• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen DENGAN EKSTRAK BAWANG PUTIH (Halaman 31-37)

Bobot Potong

Bobot potong adalah bobot yang didapat dengan cara menimbang bobot ayam setelah dipuasakan selama 12 jam. Bobot potong perlu diperhatikan kualitas dan kuantitas dari ransum yang dikonsumsi, sehingga didapatkan pertumbuhan yang baik (Blakely dan Bade, 1991). Berikut ini adalah rataan bobot potong ayam broiler yang diinfeksi Escheria coli dengan pemberian ekstrak bawang putih (Allium sativum Linn) dan jahe (zingiber officinale Roscoe).

Tabel 1. Data bobot potong ayam ras pedaging umur 6 minggu (g/ekor)

Perlakuan Bobot Potong (gr)

Keterangan: Notasi yang sama pada kolom yang sama menunjukkan perlakuan memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (f Hit ≤ 0.05).

Dari Tabel 1 diatas ditemukan bahwa rataan bobot potong yang paling tinggi terdapat pada P1 (Infeksi E. coli + antibiotic tetrasiklin 0,05%) dengan rataan 1465,04 g dan yang terendah pada perlakuan P0A yakni 1281,94 g. Hal ini menyatakan bahwa ayam yang diinfeksi Escherichia coli dan diberi antibiotik tetrasiklin 0,05% memberikan hasil yang lebih tinggi bila dibanding dengan perlakuan yang lain. Perbedaan nilai dapat disebabkan oleh adanya perbedaan pertumbuhan ayam ras pedaging selama pemeliharaan hal ini sesuai dengan pernyataan Wahju (1997), yang menyatakan bahwa pertumbuhan ternak

22

dipengaruhi oleh factor bangsa, jenis hewan, umur, jenis ternak, kualitas ransum dan lingkungannya.

Bobot karkas

Bobot karkas merupakan bobot tubuh ayam yang telah disembelih setelah dipisahkan darah, bulu, kepala sampai batas pangkal leher, kaki sampai batas lutut dan organ dalam kecuali ginjal dan paru-paru (Murtidjo, 1992). Berikut ini adalah rataan bobot karkas ayam broiler yang diinfeksi Escherichia coli dengan pemberian ekstrak bawang putih (Allium sativum Linn) dan jahe (zingiber officinale Roscoe).

Tabel 2. Data bobot karkas ayam ras pedaging (g/ekor)

Perlakuan Bobot Karkas (gr)

Dari Tabel 2 di atas terlihat bahwa rataaan bobot tertinggi karkas ayam ras pedaging terdapat pada P3 yaitu sebanyak 1073,66 g dan yang terendah adalah pada perlakuan P0A yakni 893,98 g. Angka tersebut merupakan 78% dari bobot potong yang merupakan jumlah yang normal dari karkas ayam broiler. Hal ini sesuai dengan pernyataan Siregar (1994), yang menyatakan bahwa bobot karkas normal adalah 60-75 % dari berat tubuh. Sedangkan persentase karkas adalah perbandingan antara bobot karkas dengan bobot hidup dikalikan 100%.

Tinggi rendahnya bobot karkas dipengarui oleh jumlah bobot potong ternak. Hal ini sesuai dengan pernyataan Soeparno (2005), yang menyatakan bahwa bobot karkas meningkat seiring dengan meningkatnya bobot hidup, tetapi persentase non karkas seperti kulit, darah, usus halus dan hati menurun.

Bobot karkas dipengaruhi oleh bobot hidup, sehingga bobot hidup yang besar akan diikuti pula oleh bobot karkas yang besar dan sebaliknya. Seperti yang dinyatakan oleh Wahju (1992), yang menyatakan bahwa tingginya bobot karkas ditunjangoleh bobot hidup akhir sebagai penambahan bobot hidup dengan yang bersangkutan. Resnawati (2004) juga menyatakan bahwa bobot karkas yang dihasilkan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu umur, jenis kelamin, bobot potong, berat dan konformasi tubuh, perlemakan, kualitas dan kuantitas ransum serta jenis ternak yang dipelihara.

Dari penelitian di atas terlihat bahwa pemberian ekstrak bawang putih dan jahe pada ayam yang terinfeksi Escherichia coli tidak dapat memberikan peningkatan bobot potong, bobot karkas, dan persentase karkas.

Persentase Karkas

Persentase karkas merupakan faktor terpenting untuk menilai produksi ternak, karena produksi erat hubungannya dengan bobot hidup, dimana semakin bertambah bobot hidupnya, maka produksi karkasnya akan semakin meningkat (Murtidjo, 1987). Berikut ini adalah rataan bobot karkas ayam broiler yang diinfeksi Escherichia coli lalu diberikan ekstrak bawang putih dan jahe.

24

Tabel 3. Data Persentase bobot karkas ayam ras pedaging (%)

Perlakuan Persentase Karkas (%) Rata-rata S. Deviasi

U1 U2 U3

Keterangan: Notasi yang sama pada kolom yang sama menunjukkan perlakuan memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (f Hit ≤ 0.05).

Dari Tabel 3 diatas Persentase karkas merupakan hasil pembagian antara bobot karkas dengan bobot hidup dikali 100%. Dari tabel diatas terlihat bahwa persentase tertinggi terdapat pada P3 yakni 78% dan yang terendah adalah P0A yakni 70%. Hal ini berarti bahwa jika ditinjau dari persentasi karkas maka persentasi karkas pada P3 merupakan persentasi yang paling baik dari antara semua perlakuan. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan jumlah antara pembagi (bobot karkas) dengan yang dibagi (bobot hidup). Menurut Mountney (1976), lemak dan jeroan meruapakan hasil ikutan yang tidak dihitung dalam persentase karkas, jika lemak tinggi maka persentase karkas akan rendah.

Perbedaan persentasi karkas antar pelakuan dapat dipengaruhi oleh bobot , makanan dan genetiknya. Genetik yang memberikan pengaruh sebayak 30%

menunjukkan bahwa adanya batas respon tubuh ayam ras pedaging terhadap perlakuan yang diberikan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Morran and Orr (1970), yang menyatakan bahwa persentase karkas dipengaruhi oleh bangsa, umur, jenis kelamin, bobot hidup dan makanan. Persentase karkas umur muda lebih rendah dibandingkan dengan ayam yang lebih tua dan persentase ayam jantan lebih besar dibandingkan persentase ayam betina lebih banyak menghasilkan kulit dan lemak abdomen dari pada jantan. Murtidjo (1987) juga

menyatakan bahwa persentase karkas merupakan faktor yang penting untuk menilai produksi ternak, karena produksi erat hubungannya dengan bobot hidup, dimana semakin bertambah bobot hidupnya maka produksi karkasnya semakin meningkat.

Persentase Lemak Abdominal

Persentase lemak abdominal merupakan hasil penimbangan lemak yang terdapat disekitar rongga perut dan disekitar ovarium (g), kemudian dibandingkan dengan bobot potong dan dikali 100%. Berikut ini merupakan rataan persentase lemak abdominal ayam broiler umur 6 minggu.

Tabel 4. Rataan persentase lemak abdominal ayam broiler umur 6 minggu(%) Perlakuan Persentase Lemak Abdominal (%)

S. Deviasi

Keterangan: Notasi yang sama pada kolom yang sama menunjukkan perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata (f Hit ≤ 0.05).

Dari tabel 4 diatas dapat dilihat hasil rataan persentase lemak abdominal ayam broiler umur 6 minggu terdapat pada P3 yaitu sebesar 15,47%, sedangkan persentase lemak abdominal terendah terdapat pada perlakuan P0A yaitu sebesar 7,12 %.

Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian ekstrak bawang putih dan jahe terhadap ayam broiler yang terinfeksi Escherichia coli memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P> 0,05) terhadap persentase lemak abdominal ayam broiler. Ayam broiler yang terinfeksi Escherichia coli dan diberikan larutan ekstrak jahe 1% memiliki persentase lemak abdominal yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan ayam broiler yang tidak terinfeksi

26

Escherichia coli. Hal ini sesuai dengan pendapat (Waskito, 1983) yang

menyatakan bahwa berat lemak abdominal berkisar 2% - 2,5% dari bobot karkas, bahkan dapat mencapai 5-6%.

Rekapitulasi Hasil Penelitian

Rekapitulasi penelitian terhadap bobot potong, bobot karkas dan persentase karkas dapat dilihat pada Tabel 9 di bawah ini.

Perlakuan

Keterangan: Notasi yang sama pada kolom yang sama menunjukkan perlakuan memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (f Hit ≤ 0.05).

Dari Tabel 9 diatas data rekapitulasi, terlihat bahwa P0A, P0B, P1, P2, P3 dan

Dalam dokumen DENGAN EKSTRAK BAWANG PUTIH (Halaman 31-37)

Dokumen terkait