• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 82-91)

DEPOK JANUARI 2014

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Jumlah resep pada bulan Januari 2013 sebanyak 16634 lembar resep. Terdapat resep yang mengandung ivabrandine dengan nama dagang Coralan® sebanyak 11 lembar resep atau sekitar 0,66% dari total jumlah resep yang diamati pada bulan tersebut (lampiran 1). Adapun contoh resep yang mengandung Coralan® antara lain sebagai berikut :

Resep 1

Dokter : dr. Ichsan Kurnia, Sp.S Pro : Ny. Wong Fa Yu Tanggal : 6/01/2013 Usia : - No. Resep : 58 R/ Prazotec 30 mg No.X S 0-0-1 R/ Coralan 5 mg No.X S ½-0-½

R/ Lipanthyl supra No.XX S 2dd1

R/ Lasix No.X S 1-0-0

Resep 2

Dokter : dr. Hartoyo Sutandar Pro : Tn. Wonargo Usia : - Tanggal : 19/01/2013 No. Resep : 58 R/ Monecto 20 No.XXX S 2dd½ R/ Coralan 5 mg No.LX S 2dd1 R/ Pladogrel No.XXX S 1dd1 R/ Iretensa No. XV S 1dd½ R/ Pralax fl.I S 1dd1 C R/ Carpiaton 100 No. XV S 1dd½ R/ Farsix No.XXX S 1dd1

9

Resep 3

Dokter : Prof..dr. T. Santoso, S.FACC Pro : Tn. M. Toyib Mustafa

Usia : 16/04/1952 (61 tahun) Tanggal : 30/01/2013 No. Resep : 295 R/ Plavix No.C S 1dd1 R/ Digoxin No.XXV S 1dd½ R/ Cardismo No.C S 2dd½ R/ Trizedon MR No.CC S 2dd1 R/ Triatec 2,5 mg No.CC S 2dd1 R/ Lasix No.L S ½-0-0 R/ KSR No.C S 1dd1 R/ Pantozol No.CC S 2dd1 ac R/ Coralan 5 mg No.CC S 2dd1

R/ Lipanthyl Supra No.CC S 1-1-0

Resep 4

Dokter : dr. Yeo Hans C., Sp.JP Pro : Tn. Chotib Usia : 63 tahun Tanggal : 4/01/2013 No. Resep : 518 R/ Plavix No.XXX S 1dd1

R/ Cardio Aspirin No.XXX S 1dd1 R/ Cedocard No.XC S 3dd1 R/ Triatec 10 No.XXX S 1dd1 R/ Coralan 5 mg No.LX S 2dd1 R/ Amlodipine 5 mg No.XXX S 1dd1 R/ Furosemide No.LX S 1-1-0 R/ Spirola 100 mg No.XXX S 1dd1 R/ Vbloc 6,25 mg No.XXX S 2dd½ R/ Glucobay 50 mg No.LX S 2dd1

Gambar 1. Contoh resep bulan Januari 2013 yang mengandung Coralan®

4.2 Pembahasan

Ivabradine adalah obat yang tergolong baru dalam terapi angina stabil kronis. Sejak 25 Oktober 2005, ivabradine telah disetujui oleh European Agency

10

for the Evaluation of Medicinal Product (EMEA) untuk dipasarkan di 29 negara

Eropa, termasuk United Kingdom, untuk mengatasi gejala iskemik pada pasien angina stabil dengan irama sinus normal yang tidak dapat menerima golongan beta-bloker karena kontraindikasi atau intoleransi. Meskipun demikian, ivabradine belum memperoleh persetujuan dari Food and Drug Administration (FDA) di Amerika. Dan di Indonesia sendiri, ivabradine baru memperoleh persetujuan izin edar pada tahun 2007, dengan satu nama dagang yaitu Coralan® yang diproduksi oleh Les Laboratories Servier Industrie, dan dipasarkan di Indonesia melalui PT. Servier Indonesia.

Kajian peresepan obat ivabradine dilakukan dengan skrining resep pada bulan Januari 2013. Resep yang mengandung ivabradine dibandingkan dengan jumlah lembar resep pada bulan tersebut. Selanjutnya resep tersebut dianalisis kelengkapan administrasi, kesesuaian farmasetik, dan pertimbangan klinis. Penilaian kerasionalan dilihat dari ada atau tidaknya masalah yang terkait dengan obat, seperti kecenderungan jenis penyakit yang menggunakan terapi dengan obat ivabradine, kombinasi dengan obat lainnya, dan kemungkinan adanya interaksi obat. Adapun kelengkapan administrasi yang harus ada dalam resep antara lain nama, SIP (Surat Izin Praktek), nomor telepon, alamat, dan paraf dokter; tanggal penulisan resep; nama, jenis kelamin, umur, berat badan, dan alamat pasien; dan cara pemakaian obat yang jelas.

Hasil pengkajian resep diperoleh jumlah resep pada bulan Januari 2013 sebanyak 16.634 lembar resep. Terdapat resep yang mengandung Coralan® sebanyak 11 lembar resep atau sebanyak 0,66% dari total keseluruhan resep. Dari hasil pengamatan beberapa resep, Coralan® lebih sering diberikan kombinasi dengan obat kardiovaskuler lain, seperti antiangina (ISDN, trimetazidine diHCl), glikosida jantung (digoxin), diuretik (furosemide, spinorolakton), antihipertensi (ramipril, irbesartan), antikoagulan (clopidogrel, aspirin).

Adanya kombinasi antara Coralan® dan obat-obat kardiovaskuler lainnya diperlukan dalam terapi penyakit kardiovaskuler karena sistem kardiovaskuler tidak hanya terdiri atas jantung, tetapi juga melibatkan pembuluh darah sehingga memerlukan obat yang mempunyai efek pada keduanya, yaitu jantung dan pembuluh darah. Jantung dan pembuluh darah merupakan alat dalam tubuh yang

11

mengatur peredaran darah sehingga kebutuhan makanan dan sisa metabolisme jaringan dapat terangkut dengan baik. Jantung sebagai organ pemompa darah sedangkan pembuluh darah sebagai penyalur darah ke jaringan. Setiap gangguan dalam sistem tersebut akan mengakibatkan kelainan pada sistem kardiovaskuler.

Obat kardiovaskuler merupakan kelompok obat yang mempengaruhi dan memperbaiki sistem kardiovaskuler secara langsung ataupun tidak langsung. Obat yang bekerja pada jantung dan pembuluh darah, baik arteri maupun vena dibagi dalam sembilan sub kelas sebagai berikut: obat inotropik positif, obat anti-aritmia, obat antihipertensi, obat anti-angina, diuretik, obat yang mempengaruhi sistem koagulasi darah, obat hipolipidemik, obat untuk syok dan hipotensi, dan obat untuk gangguan sirkulasi darah (serebral, arteri, vena).

Ivabradine adalah obat pertama yang menghambat secara selektif dan spesifik arus f di nodus sinoatrium. Arus f di nodus sinoatrium mempengaruhi pengendalian kecepatan denyut jantung. Penurunan kecepatan denyut jantung adalah pendekatan utama dalam terapi angina stabil.

Peresepan Coralan® pada semua resep selama bulan Januari 2013 sebagian besar sudah rasional. Tidak ditemukan kombinasi obat yang berinteraksi dengan zat aktif ivabradine. Persentase pemakaian yang kecil disebabkan Coralan® merupakan obat baru dalam terapi angina sehingga belum banyak dokter yang meresepkan.

Pada resep 1, dokter meresepkan Coralan® dikombinasikan dengan Lasix® (furosemide), dan Lipanthyl supra® (fenofibrate), ditambah dengan Prazotec® (lansoprazole) yang dimaksudkan untuk mengantisipasi efek samping dari Coralan® yang memiliki ADR gangguan GI. Resep ini dinilai rasional karena tidak ditemukan interaksi antar obat. Dilihat dari peresepan, Coralan® diberikan 2 kali sehari dengan dosis masing-masing 2,5 mg.

Pada resep 2 terdapat kombinasi antara 2 obat yang memiliki kelas terapi sama. Pertama, kombinasi antara Farsix® (furosemide) dan Carpiaton 100® (spinorolakton). Kombinasi ini bersifat aditif, yakni rnenambah efek diuresis dan karena spironolakton bersifat menahan kalium maka pemberian kalium tidak diperlukan.

12

Mengingat Coralan® adalah golongan obat baru dalam terapi antiangina, sebaiknya menyarankan penggunaan obat angina golongan lain, karena pasien geriatri sudah mengalami penurunan fungsi fisiologis sehingga jika diberikan obat baru kemungkinan akan timbul efek samping obat (ESO) yang tidak muncul pada responden normal dalam uji klinis obat.

Pada resep 3 terdapat kombinasi obat yang menimbulkan interaksi. Interaksi pertama terjadi antara KSR® (KCl) >< digoxin, efek yang ditimbulkan, keduanya dapat meningkatkan serum K+ dalam darah. Interaksi kedua antara KCl >< ramipril, efek yang ditimbulkan, ramipril meningkatkan kadar KCl dengan cara mengurangi eliminasinya. Kedua interaksi ini dapat beresiko mengakibatkan hiperkalemia, oleh karena itu penggunaannya perlu dimonitor. Untuk menghindari interaksi yang terjadi, penggunaan obat-obat ini perlu disiasati, yaitu dengan mengatur waktu minum obat.

Ivabradine merupakan obat baru dalam terapi angina, bekerja dengan

menurunkan frekuensi denyut jantung/nadi (heart rate) dengan menghambat arus f (If current) di nodus sinoatrium sel-sel otot jantung. Berbeda dengan golongan β-bloker yang menghentikan rangsangan pada reseptor β pada seluruh tubuh sehingga efek samping yang ditimbulkan juga berpengaruh terhadap reseptor β ditempat lain, seperti pada saluran pernapasan kemungkinan menimbulkan sesak pada penderita asma atau bronchitis, dan menyebabkan kontriksi pembuluh darah sehingga menimbulkan rasa dingin pada tangan dan kaki (Priyanto, 2008).

Pemberian obat yang rasional bagi pasien sangat diperlukan agar tidak terjadi medication error. Menurut WHO, pengobatan yang rasional adalah pengobatan yang digunakan sesuai dengan indikasi penyakit, diberikan dengan dosis tepat, interval waktu tepat, lama pemberian tepat, obat yang diberikan efektif, aman, dan bermutu, serta tersedia setiap saat dengan harga yang dapat dijangkau oleh pasien. Selain itu, untuk mencapai pengobatan yang rasional juga diperlukan tepat informasi dan tepat monitoring kepada pasien. Pengobatan yang tidak rasional dapat berdampak terhadap mutu pengobatan, yaitu terjadi peningkatan mortalitas dan morbiditas terhadap penyakit. Selain itu juga berpengaruh terhadap biaya pengobatan dan pelayanan pasien, kemungkinan terjadinya efek samping lebih besa, serta dampak psikososial di masyarakat.

13

Untuk itu perlu dilakukan skrinning resep pada saat penerimaan resep di apotek. Bagian resep yang perlu diskrining meliputi persyaratan administratif, kesesuaian farmaseutik, dan pertimbangan klinis. Hal ini menjadi tugas apoteker agar pengobatan pasien efektif, aman, dan bermutu.

14 Universitas Indonesia

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil kajian peresepan yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa :

a. Pada bulan Januari 2013, obat yang mengandung ivabradine sebanyak 11 lembar resep atau 0,66% dari total resep pada bulan tersebut.

b. Peresepan ivabradine pada bulan Januari 2013 di Apotek Rini rasional karena tidak ditemukan kombinasi obat yang berinteraksi dengan ivabradine.

5.2 Saran

a. Pelayanan informasi obat kepada pasien perlu ditingkatkan lagi terutama mengenai informasi penggunaan obat, hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya medication errors dan juga untuk mengoptimalkan terapi pengobatan pasien.

b. Perlu dilakukan skrining resep terkait peresepan Coralan®

mengingat Coralan® merupakan obat baru dalam terapi pengobatan angina pektoris.

15 Universitas Indonesia

DAFTAR REFERENSI

Corwin, Elizabeth J. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Debeasi, Linda Coughlin dalam S. Price & L. Wilson. (2012). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit (Ed.6, Vol.1). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Departemen Kesehatan RI. (2006). Pharmaceutical care untuk Pasien Penyakit Jantung Koroner: Fokus Sindrom Koroner Akut. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Majid, Abdul. 2007. Penyakit Jantung Koroner : Patofisiologi, Pencegahan dan Pengobatan Terkini. USU e-Repository.

Mariyono, Harbanu H & Santoso, Anwar. 2007. Gagal Jantung. Jurnal Penyakit Dalam Vol.8 No.3.

Muchid, Abdul dkk. 2007. Pharmaceutical Care Untuk Pasien Penyakit Jantung Koroner : Fokus Sindrom Koroner Akut. Jakarta : Depkes RI.

Priyanto. (2008). Farmakologi Dasar: untuk mahasiswa farmasi & keperawatan (edisi II). Depok : Lembaga Studi dan Konsultasi Farmakologi.

Sherwood, Lauralee. (2001). Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem Edisi 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. (2009). Kumpulan Kuliah Farmakologi Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Sukandar, Elin Yulinah., Andrajati, Retnosari., Sigit, Joseph I., Adyana, I Ketut., Setiadi, Adji Prayitno., Kusnandar. ISO Farmakoterapi. Jakarta : PT. ISFI Penerbitan, 2008.

16

Lampiran 1. Jumlah peresepan obat ivabradine pada bulan Januari 2013 di Apotek Rini

Tanggal Jumlah obat Coralan® Jumlah lembar resep/hari

1 - 268 2 - - 3 - 729 4 1 640 5 - 611 6 2 446 7 - 705 8 - 659 9 1 508 10 - 592 11 - 623 12 - 605 13 - 457 14 - 696 15 1 579 16 - 681 17 - 345 18 - 587 19 2 563 20 - 429 21 2 748 22 - - 23 1 607 24 - 471 25 - - 26 - 673 27 - 505 28 - 732 29 - 737 30 1 750 31 - 670 Total 11 16.634

Persentase dari total resep

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 82-91)

Dokumen terkait