• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Eritrosit, Hemoglobin, Hematokrit dan Indeks Eritrosit

Jumlah eritrosit dalam darah dipengaruhi jumlah darah pada saat fetus, perbedaan umur, perbedaan jenis kelamin, pengaruh parturisi dan laktasi, pengaruh tekanan udara dan peranan limpa (Jain 1993). Schalm (1975) berpendapat bahwa jumlah eritrosit dipengaruhi oleh nutrisi dan temperatur lingkungan. Selain itu jumlah eritrosit dipengaruhi oleh keadaan lingkungan (Swenson 1984). Hasil penelitian yang didapat jika dibandingkan dengan parameter nilai rata-rata yang terdapat di dalam Jain (1993) dapat dilihat pada tabel 2.

Perbedaan umur hewan percobaan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah eritrosit dalam darah. Secara umum pada saat fetus, jumlah RBC, hemoglobin dan hematokrit meningkat secara progresif dan paling tinggi pada saat kelahiran, tetapi menurun secara cepat pada waktu berikutnya. MCV dan MCH menurun secara bertahap. Namun jumlah eritrosit tersebut mengalami peningkatan seiring pertambahan umur dan relatif stabil pada umur satu tahun ( Jain 1993). Menurut Schalm (1975) pada saat kelahiran sel darah merah hampir berjumlah 12 kali lipat dari dewasa. Pada saat fetus, jumlah hemoglobin lebih kecil dari pada saat dewasa. Pada saat periode menyusui, MCHC dapat menurun karena kekurangan asupan Fe.

Perbedaan jenis kelamin juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah eritrosit dalam darah. Schlam (1975) menyatakan pada jantan jumlah eritrosit sedikit lebih tinggi daripada betina. Pembentukan eritrosit dipengaruhi juga oleh hormon kelamin. Androgen atau hormon kelamin jantan diketahui meningkatkan produksi eritropoietin, namun mekanismenya pada eritropoiesis belum diketahui secara pasti (Navarro 1993). Sementara estrogen cenderung menekan produksi eritropoietin (Spence and Mason 1987). Dari hasil penelitian jika dikelompokan berdasarkan perbedaan jenis kelamin, dapat dilihat pada tabel 3.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi jumlah eritrosit adalah faktor nutrisi. Defisiensi vitamin B12 dan asam folat dapat menyebabkan kegagalan

pematangan dalam proses eritropoiesis, hal tersebut mengakibatkan jumlah eritrosit dalam darah rendah (Guyton and Hall 1992).

Menurut Guyton and Hall (1992) pada suatu daerah dengan ketinggian yang sangat tinggi, jumlah oksigen dalam udara sangat rendah sehingga jumlah oksigen yang diangkut ke dalam jaringan tidak cukup dan produksi sel darah merah meningkat. Jadi, bukan konsentrasi sel darah merah yang mengatur kecepatan produksi sel, melainkan kemampuan fungsional sel untuk mengangkut oksigen ke jaringan sehubungan dengan kebutuhannya akan oksigen. Jain (1993) berpendapat bahwa tekanan oksigen yang dikurangi dapat mengakibatkan peningkatan produksi dan pelepasan eritrophoietin.

RDW merupakan status keseragaman ukuran eritrosit. Nilai RDW dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya variasi ukuran eritrosit diantaranya: defisiensi zat besi, vitamin B12, asam folat dan fragmen-fragmen hasil hemolisis (Nordenson 2002). Nilai RDW yang dihasilkan dari hasil penelitian berdasarkan kisaran normal hemavet yang terdapat pada lampiran 3 menunjukan bahwa nilai RDW hasil penelitian berada di atas rata-rata kisaran normal. Hal ini menunjukan keadaan anisocytosis yaitu adanya eritrosit dalam darah yang menunjukan variasi ukuran yang besar. Hal tersebut kemungkinan diakibatkan oleh beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya variasi ukuran eritrosit seperti yang telah dijelaskan pada pernyataan di atas.

Tabel 2 Perbandingan rata-rata parameter eritrosit hasil dengan literatur Jain (1993)

Parameter Hasil penelitian Jain 1993

RBC (106/ ±µl) 6.12 7.5 HB (g/dl) 9.69 12.0 Hematokrit (%) 26.08 37.0 MCV (fl) 42.21 45.0 MCH (pg) 15.51 15.0 MCHC (g/dl) 36.74 33.2 RDW (%) 20.66 -

Parameter Jantan (rata-rata±standar deviasi) Betina (rata-rata±standar deviasi) Jumlah kucing 5 9 RBC( 106/μl ) 6.324 ± 1.906 6.013 ± 2.197 Hb(g/dl) 9.74 ± 4.28 9.67 ± 4.24 Hematokrit(%) 26.50 ± 10.55 25.84 ± 10.83 MCV (fl) 41.42 ± 8.34 42.64 ± 11.19 MCH (pg) 14.94 ± 2.64 15.82 ± 4.98 MCHC (g/dl) 36.37 ± 3.65 36.95 ± 4.68 RDW 21.28 ± 1.08 20.22 ± 1.39 Leukosit

Jumlah leukosit dalam darah dipengaruhi oleh umur, perbandingan neutrofil dan limfosit dipengaruhi oleh keadaan leukositosis fisiologis. Sedangkan perbedaan jenis kelamin antara kelamin jantan dan kelamin betina tidak terlalu mempengaruhi jumlah leukosit (Jain 1993). Menurut Schalm (1975) jumlah leukosit dalam darah dipengaruhi oleh umur dan pelepasan ephineprin. Jumlah leukosit pada umumnya dipengaruhi oleh jumlah sel neutrofil ataupun limfosit di dalam sirkulasi darah, karena kedua tipe sel darah putih tersebut jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan leukosit tipe lainnya (Kelly 1984). Hasil penelitian yang didapat jika dibandingkan dengan parameter nilai rata-rata yang terdapat di dalam Jain (1993) dapat dilihat pada tabel 4.

Perbedaan umur merupakan faktor yang dapat mempengaruhi jumlah leukosit dalam darah. Pada umumnya jumlah leukosit pada tahap awal fetus rendah kemudian meningkat lagi hingga stabil pada umur kurang lebih satu tahun (Jain 1993).

Menurut Jain (1993) perbedaan jenis kelamin antara kelamin jantan dan kelamin betina tidak terlalu mempengaruhi jumlah leukosit dalam darah. Hasil penelitian tersebut jika dikelompokan berdasarkan perbedaan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 5.

Jumlah leukosit pada kucing dapat meningkat sebagai hasil dari reaksi stres emosional. Oleh karena itu, salah satu hal yang harus diperhatikan ketika pengambilan darah dilakukan adalah mengetahui apakah kucing tersebut dalam keadaan stres atau takut. Hal tersebut dapat menyebabkan jumlah total leukosit menjadi sedikit lebih tinggi dari keadaan normalnya (Schalm 1975).

Leukositosis fisiologis sering terjadi pada hewan yang mengalami stres akut. Stres tersebut dapat berupa fisik, emosional atau dipicu oleh penyakit. Perubahan WBC pada kondisi seperti stres tersebut dikarenakan oleh pelepasan ephineprin dan kortikosteroid. Ephineprin bekerja dengan meningkatkan sirkulasi darah dan limfe serta menyebabkan demarginasi neutrofil sehingga meningkatkan jumlah sel dalam sirkulasi (Jain 1993). Sedangkan kortikosteroid menyebabkan peningkatan pelepasan neutrofil dari dalam sumsum tulang, menurunkan kemampuan diapedesis, dan meningkatkan jumlah neutrofil dalam sirkulasi yang bersumber dari marginal pool (Stockham dan Scott 2002).

Tabel 4 Perbandingan rata-rata leukosit hasil penelitian dengan rata-rata leukosit pada literatur (Jain 1993)

Parameter Hasil penelitian Jain 1993

Leukosit (103/µl)* 11.59 12.5 Neutrofil (103/µl) 0.68 7.5 Limfosit (103/µl) 10.85 4.0 Monosit (103/µl) Eosinofil (103/µl) 0.06 0.65 Basofil (103/µl)

(*)belum termasuk nilai monosit dan basofil

Tabel 5 Nilai leukosit berdasarkan perbedaan jenis kelamin

Parameter Jantan (rata-rata±standar deviasi) Betina (rata-rata±standar deviasi) Jumlah kucing 5 9

WBC (103/μl)* 10.13 ± 4.24 10.27 ± 3.79 Neutrofil (103/μl) 0.49 ± 0.22 0.63 ± 0.34 Lymfosit (103/μl) 9.60 ± 4.01 9.57 ± 3.48 Monosit (103/μl) Eosinofil (103/μl) 0.05 ± 0.04 0.06 ± 0.06 Basofil (103/µl)

(*)belum termasuk nilai monosit dan basofil

Trombosit

Jumlah trombosit dalam sirkulasi darah hewan normal selalu dalam keadaan dinamis. Hal tersebut terjadi karena adanya mekanisme positif dan

negative feedback. Peningkatan jumlah trombosit disebabkan oleh adanya gangguan-gangguan seperti neoplasia, gangguan gastrointestinal dan hormonal (Jain 1993). Pada saat terjadi penurunan jumlah trombosit yang beredar dalam sirkulasi, maka tubuh akan berespon dengan menghasilkan trombopoietin (Jain 1993). Menurut Harrison (2005) penurunan jumlah trombosit dapat disebabkan oleh adanya gangguan pada pembentukan trombosit dan juga dikarenakan adanya distribusi trombosit yang abnormal. Menurut Kelly (1984) jumlah trombosit dalam sirkulasi darah pada hewan normal selalu berfluktuasi beberapa waktu setiap hari karena adanya pengaruh kelelahan, exercise dan temperatur lingkungan. Hasil penelitian yang didapat jika dibandingkan dengan parameter nilai rata-rata yang terdapat di dalam Jain (1993) dapat dilihat pada tabel 6. Perbedaan jenis kelamin pada kucing kampung tidak mempengaruhi jumlah trombosit dalam darah. Hasil penelitian terhadap nilai trombosit berdasarkan perbedaan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 7.

Perbedaan nilai yang diperoleh kemungkinan disebabkan adanya kondisi fisiologis ataupun patologis tertentu yang tidak menunjukan gejala klinis, namun sangat mempengaruhi gambaran nilai trombosit dalam sirkulasi darah, misalnya pelepasan ephineprin oleh tubuh, hipoplasia sumsum tulang, serta proses imunologis dan non immunologis (Stockham and Scott 2002).

Tabel 6 Perbandingan rata-rata trombosit hasil penelitian dengan literatur (Jain 1993)

Parameter Hasil penelitian Jain 1993

Trombosit (103/µl) 283.84 ±194.61 450

Tabel 7 Nilai trombosit berdasarkan perbedaan jenis kelamin

Parameter Jantan (rata-rata±standar deviasi) Betina (rata-rata±standar deviasi) Jumlah kucing 5 9 Trombosit (103/µl) 214.20 ± 150.71 263.11 ± 207.01

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Gambaran darah kucing kampung yang sehat secara klinis didapat kisaran sebagai berikut : RBC: 6.12 ± 2.03 x106/μl, hemoglobin: 9.69 ± 4.09 g/dl, hematokrit: 26.08 ± 10.32 %), MCV: 42.21 ± 9.94 fl, MCH: 15.51 ± 4.20 pg, MCHC: 36.74 ± 4.21 g/dl, RDW: 6.12 ±2.03 %, WBC: 11.59 ± 6.21 x103/μl, neutrofil: 0.68 ± 0.56 x103/μl, limfosit: 10.95 ± 5.98 x103/μl, eosinofil: 0.06 ± 0.06 x103/μl. Trombosit : 283.84 ± 194.61 x103/μl

Saran

 Perlu diadakan penelitian dengan pemeriksaan paramater darah yang lebih lengkap seperti parameter terhadap laju endap darah, fibrinogen, atau lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 2006. What Is Normal In Cat. [terhubung berkala]. http://www. petplace.com/cats/what-is-normal-in-cats/page1.aspx. [7 Februari 2006].

Breazile JE. 1971. Textbook of Veterinary Physiology, Philadelphia : Lea and

Febiger.

Brown BA. 1980. Hematology : principles and procedures. Ed ke-3. Philadelphia : Lea and Febiger

Craigmyle S. 1994. A color atlas of histology. New York : Harper Collins Collage Publishers.

Delmann HD and Brown EM. 1989. Histologi Veteriner. Ed ke-3. Jakarta : UI-Press.

Dickerson and Geis. 1983. Hemoglobin. California : The Benjamin/Cummings Publishing Company Inc.

Duncan JR and Prase KW.1977. Veterinary Laboratory Medicine. Ame. Lowa Clinical Pathology. The Lowa State University press.

Dorland. 1995. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Ed ke-25. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC.

Fowler ME. 1993. Wild Life Medicine Caurse. USA : Directorate General of Livestock Services.

Guyton and Hall. 1992. Fisiologi kedokteran. Ed Ke-9. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC.

Harisson C. 2005. Thrombocytopenia (Reduced Platelet Count) [terhubung berkala]. http:// www.netdoctor.co.uk/disaese/facts/thrombocytopenia.htm. [20 Desember 2005].

Jain NC. 1993. Essential of Veterinary Hematology. Philadelphia : Lea & Febiger.

Kelly WR. 1974. Veterinary Clinical Diagnosis. Ed ke-3. London : Bailliere Tindal.

Martini FH, Ober WC, Garrison C and Weleh K.. 1992. Fundamentals of Anatomy and Physiology. Ed ke-2. New Jersey : Prentice Hall, Englewood Cliffs.

Meyer DJ, Cole EH and Rich LJ. 1992. Veterinary Laboratory Medicine Interpretation and Diagnosis. Philadelphia : Saunders Company.

Mitruka BM and Rawnsley HM.1977. Clinical Biochemical and Haematological Refference Value in Normal Experimental Animals. USA : Mason Publishing.

Nordenson JN. 2002. Gale Encyclopedia of Medicine. Red Blood Cell Indices.

[terhubung berkala]. http://www.healthatoz.com/healthatoz/Atoz/ency/red blood_cell_indices. jsp. [29 Mei 2005]

Raphael SS. 1987. Medical Laboratory technology. Ed ke-4. W.B. London : Saunders Company.

Rukmono. 1996 . Patologi. Jakarta : Bagian Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Schalm OW.1975. Veterinary Hematology. Ed ke-2. Philadelphia : Lea & Febiger.

Spence AP and Mason EB. 1987. Human Anatomy and Physiology. Ed ke-3. California : the Benjamin/Cummings Publishing Company.inc

Stockham SL and Scott MA. 2002. Fundamental of Veterinary Clinical Pathology. Ed ke-1. USA : Iowa state press.

Swenson MJ. 1984. Dukes Physiology of Domestic Animals. Ed ke-10. Ithaca and London : Cornell University Press.

Williams DF. 1987. Blood Compability. Ed ke-1. Florida : CRC. Press Inc. Bocarotan.

Lampiran 1 Data kucing penelitian no Nama sex Berat

badan umur Suhu (oC) Ferkuensi nafas Frekuensi nadi Mukosa limfonodus 1 Obit ♂ 4 kg 2 tahun 38.4 30x/menit 87x/menit rose (Taks) 2 Belang ♀ 2kg 2 tahun 38.1 64x/menit 120x/menit rose (Taks) 3 Coklat ♀ 2 kg 1.5

tahun

37.8 32x/menit 120x/menit rose (Taks) 4 Karkun ♂ 1,6 kg 1.5

tahun

38.6 36x/menit 120x/menit rose (Taks) 5 Kuro ♀ 2 kg 2 tahun 38.1 32x/menit 132x/menit rose (Taks) 6 Gina ♀ 2 kg 1 tahun 38.5 44x/menit 132x/menit rose (Taks) 7 Uprit ♂ 4,5 kg 2 tahun 38.0 68x/menit 120x/menit rose (Taks)

8 Miu ♀ 3 kg 1,5

tahun

39.3 84x/menit 120x/menit rose (Taks)

9 Mau ♂ 2 kg 1.5

tahun

37.7 56x/menit 168x/menit rose (Taks)

10 Anta ♀ 2 kg 1.5

tahun

38.6 52x/menit 116x/menit rose (Taks) 11 Belang2 ♂ 2 kg 1 tahun 38.5 80x/menit 100x/menit rose (Taks) 12 cemong ♀ 2 kg 1 tahun 37.2 70x/menit 100x/menit rose (Taks) 13 Ibil ♀ 2.5 kg 1.5

tahun

37.0 112x/menit 108x/menit rose (Taks) 14 unyil ♀ 1.5 kg 1tahun 38.0 56x/menit 112/menit rose (Taks)

Lampiran 2 Parameter normal status kesehatan kucing

Parameter Keadaan normal

Suhu (oC) 37.0 - 39.1

Frekuensi nafas (x/menit) 20 - 30 Frekuensi nadi (x/menit) 140 - 220

Mukosa rose

Limfonodus Tidak ada kelainan khusus seperti

adanya kebengkakan, atau lainnya. (anonimus 2006)

Lampiran 3 Data nilai gambaran darah kucing yang digunakan sebagai sampel

No Leukosit

(K/µl) Neutrofil (K/µl) Limfosit (K/µl) Eosinofil (K/µl) (M/μl) RBC (g/dl) Hb Hct (%) MCV (fl) MCH (pg) MCHC (g/dl) RDW (%) Trombosit (K/µl) 1 9.06 0.63 8.4 0.03 4.32 6.8 21.7 50.3 15.7 31.3 21.5 579.8 2 8.52 0.69 7.82 0.01 8.27 15.8 39.7 48.0 19.1 39.8 22.8 192.0 3 11.6 0.96 10.63 0.01 7.87 12.3 39.0 49.5 15.6 31.5 20.0 118.0 4 5.04 0.28 4.76 0 8.84 15.9 41.1 46.5 18.0 38.7 20.9 144.0 5 19.25 0.95 13.54 0.14 5.52 8.0 25.2 45.6 14.5 31.7 19.9 94.0 6 12.74 1.01 11.7 0.03 2.9 10.91 44.02 32.75 11.03 33.68 17.5 115.0 7 11.44 0.35 11.0 0.09 7.31 11.8 33.0 45.14 16.14 35.75 19.8 145.0 8 8.38 0.2 8.0 0.18 4.33 11.8 29.0 66.97 27.25 40.68 20.1 140.0 9 13.12 0.78 12.26 0.08 6.68 10.7 24.0 35.9 16.0 44.6 20.7 708.0 10 16.52 0.81 15.62 0.1 6.6 9.2 22.5 34.1 13.9 40.9 21.4 319.0 11 8.6 0.39 8.19 0.02 4.55 5.0 14.2 31.1 11.0 35.2 22.8 418.0 12 14.75 0.67 12.99 0.06 7.32 10.0 25.8 35.2 13.7 38.8 21.2 481.0 13 3.52 0.08 3.42 0.01 2.89 10.89 44.02 32.9 10.7 32.6 20.0 207.0 14 6.26 0.35 5.9 0.01 8.34 12.1 30.9 37.0 14.5 39.2 19.8 313.0

Lampiran 4 Kisaran normal parameter darah menurut hemavet

Parameter Kisaran normal

RBC (M/μl) 5.0-11.0 Hemoglobin (g/dl) 8.0-15.0 Hematokrit (%) 24.0-45.0 MCV (fL) 39.0-52.0 MCH ( pg ) 12.5-17.5 MCHC (%) 30.0-37.0 RDW (%) 12.0-19.0 Leukosit (K/μl) 5.5-19.5 Neutrofil (K/μl) 2.5-13.9 Limfosit (K/μl) 1.5-7.0 Monosit (K/μl) 0.0-1.4 Eosinofil (K/μl) 0.0-1.5 Basofil (K/μl) 0.0-0.5 Trombosit (K/μl) 150.0-500.0

Dokumen terkait