Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survey yang bertujuan untuk menjelaskan perilaku nelayan dalam mengelola perairan (pengetahuan, sikap, dan tindakan dalam mengelola perairan lebak lebung), menjelaskan sistem lelang lebak lebung, Menganalisis hubungan faktor internal nelayan, kelembagaan lebak lebung dan faktor eksternal (lebak lebung) nelayan yang mempengaruhi perilaku nelayan dalam mengelola lingkungan perairan. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud membuat deskripsi mengenai situasi atau kejadian, dan peneliatian korelasional adalah penelitian yang mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi (Suryabrata 2003). Penelitian terdiri dari tiga peubah bebas yaitu (X1) karakteristik internal nelayan (X2) kelembagaan lebak lebung dan (X3) karakteristik eksternal nelayan lebak lebung, sedangkan peubah tidak bebasnya yaitu (Y) adalah perilaku nelayan lebak lebung.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan. Subjek pada penelitian adalah nelayan yang berada di Kabupaten Muara Enim. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive sampling) dan penelitian dilaksanakan pada bulan November 2014 sampai dengan bulan Januari 2015.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian adalah seluruh nelayan pengemin lelang yang bermukim dan melakukan usaha penangkapan ikan di Kabupaten Muara Enim, yang berjumlah 140 orang nelayan pengemin lelang. Lokasi penelitian dipilih dengan alasan bahwa wilayah ini melakukan pengelolaan perikan perairan umum dengan sistem lelang lebak lebung dan nelayan selalu melakukan aktifitas dan sangat bergantung kepada parairan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Selanjutnya untuk mengetahui perilaku nelayan dalam mengelola perairan lebak lebung, sesuai perhitungan rumus Isaac dan Michael dalam Sugiyono (2011) untuk tingkat kesalahan 5% diperoleh jumlah sampel penelitian yaitu 100 orang nelayan pengemin lelang yang tersebar di tiga desa yang berada di Kabupaten Muara Enim, yang mempunyai peranan penting dalam mengelola perikanan perairan umum melalui kegiatan lelang lebak lebung.
Data dan Konsep Pengukuran Pengukuran Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer yang dikumpulkan adalah peubah utama yang diteliti berupa faktor internal yang meliputi: umur nelayan, pendidikan formal, jumlah tanggungan keluarga, pengalaman, pendapatan rumah tangga, tingkat kekosmopolitan, kelembagaan lebak lebung meliputi : sejarah lelang lebak lebung, aturan lelang lebak lebung, sanksi dalam lelang lebak lebung, sedangkan faktor eksternal nelayan lebak lebung meliputi : kinerja kelompok, dan
kebijakan pemerintah, sedangkan perilaku nelayan meliputi: pengetahuan, sikap dan tindakan nelayan dalam mengelola perairan lebak lebung. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari studi kepustakaan, laporan tahunan atau data statistik bulanan yang terkait meliputi dinas perikanan, serta sumber-sumber lain yang mendukung penelitian ini.
Data yang dipergunakan dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan instrumen dalam bentuk kuesioner yang memuat atau yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang dijawab oleh responden. Setiap variabel yang diteliti dirumuskan dalam bentuk operasional dengan tujuan untuk mempermudah dalam pengukuran. Adapan rincian pengukuran data menggunakan skala ordinal dengan tingkat penjenjangan sebagai berikut:
(1) Karakteristik internal nelayan yang mencakup karakteristik sosial ekonomi yang melekat pada diri nelayan yang meliputi: umur, pendidikan formal, jumlah tanggungan keluarga, pengalaman kerja, pendapatan keluarga, tingkat kekosmopolitan. Penjelasan masing-masing peubah adalah sebagai berikut:
(a) Umur nelayan adalah usia nelayan pada saat penelitian dilakukan yang dihitung sejak tahun kelahiran sampai dengan usia terakhir. Dengan menggunakan skala rasio yang dinyatakan dalam tahun. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu muda (20-43 tahun)(skor 1); dewasa (44-50 tahun)(skor 2); dan tua (>50 tahun) (skor 3).
(b) Pendidikan formal nelayan adalah tingkat pendidikan formal yang pernah diikuti oleh nelayan diukur berdasarkan lamanya proses pembelajaran yang ditempuh oleh nelayan di sekolah resmi, dengan menggunakan skala rasio yang dinyatakan dalam tahun. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu (1) rendah(skor 1)(tidak tamat SD-tamat SD); (2) sedang(skor 2)(tidak tamat SLTP - tamat SLTP); (3) tinggi(skor 3)(tidak tamat SLTA-Perguruan Tinggi). (c) Jumlah tanggungan keluarga nelayan adalah banyaknya orang baik
keluarga maupun bukan keluarga yang tinggal satu rumah dan menjadi tanggung jawabnya, dengan menggunakan skala rasio yang dinyatakan dalam orang. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu kecil (skor 1)(2-3 orang); sedang (skor 2)(4-5 orang); besar (skor 3) (6-7 orang).
(d) Pengalaman kerja nelayan adalah lamanya nelayan melakukan kegiatan usaha penangkapan ikan, dengan menggunakan skala rasio yang dinyatakan dalam jumlah tahun lamanya nelayan melakukan usaha penangkapan ikan. Hasil pengukuran dikatagorikan menjadi: (1) pengalaman baru (skor 1)(2-12 tahun); (2) pengalaman sedang (skor 2)(13 – 16 tahun); (3) pengalaman lama (skor 3) (>17 tahun).
(e) Pendapatan nelayan adalah pendapatan atau hasil yang diperoleh nelayan dari hasil usaha penangkapan ikan dalam bentuk (rupiah/bulan), dengan menggunakan skala rasio yang dinyatakan dalam rupiah/bulan. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah (skor 1)(<Rp2.400.000); sedang (skor 2)(Rp2.500.000– Rp3.100.000); tinggi (skor 3)(>Rp3.200.000).
(f) Tingkat kekosmopolitan adalah sifat keterbukaan nelayan terhadap informasi, melalui hubungan nelayan dengan informasi, frekuensi menonton tv, membaca surat kabar, mengunjungi daerah lain,
mengunjungi sumber informasi perikanan/perairan guna untuk mencari informasi yang dibutuhkan sesuai dengan usaha nelayan dalam tiga bulan terakhir saat penelitian dilakukan, dengan menggunakan skala ordinal. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu (1) rendah (skor 1)(1- 4 kali); (2) sedang (skor 2)(5-6 kali); (3) tinggi (skor 3)(≥ 6 kali).
(2) Kelembagaan lebak lebung yang mencakup dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
(a) Sejarah kelembagaan lelang lebak lebung diukur berdasarkan pengetahuan dan pemahaman nelayan terhadap asal mula kegiatan lelang lebak lebung diadakan. Pengukuran berdasarkan jumlah skor dari item pernyataan, dengan menggunakan skala ordinal. Untuk keperluan pendeskripsian data dikelompokkan menjadi tiga kategori (1) kurang (skor 10-11); (2) cukup (skor 12); dan (3) baik (skor 13-15)
(b) Peraturan lelang lebak lebung diukur berdasarkan pengetahuan dan pemahaman nelayan terhadap peraturan yang telah ditetapkan oleh lembaga lebak lebung dalam kegiatan lelang lebak lebung yang bertujuan untuk mengatur penggunaan sumber daya untuk kepentingan bersama. Pengukuran berdasarkan jumlah skor dari item pertanyaan, dengan menggunakan skala ordinal. Untuk keperluan pendeskripsian data dikelompokkan menjadi tiga kategori (1) kurang (skor 16-19); (2) cukup (skor 20); dan (3) baik (skor 21-24)
(c) Sanksi dalam lelang lebak lebung diukur berdasarkan pengetahuan dan pemahaman nelayan terhadap sanksi atau hukuman yang akan diberikan kepada pelaku pelanggaran aturan yang telah ditetapkan oleh lembaga lebak lebung dalam kegiatan lelang lebak lebung. Pengukuran berdasarkan jumlah skor dari item pertanyaan, dengan menggunakan skala ordinal. Untuk keperluan pendeskripsian data dikelompokkan menjadi tiga kategori (1) kurang (skor 9); (2) cukup (skor 10); dan (3) baik (skor 11-12)
(3) Karakteristik eksternal nelayan yang mencakup dalam penelitian ini adalah kinerja kelompok nelayan dan kebijakan pemerintah. Penjelasan masing- masing variabel adalah sebagai berikut:
(a) Kinerja kelompok adalah kinerja nelayan/anggota yang tergabung dalam suatu kelompok sesuai dengan tujuan kelompok, kinerja kelompok merupakan capaian hasil kerja nelayan/ anggota kelompok dalam melaksanakan tugas–tugas yang dibebankan kepadanya, didasarkan atas kemampuan, pengalaman, kemampuan mengemukakan pendapat, pengambilan keputusan, perencanaan kerja. Pengukuran dengan menggunakan skala ordinal berdasarkan jumlah skor dari item pertanyaan. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu (1) kurang (skor 14-16); (2) cukup (skor 17); (3) baik (skor 18)
(b) Kebijakan pemerintah adalah bentuk kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah : pengelolaan perairan umum dengan cara lelang dan frekuensi penyampaian informasi kebijakan kepada nelayan. Pengukuran dengan menggunakan skala ordinal berdasarkan jumlah skor dari item pernyataan. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu kurang (skor 12-14); cukup (skor 15); baik(16-18)
(4) Perilaku nelayan yang mencakup dalam penelitian ini adalah pengetahuan, sikap dan tindakan. Penjelasan masing-masing peubah adalah sebagai berikut: (a) Pengetahuan tentang mengelola perairan lebak lebung adalah sekumpulan informasi tentang cara dan upaya dalam menjaga perairan lebak lebung yang dipahami nelayan yang meliputi pengertian perairan umum, sejarah lelang lebak lebung, status wilayah perairan, batas wilayah perairan, pemanfaatan hasil perairan, rehabilitasi wilayah kritis, perlindungan perairan lebak lebung. Pengukuran berdasarkan jumlah skor dari item pernyataan, untuk keperluan pendeskripsian data dikelompokkan menjadi tiga kategori (1) kurang (skor 21-26); (2) cukup (skor 27 - 28); dan (3) baik (skor 29-34)
(b) Sikap dalam mengelola perairan lebak lebung adalah tanggapan atau situasi mental/psikologis responden jika dihadapkan pada situasi tertentu dilihat berdasarkan sejarah lelang lebak lebung, status wilayah perairan lebak lebung, batas wilayah perairan, pemanfaatan hasil perairan, rehabilitasi objek lebak lebung kritis, perlindungan objek lebak lebung. Untuk mengukur tingkat sikap responden dalam penelitian ini digunakan beberapa indikator tentang aspek-aspek pelestarian dan dari masing- masing aspek akan diukur menggunakan pertanyaan dalam bentuk kuisioner. Jenis pertanyaan dapat bersifat positif dan negatif, maka responden dapat menjawab dengan: sikap sangat setuju (skor 3), setuju (skor 2), dan tidak setuju (skor 1). Pengukuran berdasarkan jumlah skor dari item pernyataan, untuk keperluan pendeskripsian data dikelompokkan menjadi tiga kategori (1) kurang (skor 17-20); (2) cukup (skor 21); dan (3) baik (skor 22-24).
(c) Tindakan dalam mengelola perairan lebak lebung adalah kecenderungan perbuatan nyata responden yang telah dilakukan dalam upaya menjaga lingkungan perairan meliputi: keamanan wilayah perairan lebak lebung, pencegahan penangkapan menggunakan alat tangkap terlarang, pemanfaatan hasil perairan, rehabilitasi objek lebak lebung kritis, perlindungan perairan lebak lebung. Untuk mengukur tindakan responden dalam penelitian ini digunakan beberapa indikator tentang tindakan aspek-aspek pelestarian dan dari masing- masing aspek akan diukur menggunakan pertanyaan dalam bentuk kuisioner. Pengukuran berdasarkan jumlah skor dari item pernyataan, untuk keperluan pendeskripsian data dikelompokkan menjadi tiga kategori (1) kurang (skor 14-17); (2) cukup (skor 18); dan (3) baik (skor 19-21).
Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian Validitas
Kerlinger (2000:709) menyatakan bahwa validitas intrumen menunjukan sejauh mana suatu alat ukur itu telah mengukur apa yang akan diukur. Ada beberapa cara untuk menetapkan kesahihan suatu alat ukur yang hendak dipakai, yaitu dengan tiga ancangan (1) terwakili dengan pertanyaan-pertanyaan jika kita mengukur himpunan objek yang sama berulang kali, (2) keterpercayaan, (3) keteramalan. Selanjutnya titik berat pada uji coba validitas intrumen adalah pada validitas isi, yang dapat dilihat dari (1) apakah instrummen tersebut mampu
mengukur apa yang akan diukur, (2) apakah informasi yang dikumpulkan telah sesuai dengan konsep yang telah digunakan.
Reliabilitas
Reliabilitas atau keterandalan merupakan konsistensi suatu alat ukur dalam mengukur hal yang sama. Menurut Singarimbun dan Effendi (2006) reliabilitas adalah istilah yang dipakai untuk menunjukkan sejauh mana suatu hasil pengukuran relatif konsisten apabila pengukuran diulangi dua kali atau lebih.Reliabilitas suatu alat ukur merupakan keterandalan atau kepercayaan suatu alat pengukur. Hasil pengukuran dapat dipercaya, bila beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama selama aspek yang diukur tidak berubah.
Uji validitas dan reliabilitas
Uji validitas dan reliabilitas terhadap instrumen yang dipakai harus dilakukan sebelum instrumen diberikan kepada responden, agar data valid dan reliabel atau menunjukkan konsisten suatu alat pengukur di dalam gejala yang sama. Instrumen yang valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur, dan reliabel bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda. Sugiyono (2011) menyebutkan bahwa instrumen yang valid harus mempunyai validitas internal dan eksternal. Validitas internal merupakan kesahihan penelitian apabila kriteria dalam instrumen secara teoritis mencerminkan apa yang akan diukur. Sedangkan validitas eksternal merupakan kesahihan penelitian apabila terdapat kesesuaian antara kriteria yang ada pada instrumen dengan fakta-fakta di lapangan (Sarwono, 2006). Pengujian alat ukur dilaksanakan terhadap 30 orang nelayan diluar populasi penelitian yang mempunyai karakteristik dan kondisi yang hampir sama dengan nelayan responden pada penelitian ini. Uji validitas dilakukan dengan menggunakan program SPSS dengan rumus korelasi Product Moment sebagai berikut:
2 2 2 2 ) ( ) ( ) ( ) ( ) )( ( ) ( Y Y n X X n Y X XY n rxy
Dimana: rxy = koefisien korelasi suatu butir/item n = jumlah responden
X = skor suatu butir/item Y = skor total
Selanjutnya dari rumus korelasi Product Moment kemudian membandingkan angka korelasi dengan angka kritik pada tabel korelasi nilai r pada taraf tertentu (5%). Apabila angka korelasi tersebut lebih besar daripada angka pada tabel nilai r= 0.349, maka item pertanyaan tersebut dinyatakan valid.
Reliabilitas indikator diuji dengan menggunakan metode Cronbach-alpa, dimana pengukuran dilakukan hanya satu kali.Pada penelitian ini, uji reliabilitas yang digunakan adalah metode Cronbach Alpha atau Cr. Alpha berdasarkan skala Cr. Alpha: 0 sampai dengan 1. Apabila nilai hasil perhitugan (α) dikelompokkan ke dalam lima kelas dengan skala yang sama (0 sampai dengan (1), maka ukuran kemantapan alpha dapat diinterpretasikan sebagai berikut: 1) nilai koefisien alpha
berkisar 0,00-0,20 berarti kurang reliabel; (2) nilai koefisien alpha berkisar 0,21- 0,40 berarti agak reliabel; (3) nilai koefisien alpha berkisar 0,41-0,60 berarti cukup reliabel; (4) nilai koefisien alpha berkisar 0,61-0,80 berarti reliabel; (5) nilai koefisien alpha berkisar 0,81-1,00 berarti sangat reliabel.
Hasil analisis uji instrumentasi didapat seluruh butir pertanyaan danpernyataan dalam instrumen penelitian dinyatakan valid. Hal ini terlihat dari nilai r hitung yang berkisar dari 0,357 sampai dengan 0,883, nilai ini lebih besar daripada nilai r tabel yaitu 0,349 pada taraf nyata lima persen. Hasil uji coba instrumen juga menunjukkan bahwa nilai koefisien reliabilitas alpha cronbach pada seluruh variabel (kelembagaan lebak lebung, karakteristik eksternal, dan perilaku nelayan) termasuk kategori reliabel dengan kisaran nilai keofisien reliabilitas alpha cronbach yaitu 0,426 sampai. dengan 0,873.
Teknik Pengumpulan Data
Pada penelitian ini, jenis data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer yang dikumpulkan mengenai variabel utama berupa faktor internal, faktor eksternal, dan perilaku nelayan yang diperoleh dari wawancara langsung kepada nelayan dengan kuesioner yang terstruktur dan pengamatan langsung yang sesuai dengan sasaran dan tujuan penelitian, sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai sumber meliputi instansi pemerintahan.Data yang diambil adalah keadaan wilayah bersangkutan, keadaan perikanan yang terdapat di daerah Kabupaten Muara Enim. Pengumpulan data dilakukan sebagai berikut :
1) Observasi merupakan teknik pengumpulan data melalui pengamatan langsung terhadap latar dan objek penelitian. Sasaran yang ingin dicapai dalam observasi untuk mendapatkan gambaran secara umum tentang pokok kajian sebelum melakukan penelusuran secara bertahap kepada beberapa informan tentang berbagai macam pengelompokkan yang ada dalam objek penelitian. Mulai dari keseluruhan proses kehidupan sehari hari nelayan, hubungan sosial, kekerabatan antar nelayan diamati secara seksama. Hasil obeservasi itu melengkapi data primer lain, dikaji dan digabungkan dalam suatu kerangka analisa.
2) Wawancara merupakan teknik yang dilakukan melalui wawancara yang dilakukan peneliti kepada nelayan dengan menggunakan kuisioner. Wawancara yang dilakukan secara pribadi terhadap nelayan dan juga dilakukan tanya jawab secara bersama dalam kesempatan pertemuan yang diadakan. Nelayan diminta untuk menjelaskan tugasnya dan kepada nelayan diajukan berbagai pertanyaan baik pertanyaan informative maupun konfirmasi. Wawancara tidak hanya bersifat purposive, tetapi juga dilakukan secara snowball (bola salju), yakni mewawancari informan lain yaitu panitia lelang lebak lebung.
3) Pencatatan merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mencatat data sekunder yang tersedia.
Teknik Analisa Data
Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dengan statistik deskriptif dan inferensial untuk mendalami faktor-faktor yang memengaruhi perilaku nelayan dan memberikan penjelasan kualitatif sebagai pendukung. Data yang
diperoleh dikelompokkan menurut variabel yang telah ditentukan dengan mengggunakan skoring dan pengkategorian. Pengkategorian menggunakan skala Likert, dimana dalam skala ini dijabarkan dalam sub variabel dan indikator. Indikator ini merupakan dasar dalam penyusunan instrumen dengan Skala Likert jenjang 3 (baik=3, cukup=2, kurang=1)
Dalam penelitian pengolahan data menggunakan program SPSS (Statistical Package for the Social Science) dimana data yang dikumpulkan dianalisis secarakualitatif dan kuantitatif. Analisis data ini bertujuan: (1) untuk mendeskripsikan perilaku nelayan dengan statistik deskriptif dengan menampilkan distribusi frekuensi, dan persentase, (2) analisis statistik inferensial yang digunakan adalah analisis korelasi rank Spearman. Rumus korelasi rank Sperman (rs) yaitu: rs = 1 - N N di N i 3 1 2 6
Keterangan : rs = koefisien korelasi rank Spearman N = jumlah sampel
HASIL DAN PEMBAHASAN