Kawasan hutan mangrove yang menjadi lokasi penelitian termasuk dalam wilayah Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang. Lokasi penelitian memiliki luas hutan mangrove sekitar 300 ha pada tahun 2011 (Soraya
et al. 2012). Batas Desa Blanakan sebelah utara ialah Laut Jawa, sebelah selatan dengan Desa Ciasem, sebelah timur dengan Desa Langensari, dan sebelah barat dengan Desa Jaya Mukti. Lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Lokasi Penelitian Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang
7
Berdasarkan tipe iklim Oldeman, Kabupaten Subang memiliki tipe iklim C dan D. Daerah tersebut memiliki curah hujan 3.241 mm/tahun, dengan jumlah hari hujan 365 hari, sedangkan jumlah bulan basah (curah hujan> 200 mm) 2 bulan, bulan kering (curah hujan < 100 mm) 7 bulan. Suhu rata-rata bulanan berkisar 24,6-25,6 C (Asep et al. 2011). Menurut Wahab (2003), berdasarkan klasifikasi curah hujan menurut Schmidt dan Ferguson, Kecamatan Blanakan termasuk dalam wilayah tipe iklim D. Secara umum wilayah hutan mangrove Blanakan memiliki curah hujan rata-rata per tahun 1.328 mm, suhu rata-rata siang hari 34 C dan malam hari 21,8 C, kelembaban berkisar antara 73-81%. Topografi datar (Perum Perhutani, 1993).
Vegetasi mangrove di Desa Blanakan didominasi oleh jenis Rhizophora dan jenis Sonneratia (Soraya et al. 2012). Berdasarkan hasil identifikasi di lokasi penelitian, terdapat 5 jenis mangrove yaitu Rhizophora, Avicennia, Sonneratia, Bruguiera, dan Acanthus licifolius. Kondisi mangrove di Blanakan sebagian besar sudah dimanfaatkan bagi masyarakat untuk daerah pertambakan dengan sistem tambak tumpang sari (wanamina). Hasil identifikasi jenis vegetasi mangrove di lokasi penelitian dapat dilihat pada Lampiran 1.
Sifat Kimia Tanah
di Bawah Masing-masing Tipe Vegetasi Mangrove Dominan
Hasil pengukuran derajat keasaman (pH) menunjukkan bahwa nilai pH di bawah masing-masing tipe vegetasi mangrove hampir sama, yaitu berkisar antara 6.40 sampai 6.80. Nilai Daya Hantar Listrik (DHL/EC) tanah dilokasi penelitian pada lapisan bawah lebih tinggi dibandingkan lapisan atas. Dari hasil analisis basa-basa K, Na, Ca, dan Mg, kandungan basa-basa dalam tanah didominasi oleh kation Na. Kandungan Na lapisan atas selalu lebih rendah daripada lapisan bawah sehingga DHL lapisan atas juga lebih rendah daripada lapisan bawahnya. Hal ini berhubungan dengan sifat tanah salin di pantai yang dipengaruhi oleh air laut yang berkadar NaCl tinggi. Kosentrasi tertinggi selanjutnya Mg diikuti oleh Ca dan K. Nilai DHL pada lokasi Sonneratia lebih rendah bila dibandingkan dengan nilai DHL di ketiga lokasi tipe vegetasi mangrove lainya. Hal ini dikarenakan pada lokasi Sonneratia selain dipengaruhi oleh air laut juga dipengaruhi air sungai, sedangkan lokasi vegetasi lainnya hanya dipengaruhi air laut.
Kapasitas tukar kation (KTK) tanah adalah kemampuan tanah untuk menjerap dan mempertukarkan kation-kation. KTK pada masing-masing tipe vegetasi relatif tidak jauh berbeda, kecuali pada lokasi Avicennia. KTK pada lokasi Avicennia lapisan atas sebesar 28,51 me/100g dan pada lapisan bawah sebesar 35,76 me/100g. Nilai tersebut bila dibandingkan dengan ketiga lokasi lain adalah lebih rendah. KTK tanah pada lapisan atas dan bawah berturut-turut pada lokasi Bruguiera adalah 47,07 dan 39,00 me/100g,Rhizophora sebesar 41,07 dan 41,55 me/100g, dan Sonneratia sebesar 39,56 dan 40,56 me/100g. Rendahnya nilai KTK pada lokasi Avicennia diduga berhubungan dengan kandungan bahan organik tanah, dimana bahan organik tanah dilokasi Avicennia lebih rendah dibandingan dengan bahan organik tanah dilokasih mangrove lainya (Lampiran 10). Bahan organik yang terombak dan membentuk humus dapat menghasilkan partikel-partikel bermuatan (Sanchez, 1976).
8
Kadar N-total tanah lapisan atas pada lokasi Bruguiera lebih tinggi bila dibandingkan dengan kadar N-total tanah pada vegetasi Avicennia, Rhizophora, Sonneratia. Tingginya kadar N-total tanah pada lapisan atas lokasi Bruguiera karena vegetasi Bruguiera memiliki kadar C-organik tanah lapisan atas lebih tinggi bila dibandingkan dengan vegetasi mangrove lainya. Begitu juga sebaliknya dengan Kadar N-total tanah pada lokasi Avicennia lebih rendah bila dibandingkan dengan kadar N-total lokasi lainnya karena memiliki kadar C-organik terkecil. Kadar N-total pada lapisan atas dan bawah berturut-turut pada lokasi Avicennia 0,29 dan 0,18%,
Bruguiera 0,42dan 0,15%, Rhizophora 0,30 dan 0,21%, dan Sonneratia 0,32 dan 0,28%.
Hasil analisis S-total tanah, lokasi Sonneratia memiliki kadar S-total lebih tinggi bila dibandinggkan dengan kadar S-total tanah pada lokasi Avicennia,
Bruguiera, dan Rhizophora. Tingginya kadar S-total tanah pada lokasi Sonneratia
karena dipengaruh pasang surut air laut lebih besar bila dibandingkan dengan lokasi vegetasi mangrove lainya. Hal tersebut dapat terlihat dari hasil analisis bahwa kadar S-total semakin rendah seiring bertambahnya jarak lokasi dengan laut. Kadar S-total pada lapisan atas dan bawah berturut-turut pada lokasi Avicennia 0,20 dan 0,01%,
Bruguiera 0,29 dan 0,16%, Rhizophora 0,62 dan 0,22%, dan Sonneratia 0,77 dan 0,78%. Hasil analisis sifat kimia tanah pada masing-masing tipe vegetasi mangrove Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang terdapat pada Lampiran 10.
Produksi Serasah pada Masing-masing Tipe Vegetasi Mangrove Dominan
Hasil rata-rata produksi serasah pada masing-masing tipe vegetasi mangrove Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang disajikan pada Gambar 2. Total rata-rata produksi serasah vegetasi mangrove di lokasi studi sebesar 10,02 ton/ha/tahun. Sedangkan rata-rata produksi serasah untuk masing-masing vegetasi dominan ialah Sonneratia sebesar 18,38 ton/ha/tahun, Bruguiera sebesar 10,14 ton/ha/tahun, Avicennia sebesar 6,96 ton/ha/tahun, dan Rhizophora sebesar 4,61 ton/ha/tahun.
Secara umum faktor produktifitas serasah dipengaruhi oleh kerapatan pohon, perubahan musim, jenis mangrove, umur dan kecepatan angin. Menurut Rahajoe dan Alhamd (2013) produksi serasah akan meningkat secara perlahan pada pertengahan musim kemarau dan akan cenderung meningkat pada awal musim hujan. Tingginya produksi serasah juga dipengaruhi oleh jenis mangrove dan umurnya. Jenis mangrove yang berbeda akan memiliki laju produksi guguran serasah yang berbeda pula (Zamroni dan Rohyani, 2008).
Menurut Kusmana et al. (2000), salah satu faktor yang mempengaruhi besarnya produksi serasah adalah besarnya diameter atau ukuran pohon mangrove. Diduga tingginya produksi serasah Sonneratia dibandingkan dengan vegetasi mangrove dominan yang lain karena di lokasi studi Sonneratia memiliki ukuran individu yang lebih besar, hal ini mengindikasikan tingkat penutupan tajuk yang juga lebih besar. Organ buah Sonneratia juga memiliki ukuran yang lebih besar bila dibandingkan dengan vegetasi mangrove dominan yang lain. Selain itu saat dilakukan proses pengumpulan serasah, jenis Sonneratia dan Bruguiera sedang dalam masa berbuah sedangkan Avicennia dan Rhizophora belum memasuki masa berbuah.
9
Faktor lainnya ialah lokasi Sonneratia lebih terbuka dan berhadapan langsung dengan Laut Jawa sehingga mendapat pengaruh angin yang lebih besar dan juga pengaruh pasang surut yang lebih besar dibandingkan dengan lokasi vegetasi mangrove dominan yang lain. Pengaruh pasang surut yang lebih baik akan menghasilkan pertumbuhan mangrove yang lebih baik sehingga jumlah serasah yang dihasilkan juga labih banyak.
Selama proses pengumpulan serasah, didapat serasah yang memiliki kontribusi lebih tinggi adalah daun (Lampiran 5). Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Mahmudi et al. (2008) dimana sumbangan serasah mangrove yang paling banyak adalah berasal dari daun yaitu berkisar antara (69,08%-93,06%) dari total, atau rata-rata (80,96%). Bentuk adaptasi tumbuhan mangrovelah yang menyebabkan kontribusi daun terhadap produktifitas serasah tinggi, dimana mangrove beradaptasi untuk mengurangi kehilangan air agar dapat bertahan hidup pada kondisi kadar garam tinggi. Clough (1982 dalam Onrizal, 2005), menjelaskan ada 4 cara mangrove untuk bertahan terhadap air garam: (1) kapasitas akar untuk melawan NaCl yang berbeda, (2) Mangrove menghindari penyerapan garam berlebihan dengan cara menyaring melalui bagian akarnya, (3) Secepatnya mengeluarkan garam yang masuk ke dalam sistem pepohonan melalui daun, (4) Menumpuk kelebihan garam pada kulit pohon dan daun tua lalu segera digugurkan. Selanjutnya Clough (1982 dalam Onrizal, 2005), menjelaskan persentase guguran serasah daun berkorelasi positif dengan salinitas perairan ekosistem mangrove, semakin tinggi salinitas perairan maka semakin tinggi pula produksi serasah mangrove.
Apabila dibandingkan dengan produksi serasah mangrove di beberapa lokasi penelitian lain seperti Perairan Teluk Moramo, Kabupaten Konawe Selatan, perairan Pantai Teluk Sepi, Lombok Barat, dan Hutan Mangrove Reboisasi Kawasan Nguling, Pasuruan, maka produksi serasah mangrove Rhizophora di lokasi penelitian ini lebih kecil. Akan tetapi produksi serasah mangrove
Sonneratia di lokasi penelitian ini lebih besar. Perbandingan jumlah produksi serasah mangrove di berbagai lokasi penelitian disajikan pada Tabel 2.
Gambar 2. Rata-rata Produksi Serasah di Masing-masing Tipe Vegetasi Mangrove Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang.
10
Kadar C-organik Serasah pada
Masing-masing tipe Vegetasi Mangrove Dominan
Kadar C-organik serasah (daun dan buah) di masing-masing tipe vegetasi mangrove di lokasi studi disajikan pada Gambar 3. Serasah dibedakan menjadi daun dan buah saja karena pada proses pengumpulan serasah, daun dan buah memiliki perbedaan berat basah yang nyata bila dibandingkan dengan bunga dan ranting. Dari Gambar 3 terlihat bahwa hanya jenis Sonneratia dan Bruguiera saja yang memiliki buah. Hal tersebut dikarenakan saat proses pengumpulan serasah, jenis Sonneratia dan Bruguiera sedang dalam masa berbuah, sedangkan Avicennia
dan Rhizophora belum memasuki masa berbuah.
Nilai rata-rata kadar C-organik serasah tertinggi terdapat pada tipe vegetasi
Avicennia yaitu sebesar 31,97% pada daun. Tipe vegetasi lainya yaitu Bruguiera, memiliki kadar C-organik pada daun sebesar 27,48% dan pada buah sebesar 24,78%, Rhizophora memiliki kadar C-organik pada daun sebesar 27,96%, sedangkan Sonneratia memiliki kadar C-organik pada daun sebesar 26,28% dan pada buah sebesar 32,20% (lampiran 4).
Menurut Brown (1997) bahwa 45% sampai 50% bahan kering tanaman terdiri dari kandungan karbon. Berdasarkan hasil penelitian di hutan mangrove reboisasi kadar C-organik serasah yang diperoleh sebesar 36,7% (Mahmudi et al.
2008).
Tabel 2 Perbandingan Jumlah Produksi Serasah Mangrove di Lokasi Penelitian dengan Jumlah Produksi Serasah Mangrove di Beberapa Lokasi Lain
Lokasi Vegetasi Produksi serasah mangrove (ton/ha/tahun) Sumber Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang Sonneratia 18,38 Penelitian Bruguiera 10,14 Avicennia 6,96 Rhizophora 4,61 Kawasan Hutan Mangrove Blanakan,
Subang, Jawa Barat
Rhizophora 4,95 (Siarudin dan Encep
2008) Avicennia 6,51 Perairan Teluk Moramo Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan Rhizophora 6,7 (Sa’ban et al. 2013) Sonneratia 3,45
Perairan Pantai Teluk Sepi, Lombok Barat
Rhizophora 8,13 (Zamroni dan Rohyani,
2008)
Sonneratia 1,75
Hutan Mangrove Reboisasi Kawasan Nguling, Pasuruan.
11
Gambar 3. Kadar C-organik Serasah (daun dan buah) di Masing-masing Tipe Vegetasi Mangrove Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang
Kadar Bahan Organik Tanah
di bawah Masing-masing Tipe Vegetasi Mangrove
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar C-organik tanah lapisan atas di bawah vegetasi Bruguiera lebih tinggi dibandingkan kadar C-organik tanah di bawah vegetasi Rhizophora, Avicennia,dan Sonneratia yaitu sebesar 4,61%. Sedangkan kadar C-organik tanah lapisan bawah di bawah vegetasi Bruguiera
lebih rendah dibandingkan kadar C-organik tanah di bawah vegetasi mangrove lainnya. Hasil analisis C-organik tanah setiap lapisan di bawah masing-masing vegetasi mangrove Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang disajikan pada Gambar 4.
Gambar 4. Kadar C-organik setiap Lapisan Tanah di bawah Masing-masing Tipe Vegetasi Mangrove Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang 31,97 27,48 27,96 26,24 24,78 32,20 0 5 10 15 20 25 30 35 Daun Avicennia Daun Bruguiera Buah Bruguiera Daun Rhizophora Daun Sonneratia Buah Sonneratia K a d a r C -o rg a n ik Sera sa h ( %)
Avicennia Bruguiera Rhizophora Sonneratia
lapisan 1 2,60 4,61 2,76 2,62 lapisan 2 1,02 0,97 1,46 2,25 0 1 2 3 4 5 K ada r C -or g ani k ( % )
12
Tingginya kadar C-organik tanah pada lokasi Bruguiera diduga karena pada lokasi tersebut agak tergenang air (macak-macak), dimana proses dekomposisi bahan organik akan lebih cepat pada kondisi aerob. Latter et al.
(1998) menyatakan bahwa laju dekomposisi menurun selama periode tergenang (sebabnya anaerobik) begitu juga sebaliknya. Sedangkan pada lokasi Rhizophora
dan Sonneratia proses penggenangan dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
Sonneratia memperoleh pengaruh pasang surut lebih besar dibandingkan dengan
Rhizophora. Hal tersebut karena letak lokasi Sonneratia lebih dekat dengan Sungai Ciasem, dan Laut Jawa sehingga pengaruh sedimentasi lebih besar. Diduga proses pasang surutlah yang menyebabkan tingginya kadar C-organik di lapisan atas dan lapisan bawah pada lokasi Sonneratia.
Pada lokasi Avicennia lama penggenangan dipengaruhi oleh tambak tumpang sari di sekitarnya. Semakin lama waktu panen tambak maka semakin lama pula lokasi Avicennia tergenang. Secara rata-rata, panen tambak dilakukan setelah 3-4 bulan. Waktu yang panjang tersebut menyebabkan cukup lama tanah di lokasi Avicennia jenuh air dan mengakibatkan proses dekomposisi berjalan lambat, sehingga Avicennia memiliki kadar C-organik tanah paling kecil. Terlihat pada Gambar 6. terdapat petakan-petakan yang ditumbuhi oleh mangrove dan dikelilingi oleh parit yang telah dijadikan tambak.
Hasil analisis kadar C-organik tanah di lokasi penelitian lebih tinggi bila dibandingkan dengan kadar C-organik di lokasi BKPH Ciasem, KPH Purwakarta, Jawa Barat sebesar 2,28%-3,87% (Dharmawan dan Siregar 2008), Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes sebesar 1,68%-3,59%, dan Desa Muarareja, Kabupaten Tegal sebesar 1,37%-2,84% (Poedjirahajoe, 2007). Namun hasil analisis kadar C-organik tanah di lokasi penelitian lebih kecil dibandingkan dengan kadar C-organik di lokasi Rehabilitasi Mangrove Tanjung Pasir, Tanggerang sebesar 2,31 %-7,09% (Kusumahadi 2008), dan Desa Pasar Banggi, Kabupaten Rembang sebesar 4,96%-19,08% (Kushartono 2009).
Secara umum faktor yang mempengaruhi kadar bahan organik tanah adalah kedalaman tanah, tekstur tanah dan drainase. Kedalaman lapisan menentukan kadar bahan organik. Dari hasil analisis sampel tanah pada masing-masing vegetasi mangrove tanah lapisan atas memiliki persentase C-organik lebih tinggi dibandingkan tanah lapisan bawah (Lampiran 9). Hal ini sesuai dengan pendapat Allen et al. (1974) yang mengatakan bahwa serasah (reruntuhan daun, dahan, ranting) yang mengalami proses dekomposisi hanya terjadi pada bagian permukaan tanah, sedangkan pada kedalaman lebih dari 20 cm pengaruh dari proses ini tidak nyata.
13
Tekstur tanah cukup berperan dalam ketersediaan kadar bahan organik di dalam tanah, pada umumnya makin tinggi jumlah klei maka makin tinggi pula kadar bahan organik tanah bila kondisi lainnya sama. Klei merupakan komponen pengikat yang paling dominan (Pujiyanto et al., 2003) lebih dari 90 % bahan organik berikatan dengan partikel klei. Tanah berpasir memungkinkan oksidasi yang baik, sehingga bahan organik cepat habis. Tesktur tanah di lokasi penelitian per lapisan tanah sebagian besar adalah klei. Persentasi klei berkisar antara 70,22%-83,36%, debu antara 16,16%-28,94%, pasir antara 0,48%-1,41%. Gambar 7 menunjukan bahwa kadar C-organik tanah di lokasi studi tidak berkorelasi dengan kadar klei tanah. Tingginya bahan organik tanah di lokasi studi tidak berhubungan dengan kadar klei tanah.
Gambar 5. Peta Sebaran Vegetasi Dominan dan Titik Pengambilan Sempel, Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang (Rachmawati 2012)
14
Tingkat rasio C/N juga dapat mempengaruhi kandungan bahan organik tanah khususnya C-organik. Pada lokasi penelitian nisbah C/N tanah berkisar antara 6,63-11,08 di lapisan atas dan 5,75-8,11 di lapisan bawah. Selain itu nisbah C/N dapat digunakan sebagai petunjuk kemungkinan terjadinya kekurangan nitrogen dan persaingan di antara mikroba-mikroba dan tanaman tingkat tinggi dalam penggunaan nitrogen yang tersedia dalam tanah. Ratio C/N yang rendah mengindikasikan bahwa tanah tersebut memiliki kandungan nitrogen yang lebih banyak, sedangkan ratio C/N yang tinggi menunjukkan kandungan nitrogen yang rendah (Sugirahayu dan Rusdiana 2011).
(a)
(b)
Gambar 6. Regresi Kadar C-organik Tanah dengan Kadar Klei Tanah pada Masing-masing Tipe Vegetasi Mangrove Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang: (a) Lapisan Atas, (b) Lapisan Bawah
15
Turnover Bahan Organik Tanah
Perbandingan C-organik tanah terhadap produksi C-organik serasah dan lama turnover bahan organik tanah pada masing-masing tipe vegetasi mangrove dominan dapat dilihat pada Tabel 3. Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa total C-organik tanah per hektar pada masing-masing mangrove hampir tidak jauh berbeda. Tanah di lokasi penelitian yang terdapat dalam satu ekosistem terbentuk oleh faktor-faktor pembentuk tanah yang juga sama, sehingga sifat fisik dan kimia tanah yang dimiliki hampir serupa pula (Lampiran 10). Kemampuan tanah dalam menjerap atau mengikat bahan organik cenderung mencapai suatu batas maksimum, sehingga cepat atau lambat akan jenuh (Sudarsono, 1991). Ketika mendapatkan suplai bahan organik, tanah yang sudah pada batas maksimum akan melepaskan keluar C-organik ke atmosfer. Akibatnya, tanah di lokasi penelitian yang sudah hampir jenuh tersebut memiliki nilai total C-organik tanah per hektar yang hampir sama meskipun pada vegetasi yang berbeda.
Total C-organik serasah ton/hektar/tahun dipengaruhi oleh produksi serasah dan kadar C-organiknya, namun yang memiliki peranan paling besar dalam penelitian ini adalah produksi serasah. Sebagai contoh pada jenis Avicennia yang memiliki kadar C-organik serasah tertinggi bila dibandingkan dengan vegetasi mangrove dominan lain, tetapi memiliki produksi serasah yang rendah maka total C-organik serasahnya pun rendah. Sebaliknya, pada jenis Sonneratia walaupun memiliki kadar C-organik serasah rendah akan tetapi dengan produksi serasah yang tinggi yang disumbang dari daun dan buah maka total C-organik serasahnya juga tinggi.
Turnover bahan organik tanah adalah parameter untuk mengetahui berapa lama bahan organik tanah dapat bertahan dalam tanah sebelum diemisikan ke udara dalam bentuk CO2. Cepat atau lamanya turnover bahan organik di dalam tanah dipengaruhi oleh ekosistem atau jenis tanaman. Sebagai contoh. pada ekosistem hutan memiliki turnover sekitar 22 tahun, sedangkan ekosistem pastura memiliki turnover bahan organik sekitar 38 tahun (Six dan Jastrow 2002). Ekosistem yang sama belum tentu menunjukkan turnover bahan organik tanah yang sama pula. Pada ekosistem mangrove memiliki turnover bahan organik yang berbeda-beda, hal tersebut dipengaruhi oleh jenis tanaman.
Tabel 3. Perbandingan C-organik Tanah terhadap Produksi C-organik Serasah dan Lama Turnover Bahan Organik Tanah pada Masing-masing Tipe Vegetasi Mangrove Dominan
Tipe vegetasi mangrove
Total C-organik Tanah (ton/ha)
Total C-organik Serasah (ton/ha/tahun) Turnover (tahun) Avicennia 59,38 2,23 27 Bruguiera 67,25 2,81 24 Rhizophora 61,75 1,29 48 Sonneratia 63,50 4,75 13
16
Turnover bahan organik tanah diperoleh dengan cara membandingkan jumlah C-organik dalam tanah terhadap jumlah C-organik yang diproduksi dari serasah.. Hasil analisis turnover bahan organik tanah ekosistem mangrove pada beberapa vegetasi dominan menunjukkan Sonneratia memiliki turnover tercepat jika dibandingkan dengan jenis vegetasi mangrove lainnya (Tabel 3). Lama turnover dari vegetasi mangrove Sonneratia sekitar 13 tahun, sedangkan untuk vegetasi mangrove Bruguiera sekitar 24 tahun, Avicennia sekitar 27 tahun, dan
Rhizophora sekitar 48 tahun. Semakin lama turnover bahan organik tanah semakin baik untuk lingkungan.
Vegetasi Rhizophora, memiliki turnover terlama karena jenis vegetasi ini memiliki sumbangan C-organik dari serasah terkecil dan laju dekomposisi lebih lama bila dibandingan dengan vegetasi mangrove yang lain. Menurut (Ardi 1996) laju dekomposisi Rhizophora lebih lama bila dibandingkan dengan Avicennia
karena Rhizophora memiliki daun yang lebih tebal, kutikula tebal, mempunyai lapisan lilin dan memiliki kandungan tanin lebih banyak. Menurut Waksman (1957), serasah yang banyak mengandung tanin, lignin, dan lilin akan lebih lama terdekomposisi. Vegetasi Sonneratia memiliki turnover tercepat karena jenis vegetasi ini memiliki sumbangan C-organik dari serasah terbesar, ukuran daun lebih kecil dan halus serta buah yang banyak mengandung air, sehingga serasah tersebut lebih cepat membusuk dan terurai. Menurut Abdul (2003), kandungan tanin serasah vegetasi Avicennia lebih rendah dibanding serasah Rhizophora dan
Sonneratia. Namun pada lokasi penelitian, vegetasi Avicennia lebih dipengaruhi penggenangan tambak tumpangsari di sekitarnya sehingga laju dekomposisinya lama yang mengakibatkan turnover juga lama. Kandungan tanin pada daun
Avicennia, Rhizophora dan Sonneratia disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Komposisi Daun Avicennia, Rhizophora dan Sonneratia
vegetasi komposisi Daun *kadar tanin (%) **Zn-total (ppm) **Cu-total (ppm) **Pb-total (ppm) Avicennia 0,436 50,15 8,45 54,31 Rhizophora 1,667 47,86 2,07 67,71 Sonneratia 1,796 67,45 2,57 85,48 Keterangan: * : sumber Abdul (2003)
17
KESIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi serasah rata-rata vegetasi mangrove Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten sebesar 10,02 ton/ha/tahun. Sedangkan rata-rata untuk masing-masing vegetasi dominan ialah
Sonneratia sebesar 18,38 ton/ha/tahun, Bruguiera sebesar 10,14 ton/ha/tahun,
Avicennia sebesar 6,96 ton/ha/tahun, dan Rhizophora sebesar 4,61 ton/ha/tahun. Vegetasi Bruguiera mempunyai kadar C-organik tanah pada setiap kedalaman sampel tanah lebih tinggi dibandingkan kadar C-organik tanah pada vegetasi
Rhizophora, Avicennia, dan Sonneratia, yaitu sekitar 4,61%. Kadar C-organik tanah per hetar pada kedalaman 0-50 cm pada masing-masing vegetasi mangrove dominan berkisar antara 59,38 ton/ha-67,25 ton/ha. Produksi C-organik serasah berkisar antara 1,29 ton/ha/tahun-4,75 ton/ha/tahun. Turnover bahan organik tanah ekosistem mangrove pada beberapa vegetasi dominan menunjukkan Sonneratia
memiliki turnover tercepat jika dibandingkan dengan jenis vegetasi mangrove lainya. Lama turnover dari vegetasi mangrove Sonneratia sekitar 13 tahun, sedangkan untuk vegetasi mangrove Bruguiera sekitar 24 tahun, Avicennia sekitar 27 tahun, dan Rhizophora sekitar 48 tahun.
18