SMA Bina Insani sebagai salah satu unit pendidikan di Bina Insani School yang berdiri tahun 1995 dan berada di bawah naungan Yayasan Bina Insani yang berkantor pusat di Jakarta. Saat ini, SMA Bina Insani berada di bawah naungan Yayasan Bosowa Bina Insani dengan Ketua Dewan Pembina Bapak H. Aksa Mahmud. Sebagai salah satu SMA unggulan di Kota Bogor, SMA Bina Insani telah banyak menorehkan berbagai prestasi, baik dalam bidang akademik maupun non akademik.
Sekolah ini berada di lokasi yang cukup strategis dan kondusif untuk proses pembelajaran siswa. SMA Bina Insani telah memberi bukti konsep pengembangan pendidikan yang mencerdaskan secara intelektual, emosional, dan spiritual. SMA Bina Insani juga ditunjang dengan tenaga-tenaga pendidik yang profesional dalam bidangnya turut mempercepat optimalisasi konsep pengembangan pendidikan tersebut.
Saat ini SMA Bina Insani dipercaya oleh pemerintah menjadi Sekolah Standar Nasional (SSN) dengan model Sekolah Pusat Sumber Belajar (PSB) yang tampil dengan berbagai karakteristik dan bukti keunggulan yang dijalankan. Jumlah siswa di masing-masing kelas sebanyak 25 siswa. Masing-masing tingkatan kelas terdapat 4 kelas paralel. Sekolah ini memiliki sistem fullday school dengan program 5 hari belajar (Senin-Jumat). Waktu sekolah dalam satu hari dimulai dari pukul 07.00-16.00 WIB.
Peningkatan mutu kualitas akademik bagi siswa dilakukan melalui program matrikulasi, remedical teaching and test, enrichment, konsultasi mata pelajaran dan Program Peningkatan Prestasi Akademik (P3A). Peningkatan mutu kualitas non akademik bagi siswa dilakukan dengan ekstrakurikuler wajib dan pilihan, baik keilmuan, seni, olahraga maupun kreativitas.
Peningkatan mutu kualitas berbahasa Inggris bagi siswa dilakukan program English club sebagai ekstrakurikuler wajib, English day and English area, English competititon, dan bilingual sebagai bahasa pengantar mata pelajaran MIPA. Pembinaan spiritual yang terpadu dengan program belajar siswa, seperti pembiasaan tadarrus Al-Quran dan sholat berjamaah, sholat Dhuha, malam bina Iman dan Taqwa, pesantren Ramadhan, bimbingan tartil dan tahfidz Al-Quran serta kajian islam.
Karakteristik Subjek Penelitian Umur
Remaja merupakan usia antara masa kanak-kanak dan masa dewasa sebagai titik awal proses reproduksi (Romauli 2009). Subjek yang dijadikan penelitian adalah siswa putri SMA Bina Insani kelas 10 dan 11 yang berjumlah 59 orang. Sebaran umur subjek penelitian adalah remaja putri yang berumur 14-17 tahun (Tabel 8). Hal ini sesuai menurut Hurlock (2004), bahwa usia 13-17 tahun merupakan umur masa remaja awal. Berdasarkan Tabel 8, sebagian besar subjek berumur 15 tahun (45.8%) dan 16 tahun (40.7%).
11 Tabel 8 Sebaran subjek penelitian berdasarkan umur
Umur (tahun) n Persentase (%)
14 1 1.7 15 27 45.8 16 24 40.7 17 7 11.9 Total 59 100 Status Gizi
Status gizi adalah cerminan ukuran terpenuhinya kebutuhan gizi. Status gizi secara parsial dapat diukur dengan antropometri (pengukuran bagian tertentu dari tubuh atau biokimia atau secara klinis) (Persagi 2009). Pengukuran status gizi pada subjek penelitian dihitung menggunakan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) (Kemenkes 2010).
Berdasarkan Tabel 9, sebagian besar subjek memiliki status gizi normal yaitu sebanyak 38 orang (64.4%). Status gizi ini menjadi penting karena merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya kesakitan dan kematian. Status gizi yang baik pada seseorang akan berkontribusi terhadap kesehatannya, serta berpengaruh terhadap usia menarche dan keadaan menstruasi pada remaja putri. Semakin bagus status gizi seorang remaja putri, maka usia menarche juga menjadi semakin awal (Riyadi 2003).
Tabel 9 Sebaran status gizi subjek penelitian berdasarkan kategori IMT/U Kategori status gizi (IMT/U) n Persentase (%)
Kurus 3 5.1
Normal 38 64.4
Gemuk 15 25.4
Obesitas 3 5.1
Total 59 100
Karakteristik Menstruasi Subjek Penelitian Usia awal menstruasi (menarche)
Usia awal menstruasi (menarche) adalah usia ketika menstruasi pertama terjadi, yang merupakan ciri khas kedewasaan seorang wanita yang sehat dan tidak hamil. Status gizi remaja wanita sangat mempengaruhi terjadinya menarche baik dari faktor usia terjadinya menarche, adanya keluhan-keluhan selama menarche maupun lamanya hari menarche. Secara psikologis wanita remaja yang pertama kali mengalami menstruasiakan mengeluh rasa nyeri, kurang nyaman, dan mengeluh perutnya terasa begah (Paath 2005).
Berdasarkan Tabel 10, sebagian besar subjek usia awal menstruasinya berada pada usia 11.9 sampai 13.3 tahun yaitu sebanyak 27 orang (45.8%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Batubara et al. (2010) yang menyatakan bahwa remaja putri di Indonesia mengalami menarche pada usia 12-14 tahun.
12
Tabel 10 Sebaran subjek penelitian berdasarkan menarche Usia Awal Menstruasi (tahun) n Persentase (%)
<10.5 7 11.9 10.5-11.9 18 30.5 11.9-13.3 27 45.8 >13.3 7 11.9 Total 59 100
Usia menarche seseorang dipegaruhi oleh konsumsi pangannya. Semakin baik konsumsi pangannya, maka usia menarche semakin awal (Lusiana dan Cecilia 2007). Semakin baik konsumsi pangan seorang anak perempuan dalam diet dan pemenuhan energi serta protein tercukupi akan mendorong pencapaian berat badan dan lemak tubuh, sehingga memiliki kadar leptin yang cukup untuk mendukung terjadinya menarche (Rahayu 2012).
Lama Menstruasi
Lama menstruasi merupakan lama hari selama fase menstruasi dalam siklus menstruasi. Menurut Manuaba et al. (2009) perdarahan saat menstruasi berlangsung 3-7 hari. Berdasarkan Tabel 11, sebaran subjek penelitian berdasarkan lama menstruasi sebagian besar selama 3-9 hari, yaitu sebanyak 57 orang (96.6%). Terdapat 2 orang (3.4%) yang lama menstruasinya lebih dari 9 hari dan tidak ada subjek yang mengalami lama menstruasi kurang dari 3 hari.
Tabel 11 Sebaran subjek penelitian berdasarkan lama menstruasi Lama Menstruasi (hari) n Persentase (%)
<3 0 0.0
3-9 57 96.6
>9 2 3.4
Total 59 100
Menurut Simanjuntak (2007), subjek penelitian yang memiliki lama menstruasi di atas normal diduga mengalami hipermenorea (menoragia), yaitu perdarahan menstruasi yang lebih banyak atau lebih lama dari waktu normalnya. Lama Siklus dan Keteraturan Menstruasi
Lama siklus menstruasi adalah jarak antara dua periode menstruasi (jarak hari pertama menstruasi ke satu ke hari pertama menstruasi berikutnya). Lama setiap siklus menstruasi adalah sekitar 28 hari, namun setiap perempuan memiliki siklus menstruasi yang tidak sama, antara 21 hari sampai 35 hari (Hadipranoto 1997).
Berdasarkan Tabel 12, sebagian besar subjek memiliki lama siklus menstruasi 25-30 hari, yaitu sebanyak 40 orang (67.8%). Hal ini sesuai menurut Hadipranoto (1997) yang menyatakan bahwa panjang siklus haid yang normal adalah sekitar 28 hari.
13 Tabel 12 Sebaran subjek penelitian berdasarkan lama siklus menstruasi
Lama siklus menstruasi (hari) n Persentase (%)
<25 7 11.9
25-30 40 67.8
>30 2 20.3
Total 59 100
Ketidakteraturan siklus menstruasi adalah suatu proses fisiologis wanita yang menyangkut organ, hormon, dan susunan syaraf pusat (Affandi dan Danukusumo 1999). Berdasarkan Tabel 13, sebagian besar subjek penelitian yaitu sebanyak 52 orang (88.1%) menyatakan menstruasi mereka datang tidak teratur setiap bulannya. Hanya 7 orang (11.9%) subjek penelitian yang menyatakan menstruasinya datang teratur.
Tabel 13 Sebaran subjek penelitian berdasarkan keteraturan menstruasi Keteraturan menstruasi n Persentase (%)
Selalu tepat waktu 7 11.9
Datang lebih awal dari biasanya 25 42.4
Datang terlambat 27 45.8
Total 59 100
Siklus menstruasi yang tidak teratur merupakan sesuatu hal yang sering dijumpai pada wanita usia reproduksi (Affandi dan Danukusumo 1990). Seseorang yang memiliki periode menstruasi lebih dari 35 hari dan mengalami haid yang tidak teratur atau haid yang sedikit sekali, hal tersebut menandakan bahwa wanita tersebut mengalami oligomenore. Beberapa penyebab oligomenore antara lain stres, penyakit kronik, adanya tumor yang meningkatkan produksi estrogen, asupan gizi yang kurang, dan gangguan pola makan (anoreksia nervosa dan bulimia) (Waryana 2010).
Sindrom Pramenstruasi Subjek Penelitian Keluhan Menstruasi
Sindrom pramenstruasi merupakan gangguan siklus yang umum terjadi pada wanita usia muda dan pertengahan, ditandai dengan gejala fisik dan emosional yang konsisten, dan terjadi selama fase luteal pada siklus menstruasi (Saryono dan Sejati 2009). Sindrom pramenstruasi juga sekumpulan gejala yang muncul akibat perubahan hormon yang terjadi dalam tubuh perempuan menjelang menstruasi (Andira 2010).
Tabel 14 Sebaran subjek penelitian berdasarkan gangguan keluhan menstruasi terhadap aktivitas
Gangguan keluhan menstruasi terhadap aktivitas n Persentase (%)
Ya 25 42.4
Tidak 9 15.2
Kadang-kadang 25 42.4
14
Sebagian besar subjek penelitian menyatakan keluhan menstruasi mengganggu atau terkadang mengganggu aktivitas mereka sehari-hari. Terdapat 9 orang (15.2%) yang menyatakan keluhan menstruasi tidak mengganggu aktivitas mereka.
Jenis Keluhan Sindrom Pramenstruasi
Menurut Hardinsyah (2004) keluhan utama yang dihadapi remaja wanita menjelang dan saat menstruasi adalah keram di bawah perut, sakit pinggang, sakit pada payudara, lemah dan lesu, lebih emosional dan timbulnya jerawat. Menurut Jones et al. (1996), keluhan menstruasi dibagi menjadi 10 jenis yaitu sakit kram di bawah perut, sakit kepala atau pusing, mual, muntah, sakit pada payudara, sakit pinggang, lesu, jerawat, lebih emosional dan lain-lain. Berikut adalah sebaran subjek penelitian berdasarkan jenis keluhan menstruasi yang biasa dialami.
Tabel 15 Sebaran subjek penelitian berdasarkan keluhan menstruasi
No Jenis keluhan menstruasi n Persentase (%)
1 Sakit kram di bawah perut 44 74.6
2 Sakit kepala/pusing 9 15.3
3 Mual 7 11.9
4 Muntah 0 0.0
5 Sakit pada payudara 13 22.0
6 Sakit pinggang 26 44.1
7 Lesu 19 32.2
8 Jerawat 33 55.9
9 Lebih emosional 32 54.2
10 Lainnya 0 0.0
Keluhan menstruasi yang paling banyak dikeluhkan oleh subjek penelitian adalah sakit kram di bawah perut (74.6%), jerawat (55.9%), dan lebih emosional (54.2%). Hal ini sesuai dengan pernyataan Hardinsyah (2004) bahwa keluhan utama yang dihadapi remaja wanita menjelang dan saat menstruasi adalah kram di bawah perut. Lutfiah (2007) juga menambahkan bahwa keluhan menstruasi yang banyak dialami selain kram di bawah perut adalah lebih emosional.
Rasa sakit ketika datangnya menstruasi biasanya berupa kejang yang terasa pada perut bagian bawah. Biasanya ini mulai terasa kurang lebih 24 jam sebelum terjadinya menstruasi dan berlangsung selama kurang lebih 12 jam sejak terjadi pendarahan, setelah itu biasanya tidak terasa lagi. Gejala ini tidak sama pada setiap individu, bahkan ada yang merasa sakit sepanjang waktu menstruasi. Penyebab rasa sakit ini belum diketahui secara jelas.
Kategori Jenis Keluhan Sindrom Pramenstruasi
Pada penelitian ini sebanyak 38 orang (64.4%) subjek penelitian mengalami jenis keluhan sedang, dimana subjek mengalami 3-6 jenis keluhan. Tidak ada subjek penelitian yang tidak mengalami keluhan.
15 Tabel 16 Sebaran subjek penelitian berdasarkan jenis keluhan sindrom
pramenstruasi
Kategori jenis keluhan n Persentase (%)
Tidak ada keluhan 0 0.0
Ringan 19 32.2
Sedang 38 64.4
Berat 2 3.4
Total 59 100
Kategori tingkat keluhan menstruasi merupakan penjumlahan skor keluhan sindrom pramenstruasi yang kemudian dikategorikan menjadi tidak ada keluhan, ringan, sedang dan berat (Jones et al. 1996). Secara umum, sebanyak 39 orang (66.1%) subjek penelitian mengalami keluhan sedang dengan skor 5-12. Hal ini sesuai dengan penelitian Utami (2003) yang menyatakan bahwa pada remaja putri sebagian besar mengalami jenis keluhan sindrom pramenstruasi tingkat sedang dengan menggunakan metode pengukuran tingkat keluhan yang sama.
Tabel 17 Sebaran subjek penelitian berdasarkan tingkat keluhan sindrom pramenstruasi
Kategori tingkat keluhan n Persentase (%)
Tidak ada keluhan 0 0.0
Ringan 16 27.1
Sedang 39 66.1
Berat 4 6.8
Total 59 100
Aktivitas Fisik
Menurut Riskesdas (2007) kegiatan aktivitas fisik dikategorikan cukup apabila kegiatan dilakukan terus-menerus minimal 10 menit dalam satu kegiatan tanpa henti dan secara komulatif 150 menit selama lima hari dalam satu minggu.
Berdasarkan Tabel 18, 71.2% subjek penelitian yaitu sebanyak 42 orang menyatakan tidak terbiasa melakukan aktivitas fisik berat yang dilakukan terus menerus selama 10 menit, hanya 17 orang (28.8%) subjek penelitian yang menyatakan terbiasa melakukannya. Aktivitas fisik berat yang dilakukan oleh subjek penelitian biasanya adalah olahraga seperti berenang dengan lama aktivitas sekitar satu jam.
Tabel 18 Sebaran subjek penelitian berdasarkan aktivitas fisik berat Aktivitas fisik berat n Persentase (%)
Ya 17 28.8
Tidak 42 71.2
16
Sebagian besar subjek penelitian (50.8%) menyatakan tidak terbiasa melakukan aktivitas fisik sedang yang dilakukan secara terus menerus selama 10 menit. Jenis aktivitas fisik sedang yang biasa dilakukan subjek penelitian antara lain pekerjaan rumah (menyapu lantai, mencuci piring dan menyetrika pakaian) dengan frekuensi satu sampai tujuh kali dalam satu minggu.
Tabel 19 Sebaran subjek penelitian berdasarkan aktivitas fisik sedang Aktivitas fisik sedang n Persentase (%)
Ya 29 49.2
Tidak 30 50.8
Total 59 100
Sebanyak 44 orang (74.6%) subjek penelitian menyatakan terbiasa berjalan kaki atau menggunakan sepeda kayuh dengan frekuensi satu sampai tujuh kali dalam satu minggu. Dan sisanya 15 orang (25.4%) menyatakan tidak terbiasa berjalan kaki atau menggunakan sepeda kayuh (Tabel 20).
Tabel 20 Sebaran subjek penelitian berdasarkan kebiasaan berjalan kaki atau menggunakan sepeda kayuh
Kebiasaan berjalan kaki atau menggunakan sepeda kayuh n Persentase (%)
Ya 44 74.6
Tidak 15 25.4
Total 59 100
Tingkat Aktivitas Fisik
Recall aktivitas fisik dilakukan sebanyak 3x24 jam pada hari libur, hari sekolah, dan hari sekolah yang ada jam pelajaran olahraga. Berdasarkan Tabel 21, sebagian besar yaitu 39 orang (66.1%) subjek penelitian berada pada tingkat aktivitas fisik ringan, hanya 5 orang (8.5%) subjek penelitian yang berada pada tingkat aktivitas fisik berat.
Tabel 21 Sebaran subjek penelitian berdasarkan tingkat aktivitas fisik Tingkat aktivitas fisik n Persentase (%)
Verysedentary 2 3.4
Sedentary 39 66.1
Moderate 13 22.0
Vigorous 5 8.5
Total 59 100
Hal ini disebabkan sebagian besar aktivitas fisik subjek penelitian ketika di sekolah adalah belajar yaitu duduk sambil menulis atau membaca. Pada hari libur subjek penelitian juga kebanyakan menghabiskan waktu untuk beristirahat disebabkan kegiatan sekolah yang sudah padat dari hari Senin sampai Sabtu.
17 Kebiasaan Olahraga
Kebiasaan olahraga subjek penelitian dalam satu bulan terakhir dapat dilihat pada Tabel 22. Sebagian besar subjek penelitian 49 orang (83.1%) menyatakan terbiasa melakukan olahraga dalam satu bulan terakhir ini dan 10 orang (16.9%) subjek penelitian menyatakan tidak terbiasa berolahraga dalam satu bulan terakhir ini. Menurut Aipassa (2006) olahraga dapat memberi kebugaran, meningkatkan kesehatan, dan mengurangi stres.
Tabel 22 Sebaran subjek penelitian berdasarkan kebiasaan berolahraga
Kebiasaan berolahraga n Persentase %
Ya 49 83.1
Tidak 10 16.9
Total 59 100.0
Sarana Olahraga dan Transportasi
Akses sarana olahraga dan transportasi dapat dikaitkan dengan tingkat aktivitas fisik. Dalam Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi (RANPG) 2006-2010, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BPPN) menyatakan bahwa pola hidup generasi muda saat ini mengalami perubahan karena pengaruh lingkungan, infrastruktur dan gaya hidup, misalnya kebiasaan berjalan kaki digantikan dengan keberadaan alat transportasi dan fasilitas infrastruktur yang lebih baik. Terbatasnya fasilitas untuk aktivitas fisik menyebabkan makin berkurangnya aktivitas fisik yang dilakukan.
Sebanyak 45 orang (76.3%) subjek penelitian menyatakan memiliki sarana olahraga atau alat olahraga dan 14 orang (23.7%) subjek penelitian menyatakan tidak memiliki sarana atau alat olahraga. Analisis deskripstif juga dilakukan terhadap jenis sarana olahraga dan transportasi yang dimiliki. Alat olahraga yang dimiliki oleh responden seperti sepatu olahraga, raket, bola tenis, cock, sepeda, skipping, dll.
Tabel 23 Sebaran subjek penelitian berdasarkan penggunaan sarana atau alat olahraga
Penggunaan sarana atau alat olahraga n Persentase (%)
Ya 45 76.3
Tidak 14 23.7
Total 59 100
Sebagian besar subjek penelitian yaitu 35 orang (59.3%) memiliki dan menggunakan kendaraan roda empat (mobil, angkot, bis) sebagai alat transportasi sehari-hari. Hanya 7 orang (11.9%) yang memiliki dan menggunakan sepeda kayuh sebagai alat transportasi sehari-hari.
18
Tabel 24 Sebaran subjek penelitian menurut alat transportasi yang dimiliki atau digunakan setiap hari
Alat transportasi yang dimiliki atau digunakan setiap hari n Persentase (%)
Sepeda 7 11.9
Kendaraan roda dua (motor atau ojek) 17 28.8
Kendaraan roda empat (mobil, angkot, bis) 35 59.3
Total 59 100
Sebagian besar subjek penelitian yaitu 48 orang (81.4%) menggunakan kendaraan roda empat (mobil, angkot dan bis) sebagai alat transportasi yang digunakan untuk pergi ke sekolah. Hanya satu orang (1.7%) subjek penelitian yang menggunakan sepeda ke sekolah.
Tabel 25 Sebaran subjek penelitian berdasarkan alat transportasi yang digunakan ke sekolah
Alat transportasi yang digunakan ke sekolah n Persentase (%)
Sepeda 1 1.7
Kendaraan roda dua (motor atau ojek) 10 16.9
Kendaraan roda empat (mobil, angkot, bis) 48 81.4
Total 59 100
Kategori Stres menurut Perceived Stress Scale
Perceived Stress Scale (PSS) adalah alat ukur psikologis yang paling banyak digunakan untuk mengukur persepi stres seseorang. Alat ukur ini mengukur derajat situasi dalam kehidupan seseorang yang dinilai sebagai stres. Item pertanyaan yang dirancang untuk mengetahui sejauh mana keadaan tidak terduga, tidak terkendali, dan kelebihan beban dalam kehidupan responden. Skala yang dipakai juga mencakup sejumlah pertanyaan langsung mengenai pengalaman tingkat stres. PSS didesain untuk digunakan oleh sampel yang berada pada tingkat sekolah menengah. Setiap item pertanyaan mudah dimengerti, dan alternatif respon yang disediakan juga simpel untuk dipahami. Selain itu, pertanyaannya juga bersifat umum. Pertanyaan dalam PSS bertanya mengenai perasaan dan pikiran yang dirasakan selama satu bulan terakhir. Dalam setiap kasus, responden akan ditanya seberapa sering mereka merasa yakin dalam hal tertentu. Terhadap empat item pernyataan positif, penilaian skor PSS diperoleh dengan cara membalik respon pernyataan negatif, dan kemudian dijumlahkan seluruh skor.
Tabel 26 Sebaran subjek penelitian berdasarkan kategori tingkat stres Kategori tingkat stress n Persentase (%)
Rendah 6 10.2
Sedang 45 76.3
Tinggi 8 13.6
19 Sebagian besar subjek penelitian yaitu 45 orang (76.3%) berada pada kategori stres tingkat sedang. Hanya 6 orang (10.2%) subjek penelitian yang berada pada kategori stres tingkat ringan dan 8 orang (13.6%) subjek yang berada pada kategori stres tingkat tinggi.
Stres sering terjadi pada remaja. Hal ini disebabkan karena kondisi pikiran seorang remaja yang masih labil dan belum sepenuhnya kuat secara mental dan psikologis. Menurut Walker (2002) secara umum penyebab stres pada remaja adalah putus dengan pacar, perbedaan pendapat dengan orang tua, bertengkar dengan saudara di rumah, adanya masalah dengan teman sebaya dan orang tua di rumah.
Analisis Variabel Jenis Keluhan Sindrom Pramenstrasi yang Berhubungan dengan Aktivitas Fisik dan Stres
Variabel jenis keluhan menstruasi yang diduga berhubungan dengan sindrom pramenstruasi antara lain adalah sakit kram di bawah perut, sakit kepala, mual, muntah, sakit pada payudara, sakit pinggang, lesu, jerawat, lebih emosional, dan lainnya.
Berdasarkan uji hubungan variabel jenis keluhan sindrom pramenstruasi dengan aktivitas fisik dan stres disajikan pada Tabel 20.
Tabel 27 Hasil uji hubungan antar variabel jenis keluhan dengan aktivitas fisik dan stres
Variabel Aktivitas Fisik Stres
r p r p
Sakit kram di bawah perut 0.216 0.100 0.278 0.033
Sakit kepala 0.082 0.537 0.361 0.005
Mual -0.660 0.619 0.300 0.021
Muntah - - - -
Sakit pada payudara 0.180 0.895 0.038 0.773
Sakit pinggang 0.286 0.028 -0.004 0.976 Lesu 0.141 0.286 0.312 0.016 Jerawat 0.091 0.494 -0.012 0.926 Lebih emosional 0.060 0.654 0.270 0.039 Lainnya -0.181 0.171 0.143 0.279 *Signifikan pada p<0.05
Hasil uji hubungan dengan korelasi Spearman diperoleh sebagian besar variabel tidak berhubungan signifikan dengan jenis keluhan sindrom pramenstruasi. Keluhan sakit kram di bawah perut dan sakit pinggang mempunyai hubungan yang cukup erat dengan aktivitas fisik, sedangkan keluhan mual mempunyai hubungan erat yang negatif dengan aktivitas fisik. Variabel keluhan yang berhubungan cukup erat dengan stres adalah sakit kram di bawah perut, sakit kepala, mual, lesu dan lebih emosional.
Hubungan Aktivitas Fisik dengan Sindrom Pramenstruasi
Gejala sindrom pramenstruasi pada setiap wanita berbeda-beda, beberapa wanita mengalaminya tidak secara terus menerus, ada juga yang bulan berikutnya tidak terasa gejalanya. Sindrom pramenstruasi ini akan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari wanita. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa derajat
20
sindrom pramenstruasi yang semakin tinggi akan sangat mempengaruhi aktivitas fisik terutama kegiatan sehari-hari wanita.
Hasil uji hubungan (korelasi Spearman) menunjukkan adanya hubungan yang cukup erat antara aktivitas fisik dengan tingkat keluhan sindrom pramenstruasi dan jenis keluhan mentruasi dengan r= 0.289 dan r= 0.252. Tetapi hubungan kedua variabel tersebut tidak signifikan karena p>0.05. Hubungan antara dua variabel tersebut cukup erat dan bersifat searah.
Nurlaela et al. (2008) menyatakan aktivitas olahraga yang teratur dan berkelanjutan berkontribusi untuk meningkatkan produksi dan pelepasan endorfin. Endorfin adalah hormon yang diproduksi oleh tubuh ketika kita merasa bahagia. Endorfin berperan dalam kekebalan tubuh dan pengendalian terhadap stres. Wanita yang mengalami kejadian sindrom pramenstruasi terjadi karena kelebihan estrogen, kelebihan estrogen dapat dicegah dengan meningkatnya endorfin. Pada wanita yang jarang melakukan olahraga secara teratur hormon estrogen akan lebih tinggi sehingga kemungkinan terjadinya sindrom pramenstruasi lebih besar. Hal ini membuktikan olahraga yang teratur dapat menurunkan resiko sindrom pramenstruasi.
Hubungan Stres dengan Sindrom Pramenstruasi
Stres merupakan suatu respon fisiologis dan psikologis manusia yang mencoba untuk mengadaptasi dan mengatur baik tekanan internal dan eksternal (Pinel 2009). Stres diketahui merupakan faktor etiologi dari banyak penyakit. Salah satunya adalah dapat menyebabkan gangguan pada menstruasi (Kaplan dan Manuck 2004; Wang et al. (2004).
Hasil uji hubungan (korelasi Spearman) menunjukkan adanya hubungan yang cukup erat antara stres dengan tingkat keluhan dan jenis keluhan sindrom pramenstruasi dengan r= 0.437 dan r= 0.426. Hubungan antara skor keluhan menstruasi dan jenis keluhan menstruasi dengan stres signifikan karena p<0.05. Korelasi antara dua variabel tersebut cukup erat dan bersifat searah. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat stres maka semakin tinggi pula tingkat keluhan dan jenis keluhan menstruasi.
Kehidupan SMA yang penuh dengan tuntutan akademik dapat ditemui di berbagai Sekolah Menengah Atas (SMA), salah satunya di SMA Bina Insani, Bogor. Rutinitas dan tuntutan akademik yang tinggi membuat siswi-siswi rentan mengalami stres. Aktivitas yang banyak dan tuntutan yang tinggi ini menyebabkan siswi mengalami stres, ditambah dengan ketidaktahuan siswi dalam meminimalkan dan menanggulangi stres. Stres yang dialami oleh siswi ini diakibatkan oleh banyaknya kegiatan yang banyak membuat siswi lelah dan letih. Hal ini sesuaidengan pendapat Chox (1978) dalam Niven (2002) yang menyatakan bahwa kelelahan merupakan stimulus dari stres.
Peristiwa yang dianggap sebagai pemicu stres terjadi jika sudah berada diluar kendali, tidak dapat diprediksi dan menantang batas-batas kemampuan manusia sehingga menimbulkan konflik dalam diri sesorang. Menurut teori psikoanalisa setiap manusia memilki konflik bawah sadar, dan beberapa orang menganggap konflik tersebut lebih berat dan banyak jumlahnya sehingga menganggap konfliktersebut sebagai stres. Apabila konflik tersebut tidak dapat ditangani maka akan menyebabkan ketidaknyamanan dalam diri individu dan memicu timbulnya stres.
21 Pada keadaan stres terjadi pengaktifan Hypotalamic Pituitary Axis (HPA) aksis yang mengakibatkan hipotalamus mensekresikan Corticotropic Releasing Hormone (CRH). CRH mempunyai pengaruh negatif terhadap pengaturan sekresi Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH), ketidakseimbangan CRH memiliki pengaruh terhadap penekanan fungsi reproduksi manusia sewaktu stres (Chrous 1998; Jeong 1999; Breen dan Karsch 2004; Nakamura et al. 2008).
Sekresi CRH ini akan merangsang pelepasan Adrenocorticotropic Hormone (ACTH) oleh hipofisis anterior, selanjutnya ACTH akan merangsang kelenjar adrenal untuk menyekresikan kortisol. Kortisol menekan pulsatil Luteinizing Hormone (LH) dengan cara menghambat respon hipofisis anterior terhadap GnRH (Breen dan Karsch 2004). Selama siklus menstruasi, peran hormon LH sangat dibutuhkan dalam menghasilakan hormon estrogen dan progesteron. Kedua