Desa Pariksabungan merupakan salah satu sumber penghasil produksi kopi Arabika di Kecamatan Dolok Pardamean Kabupaten Simalungun. Luas wilayah desa ini yaitu 9.05 km2 dengan rasio terhadap luas kecamatan Dolok Pardamean sebesar 12.33 %. Desa Pariksabungan tergolong wilayah dataran tinggi dengan ketinggian 1100-1400 meter diatas permukaan laut.
Wilayah desa Parkisabungan memiliki iklim tropis berhawa sejuk dan dingin. Lokasi ini berada pada musim hujan di bulan September hingga Februari sedangkan musim kemarau relatif terjadi pada bulan April hingga Agustus.
Tetapi, beberapa tahun terakhir pergantian musim di daerah ini tidak dapat diprediksi akibat perubahan iklim yang tidak menentu. Suhu rata-rata di daerah penelitian maupun secara umum di Kabupaten Simalungun adalah 25.5 C. Curah Hujan (CH) wilayah Simalungun ialah 269 mm/bulan dengan jumlah hari hujan 173 hari/tahun.
Ekosistem pertanian daerah penelitian tergolong beragam yang didominasi oleh tanaman semusim dan perkebunan kopi milik rakyat. Petani menerapkan sistem budidaya tanaman tumpangsari sebagai upaya meningkatkan produktivitas lahan pertanian. Disamping kebun kopi Arabika, tanaman semusim yang dibudidayakan oleh petani ialah seperti Cabai Rawit (Capsicum frustescens L.), Jagung (Zea mays L.), Sawi Putih (Brassica rapa L.), Cabai Merah (Capsicum annum L.) dan tanaman lainnya yang dapat dilihat pada Lampiran 13.
Untuk mengetahui sifat kimia tanah dari lokasi penelitian dilakukan analisis sampel tanah komposit dari 30 titik sampel sehingga diperoleh nilai hasil analisis pada beberapa parameter seperti dibawah ini.
Tabel 1. Data Analisis Sampel Tanah Komposit Desa Pariksabungan Nama Sampel pH H₂O Tekstur (%)
P (ppm) Mg
(me/100g)) Pasir Debu Liat
Sampel Tanah
Komposit 4,56 53,34 21,53 25,13 89,78 0,26 Keterangan: Hasil Analisis PT. Socfindo
Sampel tanah komposit yang didasarkan pada data Tabel diatas menjelaskan bahwa pH H2O tergolong masam dengan nilai 4,56 dan mengasilkan nilai P Bray II sebesar 89,78 ppm dan Mg 0,26 me/100g. Menurut kriteria hara sifat kimia tanah PPT (1983) hasil analisis tanah untuk nilai P Bray II tergolong sangat tinggi sedangkan nilai Mg termasuk sangat rendah (Lampiran 1).
Analisis sampel tanah komposit menghasilkan tekstur pasir 53,34 %, debu 21,53 % dan liat 25,13 %. Komposisi ini menghasilkan tekstur lempung liat berpasir yang diperoleh dari sistem klasifikasi USDA dengan diagram segitiga kelas tekstur tanah.
Hasil
Hasil pengamatan dari parameter produksi berupa berat biji produksi kopi, berat 100 biji dan persentase biji normal serta titik koordinat masing-masing sampel tersaji pada Lampiran 2. Untuk data hasil analisis P dan Mg daun di laboratorium dapat dilihat pada Lampiran 3.
Analisis Data Produksi dan Kadar Hara Daun
Data produksi terdiri dari Berat Produksi Biji Kopi, Berat 100 biji dan Persentase Biji Normal disajikan dengan mengakumulasikan data produksi pada
22
minggu ke dua dan minggu keempat sehingga diperoleh rataan setiap sampel penelitian. Rataan data parameter produksi biji kopi Arabika dan hasil analisis P, Mg daun diolah dengan analisis deskriptif yang disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Analisis Data Produksi dan Kadar Hara Daun kopi Arabika sebesar 65.11 g/sampel. Produksi tertinggi berat produksi sebesar 86,58 g/sampel dan produksi terendah sebesar 38,90 g/sampel. Data berat produksi biji kopi dianalisis sehingga diperoleh koefisien variansi data sebesar 22,74 % serta simpangan baku sebesar 14,81.
Data berat 100 biji sebagai salah satu data produksi memiliki koefisien variansi 6,09% dengan simpangan baku 2,15 yang dapat dilihat pada Tabel 2.
diatas. Produksi dari berat 100 biji tertinggi yaitu sebesar 40,13 g/pohon diikuti dengan berat produksi terendah sebesar 30,79 g/pohon sedangkan rata-rata produksi sebesar 35,36 g/pohon.
Persentase biji normal dihitung berdasarkan jumlah biji yang normal dikurangkan dengan biji abnormal dari 100 biji kopi Arabika. Persentase biji normal dihasilkan dari sortasi secara manual dengan mengklasifikasikan biji kopi
dengan tangan peneliti. Pengelompokan biji yang cacat dan biji yang normal dilakukan dengan memilah biji kopi satu per satu pada meja sortasi.
Tabel 2. diatas menyajikan analisis deskriptif dari data pengamatan persentase biji normal. Persentase biji normal tertinggi berdasarkan data diatas sebesar 86 % sedangkan persentase terendah sebesar 64,5%. Rata-rata persentase biji normal kopi Arabika dari keseluruhan sampel ialah 74,01%. Data persentase biji normal yang dianalisis memiliki koefisien variansi data sebesar 8,28 % dengan simpangan baku 6,13.
Analisis kadar fosfor daun kopi Arabika dilakukan pada setiap titik sampel yang sudah ditentukan sebelumnya sehingga terdapat 30 sampel analisis.
Keseluruhan sampel didominasi oleh kriteria optimum dan dinyatakan dalam satuan persen (%). Data kadar hara P daun kemudian diolah dengan analisis deskriptif untuk mengetahui komponen analisis deskriptif seperti nilai minimum maupun maksimum yang dapat dilihat pada Tabel 2. diatas.
Didasarkan kriteria kadar hara P Daun kopi Arabika pada Mukhlis (2014) umumnya kadar P Daun didominasi kriteria optimum yang berjumlah 25 sampel dan 5 sampel dalam kategori defisiensi. Kadar hara P daun tertinggi sebesar 0.20% yang diikuti dengan kadar P daun terendah terdapat sebesar 0.14 % sedangkan nilai rata-rata P daun adalah sebesar 0,16 %. Berdasarkan hasil analisis data yang dapat dilihat pada tabel 4.2 diperoleh koefisien variansi 9,93% serta simpangan baku 0,016.
Kadar magnesium daun kopi didominasi oleh kriteria defisiensi yang dinyatakan dalam persen. Sampel yang jumlahnya yang terdiri dari 30 terdiri dari 3 sampel yang memiliki kriteria optimum dan sisanya tergolong defisiensi . Hasil analisis deskriptif data kadar hara Mg daun terdapat pada Tabel 2.
24
Kadar hara Mg daun yang digolongkan kepada kriteria penilaian kadar hara daun kopi Arabika Mukhlis (2004) menghasilkan kadar hara yang defisiensi berjumlah 27 dari 30 sampel atau 90% mengalami defisiensi. Kadar hara tertinggi Mg daun adalah sebesar 0.31 % sedangkan kadar hara terendah sebesar 0.15 %.
Rata-rata kadar hara Mg daun dari keseluruhan sampel yaitu 0.23 % dengan simpangan baku sebesar 0,04 dan koefisien variansi 21,28 %.
Koefisien variansi masing-masing parameter produksi dan kadar hara yang disajikan pada Tabel 2. menyajikan bahwa koefisien variansi tertinggi terdapat pada parameter berat produksi biji sebesar 22,74 %. Kemudian diikuti dengan koefisien variansi kadar Mg daun sebesar 21,28 % diikuti oleh kadar hara P daun 9,93 %. Koefisien variansi terendah terdapat pada parameter persentase biji normal sebesar 8,28 % diikuti dengan berat 100 biji sebesar 6,09 %.
Hubungan Status Hara P Dan Mg Daun Terhadap Produksi Kopi Arabika Menilai suatu hubungan antara variabel biasanya menggunakan analisis korelasi. Analisis korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yang bersifat kuantitatif sehingga suatu data disebut memiliki korelasi jika seluruh variabel menunjukkan perubahan ke arah yang sama secara teratur.
Korelasi juga dapat menyatakan tingkat keeratan hubungan antara dua variabel yaitu variabel terikat dengan variabel bebas. Hasil analisis korelasi dapat dilihat pada Lampiran 4-9. Berikut ini dijabarkan korelasi setiap variabel bebas (P Daun dan Mg Daun) yang dikorelasikan terhadap variabel terikat (produksi kopi Arabika).
Tabel 3. Matriks Korelasi Antara P dan Mg daun Terhadap Berat Produksi Biji Berat 100 Biji, dan Persentase Biji Normal
P daun Mg
Keterangan: *dan** masing-masing nyata pada taraf 5% dan 1%
Tabel 3. menunjukkan korelasi antara P Daun (X1) Terhadap Berat Produksi Biji (Y1) yaitu 0.013 yang lebih kecil dari 0.05 artinya kedua variabel berhubungan signifikan. Keeratan hubungan antara dua variabel diatas dapat dilihat dari nilai Pearson Correlation P Daun Terhadap Berat Produksi Biji yaitu 0.448 yang berarti kedua variabel tersebut berkorelasi sedang.
Korelasi P terhadap berat produksi memiliki nilai positif yang berati semakin tinggi P daun maka berat produksi akan semakin meningkat, peningkatan tersebut secara linear positif pada persamaan garis y = 411.89x-1.7528 yang artinya jika P daun mengalami kenaikan setiap satu satuan maka akan meningkatkan berat produksi biji sebanyak 4.11 g dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0.448 (r = 0.448).
Nilai signifikansi P Daun (X1) Terhadap Berat 100 Biji (Y2) yaitu 0.010 yang lebih kecil dari 0.05 sehingga kedua variabel berhubungan signifikan.
Berdasarkan analisis korelasi diatas, nilai Pearson Correlation P daun terhadap
26
Berat 100 Biji yaitu 0.462 yang berarti kedua variabel tersebut berkorelasi sedang.
Korelasi antara P daun terhadap berat 100 biji menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai P daun maka akan semakin tinggi berat 100 biji dimana peningkatannya secara linear positif dengan persamaan y = 61.776x+25.329 yang artinya jika P daun mengalami peningkatan satu satuan makan berat 100 biji akan meningkat sebanyak 0.61 g dengan koefisien korelasi sebesar 0.462 (r = 0.462).
Berdasarkan Uji Korelasi pada Tabel 3. maka dihasilkan nilai signifikansi P Daun (X1) Terhadap Persentase Biji Normal (Y3) yaitu 0.049 yang lebih kecil dari 0.05 sehingga kedua variabel berhubungan signifikan. Nilai Pearson Correlation P Daun Terhadap Persentase Biji Normal yaitu 0.362 yang berarti kedua variabel tersebut berkorelasi lemah.
Hasil korelasi antara P daun terhadap persentase biji normal menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai P daun maka akan semakin meningkat persentase biji normal dimana peningkatannya secara linear positif dengan persamaan garis y = 137.84x+51.641dimana jika P daun mengalami peningkatan satu satuan maka persentase biji normal akan meningkat sebesar 1.37 % dengan nilai koefisien korelasi 0.362 (r = 0.362).
Tabel 3. menunjukkan korelasi antara Mg Daun (X2) terhadap Berat Produksi Biji (Y1) yaitu 0.994 yang lebih besar dari 0.05 artinya kedua variabel tidak berhubungan signifikan. Keeratan hubungan antara dua variabel diatas dapat dilihat dari nilai Pearson Correlation P daun terhadap Persentase Biji Normal yaitu 0.001 yang berarti kedua variabel tersebut berkorelasi sangat lemah.
Korelasi antara Mg daun terhadap berat produksi yang bernilai positif menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai Mg daun maka akan semakin tinggi
berat produksi biji dimana peningkatannya secara linear positif dengan persamaan y = 0.4389x+65.01 yang artinya jika Mg daun mengalami peningkatan satu satuan makan berat produksi biji akan meningkat sebanyak 0.0043 g dengan koefisien korelasi sebesar 0.462 (r = 0.462).
Nilai signifikansi Mg Daun (X2) Terhadap Berat 100 Biji (Y2) yaitu 0,679 yang lebih besar dari 0.05 artinya kedua variabel tidak berhubungan signifikan.
Berdasarkan hasil analisis korelasi diatas diperoleh nilai Pearson Correlation Mg Daun terhadap Persentase Biji yaitu -0.079 yang berarti kedua variabel tersebut berkorelasi lemah dan berlawanan arah.
Korelasi antara Mg daun dengan berat 100 biji yang memiliki nilai negatif menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai Mg maka tidak akan meningkatkan berat 100 biji. Hubungan ini dapat dilihat pada persamaan yang berkorelasi negatif dengan persamaan y = -3.4589x+36.154 yang artinya tidak terjadi peningkatan parameter produksi seiring dengan penambahan satu satuan Mg daun dengan koefisien korelasi sebesar -0.079 (r = -0.079) .
Berdasarkan Uji Korelasi pada Tabel 3. maka dihasilkan nilai signifikansi Mg Daun (X2) Terhadap Persentase Biji Normal (Y3) yaitu 0.677 yang lebih besar dari 0.05 artinya kedua variabel tidak berhubungan signifikan. Nilai Pearson Correlation Mg Daun Terhadap Persentase Biji Normal yaitu -0.079 yang berarti kedua variabel tersebut berkorelasi lemah dan berlawanan arah.
Korelasi antara Mg daun dengan persentase meiliki nilai yang negatif sehingga semakin tinggi nilai Mg daun maka tidak akan meningkatkan persentase
biji normal dimana memiliki korelasi yang negatif dengan persamaan y = -9.9024x+76.298 yang artinya jika Mg daun mengalami peningkatan satu
28
satuan maka tidak selaras dengan peningkatan persentase biji normal dengan koefisien korelasi sebesar -0.079 (r = -0.079).
Analisis Regresi
Pengaruh kadar P daun dan Mg daun secara simultan terhadap berat produksi biji , berat 100 biji, dan persentase biji normal kopi Arabika dianalisis menggunakan analisis regresi berganda. Regresi Linear berganda yang bertujuan untuk menguji pengaruh dua atau lebih variabel bebas terhadap variabel terikat biasanya dinyatakan dalam rumus. Hasil analisis regresi berganda dapat dilihat pada Lampiran 10-12.
Pengaruh Kadar P Dan Mg Daun Terhadap Berat Produksi Biji
Pengaruh kandungan hara P daun dan Mg daun terhadap berat produksi biji kopi memiliki nilai koefisien determinasi (R2) sebanyak 0.201 yang mengandung makna bahwa 20,1% berat produksi kopi Arabika ditentukan oleh status hara P dan Mg.
Nilai Signifikansi model yaitu 0,048 yang lebih kecil dari 0.05 sehingga P daun dan Mg daun secara simultan berpengaruh signifikan terhadap berat produksi . Secara parsial (tersendiri) terdapat pengaruh yang signifikan antara P daun terhadap berat produksi biji yang dapat dilihat pada tabel coefficients memiliki nilai signifikansi 0.015 yang lebih kecil dari 0.05. Sebaliknya, pengaruh Mg daun terlihat tidak signifikan dengan nilai signifikansi 0.973. Berdasarkan hasil analisis tersebut maka dapat diketahui persamaan regresi terhadap berat produksi biji kopi adalah sebagai berikut:
Y1 = - 2,166 + 411,946 X1 + 1,759 X2
Pengaruh Kadar P Dan Mg Daun Terhadap Berat 100 Biji
Analisis regresi berganda antara P daun dan Mg daun terhadap berat 100 biji juga menghasilkan pengaruh yang signifikan. Pada tabel analisis dihasilkan (R2) sebesar 0.253 yang berarti bahwa 25.3 % berat 100 biji produksi kopi Arabika ditentukan oleh status hara P dan Mg daun. Nilai Signifikansi model analisis regresi berganda terhadap berat 100 biji yaitu 0.020 yang lebih kecil dari 0.05 sehingga P dan Mg daun secara bersamaan berpengaruh signifikan terhadap berat 100 biji kopi Arabika.
Secara parsial, pengaruh P daun terhadap berat 100 biji terlihat signifikan dengan nilai signifikansi 0.011 yang lebih kecil dari 0.05. Berbeda dengan pengaruh antara Mg daun dengan berat 100 biji yang tergolong tidak signifikan.
Nilai signifikansi Mg daun terhadap berat 100 biji adalah 0.245 yang berarti lebih besar dari 0.05. Didasarkan dengan hasil analisis regresi berganda tersebut maka dapat ditentukan rumus regresi berganda antara P dan Mg daun terhadap berat 100 biji adalah sebagai berikut:
Y2 = 27,794 + 60,924 X1 - 10,943 X2
Pengaruh Kadar P Dan Mg Daun Terhadap Persentase Biji Normal
Berdasarkan analisis regresi berganda terhadap persentase biji normal yang menyajikan nilai signifikansi model dan nilai (R2) maka akan menunjukkan hasil yang berbeda dibandingkan pengaruh variabel P dan Mg daun terhadap variabel berat produksi biji dan berat 100 biji. Nilai R2 sebesar 0.157 % yang berarti bahwa 15,7 % P dan Mg daun berpengaruh terhadap Persentase biji normal. Nilai Signifikansi model yaitu 0.100 yang lebih besar dari 0.05 sehingga P daun dan Mg daun tidak berpengaruh signifikan terhadap Persentase Biji
30
Normal. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat ditentukan rumus regresi sebagai berikut:
Y3 = 170.750 + 918.991 X1 + 1089.742 X2 Pembahasan
Keterkaitan unsur hara P dan Mg daun dengan produksi kopi Arabika dapat dilihat melalui uji korelasi. Analisis korelasi antara P daun (X1) dengan Berat Produksi Biji (Y1) berhubungan signifikan dengan kriteria kandungan hara yang optimum serta memiliki tingkat keeratan yang sedang. Hubungan yang sama juga terlihat dari korelasi antara P daun (X1) dengan Berat 100 Biji (Y2) yang berhubungan signifikan dengan keeratan korelasi yang sedang. Tidak jauh berbeda dengan korelasi terhadap persentase biji normal (Y3) tercatat berhubungan signifikan dengan keeratan korelasi yang lemah.
Pada persamaan korelasi antara P daun dengan masing-masing parameter produksi maka dihasilkan nilai korelasi positif yang artinya setiap peningkatan satu satuan unsur hara P daun maka akan meningkatkan produksi masing-masing sebesar 4.11 g, 0.61 g dan 1.37 %. Hal ini sangat sesuai dengan fungsi unsur hara P yang berperan besar dalam pembentukan dan pemasukan buah dan biji.
Tanaman yang telah memasuki fase generatif, P dimobilisasi ke bagian generatif tanaman yang berarti bahwa kebutuhan P akan semakin meningkat. Dias et al (2015) menyebutkan bahwa kopi Arabika sangat membutuhkan unsur hara fosfor pada fase produksi. Unsur hara fosfor berpengaruh terhadap produktivitas tanaman yang dapat dilihat dari fungsinya mempengaruhi perbaikan kualitas hasil.
Analisis korelasi antara P dengan Mg terhadap produksi menunjukkan hasil yang berbeda. Korelasi antara Mg (X2) terhadap Berat Produksi Biji (Y1)
berhubungan tidak signifikan. Kandungan Mg di lokasi penelitian tergolong pada kriteria defisiensi. Keterkaitan hubungan Mg dengan berat 100 biji (Y2) maupun terhadap persentase biji normal (Y3) menyimpulkan hasil yang tidak berbeda yaitu tidak berhubungan signifikan.
Berdasarkan persamaan korelasi antara Mg daun dengan parameter produksi maka dihasilkan nilai korelasi positif terhadap berat produksi yang artinya peningkatan setiap satu satuan unsur hara Mg daun meningkatkan berat produksi sebesar 0.0043 g sedangkan terhadap berat 100 biji dan persentase biji normal bernilai negatif sehingga tidak ada peningkatan produksi.
Menurut Daras (2013) kandungan unsur hara Mg yang rendah atau defisiensi hanya mampu memenuhi kebutuhan hara yang berada pada jaringan tanaman kopi Arabika di daerah tajuk dekat permukaan tanah. Berkaitan dengan produksi, unsur hara Mg tidak mampu menyuplai kebutuhan unsur hara Mg ke bagian tengah maupun sektor atas tanaman. Kekurangan Mg menyebabkan tunas baru mati dan mengering sehingga polong muda mati sebelum mencapai stadia masak panen.
Hubungan P dan Mg daun secara bersamaan terhadap produksi dapat
diketahui melalui analisis regresi berganda. Berdasarkan analisis tersebut diperoleh bahwa pengaruh P dan Mg terhadap berat produksi biji (Y1)
berpengaruh signifikan. Hal yang sama dihasilkan oleh hasil regresi antara P dan Mg daun terhadap berat 100 biji (Y2) yaitu berpengaruh signifikan. Pada uji korelasi antara Mg dengan masing-masing variabel produksi menghasilkan pengaruh yang tidak signifikan sehingga berbeda dengan hasil analisis regresi berganda. Penyebab hal ini adalah interaksi Mg dengan unsur hara P yaitu kehadiran Mg membuat penyerapan dan ketersediaan P menjadi lebih efektif.
32
Meskipun kadar hara Mg tergolong rendah tetapi keberadaannya mendukung ketersediaan P sehingga semakin berperan dalam peningkatan produksi.
Menurut Budi dan Sasmita (2015) selain memiliki fungsi utama dalam pembentukan khlorofil, Mg sangat berperan besar dalam pengangkutan hara lain yaitu pengangkutan khususnya unsur hara P. Mg berfungsi membawa fosfor terutama ke dalam biji dan buah tanaman, membantu pembentukan senyawa-senyawa untuk mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman. Proses ini terjadi melalui keberadaan ion Mg2+ yang mengaktifkan enzim transfosforilase untuk mendorong pengangkutan fosfat bagi tanaman.
Hubungan unsur hara Mg dengan P yang bersifat sinergisme digambarkan melalui peranan enzim transfosforilase. Susanti dan Fidia (2017) menjelaskan bahwa enzim transfosforilase merupakan salah satu dari enzim transferase. Einzim transferase adalah suatu enzim yang berperan aktif dalam transfer/pemindahan suatu gugus. Pengaktifan enzim transfosforilase yang menjadi bagian dari transferase mampu mengkatalisis pemindahan gugus tertentu seperti fosfat sehingga penyerapan fosfat tanaman dapat menjadi lebih optimal.
Hasil analisis regresi berganda terhadap persentase biji normal (Y3) menunjukkan kesimpulan yang berbeda. Pengaruh antara P dan Mg daun tidak berpengaruh signifikan terhadap persentase biji normal. Persentase biji normal yang terdapat pada data perhitungan sebelumnya yaitu 74,01%. Hal ini disebabkan oleh fungsi unsur hara P dan Mg secara simultan hanya mampu meningkatkan produksi tetapi tidak meningkatkan persentase biji normal.
Hubungan unsur hara P dan Mg daun terhadap setiap variabel produksi tidak terlepas dari sifat kimia di dalam tanah. Berdasarkan hasil analisis tanah komposit di daerah penelitian, diperoleh pH tanah yang masam dan P tersedia
yang tinggi serta Mg-tukar yang rendah. Hubungan pH yang rendah dengan tingginya hara P maupun Mg sangat erat dengan kandungan bahan organik tanah.
Hasil pengamatan dan wawancara di lapangan, perkebunan kopi Arabika milik petani kaya akan bahan organik yang bersumber dari tebalnya akumulasi daun dibawah tegakan, aplikasi sisa kulit kopi, limbah tanaman tumpangsari dan pupuk kandang ayam yang diaplikasikan sehingga berkontribusi terhadap kesuburan lahan kopi Arabika.
Berkaitan dengan ketersediaan unsur hara P, Sari et al (2017) melakukan kajian pengaruh bahan organik terhadap kesediaan fosfor pada tanah yang kaya akan Al dan Fe. Berdasarkan penelitian tersebut, penambahan bahan organik sangat berperan besar dalam meningkatkan ketersediaan P didalam tanah melalui proses mineralisasi untuk melepaskan P yang terfiksasi. Dekomposisi bahan organik menciptakan ikatan khelasi terhadap keberadaan ion-ion Al dan Fe sehingga P tersedia meningkat. Namun, pada kasus yang sama terjadi penurunan pH yang signifikan dengan kategori masam yang disebabkan oleh dekomposisi bahan organik yang menghasilkan asam-asam organik sehingga pH tanah rendah.
Kajian diatas selaras dengan Winarso (2005) yang menyebutkan bahwa bahan organik secara terus menerus terdekomposisi akan menghasilkan asam-asam organik, karbondioksida (CO2) dan air yang membentuk asam karbonat.
Asam karbonat bereaksi dengan Ca dan Mg karbonat membentuk bikarbonat yang lebih larut, yang tercuci keluar yang akhirnya mengakibatkan tanah lebih masam. Bahan organik mampu menghasilkan asam organik seperti asam sitrat, asam tatrat, asam malat dan asam malonat.
Analisis kandungan hara P dan Mg daun kopi Arabika menyebutkan
bahwa kandungan rata-rata hara P daun berada pada kriteria optimum yaitu
34
0,16 %. Kandungan hara P yang optimum pada areal penelitian disebabkan oleh dua faktor utama yaitu mencukupinya bahan organik dan sistem budidaya tanaman tumpangsari dengan tanaman semusim. Bahan organik pada lokasi penelitian berasal dari akumulasi daun kopi yang tebal tepat dibawah tegakan tanaman kopi Arabika dan dibiarkan oleh petani terdekomposisi sehingga memperkaya mikroorganisme tanah. Tambahan bahan organik juga berasal dari sisa kulit kopi Arabika yang diaplikasikan petani setelah melakukan pemanenan di kebunnya masing-masing serta limbah tanaman semusim yang dibiarkan terdekomposisi pada lahan pertanian.
Menurut Nurhidayati (2017) peran bahan organik sangat besar bagi ketersediaan unsur hara khususnya unsur hara P. Mikroorganisme pada bahan organik ataupun sisa tanaman yang berfungsi menguraikan residu tanaman juga mengandung hara P yang menghasilkan P anorganik melalui mineralisasi mikrobia sehingga mampu menyuplai P ke dalam larutan tanah.
Selain itu, didasarkan pada hasil wawancara dengan petani terdapat 27 dari 30 lahan perkebunanan kopi menerapkan sistem budidaya tumpang sari. Alasan penerapan sistem budidaya ini diterapkan oleh petani ialah sebagai sumber hara pada tanaman kopi Arabika. Pemupukan pada tanaman tumpangsari diharapkan menjadi sumber hara untuk kopi Arabika. Menurut McIntosh et. al (1977) kelebihan sistem tanaman tumpang sari selain meningkatkan produktivitas lahan tetapi juga menambah unsur hara serta meningkatkan kesuburan tanah.
Pada hasil penelitian, kandungan rata-rata hara P berbeda dengan kandungan rata-rata hara Mg yang relatif berada dalam kriteria defisiensi yaitu sebesar 0,23 %. Rendahnya kadar kandungan hara Mg menjadi faktor yang mempengaruhi produksi kopi Arabika. Penyebab kandungan Mg dalam kategori
defisiensi dipengaruhi oleh lahan perkebunan kopi Arabika yang tergolong masam dan kandungan hara K yang termasuk dalam kategori sedang mempengaruhi
defisiensi dipengaruhi oleh lahan perkebunan kopi Arabika yang tergolong masam dan kandungan hara K yang termasuk dalam kategori sedang mempengaruhi