• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Al Rahman merupakan salah satu sekolah full day yang berada di kota Cimahi, yaitu sekolah yang menerapkan pembelajaran selama sehari penuh, kurang lebih 8 jam belajar dalam sehari, yakni mulai jam 07.00 hingga jam 15.30 (Fatimah 2011). SDIT Nur Al Rahman beralamat di Jl. Daeng Muhammad Ardiwinata (Cihanjuang) No. 77 A, kota Cimahi.

Visi sekolah ini adalah menjadi berakhlak mulia, mandiri, dan unggul dalam prestasi, menuju insan Indonesia bermartabat, cerdas komprehensif, dan kompetitif. Adapun misi sekolah ini adalah menerapkan nilai-nilai islam dalam sistem pendidikan dengan semangat dakwah berdasarkan alqur’an dan al hadits, meningkatkan kesiapan input dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan output yang unggul, mengelola lembaga pendidikan secara amanah dan profesional, memfasilitasi pengembangan potensi anak untuk menjadi pribadi bermartabat, mandiri, dan siap berkompetisi, dan mengembangkan sekolah model yang berwawasan global dan rahmatan lil alamin.

Jumlah guru yang ada di SDIT Nur Al Rahman terdiri atas 50 orang dengan tingkat pendidikan S2 (2 orang), S1 (46 orang), dan SMA (2 orang). Jumlah siswa sebanyak 399 orang yang terdiri atas 190 siswa laki-laki dan 209 siswa perempuan. Fasilitas yang dimiliki sekolah antara lain fasilitas antar jemput, lapangan olah raga, lab.komputer, lab fisika dan kimia, masjid, ruang makan bersama, aula, kolam renang, UKS, klinik gigi, kelas bilingual, taman bermain TK, dan kantin. Adapun ekstrakurikuler di sekolah ini terbagi menjadi dua, yaitu ekstrakulikuler wajib (calistung, futsal, mewarnai, pramuka, PMR, dan TTQ) dan ekstrakulikuler pilihan (berenang, tifan, futsal, badminton, taekwondo, gitar, drum, biola, fotografi, dan robotik).

11 Jam pelajaran di SDIT Nur Al Rahman pada hari Senin hingga Kamis dimulai pada pukul 07.00 WIB hingga 14.00 WIB (kelas 1 dan kelas 2) dan 15.30 WIB (kelas 3 sampai kelas 6). Sedangkan hari Jum’at, jam belajar diselenggarakan sejak pukul 07.00 WIB hingga 12.30 WIB.

Adapun salah satu sekolah yang termasuk ke dalam sekolah non full day dalam penelitian ini adalah SDN Cibeureum Mandiri, yaitu sekolah yang dikelola oleh pemerintah dengan konsep pembelajaran yang mengacu penuh pada kurikulum dan kebijakan yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Waktu belajar sekolah negeri dimulai pada pukul 07.00 WIB hingga 11.00 WIB (hari jum’at) dan 12.00 WIB (hari senin hingga kamis dan hari sabtu). SDN Cibeureum Mandiri beralamat di Jl. Mahar Martanegara No. 35, Kota Cimahi.

Visi dari SDN Cibeureum Mandiri adalah “IMAN” (inisiatif, mandiri, agamis, dan nyaman), sedangkan misinya adalah “ISLAM” (intensif, selektif, lugas, akurat dan menyenangkan). Jumlah guru yang ada di SDN Cibeureum Mandiri terdiri atas 24 orang PNS dan 20 orang honorer dengan tingkat pendidikan S1 dan S2 (kepala sekolah). Jumlah siswa sebanyak 646 orang yang terdiri atas 302 siswa laki-laki dan 344 siswa perempuan. Fasilitas yang dimiliki sekolah antara lain 23 ruang kelas, lapangan olah raga, UKS, perpustakaan, ruang TIK dan kantin. Adapun ekstrakulikuler yang diselenggarakan di sekolah ini antara lain pramuka, paskibra, dan taekwondo.

Karakteristik Contoh Karakteristik siswa

Karakteristik siswa yang diteliti dalam penelitian ini mencakup umur, jenis kelamin, berat badan dan tinggi badan (Tabel 3).

Tabel 3 memperlihatkan bahwa pada sekolah full day, siswa yang diteliti adalah lebih dari setengahnya yaitu 17 orang (56,7%) berumur 12 tahun, 12 orang (40%) berumur 11 tahun dan 1 orang (3,3%) berumur 13 tahun. Sedangkan pada sekolah non full day, sebagian besar yaitu 24 orang (80%) berumur 12 tahun, 4 orang (13,3%) berumur 13 tahun dan 2 orang (6,7%) berumur 11 tahun. Berdasarkan uji statistik, sebaran siswa berdasarkan umur pada sekolah full day dan non full day terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,006).

Menurut Yusuf (2005) masa usia sekolah dasar disebut juga masa intelektual karena keterbukaan keinginan anak untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman masa sekolah dasar dibagi menjadi dua fase, yaitu masa kelas rendah (6–9 tahun) dan masa kelas tinggi (12-13 tahun).

Dilihat dari jenis kelamin, dari kedua jenis sekolah full day dan non full day secara persentase terbanyak berjenis kelamin perempuan dimana masing-masingnya adalah 63,3% dan 66,7%. Berdasarkan uji statistik, sebaran siswa berdasarkan jenis kelamin pada sekolah full day dan non full day tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,787).

Adapun berat badan siswa, dalam Tabel 3 terlihat bahwa siswa di sekolah full day secara rata-rata lebih besar daripada sekolah non full day,

12 yaitu 48,48 kg (full day) dan 39,83% (non full day). Berdasarkan uji statistik, berat badan siswa pada sekolah full day dan non full day terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,004). Sedangkan untuk tinggi badan siswa full day dan non full day rata-ratanya masing-masing adalah 148,27 cm dan 150,77 cm, secara uji statistik, tinggi badan siswa pada sekolah full day dan non full day tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,198).

Tabel 3 Karakteristik siswa sekolah full day dan non full day Karakteristik

Siswa Penelitian

Jenis Sekolah

P

Full day Non Full day

n % n % Umur 0.006 11 tahun 12 40 2 6.7 12 tahun 17 56.7 24 80 13 tahun 1 3.3 4 13.3 Jenis Kelamin 0.787 Laki – laki 11 36.7 10 33.3 Perempuan 19 63.3 20 66.7 Berat Badan (kg) 0.004 Mean (SD) 48.48 (13.84) 39.83 (8.38) Median(Rentang) 44.5 (30-89) 38 (30-65) Tinggi Badan (cm) 0.198 Mean (SD) 148.27 (8.115) 150.77 (8.110) Median(Rentang) 147.5 (130-162) 150 (137-167)

Karakteristik Orang Tua Siswa Pendidikan Orang Tua

Sebaran pendidikan orang tua siswa terdapat dalam Tabel 4. Tabel tersebut memperlihatkan bahwa persentase ayah yang berpendidikan sarjana di sekolah full day lebih besar dibanding sekolah non full day yaitu masing-masing 73,3% dan 13,3%. Persentase pendidikan ayah di sekolah non full day hampir setengahnya 46,7% berpendidikan SMA. Begitu pula persentase pendidikan ibu pada sekolah full day sebagian besar yaitu 66,7% berpendidikan sarjana sedangkan pada sekolah non full day hampir setengahnya yaitu 46,7% berpendidikan SMA. Secara uji statistik, sebaran pendidikan orangtua (ayah dan ibu) pada sekolah full day dan non full day terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,000).

Menurut Ginting (2005), orang tua yang memiliki pendidikan formal rendah memiliki partisipasi yang sedikit pada segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas sekolah anaknya dibandingkan dengan orang tua yang berpendidikan tinggi. Hal ini akan mempengaruhi prestasi belajar anak baik secara langsung ataupun tidak karena orang tua berperan penting dalam memenuhi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan anak.

13 Tabel 4 Sebaran subjek berdasarkan pendidikan orangtua

Subjek berdasarkan Pendidikan

Jenis Sekolah

P

Full day Non Full

day n % n % Ayah (n=30) 0.000*) SD 0 0 1 3.3 SMP 0 0 10 33.3 SMA 2 6.7 14 46.7 Diploma 1 3.3 1 3.3 Sarjana 22 73.3 4 13.3 Pasca Sarjana 5 16.7 0 0 Ibu (n=30) 0.000*) SD 0 0 2 6.7 SMP 0 0 12 40 SMA 3 10 14 46.7 Diploma 6 20 0 0 Sarjana 20 66.7 2 6.7 Pasca Sarjana 1 3.3 0 0

Pekerjaan Orang Tua

Hasil penelitian menunjukkan sebaran pekerjaan ayah (Tabel 5) pada sekolah full day lebih merata dimana secara persentase sebesar 26,7% bekerja di BUMN, 23,3% bekerja sebagai PNS dan pegawai swasta, 20% wiraswasta dan 3,3% dokter, sedangkan pada sekolah non full day, pekerjaan ayah secara persentase sebagian besar yaitu 70% pegawai swasta dan sisanya 30% berwiraswasta. Secara uji statistik, sebaran pekerjaan ayah pada sekolah full day dan non full day terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,000). Sebaran pekerjaan ibu pada sekolah full day, secara persentase menunjukan hampir setengahnya yaitu 46,7% sebagai ibu rumah tangga, 13,3% PNS, pegawai swasta dan wiraswasta, serta 3,3% bekerja di BUMN dan sebagai dokter, sedangkan pada sekolah non full day sebarannya menunjukan lebih dari setengahnya yaitu 56,7% sebagai ibu rumah tangga, 33,3% pegawai swasta dan 10% berwiraswasta. Secara uji statistik, sebaran pekerjaan orangtua ibu pada sekolah full day dan non full day tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,088).

Pekerjaan orang tua akan mempengaruhi ekonomi keluarga karena berhubungan dengan pendapatan dan penghasilan keluarga. Keadaan sosial ekonomi keluarga erat kaitannya dengan pendidikan anak. Faktor biaya merupakan hal yang sangat penting karena proses belajar memerlukan biaya untuk membeli perlengkapan sekolah, fasilitas untuk mendukung pembelajaran, uang sekolah, dan biaya lainnya (Slameto 2010).

14 Tabel 5 Sebaran subjek berdasarkan pekerjaan orangtua

Subjek berdasarkan Pekerjaan

Jenis Sekolah P

Full day Non full day

n % n % Ayah (n=30) 0.000*) PNS 7 23.3 0 0 Pegawai Swasta 7 23.3 21 70 Bekerja di BUMN 8 26.7 0 0 TNI/POLRI 1 3.3 0 0 Wiraswasta 6 20 9 30 Dokter 1 3.3 0 0 Ibu (n=30) 0.088 PNS 4 13.3 0 0 Pegawai Swasta 4 13.3 10 33.3 Bekerja di BUMN 1 3.3 0 0 TNI/POLRI 2 6.7 0 0 Wiraswasta 4 13.3 3 10 Dokter 1 3.3 0 0

Ibu Rumah Tangga 14 46.7 17 56.7

Pendapatan Keluarga

Hasil penelitian pada sekolah full day, pendapatan keluarga (Tabel 6) secara persentase hampir seluruhnya yaitu 96,7% memiliki pendapatan ≥ UMR sedangkan pada sekolah non full day, lebih dari setengahnya 56,7% memiliki pendapatan ≥ UMR dan 43,3% memiliki pendapatan < UMR. Secara uji statistik, sebaran pendapatan keluarga pada sekolah full day dan non full day terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,000).

Tabel 6 Sebaran subjek berdasarkan pendapatan keluarga Subjek

berdasarkan Pendapatan

Jenis Sekolah

P

Full day Non Full day

n % n %

< UMR 1 3.3 13 43.3 0.000*)

≥ UMR 29 96.7 17 56.7

Tingkat pendapatan keluarga sangat mempengaruhi tercukupi atau tidaknya kebutuhan primer, sekunder, serta perhatian dan kasih sayang yang akan diperoleh anak. Hal tersebut tentu berkaitan erat dengan jumlah saudara dan pendidikan orang tua. (Supariasa dkk 2002). Hasil penelitian Idrawati (2008) di SMAN 09 Padang menunjukkan bahwa tingkat pendapatan orang tua berpengaruh secara signifikan dan positif terhadap prestasi belajar siswa.

15 Besar Keluarga

Dilihat dari besar keluarga (Tabel 7), penelitian pada sekolah full day menunjukkan secara persentase lebih dari setengah yaitu 53,3% merupakan keluarga kecil, sisanya yaitu 43,3% merupakan keluarga sedang dan 3,3 % merupakan keluarga besar. Sedangkan pada sekolah non full day menunjukkan secara persentase sebagian besar yaitu 70% merupakan keluarga kecil dan sisanya yaitu 30% merupakan keluarga sedang. Secara uji statistik , sebaran besar keluarga pada sekolah full day dan non full day tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,301).

Tabel 7 Sebaran subjek berdasarkan besar keluarga Subjek

berdasarkan Besar Keluarga

Jenis Sekolah

P

Full day Non Full day

n % n % Keluarga Kecil (≤ 4 orang) 16 53.3 21 70 0.301 Keluarga Sedang (5-7 orang) 13 43.3 9 30 Keluarga Besar (> 7 orang) 1 3.3 0 0

Besar keluarga menunjukkan banyaknya anggota dalam suatu keluarga. Adanya kepadatan dalam keluarga akan mengganggu pola dan corak hubungan antar anggota keluarga sehingga jaringan komunikasi antara anggota keluarga tidak berjalan sebagaimana mestinya (Gunarsa & Gunarsa 2004). Hasil penelitian Idrawati (2008) menunjukkan bahwa besar keluarga berpengaruh secara signifikan dan negatif terhadap prestasi belajar siswa di SMAN 09 Padang.

Aktivitas Harian Aktivitas Fisik Siswa

Aktivitas merupakan kegiatan yang dilakukan siswa yang menjadi subjek penelitian, baik di sekolah atau pun di luar sekolah, yang diukur berdasarkan jenis aktivitas yang dilakukan dan alokasi waktunya. Menurut Hoeger dan Hoeger (2005) aktifitas fisik adalah pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot skeletal dan membutuhkan pengeluaran energi. Aktifitas fisik pada anak sekolah dasar dikelompokkan menjadi lima yaitu belajar di sekolah, belajar di rumah, waktu luang, waktu pribadi dan aktivitas antara. Berikut ini ditampilkan hasil penelitian terkait rata-rata lama aktivitas siswa dalam tabel 8.

16 Tabel 8 Sebaran subjek berdasarkan rata-rata lama aktivitas

Jenis Aktivitas Fisik

Rata-rata lama aktivitas siswa

Rata-rata lama aktivitas siswa

Full day Non Full day

(Menit/hari/orang) (Menit/hari/orang) 1.Belajar di sekolah 480 300 2. Belajar di rumah 50 100 3. Waktu luang - Menonton TV 120 150 - Main game 90 50 - Baca macalah/buku cerita 45 45 - Main diluar (sepeda, dll) 60 120 4. Pribadi - Tidur 480 560 - Mandi 30 30 - Makan 30 30 - Ibadah 25 25 5. Aktivitas antara 30 30 Total 1440 1440

Tabel 8 menunjukkan bahwa rata-rata lama aktivitas sekolah full day (480 menit/hari/orang) lebih lama daripada sekolah non full day (300 menit/hari/orang), sedangkan sebaliknya aktivitas belajar di rumah siswa non full day (100 menit/hari/orang) lebih lama daripada siswa sekolah full day (50 menit/hari/orang), begitu pula waktu luang main di luar (120 menit/hari/orang) dan aktivitas tidur siswa non full day (560 menit/hari/orang) lebih lama daripada siswa full day dimana masing-masing waktunya (480 menit/hari/orang) dan (560 menit/hari/orang).

Tabel 9 Sebaran subjek berdasarkan aktivitas harian Aktivitas

Harian

Jenis Sekolah

Full day Non Full day

n % n %

Ringan 9 30 26 86.7

Sedang 21 70 4 13.3

Berdasarkan penelitian Masti (2009), di SD negeri dan swasta kota Bogor, rata-rata kegiatan ringan siswa SD swasta lebih lama dibandingkan dengan SD negri. Sedangkan rata-rata kegiatan sedang pada siswa SD negri lebih besar dibandingkan dengan SD swasta. Hal tersebut bertentangan dengan hasil penelitian ini (Tabel 9) dimana aktivitas harian pada jenis sekolah full day (swasta) tertinggi pada kategori sedang yaitu sebesar 70% dan dibandingkan dengan aktivitas harian pada jenis sekolah non full day

17 (negri) berbeda dimana pada sekolah non full day terbanyak pada kategori ringan yaitu sebesar 86,7%, perbedaan tersebut secara statistik hal ini bermakna (p = 0,000).

Status Gizi

Menurut WHO (2007) pengukuran status gizi pada anak usia 5 hingga 19 tahun sudah tidak menggunakan indikator BB/TB, akan tetapi menggunakan indeks masa tubuh berdasarkan umur (IMT/U). Klasifikasi pengkategorian status gizi siswa dibagi menjadi empat kelompok, yaitu kurus (-3 z normal (-2 +1), gemuk (+1 z +2) dan obese (z > +2). Penentuan nilai status gizi ditentukan berdasarkan software anthroplus 2007 yang mengacu pada referensi WHO 2007.

Tabel 10 Sebaran subjek berdasarkan status gizi Status Gizi

Jenis Sekolah

Full day Non Full day

n % n % Kurus 0 0 4 13.3 Normal 15 50 21 70 Gemuk 9 30 4 13.3 Obes 6 20 1 3.3 Jumlah 30 100 30 100

Tabel 10 menunjukan bahwa terdapat sebaran status gizi pada jenis sekolah full day dimana persentase subjek terbanyak pada kategori normal yaitu sebesar 50%, gemuk 30%, obes 20% dan tidak ada yang berkategori kurus, sedangkan pada jenis non full day persentase subjek terbanyak pada kategori normal yaitu sebesar 70%, kurus dan gemuk masing-masing 13,3%, obes 3,3% . Secara statistik terdapat perbedaan yang bermakna antara status gizi pada full day dan non full day (p = 0,015).

Keadaan tersebut dapat dikatakan bahwa kelompok dengan setatus gizi yang lebih baik adalah pada sekolah full day. Hal ini disebabkan oleh latar belakang sosial ekonomi siswa full day yang lebih tingi dari siswa non full day mempengaruhi jenis asupan makanan yang dikonsumsi siswa full day. Selain itu, latar pendidikan orang tua siswa full day yang lebih tinggi dari siswa non full day mempengaruhi perhatian orang tua terhadap pilihan makanan yang boleh atau tidak boleh dikonsumsi oleh anaknya sehingga dilihat dari recall konsumsi pangan selama 2x24 jam terlihat bahwa siswa full day mengkonsumsi makanan yang padat gizi, sedangkan siswa non full day sebagian besar mengonsumsi makanan dengan kuantitas yang banyak namun kurang bergizi.

18 Perkembangan Sosial Emosi

Menurut Cohn et. al (2009), perkembangan sosial emosi siswa diukur menggunakan instrumen Social Emotioal Assets and Resillience. Instrumen SEARS yang digunakan adalah instrumen SEARS A untuk mengukur perkembangan sosial emosi anak usia 7-12 tahun dengan menggunakan tekhnik laporan sendiri (self report). Hasil penelitian mengenai perkembangan sosial emosi siswa di sekolah full day dan non full day ditampilkan dalam tabel 11.

Tabel 11 Perbedaan perkembangan sosial emosi sekolah full day dan non full day

Perkembangan Sosial Emosi Jenis Sekolah

Full day Non Full day

Mean (SD) 106.37 (17.729) 118.5 (15.222) Median (Rentang) 104 (67-147) 122 (84-144) Tabel 11 menunjukan bahwa rata-rata nilai perkembangan sosial emosi siswa di sekolah full day dan non full day termasuk kedalam kategori tinggi, yaitu indeks lebih dari 80. Namun dilihat dari nilai rata-ratanya, nilai perkembangan sosial emosi siswa di sekolah non full day lebih tinggi dibandingkan di sekolah full day. Secara statistik, terdapat perbedaan antara perkembangan sosial emosi di sekolah full day dan perkembangan sosial emosi di sekolah non full day (p = 0,004).

Instrumen perkembangan sosial emosi memuat dimensi kompetensi emosional dan konsep diri, pengaturan diri, keterampilan dalam memecahkan masalah, ketahanan sosial emosi, strategi kognitif, dukungan, kematangan, dan kemerdekaan sosial, empati dan keterampilan interpersonal/bergaul (Elmanora et al. 2012). Perbedaan yang terjadi dalam hasil penelitian kali ini disebabkan oleh adanya dimensi tertentu yang lebih unggul pada siswa-siswa di sekolah non full day, misalnya pada dimensi pengaturan diri, kematangan, empati dan interpersonal/bergaul dimana hal ini terlihat dari perilaku mereka selama proses pengambilan data pnelitian. Adapun rincian mengenai dimensi perkembangan sosial emosi tidak dibahas lebih lanjut dalam penelitian ini.

Berdasarkan penelitian Ali dan Asrori (2004), sekolah berperan dalam proses perkembangan sosial anak. Dalam mengembangkan kemampun bersosialisasinya, anak memerlukan kecerdasan emosional yang baik. Goleman (2004) menyatakan bahwa kecerdasan emosional berperan dalam pencapaian prestasi seseorang dan merupakan salah satu faktor yang mempe ngaruhi kemampuan belajar. Selain itu, kematangan sosial dapat menentukan keberhasilan seseorang dalam meraih prestasi akademik melalui kemampuannya dalam bekerjasama, kemudahan dalam bergaul dengan sesama, kemampun berkomunikasi, dan rasa percaya diri. Adapun menurut Parke dan Gauvain (2009), perkembangan sosial emosi anak dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya genetik, lingkungan, interaksi dalam keluarga, interaksi dengan teman sebaya, dan faktor lainnya.

19 Prestasi Belajar

Prestasi belajar seringkali diukur dari nilai rapor siswa. Rapor merupakan perumusan terakhir yang diberikan guru mengenai kemajuan atau hasil belajar siswa selama masa tertentu (Suryabrata 2005 dalam Juliani 2007). Hasil penelitian mengenai prestasi belajar siswa sekolah full day dan non full day di tampikan dalam tabel 12.

Tabel 12 Perbedaan prestasi belajar sekolah full day dan non full day Prestasi Belajar

Jenis Sekolah

Full day

n=30

Non Full day

n=30 Mean (SD) 87.15 (5.122) 79.36 (5.277) Median (Rentang) 88.28 (76.57-95.63) 78.98 (71.63-89.38)

Tabel 12 menunjukan bahwa rata-rata prestasi belajar siswa di sekolah full day termasuk dalam kategori sangat baik (80-100), sedangkan rata-rata prestasi siswa di sekolah non full day termasuk kedalam kategori baik (70-79). Terdapat perbedaan antara prestasi belajar di sekolah full day dan prestasi belajar di sekolah non full day (p = 0,000). Menurut Slameto (2003), faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar selain keadaan gizi adalah hereditas, keadaan sosial ekonomi keluarga, faktor lingkungan, stimulus, fasilitas belajar dan daya tahan tubuh.

Penelitian kali ini menunjukkan adanya perbedaan prestasi antara siswa di sekolah full day dan non full day dimana prestasi siswa sekolah full day lebih baik dibandingkan prestasi siswa sekolah non full day. Hal ini disebabkan oleh latar belakang pendidikan dan sosial ekonomi orang tua siswa sekolah full day yang lebih baik daripada orang tua siswa sekolah non full day. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ginting (2005) bahwa orang tua yang memiliki pendidikan formal rendah memiliki partisipasi yang sedikit pada segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas sekolah anaknya dibandingkan dengan orang tua yang berpendidikan tinggi. Hal ini akan mempengaruhi prestasi belajar anak baik secara langsung ataupun tidak karena orang tua berperan penting dalam memenuhi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan anak dan pernyataan Slameto (2010) bahwa keadaan sosial ekonomi keluarga erat kaitannya dengan pendidikan anak. Faktor biaya merupakan hal yang sangat penting karena proses belajar memerlukan biaya untuk membeli perlengkapan sekolah, fasilitas untuk mendukung pembelajaran, uang sekolah, dan biaya lainnya.

20 Hubungan Antar Variabel

Hubungan karakteristik siswa dan orang tua dengan aktivitas fisik, status gizi, perkembangan sosial emosi, dan prestasi belajar siswa sekolah full day dan non full day

Suatu variabel dapat dikatakan berhubungan jika nilai p<0,05. Tabel 13 memperlihatkan bahwa di sekolah non full day terdapat korelasi negatif (r=-0,377) antara pendapatan keluarga dengan status gizi siswa (p=0,040). Korelasi negatif artinya bahwa semakin tinggi pendapatan keluarga maka status gizi siswa semakin rendah atau sebaliknya, semakin rendah pendapatan keluarga maka status gizi siswa semakin baik. Hal ini bertentangan dengan hasil penelitian Hardinsyah (1997) dimana pendapatan akan menentukan daya beli terhadap pangan dan fasilitas lain, seperti pendidikan, perumahan, kesehatan, dan lain-lain yang dapat mempengaruhi status gizi. Jika anak hidup dalam keluarga yang memiliki tingkat ekonomi rendah maka kebutuhan anak akan konsumsi menjadi kurang terpenuhi sehingga belajarnya juga terganggu.

Tabel 13 Hubungan karakteristik siswa dengan aktivitas harian, status gizi, dan perkembangan sosial emosi siswa di sekolah full day dan non full day Variabel

Sekolah full day Sekolah non full day

Aktivitas Harian Status Gizi Sosial Emosi Aktivitas Harian Status Gizi Sosial Emosi Usia siswa r -0.173 0.261 0.069 0.163 -0.102 0.255 p 0.361 0.164 0.716 0.391 0.591 0.174 Pendidikan Ayah r -0.106 -0.061 0.163 -0.058 0.307 0.083 p 0.575 0.750 0.391 0.760 0.099 0.664 Pendidikan Ibu r -0.237 -0.033 -0.058 -0.156 0.155 -0.111 p 0.208 0.861 0.760 0.410 0.413 0.559 Pendapatan Keluarga r 0.284 0.177 0.039 0.145 -0.377 -0.113 p 0.129 0.349 0.837 0.444 0.040*) 0.553 Besar Keluarga r 0.089 -0.118 -0.021 -0.009 -0.149 0.074 p 0.642 0.535 0.914 0.962 0.431 0.699 Perbedaan hasil penelitian ini dapat terjadi karena keterbatasan pengolahan data status gizi, dimana urutan disesuaikan dengan tingkatan status gizi (kurus, normal, gemuk, obesitas). Sebaiknya urutan disesuaikan dengan kondisi yang terbaik ke kondisi terburuk (normal, gemuk, obesitas, kurus). Kesalahan ini diduga menyebabkan data tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Hubungan aktivitas fisik, status gizi, perkembangan sosial emosi, dan prestasi belajar siswa sekolah full day dan non full day

Menurut Friedman & Clark dalam Kusumaningrum (2006), aktifitas fisik selain membuat sehat juga berpengaruh pada pencapaian hasil belajar yang lebih baik. Anak-anak yang tetap aktif secara fisik memiliki kebiasaan

21 tidur yang lebih baik, selain itu mereka juga mampu menangani tantangan fisik dan emosional seperti berlari atau belajar untuk menghadapi ujian jauh lebih baik dibandingkan anak-anak yang inaktif. Hal tersebut tidak terjadi dalam penelitian ini dimana di kedua sekolah baik full day maupun non full day tidak terdapat hubungan antara prestasi dengan aktifitas fisik siswa.

Tabel 15 menunjukkan hubungan antar variabel dimana variabel yang memiliki hubungan ditunjukkan dengan nilai p<0,05. Berdasarkan uji korelasi Spearman, variabel yang memiliki hubungan diantaranya adalah status gizi dengan perkembangan sosial emosi (p=0,036) di sekolah full day dan perkembangan sosial emosi dengan prestasi (p=0,021) di sekolah non full day.

Tabel 15 Hubungan antar variabel penelitian

Variabel Sekolah full day Sekolah non full day

R p r p

Aktivitas harian – Status gizi 0.081 0.669 0.070 0.716 Aktivitas harian – Prestasi 0.139 0.465 0.198 0.294 Aktivitas harian –

Perkembangan sosial emosi 0.025 0.895 0.340 0.066 Status gizi – Prestasi -0.074 0.697 -0.043 0.826 Status gizi – Perkembangan

sosial emosi -0.385 0.036*) 0.078 0.668

Perkembangan sosial emosi –

Prestasi 0.005 0.980 0.421 0.021*)

Menurut Parke dan Gauvain (2009), perkembangan emosi anak dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah genetik, lingkungan, interaksi dalam keluarga, interaksi dengan teman sebaya, dan faktor lainnya. Dalam penelitian ini, perkembangan sosial emosi siswa dipengaruhi oleh status gizi siswa di sekolah full day dan mempengaruhi prestasi belajar siswa

Dokumen terkait