• Tidak ada hasil yang ditemukan

SDN Serua 3 Tangerang Selatan merupakan salah satu SD negeri yang berada di wilayah Tangerang Selatan yang bertempat di Perumahan Bukit Indah, Blok D-H, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. SDN Serua 3 Tangerang Selatan mendapatkan akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M).

Sekolah ini memiliki jumlah guru sebanyak 39 orang. Sebanyak dua orang berpendidikan diploma 2 (D2), empat orang berpendidikan diploma 3 (D3), 33 orang berpendidikan strata 1 (S1) dan empat orang berpendidikan strata 2 (S2). Jumlah siswa di sekolah ini sebanyak 1.190 orang, diantaranya 598 siswa laki-laki dan 592 siswa perempuan. Jumlah murid kelas 5 keseluruhan sebanyak 222 orang diantaranya, 105 siswa laki-laki dan 117 siswa perempuan.

Fasilitas yang disediakan oleh sekolah ini meliputi 13 buah ruang kelas, perpustakaan, mushola, kantin, lapangan olahraga dan ruang karawitan seni dan pramuka. Fasilitas sanitasi dan kesehatan yang tersedia adalah toilet sebanyak 8 buah, kamar mandi sebanyak 2 buah, wastafel sebanyak 10 buah dengan sumber air PAM, ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dengan dokter kecil sebanyak 50 orang yang diseleksi setiap semester.

SDN Parakan 1 merupakan sekolah yang bertempat di Jalan Tempat Pemakaman Umum Parakan 1, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Sekolah ini memiliki akreditasi B dari dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M).

Jumlah guru sekolah terdapat 20 orang diantaranya lima orang memiliki pendidikan diploma 2 (D2) dan 15 orang memiliki pendidikan diploma 4 (D4). Jumlah murid keseluruhan di SDN Parakan 1 sebanyak 414 orang, diantaranya 200 siswa laki-laki dan 214 siswa perempuan. Jumlah murid kelas 5 di sekolah ini sebanyak 64 orang diantaranya 27 siswa laki-laki dan 37 orang siswa perempuan.

SDN Parakan 1 memiliki ruangan kelas sebanyak 7 buah dan lapangan olahraga. Fasilitas sanitasi dan kesehatan di sekolah ini meliputi toilet sebanyak 2 buah, kamar mandi sebanyak 2 buah dengan sumber air PAM, ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dengan dokter kecil sebanyak lima orang. Sekolah ini tidak memiliki kantin sehingga pada saat istirahat biasanya siswa jajan diluar sekolah.

Karakteristik Contoh Umur dan Jenis Kelamin

Contoh pada penelitian ini adalah siswa kelas 5 SD yang berumur 10 hingga 12 tahun. Sebagian besar siswa berada pada usia 10 tahun, namun terdapat juga siswa yang berada pada usia 11 dan 12 tahun. Sebagian besar siswa laki-laki dan perempuan berada pada usia 10 – 11 tahun. Menurut Hidayat (2004), pada umumnya usia siswa SD yang berada pada usia 10-12 tahun memiliki aktifitas fisik yang semakin tinggi dan memperkuat kemampuan motoriknya serta mereka sudah dapat mengambil kesimpulan dari suatu pertanyaan. Pada umur tersebut siswa SD memiliki cukup kemampuan menjawab dengan benar pengetahuan seputar gizi sehingga diharapkan siswa dapat memilih makanan jajanan yang sehat dan bergizi untuk dikonsumsi. Jumlah siswa perempuan pada kedua sekolah lebih banyak dibandingkan siswa laki-laki. Data sebaran siswa berdasarkan umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Sebaran siswa berdasarkan umur dan jenis kelamin

Umur (tahun) Jenis Kelamin Total Laki-laki Perempuan n % n % n % 10 35 79,5 39 88,6 74 84,1 11 6 13,6 3 6,8 9 10,2 12 3 6,8 2 4,5 5 5,7 Total 44 100,0 44 100,0 88 100,0 Rata-rata ± SD 10,2 ± 0,5 10,2 ± 0,5 10,2 ± 0,5

Pengetahuan Gizi dan Keamanan Pangan pada Siswa

Pengetahuan gizi memiliki kaitan yang erat dengan kualitas gizi dari makanan yang dikonsumsi. Pengetahuan gizi seseorang yang tergolong baik maka akan mengatur pemilihan makanan agar pola makan menjadi seimbang. Pengetahuan gizi merupakan aspek kognitif yang menunjukkan pemahanan responden tentang ilmu gizi, jenis zat gizi serta interaksinya terhadap status gizi dan kesehatan. Pengetahuan gizi merupakan landasan yang penting dalam menentukan konsumsi makanan (Khomsan 2000). Seseorang yang memiliki pengetahuan gizi yang baik maka akan cenderung mengetahui dan memilih makanan yang sehat dan bebas bahan tambahan pangan (BTP) untuk dikonsumsi. Menurut Sediaoetama (2008), pengetahuan gizi dan keamanan pangan saling berkaitan dan berpengaruh terhadap pemilihan makanan, sikap

dan perilaku seseorang karena berhubungan dengan daya nalar, pengalaman dan kejelasan konsep mengenai objek tertentu. Sebaran siswa di SDN Serua 3 Tangerang Selatan dan SDN Parakan 1 Tangerang Selatan berdasarkan nilai yang diperoleh dari pertanyaan-pertanyaan seputar gizi dan keamanan pangan dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Sebaran siswa berdasarkan nilai dari pertanyaan tentang pengetahuan gizi dan keamanan pangan

Kategori

SDN Serua 3 Tangsel SDN Parakan 1 Tangsel

Total

Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan

n % n % n % n % n % Kurang (< 60%) 2 8,3 1 5,0 6 30,0 2 8,3 11 12,5 Sedang (60-80%) 3 12,5 5 25,0 9 45,0 12 50,0 29 33,0 Baik (> 80%) 19 79,2 14 70,0 5 25,0 10 41,7 48 54,5 Total 24 100,0 20 100,0 20 100,0 24 100,0 88 100,0 Minimum (%) 38,5 46,2 38,5 Maksimum (%) 100,0 88,5 100,0 Rata-rata ± SD (%) 81,3 ± 12,3 72,1 ± 11,6 76,7 ± 12,8

Berdasarkan pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa siswa dari kedua sekolah mampu menjawab dengan baik pertanyaan seputar gizi dan keamanan pangan (54,5%). Pengetahuan gizi dan keamanan pangan siswa laki-laki pada SDN Serua 3 Tangerang Selatan sebagian besar pada kategori baik (79,2%) lebih tinggi dibandingkan dengan siswa perempuan. Sebagian besar siswa perempuan pada SDN Parakan 1 Tangerang Selatan mempunyai pengetahuan gizi dan keamanan pangan lebih baik dibandingkan siswa laki-laki. Hal ini terlihat dari persentase jumlah siswa perempuan yang termasuk kategori sedang dan baik lebih tinggi dibandingkan siswa laki-laki.

Rata-rata tingkat pengetahuan gizi dan keamanan pangan siswa SDN Serua 3 Tangerang Selatan (81,3 ± 12,3)lebih tinggi dibandingkan dengan siswa SDN Parakan 1 Tangerang Selatan (72,1 ± 11,6). Berdasarkan uji beda

independent sample t-test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi siswa di SDN Serua 3 Tangerang Selatan dan SDN Parakan 1 Tangerang Selatan (p<0,05). Hasil uji beda dapat dilihat pada Lampiran 1. Hal ini menunjukkan bahwa siswa pada SDN Serua 3 Tangerang Selatan pengetahuan gizi dan keamanan pangannya lebih tinggi dibandingkan SDN Parakan 1 Tangerang Selatan. Masih terdapat siswa laki-laki pada SDN Parakan 1 Tangerang Selatan (30,0%) yang termasuk pada kategori kurang.

Tingkat pengetahuan gizi dan keamanan pangan siswa berpengaruh tehadap sikap dan perilaku dalam pemilihan pangan yang dibeli, dengan pengetahuan gizi dan keamanan pangan yang baik, diharapkan siswa akan memilih pangan yang aman dan bergizi (Andarwulan et al 2009). Pertanyaan tentang pengetahuan gizi dan keamanan pangan meliputi unsur zat gizi yaitu zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur, makanan yang aman bagi kesehatan, jajanan yang dapat menimbulkan penyakit, tanda-tanda umum makanan jajanan yang menggunakan BTP, efek penggunaan BTP yang dilarang didalam makanan jajanan dan aspek kebiasaan cuci tangan dengan air mengalir dan sabun sebelum mengkonsumsi makanan.

Pertanyaan pengetahuan gizi dan keamanan pangan yang paling banyak dijawab dengan benar oleh siswa yaitu tentang unsur zat gizi, jajanan yang dapat menimbulkan penyakit, tanda-tanda umum makanan jajanan yang menggunakan BTP, efek penggunaan BTP yang dilarang didalam makanan jajanan dan aspek kebiasaan cuci tangan dengan air mengalir dan sabun sebelum mengonsumsi makanan.

Terdapat tiga buah pertanyaan pengetahuan gizi dan keamanan pangan yang paling banyak dijawab kurang tepat oleh siswa. Pertanyaan pertama tentang pemilihan makanan yang bergizi. Pertanyaan kedua tentang makanan bergizi yang diperoleh hanya dari susu. Pertanyaan ketiga tentang makanan yang aman bagi kesehatan adalah makanan yang bebas dari mikroba sumber keracunan. Pada pertanyaan ketiga banyak siswa yang terkecoh dengan pilihan jawaban lain sehingga siswa cenderung memilih makanan yang aman bagi kesehatan adalah makanan yang bergizi.

Karakteristik Keluarga Pendidikan Orangtua

Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang berpendidikan tinggi cenderung memilih makanan yang lebih murah namun memiliki kandungan gizi yang tinggi sesuai dengan jenis pangan yang tersedia dan kebiasaan makan sejak kecil sehingga kebutuhan zat gizi dapat terpenuhi dengan baik (Suhardjo 1989).

Pengetahuan kesehatan yang rendah dapat dipicu oleh rendahnya pendidikan sehingga dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi seseorang. Pendidikan yang rendah juga akan mempengaruhi jenis pekerjaan yang didapatkan oleh seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka

kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak juga semakin besar. Sebaran orangtua siswa berdasarkan tingkat pendidikannya dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Sebaran orangtua siswa berdasarkan tingkat pendidikan

Tingkat Pendidikan

SDN Serua 3 Tangsel SDN Parakan 1 Tangsel

Ayah Ibu Ayah Ibu

n % n % n % n % Tidak sekolah 0 0,0 0 0,0 1 2,3 2 4,5 SD 0 0,0 6 13,6 10 23,3 15 34,1 SMP 6 14,0 4 9,1 7 16,3 5 11,4 SMA 18 41,9 23 52,3 21 48,8 19 43,2 Perguruan tinggi 19 44,2 11 25,0 4 9,3 3 6,8 Total 43 100,0 44 100,0 43 100,0 44 100,0

Berdasarkan Tabel 7 dapat dilihat tingkat pendidikan orangtua siswa SDN Serua 3 Tangerang Selatan sebagian besar berada pada SMA dan perguruan tinggi. Sebanyak 41,9% ayah berpendidikan SMA dan sebanyak 44,2% lainnya berpendidikan perguruan tinggi, sedangkan tingkat pendidikan ibu sebanyak 52,3% SMA dan 25,0% perguruan tinggi. Tingkat pendidikan orangtua siswa SDN Parakan 1 Tangerang Selatan sebagian besar berada pada SD dan SMA. Sebanyak 23,3% ayah berpendidikan SD dan sebanyak 48,8% lainnya berpendidikan SMA, sedangkan tingkat pendidikan ibu sebanyak 34,1% SD dan 43,2% SMA. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan ayah dan ibu siswa SDN Serua 3 Tangerang Selatan lebih tinggi dibandingkan ayah dan ibu siswa SDN Parakan 1 Tangerang Selatan. Berdasarkan uji beda terdapat perbedaan yang signifikan antara pendidikan orangtua siswa dari kedua sekolah (p<0,05). Hasil uji beda dapat dilihat pada Lampiran 1.

Pekerjaan Orangtua

Menurut Suhardjo (1989), pekerjaan orangtua berhubungan dengan pendidikan dan pendapatan orangtua. Jika tingkat pendidikan orangtua semakin baik maka akan mempengaruhi pekerjaan yang diperoleh orangtua juga akan semakin baik dan layak. Pekerjaan yang baik dan layak diasumsikan dapat menghasilkan pendapatan yang baik dan besar. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin baik dan layak pekerjaan seseorang maka jumlah pendapatan yang dihasilkan semakin meningkat. Pendapatan yang meningkat akan mempengaruhi keberlangsungan pemilihan konsumsi makan seseorang untuk dapat menyediakan makanan yang baik secara kualitas maupun kuantitas bagi keluarga.

Pekerjaan orangtua siswa pada penelitian ini dibagi menjadi 8 kategori yaitu tidak kerja, pedagang, PNS/ABRI/Polisi, jasa, Ibu Rumah Tangga (IRT), wiraswasta, pegawai swasta dan lainnya yang meliputi direktur, guru atau dosen, pilot atau BUMN. Sebaran pekerjaan orangtua siswa dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Sebaran orangtua siswa berdasarkan jenis pekerjaan

Pekerjaan

SDN Serua 3 Tangsel SDN 1 Parakan Tangsel

Ayah Ibu Ayah Ibu

n % n % n % n % Tidak kerja 1 2,3 0 0,0 0 0,0 1 2,3 Pedagang 2 4,7 2 4,5 10 23,3 9 20,5 PNS/ABRI/Polisi 8 18,6 1 2,3 1 2,3 1 2,3 Jasa 3 7,0 2 4,5 15 34,9 3 6,8 IRT 0 0,0 31 70,5 0 0,0 29 65,9 Wiraswasta 10 23,3 1 2,3 6 14,0 1 2,3 Pegawai swasta 18 41,9 4 9,1 11 25,6 0 0,0 Lainnya 1 2,3 3 6,8 0 0,0 0 0,0 Total 43 100,0 44 100,0 43 100,0 44 100,0

Berdasarkan pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa sebanyak 41,9% pekerjaan ayah siswa pada SDN Serua 3 Tangerang Selatan adalah pegawai swasta, sedangkan sebanyak 70,5% pekerjaan ibu siswa adalah Ibu Rumah Tangga (IRT). Sebanyak 34,9% pekerjaan ayah siswa pada SDN Parakan 1 Tangerang Selatan adalah jasa, sedangkan sebanyak 65,9% pekerjaan ibu siswa adalah Ibu Rumah Tangga (IRT). Uji beda menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pekerjaan orangtua siswa SDN Serua 3 Tangerang Selatan dengan SDN Parakan 1 Tangerang Selatan (p>0,05). Hasil uji beda dapat dilihat pada Lampiran 1.

Besar Keluarga

Menurut Suhardjo (1986), besar keluarga memiliki kaitan erat dengan kejadian masalah gizi dan kesehatan keluarga. Keluarga yang anggotanya lebih sedikit akan lebih mudah memenuhi kebutuhan pangan pada keluarga miskin. Rumah tangga dengan pendapatan kurang yang memiliki anggota keluarga lebih besar akan rentan terhadap masalah gizi dan kesehatan dibandingkan anggota keluarga kecil. Jika keluarga memiliki pendapatan yang sama, maka pada rumah tangga yang memiliki anggota keluarga besar kemungkinan memiliki status kesehatan yang baik dibandingkan dengan anggota keluarga kecil. Hal ini disebabkan penyediaan makanan dan fasilitas kesehatan menjadi lebih

rendahdibandingkan dengan anggota keluarga yang lebih sedikit. Sebaran siswa berdasarkan besar keluarga dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Sebaran siswa berdasarkan besar keluarga

Besar Keluarga SDN Serua 3 Tangsel SDN Parakan 1 Tangsel Total n % n % n % Kecil (≤ 4 orang) 19 43,2 15 34,1 34 38,6 Sedang (5-7 orang) 24 54,5 23 52,3 47 53,4 Besar (≥ 8 orang) 1 2,3 6 13,6 7 8,0 Total 44 100,0 44 100,0 88 100,0

Berdasarkan Tabel 9 dapat dilihat bahwa sebanyak 53,4% keluarga siswa dari kedua sekolah termasuk dalam kategori keluarga sedang (5-7 orang). Pada SDN Parakan 1 Tangerang Selatan lebih banyak yang termasuk dalam kategori keluarga besar (13,6%)dibandingkan pada SDN Serua 3 Tangerang Selatan (2,3%). Hal ini dapat berpengaruh pada status morbiditas anak, karena tingkat pendidikan dan pendapatan masih tergolong rendah dengan jumlah keluarga yang besar akan mempengaruhi penyediaan makanan dan fasilitas kesehatan di dalam keluarga.

Pengetahuan Keamanan Pangan Penjaja Makanan

Sebagian besar tingkat pengetahuan para penjaja dari kedua sekolah (78,6%) tergolong kategori kurang (51,1 ± 12,7).Tingkat pengetahuan keamanan pangan pada penjaja makanan dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Tingkat pengetahuan keamanan pangan pada penjaja

Kategori SDN Serua 3 TangselSDN Parakan 1 Tangsel Total

n % n % n % Kurang (< 60%) 5 83,3 6 75,0 11 78,6 Sedang (60-80%) 1 16,7 2 25,0 3 21,4 Baik (> 80%) 0 0,0 0 0,0 0 0,0 Total 6 100,0 8 100,0 14 100,0 Minimum (%) 44 24 24 Maksimum (%) 72 68 72 Rata-rata ± SD 55,3 ± 10,9 48,0 ± 13,7 51,1 ± 12,7

Menurut Fardiaz dan Fardiaz (1994), tingkat pendidikan pedagang yang relatif rendah dan ketidaktahuannya, menyebabkan mereka seringkali menggunakan bahan tambahan pangan seperti pemanis, pewarna, pengawet dan sebagainya yang tidak diizinkan. Rata-rata tingkat pengetahuan keamanan pangan para penjaja di SDN Serua 3 Tangerang Selatan berkisar antara 55,3 ±

10,9, sedangkan para penjaja di SDN Parakan 1 Tangerang Selatan berkisar antara 48,0 ± 13,7. Berdasarkan uji beda menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat pengetahuan keamanan pangan para penjaja di SDN Serua 3 Tangerang Selatan dengan SDN Parakan 1 Tangerang Selatan (p>0,05). Hasil uji beda dapat dilihat pada Lampiran 1. Persentase responden yang menjawab ya tentang pengetahuan keamanan pangan dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Persentase responden yang menjawab ya tentang pengetahuan keamanan pangan

No Pengetahuan Keamanan Pangan

Yang menjawab ya SDN Serua 3 Tangsel SDN Parakan 1 Tangsel n % n % 1 Bahaya fisik 2 33,3 4 50,0

• Saat mengolah (kuku bersih, menggunakan penutup kepala, tidak menggunakan perhiasan)

• Mencuci tangan 4 66,7 2 25,0

• Menggunakan alat makan untuk penyajian 5 83,3 4 50,0

• Peralatan yang digunakan harus bersih dan

dicuci 3 50,0 1 12,5

• Menggunakan serbet yang bersih 2 33,3 2 25,0

• Meja/etalase harus baik dan kering 5 83,3 2 25,0

• Kebersihan tempat jualan adalah hal penting 6 100,0 8 100,0 • Terdapat fasilitas penunjang tempat

berjualan 4 66,7 4 50,0

2 Bahaya kimia

• BTP dalam makanan 3 50,0 2 25,0

•Penggunaan minyak goreng selama

pengolahan 1 16,7 1 12,5

3 Bahaya mikrobiologis

• Upaya mencegah makanan tercemar 4 66,7 4 50,0

• Air yang digunakan adalah air bersih dan

matang 0 0,0 0 0,0

Kelompok pernyataan tentang pengetahuan keamanan pangan untuk penjaja mengacu pada Depkes (2008), dimana faktor yang mempengaruhi rendahnya mutu dan keamanan pangan pada penganan jajanan anak sekolah dibagi dalam tiga kelompok yaitu faktor fisik, faktor kimia dan faktor mikrobiologis. Hal ini juga dikemukakan Wirakusumah (1994), masalah keamanan pangan merupakan masalah yang kompleks, dampak dari hasil interaksi mikrobiologik, toksisitas kimiawi dan status gizi yang berkaitan satu sama lain. Masalah

keamanan pangan dapat timbul di tingkat produksi, tingkat pengolahan dan tingkat distribusi.

Pernyataan kelompok pertama mengenai bahaya fisik dibagi menjadi delapan poin pernyataan. Pada kuesioner kelompok pernyataan ini seluruh pilihan jawaban ya adalah jawaban yang benar dan pilihan jawaban tidak adalah jawaban yang salah. Poin pertama yaitu saat mengolah (kuku bersih, menggunakan penutup kepala, tidak menggunakan perhiasan), poin kedua yaitu mencuci tangan, poin ketiga yaitu menggunakan alat makan untuk penyajian, poin keempat yaitu peralatan yang digunakan harus bersih dan dicuci, poin kelima yaitu menggunakan serbet yang bersih, poin keenam yaitu meja/etalase harus baik dan kering, poin ketujuh yaitu kebersihan tempat jualan adalah hal penting, dan poin kedelapan yaitu terdapat fasilitas penunjang tempat berjualan. Untuk pernyataan poin kedua hingga kedelapan penjaja di SDN Serua 3 Tangerang Selatan lebih banyak yang menjawab ya dibandingkan SDN Parakan 1 Tangerang Selatan, sedangkan untuk pernyataan poin pertama sebaliknya. Hal ini menunjukkan bahwa penjaja di SDN Serua 3 Tangerang Selatan lebih mengetahui keamanan pangan dibandingkan SDN Parakan 1 Tangerang Selatan.

Sebagian besar penjaja kurang memperhatikan bahaya fisik berupa kebersihan peralatan atau wadah yang digunakan. Wadah untuk mencuci alat makan hanya menggunakan ember plastik sebanyak satu buah dengan air cucian yang jarang diganti oleh penjaja. Salah satu penjaja es minuman kemasan serbuk menyatakan menggunakan wadah-wadah sebagai tempat keju, coklat dan kacang sebagai pelengkap dalam minuman. Wadah-wadah tersebut hanya dua minggu satu kali dilakukan pencucian oleh penjaja. Hal ini membahayakan kesehatan siswa karena dikhawatirkan pelengkap minuman tersebut terkontaminasi oleh bakteri dan jamur yang dapat tumbuh di dalam wadah sehingga mencemari minuman yang dikonsumsi siswa. Contoh perilaku higiene dan sanitasi yang kurang baik pada jajanan dapat dilihat pada Lampiran 5.

Pada kelompok pernyataan kedua mengenai bahaya kimia dibagi menjadi dua point. Pada kuesioner kelompok pernyataan ini seluruh pilihan jawaban ya adalah jawaban yang salah dan pilihan jawaban tidak adalah jawaban yang benar. Point pertama yaitu penggunaan bahan tambahan pangan dalam makanan, sebanyak 50,0% responden pada SDN Serua 3 Tangerang Selatan

menjawab ya pada penggunaan bahan tambahan pangan pada makanan jajanan yang dijual. Makanan jajanan yang diduga menggunakan bahan tambahan pangan adalah batagor, nugget dan sosis, yaitu pada penggunaan pewarna saus. Bahan tambahan pangan pewarna dan pemanis diduga digunakan pada jajanan pop corn. Responden pada SDN Parakan 1 Tangerang Selatan sebanyak 25,0% menjawab ya dalam penggunaan bahan tambahan pangan pewarna saus pada jenis jajanan burger dan batagor. Saus kemasan yang digunakan tidak memiliki tanggal kadarluasa, daftar komposisi bahan dan warna saus yang merah mencolok.

Point kedua yaitu penggunaan minyak goreng lebih dari tiga kali dijawab ya oleh satu orang penjaja pada masing-masing sekolah. Jenis jajanan di SDN Serua 3 Tangerang Selatan yang diolah menggunakan minyak goreng bekas yang telah digunakan lebih dari tiga kali adalah aneka gorengan. Responden mengaku bahwa jajanan yang tidak laku pada hari itu akan dijual kembali esok hari. Penjaja gorengan dan lontong di SDN Parakan 1 Tangerang Selatan mengaku bahwa jajanan yang tidak laku pada hari itu akan dijual kembali esok hari dengan perlakuan di goreng dahulu agar terlihat baru. Penjaja cireng (aci digoreng) dengan isian juga mengakui hal yang sama seperti pada penjaja gorengan. Selain itu, penjaja di kedua sekolah menggunakan pembungkus yang tidak aman untuk produk gorengan yaitu kertas atau koran bekas dan plastik kresek hitam.

Menurut penelitian BPOM (2005), penggunaan minyak goreng lebih dari tiga kali dapat menyebabkan perubahan ikatan cis menjadi trans. Ikatan trans sangat berbahaya bagi tubuh karena selain sulit dicerna, ikatan trans dapat menimbulkan berbagai penyakit. Penggunaan minyak goreng yang berulang kali pada suhu tinggi menghidrolisis lemak menjadi asam lemak yang mudah teroksidasi. Perubahan ini membuat minyak menjadi tengik dan membentuk asam lemak trans yang berakibat gangguan kesehatan seperti metabolisme kolesterol, jantung dan bersifat karsinogenik yang menimbulkan kanker. Selain itu, penggunaan bungkus makanan berupa kertas atau koran bekas dan plastik kresek hitam berbahaya bagi tubuh karena mengandung timbal, karbon dan lain sebagainya. Timbal dan karbon dapat mudah berpindah atau terlepas pada makanan jika terkena minyak dan panas sehingga menyebabkan berbagai penyakit berbahaya pada tubuh. Zat pewarna hitam pada kantong plastik hitam

dapat terurai dan terdegradasi menjadi zat radikal beracun sehingga dapat memicu karsinogenik.

Berdasarkan penelitian BPOM (2005) yang menguji makanan jajanan anak sekolah di 195 sekolah dasar pada 18 provinsi, diantaranya Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandar Lampung, Denpasar dan Padang dengan jumlah makanan keseluruhan sebanyak 861 contoh. Sebanyak 32,6% total sampel aneka gorengan menggunakan minyak goreng lebih dari tiga kali penggorengan. Berbagai jenis makanan jajanan menggunakan saus yang berwarna mencolok. Berdasarkan penelitian BPOM (2005) sampel saus dan sambal sebanyak 61,54% mengandung pewarna yang dilarang yaitu amaranth. Saus sambal yang digunakan juga teruji mengandung kapang/khamir dan E.coli.

Bakteri patogen menyebabkan keracunan, diare, demam dan thypus.

Pada kuesioner kelompok pernyataan ini sebagian besar pilihan jawaban ya adalah jawaban yang benar dan pilihan jawaban tidak adalah jawaban yang salah. Pada kelompok pernyataan ketiga mengenai bahaya mikrobiologis yaitu upaya penjaja untuk mencegah makanan agar tidak tercemar, sebanyak 66,7% responden pada SDN Serua 3 Tangerang Selatan menjawab ya melakukan pencegahan agar makanan tidak tercemar dengan cara menutup makanan jajanan yang tidak terbungkus. Sebanyak 50,0% responden pada SDN Parakan 1 Tangerang Selatan menjawab ya melakukan pencegahan agar makanan tidak tercemar dengan cara menggunakan meja/etalase yang memiliki kaca penutup. Pada pernyataaan penggunaan air bersih dan matang yang layak dikonsumsi, responden dari kedua sekolah menjawab tidak menggunakan air yang bersih dan matang. Menurut pengakuan dari penjaja minuman di kedua sekolah, hal ini dilakukan untuk meminimalisasikan biaya berdagang sehingga dapat memperoleh keuntungan maksimal. Penjaja minuman kemasan (cair), minuman kemasan (serbuk) dan minuman ringan pada salah satu sekolah menyatakan bahwa es yang digunakan dibuat dari air mentah (air PAM) yang diperoleh dengan harga Rp 500,00 dari rumah salah satu warga sekitar sekolah tersebut. Hal ini diakui karena kesulitan dan keterbatasan untuk mendapatkan air bersih di luar lingkungan sekolah.

Penelitian ini sejalan dengan hasil uji coba BPOM (2005), hasill uji terhadap air es menunjukkan bahwa sebanyak 39,95% (344 contoh) tidak memenuhi syarat keamanan pangan. Es sirup atau buah (48,19%) dan minuman ringan (62,50%) juga tercemar bakteri patogen yang dapat berasal dari air atau

es. Bakteri patogen yang terkandung di dalam air atau es yaitu E. Coli,

coliform,kapang/khamir, Salmonella thypus dan Staphylococcus aureus. Bakteri patogen dapat menyebabkan keracunan, diare dan demam hingga thypus.

Kebiasaan Jajan Siswa Jenis Jajanan

Menurut Marotz (2005) makanan jajanan yang baik untuk siswa sekolah adalah jajanan yang dapat memberikan kontribusi zat gizi yang cukup sesuai dengan kebutuhan siswa, namun kebanyakan makanan jajanan hanya mengandung gula dan lemak.Pada umumnya makanan jajanan dapat dibagi

Dokumen terkait