• Tidak ada hasil yang ditemukan

Letak Geografi dan Kondisi Topografi

Kabupaten Muara Enim merupakan salah satu kabupaten agraris di Provinsi Sumatera Selatan. Secara Geografis, Kabupaten Muara Enim terletak antara 4ºsampai 6º Lintang Selatan dan 104º sampai 106º Bujur Timur, selain itu Kabupaten Muara Enim juga memiliki sumber daya alam yang cukup melimpah dengan sebagian besar wilayahnya merupakan daerah aliran sungai. Kabupaten Muara Enim juga terletak ditengah – tengah Provinsi Sumatera Selatan dengan batas-batas wilayah yakni : sebelah utara dengan Kabupaten Musi Banyuasin dan Palembang, sebelah selatan dengan Kabupaten OKU dan Ogan Komering Ulu Selatan, sebelah timur Kabupaten OKI, Ogan Ilir dan Kota Prabumulih, sebelah barat dengan Kabupaten Musi Rawas, dan Kabupaten Lahat.

Wilayah administrasi Kabupaten Muara Enim terbagi menjadi 20 kecamatan, terdiri dari 245 desa definitif dan 10 kelurahan. Ibukota terletak di Kecamatan Muara Enim. Jarak terjauh dari ibukota Kabupaten Muara Enim ke ibukota kecamatan adalah Kecamatan Muara Belida yaitu sejauh 160 km, sementara kecamatan yang terdekat adalah Kecamatan Muara Enim. Kabupaten Muara Enim terdiri dari 20 kemacatan. Kecamatan yang memiliki luas wilayah terbesar adalah Kecamatan Lubai yaitu seluas 984,72 Km² (10.80 persen) dari total luas wilayah Kabupaten Muara Enim, sedangkan kecamatan yang memiliki luas wilayah terkecil adalah Kecamatan Kelekar dengan persentase luas (1,7 persen) dari luas wilayah Kabupaten Muara Enim.

Kondisi topografi daerah cukup beragam mulai dari dataran rendah sampai dengan dataran tinggi. Daerah dataran tinggi di bagian barat daya, merupakan bagian dari rangkaian pegunungan bukit barisan. Daerah ini meliputi Kecamatan Semende Darat Laut, Semende Darat Ulu, Semende Darat Tengah dan Kecamatan Tanjung Agung. Daerah dataran rendah, berada dibagian tengah.Terus ke utara–timur laut, terdapat daerah rawa yang berhadapan langsung dengan daerah aliran sungai musi. Daerah ini meliputi Kecamatan Lembak, Gelumbang, dan Sungai Rotan. Dengan adanya keragaman topografi tersebut menimbulkan banyak terbentuknya bukti dan sungai. Sebagian besar wilayah Kabupaten Muara Enim (75,7 persen) terletak pada kemiringan lereng kurang dari 12 º dan 9,4 persen berada pada kemiringan lereng 12 º-40º dan selebihnya merupakan daerah dengan kemiringan lebih dari 40º sekitar (14 persen).

Pemanfaatan lahan di Kabupaten Muara Enim terbagi menjadi 2 kelompok besar yaitu kawasan lindung dan kawasan budidaya. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan. Kawasan ini pada dasarnya merupakan kawasan yang berdasarkan analisis daya dukung mempunyai keterbatasan untuk dikembangkan karena adanya factor-faktor limitasi yang menjadi kriteria (lereng, jenis tanah, curah hujan, ketinggian, serta zona bahaya gunung api, zona kerentanan gerakan tanah, dan zona konservasi air potensial sangat tinggi. Secara keseluruhan, pola spasial pemanfaatan ruang

kawasan lindung tersebar terutama di bagian utara dan selatan Kabupaten Muara Enim.

Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi untuk dibudidayakann atas dasar kondisi potensi sumber daya alam, manusia dan buatan. Termasuk dalam kawasan budidaya adalah kawasan pertanian, kawasan pemukiman dan industri. Pola pemanfaatan ruang kawasan budidaya secara spasial mengarah pada bagian wilayah barat-timur, mecakup wilayah yang berdasarkan analisis daya dukung lahan tergolong sangat tinggi, dan tinggi, baik untuk mengembangkan kawasan budidaya perdesaan/pertanin maupun perkotaan. Penduduk dan Tenaga Kerja

Jumlah penduduk Kabupaten Muara Enim pada tahun 2013 menurut proyeksi penduduk berjumlah 582 ribu orang. Pada tahun 2012 jumlah penduduk wilayah ini dihuni oleh 572 ribu orang. Dengan demikian selama kurun waktu 2012-2013 terjadi pertumbuhan sebesar 1,68 persen per tahun. Persebaran penduduk menurut kecamatan di wilayah Kabupaten Muara Enim tidak merata. Kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak adalah Kecamatan Muara Enim. Kecamatan tersebut dihuni oleh sekitar 67 ribu penduduk. Sementara kecamatan dengan jumlah penduduk paling sedikit adalah Kecamatan Muara Belida dengan jumlah penduduk sekitar 8 ribu orang.

Mata pencaharian merupakan faktor indikator ekonomi yang menjadi perhatian demi meningkatkan taraf hidup keluarga yang menyangkut pendapatan dan pengeluaran rumah tangga. Jumlah angkatan kerja Kabupaten Muara Enim pada tahun 2013 sebanyak 357.092 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 95,76 persen adalah mereka yang bekerja dan 4,23 persen adalah mereka yang tergolong sebagai kelompok pengangguran terbuka. Dari jumlah penduduk yang bekerja sebagian besar beraktivitas pada sektor pertanian, perkebunan, perburuan, dan perikanan (63persen); kemudian disusul oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran (14,7 persen). Selebihnya bekerja pada sektor kemasyarakatan, pertambangan, dan sektor-sektor lainnya.

Kondisi Sosial

Berbagai sarana di Kabupaten Muara Enim dibangun untuk meningkatkan taraf hidup masyarakatnya. Sarana-sarana tersebut antara lain sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana peribadatan,serta sarana sosial lainnya. Jumlah sarana pendidikan di Kabupaten Muara Enim pada semua jenjang pendidikan mengalami peningkatan. Jumlah sekolah TK sebanyak 113 dengan jumlah siswa sebanyak 2.687 orang, jumlah SD/MI sebanyak 366 dengan jumlah siswa sebanyak 78.618 orang , sedangkan pada tingkat SMP/MTs terdapat 97 sekolahdengan jumlah siswa sebanyak 29.432 orang , dan sekolah SMU/SMK/MA terdapat 44 sekolah dengan jumlah siswa sebanyak 20.946 siswa.

Tenaga pengajar memiliki peranan penting dalam pendidikan, pendidikam tidak akan berjalan tanpa adanya tenaga pengajar didalam instansi pendidikan tersebut, jumlah tenaga pengajar di Kabupaten Muara Enim juga terus mengalami peningkatan pada semua jenjang pendidikan. Jumlah guru TK pada tahun 2013 sebanyak 404 orang, menurun 13,30 persen dari tahun 2012. Guru SD/MI sebanyak 3.523 menurun 18,99 persen. Untuk jumlah guru SMP/MTs sebanyak 1.657 orang atau turun 18,61 persen dan sekolah SMU/SMK/MA terdapat 1.433

guru atau meningkat 22,92 persen dari tahun 2012. Peningkatan jumlah murid lebih besar dibandingkan peningkatan jumlah sekolah, yang ditunjukkan dengan angka rasio murid sekolah yang semakin besar angkanya pada semua jenjang pendidikan kecuali pada tingkat TK, MI, SMP dan SMK.Sedangkan penambahan jumlah guru sudah cukup baik, yaitu dengan semakin turunnya angka rasio muridguru pada hampir semua jenjang pendidikan, kecuali pada tingkat SD, SMP dan SLTA yang angka rasio murid-gurunya mengalami kenaikan dibanding tahun 2012.

Salah satu peranan pemerintah dalam pembangunan kesehatan adalah menyediakan sarana kesehatan yang dapat dijangkau oleh masyarakat luas, baik dari segi finansial maupun dari segi lokasi. Berdasarkan data statistik pada tahun 2013 di Kabupaten Muara Enim terdapat 4 buah rumah sakit, 25 unit puskesmas, 113 unit puskesmas pembantu, dan 303 poskesdes yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Muara Enim. Dengan jumlah tenaga kesehatan sebanyak 1.664 orang dengan rincian 107 dokter, 18 Apoteker, 90 Sarjana Kesehatan, 784 tenaga keperawatan, 493 Bidan, dan 172 Non Medis.

Agama mempunyai peran yang sangat penting bagi masyarakat dalam membentuk tata kelakuan sehari-hari, kehidupan bergama sangat erat kaitannya dengan adat istiadat yang terdapat di kabupaten Muara Enim.. Sebagai umat beragama maka setiap orang mempunyai pedoman hidup yang terwujud dalam kehidupan beragama. Sebagian besar masyarakat Kabupaten Muara Enim memeluk agama islam, terlihat dari banyaknya jumlah fasilitas peribadatan masjid dan mushallah yang setiap tahun mengalami peningkatan atau bertambah.Sedangkan tempat peribadatan lain seperti pura, dan gereja jumlahnya tetap. Pada tahun 2013, jumlah masjid di Kabupaten Muara Enim sebanyak 497 unit, mushallah sebanyak 202 unit, pura sebanyak 4 unit, gereja katolik sebanyak 5 unit, gereja protestan sebanyak 11 unit, dan vihara sebanyak 2 unit.

Potensi Pengembangan Wilayah

Berdasarkan data statistik Kabupaten Muara Enim tahun 2014 sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis perekonomian Kabupaten Muara Enim, disamping dibutuhkan sebagai penyedia pangan, penduduk Muara Enim juga tergantung pada sektor ini. Terbukkti dari luas wilayah Kabupaten Muara Enim 83,22 persen (760.654 Ha) merupakan lahan pertanian. Penggunaan lahan di Kabupaten Muara Enim dibedakan menjadi lahan sawah dan lahan bukan sawah. Lahan bukan sawah sendiri dibedakan menjadi lahan untuk bangunan, lading hutan, kolam, perkebunan dan lahan lainnnya. Fenomena yang terjadi menunjukkan bahwa luas lahan sawah lambat laun semakin berkurang dari tahun ketahun sejalan dengan banyaknya perubahan fungsi lahan pertanian menjadi lahan bukan pertanian. Kabupaten Muara Enim memiliki potensi yang cukup besar antara lain di bidang tamanan pangan, perkebunan, peternakan,dan perikanan

Pembangunan pertanian tanaman pangan merupakan bagian dari pembangunan ekonomi. Pembangunan dibidang ini diarahkan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani khususnya maupun masyarakat pada umumnya. Hal ini diupayakan melalui peningkatan produksi pangan baik kuantitas maupun kualitasnya. Lahan pertanian di kabupaten Muara

Enim, menghasilkan beberapa komoditas pertanian tanaman pangan seperti: padi sawah, padi ladang, palawija, hortikultura, dan lain sebagainya.

Pengelolaan tanaman pangan di Kabupaten Muaara Enimdilihat dari produktivitas belum dilakukan secara optimal oleh petani hal ini terbukti dengan menurunnya hasil produksi per hektar, dengan hasil produksi padi sawah yaitu dari 54.241,6 ton pada tahun 2012 menjadi 53.308,28 ton pada tahun 2013. Selain belum optimalnya produktivitas yang dilakukan salah satu penyebab menurunnya hasil produksi padi sawah adalah faktor perubahan musim yang tidak menentu, serta perubahan fungsi lahan, apabila dilihat berdasarkan dimana tempat padi tersebut ditanam maka hasilnya bervariasi, seperti luas panen padi sawah di Kabupaten Muara Enim pada tahun 2013 mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu sebesar 6,45 persen dibanding tahun 2012, yaitu dari 9.280 ha pada tahun 2012 turun menjadi 8.681 ha pada tahun 2013. Sebaliknya untuk padi ladang baik luas panen maupun produksinya justru mengalami peningkatan, dari dari 14.395 ha menjadi 17.957 ha atau naik sebesar 24,74. Sedangkan produksi mengalami peningkatan dari 51.398 ton menjadi 62.394 ton atau naik sekitar 21,39 persen.

Sementara itu, dari hasil produksi tanaman palawija terlihat bahwa terjadi penurunan produksi hampir seluruh tanaman palawija, kecuali kacang tanah, dikarenakan adanya penurunan luas panen. Pada komoditas hortikultura, produksi buah-buahan pada tahun 2013 sebagian besar setiap jenis komoditi mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya, namun yang paling berpotensi adalah buah pisang dan rambutan. Sementara untuk produksi sayur-sayuran sebagian besar komoditas mengalami penurunan pada tahun 2013, seperti kubis, bawang daun, kacang merah, buncis, kangkung, kacang panjang, dan cabai. Selain itu Komoditas perkebunan yang menjadi produk unggulan di Kabupaten Muara Enim adalah komoditi karet, sawit dan kopi. Namun produksi komoditas karet dan sawit pada tahun 2013 mengalami penurunan produksi dibanding tahun sebelumnya, selain itu jumlah keluarga petani ketiga komoditas tersebut mengalami penurunan menjadi 106.758 kepala keluarga.

Usaha peternakan di Kabupaten Muara Enim merupakan jenis usaha yang belum berkembang, tetapi menunjukkan prospek yang cukup baik di masa mendatang. Jenis hewan ternak yang ada di Kabupaten Muara Enim adalah sapi potong, kerbau, kuda, kambing, domba, dan unggas. Usaha ternak bagi masyarakat terbatas pada usaha sambilan, sekedar untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan untuk angkutan pertanian. Pada tahun 2013 semua jumlah ternak mengalami penurunan hal ini disebabkan karena produtivitas masyarakat belum optimal dalam melakukan kegiatan usaha ternaknya.

Perikanan merupakan salah satu aset yang dimiliki oleh Kabupaten Muara Enim karena sebagian besar wilayah ini merupakan aliran sungai, danau dan rawa lebak. Produksi perikanan pada tahun 2013 di Kabupaten Muara Enim berjumlah 8.682,92 ton yang berasal dari perairan budidaya sebesar 5.690,63 ton dan perairan umum sebesar 2.992,29 ton. Selama periode tahun 2009-2013 produksi ikan di Kabupaten Muara Enim selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya.Salah satu daerah yang memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap produksi perikannan Kabupaten Muara Enim adalah Kecamatan Sungai Rotan, produksi perikanan pada tahun 2013 ini berjumlah 456,22ton. Produksi ini berasal dari perikanan budidaya dan perairan umum, produksi perikanan budidaya

sebanyak 150,13 ton atau 22 persen dan dari perairan umum sebesar 360,09 ton atau 78 persen.

Tabel 1 Luas areal dan produksi perikanan budidaya dan perairan umum

No Urairan 2012 2013 Luas Areal (Ha)/Unit Produksi (Ton) Luas Areal (Ha)/Unit Produksi (Ton) 1 Perairan Budidaya a. Kolam b. Sawah c. Keramba 1,58 4,13 216 4,98 9,90 76,42 1,58 4,13 238 5,48 11,37 133,28 2 Perairan Umum a. Sungai b. Rawa c. Danau 3.465 2.100 187 105,34 104,16 61,81 3.465 2.100 187 119,56 119,78 66,75 Sumber data : BPS Kab Muara Enim (2014)

Kondisi Sumberdaya Perikanan Lebak Lebung

Pengelolaan sumber daya perikanan dengan sistem lelang sebenarnya menjadi beban yang cukup berat bagi masyarakat nelayan setiap tahunnya adalah semakin mahalnya nilai objek lelang hal ini disebabkan oleh setiap tahunnya terjadinya peningkatan harga standar dari objek lelang dan pembayaran harus dilakukan secara tunai saat pelelangan dan harus dibayar oleh pemenang lelang. Peningkatan harga objek lelang dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Harga standar dan hasil lelang lebak lebung Kabupaten Muara Enim

Desa Objek Lelang Harga Standar Hasil Lelang

Petar Dalam Lematang putus Kurungan betik Lebung nebengkalan 9.000.000 9.000.000 3.500.000 16.100.000 20.000.000 6.000.000 Danau Rata Lubuk dusun II Sungutan jawi Becat

Sungai lumut ilir

7.000.000 7.000.000 7.000.000 7.000.000 8.100.000 8.100.000 9.200.000 10.000.000 Sukamerindu Danau gondang Danau larangan Danau talang Sungai rotan kecik

35.000.000 15.000.000 10.000.000 2.700.000 35.500.000 20.100.000 10.000.000 3.500.000 Sumber data : Arsip Kecamatan Sungai Rotan (2014)

Tingginya harga objek perairan lebak lebung yang harus dibayar oleh masyarakat nelayan, maka nelayan akan berusaha menangkap ikan dengan semaksimal mungkin dengan menggunakan semua teknik penangkapan ikan yang mereka kuasai dan alat penangkapan ikan yang mereka miliki dengan tujuan untuk memperoleh hasil sebesar-besarnya. Pemanfaatan perairan umum umumnya dilakukan melalui kegiatan penangkapan ikan. Produksi perikanan perairan umum sebagian besar didominasi oleh produksi penangkapan. Perairan umum lebak

lebung mempunyai potensi yang kaya akan ikan. Jenis alat tangkap ikan jenis ikan tangkapan responden dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Jenis alat tangkap dan jenis ikan tangkapan yang diizinkan pada perairan umum di Kabupaten Muara Enim

Alat Tangkap Hasil Tangkapan

Jaring insang Bubu

Betok (Anabas testudineus) , siapil (Helostoma temmincki)l ,sepat siam

(trychogaster pectoralis), sepat mato abang (trychogaster trichopterus, selinca

(Polycantihus haselti), Kepras (puntioplites waandersi), Udang (macrobrachium sp), belut (monopterus sp)

Pancing

Betok (anabas testudineus), Gabus (channa striata), Lais (kryptopterus schilbeides), Baung (mystus nemurus), Lampam

(barbodes schwanenfeldii), Juaro (pangasius polyuranodon), Patin (pangasius

pangasius), Toman (Channa micropeltes), Bujuk (Channa lucius)

Rawai

Juaro (pangasius polyuranodon), Patin (pangasius pangasius), Lais (kryptopterus schilbeides), Baung (mystus nemurus), Lampam (barbodes schwanenfeldii) Tangkul

Lambak (thycnichthys polylepis), Seluang (rasbora spp), Riu-riu (pseudeutropius brachypopterus)

Langsatan

Lais (kryptopterus schilbeides), Baung (mystus nemurus), Lampam (barbodes schwanenfeldii), Toman (Channa micropeltes), Bujuk (Channa lucius), Lambak (thycnichthys polylepis), Riu-riu (pseudeutropius brachypopterus), Kepras (puntioplites waandersi)

Sumber data : Data Primer (2015)

Alat tangkap yang diizinkan oleh lembaga lebak lebung yang digunakan nelayan dalam melakukan usaha penangkapan ikan adalah jaring insang, bubu, rawai, tangkul, dan pancing, namun selain terdapat jenis alat tangkap yang dilarang namun hingga saat ini masih digunakan oleh nelayan/pengemin, yaitu langsatan (dioperasikan secara menetap). Langsatan adalah alat penangkapan ikan yang berbentuk jaring berkantong dan dioperasikan dengan metode menghadang ruaya (migrasi) ikan di perairan sungai, selain itu alat penangkapan ikan yang dilarang adalah dengan menggunakan bahan kimia, bahan peledak, dan aliran listrik/setrum.

Aktivitas penangkapan ikan yang dilakukan nelayan pengemin dengan menggunakan jenis alat tangkap yang terdapat pada tabel 3. Kegiatan penangkapan ikan yang dilakukaan nelayan pengemin lelang di perairan objek

lebak lebung pada saat musim kemarau merupakan puncaknya karena pada musim kemarau ikan terkonsentrasi pada tempat-tempat tertentu yang masih digenangi air. Aktivitas penangkapan ikan diobjek lebak lebung pada musim kemarau berdampak sangat negatif terhadap kondisi periaran dan ekosistemnya karena aktivitas penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan pengemin cenderung menghabiskan sumberdaya ikan hal ini disebabkan oleh nelayan pengemin dengan mudah menangkap ikan pada perairan objek lebak lebung , selain itu kebiasaan nelayan pengemin menangkap semua sumberdaya ikan yang ada. Nelayan akan berusaha menangkap ikan dengan segala daya upaya, menggunakan semua teknik penangkapan ikan yang mereka kuasai untuk memperoleh hasil sebesar-besarnya (Nasution, 2012)

Kesejahteraan nelayan atau pengemin lelang sangat dipengaruhi oleh kondisi perairan. hal ini disebabkan oleh jumlah produksi perikanan nelayan dipengaruhi oleh kondisi perairan. Jumlah produksi ikan hasil tangkapan nelayan akan sangat berpengaruh terhadap pendapatan yang diperoleh serta kesejahteraan nelayan. Jumlah hasil tangkapan ikan responden perbulan dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Hasil tangkapan responden dalam satu bulan di perairan umum lebak lebung Kabupaten Muara Enim

Hasil Tangkapan (kg) Jumlah (Orang) Persentase (%)

50-100 14 14,0

100-150 73 73,0

>150 13 13,0

Jumlah 100 100

Keterangan n = 100

Berdasarkan tabel 4 dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil tangkapan responden lebak lebung di Kecamatan Sungai Rotan berkisar antara 146 kg/bulan. Selain itu berdasarkan wawancara langsung terhadap responden, hasil tangkapan mereka sangat dipengaruhi oleh kondisi perairan. Perairan umum lebak lebung telah mengalami degradasi terhadap kondisi sumber daya perikanan termasuk degradasi habitat sumber daya perikanan. Degradasi sumber daya perikanan tersebut diperkuat dengan pernyataan tokoh adat (informan) yang mengemukakan bahwa beberapa jenis ikan semakin langka sudah susah untuk didapatkan bahkan jenis ikan tertentu tidak pernah didapatkan lagi dalam usaha penangkapan ikan yang dilakukan oleh masyarakat nelayan, selain itu semakin kecilnya ukuran individu ikan yang berhasil ditangkap oleh masyarakat nelayan. Responden melakukan pengolahan untuk menambah nilai tambah terhadap ikan hasil tagkapan dengan melakukan pengolahan ikan asin dan pengasapan atau sering dikenal oleh masyarakat dengan sebutan “salai”. Pengolahan ikan asin dan pengasapan ikan yang dilakukan oleh responden masih bersifat sederhana. Responden memperoleh bahan baku ikan dari hasil tangkapan sendiri kemudian diolah menjadi ikan asin dan ikan salai. Jenis ikan yang akan diolah menjadi ikan asin adalah ikan tambakan, ikan sepat siam. Selanjutnya ikan selais, ikan baung, dan ikan motan diolah menjadi ikan olahan salai.

Kelembagaan Penyuluhan Perikanan

Kelembagaan penyuluhan perikanan untuk tingkat kabupaten biasanya dinamakan sebagai Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K), yang memiliki fungsi dan tugas pokok dengan cara pelaksanaan sesuai kebutuhan serta program pada masin-masing sektor tingkat kabupaten. Selanjutnya pada tingkat kecamatan dinamakan Balai Penyuluhan Pertanian perikanan dan kehutanan (BP3K). (Nasution, 2012) mengemukakan bahwa aktivitas BP4K adalah melaksanakan penyuluhan dan mengembangkan mekanisme, tata kerja dan metode penyuluhan, yang dilakukan melalui pengembangan tata kerja hingga tingkat BP3K dan Penyuluh Programa. Selain itu melaksanakan pengumpulan, pengolahan, pengemasan, dan penyebaran materi, penyuluhan bagi pelaku utama dan pelaku usaha. Telah melaksanakan pembinaan pengembangan kerjasama, kemitraan, pengelolaan kelembagaan, ketenagaan, sarana dan prasarana, serta pembiayaan penyuluhan.

Pada tingkat kabupaten, Kabupaten Muara Enim memiliki penyuluh pertanian lapangan sebanyak 235 orang penyuluh PNS dan THL, sedangkan pada tingkat kecamatan, Kecamatan Sungai Rotan memiliki penyuluh pertanian lapangan sebanyak 17 orang yang terdiri dari PNS dan THL, dengan latar belakang pendidikan yang berbeda. Wilayah binaan yang ditetapkan adalah sebagian besar wilayah tugas penyuluh melingkupi 2 (dua) desa dalam satu wilayah kecamatan yang sama. Tugas yang harus dilakukan oleh penyuluh sifatnya tidak hanya menangani satu sektor saja, tetapi penyuluh menangani seluruh sektor yang ada pada wilayah kerjanya. hingga saat dilaksanakannya penelitian ini, belum ada petugas penyuluh yang melapor kepada kepala desa terkait program penyuluhan baik dibidang perikanan maupun pertanian. Kelemahan kinerja penyuluh dipengaruhi oleh, sebagian besar penyuluh tidak berdomisili diwilayah binaan, belum terlaksananya koordinasi yang baik antara penyuluh dengan pihak pemerintah desa, latar belakang pendidikan (Marliati et al. 2008).

Kebijakan revitalisasi penyuluhan dianggap penting karena penyuluh merupakan ujung tombak pembangunan pertanian. Menurut Surahmanto et al. (2014) penyuluh memiliki peranan penting dalam pengembangan peternakan disuatu daerah karena merupakan agent of change serta sebagai pelaksana teknis dimasyarakat. Penyuluhan bukanlah bersifat transfer tetapi melalui proses pembelajaran serta memperoleh solusi atas masalah yang dihadapi nelayan. Penyuluh memiliki tugas serta fungsinya sebagai penyuluh atau kedudukan tertentu dan ditetapkan wilayah binaan yang menjadi wilayah tugasnya. Kelembagaan penyuluhan tingkat kecamatan yang dimaksudkan adalah keberadaan Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan atau BP3K pada tingkat Kecamatan Sungai Rotan, terkait dengan tugas yang harus dilakukan oleh penyuluh sifatnya tidak hanya menangani satu sektor saja, tetapi penyuluh menangani seluruh sektor yang ada pada wilayah binaannya masing-masing. hingga saat dilaksanakannya penelitian ini, belum ada petugas penyuluh yang melapor kepada Kepala Desa terkait program penyuluhan baik dibidang perikanan maupun pertanian.

Penyuluh swadaya menurut Undang Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan adalah pelaku utama yang berhasil dalam usahanya dan warga masyarakat lainnya yang dengan

kesadarannya sendiri mau dan mampu menjadi penyuluh. Selama ini umumnya penyuluh perikanan swadaya juga merupakan pengurus inti kelompok atau pernah menjadi pengurus inti kelompok pelaku utama perikanan. Pada prakteknya secara umum, penyuluh perikanan swadaya bekerja sama dengan penyuluh perikanan PNS mensinergikan berbagai kegiatan penyuluhan untuk pelaku utama perikanan.Berdasarkan pengamatan diwilayah ini tidak terdapat penyuluh swadaya baik dibidang perikanan maupun pertanian umumnya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya perhatian pemerintah terhadap usaha perikanan atau pertanian, selain itu terbatasnya kemampuan atau keterampilan yang dimiliki oleh nelayan juga menjadi salah satu penyebab kurang berkembangnya usaha perikanan diwilayah ini.

Terkait dengan pelaksanaan penyuluhan ditingkat desa, selama ini belum pernah dilakukan kegiatan penyuluhan perikanan perairan umum atau upaya rehabilitasi terhadap wilayah kritis terutama perairan umum lebak lebung. Kurangnya perhatian pemerintah atau lembaga terkait dalam upaya pengawasan dan pengelolaan perairan umum lebak lebung menyebabkan semakin berkurannya

Dokumen terkait