• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Sekolah

Sekolah Dasar (SD) Insan Kamil beralamat di Jalan Raya Dramaga Km. 6 Bogor. Sekolah ini pertama kali didirikan pada tahun 1986. SD Insan Kamil memiliki 2 gedung sekolah, yaitu Gedung A dan Gedung B. Gedung B ditempati oleh anak kelas 1 SD sampai kelas 4 SD, sedangkan Gedung A ditempati oleh anak kelas 5 dan 6 SD. Sekolah ini mendapatkan akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M). SD Insan Kamil juga masuk dalam daftar 10 besar SD Negeri dan Swasta di Kota Bogor.

Sekolah Dasar Insan Kamil dengan status disamakan, dikembangkan dengan sistem Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang memadukan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Madrasah Diniyah. Perpaduah Kurikulum ini diimplementasikan menjadi program pendidikan yang berorientasi pada keterampilan hidup (life skill) yang berakar kuat pada konsep ‘ubudiyah (hidup adalah ibadah).

Visi sekolah ini yaitu dengan berlandaskan konsep ibadah, SD Insan Kamil unggul prestasi. Adapun misi dari sekolah ini adalah mendidik murid-murid agar menghayati dan mengamalkan bahwa hidup adalah ibadah, belajar adalah ibadah, dan prestasi adalah ibadah sehingga murid-murid memiliki: (1) penguasaan ilmu-ilmu diniyah, ilmu pengetahuan dan pengembangan teknologi, (2) motivasi yang kuat untuk memberikan kemanfaatan yang sebesar-besarnya dan seluas-luasnya kepada masyarakat melalui amaliah, ubudiyah/muamalah, dan (3) kesadaran yang mendalam bahwa keberhasilan hanya disandarkan kepada pandangan dan penilaian Allah SWT.

Jumlah guru sekolah sebanyak 77 orang. Tingkat pendidikan guru diantaranya 52 orang sarjana dan 25 orang lainnya diploma. Jumlah staf tata usaha sekolah 5 orang. Jumlah murid sebanyak 1181 orang yang terdiri 662 laki-laki dan 519 perempuan. Kelas 1 sampai kelas 5 masing-masing terdiri dari 7 kelas, dan kelas 6 terdiri dari 8 kelas. Data lengkap jumlah kelas dan murid tiap kelas dapat dilihat di Lampiran 2.

Sarana yang dimiliki sekolah antara lain sarana pendidikan (2 gedung masing-masing 3 lantai), sarana ibadah (mesjid dan musholla), sarana penunjang (Lab. Komputer, ruang serbaguna, aula, perpustakaan, dan Lab. IPA), sarana olah raga (lapangan futsal, tenis meja, senam dan tae kwon do, lapangan bulutangkis dan volly, lapangan basket, dan UKS), dan sarana kebersihan dan

lingkungan (saniter dengan 20 kamar mandi, WC keramik putih, air PDAM, dan lapangan parkir luas). Kantin yang dimiliki sebanyak 3 kantin, 1 kantin di Gedung A dan 2 kantin di Gedung B. Tiap kantin memiliki berbagai macam jenis makanan mulai dari makanan ringan, makanan kemasan, kue basah, gorengan, nasi paket, nasi uduk, bihun goreng, es krim, dan berbagai macam minuman.

Jam pelajaran di SD Insan Kamil pada hari Senin hingga Kamis dan Sabtu dimulai pada pukul 07.00 WIB hingga 11.30 WIB (Kelas 1 dan Kelas 2), sedangkan Kelas 3 sampai Kelas 6 sampai pukul 13.00 WIB. Hari Jumat jam pelajaran dimulai pada pukul 07.00 WIB dan selesai pada pukul 10.00 WIB (Kelas 1 hingga Kelas 6). Jam istirahat Kelas 1 dan Kelas 2 pada pukul 09.30 WIB sampai 10.00 WIB sedangkan Kelas 3 hingga Kelas 6 pada pukul 10.00 WIB hingga 10.30 WIB. Waktu istirahat biasanya digunakan murid untuk jajan, bermain, dan mengobrol dengan teman.

Ektrakurikuler yang ada di sekolah ini di antaranya adalah Al-Qur,an,

english course, jarimatika, klub sains, klub olimpiade matematika, biola, seni

lukis, komputer, robotics, futsal, tae kwon do, dan karate. Tiap ekstrakulikuler memiliki jadwal kegiatan masing-masing, jam kegiatan biasa dilakukan setelah jam sekolah berakhir. Setiap murid diwajibkan mengikuti minimal satu kegiatan ekstrakulikuler.

Karakteristik Anak

Murid dari penelitian ini adalah murid SD kelas 4 dan kelas 5 dengan kisaran umur 9-11 tahun. Rata-rata murid berumur 10,4 ± 0,6 tahun. Sebagian besar umur murid berada pada usia 10 dan 11 tahun. Karakteristik anak mencakup berat badan, tinggi badan, jenis kelamin, dan berat badan lahir. Berat badan dan tinggi badan digunakan untuk mengukur IMT anak. Rata-rata berat badan dari anak dengan status gizi obes adalah 53,7 ± 6,9 kilogram, dengan kisaran 40-66 kilogram. Kelompok anak dengan status gizi normal memiliki rata-rata berat badan 29,2 ± 3,6 kilogram, dengan kisaran 23-38 kilogram. Data umur, jenis kelamin, BB, TB, dan IMT anak terdapat pada Lampiran 3.

Rata-rata berat badan lahir dari anak dengan status gizi obes adalah 3343 ± 542 gram, dengan kisaran 1600-4200 gram. Kelompok anak dengan status gizi normal memiliki rata-rata berat badan lahir 3135 ± 350,7 gram, dengan kisaran 2500-3900 gram. Tabel 5 menunjukkan sebaran anak berdasarkan jenis kelamin dan berat badan lahir. Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa dari kelompok anak obes sebanyak 70% adalah anak laki-laki. Nilai ini tidak berbeda

jauh dengan kelompok anak berstatus gizi normal yaitu sebanyak 65% adalah anak laki-laki.

Tabel 5 Sebaran anak berdasarkan jenis kelamin dan berat badan lahir

Karakteristik Anak

Status Gizi Anak

p

value

Normal Obes Total

n % n % n % Jenis Kelamin Perempuan 14 35,0 12 30,0 26 32,5 - Laki-laki 26 65,0 28 70,0 54 67,5 Total 40 100,0 40 100,0 80 100,0 Berat Badan Lahir Normal 39 97,5 33 82,5 72 90,0 0,045 BBLR/Lebih 1 2,5 7 17,5 8 10,0 Total 40 100,0 40 100,0 80 100,0

Menurut WHO (2000), perempuan cenderung mengalami peningkatan penyimpanan lemak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan cenderung mengonsumsi sumber karbohidrat yang lebih kuat sebelum masa pubertas, sementara laki-laki lebih cenderung mengonsumsi makanan yang kaya protein. Tetapi penelitian yang dilakukan oleh Proper et al. (2006) menyatakan bahwa laki-laki secara signifikan lebih berkemungkinan untuk menjadi overweight atau obesitas daripada wanita, karena laki-laki cenderung untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk santai saat akhir minggu atau waktu senggang.

Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa dari kelompok anak berstatus gizi normal dan obes sebagian besar lahir dengan berat badan normal. Sebanyak 97,5% anak dari kelompok anak dengan status gizi normal lahir dengan berat badan normal dan sebanyak 82,5% anak dari kelompok anak obes lahir dengan berat badan normal. Namun persentase anak yang lahir dengan BBLR/berat lebih cenderung lebih banyak pada kelompok anak obes, yaitu 17,5% anak obes yang lahir dengan BBLR/berat lebih, sedangkan hanya 1 dari 40 (2,5%) anak berstatus gizi normal yang lahir dengan BBLR/berat lebih. Anak yang lahir dengan BBLR/lebih adalah anak yang lahir dengan berat badan di luar kisaran 2500-3800 gram. Berdasarkan hasil uji statistik terdapat perbedaan yang signifikan (p=0,045) berat badan lahir antara anak berstatus gizi normal dan anak obes.

Seorang anak yang terlahir akan memiliki kriteria berat badan saat dilahirkan. Bayi dikatakan lahir dengan berat normal jika berat badannya antara 2500-3800 gram. Bayi dikatakan lahir dengan BBLR jika berat badannya kurang dari 2500 gram. Penelitian yang dilakukan di Australia, terdapat hubungan yang signifikan antara berat badan lahir rendah (BBLR) dan berat lahir lebih dengan risiko kejadian obesitas pada anak usia 4 sampai 5 tahun. Peneliti menemukan

bahwa berat lahir rendah (BBLR) memiliki risiko yang lebih rendah menjadi obesitas pada anak perempuan yang berusia 4 sampai 5 tahun (OR: 0,50; Cl 95%: 0,32-0,77) dibandingkan dengan berat lahir lebih, namun tidak terdapat hubungan antara berat badan lahir rendah (BBLR) dengan kejadian obesitas pada anak laki-laki. Berat lahir lebih memiliki hubungan dan risiko yang lebih tinggi untuk menjadi obesitas pada anak perempuan (OR: 1,76; Cl 95%: 1,12,-2,78) dan anak laki-laki (OR: 2,42; Cl 95%: 2,06-2,86) (Oldroyd et al. 2010).

Faktor Keturunan

Genetik atau parenteral fatness ditentukan dengan menghitung IMT orang tua dengan pengkategorian status gizi menjadi kurus, normal, overweight, dan obes. Rata-rata IMT ayah dari anak dengan status gizi obes adalah 26,6 ± 3,9 kg/m2, dengan kisaran 20,2-37,6 kg/m2. Kelompok anak dengan status gizi normal memiliki rata-rata IMT ayah 23,9 ± 2,7 kg/m2, dengan kisaran 18,6-29,4 kg/m2. Tabel 6 merupakan sebaran anak berdasarkan faktor keturunan yaitu berdasarkan status IMT ayah dan IMT ibu.

Tabel 6 Sebaran anak berdasarkan faktor keturunan

Faktor Keturunan

Status Gizi Anak

p value

Normal Obes Total

n % n % n % IMT ayah Kurus - - - - 0,001 Normal 25 62,5 13 32,5 38 47,5 Overweight 15 37,5 18 45,0 33 41,2 Obes 0 0,0 9 22,5 9 11,3 Total 40 100,0 40 100,0 80 100,0 IMT ibu Kurus 2 5,0 0 0,0 2 2,5 0,143 Normal 28 70,0 20 50,0 47 58,8 Overweight 7 17,5 18 45,0 25 31,2 Obes 3 7,5 2 5,0 6 7,5 Total 40 100,0 40 100,0 80 100,0

Berdasarkan hasil yang disajikan pada Tabel 6 dapat diketahui bahwa dari kelompok anak obes sebagian besar berasal dari ayah yang status gizinya

overweight (45%). Pada kelompok anak yang berstatus gizi normal tidak ada

anak yang ayahnya berstatus gizi obes, sedangkan dari kelompok anak obes terdapat 22,5% anak memiliki ayah obes. Anak yang berstatus gizi normal sebagian besar memiliki ayah yang berstatus gizi normal yaitu sebanyak 62,5%. Tidak ada ayah yang berstatus gizi kurus baik dari anak obes maupun anak yang berstatus gizi normal. Berdasarkan hasil uji t-test terdapat perbedaan yang signifikan (p=0,001) IMT ayah antara anak berstatus gizi normal dengan anak obes.

Rata-rata IMT ibu dari anak dengan status gizi obes adalah 25,0 ± 2,8 kg/m2, dengan kisaran 18,7,2-32,5 kg/m2. Kelompok anak dengan status gizi normal memiliki rata-rata IMT ibu 23,8 ± 4,4 kg/m2, dengan kisaran17,1-38,9 kg/m2. Berdasarkan Tabel 6 dapat diketahui bahwa sebagian besar anak yang berstatus gizi normal dan obes masing-masing dari ibu yang berstatus gizi normal, yaitu 70% pada kelompok anak berstatus gizi normal dan 50% dari anak obes. Hampir separuh (45%) dari kelompok anak obes mimiliki ibu yang

overweight, sedangkan dari kelompok anak berstatus gizi normal hanya 17,5%

ibu yang overweight. Terdapat 5% dari kelompok anak obes memiliki ibu obes, sedangkan 7,5% dari kelompok anak berstatus gizi normal memiliki ibu obes. Tidak ada dari kelompok anak obes memiliki ibu yang berstatus gizi kurus, sedangkan terdapat 5% ibu bersatatus gizi kurus dari kelompok anak berstatus gizi normal. Berdasarkan hasil uji t-test tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p=0,143) IMT ibu antara anak berstatus gizi normal dengan anak obes.

Menurut Hidayati, Irawan, Hidayat (2009), bila kedua orang tua obesitas, 80% anaknya menjadi obesitas, bila salah satu orang tua obesitas, kejadian obesitas menjadi 40% dan bila kedua orang tua tidak obesitas, prevalensi menjadi 14%. Perubahan lingkungan gizi ketika anak berada dalam kandungan menyebabkan gangguan perkembangan organ-organ tubuh terutama kerentanan terhadap pemrograman janin yang di kemudian hari bersama-sama dengan pengaruh diet dan stres lingkungan merupakan predisposisi timbulnya berbagai penyakit di kemudian hari. Berikut disajikan sebaran anak berdasarkan kombinasi antara IMT ayah dan IMT ibu yang terdapat pada Tabel 7.

Tabel 7 Sebaran anak berdasarkan kombinasi IMT ayah dan IMT ibu

IMT ayah dan IMT ibu

Status Gizi Anak

Normal Obes Total

n % n % n %

Kurus dan Normal 1 2,5 0 0,0 1 1,2

Normal dan Normal 19 47,5 6 15,0 24 30,0

Overweight dan Kurus 1 2,5 0 0,0 1 1,2

Overweight dan Normal 12 30,0 16 40,0 28 35,0

Overweight dan Overweight 4 10,0 7 17,5 11 13,8

Obes dan Normal 2 5,0 5 12,5 8 10,0

Obes dan Overweight 1 2,5 6 15,0 7 8,8

Total 40 100,0 40 100,0 80 100,0

Berdasarkan hasil yang terdapat pada Table 7 dapat diketahui bahwa hampir separuh (47,5%) anak berstatus gizi normal berasal dari kedua orang tua yang berstatus gizi normal. Pada kelompok anak obes, sebagian besar (40%) anak obes berasal dari ayah overweight dan ibu normal atau ayah yang normal

dan ibu yang overweight. Bahkan terdapat 15% anak obes yang berasal dari kedua orang tua yang normal. Penelitian yang dilakukan oleh Internasional

Obesity Task Force (IOTF) dari badan WHO menyebutkan bahwa faktor genetik

hanya berpengaruh 1% dari kejadian obesitas pada anak, sedangkan 99% disebabkan faktor lingkungan (Darmono 2006).

Effendi (2003) menyatakan bila kedua orang tua mengalami kegemukan, maka kemungkinan anaknya mengalami obesitas mencapai 66–80%. Bila salah satu orang tua mengalami kegemukan maka kemungkinan anak mengalami obesitas sekitar 20–51%. Bahkan bila kedua orangtuanya memiliki status gizi normal, anak memiliki kemungkinan gemuk sebesar 7-14%.

Karakteristik Keluarga

Keluarga merupakan tempat pertama seorang anak berinteraksi. Keluarga juga yang menentukan jenis makanan yang akan dikonsumsi. Kondisi obesitas biasanya terjadi pada keluarga yang memiliki perekonomian di atas rata-rata, karena kemampuannya untuk memberikan makanan yang penuh gizi pada anaknya. Karakteristik keluarga mencakup pendidikan orang tua, pendapatan keluarga, dan pengetahuan gizi ibu.

Pendidikan Orang Tua

Kualitas pendidikan dari orang tua mungkin saja mempengaruhi kualitas dari keluarga itu sendiri, karena pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan pengetahuan gizi seseorang. Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap dan perilaku hidup sehat. Menurut Atmarita & Fallah (2004), tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan

seseorang atau masyarakat untuk menyerap informasi dan

mengimplementasikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari, khususnya dalam hal kesehatan dan gizi. Tingkat pendidikan, khususnya tingkat pendidikan wanita mempengaruhi derajat kesehatan. Sebaran anak berdasarkan pendidikan orang tua dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Sebaran anak berdasarkan pendidikan orang tua

Karakteristik Orang Tua

Status Gizi Anak

p value

Normal Obes Total

n % n % n % Pendidikan Ayah SMP 1 2,5 2 5,0 3 3,8 0,839 SMA 8 20,0 6 15,0 14 17,5 PT 31 77,5 32 80,0 63 78,7 Total 40 100,0 40 100,0 80 100,0 Pendidikan Ibu SMP 5 12,5 1 2,5 6 7,5 0,333 SMA 12 30,0 13 32,5 25 31,2 PT 23 57,5 26 65,0 49 61,3 Total 40 100,0 40 100,0 80 100,0

Data pada Tabel 8 menunjukkan bahwa sebagian besar anak yang obes memiliki orang tua yang berpendidikan sampai ke perguruan tinggi (80%), 15% memiliki ayah yang berpendidikan SMA, dan hanya 5% memiliki ayah yang berpendidikan SMP. Hasil tersebut tidak berbeda jauh dengan kelompok anak yang berstatus gizi normal. Dari kelompok anak yang berstatus gizi normal, sebanyak 77,5% memiliki ayah yang berpendidikan perguruan tinggi (PT), 20% memiliki ayah yang berpendidikan SMA, dan hanya 2,5% memiliki ayah berpendidikan SMP. Namun persentase ayah yang berpendidikan perguruan tinggi lebih tinggi pada kelompok anak obes dibandingkan dengan anak berstatus gizi normal. Berdasarkan hasil uji Mann-Whitney U tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p=0,839) pendidikan ayah antara anak berstatus gizi normal dengan anak obes. Hal ini diduga rata-rata tingkat pendidikan ayah antara dua kelompok tersebut sama.

Pendidikan ayah diduga berkaitan dengan tingkat status ekonomi keluarga, karena pendidikan orang tua berhubungan dengan tingkat pendapatan orang tua. Tingkat pendidikan orang tua sangat berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas makanan yang dikonsumsi anaknya. Makin tinggi tingkat pendidikan maka pendapatan pun akan semakin tinggi. Pendapatan keluarga yang tinggi berarti kemudahan dalam membeli dan mengonsumsi makanan enak dan mahal yang mengandung energi tinggi seperti fast food (Padmiari & Hadi 2001).

Berdasarkan Tabel 8 dapat dilihat bahwa sebagian besar anak obes memiliki ibu yang berpendidikan perguruan tinggi (PT) (65%), sedangkan dari kelompok anak berstatus gizi normal terdapat 57,5% memiliki ibu yang berpendidikan perguruan tinggi (PT). Persentase ibu yang berpendidikan sampai perguruan tinggi ternyata lebih tinggi pada kelompok anak obes dibandingkan dengan kelompok anak berstatus gizi normal. Tidak terdapat perbedaan yang

signifikan (p=0,333) pendidikan ibu antara anak berstatus gizi normal dengan anak obes.

Pendapatan Keluarga

Kondisi obesitas biasanya terjadi pada keluarga yang memiliki perekonomian di atas rata-rata. Hal ini dikarenakan kemampuannya untuk membeli dan memberikan makanan yang penuh gizi pada anaknya. Pendapatan keluarga adalah total dari pendapatan ayah dan ibu setiap bulannya. Tabel 9 merupakan sebaran anak berdasarkan pendapatan keluarga.

Tabel 9 Sebaran anak berdasarkan pendapatan keluarga

Karakteristik Orang Tua

Status Gizi Anak

Normal Obes Total

n % n % n % Pendapatan Keluarga <3 Juta 4 10,0 3 7,5 7 8,8 3-5Juta 14 35,0 10 25,0 24 30,0 5-10 Juta 14 35,0 17 42,5 31 38,7 >10 Juta 8 20,0 10 25,0 18 22,5 Total 40 100,0 40 100,0 80 100,0

Tabel 9 menggambarkan dari kelompok anak obes, sebagian besar berasal dari keluarga yang pendapatannya antara 5-10 juta rupiah (42,5%) dan sebanyak 25% berasal dari keluarga dengan pendapatan di atas 10 juta rupiah per bulan. Pada kelompok anak dengan status gizi normal sebesar 20% berasal dari keluarga dengan pendapatan di atas 10 juta rupiah per bulan. Nilai ini tidak jauh berbeda, namun jika dikelompokkan lagi menjadi dua kategori pendapatan keluarga, yaitu di bawah 5 juta rupiah per bulan dan di atas 5 juta rupiah terdapat perbedaan yang semakin terlihat (Tabel 10).

Tabel 10 Sebaran anak berdasarkan dua kategori pendapatan keluarga

Karakteristik Orang Tua

Status Gizi Anak

p value

Normal Obes Total

n % n % n % Pendapatan Keluarga <5 Juta 18 45,0 13 32,5 31 38,8 0,306 ≥5Juta 22 55,0 27 67,5 49 61,2 Total 40 100,0 40 100,0 80 100,0

Berdasarkan Tabel 10 dapat diketahui bahwa sebagian besar anak obes memiliki orang tua dengan pendapatan di atas 5 juta rupiah per bulan (67,5%). Pada kelompok anak dengan status gizi normal, sebesar 55% memiliki orang tua dengan pendapatan di atas 5 juta rupiah per bulan sebesar 55% dan 45% dari orang tua dengan pendapatan di bawah 5 juta rupiah per bulan. Berdasarkan hasil uji Mann-Whitney U tidak terdapat perbedaan yang signifikan (0,306) pendapatan keluarga antara anak berstatus gizi normal dengan anak obes.

Pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan kualitas dan kuantitas makanan. Menurut Soekirman (2000), Bannet menemukan bahwa peningkatan pendapatan akan mengakibatkan individu cenderung meningkatkan kualitas konsumsi pangannya dengan harga yang lebih mahal per unit zat gizinya. Peningkatan pendapatan berarti memperbesar peluang untuk membeli pangan dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik.

Selain itu, menurut Nasoetion dan Riyadi (1994) keluarga yang berpenghasilan cukup atau tinggi lebih mudah dalam menentukan pemilihan bahan pangan sesuai dengan syarat mutu yang baik. Tingkat pendapatan merupakan faktor yang menuntukan kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi. Pendapatan yang tinggi akan menigkatkan daya beli sehingga keluarga mampu membeli pangan dalam jumlah yang diperlukan dan akhirnya berdampak positif terhadap status gizi.

Pengetahuan Gizi Ibu

Pengetahuan gizi ibu pada penelitian ini diukur dengan menggunakan kuesioner yang diisi oleh ibu di rumah. Pertanyaan yang diajukan sebanyak 20 soal mengenai pengetahuan gizi umum dan pengetahuan mengenai obesitas. Rata-rata nilai pengetahuan gizi ibu dari anak dengan status gizi obes adalah 86,5 ± 10,9 dengan kisaran 50-100. Kelompok anak dengan status gizi normal memiliki rata-rata nilai pengetahuan gizi ibu 87,75 ± 11,9 dengan kisaran 35-100. Pengetahuan gizi ibu dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kurang (skor <60%), sedang (60-80%), dan baik (>80%) (Khomsan 2000). Sebaran anak berdasarkan pengetahuan gizi ibu dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Sebaran anak berdasarkan pengetahuan gizi ibu

Karakteristik Orang Tua

Status Gizi Anak

p value

Normal Obes Total

n % n % n % Pengetahuan Gizi Ibu Kurang 1 2,5 1 2,5 2 2,5 0,626 Sedang 8 20,0 10 25,0 18 22,5 Baik 31 77,5 29 72,5 60 75,0 Total 40 100,0 40 100,0 80 100,0

Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa dari kelompok anak obes ternyata sebagian besar memiliki ibu dengan pengetahuan gizi yang baik (72,5%). Bila dibandingkan dengan kelompok anak yang berstatus gizi normal, ternyata 77,5% anak yang berstatus gizi normal memiliki ibu dengan pengetahun gizi yang baik. Nilai ini tidak jauh berbeda, namun persentase pengetahuan gizi ibu yang baik lebih tinggi pada kelompok anak berstatus gizi normal. Hal ini dapat

dikatakan ada kecenderungan ibu yang berpengetahuan gizi baik memiliki anak yang berstatus gizi normal. Namun berdasarkan hasil uji t-test tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p=0,626) pengetahuan gizi ibu antara anak berstatus gizi normal dan anak obes.

Menurut hasil penelitian Yueniwati dan Rahmawati (2001), terdapat hubungan antara pendidikan terakhir ibu dengan pengetahuan ibu tentang anak obes. Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor yang penting dalam tumbuh kembang anak, karena dengan pendidikan yang baik maka orang tua dapat menerima segala informasi dari luar, terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik, menjaga kesehatan anak, dan sebagainya. Dijelaskan lebih lanjut, pengetahuan ibu tentang obes pada anak juga berhubungan dengan status pekerjaan ibu, yaitu ibu bekerja atau tidak.

Riwayat Makan Anak

Riwayat makan anak yang dimaksud adalah kondisi konsumsi anak pada saat masih bayi. Riwayat makan anak terdiri dari pemberian ASI eksklusif, pemberian susu formula, dan pemberian makanan padat.

Pemberian ASI Eksklusif

ASI sangat penting bagi bayi untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi lain yang diperlukan oleh bayi. Pemberian ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja tanpa makanan lain dari mulai bayi dilahirkan sampai dengan uisa 6 bulan. Tabel 12 menggambarkan sebaran anak berdasarkan riwayat makan anak.

Tabel 12 Sebaran anak berdasarkan riwayat makan anak

Riwayat Makan Anak

Status Gizi Anak

p

value

Normal Obes Total

n % n % n % ASI Eksklusif Ya 12 30,0 8 20,0 20 25,0 0,305 Tidak 28 70,0 32 80,0 60 75,0 Total 40 100,0 40 100,0 80 100,0 Pemberian Susu Formula < 6 bulan Tidak 26 65,0 17 42,5 43 53,8 0,045 Ya 14 35,0 23 57,5 37 46,2 Total 40 100,0 40 100,0 80 100,0 Pemberian Makan Padat < 6 bulan Tidak 25 62,5 20 50,0 45 56,2 0,263 Ya 15 37,5 20 50,0 35 43,8 Total 40 100,0 40 100,0 80 100,0

Berdasarkan hasil yang terdapat pada Tabel 12 dapat diketahui bahwa dari kelompok anak obes sebagian besar tidak mendapatkan ASI eksklusif pada waktu bayinya. Sebanyak 32 dari 40 (80%) anak obes tidak mendapatkan ASI

eksklusif waktu bayi, sedangkan dari kelompok anak berstatus gizi normal, 70% tidak mendapatkan ASI eksklusif waktu bayi. Dari sampel anak berstatus gizi normal dan obes, ternyata sebanyak 75% ibu tidak memberikan ASI eksklusif pada anaknya. Berdasarkan hasil uji Mann-Whitney U tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p=0,305) pemberian ASI eksklusif antara anak berstatus gizi normal dengan anak obes.

Menurut Darmono (2006), obesitas pada anak disebabkan oleh asupan makanannya yang berlebih. Selain itu, pada waktu lahir anak tidak dibiasakan mengonsumsi air susu ibu (ASI), tetapi dibiasakan mengonsumsi susu formula dalam botol. Padahal anak yang diberi ASI, biasanya asupan ASI-nya sesuai dengan kebutuhannya. Anak yang biasa meminum susu dalam botol, jumlah asupan makanan pada anak tidak dapat dihitung dengan tepat, bahkan para orang tua cenderung memberikan susunya lebih kental, sehingga melebihi porsi yang dibutuhkan anak.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Kries dan Rudiger (1999) yang melibatkan 9357 anak sekolah di Bavaria Jerman ditemukan prevalensi kejadian obesitas lebih tinggi pada anak yang tidak pernah mendapat ASI, yakni sekitar 4,5%, dibandingkan dengan prevalensi obesitas pada anak yang pernah mendapat ASI pada masa bayinya yakni hanya 2,8%. Anak yang diberi ASI pada masa bayinya akan memiliki kemungkinan 0,75 kali (yang berarti lebih kecil) untuk menjadi obes dibandingkan anak yang tidak diberi ASI pada masa bayinya. Ini berarti pemberian ASI sejak bayi memiliki faktor protektif pada kejadian obesitas pada masa anak.

Pemberian Susu Formula

Riwayat makan anak mengenai pemberian susu formula dikategorikan menjadi dua, yaitu pemberian susu formula sebelum usia anak 6 bulan dan

Dokumen terkait