RIKSA ADITYA PRAMUDITA
DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
Children in Bogor. Supervised by FAISAL ANWAR and SRI ANNA MARLIYATI. The purpose of this study was to find out the influence of food consumption pattern, physical activity, heredity, infant feeding history, and dominant risk factors on obesity in elementary school children in Bogor. The observation was held between May and September 2011 at Insan Kamil Elementary School. The samples for this study were 80 students of 9 – 11 years old (40 obese students and 40 normal students) selected from grades IV and V by random sampling technique. Food consumption pattern, physical activity, parents nutritional status, and infant feeding history of the students were identified and measured by using questionnaire and interview technique. The obtained data then was analyzed by using bivariate and multivariate (logistic regression) statistics tests. The results of study showed that there were significant influences of birth weight (r = 0.253, p = 0.023), father nutritional status (r = 0.408, p = 0.000), energy adequacy level (r = 0.557, p = 0.000), fat consumption (r = 0.458, p = 0.000), soft drink consumption frequency (r = 0.314, p = 0.005), fast food consumption frequency (r = 0.311, p = 0.005), fatty food consumption frequency (r = 0.469, p = 0.000), playing time (r = -0.271, p = 0.015), on obesity of children. The result of logistic regression test showed that dominant and influential variables on the obesity were father nutritional status (OR = 1.494), mother nutritional status (OR = 1.446), energy adequacy level (OR = 1.073), fast food consumption frequency (OR = 4.028), and fatty food consumption frequency (OR = 9.071).
di Kota Bogor. Dibawah bimbingan Faisal Anwar dan Sri Anna Marliyati.
Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji faktor risiko obesitas pada anak sekolah dasar obes di Kota Bogor serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah 1) mempelajari karakteristik anak dan karakteristik keluarga anak sekolah dasar obes di Kota Bogor, 2) mengidentifikasi riwayat makan dan kebiasaan makan anak sekolah dasar obes di Kota Bogor, 3) mempelajari pola konsumsi anak sekolah dasar obes di Kota Bogor, 4) mengukur aktivitas fisik anak sekolah dasar obes di Kota Bogor, dan 5) menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan obesitas.
Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei sampai September 2011. Penelitian dilakukan di SD Insan Kamil yang berada di Kota Bogor. Populasi dalam penelitian ini adalah anak SD kelas IV dan V yang memiliki status gizi obes dan normal. Status gizi contoh ditetapkan berdasarkan IMT menurut umur standar WHO 2007. Penelitian diawali dengan pengukuran berat badan dan tinggi badan anak SD kelas IV dan V yang diperkirakan mengalami obesitas di SD Insan Kamil Bogor. Jumlah contoh dipilih berdasarkan kelengkapan pengisian kuesioner, yaitu 40 anak obes dan 40 anak dengan status gizi normal.
Data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder. Data primer yang dikumpulkan meliputi karakteristik anak (jenis kelamin, berat lahir anak, berat badan, dan tinggi badan anak), karakteristik keluarga (berat badan dan tinggi badan orang tua, pendidikan orang tua, pendapatan keluarga, pengetahuan gizi ibu), riwayat makan anak (pemberian ASI, pemberian susu formula, pemberian makanan padat), kebiasaan makan anak (konsumsi energi, protein, lemak, konsumsi cemilan, frekuensi konsumsi sayur dan buah, frekuensi konsumsi fast food dan soft drink, serta frekuensi konsumsi makanan berlemak), dan aktivitas fisik anak (waktu tidur; lama menonton televisi, bermain game, internet; dan bermain di luar rumah).
Berat badan anak diukur langsung menggunakan timbangan injak dan pengukuran tinggi badan anak menggunakan microtoise. Konsumsi pangan anak diketahui dengan pencatatan makanan (food record) selama 1x24 jam pada hari libur dan food recall selama 1x24 jam pada hari sekolah. Data aktivitas fisik diperoleh melalui metode pencatatan dan wawancara 2x24 jam, satu hari sekolah dan satu hari libur. Data sekunder meliputi keadaan umum sekolah dan data murid SD Insan Kamil Bogor (nama, kelas, dan nomor telepon).
Proses pengolahan data meliputi editing, coding, entri, dan analisis data. Data dientri menggunakan Microsoft Excel 2010 dan dianalisis dengan SPSS
16.0 for windows. Data yang telah dikategorikan dianalisis secara deskriptif, uji
beda t-test dan Mann-Whitney U, analisis korelasi Pearson dan Spearman, dan
binary regresi logistik.
Murid dari penelitian ini adalah murid SD kelas 4 dan kelas 5 dengan kisaran umur 9-11 tahun. Karakteristik anak menunjukkan sampel yang diambil sebagian besar adalah laki-laki. Sebagian besar dari kelompok anak berstatus gizi normal dan obes sebagian besar lahir dengan berat badan normal. Namun persentase anak yang lahir dengan BBLR/berat lebih cenderung lebih banyak pada kelompok anak obes, yaitu 17,5% anak obes yang lahir dengan BBLR/berat lebih dan 2,5% anak berstatus gizi normal yang lahir dengan BBLR/berat lebih.
berstatus gizi normal dan obes masing-masing dari ibu yang berstatus gizi normal, yaitu 70% pada kelompok anak berstatus gizi normal dan 50% dari anak obes. Hampir separuh (45%) dari kelompok anak obes mimiliki ibu yang
overweight.
Karaktersitik orang tua menunjukkan sebagian besar anak obes dan anak berstatus gizi normal memiliki orang tua yang berpendidikan tinggi. Kelompok anak obes, sebagian besar berasal dari keluarga yang pendapatannya antara 5-10 juta rupiah (42,5%) dan sebanyak 25% berasal dari keluarga dengan pendapatan di atas 10 juta rupiah per bulan. Sebanyak 72,5% anak obes memiliki ibu dengan pengetahuan gizi yang baik.
Riwayat makan anak menunjukkan anak obes sebagian besar tidak mendapatkan ASI eksklusif pada waktu bayinya (80%). Terdapat 57,5% anak obes yang diberi susu formula lebih awal atau sebelum usia 6 bulan. Terdapat 50% anak obes yang diberikan makanan padat sebelum usia 6 bulan.
Asupan zat gizi anak menunjukkan rata-rata asupan energi anak obes lebih tinggi dibandingkan dengan anak dengan status gizi normal, yaitu anak berstatus gizi normal 2007 ± 403 kkal/kap/hari dan anak obes 2406 ± 388 kkal/kap/hari. Rata-rata asupan lemak anak obes lebih tinggi dibandingkan dengan anak berstatus gizi normal, yaitu anak berstatus gizi normal 68,8 ± 22,5 g/kap/hari dan anak obes 89,2 ± 19,9 g/kap/hari. Rata-rata asupan protein anak obes lebih rendah dibandingkan anak dengan status gizi normal, yaitu anak berstatus gizi normal 70,4 ± 22,8 g/kap/hari dan anak obes 67,4 ± 20,1 g/kap/hari. Sebanyak 52,5% anak obes dengan tingkat kecukupan energi lebih dan 57,5% anak obes dengan tingkat kecukupan protein lebih. Kebiasaan makan anak menunjukkan sebagian besar anak obes suka ngemil (87,5%). Terdapat 60% anak obes yang suka ngemil makanan ringan. Sebagian besar anak obes yang mengonsumsi sayur 1-3 kali tiap minggu (45%) dan mengonsumsi buah 1-3 kali tiap minggu (55%). Sebagian besar anak obes mengonsumsi soft drink 4-6 kali tiap minggu (35%) dan hanya 7,5% anak berstatus gizi normal yang suka mengonsumsi soft drink 4-6 kali tiap minggu. Hampir separuh (45%) anak obes yang mengonsumsi fast food 4-6 kali tiap minggu. Lebih dari separuh (67,5%) anak obes yang mengonsumsi makanan berlemak 4-6 kali tiap minggu.
Aktivitas fisik anak menunjukkan sebanyak 77,5% anak obes yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam untuk tidur dalam satu hari, 85% anak obes menghabiskan waktu lebih dari 2 jam untuk waktu menonton TV, bermain game, dan internet dalam satu hari, dan 70% anak obes yang menghabiskan waktunya bermain di luar rumah kurang dari 2 jam per hari.
Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara berat lahir anak (p=0,023; r=0,253), IMT ayah (p=0,000; r=0,408), tingkat kecukupan energi (p=0,000; r=0,557), konsumsi lemak (p=0,000; r=0,458), frekuensi konsumsi soft
drink (p=0,005; r=0,314), fast food (p=0,005; r=0,311), dan makanan berlemak
(p=0,000; r=0,469) dengan kejadian obesitas pada anak. Namun Terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara lamanya waktu bermain di luar rumah (p=0,015; r=-0,271) dengan kejadian obesitas pada anak. Faktor risiko yang secara signifikan berpengaruh terhadap kejadian obesitas pada anak adalah IMT ayah (OR 1,494), IMT ibu (OR 1,446), TKE (OR 1,073), frekuensi konsumsi fast food (OR 4,028), dan frekuensi konsumsi makanan berlemak (OR 9,071).
RIKSA ADITYA PRAMUDITA
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi pada Departemen Gizi Masyarakat
Fakultas Ekologi Manusia IPB
DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
Disetujui :
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Prof. Dr. Ir. Faisal Anwar, MS Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, M. Si NIP. 19520413 198103 1 003 NIP. 19600205 198903 2 002
Diketahui,
Ketua Departemen Gizi Masyarakat
Dr. Ir. Budi Setiawan, MS NIP. 19621218 198703 1 001
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena atas karunia-Nya sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ”Perilaku Gizi pada Anak Sekolah Dasar Obes di Kota Bogor” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi pada Program Mayor Ilmu Gizi Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Maka penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Prof. Dr. Ir. Faisal Anwar, MS dan Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MSi selaku pembimbing yang dengan penuh kesabaran meluangkan waktu dan pikirannya, memberikan arahan, saran, kritikan, semangat, dan dorongan untuk menyelesaikan skripsi ini.
2. Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN selaku dosen pemandu seminar dan dosen penguji atas semua saran dan masukannya demi kesempurnaan skripsi ini. 3. Yeni Awadipura, Nadia Svenskarin, Rizwana Syarifah, dan M. Azizul Hakim
Imaduddin selaku pembahas seminar.
4. Kepala Sekolah SD Insan Kamil Bogor, guru wali kelas 4 dan kelas 5, dan para staf yang telah memberi izin dan bantuan selama penelitian.
5. Bapak dan Mamah yang selalu mendoakan, memberikan kasih sayang yang tulus, memberikan semangat, tenaga, kehadiran, serta saran dan kritikan dalam penulisan skripsi ini. Terima kasih atas semua yang telah diberikan baik dukungan moril maupun materi selama menempuh pendidikan. Aa Rangga yang selalu memberikan dorongan untuk menyelesaikan skripsi ini dan kedua adik penulis yaitu Reka dan Neng Roisa yang selalu mendoakan dan memberikan semangatnya.
6. Rendy yang selalu memberi semangat, doa, bantuan, kehadiran, dan dorongan kepada penulis hingga penulis menyelesaikan skripsi ini.
7. Diana Lestari dan Nadya Bellatrix Paramaita yang telah membantu dalam pengolahan data, memberikan saran, semangat, dan hadir dalam seminar. 8. Teman-teman S1 Mayor Ilmu Gizi angkatan 44 yang selalu memberikan
saran, doa, dan semangatnya kepada penulis.
9. Alhana teman sesama alumni SD, SMP, dan SMA Insan Kamil yang telah membantu dalam pengambilan data.
11. Orang tua murid SD Insan Kamil yang telah bersedia mengisi kuesioner dan membantu kelancaran penelitian.
12. Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangan. Maka dengan segala kerendahan hati, penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan selanjutnya. Akhir kata, besar harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat bagi yang membacanya, khususnya penulis pribadi dan semua pihak pada umumnya. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Bogor, Oktober 2011
September 1989 dari pasangan Dr. Ir. H. Wawan Hermawan, MS. dan Dra. Hj. Neneng Solihat. Penulis merupakan anak ke dua dari empat bersaudara.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Insan Kamil Bogor dan lulus pada tahun 2002. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan menengah pertamanya di SMP Insan Kamil Bogor, lulus tahun 2005. Pendidikan menengah atasnya ditempuh di SMA Insan Kamil Bogor dan lulus pada tahun 2007. Kemudian pada tahun yang sama penulis diterima di Mayor Ilmu Gizi, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia IPB melalui jalur USMI.
Selama menjadi mahasiswa, penulis merupakan anggota Himpunan Mahasiswa Gizi (Himagi) 2008-2011 dan menjadi seksi dana usaha pada Seminar Nasional Senzasional 2010. Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Profesi (KKP) di Desa Ciadeg, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor pada bulan Juni-Agusutus 2010. Kemudian pada 21 Februari 2011 – 11 Maret 2011 penulis mengikuti Internship Dietetik (ID) di RSUD Ciawi Bogor.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 1 Tujuan ... 3 Kegunaan ... 3 TINJAUAN PUSTAKA ... 4 Obesitas... ... 4 Karakteristik Anak ... 4 Faktor Keturunan ... 5 Karakteristik Keluarga ... 6
Riwayat Makan Anak ... 7
Kebiasaan Makan ... 8
Aktivitas Fisik ... 11
Penilaian Status Gizi ... 14
Dampak Obesitas pada Anak ... 15
KERANGKA PEMIKIRAN ... 17
METODE ... 19
Disain, Tempat, dan Waktu Penelitian ... 19
Jumlah dan Cara Penarikan Contoh ... 19
Jenis dan Cara Pengumpulan Data ... 20
Pengolahan dan Analisis Data ... 22
Definisi Operasional ... 28
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 30
Gambaran Umum Sekolah ... 30
Karakteristik Anak ... 31
Faktor Keturunan ... 33
Karakteristik Keluarga ... 35
Pendidikan Orang Tua ... 35
Pendapatan Keluarga ... 37
Riwayat Makan Anak ... 39
Pemberian ASI Eksklusif ... 39
Pemberian Susu Formula ... 40
Pemberian Makanan Padat ... 41
Kebiasaan Makan ... 42
Asupan Zat Gizi ... 42
Kebiasaan Konsumsi Camilan ... 46
Frekuensi Konsumsi Sayur dan Buah ... 48
Frekuensi Konsumsi Fast Food dan Soft Drink ... 50
Frekuensi Konsumsi Makanan Berlemak ... 51
Aktivitas Fisik ... 53
Waktu Tidur ... 53
Waktu Menonton TV, Bermain Game, dan Internet ... 54
Waktu Bermain di Luar ... 55
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Obesitas ... 57
Hubungan Karakteristik Anak dengan Obesitas ... 58
Hubungan Faktor Keturunan dengan Obesitas ... 58
Hubungan Riwayat Makan Anak dengan Obesitas ... 59
Hubungan Kebiasaan Makan Anak dengan Obesitas ... 59
Hubungan Aktivitas Fisik Anak dengan Obesitas ... 61
Faktor Risiko Obesitas... 62
KESIMPULAN DAN SARAN ... 66
Kesimpulan ... 66
Saran ... 67
DAFTAR PUSTAKA ... 68
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Kategori status gizi anak berdasarkan IMT/U ... 14
2. Klasifikasi IMT menurut WHO ... 15
3. Jenis dan cara pengumpulan data ... 22
4. Pengkategorian variabel penelitian ... 24
5. Sebaran anak berdasarkan jenis kelamin dan berat badan lahir ... 32
6. Sebaran anak berdasarkan faktor keturunan ... 33
7. Sebaran anak berdasarkan kombinasi IMT ayah dan IMT ibu ... 34
8. Sebaran anak berdasarkan pendidikan orang tua... 36
9. Sebaran anak berdasarkan pendapatan keluarga ... 37
10. Sebaran anak berdasarkan dua kategori pendapatan keluarga ... 37
11. Sebaran anak berdasarkan pengetahuan gizi ibu ... 38
12. Sebaran anak berdasarkan riwayat makan anak ... 39
13. Rata-rata asupan energi, protein, dan lemak per kapita per hari ... 43
14. Sebaran anak berdasarkan tingkat kecukupan energi dan protein ... 44
15. Sebaran anak bedasarkan persen kontribusi lemak ... 45
16. Sebaran anak berdasarkan kebiasaan ngemil ... 46
17. Sebaran anak berdasarkan jenis camilan ... 47
18. Sebaran anak berdasarkan frekuensi konsumsi sayur dan buah ... 49
19. Sebaran anak berdasarkan frekuensi konsumsi soft drink dan fast food .. 50
20. Sebaran anak berdasarkan frekuensi konsumsi makanan berlemak ... 51
21. Sebaran anak berdasarkan alokasi kegiatan ... 53
22. Hubungan antara karaktersitik anak dengan obesitas... 57
23. Hubungan antara faktor keturunan dengan obesitas ... 58
24. Hubungan antara riwayat makan anak dengan obesitas... 59
25. Hubungan antara kebiasaan makan anak dengan obesitas ... 59
26. Hubungan antara aktivitas fisik anak dengan obesitas... 62
DAFTAR GAMBAR
Halaman 1. Kerangka pemikiran yang berhubungan dengan obesitas pada anak
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Kuesioner ... 72
2. Jumlah kelas dan murid SD Insan Kamil Bogor ... 83
3. Data jenis kelamin, umur, BB, TB, Z-score IMT/U ... 84
4. Data rata-rata asupan energi, protein, dan lemak ... 86
5. Hasil uji beda t-test dan Mann-Whitney U ... 88
6. Hasil uji korelasi pearson dan spearman antara variabel ... 89
PENDAHULUAN
Latar BelakangKeberhasilan pembangunan nasional khususnya dalam bidang gizi dan kesehatan, beberapa tahun belakangan ini berdampak baik bagi penurunan jumlah penderita kasus gizi kurang di Indonesia dan dunia. Namun keberhasilan tersebut diikuti oleh peningkatan prevalensi gizi lebih pada masyarakat. Berdasarkan catatan Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2003, tidak kurang dari 1,2 miliar penduduk dunia mengalami obesitas. Data survei yang dikumpulkan oleh WHO sejak tahun 1983 hingga 2004 menggambarkan bahwa 17 dari 28 negara di dunia (dua negara di Afrika, satu negara di Amerika Utara, satu negara di Amerika Latin, 3 negara di Asia, 8 negara di Eropa, dan dua negara di Oceania), mengalami peningkatan prevalensi obesitas (Nishida & Mucavale 2005).
Obesitas merupakan suatu keadaan terjadinya kelebihan berat badan melebihi 20% dari berat badan normal. Obesitas ditandai dengan penimbunan lemak yang berlebihan pada berbagai bagian tubuh, terutama pada pinggang, pinggul, dan lengan atas (Siagian 2004). Obesitas mulai menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia, bahkan WHO menyatakan bahwa obesitas sudah merupakan suatu epidemi global, sehingga obesitas sudah merupakan suatu masalah kesehatan yang harus segera ditangani (WHO 2000).
Prevalensi obesitas meningkat dari tahun ke tahun, baik di negara maju maupun negara yang sedang berkembang. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2007, prevalensi obesitas pada anak-anak usia 6 dan 14 tahun mencapai 9,5% untuk pria, sedangkan pada perempuan mencapai 6,4%. Kondisi ini meningkat dari tahun 1990-an yang berkisar 4% (RISKESDAS 2007).
Menurut RISKESDAS (2010) secara nasional masalah kegemukan pada anak umur 6-12 tahun masih tinggi yaitu 9,2% atau masih di atas 5,0%. Prevalensi kegemukan pada anak laki-laki umur 6-12 tahun lebih tinggi dari prevalensi pada anak perempuan yaitu berturut-turut sebesar 10,7% dan 7,7%. Berdasarkan tempat tinggal prevalensi kegemukan lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan prevalensi di perdesaan yaitu berturut-turut sebesar 10,4% dan 8,1%.
Obesitas pada masa anak berisiko tinggi menjadi obesitas di masa dewasa dan berpotensi mengalami penyakit metabolik dan penyakit degeneratif di kemudian hari. Profil lipid darah pada anak obesitas menyerupai profil lipid
pada penyakit kardiovaskuler dan anak yang obesitas mempunyai risiko hipertensi lebih besar. Penelitian Syarif (2003) menemukan hipertensi pada 20– 30% anak yang obesitas, terutama obesitas tipe abdominal. Ancaman obesitas di kalangan anak-anak juga melanda Indonesia (Hidayati, Irawan, Hidayat 2009).
Faktor utama terjadinya obesitas adalah adanya ketidakseimbangan asupan energi dengan keluaran energi. Asupan energi tinggi bila konsumsi makanan berlebihan, sedangkan keluaran energi menjadi lebih rendah bila metabolisme tubuh dan aktivitas fisik rendah (IOTF 2004). Hal tersebut banyak dialami oleh golongan masyarakat tingkat menengah ke atas. Di Indonesia, terutama di kota-kota besar, dengan adanya perubahan gaya hidup yang menjurus ke westernisasi dan sedentary berakibat pada perubahan pola makan atau konsumsi masyarakat yang merujuk pada pola makan tinggi kalori, tinggi lemak, dan kolesterol, terutama terhadap penawaran makanan siap saji (fast
food) yang berdampak meningkatkan risiko obesitas (Heird 2002).
Salah satu penyebab obesitas pada anak dapat terjadi karena faktor genetik. Hal ini merupakan faktor keturunan dari orang tua yang sulit dihindari. Bila ayah atau ibu memiliki kelebihan berat badan, hal ini dapat diturunkan pada anak. Selain itu kebiasaan makan anak yang gemar terhadap makanan cepat saji (fast food) yang umumnya mengandung lemak dan minuman ringan (soft drink) yang mengandung gula yang tinggi juga merupakan penyebab obesitas pada anak.
Selain karena masalah konsumsi pangan, aktivitas fisik pada anak juga mempengaruhi terjadinya obesitas pada anak. Dulu permainan anak yang umumnya dilakukan adalah permainan fisik yang mengharuskan anak berlari, melompat, atau gerakan lainnya, namun kini digantikan dengan permainan anak yang kurang melakukan gerak badannya seperti game elektronik, komputer, internet, atau televisi yang cukup dilakukan dengan hanya duduk di depannya tanpa harus bergerak. Kegemukan tidak hanya disebabkan oleh kebanyakan makan dalam hal karbohidrat, lemak, maupun protein, tetapi juga karena kurangnya aktivitas fisik (Almatsier 2003). Dengan demikian obesitas pada anak memerlukan perhatian yang serius dan pananganan yang sedini mungkin, dengan melibatkan peran serta orang tua. Berdasarkan hal-hal yang diuraikan di atas, maka penulis tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai faktor risiko obesitas pada anak sekolah dasar di Kota Bogor.
Tujuan Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengkaji faktor risiko obesitas pada anak sekolah dasar obes di Kota Bogor serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Tujuan Khusus
1. Mempelajari karakteristik anak dan karakteristik keluarga anak sekolah dasar obes di Kota Bogor.
2. Mengidentifikasi riwayat makan dan kebiasaan makan anak sekolah dasar obes di Kota Bogor.
3. Mempelajari pola konsumsi anak sekolah dasar obes di Kota Bogor. 4. Mengukur aktivitas fisik anak sekolah dasar obes di Kota Bogor. 5. Menganalisis faktor risiko obesitas pada anak.
Kegunaan
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat dan informasi kepada masyarakat mengenai faktor risiko pada anak sekolah dasar yang dapat dijadikan acuan untuk mencegah kejadian obes pada anak. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi kepada orangtua anak sekolah obes untuk mengubah perilaku gizinya dengan meningkatkan aktifitas fisik dan mengatur pola konsumsi anak sehingga dapat mengubah status gizi obes pada anak. Selain itu, informasi ini dapat menjadi masukan bagi pihak sekolah untuk memberikan materi dan praktek gizi seimbang dalam pengajaran sehingga dapat membina perilaku gizi anak menjadi lebih baik.
TINJAUAN PUSTAKA
ObesitasPengertian kegemukan sering kali disamakan dengan obesitas, padahal kedua istilah tersebut memiliki arti yang berbeda, kegemukan (overweight) adalah kondisi berat tubuh melebihi berat tubuh normal, sedangkan obesitas adalah kondisi kelebihan berat tubuh akibat tertimbunnya lemak, untuk pria dan wanita masing-masing melebihi 20% dan 25% dari berat tubuh. Dijelaskan lebih lanjut bahwa kegemukan dan obesitas bisa terjadi pada berbagai kelompok usia dan jenis kelamin. Juvenil obesity adalah obesitas yang terjadi pada usia muda (anak-anak) (Rimbawan & Siagian 2004).
Penyebab obesitas belum diketahui secara pasti. Obesitas adalah suatu penyakit multifaktoral yang diduga bahwa sebagian besar obesitas disebabkan oleh karena interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan, antara lain aktivitas, gaya hidup, sosial ekonomi, dan gizi yaitu prilaku makan dan pemberian makanan padat terlalu dini pada bayi (Hidayati, Irawan, Hidayat 2009).
Obesitas pada anak, disebabkan oleh masukan makanannya yang berlebih. Selain itu, pada waktu lahir anak tidak dibiasakan mengonsumsi air susu ibu (ASI), tetapi dibiasakan pakai susu formula dalam botol, padahal anak yang diberi ASI, biasanya asupan ASI-nya sesuai ketentuan berat badan bayi (Darmono 2006). Beberapa faktor penyebab obesitas diuraikan di bawah berikut: Karakteristik Anak
Menurut WHO (2000), perempuan cenderung mengalami peningkatan penyimpanan lemak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan cenderung mengonsumsi sumber karbohidrat yang lebih kuat sebelum masa pubertas, sementara laki-laki lebih cenderung mengonsumsi makanan yang kaya protein. Tetapi penelitian yang dilakukan oleh Proper et al. (2006) menyatakan bahwa laki-laki secara signifikan lebih berkemungkinan untuk menjadi overweight atau obesitas daripada wanita, karena laki-laki cenderung untuk menghabiskan lebih bayak waktu untuk santai saat akhir minggu atau waktu senggang.
Berat badan pada saat lahir sangat berpengaruh pada berat badan anak kemudian. Bayi yang lahir dengan berat badan lebih atau rendah berisiko menjadi obesitas di kemudian harinya. Bayi yang di dalam kendungan menderita kekurangan gizi akan membutuhkan asupan energi dan lemak yang tinggi setelah berada di luar kandungan. Bayi-bayi ini akan melalui proses
pertumbuhan cepat, hingga mencapai ukuran tertentu. Setelah tumbuh lebih besar, sistem tubuh meraka adalah sistem dengan “gaya hemat”. Istilah ini berarti janin yang kekurangan makanan pada saat berada dalam kandungan akan tumbuh sebagai individu yang mengatur tubuhnya untuk menyimpan lemak lebih banyak dan lebih efesien dalam penggunaannya (Parson et al. 2001).
Seorang anak yang terlahir akan memiliki kriteria berat badan saat dilahirkan. Bayi dikatakan lahir dengan berat normal jika berat badannya antara 2500-3800 gram. Bayi dikatakan lahir dengan BBLR jika berat badannya kurang dari 2500 gram. Penelitian yang dilakukan di Australia, terdapat hubungan yang signifikan antara berat badan lahir rendah (BBLR) dan berat lahir lebih dengan risiko kejadian obesitas pada anak usia 4 sampai 5 tahun. Peneliti menemukan bahwa berat lahir rendah (BBLR) memiliki risiko yang lebih rendah menjadi obesitas pada anak perempuan yang berusia 4 sampai 5 tahun (OR: 0,50; Cl 95%: 0,32-0,77) dibandingkan dengan berat lahir lebih, namun tidak terdapat hubungan antara berat badan lahir rendah (BBLR) dengan kejadian obesitas pada anak laki-laki. Berat lahir lebih memiliki hubungan dan risiko yang lebih tinggi untuk menjadi obesitas pada anak perempuan (OR: 1,76; Cl 95%: 1,12,-2,78) dan anak laki-laki (OR: 2,42; Cl 95%: 2,06-2,86) (Oldroyd et al. 2010). Faktor Keturunan
Parenteral fatness merupakan faktor genetik yang berperan besar, bila
kedua orang tua obesitas, 80% anaknya menjadi obesitas, bila salah satu orang tua obesitas, kejadian obesitas menjadi 40% dan bila kedua orang tua tidak obesitas, prevalensi menjadi 14% (Hidayati, Irawan, Hidayat 2009).
Orang tua yang gemuk cenderung memiliki anak yang gemuk pula. Faktor genetik turut menentukan jumlah sel lemak dalam lemak yang berjumlah besar dan melebihi ukuran normal, secara otomatis akan diturunkan kepada bayi selama dalam kandungan. Tidak heran bila bayi yang lahir memiliki jumlah sel yang relatif sama besar (Zainun 2002).
Effendi (2003) menyatakan bila kedua orang tua mengalami kegemukan, maka kemungkinan anaknya mengalami obesitas mencapai 66–80%. Bila salah satu orang tua mengalami kegemukan maka kemungkinan anak mengalami obesitas sekitar 20–51%. Bahkan bila kedua orangtuanya memiliki status gizi normal, anak memiliki kemungkinan gemuk sebesar 7-14%.
Penelitian yang dilakukan Badan Internasional Obesity Tak Force (IOTF) dari badan WHO yang mengurusi masalah kegemukan pada anak menyebutkan
hasil yang berbeda, bahwa faktor genetik hanya berpengaruh 1% dari kejadian obesitas pada anak, sedangkan 99% disebabkan faktor lingkungan (Darmono 2006).
Karaktersitik Keluarga
Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap dan perilaku hidup sehat. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan
seseorang atau masyarakat untuk menyerap informasi dan
mengimplementasikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari, khususnya dalam hal kesehatan dan gizi. Tingkat pendidikan, khususnya tingkat pendidikan wanita mempengaruhi derajat kesehatan (Atmarita & Fallah 2004).
Pendidikan ayah diduga berkaitan dengan tingkat status ekonomi keluarga, karena pendidikan orang tua berhubungan dengan tingkat pendapatan orang tua. Tingkat pendidikan orang tua sangat berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas makanan yang dikonsumsi anaknya. Makin tinggi tingkat pendidikan maka pendapatan pun akan semakin tinggi. Pendapatan keluarga yang tinggi berarti kemudahan dalam membeli dan mengonsumsi makanan enak dan mahal yang mengandung energi tinggi seperti fast food (Padmiari & Hadi 2001).
Perubahan pengetahuan sikap, perilaku dan gaya hidup, pola makan, serta peningkatan pendapatan mempengaruhi pemilihan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Suatu data menunjukkan bahwa beberapa tahun terakhir terlihat adanya perubahan gaya hidup yang menjurus pada penurunan aktifitas fisik, seperti ke sekolah dengan naik kendaraan dan kurangnya aktivitas bermain dengan teman serta lingkungan rumah yang tidak memungkinkan anak-anak bermain diluar rumah, sehingga anak-anak lebih senang bermain komputer atau
games, menonton televisi atau video dibanding melakukan aktivitas fisik. Selain
itu juga ketersediaan dan harga dari junk food yang mudah terjangkau akan berisiko menimbulkan obesitas (Hidayati, Irawan, Hidayat 2009).
Menurut Soekirman (2000), Bannet menemukan bahwa peningkatan pendapatan akan mengakibatkan individu cenderung meningkatkan kualitas konsumsi pangannya dengan harga yang lebih mahal per unit zat gizinya. Peningkatan pendapatan berarti memperbesar peluang untuk membeli pangan dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik.
Selain itu, menurut Nasoetion dan Riyadi (1994) keluarga yang berpenghasilan cukup atau tinggi lebih mudah dalam menentukan pemilihan bahan pangan sesuai dengan syarat mutu yang baik. Tingkat pendapatan
merupakan faktor yang menuntukan kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi. Pendapatan yang tinggi akan menigkatkan daya beli sehingga keluarga mampu membeli pangan dalam jumlah yang diperlukan dan akhirnya berdampak positif terhadap status gizi.
Menurut hasil penelitian Yueniwati dan Rahmawati (2001), terdapat hubungan antara pendidikan terakhir ibu dengan pengetahuan ibu tentang obesitas pada anak. Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor yang penting dalam tumbuh kembang anak karena dengan pendidikan yang baik maka orangtua dapat menerima segala informasi dari luar, terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik, bagaimana menjaga kesehatan anak dan sebagainya. Dijelaskan lebih lanjut pengetahuan ibu tentang obesitas pada anak juga berhubungan dengan status pekerjaan ibu, yaitu apakah ibu bekerja atau tidak.
Riwayat Makan Anak
Menurut Darmono (2006), obesitas pada anak disebabkan oleh masukan makanannya yang berlebih. Selain itu, pada waktu lahir anak tidak dibiasakan mengonsumsi air susu ibu (ASI), tetapi dibiasakan mengonsumsi susu formula dalam botol. Padahal anak yang diberi ASI, biasanya asupan ASI-nya sesuai dengan kebutuhannya. Anak yang biasa meminum susu dalam botol, jumlah masukan makanan pada anak tidak dapat dihitung dengan tepat, bahkan para orang tua cenderung memberikan susunya lebih kental, sehingga melebihi porsi yang dibutuhkan anak.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Kries dan Rudiger (1999) yang melibatkan 9357 anak sekolah di Bavaria Jerman ditemukan prevalensi kejadian obesitas lebih tinggi pada anak yang tidak pernah mendapat ASI, yakni sekitar 4,5%, tidak setinggi prevalensi obesitas pada anak yang pernah mendapat ASI pada masa bayinya yakni hanya 2,8%. Anak yang diberi ASI pada masa bayinya akan memiliki kemungkinan 0,75 kali (yang berarti lebih kecil) untuk menjadi obes dibandingkan anak yang tidak diberi ASI pada masa bayinya. Ini berarti pemberian ASI sejak bayi memiliki faktor protektif pada kejadian obesitas pada masa anak. Secara keseluruhan dapat ditarik kesimpulan bahwa pemberian ASI pada masa bayi dapat menurunkan risiko anak menjadi obes, baik pada masa kanaknya ataupun setelah ia menjadi dewasa.
Penelitian Bogen, Hanusa, dan Whitaker (2004) menyebutkan bahwa pembenan ASI pada anak bisa menurunkan risiko obesitas pada anak 0,70 (95%
Cl 0,61-0,80). Peranan faktor gizi dimulai sejak dalam kandungan di mana jumlah lemak tubuh dan pertumbuhan bayi dipengaruhi berat badan ibu. Kenaikan berat badan dan lemak anak dipengaruhi oleh waktu pertama kali mendapat makanan padat, asupan tinggi energi dari karbohidrat dan lemak, serta kebiasaan mengonsumsi makanan yang mengandung energi tinggi (Hidayati, Irawan, Hidayat 2009).
Kebiasaan Makan
Kebiasaan adalah pola perilaku yang diperoleh dari pola yang terjadi berulang-ulang. Sedangkan kebiasaan makan adalah suatu pola perilaku konsumsi pangan yang diperoleh karena terjadi berulang-ulang. Kebiasaan makan juga dikaitkan dengan cara-cara individu dan kelompok individu memilih, mengonsumsi, dan menggunakan makanan yang tersedia, yang didasarkan pada faktor-faktor psikologi, fisiologi, sosial, dan budaya di mana ia hidup (Suhardjo 2003). Selain itu, menurut Khumaidi (1989) kebiasaan makan adalah tingkah laku manusia atau kelompok manusia dalam memenuhi kebutuhannya akan makan meliputi sikap, kepercayaan, dan pemilihan makanan.
Kebiasaan makan yang tergesa-gesa, termasuk kurang mengunyah akan membawa efek yang kurang menguntungkan bagi pencernaan dan mengakibatkan cepat merasa lapar kembali. Rasa lapar yang sering muncul akan befakibat pada konsumsi makan yang tidak pada waktunya dan berlebihnya
intake makanan. Begitu pula jika frekuensi makan tidak teratur. Jarak antara dua
waktu makan yang terlalu panjang menyebabkan adanya kecenderungan untuk makan labih banyak dan melebihi batas (Wirakusumah 1994).
Obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara energi yang masuk dengan energi yang dikeluarkan sehingga terjadilah kelebihan energi yang selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Sebagian besar obesitas terjadi akibat makan yang berlebihan. Pola makan tidak teratur, sering ngemil atau makan camilan, sementara aktivitas kurang (Hartoyo 2007).
Penelitian di Amerika dan Finlandia menunjukkan bahwa kelompok dengan asupan tinggi lemak mempunyai risiko peningkatan berat badan 12 kali, selain itu peningkatan konsumsi daging akan meningkatkan risiko obesitas sebesar 1,46 kali. Keadaan ini disebabkan karena makanan berlemak mempunyai kandungan energi lebih besar dan mempunyai efek pembakaran dalam tubuh yang lebih kecil dibandingkan makanan yang banyak mengandung protein dan karbohidrat (Hidayati, Irawan, Hidayat 2009).
Dijelaskan lebih lanjut, makanan berlemak juga mempunyai rasa yang lezat sehingga akan meningkatkan selera makan yang akhirnya terjadi konsumsi yang berlebihan. Selain itu, kapasitas penyimpanan makronutrien juga menentukan keseimbangan energi. Protein mempunyai kapasitas penyimpanan sebagai protein tubuh dalam jumlah terbatas dan metabolisme asam amino diregulasi dengan ketat, sehingga bila intake protein berlebihan dapat dipastikan akan dioksidasi, sedangkan karbohidrat mempunyai kapasitas penyimpanan dalam bentuk glikogen hanya dalam jumlah kecil. Bila cadangan lemak tubuh rendah dan asupan karbohidrat berlebihan, maka kelebihan energi dan karbohidrat sekitar 60-80% disimpan dalam bentuk lemak tubuh. Lemak mempunyai kapasitas penyimpanan yang tidak terbatas. Kelebihan asupan lemak tidak diiringi peningkatan oksidasi lemak sehingga sekitar 96% lemak akan disimpan dalam jaringan lemak (Hidayati, Irawan, Hidayat 2009).
Menurut Popkin (2007), camilan sebenarnya penting bagi anak, sebab perutnya kecil dan ia perlu ngemil lebih sering. Namun apapun camilannya dalam sehari, seharusnya hanya memberikan 20 persen dari total energinya. Kebiasaan mengonsumsi camilan biasanya dilakukan saat anak menonton televisi, bermain game, dan saat belajar. Ketiga kegiatan tersebut merupakan aktivitas fisik yang sangat rendah, namun dalam waktu bersamaan anak mengonsumsi makanan yang mengandung cukup banyak energi. Tidak seimbangnya antara konsumsi energi dengan aktivitas fisik yang dilakukan merupakan salah satu penyebab obesitas pada anak.
Menurut RISKESDAS (2007), penduduk dikategorikan ‘cukup’ konsumsi sayur dan buah apabila makan sayur dan/atau buah minimal 5 porsi per hari selama 7 hari dalam seminggu. Dikategorikan ’kurang’ apabila konsumsi sayur dan buah kurang dari ketentuan di atas. Secara keseluruhan, penduduk umur 10-14 tahun yang kurang mengonsumsi buah dan sayur sebesar 93,6% (<5 porsi per hari). Berdasarkan tingkat pengeluaran per kapita, dengan meningkatnya strata juga tampak pengurangan prevalensi kurang konsumsi buah dan sayur, dengan perkataan lain, semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita perbulan, semakin tinggi konsumsi buah dan sayur.
Penelitian yang dilakukan oleh Cornell University (2003) menyatakan bahwa anak-anak yang minum lebih dari 12 ons soft drink meningkat berat badannya secara signifikan dibandingkan dengan anak-anak dengan konsumsi kurang dari 6 ons per hari. Hal ini disebabkan karena anak-anak tidak
mengurangi makanan utama yang dimakan dan ditambah dengan peningkatan kalori yang berasal dari minuman tersebut. Semakin banyak minuman yang dikonsumsi, maka semakin besar asupan kalori dan semakin tinggi pertambahan berat badannya.
Fast food atau ready-to-eat-food jadi pilihan utama orang tua yang sibuk
atau konsumsi ketika menghabiskan waktu bersama keluarga pada masyarakat modern. Hal ini disebabkan karena pengolahannya yang cenderung cepat karena menggunakan tenaga mesin, terlihat bersih karena penjamahnya adalah mesin, restoran yang mudah ditemukan serta karena pelayanannya yang selalu sedia setiap saat, bagaimanapun cara pemesanannya (Worthington & William 2000).
Menurut WHO (2000), perkembangan food industry yang salah satunya berkembangnya makanan cepat saji, yaitu makanan yang tinggi lemak tetapi rendah karbohidrat kompleks merupakan salah satu faktor risiko obesitas. Banyaknya jenis fast food yang dikonsumsi merupakan faktor risiko terjadinya obesitas (OR = 11,0). lni berarti mengonsumsi fast food akan berisiko 11 kali mengalami obesitas jika dibandingkan dengan mereka yang tidak mengonsumsinya.
Lemak memiliki kandungan energi dua kali lebih banyak dibandingkan dengan protein. Makan makanan berlemak dengan jumlah yang sama dengan protein akan memberikan energi yang lebih besar. Selain itu, makanan berlemak terasa lezat dan memiliki “mouth-feel” yang enak. Makanan berlemak biasanya rendah serat, sehingga lebih lembut dan hanya memerlukan sedikit waktu untuk dikunyah dan ditelah daripada jenis makanan lain (Atkinson 2005).
Penelitian lain mengemukakan bahwa konsumsi makanan yang digoreng berhubungan positif dengan kegemukan (baik itu general maupun central
obesity) hal ini terjadi pada subjek di mana asupan tertinggi dari energi berasal
dari makanan gorengan. Seseorang yang mengonsumsi makanan gorengan lebih banyak berisiko 1,26 kali (pria) dan 1,25 kali (wanita) lebih tinggi untuk mengalamin kegemukan (Castillon et al. 2007).
Menurut kelompok umur 10-14, terdapat 13,5% anak yang sering mengonsumsi makanan berlemak dan 2,1% anak yang sering mengonsumsi jeroan. Penduduk yang “sering” makan makanan berlemak dan jeroan dianggap sebagai berperilaku konsumsi makanan berisiko. Perilaku konsumsi makanan berisiko dikelompokkan “sering” apabila penduduk mengonsumsi makanan tersebut satu kali atau lebih setiap hari. Menurut tingkat pendidikan, pola
prevalensi sering mengonsumsi makanan berlemak dan jeroan cenderung meningkat sesuai dengan meningkatnya pendidikan. Menurut tipe daerah, pola prevalensi sering mengonsumsi makanan berlemak ditemukan lebih tinggi di perkotaan dibanding perdesaan. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita, pola prevalensi sering mengonsumsi makanan berlemak dan jeroan cenderung meningkat sesuai dengan peningkatan kuintil ekonomi (RISKESDAS 2007).
Aktivitas Fisik
Menurut Almatsier (2003) ativitas fisik merupakan salah satu bentuk penggunaan energi dalam tubuh, di samping metabolisme basal. Aktivitas fisik merupakan komponen utama dari energy expenditure, yaitu sekitar 20-50% dari total energi expenditure. Penelitian di negara maju mendapatkan hubungan antara aktvitas fisik yang rendah dengan kejadian obesitas. Individu dengan aktivitas fisik yang rendah mempunyai risiko peningkatan berat badan sebesar 5 kg. Penelitian di Jepang menunjukkan pada kelompok yang mempunyai kebiasaan olah raga berisiko 0,48 kali mengalami obesitas. Penelitian terhadap anak Amerika dengan tingkat sosial ekonomi yang sama menunjukkan bahwa mereka yang menonton televisi 5 jam perhari mempunyai risiko obesitas sebesar 5,3 kali lebih besar dibandingkan mereka yang menonton televisi 2 jam setiap harinya (Hidayati, Irawan, Hidayat 2009).
Obesitas atau kegemukan yang parah terjadi karena tidak adanya keseimbangan energi, di mana energi intake jauh lebih besar dibandingkan energi expenditure atau energi yang terpakai dalam aktivitas fisik. Energy intake ialah energi yang dikonsumsi sebagai makanan dan minuman yang dapat dimatabolisme dalam tubuh kita (WHO 2000).
Sebuah penelitian yang diadakan di Inggris oleh tim peneliti dari ALSPAC (Avon Longitudinal Study of Parents and Children) yang meneliti anak sejak dalam kandungan hingga usia 7 tahun, menemukan kaitan antara menonton televisi dengan kejadian obesitas. Odds ratio kemungkinan menjadi obesitas meningkat linier dengan bertambahnya waktu menonton televisi. Anak yang menonton televisi 4 sampai 8 jam perminggu di usia 3 tahun, maka kemungkinan untuk menjadi obes (odds ratio) pada usia 7 tahun adalah 1,37 kali lebih besar. Secara keseluruhan anak yang menonton televisi lebih dari delapan jam seminggu memiliki kemungkinan menjadi obes 1,55 kali lebih besar dibandingkan
anak yang menonton televisi kurang dari depalan jam perminggu (Reilly et al. 2005).
Dijelaskan lebih lanjut, menonton televisi merupakan salah satu bentuk bermain pasif yang membuat anak merasa bahagia dan senang. Kesenangan ini tidak selamanya berdampak positif bila dilakukan secara berlebihan. Menonton televisi berisiko menyebabkan obesitas karena aktivitas fisik ini telah mengambil waktu anak yang seharusnya bisa digunakan untuk melakukan aktivitas fisik. Berkurangnya aktivitas fisik pada akhirnya akan berakibat menurunkan energi yang digunakan (energy expenditure). Menonton televisi juga sangat berkaitan erat dengan kebiasaan makan makanan ringan (snacking) yang akan memberikan asupan energi yang tinggi pada anak. Ketidakseimbangan neraca energi inilah yang menyebabkan obesitas (Reilly et al. 2005).
Penelitian tersebut menyebutkan bahwa, aktivitas tidur menjadi salah satu aktivitas yang harus disoroti. Terdapat hubungan yang erat antara jumlah waktu tidur anak dengan kejadian obesitas. Selain itu, pendapat yang sama pada penelitian yang dilakukan tahun 1960-2000 menyebutkan, kejadian kegemukan meningkat dua kali lipat terjadi pada mereka yang memiliki kelebihan tidur 1 hingga 2 jam (Boyles 2005).
Menurut Yayasan Tidur Nasional, usia bayi dari satu hingga tiga tahun seharusnya tidur selama 12-14 jam, anak TK berusia 3-5 tahun seharusnya tidur 11-13 jam, dan usia 5-10 tahun seharusnya tidur selama 8,5-9,25 jam per malam. Beberapa penelitian telah menghubungkan tidur yang singkat dengan kelebihan berat badan pada anak dan remaja. Bell dan mitra peneliti Dr. Frederick Zimmerman dari Universitas California telah mencatat dalam laporan mereka. Tetapi, kebanyakan dari penelitian tersebut hanya melihat satu waktu saja, menyebabkan sulit untuk menentukan tidur yang cukup sehingga anak menjadi obesitas atau sebaliknya. Lebih lama tidak tidur berarti lebih banyak kesempatan untuk makan. Menurut Bell orang dewasa yang kurang tidur memiliki selera makan yang berbeda dan hormon yang berhubungan dengan rasa lapar, seperti leptin dan ghrelin, hal ini dapat terjadi pada anak (Priyambodo 2010).
Penelitian menunjukkan ada hubungan yang bertolak belakang antara IMT dan aktivitas fisik. Menurun dan rendahnya tingkat aktivitas fisik dipercaya sebagai salah satu hal yang menyebabkan obesitas. Tren kesehatan terkini juga menunjukkan prevalensi obesitas meningkat bersamaan dengan meningkatnya perilaku sedentary dan berkurangnya aktivitas fisik (WHO 2000).
Penelitian menunjukkan bahwa penurunan pengeluaran energi sehari-hari tanpa penurunan bersamaan dalam konsumsi energi total merupakan faktor yang mendasari dalam peningkatan obesitas. Pemeriksaan terakhir dari Department of
Education’s Early Childhood Longitudinal Survey (ECLS-K) menemukan bahwa peningkatan satu jam dalam kegiatan aktivitas fisik per minggu menghasilkan penurunan 0,31 (sekitar 1,8%) dalam indeks massa tubuh pada anak perempuan
overweight, sedangkan ada penurunan yang lebih kecil untuk anak laki-laki. Studi
ini menyimpulkan bahwa memperbanyak kegiatan aktivitas fisik (olah raga) di sekolah sampai setidaknya lima jam per minggu dapat mengurangi 9,8-5,6% anak perempuan yang overweight. Saat ini, sekolah mengurangi jumlah bermain atau aktivitas fisik yang diterima anak selama jam sekolah. Hanya sekitar sepertiga anak-anak SD memiliki kegiatan aktivitas fisik (olah raga) harian, dan kurang dari seperlima memiliki program ekstrakurikuler olah raga di sekolah mereka (Health & Human Services 2011).
Aktifitas fisik secara teratur bermanfaat untuk mengatur berat badan dan menguatkan sistem jantung dan pembuluh darah. Kegiatan aktifitas fisik dikategorikan ‘cukup’ apabila kegiatan dilakukan terus-menerus sekurangnya 10 menit dalam satu kegiatan tanpa henti dan secara kumulatif 150 menit selama lima hari dalam satu minggu. Menurut kelompok umur 10-14 tahun yang kurang melakukan aktifitas sebanyak 66,9% (<150 menit/minggu). Berdasarkan tingkat pendidikan, semakin tinggi pendidikan semakin tinggi prevalensi kurang aktifitas fisik. Prevalensi kurang aktifitas fisik penduduk perkotaan (57,6%) lebih tinggi di banding perdesaan (42,4%), dan semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita per bulan semakin meningkat prevalensi kurang aktifitas fisik (RISKESDAS 2007).
Perilaku kurang mengonsumsi sayur dan/atau buah (<5 porsi per hari), kurang aktifitas fisik (<150 menit/minggu), dan merokok setiap hari merupakan perilaku yang menjadi faktor risiko untuk penyakit tidak menular utama (penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus, kanker, stroke, penyakit paru obstruktif kronik) (RISKESDAS 2007).
Penilaian Status Gizi
Penilaian status gizi secara langsung dibagi menjadi empat, yaitu antropometri, klinis, biokimia, dan konsumsi pangan. Metode antropometri menggunakan pengukuran-pengukuran dimensi fisik dan komposisi tubuh. pengukuran tersebut bervariasi menurut umur dan derajat gizi sehingga bermanfaat terutama pada keadaan terjadinya ketidakseimbangan energi dan protein secara kronis. Antropometri dapat mendeteksi malnutrisi derajat sedang dan berat. Keuntungan lain dari pengukuran antropometri adalah memberikan informasi mengenai riwayat gizi masa lampau (Riyadi 2003).
Di dalam ilmu gizi status gizi tidak hanya diketahui dengan mengukur BB atau TB sesuai dengan umur secara sendiri-sendiri, tetapi juga merupakan kombinasi antara ketiganya. lndikator BB/U menunjukkan secara sensitif status gizi saat ini karena mudah berubah. Namun indikator BB/U tidak spesifik karena berat badan tidak hanya dipengaruhi oleh umur tetapi juga oleh tinggi badan (TB). lndikator TB/U menggambarkan status gizi masa lalu, dan indikator BB/TB menggambarkan secara sensitif dan spesifik status gizi saat ini (Soekirman 2000). Menurut WHO (2007) bahwa pengukuran status gizi pada anak usia 5-19 tahun sudah tidak menggunakan indikator BB/TB akan tetapi menggunakan indeks massa tubuh berdasarkan umur (IMT/U). Kategori status gizi berdasarkan IMT/U dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Kategori status gizi anak berdasarkan IMT/U
Variabel Kategori =-3 SD Severe underweight -3 SD < Z < -2 SD Underweight -2 SD < Z < +1 SD Normal +1 SD < Z < +2 SD Overweight +2 SD < Z < +3 SD Obese =+3 SD Severe obese
Status gizi orang dewasa secara antropometri salah satunya dapat diketahui dengan menghitung indeks massa tubuh (IMT). IMT dihitung dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat tinggi badan (m2). Badan kesehatan dunia (WHO) tahun 2005 mengeluarkan kategori IMT yang cocok untuk masyarakat Asia. Kriteria IMT orang dewasa menurut WHO disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Klasifikasi IMT menurut WHO
Status Gizi Klasifikasi cut-off points
Kurang
Kurus tingkat berat < 16.00
Kurus tingkat sedang 16.00-16.99
Kurus tingkat ringan 17.00-18.49
Normal Normal 18.50-24.99 Lebih Overweight ≥25.00 Pra-obese 25.00-29.99 Obese ≥30.00 Obes kelas I 30.00-34.99 Obes kelas II 35.00-39.00
Obes kelas III ≥40.00
Sumber: WHO (2005) Dampak Obesitas pada Anak
Obesitas mempunyai dampak terhadap tumbuh kembang anak (aspek organik dan psikososial), anak berisiko tinggi obesitas di masa dewasa dan berpotensi mengalami berbagai penyakit kardiovaskuler dan diabetes mellitus, kelainan metabolik seperti atherogenesis, resistensi insulin, gangguan trombogenesis, dan karsinogenesis (Yussac et al. 2007).
Anak-anak dengan kelebihan berat badan atau kegemukan dapat mengalami kesulitan bergerak dan terganggu pertumbuhannya karena timbunan lemak yang berlebihan pada organ-organ tubuh yang seharusnya berkembang. Obesitas pada anak juga perlu diwaspadai, karena jika berlanjut hingga dewasa biasanya lebih sulit diatasi, mungkin karena faktor penyebab yang sudah menahun dan sel-sel lemak yang sudah bertambah banyak dan bertambah besar ukurannya. Obesitas atau kegemukan di masa anak-anak bisa berisiko diabetes tipe 2, asma, darah tinggi, apnea, gangguan metabolisme glukosa, resistensi insulin, dislipidemia, gangguan hati, serta gangguan emosional di masa dewasa (Aini 2008). Menurut Hidayati, Irawan, Hidayat (2009), anak obes berisiko mengalami gangguan kesehatan seperti berikut ini:
Faktor Risiko Penyakit Kardiovaskuler
Faktor Risiko ini meliputi peningkatan kadar insulin, trigliserida, LDL-kolesterol dan tekanan darah sistolik serta penurunan kadar HDL- LDL-kolesterol. Anak obesitas cenderung mengalami peningkatan tekanan darah dan denyut jantung, sekitar 20-30% menderita hipertensi.
Diabetes Mellitus Tipe-2
Diabetes mellitus tipe-2 jarang ditemukan pada anak obesitas. Hampir semua anak obesitas dengan diabetes mellitus tipe-2 mempunyai IMT > + 3SD.
Obstruktive Sleep Apnea
Sering dijumpai pada anak obesitas dengan kejadian 1/100 dengan gejala mengorok. Penyebabnya adalah penebalan jaringan lemak di daerah dinding dada dan perut yang mengganggu pergerakan dinding dada dan diafragma, sehingga terjadi penurunan volume dan perubahan pola ventilasi paru serta meningkatkan beban kerja otot pernafasan.
Gangguan Ortopedik
Pada anak obesitas cenderung berisiko mengalami gangguan ortopedik yang disebabkan kelebihan berat badan, yaitu tergelincirnya epifisis kaput femoris yang menimbulkan gejala nyeri panggul atau lutut dan terbatasnya gerakan panggul.
Pseudotumor Serebri
Pseudotumor serebri akibat peningkatan ringan tekanan intrakranial pada
obesitas disebabkan oleh gangguan jantung dan paru-paru yang menyebabkan peningkatan kadar CO2 dan memberikan gejala sakit kepala, papil edema, diplopia, kehilangan lapangan pandang perifer dan iritabilitas.
KERANGKA PEMIKIRAN
Prevalensi anak yang menderita obesitas di Indonesia semakin meningkat. Banyak faktor yang memicu semakin meningkatnya angka obesitas pada anak, di antaranya adalah pengaruh parenteral fatness, karakteristik anak, karakteristik keluarga, aktifitas fisik, dan kebiasaan makan pada anak.
Parenteral fatness berkaitan dengan status gizi orang tua yang diketahui
dari IMT yang diukur berdasarkan berat badan dan tinggi badan. Seseorang mengalami obesitas dapat terjadi karena salah satu atau kedua orang tuanya mengalami obesitas pula. Menurut Effendi (2003) faktor keturunan berpengaruh terhadap gangguan keseimbangan energi. Bila kedua orang tua tidak gemuk, maka kemungkinan anak menjadi gemuk adalah 9%. Bila salah satu orang tua gemuk, maka kemungkinan anak menjadi gemuk adalah 41-51%, sedangkan bila kedua orang tua gemuk, maka kemungkinan anak menjadi gemuk sebesar 66-80%.
Karakteristik anak meliputi jenis kelamin, berat badan lahir, berat badan sekarang, dan tinggi badan sekarang. Karakteristik keluarga meliputi pendidikan orang tua, pendapatan keluarga, pengetahuan gizi ibu, dan pola konsumsi keluarga. Pengetahuan gizi ibu diukur dengan memberikan pertanyaan pada kuesioner yang ditujukan untuk ibu. Aktivitas fisik lebih menyoroti pada banyaknya waktu yang dihabiskan anak untuk tidur, menonton televisi, dan bermain di luar rumah dalam satu hari.
Kebiasaan makan mencakup riwayat makan anak dan konsumsi pangan. Riwayat makan yang diteliti adalah riwayat pemberian ASI, pemberian susu formula, dan pemberian makanan padat. Konsumsi pangan yang diteliti adalah konsumsi makan harian, konsumsi cemilan, konsumsi sayur dan buah, konsumsi makanan berlemak, konsumsi fast food, dan konsumsi soft drink. Konsumsi cemilan, soft drink, fast food, dan makanan berlemak diperkirakan dapat memberikan pengaruh terhadap tingkat konsumsi energi pada anak yang nantinya berhubungan dengan terjadinya obesitas pada anak. Kerangka pemikiran penelitian ini dapat digambar dalam skema di Gambar 1.
Keterangan:
: Variabel yang diteliti
: Variabel yang tidak diteliti
: Hubungan yang dianalisis : Hubungan yang tidak dianalisisGambar 1 Kerangka pemikiran faktor-faktor yang berhubungan dengan obesitas pada anak sekolah dasar di Kota Bogor
Karakteristik Anak Berat badan lahir Jenis kelamin Berat badan Tinggi badan
Obesitas
Kebiasaan Makan Anak Asupan zat gizi
Frekuensi konsumsi sayur dan buah Kebiasaan konsumsi cemilan Frekuensi konsumsi fast food Frekuensi konsumsi soft drink
Frekuensi konsumsi makanan berlemak
Riwayat Makan Anak Pemberian ASI
Pemberian susu formula Pemberian makanan
padat
Aktivitas Fisik Anak Jumlah waktu tidur Menonton televisi, main
game, dan internet Bermain di luar rumah Karakteristik Keluarga
Pendidikan orang tua Pendapatan keluarga Pengetahuan gizi ibu
Faktor Keturunan
(Parenteral fatness)
METODE
Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Penelitian diawali dengan survei pendahuluan dari beberapa Sekolah Dasar (SD) di Kota Bogor, dilanjutkan pengumpulan data lewat kuesioner pada bulan Mei sampai dengan September 2011. Penelitian dilakukan di SD Insan Kamil yang berada di Kota Bogor. Pemilihan SD yang dijadikan lokasi penelitian dilakukan secara
purposive dengan pertimbangan sekolah swasta yang rata-rata muridnya dari
keluarga ekonomi menengah ke atas, peluang memperoleh anak obes cukup tinggi, dan merupakan sekolah dengan kategori SD favorit di Kota Bogor.
Jumlah dan Cara Penarikan Contoh
Populasi dalam penelitian ini adalah anak sekolah dasar (SD) kelas IV dan V yang memiliki status gizi obes dan normal. Contoh pada penelitian ini yaitu anak sekolah dasar kelas IV dan V yang bersekolah di Sekolah Dasar Insan Kamil Bogor dengan status gizi obes dan normal. Kriteria inklusi anak obes adalah 1) laki-laki atau perempuan berusia 9-11 tahun dengan kondisi sehat; 2) memiliki status gizi obes (indeks z-skor >+2); 3) contoh bersedia mengikuti penelitian. Kriteria inklusi anak dengan status gizi normal adalah 1) laki-laki atau perempuan berusia 9-11 tahun dengan kondisi sehat; 2) memiliki status gizi normal (-2 < z-skor ≤ +1); 3) contoh bersedia mengikuti penelitian. Adapun kriteria eksklusinya adalah 1) contoh tidak bersedia mengikuti penelitian; 2) pengisian kuesioner yang tidak lengkap.
Pemilihan anak sekolah dasar kelas IV dan V dilakukan secara purposive dengan asumsi anak kelas IV dan V sudah dapat diajak berkomunikasi dengan baik, mengerti dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di dalam kuesioner, dan mampu mengisi kuesioner dengan baik. Sementara itu anak kelas VI tidak dijadikan contoh karena sudah sibuk dengan kegiatan Ujian Negara (UN). Status gizi contoh ditetapkan berdasarkan IMT menurut umur standar WHO 2007. Jumlah murid SD Insan Kamil adalah 1181 anak. Jumlah anak kelas 4 dan kelas 5 adalah sebanyak 398 anak. Penelitian diawali dengan pengukuran berat badan dan tinggi badan anak SD kelas IV dan V yang diperkirakan mengalami obesitas di SD Insan Kamil Bogor. Jumlah awal anak obes yang diperoleh saat penimbangan adalah 60 anak. Kemudian dilakukan pengukuran dan tinggi badan anak SD kelas IV dan V yang diperkirakan memiliki status gizi normal. Jumlah
awal anak yang memiliki status gizi normal saat penimbangan adalah 50 anak. Penentuan jumlah sampel minimal yang digunakan pada penelitian ini
menggunakan rumus: Keterangan :
Z = 1,96 ( = 0,05)
P = prevalensi gizi lebih pada anak di perkotaan (10,4%) d = toleransoi estimasi (10% atau 0,1)
Berdasarkan rumus, jumlah sampel minimal adalah 36 anak obes. Berdasarkan kelengkapan pengisian kuesioner, jumlah contoh yang dipilih dari 60 anak obes dan 50 anak dengan status gizi normal yaitu 40 anak obes dan 40 anak dengan status gizi normal.
Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer mencakup karakteristik anak (jenis kelamin, berat lahir anak, berat badan, dan tinggi badan anak), karakteristik keluarga (berat badan dan tinggi badan orang tua, pendidikan orang tua, pendapatan keluarga, dan pengetahuan gizi ibu), riwayat makan anak (pemberian ASI, pemberian susu formula, dan pemberian makanan padat), kebiasaan makan anak (konsumsi energi, protein, dan lemak, frekuensi konsumsi sayur dan buah, cemilan, fast
food dan soft drink, serta frekuensi konsumsi makanan berlemak), dan aktivitas
fisik anak (waktu tidur, lama menonton televisi, bermain game, internet, dan bermain di luar rumah).
Berat badan anak diukur langsung menggunakan timbangan injak yang telah dikalibrasi dengan ketelitian 0,5 kg, dan pengukuran tinggi badan anak menggunakan microtoise dengan ketelitian 0,1 cm. Data status gizi anak diperoleh dengan menggunakan indeks massa tubuh berdasarkan umur (IMT/U) dengan menggunakan software WHO Anthroplus 2007. Nama, umur, dan tanggal lahir anak diperoleh dengan pengisian kuesioner olah anak.
Data berat lahir anak, karakteristik keluarga (berat badan dan tinggi badan orang tua, pendidikan orang tua, pendapatan keluarga, dan pengetahuan gizi ibu) dan riwayat makan anak (pemberian ASI, pemberian susu formula, dan pemberian makanan padat) diperoleh dari kuesioner yang diisi oleh orang tua anak di rumah. 2 2 2 / 1 (1 ) d P P z n
Konsumsi pangan anak diketahui dengan pencatatan makanan (food
record) selama 1x24 jam pada hari libur dan food recall selama 1x24 jam pada
hari sekolah. Konsumsi pangan anak pada hari libur (food record) diperoleh dari kuesioner yang diisi oleh contoh, disertai dengan keterangan lengkap cara pengisian dan contoh pengisian. Konsumsi pangan anak pada hari sekolah (food
recall) diperoleh dari pencatatan kuesioner dengan metode wawancara. Pola
konsumsi anak yang terdiri dari frekuensi konsumsi sayur dan buah, cemilan, fast
food dan soft drink, serta frekuensi konsumsi makanan berlemak diperoleh
menggunakan kuesioner yang diisi oleh anak yang sebelumnya telah mendapat penjelasan tentang cara pengisiannya dari peneliti.
Data aktivitas fisik anak yang terdiri dari alokasi waktu tidur; lama menonton televisi, bermain game, dan internet; dan bermain di luar rumah diperoleh dari pencatatan kuesioner mengenai alokasi waktu kegiatan yang dilakukan dalam waktu 2x24 jam, yaitu satu hari sekolah dan satu hari libur dengan metode wawancara. Secara lengkap kuesioner penelitian untuk orang tua dan anak disajikan pada Lampiran 1.
Pemantauan pengisian kuesioner dilakukan dengan bantuan pihak sekolah. Setiap anak mendapatkan surat pengantar dari sekolah untuk orang tua yang juga menerangkan cara pengisisan kuesioner sehingga orang tua akan lebih mudah mengisinya. Pengumpulan kuesioner dari tiap anak dibantu oleh pihak sekolah. Kuesioner yang terkumpul kemudian diperiksa kelengkapan pengisiannya oleh peneliti. Data sekunder meliputi keadaan umum sekolah (letak sekolah, kegiatan ekstrakulikuler sekolah, jadwal kegiatan belajar mengajar di sekolah), dan data murid SD Insan Kamil Bogor (nama, tanggal lahir, dan jenis kelamin). Untuk lebih jelasnya jenis dan cara pengumpulan data primer dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Jenis dan cara pengumpulan data
No. Variabel Jenis Data Cara Pengumpulan Data
1. Karakteristik anak
- Jenis kelamin - Berat lahir anak - Berat badan
- Tinggi badan
- Pengisian kuesioner (jenis kelamin dan berat lahir anak) - Timbangan injak dengan
ketelitian 0.5 kg
- Microtoise dengan ketelitian 0.1 cm
2. Karakteristik keluarga
- Berat badan dan tinggi badan orang tua - Pendidikan orang tua - Pendapatan keluarga - Pengetahuan gizi ibu
- Pengisian kuesioner (berat badan, tinggi badan,
pendidikan, dan pendapatan keluarga)
- Pengisisan kuesioner yang berisikan pertanyaan tentang pengetahuan gizi seimbang dan obesitas (pengetahuan gizi ibu)
3. Riwayat makan anak
- Pemberian ASI
- Pemberian susu formula - Pemberian makanan
padat
- Pengisian kuesioner oleh orang tua anak
4. Kebiasaan makan anak
- Pangan harian
Pola konsumsi: - Cemilan
- Sayur dan buah - Fast food - Soft drink
- Makanan berlemak
- Food Record 1x24 jam pada hari libur dan food recall 1x24 pada hari sekolah
- Food frequency questionnaire (FFQ) (konsumsi sayur, buah, cemilan, makanan berlemak, makanan manis, fast food, dan soft drink)
5. Aktifitas fisik anak
- Waktu tidur
- Lama menonton televisi, bermain game, dan internet
- Bermain di luar rumah
- Pengisian kuesioner dengan metode pencatatan dan wawancara 2 x 24 jam selama 1 hari sekolah dan 1 hari libur
Pengolahan dan Analisis Data
Proses pengolahan data meliputi editing, coding, entry, cleaning, dan analisis. Proses editing adalah pemeriksaan seluruh kuesioner setelah data terkumpul. Coding adalah pemberian angka atau kode tertentu yang telah disepakati terhadap jawaban-jawaban pertanyaan dalam kuesioner, sehingga memudahkan pada saat memasukkan data ke komputer. Entry adalah memasukkan data jawaban kuesioner sesuai kode yang telah ditentukan untuk masing-masing variabel sehingga menjadi suatu data dasar. Cleaning yaitu melakukan pengecekan terhadap isian data yang di luar pilihan jawaban yang disediakan kuesioner atau isian data yang di luar kewajaran. Data yang telah diperoleh kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia menggunakan program komputer.
Data status gizi anak diperoleh dengan menggunakan indeks massa tubuh berdasarkan umur (IMT/U) dengan menggunakan software WHO Anthroplus 2007. Hasil yang diperoleh berdasarkan indikator IMT/U dikategorikan ke dalam status serve underweight (=-3SD), underweight (-3SD<Z<-2SD), normal (-2SD<Z<+1SD), overweight (+1SD<Z<+2SD), obese (+2SD<Z<+3SD) dan severe obese (>+3SD) (Soekirman 2000).
Data berat badan dan tinggi badan orang tua digunakan untuk menghitung IMT orang tua anak. IMT dihitung dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat tinggi badan (m2). Hasil yang diperoleh kemudian dikategorikan ke dalam status gizi kurus (≤18,50), normal (18,50-24,99),
overweight (25,00-29,99), dan obes (≥30,00) (WHO 2005).
Data pengetahuan gizi diukur dengan cara memberikan skor terhadap setiap jawaban pertanyaan mengenai tingkat pengetahuan gizi. Data pengetahuan gizi ibu diperoleh dengan memberikan 20 buah pertanyaan pilihan ganda dengan memilih jawaban yang paling benar (correct-answer multiple
choice) dalam bentuk kuesioner. Skor jawaban ibu setiap satu pertanyaan diberi
skor satu (1) bila memilih jawaban benar dan skor nol (0) bila memilih jawaban yang salah atau tidak memilih jawaban. Tingkat pengetahuan ibu anak obes dan normal tentang gizi dihitung dengan cara menjumlahkan skor dan dikelompokkan menjadi tiga kategori tingkat pengetahuan, yaitu kurang jika skor nilai kurang dari 60% (<60%), cukup jika skor antara 60-80%, dan baik jika lebih dari 80% (>80%) (Khomsan 2000). Pengkategorian variabel penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Pengkategorian variabel penelitian
No. Variabel Kategori
1. Jenis kelamin 1. Laki-laki
2. Perempuan
2. Berat badan lahir 1. Normal
2. BBLR/Lebih 3. Status gizi ayah
(WHO 2005)
1. Kurus 2. Normal 3. Overweight 4. Obes 4. Status gizi ibu
(WHO 2005)
1. Kurus 2. Normal 3. Overweight 4. Obes 5. Pendidikan orang tua
1. SD/sederajat 2. SMP/sederajat 3. SMA/sederajat
4. Perguruan tinggi/sederajat 6. Pendapatan keluarga perbulan
1. < 3.000.000
2. 3.000.000–5.000.000 3. 5.000.000–10.000.000 4. > 10.000.000
7. Pengetahuan gizi ibu (Khomsan 2000)
1. Kurang : <60% 2. Sedang : 60%-80% 3. Baik : >80%
8. Tingkat kecukupan energi (TKE) (Depkes 1996)
1. Defisit tingkat berat : <70% AKG 2. Defisit tingkat sedang : 70-79% AKG
3. Kurang : 80-89 % AKG
4. Cukup : 90-119% AKG
5. Lebih : ≥120% AKG
9. Tingkat kecukupan protein (TKP) (Depkes 1996)
1. Defisit tingkat berat : <70% AKG 2. Defisit tingkat sedang : 70-79% AKG
3. Kurang : 80-89 % AKG 4. Cukup : 90-119% AKG 5. Lebih : ≥120% AKG 10. Konsumsi sayur 1. Setiap hari 2. 4-6 kali/minggu 3. 1-3 kali/minggu 4. Tidak pernah 11. Konsumsi buah 1. Setiap hari 2. 4-6 kali/minggu 3. 1-3 kali/minggu 4. Tidak pernah 12. Konsumsi cemilan 1. Ya 2. Tidak 13. Konsumsi fast food
1. Tidak pernah 2. 1-3 kali/minggu 3. 4-6 kali/minggu 4. Setiap hari 14. Konsumsi soft drink
1. Tidak pernah 2. 1-3 kali/minggu 3. 4-6 kali/minggu 4. Setiap hari 15. Konsumsi makanan berlemak
1. Tidak pernah 2. 1-3 kali/minggu 3. 4-6 kali/minggu 4. Setiap hari
16. Waktu tidur 1. ≤8 Jam
2. >8 Jam 17. Menonton televisi, bermain game, dan
internet
1. ≤2 Jam 2. >2 Jam
18. Bermain di luar 1. ≥2 Jam