• Tidak ada hasil yang ditemukan

SMAN 1 Pamekasan merupakan sekolah yang menjadi subjek penelitian mewakili wilayah perkotaan. Sekolah ini didirikan sejak tahun 1997 dan berada di Kabupaten Pamekasan, Jl. Pramuka No. 2 Pamekasan-Madura-Jawa Timur. SMAN 1 Pamekasan merupakan salah satu SMA unggulan di Madura. Visi dari SMAN 1 Pamekasan adalah terwujudnya insan yang cerdas dan berakhlak mulia serta mampu menjawab tantangan zaman. Sekolah ini berada pada posisi yang strategis dan kondusif karena berada di pusat kota dan berada di kompleks

perumahan bukan di pinggir jalan raya, tetapi masih mudah untuk diakses. Waktu sekolah dimulai dari jam 06.45-13.00 WIB tetapi biasanya masih ada tambahan ekstrakurikuler sampai jam 17.00 WIB. Sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah ini dapat dikatakan cukup lengkap. Terdapat ruang teori dan praktek yang dilengkapi dengan komputer, LCD, TV/audio dan juga wifi area. Sejak kelas X sudah terdapat pembagian kelas IPA dan IPS, untuk kelas X terdiri atas 7 kelas IPA dan 1 kelas IPS. Total jumlah siswa dari kelas X-XII adalah 313 siswa berjenis kelamin perempuan dan 495 siswa berjenis kelamin laki-laki.

SMAN 1 Galis merupakan sekolah yang menjadi sekolah subjek penelitian yang mewakili wilayah perdesaan. Sekolah ini merupakan satu-satunya SMA negeri yang berlokasi di Jl. Konang, Desa Galis Pamekasan-Jawa Timur. SMAN 1 Galis didirikan sejak tahun 1986. SMAN 1 Galis merupakan anak cabang dari SMAN 2 Pamekasan dan mempunyai hak otoritas untuk menjadi sekolah mandiri atau resmi berpisah dari SMAN 2 Pamekasan pada tahun 1986. SMAN 1 Galis dapat dikatakan letaknya kurang strategis dikarenakan dikelilingi oleh sawah-sawah. Selain itu, sarana dan prasarana yang kurang lengkap seperti tidak adanya LCD, lab komputer, dan kurangnya buku di perpustakaan juga menjadi kendala sekolah ini saat akan melakukan proses belajar mengajar. Alat-alat laboratorium yang dimiliki juga masih terbatas. Proses belajar mengajar berlangsung dari jam 07.00-13.00 WIB. Tidak ada tambahan pelajaran untuk siswa, tetapi untuk kegiatan ektrakurikuler seperti futsal, tenis meja, dan voli dilakukan saat sore hari yaitu mulai 15.30-16.30. Visi dari sekolah ini adalah mewujudkan siswa-siswi yang cerdas, terampil, dan berakhlak mulia. Total jumlah siswa dari kelas X-XII adalah 876 siswa, untuk kelas X terdiri atas 102 putri dan 159 putra.

Karakteristik Subjek Penelitian

Subjek penelitian yang diambil pada penelitian ini adalah siswi SMA kota yang diwakili oleh SMAN 1 Pamekasan yang berjumlah 53 orang dan siswi dari SMA desa yang diwakili oleh SMAN 1 Galis yang berjumlah 35 orang. Berikut adalah sebaran subjek penelitian berdasarkan karakteristik subjek

Tabel 4 Karakteristik subjek penelitian

Umur Perkotaan Perdesaan

n (%) n (%)

15 tahun 13 24.5 8 22.9

16 tahun 40 75.5 27 77.1

Total 53 100 35 100

Uang jajan (Rp) Perkotaan Perdesaan

n (%) n (%) Rp 2 000-8 000 11 22.7 22 62.9 Rp 8 000-14 000 38 69.8 13 37.1 Rp 14 000-20 000 4 7.5 0 0 Total 53 100 35 100 X+ SD 6792.5 +3510.1 3857.1 + 1911.9

13 Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa sebagian besar subjek penelitian SMA kota dan desa berusia 16 tahun yaitu berturut-turut 75.5% dan 77.1%. Subjek penelitian di SMA perkotaan paling banyak memperoleh uang saku pada rentang Rp 8 000-14 000 (69.8%). Berbeda halnya dengan subjek penelitian di SMA perdesaan paling banyak memperoleh uang saku Rp2 000-Rp 8 000 (62.9%). Uji beda dilakukan dengan Mann Whitney yang menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara uang saku di SMA perkotaan dan perdesaan (p<0.05). Artinya uang saku subjek di perkotaan lebih tinggi dibandingkan perdesaan. Uang saku maksimal subjek penelitian di perkotaan Rp 20 000 dan minimal Rp 2 000 dengan median Rp 5 000 sedangkan uang saku maksimal subjek penelitian di perdesaan Rp 10 000 dan minimal Rp 2 000 dengan median Rp 3 000. Uang saku yang diperoleh subjek di SMA perkotaan dan perdesaan seluruhnya digunakan untuk membeli makanan disekolah.

Karakteristik Keluarga

Karakteristik keluarga meliputi besar keluarga, pendidikan, dan pendapatan per kapita. Berikut merupakan sebaran dari karakteristik keluarga subjek di SMA perkotaan dan perdesaan.

Tabel 5 Karakteristik keluarga subjek

Besar keluarga Perkotaan Perdesaan

n (%) n (%) Kecil 23 43.4 22 62.9 Sedang 29 54.7 12 35.2 Besar 1 1.9 1 1.9 Total 53 100 35 100 X+ SD 4.79 + 1.04 4.43 + 1.22 Pendidikan terakhir Ayah Ibu

Perkotaan Perdesaan Perkotaan Perdesaan

n (%) n (%) n (%) n (%) SD 1 1.9 13 37.1 5 9.4 13 37.1 SMP 3 5.7 10 28.6 3 5.7 11 31.4 SMA 20 37.7 12 34.3 26 49.1 10 28.6 PT 29 54.7 0 0 19 35.8 1 2.9 Total 53 100 35 100 53 100 35 100 X+ SD (tahun) 14.09 + 2.75 8.91 + 2.57 12.77 + 3.16 8.94 + 2.74 Pendapatan per kapita/bulan Ayah&Ibu Perkotaan Perdesaan n (%) n (%) Rp <243 783 4 7.5 23 65.7 Rp ≥243 783 49 92.5 12 34.3 Total 53 100 35 100

Tabel 5 menunjukkan sebagian besar subjek penelitian SMA perkotaan berada pada kategori keluarga sedang (54.7%). Berbeda dari SMA perkotaan, subjek penelitian SMA perdesaan berada pada kategori keluarga kecil (62.9%). Hasil uji beda Mann Whitney menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara besar keluarga di SMA perkotaan dan perdesaan (p<0.05). Artinya besar keluarga di perkotaan lebih besar dari pada perdesaan. Besar keluarga maksimal subjek penelitian di perkotaan adalah 8 orang dan minimal 3 orang dengan median 5 orang. Besar keluarga minimal subjek penelitian di perdesaan 9 orang dan minimal 3 orang dengan median 4 orang.

Pendidikan orang tua akan menentukan pengetahuan dan perilaku khususnya dalam hal kesehatan dan gizi. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula kemampuan dasar yang dimilikinya. Sebagian besar pendidikan ayah subjek di wilayah perkotaan sudah menyelesaikan pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi (54.7%) sedangkan di wilayah perdesaan ayah subjek hanya menyelesaikan pendidikan sampai jenjang sekolah dasar (37.1%). Hal ini sejalan dengan pendidikan ibu subjek yang menunjukkan bahwa sebagian besar ibu subjek di perkotaan (49.1%) sudah menyelesaikan pendidikan sampai jenjang sekolah menengah atas sedangkan sebagian besar ibu subjek di wilayah perdesaan (37.1%) hanya menyelesaikan pendidikan sampai jenjang sekolah dasar. Hasil uji beda Mann Whitney menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat pendidikan ayah dan ibu di SMA perkotaan dan perdesaan (p<0.05). Artinya tingkat pendidikan di SMA perkotaan lebih tinggi daripada di SMA perdesaan. Lama pendidikan maksimal ayah dan ibu subjek penelitian di perkotaan adalah 18 tahun atau setara S2 dan minimal 6 tahun atau setara SD. Median dari lama pendidikan ayah adalah 16 tahun sedangkan ibu adalah 12 tahun. Lama pendidikan maksimal ayah subjek penelitian di perdesaan adalah 12 tahun atau setara SMA dan minimal 6 tahun atau setara SD, sedangkan lama pendidikan ibu maksimal 16 tahun atau setara S1 . Median dari lama pendidikan ayah dan ibu adalah 9 tahun atau setara SMP.

Pendapatan keluarga diperoleh dari total seluruh pendapatan anggota keluarga yang kemudian dibagi dengan jumlah anggota keluarga sehingga diperoleh pendapatan/kapita/bulan. Besarnya pendapatan/kap/bulan didasarkan pada kriteria keluarga miskin menurut BPS Jawa Timur (2012). Sebagian besar pendapatan orang tua subjek di perkotaan dan perdesaan mempunyai penghasilan Rp ≥243 783 atau termasuk dalam kategori keluarga tidak miskin. Indrayani et al. (2010) menyatakan bahwa semakin tinggi status ekonomi maka usia awal pubertas akan semakin muda. Hal ini berkaitan dengan kemudahan untuk mendapatkan makanan berkualitas yang berpengaruh pada status gizi. Semakin baik status gizi maka dapat menyebabkan pubertas menjadi lebih awal. Hasil uji beda Mann Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pendapatan per kapita/bulan di perkotaan dan perdesaan (p>0.05).

Pengetahuan Gizi

Pengetahuan gizi merupakan wawasan gizi yang dimiliki oleh subjek penelitian terkait dengan makanan sumber zat gizi. Berikut ini disajikan perbandingan pengetahuan gizi SMA perkotaan dan SMA perdesaan (Tabel 6)

15

Sebagian besar subjek di SMA perkotaan mempunyai pengetahuan gizi sedang (62.3%), sedangkan pada SMA perdesaan sebagian besar mempunyai pengetahuan gizi kurang (68.6%). Hasil uji beda Independent T-Test menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan gizi di SMA perkotaan dan perdesaan (p<0.05). Artinya pengetahuan gizi di perkotaan lebih baik daripada di perdesaan. Nilai maksimal pengetahuan gizi subjek di SMA perkotaan adalah 90 dan minimal 20 sedangkan rata-ratanya adalah 60.11. Nilai maksimal pengetahuan gizi subjek di SMA perdesaan adalah 70 dan minimal 20. Rata-rata pengetahuan gizi subjek di SMA perdesaan adalah 50.71. Pengetahuan gizi di perkotaan lebih tinggi dari perdesaan dikarenakan subjek di perkotaan merupakan anak IPA sehingga lebih spesifik terhadap pengetahuan gizi dan menstruasi. Pengetahuan gizi merupakan salah satu faktor penentu kemungkinan kejadian kekurangan gizi selain masalah kemiskinan dan ketersediaan pangan. Orang yang memiliki pengetahuan gizi dan pendidikan yang tinggi cenderung untuk memilih bahan makanan yang baik daripada mereka yang berpendidikan rendah. Pengetahuan gizi menjadi landasan yang menentukan konsumsi pangan (Khomsan 2000).

Status Gizi

Status gizi menjadi penting karena merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya kesakitan dan kematian. Berikut ini merupakan perbandingan status gizi SMA kota dan SMA desa menurut kategori WHO 2007 yang disajikan pada Tabel 7.

Tabel 6 Pengetahuan gizi di SMA perkotaan dan perdesaan

Pengetahuan gizi Perkotaan Perdesaan

n (%) n (%) Baik 3 5.7 0 0 Sedang 33 62.3 11 31.4 Kurang 17 32.1 24 68.6 Total 53 100 35 100 X + SD 63.11 + 12.41 50.71 + 10.51

Tabel 7 Status gizi di SMA perkotaan dan perdesaan berdasarkan IMT/U

Status gizi Perkotaan Perdesaan

n (%) n (%) Sangat kurus 2 3.8 0 0 Kurus 0 0 4 11.4 Normal 43 81.1 27 77.1 Overweight 6 11.3 2 5.7 Obesitas 2 3.8 2 5.7 Total 53 100 35 100 X + SD -0.30 + 1.31 -0.37 + 0.97

Tabel 7 menunjukkan bahwa di SMA perkotaan dan perdesaan sebagian besar subjek penelitian mempunyai status gizi normal (81.1% dan 77.1%) Remaja putri yang memiliki status gizi baik mempunyai kecepatan pertumbuhan yang lebih tinggi pada masa pubertas dibanding dengan remaja putri yang kurang gizi (Riyadi 2003). Hasil uji beda Mann Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara status gizi di SMA perkotaan dan perdesaan (p>0.05).

Karakteristik Menstruasi

Karakteristik menstruasi subjek meliputi usia menarche, panjang siklus menstruasi, dan lama menstruasi. Berikut ini disajikan Tabel 8 mengenai karakteristik menstruasi subjek.

Sebagian besar subjek penelitian di SMA perkotaan dan perdesaan mengalami usia menarche pada usia 10-13 tahun, yaitu sebesar 83% dan 80%. Hasil uji beda Mann Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara usia menarche di SMA perkotaan dan perdesaan (p>0.05). Usia menarche maksimal subjek di SMA perkotaan adalah 14 tahun dan minimal 10 tahun dengan median usia menarche 13 tahun. Sedangkan maksimal usia menarche subjek di perdesaan adalah 15 tahun dan minimal 10 tahun dengan Tabel 8 Karakteristik menstruasi subjek penelitian di SMA perkotaan dan perdesaan

Usia menarche Perkotaan Perdesaan

n (%) n (%) <10 tahun 0 0 0 0 10-13 tahun 44 83 28 80 >13 tahun 9 17 7 20 Total 53 100 35 100 X + SD 12.53 + 1.01 12.51 + 1.19 Panjang siklus menstruasi Perkotaan Perdesaan n (%) n (%) <21 hari 2 3.8 0 0 21-35 hari 49 92.5 30 85.7 >35 hari 2 3.8 5 14.3 Total 53 100 35 100 X + SD 28.60 + 3.73 28.23 + 4.31 Lama menstruasi Perkotaan Perdesaan n (%) n (%) <3 hari 1 1.9 1 2.9 3-9 hari 45 84.9 24 68.6 >9 hari 7 13.2 10 28.6 Total 53 100 35 100

17 median usia menarche 12 tahun. Hal ini sejalan dengan Price (1994) bahwa menarche biasanya terjadi antara usia 12-13 tahun, dengan kisaran dari usia 9.1 tahun hingga 12.8 tahun. Menurut Manuaba (2001) semakin muda usia menstruasi maka kemungkinan besar akan mengalami dismenorea. Hal ini berkaitan dengan belum siapnya alat reproduksi mengalami perubahan dan juga masih terjadi penyempitan pada leher rahim sehingga menimbulkan rasa nyeri. Selain itu masih terjadi ketidakseimbangan hormon jika remaja mengalami menstruasi sebelum waktunya. Usia normal menarche pada remaja adalah 11-12 tahun.

Panjang siklus menstruasi merupakan jarak hari pertama haid ke hari pertama haid berikutnya. Sebagian besar subjek penelitian di SMA perkotaan (92.5%) dan perdesaan (85.7%) memiliki siklus menstruasi 21-35 hari atau tergolong pada siklus normal. Hasil uji beda Mann Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara siklus menstruasi di SMA perkotaan dan perdesaan (p>0.05). Siklus menstruasi maksimal subjek di SMA perkotaan adalah

adalah 37 hari dan minimal 18 hari. Median siklus menstruasi adalah 29 hari. Sedangkan siklus menstruasi maksimal subjek di SMA perdesaan adalah 38 hari dan minimal 21 hari. Median siklus menstruasi adalah 28 hari.

Sebagian besar subjek penelitian di SMA perkotaan dan perdesaan mengalami menstruasi selama 3-9 hari, yaitu sebanyak 84.9% untuk SMA perkotaan dan 68.6% untuk SMA perdesaan. Menurut Manuaba et al. (2009) perdarahan normal saat menstruasi berlangsung 3 sampai 7 hari. Hasil uji beda Mann Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara lama menstruasi di SMA perkotaan dan perdesaan (p>0.05). Menurut Novia (2008) semakin lama menstruasi maka semakin sering uterus berkontraksi akibatnya semakin banyak prostaglandin yang dikeluarkan. Sesuai dengan patologi dismenorea bahwa kadar prostaglandin yang berlebihan akan meningkatkan rasa nyeri saat menstruasi.

Dismenorea Primer

Nyeri saat menstruasi atau yang biasa disebut dismenorea merupakan rasa sakit yang menyertai menstruasi sehingga dapat menimbulkan gangguan terhadap aktivitas. Berikut ini disajikan sebaran subjek penelitian di SMA perkotaan dan perdesaan yang mengalami nyeri saat menstruasi.

Hasil Tabel 9 menunjukkan bahwa sebagian besar subjek selalu mengalami keluhan saat menstruasi (67.1%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian dismenorea primer di

Tabel 9 Dismenorea subjek penelitian di SMA perkotaan dan perdesaan

Dismenorea Perkotaan Perdesaan Total

n (%) n (%) n %

Selalu 32 60.4 27 77.1 59 67.1

Kadang-Kadang 21 39.6 8 22.9 29 32.9

SMA perkotaan dan perdesaan (p>0.05). Tabel 10 mendeskripsikan lama saat subjek mengalami dismenorea primer.

Hasil Tabel 10 menunjukkan bahwa sebagian besar subjek di SMA perkotaan dan perdesaan mengalami dismenorea pada hari pertama (67.9% dan 77.1%). Hal ini sejalan dengan pernyataan Baradero et al. (2006) yang menyatakan bahwa nyeri mulai dirasakan pada 24 jam pertama menstruasi (hari pertama menstruasi) dan bisa bertahan selama 48-72 jam.

Derajat Dismenorea Primer

Dismenorea primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar 2-3 tahun setelah menarche dan mencapai maksimal antara usia 15-25 tahun. Berikut ini disajikan Tabel 11 mengenai persebaran derajat dismenorea primer pada remaja putri di SMA perkotaan dan perdesaan.

Tabel 11 menunjukkan bahwa sebagian besar di SMA perkotaan subjek mengalami dismenorea berat (41.5%). Di SMA perdesaan sebagian besar subjek (60%) mengalami dismenorea sedang. Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara derajat dismenorea primer di SMA perkotaan dan perdesaan (p<0.05). Artinya lebih banyak SMA perkotaan yang mengalami dismenorea tingkat berat.

Dismenorea menyebabkan ketidaknyamanan saat beraktivitas sehingga secara tidak langsung akan mengganggu produktivitas (Khorsidi et al. 2003). Permasalahan dismenorea berdampak pada penurunan kualitas hidup akibat tidak masuk sekolah maupun bekerja ( Antao et al. 2005). Berikut ini disajikan Tabel 12 mengenai sebaran subjek penelitian yang menyatakan mengalami gangguan aktivitas saat mengalami dismenorea.

Tabel 10 Lama subjek penelitian SMA perkotaan dan perdesaan mengalami dismenorea

Hari saat dismenorea Perkotaan Perdesaan

n (%) n (%)

Hari 1 36 67.9 27 77.1

Hari 2 12 22.6 8 22.9

>Hari 3 5 9.4 0 0

Total 53 100 35 100

Tabel 11 Derajat dismenorea primer SMA perkotaan dan perdesaan Derajat

Dismenorea

Perkotaan Perdesaan Total

n (%) n (%) n %

Ringan 13 24.5 12 34.3 25 28.4

Sedang 18 34 21 60 39 44.3

Berat 22 41.5 2 5.7 24 27.3

19

Tabel 12 menunjukkan bahwa sebagian besar subjek di SMA perkotaan (58.5%) menyatakaan dismenorea kadang-kadang mengganggu aktivitas. Berbeda halnya dengan SMA di perdesaan dimana lebih dari setengah subjek penelitian (77.1%) yang mengalami dismenorea primer merasa terganggu aktivitasnya. Hal ini sejalan dengan penelitian Kurniawati (2008) yang menunjukan bahwa dismenorea mempengaruhi aktivitas siswi SMK Batik 1 Surakarta, dari 85 siswi yang menjadi responden penelitian 61.7% di antaranya mengalami penurunan aktivitas. Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara gangguan keluhan dismenorea dengan aktivitas di SMA perkotaan dengan subjek SMA di perdesaan (p<0.05).

Cara Mengatasi Dismenorea Primer

Dismenorea primer yang terkadang mengganggu terhadap aktivitas sehari-hari dapat diatasi dengan berbagai cara. Berikut ini merupakan cara subjek penelitian dalam mengatasi dismenorea primer.

Tabel 13 menunjukkan bahwa cara utama yang paling banyak dilakukan oleh subjek penelitian di SMA perkotaan dan perdesaan adalah istirahat/berbaring (23.8% dan 18.2%). Akses informasi berpengaruh terhadap cara-cara subjek mengatasi dismenorea primer. Berikut ini merupakan cara subjek mendapatkan informasi mengenai penanganan dismenorea primer.

Tabel 12 Gangguan dismenorea primer SMA perkotaan dan perdesaan Gangguan keluhan menstruasi

terhadap aktivitas Perkotaan Perdesaan n (%) n (%) Iya 21 39.6 27 77.1 Kadang-kadang 32 60.4 8 22.9 Total 53 100 35 100

Tabel 13 Cara mengatasi dismenorea primer SMA perkotaan dan perdesaan

Cara mengatasi n Perkotaan n Perdesaan

(%) (%)

Istirahat/berbaring 21 23.8 16 18.2

Mengompres perut dengan air hangat

10 11.4 8 9.1

Minum obat nyeri 14 15.9 11 12.5

Mengatur pola makan 8 9.1 4 4.5

Pergi ke dokter 1 1.1 0 0

Minum jamu 18 20.4 12 13.6

Tabel 14 menunjukkan bahwa sebanyak 31.8% subjek penelitian SMA perkotaan dan 21.6% subjek penelitian SMA perdesaan memilih ibu sebagai sumber informasi, artinya terjadi kedekatan secara emosional antara orang tua dan anak.

Konsumsi Kafein

Menurut Dianamawih (2003) kafein dapat mempersempit pembuluh darah dan meningkatkan ketegangan otot uterus. Kafein menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah dengan menghambat kerja adenosine untuk mendilatasi pembuluh darah. Pada saat vasokontriksi maka uterus mengalami hipoksia sehingga hal inilah yang menyebabkan otot menjadi tidak rileks dan menimbulkan rasa nyeri saat menstruasi

Tabel 15 berikut merupakan sebaran subjek penelitian berdasarkan frekuensi konsumsi kafein dalam makanan atau minuman.

Tabel 15 menunjukkan bahwa sebagian besar subjek penelitian di SMA perkotaan mengonsumsi minuman berkafein dengan frekuensi 2x/hari (39.6%) sedangkan di perdesaan 42.9% mengonsumsi minuman berkafein 1x/hari. Hasil uji beda Mann Whitney menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara frekuensi konsumsi kafein di SMA perkotaan dengan subjek SMA di perdesaan (p<0.05). Artinya frekuensi mengonsumsi minuman berkafein pada subjek di SMA perkotaan lebih tinggi jika dibandingkan dengan SMA perdesaan. Berdasarkan analisis secara deskriptif, asupan kafein/hari dalam minuman yang biasa dikonsumsi oleh subjek di SMA perkotaan maksimal 345 mg dan minimal 0

Sumber informasi Perkotaan Perdesaan n (%) n (%) Televisi 13 14.7 10 11.4 Teman dekat 5 5.7 8 9.1 Ibu 28 31.8 19 21.6 Internet 9 10.2 6 6.8 Guru 0 0 2 2.3

Tabel 15 Frekuensi konsumsi kafein

Frekuensi konsumsi kafein Perkotaan Perdesaan

n (%) n (%) Tidak mengonsumsi 2 3.8 2 5.7 1x/hari 11 20.8 15 42.9 2x/hari 21 39.6 9 25.7 3x/hari 8 15.1 8 22.9 >3x/hari 4 7.5 0 0 1-3x/minggu 7 13.2 1 2.9 Total 53 100 35 100 X + SD 97.11 + 89.80 70.29 + 60.05

21 gram dengan rata-rata asupan minuman berkafein/hari adalah 97.11 mg. Subjek penelitian di SMA perdesaan mengasup minuman berkafein/hari maksimal 230 mg dan minimal 0 gram dengan rata-rata asupan minuman berkafein/hari adalah 70.29 mg. Sebagian besar subjek penelitian di SMA perkotaan dan perdesaan mengonsumsi minuman berkafein dalam teh yaitu sebesar 35.8% dan 42.9%.

Perilaku mengonsumsi kafein semakin banyak ditemukan pada remaja dan dewasa muda. Whalen et al (2008) menyatakan bahwa 75-98% golongan muda berusia hingga 18 tahun mengonsumsi minimal satu minuman berkafein setiap hari (National Sleep Foundation 2006), dengan 31% mengonsumsi minuman berkafein lebih dari dua gelas per hari. Berikut ini merupakan jenis kafein yang paling sering dikonsumsi subjek dalam makanan dan minuman

Konsumsi Pangan

Konsumsi pangan subjek penelitian diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan kuisioner FFSQ (food frequency semiquantitatif). Tabel 17 menunjukkan jumlah rata-rata konsumsi dan tingkat kecukupan gizi subjek dalam sehari.

Rata-rata tingkat kecukupan energi dan protein di SMA perkotaan dan perdesaan tergolong normal (106.6% dan 109.7%) sedangkan tingkat kecukupan lemak di perkotaan juga tergolong normal (106.6%) dan tergolong defisit ringan (89.4%) untuk SMA perdesaan. Tingkat kecukupan Zn subjek di SMA perkotaan dan perdesaan tergolong defisit (73.9% dan 54.1%). Begitupun dengan tingkat

Tabel 16 Jenis kafein yang dikonsumsi

Jenis kafein Perkotaan Perdesaan

n (%) n (%) Coklat 9 17 8 22.9 Minuman bersoda 12 22.6 5 14.3 Teh 19 35.8 15 42.9 Kopi 11 20.8 5 14.3 Minuman berenergi 0 0 0 0

Tabel 17 Rata-rata asupan dan tingkat kecukupan subjek di SMA perkotaan dan perdesaan

Zat gizi Asupan TKG (%)

Perkotaan Perdesaan Perkotaan Perdesaan

Energi (kkal) 2266 2331 106.6 109.7 Protein (gram) 71 70.3 111.6 110.5 Lemak (gram) 75.7 63.5 106.6 89.4 Zn (mg) 11 8.1 73.9 54.1 Vitamin E (mg) 0.8 0.6 5.5 3.7 Vitamin B1 (mg) 1 1 92.1 94.3 Vitamin B6 (mg) 1.4 1.6 116.8 130.7

kecukupan vitamin E yang tergolong defisit untuk SMA perkotaan maupun perdesaan (5.5% dan 3.7%). Tingkat kecukupan vitamin B1 dan B6 di SMA perkotaan dan perdesaaan rata-rata tergolong cukup.

Energi

Kebutuhan energi menurut FAO (2001) adalah konsumsi energi yang berasal dari makanan yang diperlukan untuk beraktivitas. Angka Kecukupan Energi berdasarkan Hardinsyah dkk. (2012) untuk remaja putri berusia 13-15 dan 16-18 tahun sebesar 2.125 kkal. Berikut adalah sebaran subjek penelitian di SMA perkotaan dan perdesaan berdasarkan kategori tingkat kecukupan energinya.

Sebagian besar subjek penelitian di SMA perkotaan dan perdesaan mempunyai tingkat kecukupan energi normal (81.1% dan 68.6%) dan tidak ada subjek penelitian yang mengalami defisit berat di SMA perkotaan maupun perdesaan. Hasil uji beda Mann Whitney menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara TKE di SMA perkotaan dan perdesaan (p>0.05). Tingkat kecukupan energi maksimal subjek di SMA perkotaan 140% dan minimal 84% dengan median TKE adalah 104%. Tingkat kecukupan energi maksimal subjek di SMA perdesaan 140% dan minimal 84% dengan median TKE adalah 109%. Jenis pangan sumber energi yang paling sering dikonsumsi oleh subjek penelitian di SMA perkotaan dan perdesaan adalah nasi (100%). Jenis pangan sumber energi kedua di SMA perkotaan adalah roti (17.6%) sedangkan di SMA perdesaan sumber energi ke dua adalah mie instan (11.6%).

Protein

Protein berfungsi untuk memperbaiki jaringan tubuh, pertahanan tubuh, dan menghasilkan energi. Angka Kecukupan Protein berdasarkan Hardinsyah dkk.(2012) untuk remaja putri berusia 13-15 tahun sebesar 69 gram dan usia 16-18 tahun sebesar 59 gram perhari. Berikut adalah sebaran subjek penelitian berdasarkan tingkat kecukupan protein.

Tabel 18 Sebaran subjek penelitian berdasarkan persentase TKE

Kategori Perkotaan Perdesaan

n (%) n (%) Defisit berat 0 0 0 0 Defisit sedang 0 0 1 2.9 Defisit ringan 2 3.8 3 8.6 Normal 43 81.1 24 68.6 Lebih 8 15.1 7 20 Total 53 100 35 100 X + SD 106.23 + 12.21 109.29 + 15.70

23

Tabel 19 menunjukkan bahwa sebagian besar subjek penelitian di perkotaan dan perdesaan mempunyai tingkat kecukupan protein normal. Tidak ada subjek penelitian di perkotaan dan perdesaan yang mengalami defisit berat dan sedang. Hasil uji beda Independent Sample T-Test menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.05) antara TKP di SMA perkotaan dan perdesaan. Tingkat kecukupan protein maksimal subjek di SMA perkotaan adalah 151% dan minimal 81% dengan rata-rata TKP adalah 115%. Tingkat kecukupan protein maksimal subjek di SMA perdesaan 152% dan minimal 85% dengan rata-rata TKP adalah 114%. Jenis pangan sumber protein yang paling sering dikonsumsi oleh subjek penelitian di SMA perkotaan adalah ikan laut (12.6%) sedangkan pangan sumber protein di SMA perdesaan adalah telur ayam (11.7%). Lemak

Lemak merupakan zat gizi kedua yang digunakan tubuh sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi.Lemak berfungsi sebagai komponen penting pada membran sel yang akan mempengaruhi transport cairan antar sel selama pembentukan jaringan endometrium (Harel 2006). Kontribusi energi dari lemak sebaiknya sekitar 30% pada usia 4-18 tahun. Angka Kecukupan Lemak (AKL) berdasarkan untuk remaja putri berusia 13-15 dan 16-18 tahun sebesar 71 gram perhari (Hardinsyah 2012). Berikut adalah sebaran subjek penelitian berdasarkan tingkat kecukupan lemak

Tabel 20 Sebaran subjek penelitian berdasarkan persentase TKL

Dokumen terkait