Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data sekunder yang digunakan meliputi data perekonomian (PDRB), realisasi belanja daerah dan besaran dana comdev. Data primer digunakan untuk mengevaluasi manfaat serta efektivitas program comdev. Data tersebut diperoleh dari hasil wawancara baik kepada perusahaan sebagai penyalur bantuan maupun kepada tokoh masyarakat dan masyarakat penerima bantuan. Wawancara dengan masyarakat dilakukan secara sampling kepada 130 warga di tiga belas desa yang dipilih secara
purposive. Lokasi pengambilan samplemeliputi daerah yang lokasinya berada sangat dekat dengan perusahaan tambang sehingga menerima bantuan dalam jumlah yang lebih banyak maupun yang lokasinya cukup jauh dari perusahaan. Responden tersebut mempunyai latar belakang yang cukup beragam. Berdasarkan sebaran tingkat pendidikannya responden paling banyak terambil dalam kegiatan ini adalah dari tingkat pendidikan SD/sederajat dengan proporsi 34 persen dari total responden. 31 persen responden memiliki pendidikan terakhir SMA/sederajat, 24 persen berpendidikan SMP/sederajat, 7 persen sarjana atau strata diatasnya serta 3 persen merupakan lulusan diploma. Dua persen dari responden tidak bersekolah maupun tidak tamat SD. Lebih jelas terkait responden per tingkat pendidikannya adalah sebagai berikut :
Gambar 13 Sebaran tingkat pendidikan responden
Sedangkan jika dilihat dari pekerjaannya, mayoritas responden bekerja sebagai pedagang atau wiraswata dengan proporsi 36 persen disusul oleh buruh tani/nelayan/tukang (19 persen). 14 persen dari responden merupakan karyawan di perusahaan swasta. Selain itu ditemukan juga responden yang bekerja sebagai petani pemilik lahan (11 persen) dan PNS/TNI/POLRI (7 persen). Tujuh persen dari responden memiliki pekerjaan yang tidak termasuk dalam kategori yang diberikan, yaitu sebagai ibu rumah tangga, tidak bekerja, maupun buruh serabutan. Sebaran responden berdasarkan pekerjaannya dapat dilihat pada Gambar 14.
Gambar 14. Pekerjaan responden
Dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda-beda, responden juga memiliki tingkat pengeluaran yang berbeda-beda. Mayoritas responden memiliki pengeluaran pokok berkisar antara 1,000,000 sampai 2,499,999 rupiah. 28 persen responden memiliki pengeluaran antara 2,500,000 sampai 4,999,999 rupiah sedangkan sisanya memiliki pengeluaran kurang dari satu juta rupiah. Sebaran besaran pengeluaran responden dapat dilihat pada Gambar 15.
Gambar 15 Pengeluaran responden 2% 34% 24% 31% 3% 7% 0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% 40% Tidak sekolah/tidak lulus SD
SD/sederajat SMP/sederajat SMA/sederajat Diploma S1/S2/S3 Presentase Responden 7% 7% 11% 14% 19% 36% 0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% 40% PNS/TNI/POLRI Lainnya Petani Pemilik Lahan Pegawai Swasta Buruh tani/nelayan/tukang Pedagang/wiraswasta Presentase Responden < Rp 1,000,000 Rp 1,000,000 - 2,499,999 Rp 2,500,000 - 4,999,999
Program pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari beberapa aspek, diantaranya adalah jenis bantuan yang diberikan, program yang diberikan maupun kebutuhan masyarakat akan program tersebut. Berdasarkan hasil survey, program bantuan yang paling banyak diberikan oleh perusahaan adalah bantuan penyediaan air bersih dengan proporsi 17.48 persen, kemudian bantuan layanan kesehatan 13.29 persen dan bantuan pendidikan 12.59 persen. Sedangkan bantuan dengan proporsi paling kecil adalah pembinaan dan pembuatan BMT dengan proporsi 2.10 persen. Adapun rincian dari program pemberdayaan masyarakat yang diterima dapat dilihat pada Gambar 16 berikut.
Gambar 16 Distribusi bentuk bantuan comdev
Pemberian bantuan comdev hendaknya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Meskupun demikian, tidak semua program yang diberikan sesuai dengan harapan masyarakat. Perbandingan kesesuaian antara program yang diberikan dengan harapan masyarakat dapat dilihat pada Gambar 17. Berdasarkan grafik tersebut terlihat bahwa infrastruktur merupakan bantuan yang sangat dibutuhkan dan paling banyak diberikan oleh perusahaan meskipun dengan proporsi yang berbeda. Hal ini dikarenakan baik masyarakat maupun perusahaan menyadari bahwa dengan adanya dukungan infratruktur akan mempercepat pembangunan di suatu daerah. Bantuan kedua yang diinginkan masyarakat adalah bantuan ekonomi, karena dengan adanya bantuan ekonomi akan meningkatkan kesejahteraan mereka. Namun dalam pelaksanaannya bantuan ekonomi menempati posisi keempat dengan proporsi 8.62 persen.
Gambar 17 Kesesuaian bantuan dengan harapan masyarakat 0.00%
20.00% 40.00% 60.00% 80.00%
Infrastruktur Pendidikan Kesehatan Ekonomi Lainnya
P re se n ta se R es p o n d en
Dalam pelaksanaannya, terkadang program yang diberikan tidak sesuai dengan rencana yang disosialisasikan sebelumnya ataupun tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Jika terjadi permasalahan tersebut, mayoritas responden menjawab akan menyampaikan keluhan kepada aparat desa, sedangkan sisanya menyampaikan kepada perusahaan pemberi bantuan maupun kepada komite pelaksana program.
Gambar 18 Pihak penerima keluhan masyarakat
Program comdev di Kabupaten Tanah Bumbu telah dilaksanakan secara berkesinambungan sejak tahun 2009, namun lamanya pemberian bantuan untuk masing-masing daerah berbeda. Meskipun demikian, lebih dari 50 persen masyarakat telah merasakan manfaat dari comdev selama tiga tahun bahkan lebih. 2.04 persen responden menyatakan baru merasakan program comdev kurang dari satu tahun, hal ini dikarenakan ketidaktahuan masyarakat bahwa bantuan yang diberikan merupakan bagian dari comdev yang telah dilakukan oleh perusahaan tambang. Selain itu, pelaksanaan comdev yang bervariasi juga berdampak pada perbedaan penerima program, sehingga tidak semua masyarakat menerima program secara berkesinambungan. Lama penyaluran bantuan comdev berdasarkan pengetahuan responden terlihat pada Gambar 19.
Gambar 19 Lama program comdev disalurkan
Periode penyaluran bantuan pada setiap wilayah berbeda-beda tergantung pada kebijakan perusahana serta bentuk program yang disalurkan. Ada program yang bersifat rutin setiap bulan seperti bantuan beasiswa, bantuan yang hanya disalurkan sekali dalam setahun seperti pembangunan atau perbaikan infrastruktur, maupun
0.00% 5.00% 10.00% 15.00% 20.00% 25.00% 30.00% 35.00% 40.00% Kurang dari 1 tahun
1 tahun 2 tahun 3 tahun Lebih dari 3 tahun P re se n ta se R es p o n d en Aparat desa Perusahaan Komite comdev
bantuan yang penyalurannya tidak tentu. Program yang penyalurannya tidak tentu biasanya merupakan program yang diberikan atas permintaan masyarakat setempat ataupun bantuan yang bersifat kebijakan strategis dari perusahaan guna menangani isu- isu yang muncul di daerah tambang. Periode penyaluran bantuan berdasarkan pengetahuan responden dapat dilihat pada Gambar 20.
Gambar 20 Periode penyaluran bantuan dalam satu tahun Evaluasi Manfaat KegiatanCommunity Development
Tujuan kegiatan comdev adalah untuk meningkatkan kondisi sosial-ekonomi- budaya masyarakat di sekitar lokasi pertambangan (Budimanta et al. 2004). Suatu program dinilai berhasil jika objek penerima (masyarakat) dapat merasakan manfaat dari kegiatan tersebut. Evaluasi manfaat comdev dilihat berdasarkan sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Pada penelitian ini, evaluasi manfaat kegiatan comdev diukur dengan metode pengukuran Second Order Confirmatory Factor Analysis(2ndCFA).
2ndCFA terdiri dari dua tingkatan CFA, dimana tingkat pertama menunjukkan
hubungan antara variabel manifes dengan variabel label laten tingkat pertama, yaitu sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Sedangkan CFA tingkat kedua menunjukan hubungan antara variabel laten tingkat pertama dengan variabel laten tingkat kedua, yaitu manfaat program. Sebelum melakukan analisis terhadap model 2nd CFA, terlebih dahulu dilihat kelayakan model yang dibangun melalui
Goodness of Fit Statistic. Nilai GOF model evaluasi manfaat kegiatan comdev dapat dilihat pada Lampiran 2. Hasil GOF model yang dihasilkan cukup baik dengan nilai chi square 61.88 dan probabilitas 0.44 (lebih dari 0.05), selain itu nilai RMSEA yang diperoleh cukup kecil yaitu 0.03 atau dapat dikatakan model yang diperolehclose to fit (Bagozzi et al. 1988), dengan demikian dapat dilakukan analisis terhadap model yang diperoleh.
Model CFA yang dibentuk bertujuan untuk menjelaskan manfaat comdev berdasarkan sektor-sektor bantuan comdev, dengan demikian variabel yang menjelaskan manfaat comdev bagi masyarakat diharapkan mempunyai nilai loading factor lebih dari 0.6 dimana semakin besar nilai loading factor suatu variabel maka kontribusi dari variabel tersebut juga semakin besar. Variabel yang memberikan kontribusi yang signifikan mempunyai nilailoading factorlebih dari 0.7. Selain nilai
loading factor, untuk memperhitungkan apakah variabel yang digunakan valid atau tidak perlu juga dilihat nilai t-muatan. Suatu variabel dikatakan valid jika mempunyai
0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00%
1 kali 2 kali 3 kali Lebih dari 3 kali Tidak tentu P re se n ta se R es p o n d en
nilai t-muatan lebih dari 1.96 (taraf nyata yang digunakan 0.05). Nilai t pada model yang dibentuk dapat dilihat pada Gambar 21.
Gambar 21 Signifikansi masing-masing variabel terhadap manfaat comdev
Berdasarkan hasil analisis seperti yang terlihat pada Gambar 22, setiap sektor bantuan comdev dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Manfaat yang paling besar dirasakan oleh masyarakat adalah comdev di bidang kesehatan. Bantuan di bidang kesehatan diberikan dalam bentuk bantuan pengobatan gratis, peralatan kesehatan untuk puskesmas setempat serta infrastruktur kesehatan lainnya seperti mobil ambulance. Dengan adanya bantuan tersebut, masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik serta mendapatkan kemudahan akses dalam berobat.
Manfaat comdev di bidang ekonomi juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Bantuan comdev dibidang ekonomi memberikan peluang kepada masyarakat untuk membuka usahanya sendiri, yang berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat setempat. Penyaluran bantuan melalui pemberian serta pinjaman modal usaha dirasakan masyarakat cukup membantu masyarakat untuk membuka serta memperluas usaha bahkan membuka lapangan pekerjaan. Selain dalam bentuk bantuan modal, salah satu program comdev adalah memberikan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat untuk membangun usaha madiri. Meskipun demikian, tidak semua usaha mandiri tersebut dapat berlanjut setelah program dari perusahaan selesai. Hal ini dikarenakan tidak adanya pengawasan yang dilakukan pasca pelaksanaan, disisi lain masyarakat penerima bantuan tersebut memiliki kemampuan pengelolaan yang masih minim sehingga banyak ditemukan usaha yang tutup.
Bantuan dibidang pendidikan yang paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat adalah bantuan biaya pendidikan. Dengan adanya program beasiswa masyarakat merasa terbantu dalam hal pembiayaan pendidikan. Bantuan dalam bentuk pembuatan perpustakaan keliling serta bantuan alat peraga pendidikan berdampak pada peningkatan ketrampilan dan pengetahuan, sedangkan bantuan untuk perbaikan dan pembangunan sarana pendidikan memungkinkan masyarakat untuk memperoleh sarana pendidikan yang lebih baik.
Dibidang infrastruktur, comdev diberikan dalam bentuk pembangunan dan perbaikan sarana dan prasarana umum, seperti perbaikan dan pembangunan jalan dan jembatan, pembangunan sarana air bersih, listrik masuk desa, serta pembangunan dan perbaikan fasilitas umum lainnya. Dengan adanya perbaikan dan pembangunan jalan dan jembatan membuat masyarakat mempermudah akses dalam kebupaten maupun keluar kabupaten yang berdampak positif pada kemudahan akses masyarakat ke pusat perekonomian. Meskipun demikian, program-program yang dikucurkan belum mampu untuk mengatasi dampak negatif dari adanya kegiatan pertambangan terutama di bidang lingkungan.
Bantuan dalam bidang kesehatan dan ekonomi memiliki besaran loading faktor yang lebih besar jika dibandingkan dengan sektor lainnya (infrastruktur dan pendidikan). Hal ini dikarenakan kedua sektor ini manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat penerima (dalam jangka pendek). Sedangkan pendidikan merupakan suatu bentuk investasi jangka panjang, dimana manfaatnya tidak dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Bantuan infrastruktur merupakan jenis bantuan yang lebih berupa prasarana, dimana diperlukan peran serta dari masyarakat itu sendiri sehingga manfaatnya dapat dirasakan. Seperti bantuan untuk pembuatan dan perbaikan jalan dan jembatan, dimana jika masyarakat dapat memanfaatkannya dengan baik, misalnya untuk memperluas akses usaha mereka, maka bantuan tersebut akan memberikan manfaat yang positif bagi perekonomiannya. Sebaliknya jika masyarakat
setempat tidak dapat memanfaatkan bantuan tersebut maka comdev yang disalurkan tidak akan memberikan dampak yang positif bagi kesejahteraan masyarakat setempat. Kegiatan pertambangan tidak pernah lepas dari isu lingkungan. Demikian juga kegiatan pertambangan batubara yang dilakukan di Kabupaten Tanah Bumbu. Isu lingkungan yang paling utama adalah terjadinya pencemaran lingkungan, baik air, udara, tanah, maupun suara. Dibeberapa wilayah, pencemaran lingkungan menjadi salah satu pemicu konflik antara perusahaan dengan masyarakat, seperti konfik yang terjadi antara petani di Kecamatan Sungai Loban dengan perusahaan, dimana akibat adanya pencemaran tanah dan air akibat eksplorasi batubara yang berdampak pada berkurangnya kesuburan tanah sehingga tidak dapat ditanami kembali. Selain itu, di Tanah Bumbu banyak ditemukan danau yang muncul ketika musim penghujan yang merupakan bekas area tambang yang tidak direklamasi, kegiatan pertambangan tersebut biasanya yang dilakukan oleh perusahan kecil serta penambang ilegal. Dibidang transportasi, pertambangan juga menimbulkan dampak yang cukup fatal, dimana pembuangan limbah tambang ke sungai berakibat pada pendangkalan sungai, yang mana sungai merupakan salah satu sarana transportasi di Kabupaten Tanah Bumbu.
Salah satu tujuan dari program comdev adalah untuk meredam isu lingungan yang muncul, salah satunya melalui program bina lingkungan. Meskipun demikian, program tersebut tidak cukup mengatasi permasalahan lingkungan yang muncul. Selain itu, comdev dibidang lingkungan merupakan suatu objek yang sulit untuk diukur tingkat keberhasilannya. Hal ini dikarenakan kerusakan lingkungan yang muncul akibat pertambangan bukanlah hal yang dapat diselesaikan secara instan. Diperlukan waktu yang cukup lama serta penanganan khusus untuk dapat mengembalikan kelestarian lingkungan.
Berdasarkan hasil analisis terlihat bahwa manfaat dari comdev telah dirasakan oleh masyarakat penerimanya. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tambang batubara, melalui pelaksanaan comdev memberikan kontribusi dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pada awalnya comdev mungkin merupakan salah satu cara perusahaan untuk meredam tekanan dari masyarakat setempat, namun dalam perkembangannya program tersebut mampu merubah keadaan masyarakat setempat, bahkan sebagian program memberikan pengaruh yang signifikan daripada program-program yang diluncurkan oleh pemerintah (Proyogoet al. 2012). Meskipun jika dikaji lebih lanjut, maka akan terlihat bahwa penyaluran dana comdev lebih banyak dialokasikan untuk program-program yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh penerimananya (jangka pendek). Hal ini dikarenakan comdev juga merupakan strategi perusahaan untuk menjaga eksistensi perusahaan di wilayah tersebut dimana masyarakat akan memberikan sambuatan yang positif jika perusahaan tersebut mampu memberikan pengaruh postif yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Meskipun demikian, comdev memiliki keterbatasan dalam penyaluran bantuannya, dimana penyaluran comdev sangat dipengaruhi oleh lokasi. Daerah yang dekat dengan perusahaan maupun tambang akan mendapat bantuan yang lebih besar dan lebih bervariasi daripada daerah yang jauh, sehingga jika dilihat secara spasial, maka manfaat yang diterima oleh masyarakat berbeda-beda disetiap wilayah.
Analisis Manfaat Program Community Development di Masing-Masing Kecamatan
Penyaluran dana comdev pada setiap wilayah berbeda-beda, tergantung pada lokasi dan kebutuhan masyarakatnya. Penelitian ini dilakukan diempat wilayah di Kabupaten Tanah Bumbu dimana masing-masing kecamatan memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Adapun analisis manfaat comdev di masing-masing wilayah penelitian dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11Community Development Indexdi masing-masing kecamatan Indikator Pengukuran Satui Angsana Sungai
Loban Simpang Empat Sektor Ekonomi 3.0 2.8 3.0 3.2 X1 Peningkatan pendapatan 3.0 2.8 2.9 3.3 X2 Peluang bekerja 3.0 2.8 3.0 3.2 X3 Kesempatan berusaha 3.0 2.8 3.0 3.2 Sektor Pendidikan 3.2 2.8 3.2 3.4 X4 Peningkatan pelayanan pendidikan 3.2 2.9 3.2 3.6
X5 Bantuan biaya pendidikan 3.3 2.9 3.4 3.6 X6 Peningkatan keterampilan 3.2 2.8 3.1 3.3
X7 Peningkatan pengetahuan 3.1 2.7 3.1 3.3
Sektor Kesehatan 3.1 2.8 2.9 3.4
X8 Peningkatan pelayanan
kesehatan 3.1 2.8 2.9 3.4
X9 Kemudahan akses berobat 3.2 2.8 2.9 3.4
Sektor Infrastruktur 3.5 3.3 3.3 3.4
X10 Peningkatan sarana dan
prasarana umum 3.7 3.6 3.5 3.5 X11 Manfaat infrastruktur terhadap perekonomian 3.5 3.1 3.4 3.4 X12 Manfaat infrastruktur terhadap pembangunan 3.7 3.5 3.5 3.5 X13 Pengelolaan lingkungan
hidup (bina lingkungan) 3.3 3.2 3.1 3.4
TOTAL 12.8 11.7 12.3 13.4
Nilai CDi analisis manfaat yang diperoleh pada masing-masing kecamatan berbeda-beda. Perberbedaan ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain perusahaan pengelola, besaran produksi batubara, program comdev yang dilaksanakan, serta lokasi. Simpang Empat merupakan kecamatan yang memiliki CDi paling tinggi. Meskipun produksi batubara di kecamatan ini hanya berada pada posisi ketiga, namun dana comdev yang dikucurkan di kecamatan ini lebih besar jika dibandingkan dengan kecamatan lainnya. Hal ini dikarenakan perusahaan pengelola pertambangan batubara di kecamatan ini merupakan perusahaan batubara terbesar di Tanah Bumbu, yaitu PT Arutmin Indonesia serta umur kegiatan eksplorasi pertambangan yang relatif lebih muda jika dibandingkan dengan kecamatan lainnya. Selain itu, kondisi geografis Simpang Empat yang berbatasan langsung dengan ibukota
Kabupaten Tanah Bumbu (Batu Licin) menyebabkan Simpang Empat mendapatkan perhatian lebih jika dibandingkan dengan kecamatan lainnya.
Seperti halnya Simpang Empat, eksplorasi tambang di Sungai Loban juga masih tergolong baru, yaitu sejak tahun 2010. Meskipun demikian, CDi analisis manfaat di kecamatan ini hanya berada pada kategori cukup. Salah satu faktor penyebabnya adalah mayoritas eksplorasi tambang di kecamatan ini dikelola oleh perusahaan lokal dengan skala menengah sehingga dana comdev yang disalurkan di kecamatan ini tidak terlalu besar.
Kecamatan Satui merupakan kecamatan kedua yang memiliki CDi paling tinggi. Satui merupakan kecamatan penghasil batubara terbanyak di Tanah Bumbu, selain itu eksplorasi di kecamatan ini juga dikelola oleh tiga perusahaan besar, sehingga dana comdev yang disaluran di kecamatan ini juga cukup besar. Mayoritas dana comdev di kecamatan ini disalurkan untuk pembangunan infrastruktur. Satui merupakan pintu masuk ke Tanah Bumbu melalui Tanah Laut, sehingga kondisi infrastruktur yang memadai menjadi syarat wajib guna membuka akses ke Tanah Bumbu. Oleh sebab itu tidak mengherankan jika pembangunan infrastruktur menjadi prioritas di kecamatan ini. Meskipun demikian, comdev dibidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan juga tetap mendapat perhatian khusus dari perusahan pengelola tambang batubara.
Eksplorasi batubara di Kecamatan Angsana sudah cukup lama dilakukan, bahkan sejak Tanah Bumbu masih merupakan bagian dari Kabupaten Kotabaru. Kondisi inilah yang menyebabkan produksi batubara di kecamatan ini mengalami penurunan yang berdampak pada penurunan dana comdev yang disalurkan. Selain itu, kegiatan eksplorasi yang sudah cukup lama dilakukan juga mengakibatkan dampak negatif yang muncul akibat kegiatan pertambangan sangat terlihat di kecamatan ini, sehingga tidak mengherankan jika masyarakat berpersepsi bahwa comdev yang dilakukan kurang memberikan manfaat karena tidak sebanding dengan eksternalitas negatif yang muncul. Detail dari pelaksanaan comdev dimasing-masing kecamatan dijabarkan pada pembahasan berikut.
Kecamatan Satui
Kecamatan Satui merupakan daerah penghasil batubara terbanyak di Kabupaten Tanah Bumbu, sehingga warga di kecamatan tersebut paling merasakan dampak negatif dari adanya kegiatan pertambangan. Untuk mengimbanginya, kecamatan ini merupakan kecamatan yang menerima dana comdev paling besar. Meskipun demikian, manfaat dari comdev yang diberikan di wilayah ini masih berada pada kategori cukup dengan CDi sebesar 12.8.
Dana comdev di Satui lebih banyak di alokasikan untuk pembangunan dan penyediaan infrastruktur, oleh karena itu tidak heran jika manfaat comdev dibidang infrastruktur berada pada kategori yang cukup baik. Penyediaan sarana dan prasarana umum, seperti pengadaan sarana air bersih, pembangunan sarana peribadatan, dan pembangunan gedung serbaguna sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat sehingga dapat dimanfaatkan dengan optimal oleh masyarakat setempat. Bantuan dana yang digunakan untuk pembuatan dan perbaikan jalan membuat aksesibilitas di Satui lebih mudah. Disisi lain, Satui merupakan pintu masuk ke Kabupaten Tanah Bumbu dari Kabupaten Tanah Laut, sehingga daerah ini dituntut untuk memiliki infrastruktur yang baik untuk membuka akses ke Tanah Bumbu. Beberapa comdev dibidang
infrastruktur disalurkan dalam bentuk dukungan dana pada program pemerintah untuk perbaikan jaringan transportasi. Dengan demikian, infrastruktur yang dibangun tersebut dirasa mampu untuk meningkatkan kondisi perekonomian masyarakat setempat serta mempercepat pembangunan di Satui. Selain itu, comdev yang dilakukan dibidang lingkungan, seperti gerakan penghijauan dan kampanye lingkungan, dirasa turut membantu kelestarian lingkungan.
Comdev yang diberikan dalam bentuk bantuan modal (dalam bentuk bantuan bibit tanaman dan ternak, pinjaman modal, serta bantuan peralatan pertanian) dirasa mampu untuk meningkatkan pendapatan masyarakat setempat. Dengan adanya pinjaman modal memungkinkan masyarakat untuk membuka usaha baru serta memperluas usaha mereka sehingga mampu menciptakan peluang bekerja serta memberikan kesempatan untuk berusaha sehingga mampu untuk meningkatkan pendapatan masyarakat setempat. Selain bantuan dalam bentuk uang, pinjaman juga diberikan dalam bentuk sarana untuk berjualan seperti kredit motor dan motor yang memiliki bak yang memungkinkan pedagang untuk memperluas cakupan wilayahnya. Bagi masyarakat yang berprofesi sebagai petani, mereka mendapatkan bantuan pupuk serta peralatan pertanian.
Di bidang kesehatan bantuan disalurkan dalam bentuk renovasi sarana kesehatan, pengobatan dan operasi gratis serta sunatan gratis. Dengan adanya bantuan tersebut masyarakat merasa mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik serta mendapatkan akses yang lebih mudah untuk berobat.
Bantuan comdev yang manfaatnya yang disalurkan dalam bentuk beasiswa pendidikan dirasa mampu meringankan beban pendidikan. Selain itu dengan adanya bantuan alat peraga pendidikan, perpustakaan keliling serta pelatihan tenaga pendidik membantu dalam peningkatan keterampilan dan pengetahuan. Dengan adanya perbaikan saranan dan prasaran pendidikan membuat masyarakat memperoleh pelayanan pendidikan yang lebih baik.
Kecamatan Angsana
Eksplorasi tambang batubara di Kecamatan Angsana sudah dilakukan selama lebih dari sepuluh tahun. Saat ini, kegiatan pertambangan di kecamatan ini dioperasikan oleh lima perusahaan tambang. Kegiatan comdev di kecamatan ini lebih banyak dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, seperti pembangunan jalan, tanggul, sarana air bersih, maupun pembangunan sarana dan prasarana umum lainnya. Meskipun demikian, pendistribusian dana comdev di kecamatan ini tidak merata, daerah yang berada jauh dari perusahaan maupun lokasi tambang kurang mendapatkan perhatian sehingga tidak merasakan manfaat dari comdev yang dilaksanakan. Demikian juga dengan sosialisasi program, sosialisasi program hanya dilakukan di desa-desa yang berada di sekitar perusahaan dan lokasi pertambangan.
Berdasarkan hasil penelitian, pelaksanaan comdev di Kecamatan Angsana memiliki CDi sebesar 11.7, yang berarti masyarakat di kecamatan tersebut cukup merasakan comdev yang telah dilakukan oleh perusahaan tambang batubara. Manfaat yang paling besar dirasakan oleh masyarakat adalah comdev dibidang infrastruktur dengan nilai CDi sebesar 3.3. Hal ini sesuai dengan realita di lapangan dimana dana