang nyata pada pendapatan usaha ternak sapi potong karena masyarakat di daerah penelitian lebih memilih menggunanakan tatalaksana berternak secara tradisional dari pada menerapkan inovasi terbaru. d. Variabel jumlah tanggungan keluarga tidak berpengaruh nyata terhadap
pendapatan usaha sampingan peternak sapi potong, jika diukur pada tingkat kepercayaan 95% yang ditunjukkan oleh t-hitung (X4) sebesar 0,774lebih
kecil dari t-tabel (α= 0.05) yaitu sebesar 1,971hal ini menunjukkan bahwa tanggungan keluarga peternak tidak dapat memberikan dorongan positif terhadap peningkatan pendapatan usaha ternak sapi potong dan cenderung meningkatkan kebutuhan keluarga.
e. Variabel skala usaha atau jumlah ternak sapi berpengaruh nyata terhadap pendapatan usaha ternak sapi potong, jika diukur pada tingkat kepercayaan 95% yang ditunjukkan oleh nilai t-hitung (X5) sebesar 6,516lebih besar dari
t-tabel (α = 0,05) yakni sebesar 1,97. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak ternak yang dipelihara oleh peternak maka akan semakin besar
pendapatan yang akan diperoleh peternak sapi potong karena jumlah ternak sapi potong menentukan besar kecilnya pendapatan. Menurut Soekartawi (1995), bahwa pendapatan usaha ternak sapi potong sangat dipengaruhi oleh banyaknya ternak yang dijual oleh peternak itu sendiri sehingga semakin banyak jumlah ternak sapi potong maka semakin tinggi pendapatan bersih yang diperoleh.
f. Biaya produksi tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan ternak sapi potong jika diukur pada tingkat kepercayaan 95% yang ditunjukkan oleh nilai t-hitung (X6) sebesar 1,192 lebih besar dari t-tabel (α = 0,05) yakni sebesar
1,971. Hal ini menujukkan biaya obat-obatan, vitamin, bibit dan lain-lain tidak dikhususkan untuk meningkatkan pendapatan usaha ternak melainkan untuk pencegahan penyakit dan untuk menghindarkan terjadinya perkawaninan sedarah dan meningkatkan kualitas jenis ternak.
Arti dari nilai persamaan berikut adalah :
Ŷ = 9.193.423,539–151.049,705X1 –692.791,632X2 + 240.529,820X3
+ 234.379,802X4 + 1.987.000,137X5+ 155.087,100X6 + µ
Berdasarkan model persamaan di atas dapat diinterpresikan bahwa:
a. Apabila variabel bebas umur peternak (X1) mengalami peningkatan sebesar 1
tahun, maka akan terjadi penurunan pendapatan (Y) sebesar Rp.151.049,705. b. Apabil variabel bebas tingkat pendidikan (X2) mengalami peningkatan
sebesar 1 tahun, maka akan terjadi penurunan pendapatan peternak (Y) sebesarRp. 692.791,632.
c. Apabila variabel bebas pengalaman beternak (X3) mengalami kenaikan sebesar 1 tahun, maka akan terjadi kenaikan peningkatan pendapatan peternak (Y) sebesar Rp.240.529,820.
d. Apabila variabel bebas jumlah tanggungan keluarga(X4) mengalami
peningkatan sebesar 1 orang, maka akan terjadi penurunan pendapatan peternak (Y) sebesar Rp. 234.379,802.
e. Apabila variabel skala usaha (X5) mengalami peningkatan sebesar 1 ST, maka
akan terjadi peningkatan pendapatan peternak (Y) sebesar Rp. 1.987.000,137 f. Apabila variabel biaya produksi (X6) mengalami peningkatan sebesar 1 tahun,
maka akan terjadi peningkatan pendapatan peternak (Y) sebesar Rp.155.087,100.
g. Apabila varibel X1, X2, X3, X4, X5, dan X6yang dianalisis melakukan
kegiatan, maka peternak sapi potong akan tetap menerimapendapatan sebesar Rp. 9.193.423,539/tahun atau Rp. 766.118,628/bulan.
Saluran Pemasaran
Berdasarkan hasil penelitian ini jalur pemasaran sapi potong adalah sebagai berikut :
Pengumpul akan mencari atau membeli ternak di setiap daerah, setelah ada kesepakatan antara peternak dan pengumpul selanjutnya pengumpul membawa ternak ke rumah potong hewan (RPH). Di rumah potong hewan sapi tersebut akan dipotong, selanjutnya daging sapi tersebut akan dijual ke pasar.
Margin Pemasaran
Margin pemasaaran yaitu selisih harga jual dengan harga beli dan merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi suatu sistem pemasaran. Margin pemasaran terdiri dari biaya pemasaran dan keuntungan lembaga pemasaran. Dalam pembahasan ini akan diuraikan margin pemasaran melalui dari tingkat pedagang pengumpul desa sampai ke pedagang besar pada masing-masing saluran pemasaran. Perhitungan margin pemasaran dapat dilihat dari Tabel 10.
Tabel 10. Margin pemasaran daging sapi
Pelaku Pemasaran Harga Jual/kg Harga Beli/Kg Margin Pemasaran
Peternak Rp. 37.000 - -
Pengumpul Rp. 39.500 Rp. 37.000 Rp. 2.500
RPH Rp. 41.500 Rp. 39.500 Rp. 1.500
Pasar Rp. 43.000 Rp. 41.500 Rp. 2.000
Berdasarkan tabel 10 hasil penelitian memperoleh margin pemasaran dari pengumpul sebesar Rp. 2.500/kg, Rumah Potong Hewan (RPH) sebesar Rp. 1.000/kg dan Pasar sebesar Rp. 2.500/kg, sehingga total margin pemasaran adalah Rp. 5.500. Saliem (2004) menyatakan tujuan analisis margin pemasaran bertujuan untuk melihat efisiensi pemasaran yang diindikasikan oleh besarnya keuntungan yang diterima oleh masing-masing pelaku pemasaran. Semakin tinggi proporsi harga yang diterima produsen, semakin efisien sistem pemasaran tersebut. Besarnya keuntungan yang diterima oleh masing-masing pelaku pemasaran relatif terhadap harga yang dibayar konsumen dan atau relatif terhadap biaya pemasaran terkait dengan peran yang dilakukan oleh masing-masing pelaku.
Keuntungan Lembaga Pemasaran
Keuntungan lembaga pemasaran adalah balas jasa yang diterima oleh masing-masing lembaga pemasaran yang turut serta memasarkan sapi potong mulai dari tingkat peternak sampai tingkat konsumen. Adapun keuntungan lembaga pemasaran yang memasarkan sapi potong dapat dilihat Tabel 11.
Tabel 11. Biaya pemasaran dan keuntungan yang diterima oleh lembaga pemasaran pada masing-masing saluran
Pelaku Pemasaran Biaya Pemasaran (Rp) Keuntungan (Rp)
Peternak - -
Pengumpul 300 2.200
RPH 400 1.100
Pasar 400 1.600
Dari Tabel 11. diatas diketahui bahwa keuntungan yang terkecil diterima oleh rumah potong hewan (RPH) sebesar Rp. 1.100/kg. Sedangkan keuntungan tertinggi diperoleh pengumpul sebesar Rp. 2.200/kg.
Efisiensi Pemasaran
Masalah pemasaran komoditi pertanian pada dasarnya adalah bagaimana menyalurkan produk-produk pertanian dari produsen kepada konsumen dengan harga yang wajar dan biaya pemasaran minimal. Menurut Soekartawi (1997), efisiensi pemasaran yag efisien jika biaya pemasaran lebih rendah daripada nilai produk yang yang dipasarkan, semakin rendah biaya pemasaran dari nilai produk yang dipasarkan semakin efisien melaksanakan pemasaran.
Tabel 12. Efisiensi pemasaran daging sapi di Kabupaten Langkat
Saluran Pemasaran Total Nilai Produk (Rp./kg)
Total Biaya Pemasaran (Rp./kg)
Peternak Rp. 37.000 -
Pengumpul Rp. 39.500 Rp. 2.200
RPH Rp. 41.500 Rp. 1.100
Berdasarkan Tabel 12. dapat diketahui bahwa efisiensi pemasaran sapi potong di Kabupaten Langkat dapat dihitung dengan total biaya pemasaran adalah Rp. 4.900 per kg, total nilai produk Rp. 43.000 per/kg, efisiensi pemasarannya adalah 11,39%, sehingga jalur pemasaran ternak sapi potong di Kabupaten Langkat masih dikatakan efisien. Menurut Gray et al. (1996) menyatakan bahwa suatu jalur pemasaran dapat dikatakan efisien bila selisih harga antara peternak dan konsumen lebih kecil dari 30%.