• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEFENISI OPERASIONAL

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Sekolah SMAN 109 Jakarta

SMAN 109 terletak di Jalan Gardu, Jagakarsa Jakarta Selatan. SMAN 109 Jakarta diresmikan sejak 15 Juni 1991, lahan dan gedung yang digunakan untuk SMAN 109 sebelumnya digunakan untuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG) 3 Jakarta. Cikal bakal SMAN 109 Jakarta berawal pada tahun 1989, sejak saat itu secara resmi SPG (Sekolah Pendidikan Guru) dihapuskan oleh Pemerintah, dan gedungnya beralih fungsi menjadi gedung SMA. SMAN 109 Jakarta memiliki tanah seluas kurang lebih 1.1 hektar yang terdiri atas mushola, kantin, lapangan basket ada dua buah, parkir, taman, dan tentunya halaman sekolah yang sangat luas yang dipenuhi berbagai jenis tanaman buah. SMA ini terdiri atas 21 kelas untuk kelas X, XI dan XII yang masing-masing kelas terdiri atas 40 murid. Kelas XI terdiri atas 3 kelas jurusan IPA dan 3 kelas jurusan IPS begitu juga untuk

10

kelas XII, jadi kurang lebih jumlah siswa keseluruhan dari SMA hijau ini 840 murid.

SMAN 01 Jasinga

SMA Negeri 1 Jasinga merupakan sekolah dengan akreditasi A yang terletak di Jalan Sukamanah No. 3 desa Setu Kecamatan Jasinga dan berjarak sekitar 75 km ke pusat kabupaten Bogor. Daerah ini merupakan daerah perkebunan/pegunungan dengan batas sebelah utara adalah Kabupaten Lebak Propinsi Banten. Sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan Cigudeg, sebelah timur berbatasan dengan kecamatan Tenjo dan sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Parungpanjang.

Tenaga pengajar di SMAN 1 Jasinga terdiri atas guru tetap dan guru honorer. Jumlah tenaga pengajar sebanyak 46 orang yaitu sebanyak 25 orang guru berstatus PNS, 20 orang guru honorer dan 1 orang guru bantu daerah. Selain itu ada juga terdapat 14 orang tenaga pendukung sebagai staf tata usaha dan kepegawaian lainnya. SMAN 1 Jasinga memiliki 25 ruang kelas, ruang BK, laboratorium Biologi, Lab TIK, ruang multi media, ruang kantor guru dan Tata Usaha, ruang perpustakaan. Pada tahun pelajaran 2012/2013 SMA Negeri 1 Jasinga Bogor memiliki jumlah siswa sebanyak 991 siswa yang terdiri atas 478 orang laki-laki dan 513 orang perempuan. Kegiatan pendidikan di sekolah tidak hanya terpaku pada kegiatan belajar mengajar, namun disediakan pula beberapa program ekstrakurikuler bagi para siswa sehingga mereka dapat mengembangkan diri dengan lebih baik.

Karakteristik Subyek dan Sosial Ekonomi Keluarga Karakteristik subyek meliputi jenis kelamin, usia, uang jajan, sedangkan sosial ekonomi keluarga meliputi pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua, pendapatan orangtua dan besar keluarga. Remaja yang menjadi subyek penelitian ini berjumlah 102 orang dengan masing-masing sekolah 51 orang.

Karakteristik subyek

Jenis kelamin subyek terdiri dari laki-laki dan perempuan yang ditampilkan pada Tabel 2. Subyek dari SMA kota dan SMA desa masing-masing memiliki jumlah yang sama yaitu terdiri dari 25 orang remaja laki-laki dan 26 orang remaja perempuan. Sebagian besar subyek (51%) adalah perempuan sedangkan sisanya (49%) adalah laki-laki. Usia remaja merupakan masa transisi dari usia anak-anak menjadi dewasa. Menurut WHO (2011), usia subyek remaja berkisar antara 12-18 tahun. Kisaran usia subyek pada penelitian ini adalah 15-17 tahun dengan rata-rata usia 15 tahun.

Subyek termasuk dalam kategori remaja awal yaitu usia 13-17 tahun (Hurlock 2004). Secara keseluruhan rata-rata usia subyek dalam penelitian ini adalah remaja yang berusia 15 tahun. Subyek di SMA kota sebagian besar (73%) berusia 15 tahun sedangkan subyek di SMA desa sebagian besar (55%) berusia 16 tahun. Usia subyek di perkotaan lebih muda dibandingkan dengan usia remaja di perdesaan. Hal tersebut disebabkan

11 karena adanya kecenderungan untuk menyekolahkan anak di perkotaan lebih cepat.

Uang jajan merupakan bagian dari alokasi pendapatan keluarga yang diberikan pada anak untuk keperluan makan jajanan. Pemberian uang jajan menjadi suatu kebiasaaan sehingga anak dapat belajar bertanggung jawab untuk mengelola uang jajan yang dimiliki. Kisaran uang jajan subyek di SMA kota yaitu Rp 4 000-Rp 46 000. Rata-rata uang jajan subyek di SMA kota yaitu Rp 1 4000. Kisaran uang jajan subyek di SMA desa yaitu Rp 2 000-Rp 15 000. Rata-rata uang jajan subyek di SMA desa yaitu Rp 7 000. Sebagian besar remaja putri (67%) di kota dan di desa mempunyai uang jajan berkisar antara Rp 5 000 - Rp 12 000. Sebagian besar (45%) uang jajan subyek di SMA kota kategori > Rp14 000 sedangkan uang jajan subyek di SMA desa sebagian besar (49%) kategori <Rp7 000. Hasil uji beda menggunakan mann whitney menunjukkan terdapat perbedaan nyata (p=0.00) antara uang jajan subyek di SMA kota dan SMA desa yaitu uang jajan subyek di kota lebih besar dibandingkan di desa.

Tabel 2 Sebaran subyek berdasarkan karakteristik individu

Karakteristik Subyek SMA Kota SMA Desa Total Uji beda (p)

n % n % n % Jenis Kelamin Laki-laki 25 49 25 49 50 49.0 Perempuan 26 51 26 51 52 51.0 Total 51 100 51 100 102 100 Umur 15 tahun 37 73 21 41 58 56.9 16 tahun 13 25 28 55 41 40.2 17 tahun 1 2 2 4 3 2.9 Total 51 100 51 100 102 100.0

Kategori Uang Jajan (Rp/hari)

<7 000 6 12 25 49 31 30 0.00

7 000-14 000 22 43 23 45 45 44

>14 000 23 45 3 6 26 26

Total 51 100 51 100 102 100

Karakteristik sosial ekonomi keluarga

Sosial ekonomi keluarga meliputi pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua, pendapatan orangtua dan besar keluarga ditampilkan pada Tabel 3. Tingkat pendidikan akan sangat mempengaruhi cara, pola pikir, pemahaman dan kepribadian yang nantinya merupakan bekal dalam berkomunikasi. Oleh sebab itu, tingkat pendidikan baik langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi pola konsumsi antar keluarga. Pendidikan orangtua terdiri dari pendidikan ayah dan ibu. Pendidikan orangtua dikategorikan menjadi lima yaitu tidak sekolah, SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Pendidikan ayah dari keseluruhan subyek sebagian besar (46%) adalah tingkat SMA. Sebagian besar (53%) pendidikan ayah subyek di SMA kota adalah perguruan tinggi sedangkan pendidikan ayah subyek di SMA desa adalah tingkat SMA (53%). Dari hasil uji beda yang menggunakan mann whitney menunjukkan terdapat perbedaan nyata (p=0.00) antara pendidikan ayah di SMA kota dan SMA desa yaitu pendidikan ayah subyek di kota

12

lebih baik daripada di desa. Secara keseluruhan pendidikan ibu subyek penelitian ini adalah tingkat SMA (30%). Pendidikan ibu di SMA kota sebagian besar (47%) adalah perguruan tinggi dan di SMA desa adalah tingkat SD (49%). Berdasarkan uji statistik terdapat perbedaan nyata (p=0.00) antara di SMA kota dan SMA desa yaitu pendidikan ibu subyek di kota lebih baik daripada di desa yang dapat dilihat pada Tabel 3.

Pekerjaan ayah subyek sebagian besar (29%) yaitu wiraswasta. Pekerjaan ayah subyek di SMA kota sebagian besar terdiri atas wiraswasta (37%) dan karyawan swasta (35%) sedangkan pekerjaan ayah subyek di SMA desa sebagian besar terdiri dari buruh (35%) dan wiraswasta (22%). Pekerjaan ibu subyek baik di SMA kota dan SMA desa sebagian besar tidak bekerja (63%). Persentase ibu yang tidak bekerja di desa (69%) lebih tinggi daripada di kota (57%). Ibu dari subyek di SMA kota tidak seorang pun yang memiliki pekerjaan sebagai buruh. Sementara ibu dari subyek di SMA desa tidak seorang pun yang memiliki pekerjaan sebagai karyawan swasta.

Pendapatan keluarga merupakan jumlah penghasilan yang diperoleh keluarga setiap bulannya. Pendapatan juga akan menentukan kuantitas dan kualitas makanan yang dikonsumsi. Semakin tinggi pendapatan maka semakin besar peluang untuk memilih pangan yang baik. Kisaran pendapatan keluarga subyek di SMA kota antara Rp 500 000-Rp 20 000 000 dengan rata-rata Rp 4 000 000. Kisaran pendapatan keluarga subyek di SMA desa antara Rp 300 000-Rp 9 000 000 dengan rata-rata Rp 1 000 000. Sebagian besar (51%) pendapatan keluarga remaja di SMA kota berkisar antara Rp1 000 000-Rp4 000 000. Hanya 1% yang memiliki pendapatan keluarga <Rp1 000 000 sedangkan pendapatan keluarga remaja di SMA desa sebagian besar (57%) berkisar antara Rp1 000 000-Rp4 000 000 dan 35% yang memiliki pendapatan keluarga <Rp1 000 000. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan nyata (p=0.00) antara pendapatan keluarga di SMA kota dan di SMA desa yaitu pendapatan keluarga subyek di kota lebih besar daripada di desa. Hal ini diduga besar kecilnya pendapatan keluarga dipengaruhi oleh jenis pekerjaan (Dwiningsih 2013).

Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) (1998), besar keluarga adalah keseluruhan jumlah anggota keluarga yang terdiri dari suami, isteri, anak dan anggota keluarga lainnya yang tinggal bersama. Sebuah keluarga dapat dikatakan tergolong keluarga kecil jika

anggota keluarganya ≤ 4 orang, keluarga sedang jika anggota keluaraganya

berjumlah 5-7 orang dan sebuah tergolong keluarga besar jika anggota keluarganya >7 orang. Ukuran besarnya keluarga berkaitan erat dengan kejadian masalah gizi dan kesehatan. Keluarga dengan pendapatan yang rendah dan jumlah anggota keluarga yang banyak menyebabkan makanan yang diasup kurang bergizi (Kartasapoetra & Marsetyo 2008). Secara keseluruhan besar keluarga di SMA kota dan SMA desa termasuk kategori sedang yaitu 46% dengan rata-rata terdiri dari 5 orang, minimal 3 orang dan maksimalnya 14 orang. Besar keluarga di SMA kota sebagian besar termasuk kategori sedang (5-6 orang) yaitu 25% dan di SMA desa sebagian besar termasuk kategori sedang juga yaitu 43%. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan nyata (p=0.00) antara besar keluarga di SMA kota dan di SMA desa yaitu jumlah anggota keluarga di desa lebih

13 banyak daripada di kota. Jumlah anggota keluarga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi asupan makan seseorang. Keluarga dengan banyak anak dan jarak kelahiran yang cukup dekat akan lebih banyak menimbulkan masalah gizi.

Tabel 3 Sebaran subyek berdasarkan karakteristik sosek keluarga Karakteristik dan Sosial Ekonomi

Keluarga SMA Kota SMA Desa Total Uji beda (p) n % n % n % Pendidikan Ayah Tidak sekolah 0 0 3 6 3 3 0.00 SD 2 4 10 20 12 12 SMP 2 4 8 16 10 10 SMA 20 39 27 53 47 46 PT 27 53 3 6 30 29 Total 51 100 51 100 102 100 Pendidikan Ibu 0.00 Tidak Sekolah 0 0 5 10 5 5 SD 2 4 25 49 27 26 SMP 4 8 8 16 12 12 SMA 21 41 10 20 31 30 PT 24 47 3 6 27 26 Total 51 100 51 100 102 100 Pekerjaan Ayah Tidak bekerja 0 0 1 2 1 1 PNS/Polisi/ABRI 7 14 5 10 12 12 Karyawan swasta 18 35 8 16 26 25 Buruh 3 6 18 35 21 21 Wiraswasta/pedagang 19 37 11 22 30 29 Jasa 0 0 3 6 3 3 Lainnya 4 8 5 10 9 9 Total 51 100 51 100 102 100 Pekerjaan Ibu Tidak bekerja 29 57 35 69 64 63 PNS/Polisi/ABRI 13 25 3 6 16 16 Karyawan swasta 3 6 0 0 3 3 Buruh 0 0 3 6 3 3 Wiraswasta/pedagang 3 6 9 18 12 12 Jasa 1 2 1 2 2 2 Lainnya 2 4 0 0 2 2 Total 51 100 51 100 102 100

Pendapatan keluarga (dalam 000)

≤Rp1 000 1 2 18 35 19 19 0.00 Rp1 000 – Rp4 000 26 51 29 57 55 54 > Rp 4 000 24 47 4 8 28 27 Total 51 100 51 100 102 100 Besar Keluarga 0.00 Kecil (≤4 orang) 23 45 11 22 34 33 Sedang (5-7 orang) 25 49 22 43 47 46 Besar (>7 orang) 3 6 18 35 21 21 Total 51 100 51 100 102 100

14

Kebiasaan Makan

Kebiasaan makan subyek adalah informasi perilaku makan terhadap makanan yang dikonsumsi secara berulang dalam waktu satu minggu terakhir. Kebiasaan makan dalam penelitian ini dilihat dari aspek konsumsi berbagai pangan (FFQ) dalam waktu satu minggu, frekuensi makan sehari dan kesukaan jajan. Metode frekuensi makanan adalah untuk memperoleh data tentang frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu seperti hari, minggu, bulan atau tahun (Supariasa 2001). Konsumsi pangan merupakan hal penting dalam memenuhi kebutuhan zat gizi pada subyek. Konsumsi pangan yang bergizi akan membantu subyek dalam proses pertumbuhan dan perkembangan mental. Tujuan mengisi FFQ adalah melengkapi data konsumsi makanan yang tidak dapat diperoleh melalui ingatan 24 jam. Bahan pangan tersebut terdiri dari pangan pokok, pangan hewani (daging, ikan dan telur), pangan sumber protein nabati, sayuran, buah, jajanan dan lain-lain. Bahan pangan yang dicantumkan adalah jika >75% subyek (38 orang) mengonsumsi bahan pangan tersebut. Rata-rata frekuensi konsumsi bahan pangan per minggu dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Rata-rata frekuensi konsumsi pangan per minggu

No

SMA Kota SMA Desa

Uji Beda (p) Jenis Pangan % Meng onsum si Median (Min; Maks) Jenis Pangan % Meng onsum si Median (Min; Maks)

1. Pangan pokok Pangan pokok

1. Beras 100 21(14;21) 1. Beras 100 21 (14;21) 0.42 2. Kentang 90 1.8 (0;3.7) 2. Kentang 100 0.9 (0.2;3.7) 0.15 3. Jagung 84 0.9 (0;3.7) 3. Jagung 92 0.9 (0;3.7) 0.20 4. Mie 98 1.8 (0;4.6) 4. Mie 100 3.7 (0.2;7) 0.00 5. Roti 96 1.8 (0;4.6) 5. Roti 90 1.8 (0;5.6) 0.78 6. Singkong 90 0.7 (0;2.8) 7. Ubi jalar 78 0.2 (0;2.8)

2. Daging,ikan & telur Daging,ikan & telur

1. D.Ayam 98 2.8 (0;7) 1. D.Ayam 96 1.8 (0;4.6) 0.01

2. D.Sapi 88 0.4 (0;2.8) 2. D.Sapi 82 0.0 (0;1.1) 0.00

3. Ikan Laut 78 0.9 (0;3.7) 3. Ikan Laut 80 0.9(0;2.8) 0.33

4. Susu Sapi 84 1.8 (0;14) 4. Susu Sapi 86 1.8 (0;14) 0.84

5. Telur 98 2.8 (0;7) 5. Telur 98 3.7 (0;7) 0.04 6 .Sosis 90 1.8 (0;4.6) 6. Sosis 80 0.9 (0;5.6) 0.40 7. D.Kambing 76 0.0 (0;0.23) 8. Ikan Tawar 84 0.9 (0;2.8) 9. I.Pindang 82 0.9 (0;3.5) 10.Ikan Asin 84 0.9 (0;3.7)

3. Pangan sumber protein nabati Pangan sumber protein nabati

1. Tahu 94 2.8 (0;7) 1. Tahu 100 2.8 (0.2;14) 0.00 2. Tempe 96 1.8 (0;7) 2. Tempe 96 1.8 (0;14) 0.00 3. Oncom 80 0.2 (0;2.8) 4. Kacang 80 0.9 (0;7) 4. Sayuran Sayuran 1. Bayam 82 0.9(4;4.6) 1. Bayam 86 0.9 (0;7) 0.13 2. Kangkung 88 0.9 (0;3.7) 2. Kangkung 96 0.9 (0;7) 0.01 3. Wortel 86 1.8 (0;4.6) 3. Wortel 94 1.8 (0;14) 0.05 4. Kol 88 1.8 (0;7) 5. Sawi 86 0.9 (0;14)

15

No

SMA Kota SMA Desa

Uji Beda (p) Jenis Pangan % Meng onsum si Median (Min; Maks) Jenis Pangan % Meng onsum si Median (Min; Maks) 5. Buah Buah 1. Mangga 82 0.9 (0;3.7) 1. Mangga 88 0.9 (0;3.7) 0.76 2. Pisang 80 0.9 (0;3.7) 2. Pisang 96 1.8 (0;7) 0.00 3. Jeruk 88 0.9 (0;4.6) 3. Jeruk 96 1.8 (0;7) 0.00 4. Nanas 80 0.2 (0;1.8) 5. Jambu 90 0.9 (0;7) 6. Pepaya 92 0.9 (0;7) 7. Rambutan 98 0.0 (0;1.8) 8. Melon 88 0.2 (0;7) 9. Salak 94 0.9 (0;7) 6. Jajanan Jajanan 1. Bakso 94 0.9 (0;2.8) 1. Bakso 100 2.8 (0.2;7) 0.00 2. Buryam 76 0.8 (0;3.7) 2. Buryam 92 0.9 (0;7) 0.00 3. Siomay 82 0.9 (0;3.7) 3. Siomay 98 1.8 (0;7) 0.00

4. Mie Ayam 78 0.7 (0;2.8) 4. Mie Ayam 100 1.8 (0.2;7) 0.00

5. Gorengan 90 1.8 (0;7) 5. Gorengan 96 2.8 (0;21) 0.00

6. Biskuit 80 1.8 (0;7) 6. Biskuit 100 21 (0.2;21) 0.00

7 .Es krim 80 0.9 (0;7) 7. Es krim 92 0.9 (0;7) 0.33

8. Wafer 80 1.8 (0;14) 8. Wafer 96 1.8 (0;21) 0.01 9.Chiki/kripik 82 1.8 (0;7) 9. Chiki/kripik 94 3.7 (0;28) 0.00 10. Gado-gado 90 0.9 (0;7) 11.Empe-empek 86 0.4 (0;4.6) 12. Lontong 90 0.4 (0;7) 7. Lain-lain Lain-lain

1. Juice buah 86 0.9 (0;7) 1. Juice buah 84 0.4 (0;14) 0.84

2. Teh 84 0.9 (0;14) 2. Teh 90 1.8 (0;28) 0.00

3. M.rasabuah 76 0.9 (0;7) 3. M. rasa buah 88 0.9 (0;21) 0.00

4. M.serbuk 67 0.2 (0;7) 4. M.serbuk 88 0.9 (0;14) 0.00

5. M.soda 84 0.4 (0;7) 0.50

Konsumsi pangan sumber karbohidrat

Tabel 4 menunjukkan bahwa pangan sumber karbohidrat yang biasa dikonsumsi subyek di SMA kota adalah nasi, kentang, jagung, mie dan roti sedangkan bahan pangan sumber karbohidrat yang biasa dikonsumsi subyek di SMA desa antara lain nasi, kentang, singkong, ubi jalar, jagung, mie dan roti. Subyek di SMA kota dan di SMA desa lebih banyak mengonsumsi nasi dengan frekuensi 21 kali dalam seminggu, rata-rata berkisar antara 14 kali hingga 21 kali per minggu. Hasil uji beda menggunakan mann whitney

menunjukkan tidak terdapat perbedaan nyata (p>0.05) antara konsumsi pangan beras, kentang, jagung, dan roti di SMA kota dan di SMA desa. Namun terdapat perbedaan nyata (p<0.05) pada konsumsi mie pada subyek di SMA kota dan SMA desa. Hal ini ditunjukkan bahwa subyek di SMA desa lebih sering mengonsumsi mie dengan rata-rata 4 kali seminggu, dibanding dengan konsumsi mie oleh subyek di SMA kota dengan rata-rata 2 kali per minggu. Konsumsi bahan pangan karbohidrat subyek di desa periode seminggu terakhir lebih bervariasi daripada di kota.

Konsumsi pangan sumber protein

Protein adalah zat gizi yang berperan sebagai pembentuk jaringan baru, penghasil energi dan mempertahankan jaringan yang telah ada (Winarno 2002). Sumber protein bisa berasal dari pangan hewani dan

16

nabati. Protein hewani yang biasa dikonsumsi subyek di SMA kota adalah daging ayam, daging sapi, ikan laut, susu sapi, telur dan sosis/nugget sedangkan pangan hewani yang biasa dikonsumsi subyek di SMA desa adalah daging ayam, daging sapi, daging kambing, ikan laut, ikan pindang, ikan tawar, ikan asin, susu sapi, telur dan sosis. Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan bahwa sebagian besar subyek (98%) di SMA kota lebih sering mengonsumsi daging ayam dan telur ayam yaitu rata-rata 2.8 kali seminggu (11 kali per bulan).

Sebagian besar subyek (98%) di SMA desa lebih sering mengonsumsi telur ayam sebagai sumber protein hewani yaitu dengan rata-rata 3.7 kali seminggu (15 kali per bulan), demikian juga dengan ikan asin rata-rata 0.9 kali seminggu (4 kali per bulan). Pangan hewani yang paling jarang dikonsumsi subyek di SMA desa adalah daging kambing sedangkan subyek di SMA kota adalah daging sapi. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan signifikan (p<0.05) antara konsumsi daging ayam, daging sapi, dan telur pada subyek di SMA kota dan SMA desa. Hal ini dapat dilihat bahwa frekuensi konsumsi daging ayam dan daging sapi lebih sering dikonsumsi oleh subyek di kota sedangkan frekuensi konsumsi telur ayam lebih sering dikonsumsi subyek di desa daripada di kota. Namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.05) antara ikan laut dan sosis. Konsumsi protein hewani di desa lebih bervariasi daripada di kota. Diduga bahwa harga bahan pangan sumber protein hewani lebih murah di desa dibandingkan dengan di kota.

Konsumsi pangan sumber protein nabati

Sumber protein tidak hanya bersumber dari protein hewani namun juga berasal dari protein nabati. Konsumsi bahan pangan protein nabati oleh subyek di desa pada periode seminggu terakhir lebih bervariasi daripada di kota. Protein nabati yang biasa dikonsumsi oleh subyek di SMA kota adalah tahu dan tempe sedangkan subyek di desa adalah tahu, tempe, oncom, dan kacang-kacangan. Rata-rata konsumsi tahu di SMA kota adalah 2.8 kali per minggu (11 kali per bulan) dan konsumsi tempe sebanyak 1.8 kali dalam seminggu (7 kali per bulan). Tahu merupakan bahan pangan yang paling sering dikonsumsi oleh subyek (100%) di SMA desa dengan rata-rata 2.8 kali seminggu (11kali per bulan). Sumber protein yang paling sedikit dikonsumsi subyek di SMA desa adalah oncom (Tabel 4). Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan nyata (p<0.05) antara konsumsi tahu dan tempe di SMA kota dan SMA desa yaitu subyek di SMA desa cenderung lebih sering mengonsumsi tahu dan tempe dengan nilai maksimum 14 kali dalam seminggu.

Konsumsi buah dan sayur

Sayur dan buah merupakan sumber serat yang penting bagi anak dalam masa pertumbuhan. Berdasarkan PUGS (Pedoman Umum Gizi Seimbang), konsumsi sayur dan buah minimal 3 porsi/hari. Sayuran yang biasa dikonsumsi oleh subyek di SMA kota adalah bayam, kangkung dan wortel sedangkan subyek di SMA desa adalah bayam, kangkung, sawi, wortel dan kol. Rata-rata sayuran yang paling banyak dikonsumsi oleh subyek di perkotaan adalah wortel yaitu 1.8 kali per minggu (7 kali per bulan), dan urutan selanjutnya adalah bayam dan kangkung. Rata-rata

17 sayuran yang paling banyak dikonsumsi oleh subyek di perdesaan adalah wortel dan kol, yaitu 2 kali dalam seminggu. Rata-rata frekuensi konsumsi wortel adalah 14 kali dalam seminggu dan kol sebanyak 7 kali dalam seminggu. Sayuran yang paling jarang dikonsumsi adalah kangkung dan bayam.

Buah yang biasa dikonsumsi subyek di SMA kota antara lain mangga, pisang dan jeruk. Rata-rata buah yang paling banyak dikonsumsi adalah jeruk (Tabel 4) yaitu 4.6 kali dalam seminggu (18 kali per bulan) sedangkan buah yang biasa dikonsumsi subyek di SMA desa antara lain jambu, pepaya, mangga, nanas, pisang, jeruk, rambutan, melon, dan salak. Rata-rata buah yang paling banyak dikonsumsi subyek di SMA desa adalah pisang dan jeruk sedangkan buah rambutan merupakan buah yang jarang dikonsumsi yang ditunjukkan bahwa frekuensi 1 kali dalam seminggu. Hal ini diduga karena buah tersebut adalah buah musiman. Buah yang dikonsumsi subyek di perdesaan lebih beragam jika dibandingkan dengan buah yang dikonsumsi oleh subyek di perkotaan. Hal ini diduga bahwa subyek yang di perdesaan memiliki lahan kosong sehingga banyak ditanami sayur mayur dan buah. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan nyata (p<0.05) antara konsumsi pisang, jeruk, kangkung, wortel yaitu frekuensi konsumsinya lebih sering di desa daripada di kota. Tidak terdapat perbedaan nyata (p>0.05) pada konsumsi mangga dan bayam di SMA kota dan di SMA desa. Buah dan sayur yang dikonsumsi subyek di desa lebih bervariasi daripada di kota. Hal ini juga dibuktikan bahwa persentase subyek dengan status gizi normal di desa lebih tinggi daripada di kota karena diet lemak yang baik adalah dengan mengonsumsi buah dan sayur (Cakrawati 2011).

Konsumsi jajanan dan makanan lain-lain

Makanan jajanan memegang peranan penting dalam memberikan kontribusi tambahan untuk memenuhi kecukupan gizi, khususnya energi dan protein (Sulistyanto 2005). Jajanan yang biasa dikonsumsi oleh subyek di SMA kota adalah bakso, bubur ayam, siomay/batagor, mie ayam, gorengan, biskuit, es krim, wafer dan chiki-chikian. Selain dari jajanan yang dikonsumsi oleh subyek di SMA kota, subyek di SMA desa juga mengonsumsi gado-gado, empek-empek, dan lontong sayur. Jajanan yang paling sering dikonsumsi oleh subyek di perkotaan adalah wafer dengan rata-rata 1.8 kali per minggu (7 kali per bulan). Jajanan yang paling jarang di konsumsi adalah siomay/batagor sedangkan jajanan yang paling sering di konsumsi oleh subyek di perdesaan adalah bakso dengan rata-rata 2.8 kali dalam seminggu (11 kali per bulan) dan paling jarang dikonsumsi adalah empek-empek. Selain itu minuman yang biasa dikonsumsi oleh subyek adalah jus buah, teh, minuman manis, dan minuman serbuk. Minuman yang paling sering dikonsumsi oleh subyek di kota adalah teh dengan rata-rata frekuensi 14 kali dalam seminggu sedangkan rata-rata frekuensi konsumsi teh di desa adalah 28 kali dalam seminggu. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan nyata (p<0.05) antara konsumsi bakso, bubur ayam, siomai, mie ayam, gorengan, biskuit, es krim, wafer dan chiki. Subyek di SMA desa lebih sering mengonsumsi gorengan dibandingkan dengan subyek di SMA kota dengan nilai rata-rata 2.8 kali per minggu (11 kali per

18

bulan). Tidak terdapat perbedaan nyata (p>0.05) pada konsumsi es krim pada subyek dengan rata-rata sekali seminggu. Demikian juga dengan konsumsi teh, minuman manis, minuman serbuk bahwa terdapat perbedaan nyata (p<0.05) di SMA kota dan di SMA desa yaitu lebih sering dikonsumsi oleh subyek di desa.

Frekuensi makan sehari

Salah satu aspek penting dari kebiasaan makan adalah frekuensi makan per hari, karena secara langsung akan mempengaruhi asupan zat gizi melalui konsumsi pangan. Frekuensi makan yang baik adalah 3 kali dalam sehari. Jarak antara dua waktu makan yang panjang menyebabkan adanya kecenderungan untuk makan lebih banyak dan melebihi batas (Khomsan 2003). Frekuensi makan subyek dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Sebaran subyek berdasarkan frekuensi makan sehari

Frekuensi Makan SMA Kota SMA Desa Total Uji beda (p)

n % n % n % 1 kali 1 2 2 4 3 3 0.93 2 kali 14 27 13 25 27 26 3 kali 31 61 30 59 61 60 4 kali 5 10 6 12 11 11 Total 51 100 51 100 102 100

Berdasarkan Tabel 5 secara keseluruhan subyek dalam penelitian ini sebagian besar memiliki frekuensi makan 3 kali sehari (60%) yang biasanya dilakukan pada pagi, siang dan sore dengan rata-rata 3 sehari, minimal 3 kali dan maksimal 4 kali. Sebagian besar (61%) subyek di SMA kota memiliki frekuensi makan 3 kali sehari begitu pula subyek di SMA desa yang sebagian besar (59%) memiliki frekuensi makan 3 kali sehari. Subyek yang memiliki frekuensi makan 1 kali sehari biasanya dilakukan pada siang hari, frekuensi 2 kali sehari biasanya dilakukan pada siang dan sore hari, sedangkan subyek yang memiliki kebiasaan frekuensi makan lebih dari 3 kali sehari biasanya dilakukan pada pagi, siang, sore dan malam hari. Hasil uji beda mann whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan nyata (p=0.93) antara frekuensi makan subyek di SMA kota dan di SMA desa. Kebiasaan jajan

Kebiasaan jajan merupakan istilah untuk menggambarkan kebiasaan

Dokumen terkait