Budidaya Sapi Potong
Dalam menjalankan usaha ternak, terdapat beberapa tahapan budidaya yang dijalankan. Tahapan budidaya sapi terdiri atas persiapan, pemeliharaan, dan hasil. Ketersediaan lahan sangat penting untuk lokasi kandang yang akan dipersiapkan dalam menjalankan usaha ternak ini. Selanjutnya, tahapan pemeliharaan yang meliputi penggunaan input usaha dan terakhir, hasil (output) berupa anakan sapi dan limbah.
1. Ketersediaan lahan dan perkandangan
Seluruh peternak di kelompok ternak Tanjung Lurah memiliki lahan sendiri tetapi cenderung tidak memiliki lahan yang luas untuk melaksanakan usaha ternak sapi mereka. Aktifitas pencarian pakan rumput, dilakukan di lahan masing-masing dan pada lahan kelompok. Peternak menggunakan lahan sendiri sekitar tempat tinggal untuk menjalankan usahanya. Oleh karena itu, mereka tidak membayar untuk membayar sewa lahan.
Sistem pemeliharaan yang dilakukan oleh masing-masing anggota kelompok ternak Tanjung Lurah adalah sistem intensif. Sapi dikandangkan terus menerus sepanjang hari. Kandang yang dibangun berfungsi untuk melindungi ternak sapi dari terik sinar matahari, angin, hujan, pengaruh buruk lingkungan dan juga berfungsi sebagai tempat istirahat. Bahan pembuatan kandang sangat berpengaruh terhadap kesehatan ternak. Kandang sapi yang dimiliki anggota dibuat permanen dengan lantai dari semen. Pembuatan lantai kandang dibuat miring beberapa derajat agar limbah dan sisa makanan langsung mengalir ke tempat penampungan yang sudah dibuat oleh peternak. Dinding kandang terbuat dari kayu pada peternak skala kecil, sedangkan pada peternak skala besar menggunakan beton. Untuk bahan pembuatan atap kandang memakai seng dan daun kelapa.
Kegiatan pembersihan kandang dan ternak perlu dilakukan secara rutin. Tujuannya untuk mencegah penyakit yang salah satunya datang dari keadaan kandang atau ternak yang kotor. Penyakit yang menyerang ternak sapi dapat merugikan peternak baik dari kesehatan maupun pendapatan.
Tabel 9 Rata-rata luas lahan dan kandang yang digunakan peternak Kelompok Ternak Tanjung Lurah tahun 2013
Uraian Skala kecil Skala besar
Lahan milik sendiri (m2) 503.33 2 500
Lahan usaha ternak (m2) 52.22 2 300
Lahan usaha non ternak (m2) 131.67 0
Rumah (m2) 171.67 200
Kandang (m2) 19.22 300
Berdasarkan Tabel 9, peternak skala kecil memiliki rata-rata lahan milik sendiri sebesar 503.33 m2, untuk usaha ternak sebesar 52.22 m2, dan sisanya digunakan untuk rumah dan lahan usaha non ternak. Sedangkan peternak skala besar, rata-rata lahan milik sendiri sebesar 2 500 m2 dan untuk usaha ternak sebesar 2 300 m2.
2. Bakalan sapi
Kelompok ternak Tanjung Lurah, pada tahun 2010 mendapatkan bantuan sapi sebanyak 42 ekor dengan umur 2 tahun. Setiap anggota pada kelompok ini berhak mendapatkan indukan sapi. Namun, tidak semua anggota kelompok bersedia untuk menjalankan usaha ternak ini. Hanya 10 orang anggota kelompok dan 6 anggota lainnya hanya ikut berpartisipasi dalam kelompok. Adapun pembagian indukan sapi tersebut adalah masing-masing 1 ekor untuk setiap anggota, sedangkan sisanya dikelola oleh ketua kelompok. Ketua kelompok, yaitu Bapak Yon bisa mengelola sisa indukan sapi yang berjumlah 33 ekor indukan sapi karena memiliki ilmu yang cukup untuk menjalankan usaha ternak sapi.
3. Pemberian Pakan
Pemberian pakan merupakan salah satu aspek teknis yang diberikan dari kelompok kepada anggotanya. Jenis pakan yang diberikan yaitu pakan rumput, konsentrat (kulit kakao dan kulit ubi), dan mineral. Adapun untuk rincian jumlah pemberian pakan rumput untuk indukan sapi sebanyak 1 kg/hari/ekor dan untuk anak sapi sebanyak 0.5 kg/hari/ekor. Kemudian untuk pemberian pakan berupa konsentrat, yaitu kulit kakao atau kulit ubi masing-masing sebanyak 2 kg/hari/ekor untuk indukan sapi dan 1 kg/hari/ekor untuk anakan. Selanjutnya, pemberian pakan berupa mineral sebanyak 1 kg/hari/ekor untuk indukan sapi dan 0.5 kg/hari/ekor untuk anakan. Ketiga jenis pakan ini dicampurkan sekaligus dalam setiap periode pemberian pakan.
Jenis dan jumlah rata-rata pemberian pakan ternak sapi dapat dilihat pada lampiran 3. Pada peternak skala kecil rata-rata pemberian pakan rumput 1.44 kg/hari; konsentrat kulit kakao 2.89 kg/hari; konsentrat kulit ubi 2.89 kg/hari; dan mineral 1.44 kg/hari dengan rata-rata biaya Rp 0 untuk pakan rumput; Rp 472.22/kg untuk pakan konsentrat kulit kakao; Rp 388.89/kg untuk pakan konsentrat kulit ubi; dan Rp 8 416.67/kg untuk pakan mineral. Sedangkan untuk peternak skala besar, pakan rumput 40 kg/hari; konsentrat kulit kakao 66 kg/hari; kulit ubi 66 kg/hari; dan mineral 40 kg/hari dengan rata-rata biaya Rp 0 untuk pakan rumput; Rp 100/kg untuk pakan konsentrat kulit kakao; Rp 100/kg untuk pakan konsentrat kulit ubi; dan Rp 5 000/kg untuk pakan mineral.
Tabel 10 Rata-rata jumlah pemberian dan jenis pakan ternak sapi pada peternak Kelompok Ternak Tanjung Lurah tahun 2013 (kg/tahun/ST)
Uraian Skala kecil Skala besar
Rumput 493.33 394.52 Konsentrat Kulit kakao 986.67 650.96 Kulit ubi 986.67 650.96 Mineral 493.33 394.52 Total 2960.00 2090.96
Rata-rata jumlah pemberian pakan rumput pada peternak skala kecil dalam satuan kg/tahun/ST yaitu 493.33. Konsentrat yang terdiri dari 2 macam yaitu kulit kakao dan kulit ubi masing-masing sebanyak 986.67 kg/tahun/ST. Sedangkan mineral sebanyak 493.33 kg/tahun/ST. Pada peternak skala besar, rata-rata banyak pemberian pakan rumput, pakan konsentrat (kulit ubi dan kulit kakao), dan mineral masing-masing sebanyak 394.52 kg/tahun/ST ; 650.96 kg/tahun/ST ; 650.96 kg/tahun/ST ; 394.52 kg/tahun/ST (Tabel 10).
4. Pemberian Obat-obatan
Jenis dan jumlah pemberian obat-obatan terhadap ternak sapi masing- masing anggota termasuk salah satu aspek teknis yang diberikan dari kelompok ternak Tanjung Lurah kepada anggotanya. Obat-obatan yang diberikan ke ternak sapi anggota kelompok yaitu obat cacing, dalam bentuk vitamin cair, dan dalam bentuk vitamin kapsul. Pemberian obat-obatan ini berfungsi untuk pencegahan
terhadap penyakit pada ternak sapi, pemacu untuk pertumbuhan ternak sapi, dan penambah nafsu makan ternak sapi. Pemberian dan takaran dosis dari masing- masing obat-obatan tersebut yaitu: pertama, pemberian obat cacing diberikan sekali dalam 3 bulan dan jumlah pemberian 1 butir setiap 100 kg berat badan sapi. Kedua, dosis obat-obatan jenis vitamin cair diberikan sebanyak 10 ml setiap 200 kg berat badan untuk indukan sapi dan 1 ml setiap 10 kg berat badan sapi untuk anakan sapi, periode pemberian obat-obatan ini rutin 1 kali sebulan. Ketiga, pemberian obat-obatan jenis vitamin kapsul sebanyak 1 butir per ekor sapi, diberikan rutin 1 kali sebulan.
Jenis dan jumlah rata-rata pemberian obat-obatan ternak sapi dapat dilihat pada lampiran 4. Pada peternak skala kecil, pemberian obat-obatan jenis obat cacing 2.56 butir/bulan; vitamin cair 43.89 ml/bulan; dan vitamin kapsul 1.89 butir/bulan. Untuk peternak skala besar, pemberian obat-obatan jenis obat cacing 91 butir/bulan; dalam bentuk vitamin cair 1 340 ml/bulan; dan dalam bentuk vitamin kapsul 53 butir/bulan. Rata-rata biaya yang dikeluarkan masing-masing sebesar Rp 6 000/butir untuk obat cacing, Rp 580/ml untuk vitamin cair, dan Rp 300/butir untuk vitamin kapsul.
Tabel 11 Rata-rata jumlah pemberian dan jenis obat-obatan ternak sapi per satuan ternak pada peternak Kelompok Ternak Tanjung Lurah tahun 2013
Uraian Skala kecil Skala besar
Obat cacing (butir/tahun) 26.49 29.92
Vitamin cair (ml/tahun) 486.58 440.55
Vitamin kapsul (butir/tahun) 20.44 17.42
Berdasarkan Tabel 11, diketahui rata-rata jumlah pemberian obat-obatan pada peternak skala kecil yaitu obat cacing 26.49 butir/tahun/ST ; vitamin cair 486.58 ml/tahun/ST ; dan vitamin kapsul 20.44 butir/tahun/ST. Peternak skala besar dengan rata-rata jumlah pemberian obat obatan yaitu obat caing 29.92 butir/tahun/ST ; vitamin cair 440.55 ml/tahun/ST ; dan vitamin kapsul 17.42 butir/tahun/ST.
5. Tenaga Kerja
Secara umum tenaga kerja yang digunakan oleh anggota kelompok pada masing-masing usahanya dibedakan atas tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Semua anggota kelompok yang termasuk dalam kategori peternak skala kecil menggunakan tenaga kerja dalam keluarga, sedangkan, peternak skala besar mempekerjakan tenaga kerja luar keluarga. Jenis pekerjaan yang dilakukan peternak setiap hari adalah mencari pakan hijauan (rumput), memberikan pakan,, memberikan air minum, membersihkan sapi dan kandang.
Tenaga kerja luar keluarga pada peternak skala besar bekerja pada pukul 08.00-16.00 WIB dengan upah Rp 50 000 /hari/orang. Mempekerjakan sebanyak 3 orang pekerja, dengan mencakup semua kegiatan-kegiatan pekerjaan tenaga kerja dalam usaha ternak sapi. Adapun untuk TKDK umumnya merupakan biaya
yang tidak diperhitungkan dalam pendapatan peternak. Sehingga untuk mengetahui biaya TKDK, digunakan asumsi jika ada disekitar daerah objek penelitian yang menggunakan tenaga kerja upahan, maka upah untuk biaya TKDK disamakan dengan upah tenaga kerja upahan tersebut. Jika tidak ada, dipakai upah minimum regional (UMR) daerah setempat. Jadi, karena di sekitar daerah objek penelitian ada yang memakai tenaga kerja upahan yaitu dengan upah Rp 50.000/hari/orang, maka di perhitungan biaya TKDK juga dipakai upah tersebut. Tabel 12 Rata-rata penggunaan tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja
luar keluarga (HOK/tahun/ST) pada peternak Kelompok Ternak Tanjung Lurah tahun 2013
Uraian
Skala kecil Skala besar
TKDK TKLK TKDK TKLK P W P W P W P W Pakan hijauan 45.57 52.50 0 0 2.40 0 7.19 0 Pemberian pakan 16.67 23.14 0 0 1.80 0 3.60 0 Pemberian obat-obatan 0.16 0.19 0 0 0.10 0 3.60 0 Pembersihan kandang 15.43 17.50 0 0 1.10 0 7.19 0 Pembersihan ternak 16.96 11.67 0 0 1.80 0 7.19 0 Total 94.79 105 0 0 7.19 0 28.77 0
Total rata-rata penggunaan TKDK pria pada peternak skala kecil sebesar 94.79 HOK/tahun/ST dan TKDK wanita sebesar 105 HOK/tahun/ST. Berikutnya, untuk penggunaan TKLK sebesar 0. Ini berarti pada peternak skala kecil tidak menggunakan tenaga kerja upahan. Total rata-rata penggunaan TKDK pria pada peternak skala besar sebesar 7.19 HOK/tahun/ST, sedangkan untuk penggunaan TKLK pria sebesar 28.77 HOK/tahun/ST. Jadi, penggunaan tenaga kerja terbesar pada usaha ternak responden yaitu pencarian pakan hijauan, sedangkan penggunaan tenaga kerja terkecil yaitu pemberian obat-obatan (Tabel 12).
6. Penyusutan kandang dan peralatan
Salah satu sarana produksi yang digunakan dalam kegiatan usaha responden peternak adalah kandang dan peralatan. Kandang berfungsi sebagai melindungi ternak dan menghindari ternak dari penyakit, sedangkan peralatan berfungsi sebagai sarana dalam semua kegiatan usaha ternak. Peralatan yang digunakan oleh peternak masing-masing yaitu: cangkul, garpu besi dan sekop untuk membersihkan dan mengumpulkan kotoran sapi; arit dan golok untuk memangkas rumput sebagai pakan ternak hijauan; gerobak untuk mengangkat kotoran sapi ke tempat pengumpulan kotoran; selang dan ember makan untuk pemberian pakan dan pemberian minum untuk ternak sapi; sikat dan sapu lidi untuk membersihkan ternak sapi dan kandang; timbangan untuk menimbang olahan kotoran sapi yang telah menjadi pupuk; mobil pick up dan motor untuk pengangkutan segala jenis kegiatan kelompok ternak Tanjung Lurah.
Lampiran 5 menjelaskan, pada peternak skala kecil total rata-rata nilai penyusutan kandang dan peralatannya sebesar Rp 756 167.62/tahun/ST, sedangkan peternak skala besar Rp 797 893.37/tahun/ST. Nilai penyusutan
kandang dan peralatan kategori peternak skala besar lebih besar dibandingkan dengan peternak skala kecil disebabkan oleh luas dan besar kandang yang dimiliki.
7. Limbah
Dalam suatu usaha peternakan pasti menghasilkan limbah, baik dalam berupa cairan (urine) maupun padat (feses) setiap harinya. Limbah ternak pada umumnya dimanfaatkan dan diolah menjadi pupuk. Limbah tersebut jika tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan polusi bagi lingkungan dan dapat menimbulkan berbagai penyakit. Hal ini dapat menjadi salah satu sumber pendapatan dari para peternak disamping penjualan hewan ternak.
Anggota kelompok ternak Tanjung Lurah, melakukan pengolahan limbah ternak tersebut. Pengolahan limbah menjadi pupuk ini dilakukan di suatu tempat milik kelompok. Penanganan limbah dilakukan oleh anggota sekali seminggu. Rata-rata jumlah limbah pada masing-masing anggota kelompok ternak Tanjung Lurah baik dari peternak skala kecil maupun skala kecil akan dijelaskan pada Tabel 13.
Tabel 13 Rata-rata jumlah limbah ternak sapi pada peternak Kelompok Ternak Tanjung Lurah tahun 2013
Uraian Skala kecil Skala besar
Jumlah limbah padat (kg/tahun/ST) 7 938.13 7 044.95 Jumlah limbah cair (liter/tahun/ST) 3 938.67 5 283.72 Jumlah limbah padat yang jadi pupuk (kg/tahun/ST) 7 938.13 7 044.95 Jumlah limbah cair yang jadi pupuk (liter/tahun/ST) 1 181.60 1 585.11 Rata-rata jumlah limbah ternak sapi peternak skala kecil jenis limbah padat sebesar 7 938.13 kg/tahun/ST, sedangkan jenis limbah cair sebesar 3 938.67 liter/tahun/ST. Jenis limbah padat sebesar 7 044.95 kg/tahun/ST dan limbah cair 5 283.72 liter/tahun/ST pada peternak besar. Komposisi limbah yang menjadi pupuk pada pengolahan limbah yang dilakukan oleh responden peternak adalah untuk limbah padat sebesar 100% dan 30% untuk limbah cair.
Kelompok ternak Tanjung Lurah ini telah menetapkan harga dan biaya pengolahan limbah. Biaya pengolahan limbah padat sebesar Rp 300/kg dan limbah cair sebesar Rp 5 000/liter. Sedangkan harga yang dipasaran sebesar limbah padat Rp 1 000/kg dan limbah cair Rp 15 000/liter. Jadi keuntungan yang didapatkan peternak anggota kelompok ternak Tanjung Lurah ini sebesar limbah padat Rp 700/kg dan limbah cair 10 000/liter.
8. Pemasaran
Responden peternak Kelompok Ternak Tanjung Lurah sudah memliki area pemasaran yang jelas dan tetap. Daerah pemasarannya meliputi Payakumbuh, Batusangkar, dan Provinsi Riau. Produk yang dipasarkan berupa sapi ternak dan pupuk. Penadah yang berasal dari daerah-daerah pemasaran langsung mendatangi lokasi.
Pemasaran sapi ternak yang dilakukan oleh kelompok ini adalah anakan sapi. Anakan sapi yang dijual rata-rata berumur 4 bulan sampai 1 tahun, tergantung kepada permintaan penadah kepada masing-masing responden peternak. Permintaan terhadap pupuk berasal dari perkebunan sawit dan kios-kios pupuk di sekitar area peternakan. Aktifitas jual beli biasanya dilakukan di lokasi peternakan, dimana konsumen langsung mendatangi peternakan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak adanya biaya transportasi yang dikeluarkan masing- masing peternak dalam proses jual beli.
9. Sistem Bagi Hasil
Sistem bagi hasil diterapkan kepada setiap anggota Kelompok Ternak Tanjung Lurah yang melakukan penjualan ternak sapi. Untuk penjualan berupa anakan sapi, dilakukan sistem bagi hasil 70:30, sedangkan untuk penjualan berupa indukan sapi sistem bagi hasil yang dilakukan 60:40. Peternak memperoleh 70% untuk penjualan anakan sapi dan 60% penjualan indukan sapi, sedangkan kelompok memperoleh masing-masing 30% penjualan anakan sapi dan 40% penjualan indukan sapi dari semua kegiatan penjualan hewan ternak sapi ini yang dilakukan masing-masing responden peternak. Keuntungan yang diperoleh kelompok ditujukan untuk kepentingan bersama anggota kelompok.
Analisis Pendapatan Usaha Ternak Sapi
Pendapatan usaha ternak sapi diperoleh dari selisih antara penerimaan dengan biaya yang dikeluarkan. Analisis pendapatan usahaternak sapi terdiri dari penerimaan tunai, biaya tunai, dan biaya diperhitungkan. Analisis pada responden peternak Kelompok Ternak Tanjung Lurah dilakukan dalam periode per tahun per satuan ternak (ST).
Penerimaan tunai terdiri dari penjualan hewan ternak anakan sapi dan penjualan limbah baik limbah padat (feses) maupun limbah cair (urin). Biaya tunai terdiri dari listrik, biaya pakan, biaya obat-obatan dan biaya tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Biaya diperhitungkan terdiri dari penyusutan kandang, penyusutan peralatan, pembebanan biaya indukan, biaya tenaga kerja dalam keluarga (TKDK), dan biaya pakan (rumput).
Struktur Biaya Usaha Ternak Sapi
Analisis biaya yang dilakukan pada responden peternak terdiri dari biaya tunai dan biaya diperhitungkan. Biaya tunai merupakan biaya yang dikeluarkan oleh peternak sedangkan biaya total adalah seluruh biaya baik yang secara tunai dikeluarkan maupun biaya yang diperhitungkan. Biaya tunai dalam analisis pada masing-masing responden peternak meliputi biaya listrik, biaya pakan yang terdiri dari : konsentrat (kulit kakao dan kulit ubi); dan mineral, obat-obatan (obat cacing, vitamin cair, dan vitamin kapsul), dan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Kemudian, biaya diperhitungkan meliputi penyusutan kandang, penyusutan peralatan, pembebanan biaya indukan, tenaga kerja dalam keluarga (TKDK), dan biaya pakan (rumput). Adapun rincian biaya rata-rata pada kegiatan usahaternak sapi yang dikeluarkan oleh peternak masing-masing anggota kelompok ternak Tanjung Lurah dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14 Rata-rata biaya kegiatan usaha ternak sapi per tahun per satuan ternak (ST) pada peternak Kelompok Ternak Tanjung Lurah tahun 2013 Uraian Rata-rata biaya (Rp) Proporsi biaya (%)
Skala kecil Skala besar Skala kecil Skala besar
Biaya tunai Listrik 194 667 49 315 1.64 0.51 Pakan konsentrat Kulit kakao 436 800 65 096 3.69 0.67 Kulit Ubi 356 267 65 096 3.01 0.67 Mineral 3 985 333 1 972 603 33.63 20.24 Obat-obatan Obat cacing 158 933 179 507 1.34 1.84 Vitamin cair 282 215 255 518 2.38 2.62 Vitamin kapsul 6 133 5 227 0.05 0.05 TKLK 0 1 078 767 0 11
Total biaya tunai 5 420 348 3 671 129 45.74 37.67
Biaya diperhitungkan
Biaya sewa lahan 44 444 2 000 000 0.38 20.52
Penyusutan kandang 232 593 328 767 1.96 3.37
Penyusutan peralatan 523 575 469 126 4.42 4.81
Pembebanan biaya indukan 3 000 000 3 000 000 25.32 30.78
TKDK 2 479 167 239 726 20.92 2.46
Biaya pakan (rumput) 149 222 37 935 1.26 0.39
Total biaya diperhitungkan 6 429 001 6 075 554 54.26 62.33
Total biaya 11 849 349 9 746 683 100.00 100.00
Proporsi biaya terhadap biaya total perlu ditentukan untuk mengetahui besar biaya yang dikeluarkan dari masing-masing aspek pada usaha ternak responden. Proporsi biaya terbesar peternak skala kecil terdapat pada biaya tunai pakan (mineral) dan biaya pembebanan indukan. Sedangkan, peternak skala besar proporsi biaya terbesar terletak pada biaya tunai pakan (mineral), biaya tunai tenaga kerja luar keluarga, biaya sewa lahan dan biaya pembebanan indukan (Tabel 14). Biaya tunai TKLK hanya dikeluarkan oleh peternak skala besar karena pada peternak skala besar mempekerjakan tenaga kerja, sedangkan peternak skala kecil dikelola sendiri oleh peternak.
Total biaya per tahun yang dikeluarkan peternak skala kecil dan peternak skala besar masing-masing sebesar Rp 11 849 349/ST dan Rp 9 746 683/ST. Total biaya ini terdiri dari total biaya tunai dan total biaya diperhitungkan. Total Biaya tunai peternak skala kecil sebesar Rp 5 420 348/ST dan peternak skala besar sebesar Rp 3 671 129/ST. Sedangkan, total biaya diperhitungkan untuk peternak skala kecil sebesar Rp 6 429 001/ST dan peternak skala besar sebesar Rp 6 075 554/ST (tabel 14).
Penerimaan Usaha Ternak Sapi
Penerimaan usahatani adalah nilai produksi atau penerimaan kotor usahatani yang dibedakan menjadi penerimaan tunai dan penerimaan tidak tunai.
Penerimaan tunai usahatani adalah nilai uang yang diterima dari usahatani. Sedangkan, penerimaan tidak tunai merupakan pendapatan bukan dalam bentuk uang yang digunakan langsung untuk kelanjutan usahatani selanjutnya.
Penerimaan tunai usaha ternak pada responden peternak kelompok ternak Tanjung Lurah bersumber dari penjualan ternak sapi dan penjualan hasil olahan limbah ternak (Lampiran 6 & Lampiran 7). Nilai penjualan ternak sapi didapat dari perkalian antara jumlah ternak sapi dengan harga jual ternak sapi per ekornya, sedangkan penjualan limbah didapatkan dari perkalian jumlah limbah yang menjadi pupuk per tahun per satuan ternak (ST) dengan harga limbah per kg atau per liter. Tabel 15 menjelaskan, rata-rata total penerimaan tunai peternak skala kecil sebesar Rp 22 727 693 tahun/ST dan pada peternak skala besar sebesar Rp 26 499 279 tahun/ST.
Tabel 15 Rata-rata penerimaan tunai per tahun per satuan ternak (ST) pada peternak Kelompok Ternak Tanjung Lurah tahun 2013
Uraian Rata-rata Penerimaan tunai (Rp)
Skala kecil Skala besar
Penjualan sapi (anak) 5 355 000 5 716 667
Penjualan limbah
1. Padat 5 556 693 4 931 467
2. Cair 11 816 000 15 851 145
Total 22 727 693 26 499 279
Indukan sapi hanya mampu melahirkan satu ekor anakan sapi dalam kurun waktu setahun. Oleh karena itu, analisis penerimaan penjualan anakan sapi hanya dihitung sekali dalam setahun per satu satuan ternak induk. Harga jual ternak sapi (anak) setelah sistem bagi hasil pada peternak skala kecil rata-rata sebesar Rp 5 355 000 dan pada peternak skala besar rata-rata sebesar Rp 5 716 666.67 (Lampiran 6). Untuk penjualan limbah, rata-rata jumlah limbah yang menjadi pupuk terdiri dari: limbah padat dan limbah cair masing-masing 7 938.13 kg/tahun/ST dan 1 181.60liter/tahun/ST. Dengan harga satuan Rp 700/kg limbah padat dan Rp 10 000/liter limbah cair (Lampiran 7).
Pendapatan Usaha Ternak dan R/C Rasio
Pendapatan usaha ternak adalah selisih antara penerimaan dengan pengeluaran dalam melakukan usaha ternak. Pendapatan usaha ternak ini merupakan salah satu indikator keberhasilan dari usaha itu sendiri. Pendapatan usaha ternak memberikan gambaran mengenai keuntungan dari kegiatan usaha ternak itu sendiri. Analisis pendapatan usaha ternak terdiri dari pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total.
Analisis R/C rasio juga digunakan dalam penelitian ini, untuk mengetahui besar penerimaan yang diperoleh peternak dari setiap biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan ternak sapi. R/C rasio juga menjadi salah satu indikator untuk melihat keberhasilan usaha ternak responden peternak anggota kelompok ternak Tanjung Lurah ini. Analisis rata-rata pendapatan responden peternak pada kelompok ternak Tanjung Lurah dapat dilihat pada Tabel 16.
Pada Tabel 16, rata-rata pendapatan pada peternak skala besar adalah total penerimaan tunai sebesar Rp 26 499 279; total biaya tunai sebesar Rp 3 671 129; total biaya diperhitungkan sebesar Rp 6 075 554; dan total biaya sebesar Rp 9 746 683 diperoleh pendapatan atas biaya tunai sebesar Rp 22 828 151 dan pendapatan atas biaya total sebesar Rp 16 752 596. Untuk rata-rata pendapatan pada peternak skala kecil rinciannya sebagai berikut: total penerimaan tunai sebesar Rp 22 727 693; total biaya tunai sebesar Rp 5 420 348; total biaya diperhitungkan sebesar Rp 6 429 001; dan total biaya sebesar Rp 11 849 349 diperoleh pendapatan atas biaya tunai sebesar Rp 17 307 345 dan pendapatan atas biaya total sebesar Rp 10 878 344.
Tabel 16 Rata-rata pendapatan peternak per tahun per satuan ternak (ST) pada peternak Kelompok Ternak Tanjung Lurah tahun 2013
Uraian Rata-rata Pendapatan (Rp)
Skala kecil Skala besar
Total penerimaan tunai 22 727 693 26 499 279
Total Biaya tunai 5 420 348 3 671 129
Total biaya diperhitungkan 6 429 001 6 075 554
Total biaya 11 849 349 9 746 683
Pendapatan atas biaya tunai 17 307 345 22 828 151
Pendapatan atas biaya total 10 878 344 16 752 596
R/C rasio atas biaya tunai 4.19 7.22
R/C rasio atas biaya total 1.92 2.72
Berdasarkan nilai R/C yang diperoleh, penerimaan terhadap biaya yang dikeluarkan oleh peternak skala besar lebih besar daripada peternak skala kecil. Nilai R/C rasio pada peternak skala besar adalah 2.72 yang artinya, dari setiap