PT Jasa Marga (Persero) Tbk didirikan pada tanggal pada tanggal 01 Maret 1978 oleh pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No. 04 Tahun 1978. Tugas utama Jasa Marga adalah merencanakan, membangun, mengoperasikan dan memelihara jalan tol serta sarana kelengkapannya agar jalan tol dapat berfungsi sebagai jalan bebas hambatan yang memberikan manfaat lebih tinggi daripada jalan umum bukan tol. Perseroan berperan tidak hanya sebagai operator tetapi memeliki tanggung jawab sebagai otoritas jalan tol di Indonesia. Hingga tahun 1987 Jasa Marga adalah satu-satunya penyelenggara jalan tol di Indonesia yang pengembangannya dibiayai Pemerintah dengan dana berasal dari pinjaman luar negeri serta penerbitan obligasi Jasa Marga. Ketergantungan sumber pendanaan pada hutang membuat keuangan perusahaan tidak sehat (tabel 1) dan diperlukan suatu perbaikan agar kondisinya membaik. Perbaikan dilakukan oleh Jasa Marga dengan menjadikan perusahaan terbuka melalui IPO dan mendaftarkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 1 November 2007. Momen tersebut dimanfaatkan oleh Jasa Marga untuk memperbaiki kinerja perusahaan dengan meningkatkan aktifikat usaha, adalah: (1) melakukan investasi dengan membangun jalan tol baru, (2) mengoperasikan dan memelihara jalan tol, (3)
11 mengembangkan usaha lain, seperti tempat istirahat, iklan, jaringan serat optik dan lain-lain, untuk meningkatkan pelayanan kepada pemakai jalan dan meningkatkan hasil usaha perusahaan, (4) Mengembangkan usaha lain dalam koridor jalan tol. Ekstensifikasi aktivitas tersebut diharapkan dapat memperbaiki keuangan perusahaan.
Analisis Trend dan Peramalan
Perkembangan kinerja perusahaan dari tahun ke tahun dapat digambarkan secara grafik melalui metode analisis trend. Alat analisis ini mampu memudahkan pembacanya dalam membuat kesimpulan apakah kinerja perusahaan menurun, meningkat, atau stabil. Software yang dipilih peneliti untuk perhitungan analisis trend adalah minitab 15. Periode pengamatan dari penelitian terhadap PT Jasa Marga Tbk selama 9 tahun, yaitu tahun 2004-2013. Dalam Penelitian ini tahun 2004 dijadikan sebagai tahun dasar.
Output dari analisis trendini menghasilkan sebuah pola grafik yang menghubungkan data dari masing-masing variabel pad periode 2004-2012. Pola grafik ini dapat dimanfaatkan sebagai input dari sebuah permalan kuantitatif. Peramalan ini melihat nilai MAPE MAD MSD terkecil dari model grafiktrend linear, trend quadratic, trend eksponensial growth, ataupun trend S-curve.
Trend dan Peramalan Kondisi Neraca
Analisis kondisi neraca dapat dicerminkan atas beberapa komponen pada laporan keuangan. Komponen tersebut adalah total aktiva, total kewajiban dan total ekuitas. Hasil analisis trend kondisi neraca keuangan PT Jasa Marga Tbk periode 2004-2013 dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2 Perkembangan kondisi neraca keuangan PT Jasa Marga Tbk
Pe
rse
n
(
a. Total aktiva
Grafik total aktiva pada gambar 2 menunjukan peningkatan yang positif dari tahun ke tahun. Nilai total aktiva PT Jasa Marga Tbk pada tahun dasar 2004 sebesar Rp 7.969.740.126.000. Nilai ini bertumbuh pada tahun 2005 dan 2006 masing-masing sebesar 21,91% dan 28,30% terhadap tahun dasar menjadi Rp 9.715.807.119.000 dan Rp 10.225.697.089.000. Peningkatan di kedua tahun tersebut karena adanya peningkatan piutang lain-lain. Pelonjakan total aktiva yang cukup mencolok terjadi pada tahun 2007 menjadi sebesar Rp 13.847.227.161.000. Pelonjakan lebih disebabkan oleh adanya kebijakan privatisasi pada bulan November 2007. Pada tahun 2008, nilai aktiva meningkat menjadi Rp 14.642.760.013.000. Fakta dibalik kenaikan tersebut terdapat nilai aktiva lancar yang menurun di tahun tersebut, peningkatan lebih ditutupi oleh aset tetap dalam konstruksi yang bernilai Rp 1.135.689.526.000. Pada tahun 2009, nilai total aktiva kembali meningkat sebesar 19,94% dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan ini disebabkan adanya peningkatan sebesar Rp 1.014.762.020 pada komponen hak pengusaha jalan tol dan komponen baru perusahaan yaitu goodwill. Secara berturut-turut peningkatan total aktiva terjadi pada tahun 2010, 2011, 2012 dan 2013 masing-masing sebesar 34,85%, 31,11%, 41,67% dan 45,33 dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan ini berbanding lurus dengan peningkatan aktiva lancar dan aktiva tetap masing-masing tahun.
Pengamatan terhadap analisis trend yang menghasilkan peramalan nilai aktiva pada tahun 2014-2015 dapat dilihat pada gambar 3. Peramalan total aktiva ini menggunakan model quadratic. Peramalan nilai total aktiva pada tahun 2014 sebesar Rp 31.467.637.000.000. Nilai ini meningkat 38,91% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara total nilai aktiva dalam peramalan tahun 2015 sebesar Rp 35.188.532.000.000 atau meningkat 46,68% dibanding tahun 2014 dalam peramalan.
Gambar 3 Perkembangan dalam peramalan kondisi total aktiva tahun 2004-2015 (dalam juta rupiah)
13 b. Total kewajiban
Grafik total kewajiban pada Gambar 2 menunjukan peningkatan yang positif dari tahun ke tahun. Nilai kewajiban pada tahun dasar 2004 sebesar Rp 6.124.680.765.000. Nilai ini mengalami peningkatan pada dua tahun berikutnya maisng-masing sebesar 26,50% dan 1,99% dibanding tahun sebelumnya di tahun berikutnya atau sebesar Rp 7.747.988.022.000 dan Rp 7.870.032.878.000. Peningkatan total kewajiban pada dua tahun tersebut berbanding lurus dengan peningkatan kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang. Total kewajiban sempat mengalami penurunan pada tahun 2007 walaupun kecil sebesar -3,877% atau sebesar Rp 7,632.542.945.000. Pada tahun 2008, total kewajiban kembali menningkat tidak signifikan sebesar 2,063% dibanding tahun 2007. Peningkatan kembali terjadi di sisi tahun analisis hingga tahun 2013. Besaran kenaikan bervariasi dari 9% - 50%. Kenaikan total kewajiban perusahaan dari tahun ke tahun menandakan kebutuhan akan dana yang diperlukan perusahaan untuk melakukan penetrasi bisnis yang semakin meningkat. Dana ini menutupi kekurangan atas modal sendiri.
Pengamatan terhadap analisis trend yang menghasilkan peramalan nilai kewajiban pada tahun 2014-2015 dapat dilihat pada gambar 4. Peramalan total kewajiban ini menggunakan model linear. Peramalan nilai total kewajiban pada tahun 2014 sebesar Rp 16.216.463.000.000. Nilai ini menurun 20,95% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara total nilai kewajiban dalam peramalan tahun 2015 sebesar Rp 17.331.954.000.000 atau meningkat 18,21% dibanding tahun 2014 dalam peramalan.
Gambar 4 Perkembangan dalam peramalankondisi total Pasiva tahun 2004-2015 (dalam juta rupiah)
c. Ekuitas
Grafik total kewajiban pada gambar 2 menunjukan peningkatan ekuitas yang positif dari tahun ke tahun. Nilai ekuitas pada tahun dasar 2004 sebesar Rp
1.844.968.118.000. Peningkatan ekuitas terjadi pada dua tahun berikutnya sebesar 6,51% dan 22,65% dibandingkan tahun dasar, Kenaikan ekuitas lebih disebabkan oleh peningkatan saldo laba yang ditahan. Lonjakan besar ekuitas terjadi pada tahun 2007 dimana nilai ekuitas perusahaan sebesar Rp 5.975.315.883.000 atau meningkat 323,87%. Pelonjakan ekuitas secara signifikan ini disebabkan adanya kebijakan perusahaan mengenai privatisasi. Kebijakan ini memungkinkan perusahaan mengambil dana investasi sebesar-besarnya dari masyarakat untuk operasi bisnis perusahaan. Sementara disisa tahun analisis hingga tahun 2013 tercatat PT Jasa Marga Tbk mampu mencetak peningkatan ekuitas dari tahun ke tahun dengan kisaran peningkatan sebesar 29% - 81%.
Pengamatan terhadap analisis trend yang menghasilkan peramalan nilai ekuitas pada tahun 2014-2015 dapat dilihat pada gambar 5. Peramalan ekuitas ini menggunakan model eksponencial growth. Peramalan nilai ekuitas pada tahun 2014 sebesar Rp 17.024.010.000.000. Nilai ini meningkat 333,72% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara total nilai ekuitas dalam peramalan tahun 2015 sebesar Rp 21.024.472.000.000 atau meningkat 216,83% dibanding tahun 2014 dalam peramalan. Peningkatan yang signifikandalam permalan ini terjadi karena model exponencial growth, sehingga pertumbuhan menjadi sangat pesat.
Gambar 5 Perkembangan dalam peramalan kondisi ekuitas tahun 2004-2015 (dalam juta rupiah)
Trend dan Peramalan Kondisi Laba Rugi
Analisis kondisi laba rugi dapat dicerminkan atas komponen-komponen pada laporan keuangan yaitu pendapatan usaha, laba usaha, laba sebelum pajak, dan laba bersih. Hasil analisis trend kondisi neraca keuangan PT Jasa Marga Tbk periode 2004-2012 dapat dilihat pada Gambar 6.
15
Gambar 6 Perkembangan kondisi laba rugi keuangan PT Jasa Marga Tbk a. Pendapatan usaha
Kecenderungan nilai pendapatan usaha yang didapat oleh PT Jasa Marga Tbk adalah positif dari tahun ke tahun. Pendapatan usaha di tahun dasar 2004 sebesar Rp 1.631.554.172.000. Nilai ini tumbuh secara positif di tahun-tahun berikutnya hingga pada tahun 2012 terdapat lonjakan pendapatan usaha. Pada tahun 2008, setahun perdana setelah privatisasi, PT Jasa Marga Tbk mampu memperoleh pendapatan 43,43% dibandingkan tahun 2007 atau sebesar Rp 3.353.632.332.000. Pelonjakan pendapatan usaha yang signifikan terjadi pada tahun 2012, presentase kenaikannya adalah 251,89% dibandingkan tahun 2011 atau sebesar Rp 9.070.219.074.000. Kontribusi terbesar yang menyebabkan pendapatan usaha meningkat lebih dari dua kali lipat adalah pendapatan konstruksi PT Jasa Marga Tbk.
Pengamatan terhadap analisis trend yang menghasilkan peramalan nilai pendapatan usaha pada tahun 2014-2015 dapat dilihat pada gambar 7. Peramalan ekuitas ini menggunakan model quadratic trend. Peramalan nilai pendapatan usaha pada tahun 2014 sebesar Rp10.294.667.635.000. Nilai ini meningkat 75,05% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara total pendapatan dalam peramalan tahun 2015 sebesar Rp 12.406.011.000.000 atau meningkat 129,41% dibanding tahun 2014 dalam peramalan.
Pe
rse
n
(
Gambar 7 Perkembangan dalam peramalan kondisi pendapatan tahun 2004-2015 (dalam juta rupiah)
b. Laba usaha
Kecenderungan nilai laba usaha yang didapat oleh PT Jasa Marga Tbk adalah positif dari tahun ke tahun. Pendapatan usaha di tahun dasar 2004 sebesar Rp 543.552.784.000. Nilai ini tumbuh secara positif di tahun-tahun berikutnya hingga pada tahun 2012 terdapat lonjakan laba usaha. Peningkatan laba usaha ini berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan dan beban usaha pada tahun 2005, 2006, dan 2007 sehingga besaran pendapatan usaha masing-masing tahun adalah Rp 633.092.343.000, Rp 819.453.449.000, dan 1.015.949.442.000. Nilai ini kembali meningkat sebesar 65,43% di akhir tahun 2007 atau sebesar Rp 1.371.624.076.000. Pada tahun 2008, setahun perdana setelah privatisasi, PT Jasa Marga Tbk mampu meraup laba usaha 65,43% dibandingkan tahun 2007 atau sebesar Rp 1.371.624.076.000. Pelonjakan pendapatan usaha yang signifikan terjadi pada tahun 2012, presentase kenaikannya adalah 127,65% dibandingkan tahun 2011 atau sebesar Rp 2.975.235.917.000. Kontribusi terbesar yang menyebabkan pendapatan usaha meningkat seratus persen lebih adalah pendapatan konstruksi PT Jasa Marga Tbk. Pada tahun 2013 terjadi penurunan laba usaha sebesar 57,41% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pengamatan terhadap analisis trend yang menghasilkan peramalan nilai laba usaha pada tahun 2014-2015 dapat dilihat pada gambar 8. Peramalan laba usaha ini menggunakan model linear trend. Peramalan nilai laba usaha pada tahun 2014 sebesar Rp 3.108.876.000.000. Nilai ini meningkat 82% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara total nilai laba usaha dalam peramalan tahun 2015 sebesar Rp 3.386.710.000.000 atau meningkat 51,11% dibanding tahun 2014.
17
Gambar 8 Perkembangan dalam peramalan kondisi laba usaha tahun 2004-2015 (dalam juta rupiah)
c. Laba sebelum pajak
Grafik nilai laba sebelum pajak yang didapat oleh PT Jasa Marga Tbk menunjukan pertumbuhan fluktutatif positif dari periode 2004-2014. Laba sebelum pajak di tahun dasar 2004 sebesar Rp 346.957.684.000. Nilai ini mengalami penurunan di tahun 2005 sebesar 48,96%. Penurunan ini disebabkan oleh beban lain bersih. Nilai ini kembali meningkat sebesar 94,77% di akhir tahun 2006 atau sebesar Rp 505.899.302.000. Penurunan terjadi pada akhir tahun 2007 sebesar -29,93% atau sebesar Rp 402.056.683.000. Pada tahun 2008, setahun perdana setelah privatisasi, PT Jasa Marga Tbk mampu meningkatkanlaba sebelum pajak sebesar 156,72% dibandingkan tahun 2007 atau sebesar Rp 945.822.260.000. Tahun berikutnya laba sebelum pajak terus mengalami peningkatan hingga pada akhir tahun 2012, persentase kenaikannya adalah 94,76% dibandingkan tahun 2011 atau sebesar Rp 2.055.256.702.000. Kontribusi terbesar yang menyebabkan pendapatan usaha meningkat hampir seratus persen adalah pendapatan konstruksi PT Jasa Marga Tbk. Pelonjakan terjadi pada tahun 2013, laba sebelum pajak hanya sebesar Rp 1.237.820.534.000.
Pengamatan terhadap analisis trend yang menghasilkan peramalan nilai laba sebelum pajak pada tahun 2014-2015 dapat dilihat pada gambar 9. Peramalan laba sebelum pajak ini menggunakan model quadratictrend. Peramalan nilai laba sebelum pajak pada tahun 2014 sebesar Rp 1.846.962.000.000. Nilai ini meningkat 175,56% dibanding tahun sebelumnya. Sementara total nilai laba sebelum pajak dalam peramalan tahun 2015 sebesar Rp 1.939.330.000.000 atau meningkat 26,62% dibanding tahun 2014 dalam peramalan.
Gambar 9 Perkembangan dalam peramalan kondisi EBT tahun 2004-2015 (dalam juta rupiah)
d. Laba bersih
Grafik nilai laba bersih yang didapat oleh PT Jasa Marga Tbk menunjukan pertumbuhan fluktutatif positif dari periode 2004-2014. Laba bersih di tahun dasar 2004 sebesar Rp 293.136.950.000. Nilai ini mengalami peningkatan di tahun 2005dan 2006 sebesar 17,69% dan 68,03% dari tahun sebelumnya. Penurunan terjadi pada akhir tahun 2007 sebesar -74,11% atau sebesar Rp 277.981.735.000. Pada tahun 2008, setahun perdana setelah privatisasi, PT Jasa Marga Tbk mampu meningkatkan laba bersih sebesar 172,57% dibandingkan tahun 2007 atau sebesar Rp 707.797.979.000. Tercatat di tahun tersebut sebagai peningkatan yang paling tajam laba bersih PT Jasa Marga Tbk periode 2004-2012. Tahun berikutnya laba sebelum pajak terus mengalami peningkatan hingga pada akhir tahun 2012, presentase kenaikannya adalah 86,22% dibandingkan tahun 2011 atau sebesar Rp 1.536.346.216.000. Kontribusi terbesar yang menyebabkan pendapatan usaha meningkat hampir seratus persen adalah pendapatan konstruksi PT Jasa Marga Tbk. Penurunan laba bersih terjadi pada tahun 2013 19,51% menjadi sebesar Rp 1.236.626.699.000.
Pengamatan terhadap analisis trend yang menghasilkan peramalan nilai laba bersih pada tahun 2014-2015 dapat dilihat pada gambar 9. Peramalan laba sebelum pajak ini menggunakan model quadratic trend. Peramalan nilai laba sebelum pajak pada tahun 2014 sebesar Rp 1.622.079.000.000. Nilai ini meningkat 154,76% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara total nilai laba bersih dalam peramalan tahun 2015 sebesar Rp 1.753.665.000.000 atau meningkat 128,40% dibandingkan tahun 2014 dalam peramalan.
19
Gambar 10 Perkembangan dalam peramalan kondisi laba bersih tahun 2004-2015 (dalam juta rupiah)
Berdasarkan analisis trend kondisi keuangan selama periode 2004-2013 menunjukan grafik prestasi yang meningkat. Peningkatan laba Jasa Marga berdampak kepada nilai sahamnya. Walaupun terdapat penurunan laba bersih perusahaan sebesar 16.2% pada kuartal III dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, namun itu karena pada periode tahun sebelumnya tersebut perusahaan memperoleh pendapatan non operasional dari penjualan salah satu ruas jalan tolnya ke Citra Marga Nusaphala (CMNP), jadi bukan karena laba rill Jasa Marga turun. Dari sisi pendapatan, kinerja JSMR masih naik 31.2%, dan kenaikan ini seharusnya bisa dipertahankan mengingat mulai tahun 2014 mendatang, perusahaan bisa dipastikan akan menerima tambahan pendapatan dari Jalan Tol Tanjung Benoa. Perununan laba ini juga disebabkan oleh usaha PT. Jasa Marga Tbk dalam merampungkan proyek pembangunan jalan tol Nusa Dua – Ngurah Rai – Benoa (Bali Mandara). Sehingga banyak aset dan beban yang terkonsentrasi dalam pembangunan tersebut. Selain itu, biaya operasional perusahaan meningkat yang salah satunya disebabkan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) dan kebijakan alih daya, mengingat perusahaan banyak memiliki karyawan alih daya yang setara dengan UMP. Laba bersih Jasa Marga tahun 2013 sedang mengalami penurunan. Namun, mulai tahun ini JSMR diproyeksikan bisa mulai mendaptkan hasil semua ekspansi yang telah dilakukan, khususnya mulai beroperasinya ruas tol Kebon Jeruk-Ulujami (7.07km), Kedunghalang-Kedungbadak (2km), Ungaran-Bawen (12.3km), Gempol-Pandaan (12km), dan Gempol-Rembang (13.9km). Hal ini menjadi prospek yang baik bagi nilai saham Jasa Marga dalam kurun waktu 2014-2015 yang diramalkan meningkat. Oleh karena itu, Jasa Marga kemudian menjadi salah satu saham blue chip di bursa yang dihargai premium oleh investor, dimana Jasa Marga senantiasa mencatatkan price earning ratio (PER) antara 15 – 20 kali (sebagai perusahaan mapan, valuasi
Jasa Marga bisa dilihat dari PER-nya). Kinerja nilai saham JSMR yang baik membuatnya terdaftar senagai anggota indeks LQ 45, sebuah indeks yang menggambarkan saham yang memiliki tingkat liquiditas yang tinggi.
Rasio Keuangan
Analisis rasio merupakan salah satu alat analisis keuangan yang dapat digunakan untuk menginterpretasikan nilai rasio keuangan sehingga dapat menentukan kesehatan atau kinerja perusahaan baik pada saat ini maupun masa mendatang. Analisis rasio yang akan dibahas peneliti adalah rasio keuangan PT Jasa Marga Tbk pada tahun 2004 sampai 2011. Rasio-rasio yang akan dianalisis pada penelitian ini sebagai berikut:
Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas merupakan rasio yang menujukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat waktu. Rasio likuiditas yang akan dibahas adalah rasio kas dan rasio lancar. Komponen yang ada dalam rasio ini kas, aktiva lancar, dan kewajiban lancar.
Tabel 3 Rasio likuiditas PT Jasa Marga Tbk 2004-2011
Sumber: PT Jasa Marga Tbk (2004-2011) a. Analisis rasio kas
Berdasarkan perhitungan analisis rasio kas PT Jasa Marga Tbk pada tahun 2004-2011 menunjukan adanya nilai yang fluktuatif positif baik pada saat perusahaan belum diprivatisasi maupun sudah diprivatisasi. Periode sebelum privatisasi menunjukan rataan rasio sebesar 95,1% yang berarti setiap Rp100 hutang lancar dijamin dengan kas senilai Rp 95.1, maka dapat dilihat bahwa kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya cukup baik karena aktiva yang mampu menutupi kewajiban lancar perusahaan lebih dari 95%. Kas rasio pada tahun 2004 sebesar 29,6% dan hanya meningkat 0,3% pada tahun 2009 menjadi sebesar 29,9%. Hal ini menandakan tidak banyak perubahan positif yang dilakukan perusahaan. Bahkan pada tahun 2006 rasio ini menurun tajam di angka 19,2%. Berdasarkan komponen yang tesedia, penurunan rasio ini disebabkan oleh menurunnya kas yang dimiliki perusahaan. Pada tahun 2007, perusahaan membenahi manajemen dengan melakukan IPO pada bulan November, sehingga dampak peningkatannya langsung dapat dirasakan pada tahun berjalan. Nilai rasio lancar pada tahun 2007 sebesar 301,8%.
Nilai rasio kas pada masa setelah privatisasi (2004-2011) menunjukan kinerja naik turun. Penurunan nilai rasio terjadi berturu-turut pada tahun 2008 dan 2009 penurunan masing-masing sebesar 28,8% dan 161,3%. Penurunan ini selain
Sebelum Privatisasi Rata-rata sebelum
Setelah Privatisasi Rata-rata Sesudah 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 R Kas (%) 29,6 29,9 19,2 301,8 95,1 273,0 111,7 161,9 99,9 109,18 R Lancar (%) 38,1 32,7 60,9 307,5 161,6 315,8 115,6 165,0 106,1 175,16
21 disebabkan oleh penurunan komponen kas perusahaann dan meningkatnya utang usaha dan utang bank secara signifikan. Rasio kas sempat mengalami kenaikan pada tahun 2010 menjadi 161,9%. Penurunan kembali terjadi pada tahun 2011 menjadi 99,9%. Sementara rataan rasio kas setelah privatisasi sebesar 109,18%. Sehingga terjadi peningkatan rataan rasio kas pada 4 tahun berjalan setelah privatisasi. Rasio yang mencapai 109,18% menunjukan peringkat yang sangat baik dalam skala kesehatan yang ditetapkan Menteri BUMN. Namun yang menjadi cataan bagi perusahaan adalah kurang mampu dalam menjaga kestabilan kinerja rasio kas di periode awal privatisasi terbukti dengan adanya nilai rasio kas yang naik turun bahkan cenderung signifikan.
b. Analisis rasio lancar
Berdasarkan perhitungan analisis rasio kas PT Jasa Marga Tbk pada tahun 2004-2011 menunjukan adanya nilai yang fluktuatif positif baik pada saat perusahaan belum diprivatisasi maupun sudah diprivatisasi. Periode sebelum privatisasi menunjukan rataan rasio sebesar 161,6% yang berarti setiap Rp100 hutang lancar dijamin dengan aktiva lancar senilai Rp161.1. Dapat dilihat bahwa kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya sangatbaik karena aktiva lancar yang mampu menutupi kewajiban lancar perusahaan dan bahkan lebih dari 61,6% dari kewajiban lancarnya. Rasio lancar pada tahun 2008 sebesar 38,1% dan menurun di tahun berikutnya menjadi 32,7%. Peningkatan secara signifikan terjadi pada tahun 2006 menjadi 60,9%. Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya kas dan investasi perusahaan. Peningkatan tajam kembali terjadi pada tahun 2007 hal ini dikarenakan adanya kebijakan privatisasi yang dilakukan oleh Jasa Marga, nilai rasio di tahun tersebut sebesar 307,5%.
Nilai rasio lancar pada masa privatisasi menunjukan nilai yang naik turun. Rasio lancar pada tahun 2008 sebesar 315,8% dan menurun tajam sebsesar 115,6% di tahun berikutnya. Rasio kembali naik pada tahun 2010 menjadi 165,0% dan turun kembali di tahun berikutnya menjadi sebesar 106,1%. Sehingga rataan rasio lancar pada 4 tahun awal privatisasi sebesar 175,6%. Nilai ini termasuk skala yang sangat baik dalam penetapan nilai kesehatan kinerja keuangan menurut keputusan Menteri BUMN. Fenomena kinerja rasio lancar yang naik turun di empat tahun masa awal privatisasi menandakan masa adaptasi bagi Jasa Marga. Rasio Solvabilitas
Rasio Solvabilitas digunakan untuk melihat kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek maupun jangka panjang. Komponen dalam penilaian rasio ini adalah total aktiva, total kewajiban dan ekuitas. Nilai rasio ini mengalami fluktuasi yang cenderung positif.
Tabel 4 Rasio solvabilitas PT Jasa Marga Tbk 2004-2011
Sebelum Privatisasi
Rata-rata sebelum
Setelah Privatisasi Rata-rata Sesudah
2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
DER (%) 332,0 393,8 329,9 127,7 295,8 118,1 117,3 136,9 131,9 152,9
DAR (%) 76,8 79,7 77,0 55,1 72,2 53,0 52,1 55,9 56,9 60,5
a. Rasio hutang atas modal (debt to equity ratio)
Berdasarkan perhitungan analisis DER PT Jasa Marga periode sebelum privatisasi menunjukan kinerja yang fluktuatif positif. Nilai rataan rasio sebesar 295,8% yang berarti setiap Rp100 hutang dijamin dengan modal senilai Rp295,8. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya tidak baik karena dibutuhkan dana lebih sebesar Rp 195,8 yang bersumber dari modal sendiri untuk menutupi setiap Rp 100 kewajiban perusahaan. Penurunan rasio ini sebelum privatisasi terjadi pada tahun 2005 sebesar 393,8%. Sementara peningkatan tajam terjadi pada tahun 2007 sebesar 127,7%.
Nilai rataan rasio hutang atas modal pada empat tahun awal privatisasi sebesar 152,9% yang berarti setiap Rp100 hutang dijamin dengan modal senilai Rp 152,9%. Hal ini mengindikasikan perusahaan harus mencari dana tambahan sebesar Rp 52,9 untuk setiap Rp 100 kewajiban perusahaan. Dua tahun masa awal privatisasi terjadi kenaikan secara berturut-turut menjadi sebesar 118,1% dan 117,3%. Sementara pada dua tahun berikutnya terjadi naik turun masing-masing 136,9% dan 131,9%. Kesimpulan nilai rasio solvabilitas PT Jasa Marga Tbk meningkat di masa privatisasi ini dibandngkan masa sebelum privatisasi.
b. Rasio hutang atas aktiva (debt to asset ratio)
Berdasarkan perhitungan analisis DAR PT Jasa Marga periode sebelum privatisasi menunjukan kinerja yang fluktuatif positif. Nilai rataan rasio sebesar 72,2% yang berarti setiap Rp100 hutang dijamin dengan modal senilai Rp72,2. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya baik karena jaminan aktiva yang dimilikin perusahaan lebih besar dari kewajibannya. Penurunan rasio ini sebelum privatisasi terjadi pada tahun 2005 sebesar 79,7%. Sementara peningkatan tajam terjadi pada tahun 2007 sebesar 55,1%.
Nilai rataan rasio hutang atas modal pada empat tahun awal privatisasi sebesar 60,5% yang berarti setiap Rp100 hutang dijamin dengan modal senilai Rp 60,5. Hal ini masih mengindikasikan perusahaan mampu menutupi setiap Rp 100 kewajiban perusahaan dengan setiap Rp 60,5 assetnya. Dua tahun masa awal privatisasi terjadi kenaikan secara berturut-turut menjadi sebesar 53,0% dan 52,1%. Sementara pada dua tahun berikutnya terjadi naik turun masing-masing 55,9% dan 56,9%. Kesimpulan nilai rasio solvabilitas PT Jasa Marga Tbk meningkat di masa privatisasi ini dibandngkan masa sebelum privatisasi.
Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas digunakan untuk menilai efektivitas manajemen secara keseluruhan yang ditunjukkan oleh tingkat keuntungan yang diperoleh dalam