• Tidak ada hasil yang ditemukan

Umur

Peternak mempunyai kisaran umur antara 25 sampai 66 tahun. Hasil yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Berdasarkan Umur

Umur peternak (tahun) Persentase (%)

25 – 30 6,56 31 – 36 16,12 37 – 42 29,03 43 – 48 9,67 49 – 54 9,67 55 – 60 22,58 61 – 66 6,45 Total 100,00

Tabel 1 menunjukkan bahwa peternak yang berusia 37 – 42 tahun dan peternak yang berusia 55 – 60 tahun lebih banyak jumlahnya apabila dibandingkan dengan umur peternak yang lainnya masing – masing 29,03 % dan 22, 58 %.

Jenis Kelamin

Perbedaan jenis kelamin tidak mempengaruhi masyarakat untuk bertani-ternak. Hal ini dapat terlihat dari jumlah peternak laki – laki sebanyak 20 orang (64,51 %) dan jumlah wanita 11 orang (35,48 %) dari total responden penelitian yang dilakukan. Perbedaan jumlah peternak laki- laki dan perempuan dapat dilihat pada tabel dibawah.

Tabel 2. Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Persentase (%)

Laki – Laki 64,51

Perempuan 35,48

Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan peternak dilihat dari pendidikan formal terakhir yang diperoleh. Jenjang pendidikan dikategorikan dari tingkat pendidikan terendah yaitu tamatan Sekolah Dasar (SD) sampai lulusan dari perguruan tinggi atau sarjana.

Tabel 3. Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pendidikan Teakhir Persentase (%)

SD 19,35 SLTP 35,48 SLTA 41,93 Sarjana 3,22

Total 100,00

Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan peternak lulusan SD sebanyak 6 orang (19,35%) dan lulusan SLTP sebanyak 11 orang (35,48%). Tingkat pendidikan peternak yang lulus SLTA sebanyak 13 orang (41,93%) sedangkan peternak lulusan perguruan tinggi hanya 1 orang (3,22%). Dari data yang diperoleh semua peternak pernah mengenyam tingkat pendidikan. Hal ini dapat menunjukkan bahwa peternak masih punya keinginan yang kuat untuk belajar guna memperbaiki tingkat kehidupan kearah yang lebih baik.

Pendapatan

Tingkat pendapatan peternak perbulannya didasarkan pada jumlah uang yang diperoleh dari usaha tani-ternak yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya lainnya.

Tabel 4. Berdasarkan Pendapatan Penghasilan (Rp) Persentase (%)

400.000 – 600.000 51,61

700.000 – 900.000 22,58

1.000.000 – 1.500.000 25,80

Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa pendapatan peternak secara umum dari Rp 400.000 – 600.000. Pendapatan peternak setiap bulannya masih tergolong cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari akan tetapi untuk keperluan lainnya seperti untuk biaya sekolah anak tidak mencukupi. Peternak masih merasa kurang sehingga dapat disimpulkan bahwa pendapatan peternak cukup atau tidaknya dipengaruhi oleh jumlah tanggungan dari peternak.

Pengalaman

Pengalaman peternak didasarkan dari awal peternak memulai usaha ternak sampai pada saat penelitian ini dilakukan. Pengalaman peternak dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Berdasarkan Pengalaman Pengalaman (tahun) Persentase (%)

1 – 5 61,29

6 – 15 25,80

16 – 30 12,90

Total 100,00

Dari Tabel dapat dilihat bahwa pengalaman peternak sebahagian besar berkisar diantara 1-5 tahun. Sedikitnya pengalaman peternak dalam usaha ternak diduga karena peternak lebih terfokus pada usaha pertanian dari pada peternakan, sehingga mereka baru memulai usaha peternakan sebagai usaha sampingan.

Tanggungan

Tanggungan peternak dilihat dari jumlah orang yang menjadi tanggungan mulai dari istri, anak, dan orang lain yang menjadi tanggungan peternak. Tingkat tanggungan peternak didasarkan pada banyak tanggungan mulai dari yang tidak mempunyai tanggungan sampai pada tanggungan yang paling banyak yaitu 10 orang.

Tabel 6. Berdasarkan Tanggungan Banyak Tanggungan Persentase (%)

Tidak ada 12,90 1 – 2 12,90 3 – 4 32,25 5 – 6 32,25 7 – 8 6,45 10 3,22 Total 100,00

Tabel 6 terlihat bahwa peternak yang mempunyai tanggungan berkisar anatar 3-4 dan 5-6 lebih banyak jumlahnya. Adanya peternak yang tidak memiliki tanggungan dikarenakan peternak belum menikah dan adanya peternak yang janda/duda yang anaknya sudah menikah atau bekerja sehingga tidak termasuk dalam jumlah tanggungan lagi.

Kegiatan Sosial/Kelompok/Kelembagaan

Kegiatan sosial/kelompok peternak di Desa Siborong-borong dapat membantu peternak dalam pengembangan usaha tani ternaknya dan dapat memberikan kontribusi bagi partisipasi peternak dalam kegiatan yang dilakukan oleh kelompok maupun pemerintah seperti kegiatan penyuluhan, karena penyuluhan yang dilakukan melibatkan anggota kelompok. Peternak yang bukan anggota kelompok dapat terlibat dalam kegiatan penyuluhan. Adanya peternak yang tidak menjadi anggota kelompok disebabkan berbagai faktor yang terjadi dalam kelompok seperti adanya unsur ketidak percayaan diantara anggota kelompok dan tidak berjalannya kegiatan kelompok yang mengakibatkan beberapa peternak tidak lagi menjadi anggota kelompok.

Jumlah peternak yang menjadi anggota kelompok dan tingkat partisipasi peternak dalam kelompok dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan kelompok dapat dilihat dalam Tabel 7.

Tabel 7. Berdasarkan Partisipasi dalam Kelompok Anggota kelompok Persentase (%)

Ya 80,64 Tidak 19,35

Total 100,00

Tabel 7 memperlihatkan bahwa peternak yang menjadi anggota kelompok lebih banyak dibanding dengan peternak yang tidak menjadi anggota kelompok yaitu sebanyak 25 orang (80,64%) dan 6 orang (19,35%). Hal ini mengambarkan bahwa secara umum peternak yang menjadi responden dalam penelitian ini tertarik menjadi anggota kelompok.

Tingkat kehadiran anggota kelompok dapat dilihat pada Tabel 8, dimana kehadiran peternak dalam setiap kegiatan kelompok dibagi dalam tiga kategori yaitu peternak yang selalu hadir sebanyak 23 orang (74,19 %), peternak yang kadang – kadang hadir sebanyak 2 orang (6,45 %) dan peternak yang tidak pernah hadir dalam kegiatan kelompok sebanyak 6 orang (19,35 %). Dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Kehadiran Peternak/Anggota Kelompok dalam Kegiatan Kelompok. Kehadiran Persentase (%)

Selalu 74,19

Kadang-kadang 6,45

Tidak pernah 19,35

Total 100,00

Bentuk kegiatan kelompok yang diikuti peternak adalah kegiatan kelompok tani ternak yang bertujuan untuk mengembangkan usaha tani ternak. Kegiatan ini juga merupakan sarana yang dipakai Pemerintah khususnya Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Tapanuli Utara untuk mendorong serta meningkatkan keterampilan peternak dalam usahanya sehingga peningkatan kesejahteraan peternak dapat tercapai.

Jumlah Ternak

Jumlah ternak yang dimiliki oleh peternak dilihat dari banyaknya jumlah ternak yang dimiliki peternak. Dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Berdasarkan Jumlah Ternak. Jumlah Ternak Persentase (%)

1-5 ekor 90,32

6-10 ekor 6,45

15 ekor 3,22

Total 100,00

Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa peternak secara umum jumlah ternak babi yang dimiliki berkisar diantara 1-5 ekor sebanyak 28 orang (90,32%). Jumlah ternak yang dimiliki harus disesuaikan dengan luas lahan dan modal yang dimiliki peternak, karena untuk 1 ekor ternak babi pejantan/calon pejantan ruang yang dibutuhkan 1,85 m2 , babi induk/ calon induk ruang yang dibutuhkan 1,85 m2 , kandang pemisah babi habis lahir ruang yang dibutuhkan 1,85 m2, babi berat badan 9-18 kg ruang yang dibutuhkan 0,22- 0,28 m2, babi berat 19-45 kg ruang yang dibutuhkan 0,37-0,46 m2, babi berat 45-70 kg ruang yang dibutuhkan 0,46-0,60 m2, babi berat 70-90 kg ruang yang dibutuhkan 0,74- 0,84 m2 , babi berat 90-115 kg ruang yang dibutuhkan 0,93-1,02 m2.

Luas Lahan

Luas lahan yang dimiliki peternak adalah dilihat dari luasnya lahan yang digunakan untuk beternak, bertani dan tempat tinggal. Sebagian besar peternak melakukan usaha tani dan ternak babi disekitar rumahnya. Banyaknya luas lahan yang dimiliki peternak dapat dilihat pada Tabel 10 dibawah ini.

Tabel 10. Berdasarkan Luas Lahan

Luas Lahan (Ha) Persentase (%) 0,1 - 0,25 19,35

0,26 - 0,5 48,38 0,6 - 0,75 6,45

> 0,76 25,80

Total 100

Berdasarkan Tabel 10 terlihat bahwa peternak yang memiliki luas lahan 0,1000 – 0,2500 ha sebanyak 6 orang (19,35 %) luas lahan ini tergolong kecil untuk lahan beternak, bertani dan tempat tinggal. Hal ini dikarenakan ternak yang dipelihara adalah ternak babi yang memerlukan lahan yang luas untuk kandang yang menurut kegunaannya dapat dibagi tiga yaitu: (1) kandang induk, (2) kandang pengemukan, dan (3) kandang pejantan, dimana masing-masing kandang dibuat dengan ukuran dan perlengkapan yang berbeda-beda dengan dua macam tipe kandang yaitu: (1) kandang tunggal, yakni bangunan kandang yang terdiri dari satu baris saja dan (2) kandang ganda, yakni bangunan kandang yang terdiri dari dua baris yang letaknya bisa saling berhadapan ataupun bertolak belakang (AA, K., 1980)

Peternak yang memiliki luas lahan 0,25 – 0,5 ha sebanyak 15 orang (48,38% ) dan jumlah peternak yang memiliki luas lahan 0,5 – 0,75 ha sebanyak dua orang (6,45%) luas lahan ini tergolong cukup untuk lahan ternak, tani dan tempat tinggal. Sedangkan peternak yang memiliki luas lahan > 0,75 ha sebanyak delapan orang (25,80%) sehingga luas lahan yang dimiliki mempengaruhi banyak tidaknya ternak yang dipelihara.

Tabel 11. Berdasarkan Status Kepemilikan Lahan. Pemilik Lahan Persentase (%)

Sendiri 74,41

Sewa 16,12

Orang tua 6,45

Lahan yang dimiliki peternak kebanyakan adalah milik sendiri dengan memanfaatkan pekarangan rumah yang ada. Dari Tabel 11, peternak yang menjadikan lahan sendiri untuk beternak sebanyak 24 orang (74,41 %), peternak yang menyewa lahan sebanyak 5 orang (16,12 %) dan peternak yang menggunakan lahan orang tua atau warisan sebanyak 2 orang (6,45 %). Status kepemilikan lahan mempengaruhi pendapatan dan pengembangan usaha ternak yang dilakukan. Peternak yang memiliki lahan sendiri pendapatannya lebih tinggi jika dibanding dengan peternak yang tidak memiliki lahan sendiri, karena biaya yang dikeluarkan untuk menyewa lahan dapat digunakan untuk keperluan usaha ternaknya seperti untuk pembelian pakan.

Faktor Eksternal Peternak

Interaksi dengan Penyuluh

Hubungan yang baik antara peternak dengan penyuluh dibutuhkan dalam pencapaian tujuan penyuluhan. Salah satu faktor yang mendukung adalah adanya interaksi dengan penyuluh. Interaksi dengan penyuluh diukur berdasarkan tingkat kesulitan yang dihadapi peternak dalam berinteraksi, dilihat dari sikap penyuluh dan seberapa sering penyuluh mengikutsertakan partisipasi peternak dalam kegiatan penyuluhan. Peternak yang tidak mengalami kesulitan berinteraksi dengan penyuluh sebanyak 80,64%, peternak yang cukup kesulitan berinteraksi sebesar 6,45% dan peternak yang merasa sangat kesulitan sebesar 12,90%. Dapat dilihat dalam tabel 12 dibawah ini.

Tabel 12. Tingkat Kesulitan Berinteraksi dengan Penyuluh Frekuensi Persentase (%)

Kesulitan 12,90

Agak kesulitan 6,45

Tidak sama sekali 80,64

Total 100,00

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tidak ada peternak yang merasa sikap penyuluh tidak baik terhadap peternak. Hampir semua peternak mengangap sikap

penyuluh sangat baik yaitu 74,19% sedangkan yang beranggapan bahwa sikap penyuluh terhadap peternak cukup baik sebanyak 25,80%. Seperti diperlihatkan pada Tabel 13 dibawah ini.

Tabel 13. Sikap Penyuluh Frekuensi Persentase (%)

Sangat baik 74,19

Cukup baik 25,80

Total 100,00

Pengikutsertaan partisipasi peternak dalam penyuluhan diperoleh hasil bahwa penyuluh sangat sering mengikutsertakan peternak dalam penyuluhan. Peternak yang sangat sering terlibat dalam kegiatan penyuluhan sebanyak 74,19%, peternak yang cukup sering terlibat sebanyak 16,12% dan peternak yang tidak sering terlibat sebanyak 9,67%. Seperti diperlihatkan pada Tabel 14 dibawah ini.

Tabel 14. Pengikutsertaan Partisipasi Peternak dalam Penyuluhan Frekuensi Persentase (%)

Sangat sering 74,19

Kurang sering 16,12

Tidak sering 9,67

Total 100,00

Data menunjukkan bahwa interaksi dengan penyuluh yang tidak mengalami kesulitan dipengaruhi oleh sikap penyuluh yang sangat baik kepada peternak yang berpengaruh pada partisipasi peternak dalam penyuluhan yang tergolong sangat sering atau bisa digolongkan dalam kategori tinggi.

Interaksi dengan Pedagang

Beberapa faktor yang menjadi penentu keberhasilan dari penjualan produk di antaranya adalah interaksi dengan pedagang, jumlah pedagang yang menjual produk serta sikap dari pedagang. Peternak tidak mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan pedagang. Hal ini disebabkan banyaknya pedagang yang membelil produk dan sikap dari

pedagang yang baik dalam melayani peternak yang menjual produk peternakannya, sehingga peternak dapat dengan mudah menjual produknya tanpa mengalami kesulitan.

Ketersediaan Sistem Pasar

Peningkatan pendapatan peternak dilihat dari kondisi infrastruktur dan sistem pasar yang ada. Kondisi infrastruktur mempengaruhi penjualan produk peternakan ke tempat-tempat penjualan produk. Pengukuran kondisi infrastruktur dilihat dari kondisi untuk memasarkan produk, sarana transportasi, dan sarana komunikasi. Dalam pemanfaatan infrastruktur seperti jalan umum peternak tidak terlalu mengalami kesulitan karena jalan umum yang ada masih cukup baik dan transportasi yang tersedia tergolong cukup, sedangkan sarana komunikasi yang tersedia masih terbatas atau sedikit.

Peternak menjual produk peternakannya ke pasar, rumah potong hewan (RPH), ke acara-acara pesta atau acara adat dengan sistem tawar menawar. Peternak menjual produk peternakannya dengan cara bertemu langsung dengan pedagang, RPH atau pembeli yang membeli produk dalam jumlah yang banyak untuk acara-acara pesta atau acara adat.

Ketersediaan Informasi

Informasi tentang peternakan sangat dibutuhkan oleh peternak untuk menambah pengetahuan dan keterampilannya. Tingkat ketersediaan informasi diukur dari berapa sering peternak mendapatkan informasi yang dipengaruhi oleh berapa banyak sumber informasi yang ada.

Peternak di desa Siborong – borong memperoleh informasi tentang peternakan hampir seluruhnya berasal dari penyuluh. Selain untuk menyampaikan atau memberikan informasi, penyuluh juga melatih peternak untuk menggunakan teknologi baru dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan peternak karena peternakan merupakan sumber mata pencaharian yang paling “aman” dalam menjamin kebutuhan hidup peternak. Penyampaian informasi dan pelatihan yang diberikan penyuluh berupa pertemuan – pertemuan secara formal maupun non-formal. Pertemuan formal seperti pertemuan yang diadakan oleh penyuluh pada waktu tertentu dan tempat tertentu dengan melibatkan seluruh peternak baik sebagai anggota kelompok maupun yang bukan anggota kelompok. Sedangkan pertemuan nonformal seperti kunjungan penyuluh secara langsung ke rumah

peternak dengan tujuan untuk mengobati ternak, membantu peternak yang mengalami kesulitan atau hanya untuk melihat perkembangan ternak.

Sumber informasi yang hampir seluruhnya diperoleh dari penyuluh dirasakan peternak masih kurang dan peternak masih membutuhkan informasi yang lebih lengkap, tepat dan jelas dari sumber lainnya seperti dari buku, media massa dan sumber lainnya yang dapat menambah pengetahuan peternak.

Partisipasi

Van den Ban dan Hawkins (1999) menyatakan bahwa partisipasi memungkinkan perubahan-perubahan yang lebih besar dalam cara berpikir manusia. Partisipasi sering dianggap mempermudah jalan untuk meraih kelompok sasaran yang lebih miskin dan kurang berpendidikan serta wanita. Partisipasi peternak dalam penyuluhan diukur dari segi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Perencanaan Program Penyuluhan

Perencanaan program penyuluhan merupakan proses kegiatan yang mengembangkan kemampuan serta keterampilan dari peternak dalam memanfaatkan, memelihara dan mengembangkan usaha peternakannya.

Peran peternak dalam perencanaan program penyuluhan dalam penelitian di ukur dari unsur perencanaan seperti : (1) kehadiran rapat, (2) diskusi,(3) pendanaan, (4) persiapan kegiatan, dan (5) menyediakan peralatan atau perlengkapan.

Tabel 15. Partisipasi Peternak Dalam Penyuluhan

Kegiatan Perencanaan Tingkat Partisipasi S (%) J (%) TP (%) 1. Kehadiran rapat 64, 51 12,90 22,58 2. Diskusi 61,29 12,90 25,80 3. Pendanaan 9,67 48,38 41,93 4. Persiapan kegiatan 41,93 38,70 19,35 5. Menyediakan peralatan 12,90 45,16 41,95

kegiatan rapat dan diskusi masing – masing sebanyak 20 orang ( 64,51%) dan 19 orang (61,29%) kedua kegiatan perencanaan ini termasuk dalam kategori tinggi. Kegiatan perencanaan dalam hal pendanaan partisipasi peternak yang sering mengeluarkan dana untuk kegiatan penyuluhan sangat minim yaitu sebanyak tiga orang (9,67%). Partisipasi peternak yang sering aktif dalam kegiatan perencanaan seperti persiapan kegiatan serta persediaan perlengkapan dan peralatan masing- masing sebanyak 13 orang (41,90%) dan empat orang (12,90%).

Setiap partisipasi yang tidak pernah diikuti oleh peternak mulai dari kehadiran rapat, diskusi, pendanaan, persiapan kegiatan dan persediaan alat serta perlengkapan, kenonaktifan peserta yang paling tinggi ada pada pendanaan dan persiapan peralatan yaitu sebanyak 13 orang (41,95%). Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi peternak dalam perencanaan program penyuluhan termasuk dalam kategori tinggi, pendanaan dan penyediaan peralatan termasuk dalam kategori rendah dan masuk dalam taraf kewajaran karena hampir seluruh kegiatan dibiayai oleh pemerintah dalam hal ini Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Tapanuli Utara.

Pelaksanaan Program Penyuluhan

Partisipasi peternak dalam pelaksanaan program penyuluhan dapat berupa kehadiran, dana, tenaga, ketersediaan waktu yang ada untuk mengikuti penyuluhan. Tingkat partisipasi peternak dilihat dari kehadiran dalam pelaksanaan program penyuluhan termasuk kategori tinggi karena banyak peternak yang hadir dalam program penyuluhan yaitu sebanyak 19 orang (61,29 %). Seperti pada Tabel 16.

Tabel 16. Tingkat Partisipasi dalam Pelaksanaan Program Penyuluhan

Pelaksanaan Program Penyuluhan

Tingkat Partisipasi

S (%) J (%) TP (%)

1. Kehadiran 61,29 16,12 22,58

2. Dana 12,90 25,80 61,29

3. Tenaga 9,67 25,80 64,51

Pada Tabel 16 terlihat bahwa peternak yang sering hadir selalu menyediakan waktu khusus untuk mengikuti program penyuluhan disamping kesibukan lainnya sesuai dengan pekerjaan utama dari peternak. Program penyuluhan biasanya dilakukan pada pagi hari atau siang hari. Pengeluaran dana pribadi oleh peternak pada saat program penyuluhan sangat rendah, peternak yang pernah mengeluarkan dana pribadi berjumlah 37,70% dan yang tidak pernah mengeluarkan dana sebesar 61,29%. Pengeluaran dana pribadi rendah di karenakan penyuluh langsung datang mengunjungi peternak dan pelaksanaan program penyuluhan biasanya diadakan di desa tempat tinggal peternak sehingga tidak diperlukan biaya transportasi. Pengeluaran peternak secara pribadi hanya terbatas pada pembelian obat dan biaya pengobatan jika ada ternak yang sakit.

Sumbangan tenaga yang diberikan peternak sangat rendah yaitu mencapai 35,47%, sedangkan peternak yang tidak pernah menyumbangkan tenaga dalam pelaksanaan program sebesar 64,51%. Sumbangan tenaga yang sangat rendah karena kebanyakan dari peternak yang pernah hadir dalam pelaksanaan program penyuluhan lebih mengutamakan kehadiran pada saat pelaksaan program penyuluhan yang akan dilaksanakan.

Tabel 17. Tanggapan Peternak Terhadap Peran Penyuluh

Peran Penyuluh

Tanggapan Peternak

SB(%) CB(%) TB (%)

1. Penyuluh sebagai sumber Informasi 35,48 64,51 -

2. Penyuluh sebagai katalisator 32,25 67,74 -

3. Penyuluh sebagai pendidik 35,48 64,51 -

4. Penyuluh dalam pengambilan keputusan 41,93 61,29 -

5. Peran Penyuluh untuk mencapai tujuan 41,93 61,29 -

Keterangan : SB = Sangat Baik; CB = Cukup Baik; TB= Tidak Baik

Peran penyuluh dalam pelaksanaan program penyuluh yang dikategorikan ke- dalam lima peran yaitu: Peran penyuluh sebagai sumber informasi, penyuluh sebagai katalisator, penyuluh sebagai pendidik, penyuluh membantu peternak dalam pengambilan keputusan, dan peran penyuluh dalam pencapaian tujuan penyuluhan.

Tidak adanya peternak yang menilai peran penyuluh dalam penyuluhan tidak baik, hal ini menunjukkan pandangan peternak secara umum bahwa penyuluh sudah cukup baik dalam melaksanakan tugas dan perannya dalam pelaksanaan penyuluhan.

Tabel 18. Tanggapan Peternak Terhadap Materi Penyuluhan Materi Persentase (%)

Sangat jelas 32,25

Cukup jelas 67,74

Total 100,00

Secara umum peternak yang pernah mengikuti kegiatan penyuluhan menilai bahwa materi yang disampaikan dalam pelaksanaan program penyuluhan cukup jelas. Peternak yang menilai materi yang disampaikan sangat jelas dan cukup jelas masing- masing 32,25% dan 67,74%. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa materi yang disampaikan oleh penyuluh cukup mudah untuk dipahami dan dimengerti oleh peternak, hal ini menunjukkan bahwa materi yang disampaikan dapat dipahami peternak atau peternak memiliki kemampuan yang cukup baik untuk menyerap materi yang diberikan oleh penyuluh.

Tabel 19. Tanggapan Peternak Terhadap Manfaat Penyuluhan Manfaat Persentase (%)

Sangat baik 74,19

Cukup baik 25,80

Total 100,00

Tabel 19 memperlihatkan jumlah peternak yang menganggap manfaat dari penyuluhan sangat baik terhadap usaha peternakannya merupakan jumlah yang paling besar yaitu sebanyak 74,19% dan peternak yang menganggap manfaat dari penyuluhan cukup baik sebanyak 25,80%. Tidak ada peternak yang menganggap bahwa manfaat dari penyuluhan tidak baik untuk usaha peternakannya, menunjukkan manfaat dari penyuluhan sudah dirasakan oleh peternak dan peternak memiliki pandangan yang benar tentang penyuluhan serta mengerti akan arti penting penyuluhan bagi peningkatan usaha

ternak mereka, sehingga penyuluhan sangat diperlukan untuk menambah pengetahuan peternak tentang usaha peternakannya agar usaha peternakan mereka menjadi lebih maju.

Evaluasi Program Penyuluhan

Evaluasi dapat dijadikan sebagai dasar untuk perencanaan yang lebih baik dimasa yang akan datang. Dalam mencapai keberhasilan penyuluhan di Desa Siborong-borong evaluasi memegang peranan yang sangat penting. Bentuk dan tingkat partisipasi peternak dalam evaluasi program penyuluhan dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20. Partisipasi Peternak dalam Evaluasi

Unsur Evaluasi

Frekuensi

SS (n) % CS(n) % TP (n) %

1. Kehadiran rapat 38,70 48,38 12,90

2. Diskusi 35,48 41,93 22,58

3. Perencanaan kegiatan selanjutnya 22,58 32,25 45,16

Keterangan : SS = Sangat Sering; CS = Cukup Sering; TP= Tidak Pernah

Dari Tabel 20 dapat dilihat bahwa partisipasi peternak dalam evaluasi penyuluhan dibagi menjadi tiga kegiatan yaitu: (1) kehadiran rapat, (2) diskusi, dan (3) perencanaan kegiatan selanjutnya. Hasil yang ada menunjukkan bahwa sebahagian besar peternak dalam evaluasi hanya menyampaikan pendapat atau keluhan atas keberhasilan atau kegagalan dalam pelaksanaan program penyuluhan, sedangkan partisipasi peternak dalam kegiatan selanjutnya masih rendah. Hal ini diduga karena peternak masih merasa bahwa pihak yang berwenang dalam hal ini Dinas Perikanan dan Peternakan yang berkewajiban untuk memecahkan masalah yang terjadi dalam pelaksanaan program penyuluhan.

Hubungan antara Faktor Internal dan Eksternal Peternak dengan Tingkat Partisipasi Peternak dalam Penyuluhan

Hasil uji statistik dengan Rank Spearman antara faktor-faktor internal dan eksternal peternak dengan tingkat partisipasi peternak dalam penyuluhan menghasilkan nilai seperti pada Tabel 21. Nilai korelasi yang dihitung menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi peternak dalam program penyuluhan.

Tabel 21. Nilai Korelasi Rank Spearman antara Faktor Internal dan Faktor Eksternal dengan Tingkat Partisipasi dalam Penyuluhan

Faktor Internal dan Tingkat Partisipasi

Eksternal Peternak Perencanaan Pelaksanaan Evaluasi

1. Umur -0,030 0,039 -0,454* 2. Pendidikan 0,058 -0,495** 0,068 3. Pendapatan -0,120 -0,034 -0,210 4. Tanggungan 0,302 0,005 0,186 5. Pengalaman Beternak -0,207 -0,487** -0,304 6. Jumlah Ternak -0,041 -0,325 -0,086 7. Luas Lahan 0,011 -0,110 -0,428* 8. Kegiatan kelompok 0,296 0,197 -0,066 9. Interaksi dengan Penyuluh -0,159 0,216 -0,208 10. Interaksi dengan Pedagang 0,389* 0,303 -0,064 11. Ketersediaan Sistem Pasar 0,156 0,070 0,134 12. Ketersediaan Informasi -0,136 -0,104 0,364*

Keterangan : * nyata pada taraf 0,05

** sangat nyata pada taraf 0,01

Umur

Hasil yang diperoleh menunjukkan tidak terdapatnya hubungan yang nyata antara umur peternak dengan tingkat partisipasi peternak dalam perencanaan dan pelaksanaan penyuluhan. Hal ini diduga karena umur peternak tidak menghambat kemampuan peternak untuk memberikan bantuan dalam perencanaan penyuluhan yang berupa kehadiran rapat, diskusi, pendanaan, persiapan kegiatan dan menyediakan peralatan. Demikian juga dalam pelaksanaan penyuluhan yang berupa kehadiran, dana dan tenaga.

Terdapat hubungan yang nyata dan negatif (-0,454*) antara umur peternak dengan tingkat partisipasi peternak dalam evaluasi penyuluhan yang menggambarkan bahwa semakin tinggi umur peternak mengakibatkan tingkat partisipasi peternak dalam evaluasi penyuluhan semakin rendah dan sebaliknya semakin rendah umur peternak maka tingkat partisipasi peternak dalam evaluasi penyuluhan semakin tinggi. Hal ini diduga karena usia peternak berkaitan erat dengan kemampuan fisik seseorang yang mempengaruhi

kemampuan peternak untuk berpartisispasi dalam evaluasi program penyuluhan yang berupa kehadiran rapat, diskusi dan perencanaan kegiatan selanjutnya.

Pendidikan

Hasil uji statistik dengan rumus korelasi Rank Spearman didasarkan pada latar belakang pendidikan peternak. Hasil perhitungan menunjukkan terdapat hubungan yang sangat nyata dan negatif (-0,495**) antara pendidikan dengan tingkat partisipasi peternak dalam pelaksanaan penyuluhan. Hubungan antara pendidikan dengan partisipasi peternak dalam pelaksanaan penyuluhan dikatakan sebagai hubungan yang berpola kenaikan yang berkebalikan diantara dua variabel, di mana semakin tinggi tingkat pendidikan peternak maka semakin rendah tingkat partisipasinya dalam pelaksanaan penyuluhan begitu juga sebaliknya semakin rendah pendidikan peternak maka semakin tinggi tingkat

Dokumen terkait