Objek penelitian ini adalah empat saham sektor Consumer Goods Industry yang terpilih dari kriteria yaitu konsisten masuk ke dalam indeks LQ 45 dalam waktu lima tahun (10 periode dari tahun 2009-2013) terakhir. Indeks LQ 45 dipilih karena indeks LQ 45 merupakan kelompok saham yang terdiri atas 45 saham di BEI dengan likuiditas yang tinggi dan kapitalisasi pasar yang besar, menguasai hingga 70% dari pemilikan modal saham di pasar dan nilai transaksi pada pasar biasa serta lolos seleksi menurut beberapa kriteria pemilihan yang telah ditetapkan. Pada Tabel 2 berikut ini merupakan daftar emiten yang sesuai dengan kriteria tersebut.
Tabel 2 Daftar emiten yang menjadi objek penelitian
Kode Emiten Nama Emiten Tanggal Pendaftaran
GGRM Gudang Garam Tbk 27-Aug-1990
INDF Indofood Sukses Makmur Tbk 14-Jul-1994
KLBF Kalbe Farma Tbk 30-Jul-1991
UNVR Unilever Indonesia Tbk 11-Jan-1982
Sumber : www.idx.co.id (data diolah)
Berikut ini merupakan gambaran umum emiten yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia, yaitu :
A.PT Gudang Garam Tbk
Perusahaan rokok Gudang Garam adalah salah satu industri rokok terkemuka di tanah air yang telah berdiri sejak tahun 1958 di kota Kediri, Jawa Timur. Hingga kini, Gudang Garam sudah terkenal luas baik di dalam negeri maupun mancanegara sebagai penghasil rokok kretek berkualitas tinggi. Produk Gudang Garam bisa ditemukan dalam berbagai variasi, mulai sigaret kretek klobot (SKL), sigaret kretek linting-tangan (SKT), hingga sigaret kretek linting-mesin (SKM). Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham GGRM adalah PT Suryaduta Investama (69,29%) dan PT Suryamitra Kusuma (6,26%). PT Suryaduta Investama merupakan induk usaha terakhir GGRM. Pada tanggal 17 Juli 1990, GGRM memperoleh izin Menteri Keuangan untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham GGRM (IPO) kepada masyarakat sebanyak 57.807.800 dengan nilai nominal Rp1.000 per saham dengan harga penawaran Rp10.250 per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 27 Agustus 1990. B.PT Indofood Sukses Makmur Tbk
Dalam beberapa dekade ini PT Indofood Sukses Makmur Tbk telah bertransformasi menjadi sebuah perusahaan Total Food Solutions dengan kegiatan operasional yang mencakup seluruh tahapan proses produksi makanan, mulai dari produksi dan pengolahan bahan baku hingga menjadi produk akhir yang tersedia di pasar. Kini, Indofood dikenal sebagai perusahaan
19 yang mapan dan terkemuka di setiap kategori bisnisnya. Pada tahun 1994, INDF memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham INDF (IPO) kepada masyarakat sebanyak 21.000.000 dengan nilai nominal Rp1.000 per saham dengan harga penawaran Rp 6.200 per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 14 Juli 1994.
C.PT Kalbe Farma Tbk
Kalbe didirikan pada tahun 1966. Saat ini Kalbe telah menjadi perusahaan produk kesehatan publik terbesar di Asia Tenggara yang memiliki nilai kapitalisasi pasar sebesar USD 3,9 miliar dan omset penjualan Rp 10,91 triliun pada akhir tahun 2011. Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Kalbe adalah PT Gira Sole Prima (10,17%), PT Santa Seha Sanadi (9,70%), PT Diptanala Bahana (9,50%), PT Lucasta Murni Cemerlang (9,47%), PT Ladang Ira Panen (9,21%) dan PT Bina Arta Charisma (8,66%). Pada tahun 1991, KLBF memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham (IPO) KLBF kepada masyarakat sebanyak 10.000.000 dengan nilai nominal Rp1.000 per saham dengan harga penawaran Rp7.800 per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 30 Juli 1991.
D.PT Unilever Indonesia Tbk
Unilever Indonesia telah tumbuh menjadi salah satu perusahaan terdepan untuk produk Home and Personal Care serta Foods & Ice Cream di Indonesia. Selama ini, tujuan perusahaan kami tetap sama, dimana kami bekerja untuk menciptakan masa depan yang lebih baik setiap hari; membuat pelanggan merasa nyaman, berpenampilan baik dan lebih menikmati kehidupan melalui brand dan jasa yang memberikan manfaat untuk mereka maupun orang lain; menginspirasi masyarakat untuk melakukan tindakan kecil setiap harinya yang bila digabungkan akan membuat perubahan besar bagi dunia; dan senantiasa mengembangkan cara baru dalam berbisnis yang memungkinkan kami untuk tumbuh sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Pada tanggal 16 Nopember 1982, UNVR memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAM untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham UNVR (IPO) kepada masyarakat sebanyak 9.200.000 dengan nilai nominal Rp1.000 per saham dengan harga penawaran Rp3.175 per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 11 Januari 1982.
Pergerakan Harga Saham Emiten
Seluruh analisis didasarkan oleh harga saham perusahaan pada sektor Consumer Goods Industry. Data harga saham yang diteliti adalah harga saham penutupan (closing price) pada setiap akhir bulan selama periode tahun 2009-2013. Data harga saham (closing price) diperoleh dari Company Report masing-masing emiten periode Januari 2014 yang didapat dari website Bursa Efek Inonesia (www.idx.co.id). Gambar 3 menunjukan pergerakan harga saham emiten bulanan tahun 2009-2013.
20
Gambar 3 Pergerakan harga saham (closing price) emiten (data diolah) Pada Gambar 3 di atas menunjukkan bahwa pergerakan harga saham pada PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mengalami kenaikan yang merata. Pada bulan Juli tahun 2013 merupakan harga saham tertinggi selama 5 tahun terakhir yaitu sebesar Rp31.800 per lembar saham (Lampiran 1). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, PT Unilever Indonesia Tbk memiliki kapitalisasi terbesar per Juli 2013 sebesar 242,63 triliun (Data Bloomberg, BEI). Pasalnya, saham sektor ini memiliki pangsa pasar yang cukup besar mulai dari kalangan bawah, menengah hingga atas. PT Unilever Indonesia Tbk menjawab tingginya permintaan pasar dengan inovasi produk-produk anyar sehingga membuat kinerja keuangan perseroan menghijau. Berdasarkan laporan keuangan tahunan 2009-2013. Penjualan bersih dari Home and Personal Care, serta Foods and Refreshment meningkat masing-masing sebesar 12,5% dan 13,0% dari tahun 2012. Peningkatan penjualan ini disebabkan oleh peningkatan penjualan produk-produk melalui distributor-distributor di dalam negeri dan peningkatan penjualan ekspor.
Pada gambar pergerakan harga saham PT Kalbe Farma Tbk, dimana pada bulan Oktober tahun 2012 mengalami penurunan harga saham yaitu dari harga Rp4.700 menjadi Rp970 (Lampiran 4). Penurunan grafik harga saham bulan tersebut dikarenakan PT Kalbe Farma Tbk melakukan pemecahan nilai nominal saham (stock split) dengan rasio 1:5 dari Rp50 menjadi Rp10 pada tanggal 8 Oktober 2012. Jumlah saham meningkat dari 10.156.014.422 lembar menjadi 50.780.072.110 lembar setelah pemecahan nilai nominal saham. Sehingga, penurunan grafik ini bukan semata-mata karena penurunan harga saham KLBF, tetapi karena adanya stock split yang dilakukan oleh PT Kalbe Farma Tbk untuk
21 menarik minat para investor. Pada Gambar 4 memperlihatkan bagaimana pergerakan IHSG dan harga saham emiten tahun 2009-2013.
Gambar 4 Pergerakan IHSG dan harga saham emiten (data diolah)
Pada Gambar 4 di atas ini terlihat pergerakan IHSG bulan Desember 2013 mengalami penurunan sebesar 42,510 poin atau 0,98% dari bulan sebelumnya. Penurunan IHSG pada akhir tahun 2013 dikarenakan sektor-sektor penggerak IHSG mayoritas melemah, dengan sektor perkebunan turun 0,4%, industri dasar turun 0,3%, properti merosot 0,4%, dan infrastruktur turun 0,2%. Sementara sektor industri barang konsumsi, manufaktur, dan aneka industri mampu bertahan di zona positif (www.okezone.com, 13 Desember 2013). Pada bulan Mei tahun 2010 IHSG juga mengalami penurunan dari bulan sebelumnya yaitu sebesar 2.971,25 menjadi 2.796,96 (Lampiran 5). Salah satu penyebab dari penurunan IHSG tersebut adalah pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani dan menerima tawaran menjadi Managing Director Bank Dunia. Reaksi negatif pasar yang ditimbulkan berkaitan dengan kondisi global, terutama kekhawatiran sejumlah negara Eropa atas krisis utang Yunani (www.tempo.co, 07 Mei 2010).
Pada grafik harga saham GGRM terjadi penurunan yang sangat tajam pada tahun 2012 dan 2013. Hal ini terjadi karena adanya kenaikan tarif cukai dan bahan baku cengkeh pada awal tahun 2012. Kenaikan dua hal tersebut menyebabkan kenaikan biaya pokok penjualan sekitar 25,4% dibandingkan tahun 2011, sehingga laba kotor pada tahun 2012 mengalami penurunan sebesar Rp 9,18 triliyun. Turunnya laba kotor yang diterima PT Gudang Garam Tbk berdampak pada penurunan laba per saham menjadi Rp2.086 per saham dari sebelumnya Rp2.544 per saham.
Pada grafik harga saham UNVR, terlihat peningkatan secara stabil. Hal ini terjadi karena saham UNVR masih diminati oleh para investor. PT Unilever Indonesia Tbk merupakan perusahaan yang memiliki kegiatan usaha meliputi bidang produksi, pemasaran dan distribusi barang-barang konsumsi yang meliputi sabun, deterjen, margarin, makanan berinti susu, es krim, produk–produk kosmetik, minuman dengan bahan pokok teh dan minuman sari buah. Hal ini yang menjadikan pertimbangan bagi para investor, karena barang-barang yang
22
diproduksi oleh PT Unilever Indonesia Tbk sendiri adalah barang keperluan sehari-hari yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sehingga, peningkatan penjualan bersih dan laba usaha terjadi pada setiap tahun. Pada tahun 2013, terjadi peningkatan volume transaksi saham dari tahun 2012 yaitu sebesar 43.875.000 saham atau 9,02%. Walaupun harga saham UNVR terjadi peningkatan, hal ini tidak mempengaruhi investor dalam berinvestasi di PT Unilever Indonesia Tbk.
Pada grafik harga saham INDF, sama halnya dengan grafik UNVR yang mengalami peningkatan harga saham. Hanya saja peningkatan yang terjadi tidak sebesar dengan UNVR. Saham INDF, memang masih kalah saing dengan saham-saham lainnya pada bidang produksi yang sama seperti UNVR. Peningkatan harga saham pada INDF tidak diikuti dengan peningkatan transaksi volume perdagangan sahamnya. Berdasarkan IDX Statistics tahun 2012 dan 2013 terjadi penurunan
volume saham yaitu dari 2.960.949.000 lembar dengan harga saham Rp5.850 per lembar menjadi 2.836.129.000 lembar dengan harga saham Rp6.600
per lembar.
Pada grafik KLBF, pada tahun 2009-2011 terjadi peningkatan harga saham yang cukup stabil. Namun, pada tahun 2012 PT Kalbe Farma Tbk melakukan stock split dengan rasio 1:5 dari Rp50 menjadi Rp10 pada bulan Oktober. Perusahaan dengan melakukan stock split, diharapkan dapat meningkatkan volume perdagangan dan membuat saham KLBF menjadi lebih atraktif terutama bagi investor ritel. Pada tahun 2013, harga saham setelah dilakukan stock split mengalami peningkatan sebesar 17,92% atau menjadi Rp1.250.
Hasil Analisis
Pembentukan portofolio didahului dengan menganalisis kinerja tingkat pengembalian (return) dan risiko instrument investasi yang membentuk portofolio tersebut (Hanendyawarman 2004). Pada Tabel 3 berikut ini merupakan tingkat expected return bulanan dan tingkat risiko bulanan.
Tabel 3 Expected return, STDEV dan Variance bulanan periode tahun 2009-2013
Nama Emiten E(Ri) STDEV Variance
PT Gudang Garam Tbk 0,04846 0,12619 0,01592
PT Indofood Sukses Makmur Tbk 0,04092 0,10258 0,01052
PT Kalbe Farma Tbk 0,04104 0,16108 0,02595
PT Unilever Tbk 0,02622 0,08137 0,00662
Sumber : Data diolah
Berdasarkan Tabel 3 di atas expected return bulanan tertinggi periode tahun 2009-2013 oleh saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dengan nilai 0,0485 artinya apabila pemodal menginvestasikan sejumlah uangnya pada saham GGRM, maka pemodal akan mendapatkan return bulanan 0,0485 atau 4,85% dari investasi yang ditanamnya. Tingkat risiko bulanan periode tahun 2009-2013 (standar deviasi) pada saham dapat dikatakan cukup tinggi yaitu sebesar 12,6%. Expected return dan tingkat risiko bulanan (standar deviasi) terendah periode tahun 2009-2013 diperoleh dari saham PT. Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan nilai
23 masing-masing 2,62% dan 8,13%. Pada keempat saham tersebut memiliki tingkat expected return bulanan yang positif, hal ini menjadikan bahwa saham tersebut layak untuk dijadikan alternatif dalam berinvestasi.
Pada saham UNVR dapat dikatakan merupakan saham yang stabil. Kestabilan saham UNVR ditandai dengan kinerja perusahaan yang terus meningkat yang dapat dilihat dari Laporan Keuangan Tahunan. Produk dari PT Unilever Indonesia Tbk yang mencakup Home & Personal Care serta Foods & Refreshment merupakan produk-produk yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam hidupnya. Saham GGRM walaupun kinerja perusahaan pada tahun 2012 dan 2013 mengalami penurunan, tidak menutup kemungkinan saham GGRM memberikan expected return yang tinggi diikuti dengan tingginya tingkat risiko kepada para investor. Berdasarkan Tabel 3, investor dengan sikap risk averse atau risk neutral memilih kecenderungan untuk berinvestasi pada saham UNVR karena investor tidak ingin terjadian kerugian yang cukup besar. Berbeda dengan investor yang memiliki sikap risk seeker, mereka akan memilih saham GGRM, INDF, KLBF yang memiliki tingkat pengembalian dan risiko yang tinggi.
Indeks harga saham merupakan indikator utama yang menggambarkan pergerakan saham dan juga diharapkan memiliki fungsi sebagai indikator pasar (Hanendyawarman 2004). Kondisi pasar modal dapat diukur dengan menggunakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada Tabel 4 berikut ini merupakan hasil perhitungan expected return pasar, standar deviasi dan varian bulanan yang dihitung dengan menggunakan data IHSG bulanan selama tahun 2009-2013.
Tabel 4 E(Rm), STDEV dan Variance IHSG bulanan periode tahun 2009-2013
Keterangan IHSG
E(Rm) 0,0209
STDEV 0,0575
Variance 0,0033
Sumber : Data diolah
Pada perhitungan return pasar bulanan yang terdapat pada Lampiran 5, IHSG mengalami fluktuatif. Hal ini dikarenakan naik-turunnya keadaan pertumbuhan ekonomi global atau domestik. Pada tahun 2013 IHSG berada pada tingkat 4.316,18 kemudian mencapai titik tertinggi pada awal Mei 2013 yaitu sebesar 5.068,63 hanya dalam waktu 5 bulan. Namun, dalam kurun waktu 3 bulan seiring dengan keluarnya arus modal, IHSG kembali ke level 4.000 tepatnya sebesar 4.195,09 (Lampiran 5). Salah satu faktor dari terjadinya penurunan IHSG adalah pergerakan negatif rupiah dan aksi profit taking. Harga beberapa sektor saham yang sudah menguat secara signifikan seperti perbankan dan industri dasar (semen) membuat indeks rawan dilanda aksi profittaking.
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa expected return pasar dan tingkat risiko bulanan periode tahun 2009-2013 masing-masing sebesar 0,0209 dan 0,0575. Hal ini memberikan gambaran apabila investor menginvestasikan uangnya pada pasar modal, maka secara umum pasar akan menawarkan expected return bulanan sebesar 2,09%. Namun, investor harus berani menanggung risiko bulanan (STDEV) sebesar 5,75%. Tingkat pengembalian bebas risiko (risk free
24
rate) didapat dengan menghitung rata-rata tertimbang dari suku bunga SBI bulanan tahun 2009-2013pada Lampiran 6 yang dipergunakan untuk menentukan portofolio optimal sebesar 0,557% atau 0,00557 (data diolah, sumber : www.bi.go.id).
Koefisien beta menunjukkan tingkat sensitivitas suatu saham terhadap kondisi pasar secara umum. Beta ( β ) merupakan risiko sistematis dimana risiko ini tidak dapat dihilangkan melalui diversifikasi. Kejadian yang mempengaruhi risiko ini adalah kondisi di luar perusahaan seperti ekonomi, politik, dan faktor makro lainnya (Hanendyawarman 2004). Hasil perhitungan alpha, beta, dan variance error (risiko tidak sistematis) masing-masing saham dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini.
Tabel 5 Alpha, Beta dan Variance Error saham
Kode Saham Alpha (αi) Beta (βi) Variance Error(σi2)
GGRM 0,02880 0,94040 0,01300
INDF 0,01405 1,28537 0,00506
KLBF 0,02114 0,95209 0,02295
UNVR 0,02012 0,29174 0,00634
Sumber : Data diolah
Berdasarkan Tabel 5 di atas, semua saham memiliki nilai positif yang berarti bahwa gejolak pasar berpengaruh lurus terhadap arah gerakan tingkat keuntungan saham tersebut. Saham INDF memiliki β>1 sebesar 1,28537 sehingga termasuk aggressive stock. Pada saham INDF dengan β: 1,28537, umumnya saham tersebut memiliki tingkat risiko yang relatif besar. Pada saham GGRM, KLBF, UNVR yang memiliki nilai β<1 (defensive stock) menjadikan keuntungan saham meningkat lebih kecil dibanding tingkat keuntungan saham dipasar. Saham defensive stock memiliki tingkat risiko yang kecil dan tingkat pengembalian yang kecil juga. Ketidakpastian pasar saham menjadikan ketiga saham tersebut merupakan saham yang cocok, karena perubahan di pasar tidak mempengaruhi saham ini untuk bergerak naik ataupun turun.
Pembentukan Portofolio Optimal
Portofolio yang optimal akan berisi aktiva-aktiva yang mempunyai nilai rasio ERB yang tinggi. Excess return to beta (ERB) merupakan ukuran dari besarnya rasio tingkat keuntungan investasi pada saham di atas tingkat keuntungan investasi bebas resiko terhadap besarnya tambahan resiko yang tidak dapat di diversifikasikan. Sehingga, diperlukan sebuah titik pembatas ( cut-off-point) yang menentukan batas nilai ERB berapa yang dikatakan tinggi (Hartono J 2014). Pada Tabel 6 berikut ini telah dilakukan pengurutan nilai ERB dari terbesar hingga terkecil dan perhitungan Ci.
25
Tabel 6 Penentuan kandidat portofolio optimal
Kode Emiten ERB Ci
UNVR 0,07077 0,003
GGRM 0,04560 0,011
KLBF 0,03726 0,013
INDF 0,02750 0,019
Sumber : Data diolah
Dapat dilihat bahwa nilai dari ERB keempat saham tersebut bernilai positif. Hal ini menjadi peluang keempat saham untuk menjadi bagian dari portofolio optimal. Sekuritas-sekuritas yang membentuk portofolio optimal adalah sekuritas-sekuritas yang mempunyai nilai ERB lebih besar atau sama dengan nilai ERB di titik C*. Nilai C* merupakan nilai Ci tertinggi pada kelompok saham-saham yang masuk dalam portofolio optimal. Jika ERB suatu saham lebih besar dari Ci nya, maka saham tersebut memenuhi kriteria untuk masuk ke dalam portofolio optimal (Risnawati 2009).
Berdasarkan pada Tabel 6 di atas bahwa nilai dari C* berada pada angka 0,019 atau pada saham INDF dengan ERB 0,02750. Saham yang memenuhi kriteria untuk masuk ke dalam pembentukan portofolio yang optimal yaitu PT. Unilever Tbk, PT. Gudang Garam Tbk, PT. Kalbe Farma Tbk, dan PT. Indofood Sukses Makmur.
Perhitungan selanjutnya adalah mencari nilai Xi merupakan nilai yang menunjukkan kecenderungan peningkatan atau penurunan dari harga saham. Tabel 7 berikut ini merupakan perhitungan proporsi dana dalam portofolio optimal.
Tabel 7 Perhitungan proporsi saham dalam portofolio optimal
Kode Emiten Xi Wi UNVR 2,367 0,334 GGRM 1,900 0,268 KLBF 0,743 0,105 INDF 2,073 0,293 7,0837 1,000
Sumber : Data diolah
Nilai Xi positif berarti kecenderungan kenaikan harga suatu saham lebih tinggi dibandingkan penurunannya sehingga layak untuk dimiliki karena akan memberikan keuntungan (capital gain). Berdasarkan Tabel 7 di atas dapat dilihat bahwa nilai Xi dari keempat saham dalam portofolio optimal bernilai positif. Nilai Xi terbesar adalah saham UNVR dengan nilai 2,367 sehingga menyebabkan jumlah proporsi dana terbesar dari keempat saham tersebut. Semakin besar kecenderungan harga saham tersebut naik maka semakin besar pula dana yang sebaiknya diinvestasikan. Berikut ini adalah Grafik dari persentase jumlah proporsi dana saham dalam portofolio optimal.
26
Gambar 5 Proporsi dana saham (Data diolah)
Ukuran yang dipergunakan untuk membandingkan besarnya resiko antara portofolio yang satu dengan yang lainnya adalah koefisien variasi. Semakin kecil koefisien variasi dari suatu portofolio berarti semakin kecil resikonya yang berarti pula bahwa portofolio tersebut semakin optimal.
Tabel 8 E(Rp), σi, ERB portofolio dan koefisien variasi
Kode Saham E(Ri) σi ERB Koefisien variasi wi (%)
UNVR 0,02622 0,08137 0,06944 3,10357 33%
GGRM 0,04846 0,12619 0,04519 2,60407 27%
KLBF 0,04104 0,16108 0,03685 3,92456 11%
INDF 0,04092 0,10258 0,02720 2,50694 29%
Portofolio 0,03804 0,06770 0,47959 1,77972 100% Sumber : Data diolah
Apabila dibandingkan besarnya koefisien variasi portofolio dengan koefisien variasi individual masing-masing saham yang terdapat pada Tabel 8, terlihat bahwa nilai koefisien variasi portofolio lebih kecil. Koefisien variasi portofolio merupakan koefisien variasi minimal yang diperoleh investor, dibanding saham sektor Consumer Goods Industry yang memenuhi asumsi Model Indeks Tunggal yang berarti semakin kecil risiko dan semakin optimal portofolio tersebut.
Implikasi Manajerial
Implikasi manajerial merupakan suatu rekomendasi kepada investor untuk melakukan investasi pada saham secara optimal. Kinerja dari suatu saham dapat dilihat dari perhitungan kuantitatif berdasarkan perhitungan tingkat expected return dan risiko serta realized return. Investor dalam berinvestasi harus memperhatikan tingkat risiko dari suatu saham, tergantung dari sikap investor (averse, neutral, seeker). Hasil perhitungan kinerja portofolio saham keempat
27 emiten tersebut dapat dijadikan acuan dalam pemilihan alternatif investasi. Hal ini ditunjukkan dengan pembentukan kombinasi portofolio optimal yang mencerminkan saham-saham optimal melalui perhitungan Model Indeks Tunggal yang nantinya diharapkan memberikan tingkat expected return tinggi dengan minimalisasi risiko. Pada pembentukan portofolio optimal terdapat pula perhitungan proporsi dana saham-saham optimal tersebut, sehingga investor dapat mengetahui persentase dana saham yang akan diinvestasikannya. Hal ini sangat membantu investor dalam pemilihan alternatif saham-saham optimal dalam berinvestasi.