DAFTAR LAMPIRAN
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1Hasil
Kecernaan merupakan kemampuan suatu organisme untuk mencerna pakan, sehingga organisme tersebut mampu mengabsorbsi atau menyerap nutrien dari pakan untuk hidup, tumbuh dan berkembang. Hasil parameter kecernaan dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Nilai kecernaan protein, energi, bahan, dan total
Parameter Kecernaan Perlakuan
A B C D
Protein (%) 64,34±2,24b 72,50±1,82a 74,19±1,37a 72,54±1,88a
Energi (%) 69,23±0,92b 66,93±2,87b 72,86±1,55a 72,98±1,22a
Bahan (%) 62,82±7,46b 64,96±13,38b 77,95±11,61ab 86,49±4,43a
Total (%) 60,06±2,24ab 60,70±4,01b 64,60±3,48a 67,16±1,33a Keterangan :1) Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada baris yang sama, menunjukkan bahwa
perlakuan tersebut memberikan respons yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Data menunjukan rata-rata ± SD.
2) A (Kontrol jagung), B (Jagung+NaOH),C (Jagung+Kapang), D (Jagung+Bakteri).
Hasil analisis data penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang diuji memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) terhadap parameter. Sehingga perlu dilakukan uji lanjut menggunakan Duncan untuk mengetahui perlakuan yang memberikan respons yang berbeda terhadap masing-masing parameter. Kecernaan protein bahan pakan C (jagung+kapang) menunjukkan hasil tertinggi dibandingkan bahan pakan lainnya yaitu sebesar 74,19%. Nilai kecernaan energi yang tertinggi terdapat pada bahan pakan D (jagung+bakteri) dengan hasil 72,98%. Nilai kecernaan bahan yang tertinggi dan memberikan respons yang berbeda nyata (P<0,05) pada pakan jagung kontrol terdapat pada bahan pakan D (jagung+bakteri) dengan hasil 86,49%. Nilai kecernaan total pada bahan pakan D (jagung+bakteri) juga lebih tinggi dan memberikan respons yang berbeda nyata (P<0,05) pada pakan jagung kontrol dibandingkan bahan pakan lain yaitu sebesar 67,16%.
3.2 Pembahasan
Protein adalah kumpulan asam amino yang membentuk rantai dengan ikatan peptida (NRC 1993). Protein merupakan salah satu sumber energi yang dibutuhkan oleh tubuh ikan. Sumber protein dapat berupa sumber protein hewani
10 dan protein nabati. Salah satu sumber protein nabati yang dapat dipakai dalam pakan selain tepung bungkil kedelai adalah tepung jagung. Jagung mengandung nutrien berupa karbohidrat sebanyak 71%–73% yang sebagian besar terdiri dari pati, serta mengandung 10% protein (Moentono et al. 1994 dalam Rawiniwati 1998).
Menurut Hertrampf dan Pascual (2000) kelemahan bahan baku pakan yang berasal dari bahan nabati yaitu adanya zat anti-nutrisi, kecernaan bahan rendah dan serat kasar yang tinggi yang dapat mempengaruhi kecernaan pakan. Selain itu, Halver (1989) juga menyatakan bahwa ikan lebih memanfaatkan protein dan lemak sebagai sumber energi dibandingkan karbohidrat yang disebabkan oleh terbatasnya kemampuan ikan untuk memanfaatkan karbohidrat. Untuk mengatasi kendala ini maka perlu dilakukan pengolahan lebih lanjut, salah satunya adalah melalui proses fermentasi dan perendaman menggunakan larutan kimia. Fermentasi merupakan kegiatan pengolahan bahan dengan menggunakan mikroorganisme sebagai pemeran utama dalam suatu proses (Fardiaz 1988).
Kecernaan adalah bagian pakan yang dikonsumsi dan tidak dikeluarkan menjadi feses (Maynard et al. 1979 dalam Indariyanti 2011). Proses pencernaan makanan yang tadinya merupakan senyawa kompleks akan dipecah menjadi senyawa yang lebih sederhana, sehingga mudah diserap melalui dinding usus dan disebarkan ke seluruh tubuh melalui sisitem peredaran darah (Indariyanti 2011). Berdasarkan Tabel 5 Pakan B, C dan D memiliki pengaruh yang sama (P<0.05) terhadap kecernaan protein, namun pakan perlakuan ini berbeda nyata dengan pakan kontrol yaitu bahan pakan jagung (pakan A). Kecernaan protein perlakuan bahan pakan C memiliki nilai yang lebih tinggi dengan presentase yaitu sebesar 74,19% dibandingkan dengan pakan A yaitu sebesar 64,34%. Perlakuan pakan C juga selain dapat meningkatkan nilai protein dapat menurunkan serat kasar bahan dari 5,32% menjadi 4,59% (Tabel 3). Bahan pakan C memiliki presentase kecernaan proteinnya lebih tinggi, hal ini diduga bahwa kapang yang digunakan memiliki kandungan enzim yang dapat menaikkan nilai protein pada bahan jagung dan biomassa kapang jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan bakteri. Hal tersebut diperkuat menurut Ugwuanyi et al. (2009) dalam Endriani (2011) penggunaan mikroorganisme dalam kegiatan fermentasi menyebabkan
11 peningkatan protein, adanya produksi enzim, dan pengurangan zat racun yang dikandung oleh suatu bahan. Kapang yang digunakan dalam bahan pakan C berupa kapang konsorsium yaitu Trichoderma viridae dan Phanerochaete chrysosporium. Menurut Poesponegoro (1976) dalam Niken (2011) Trichoderma viridae mempunyai kemampuan meningkatkan protein bahan pakan dan pada bahan berselulosa dapat merangsang dikeluarkannya enzim selulase.
Kapang Trichoderma viridae yang digunakan pada pakan C memiliki kekurangan tidak dapat mendegradasi lignin, sehingga dalam fermentasi pakan C selain menggunakan Trichoderma viridae digunakan pula kapang Phanerochaete chrysosporium yang dapat mendegradasi lignin dan senyawa turunannya secara efektif dengan cara menghasilkan enzim peroksidase ekstraseluler yang berupa lignin peroksidase (LIP) dan mangan peroksidase (MnP) yang sama efektifitasnya dengan H2O2 (Vallin et al. 1992 dalam Hidayat 1994). Sehingga memudahkan ikan untuk mencerna dan menyerap nutrien yang terdapat pada pakan termasuk protein.
Proses fermentasi mampu memberikan pengaruh yang baik seperti memperbaiki kualitas bahan dan menurunkan serat kasar, sehingga mudah dicerna oleh ikan. Dengan demikian ikan yang diberi pakan C mampu untuk mencerna nutrien yang terdapat dalam pakan yang kemudian akan dimanfaatkan sebagai energi tubuh. Menurut Oboh (2006) fermentasi dapat meningkatkan kandungan nutrisi suatu bahan, meningkatkan kualitas protein dan kecernaan serat yaitu dengan menurunkan kandungan serat kasar yang menyebabkan pakan lebih mudah dicerna oleh ikan. Protein merupakan makromolekul pertama yang dilisis dan dicerna oleh ikan, kemudian diserap ke dalam usus dan didistribusikan melalui saluran darah (National Academy of Sciences 1983).
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 5 menunjukkan parameter kecernaan energi, bahan dan total yang diuji menggunakan perlakuan bahan pakan D memiliki nilai yang tertinggi dan memberikan respons berbeda nyata (P<0,05) pada bahan pakan jagung kontrol (A) dan bahan perlakuan yang lain (pakan B dan C). Bahan pakan D merupakan bahan jagung yang difermentasi menggunakan bakteri Bacillus megaterium. Nilai kecernaan pakan D memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan pakan A yakni pada parameter nilai kecernaan energi
12 mencapai sebesar 72,98% pada pakan D sedangkan pakan A sebesar 69,23%, untuk nilai kecernaan bahan pakan D sebesar 86,49%, pakan A 62,82%, dan kecernaan total sebesar 67,16% sedangkan pakan A yaitu sebesar 60,06%. Selain itu, tingginya nilai kecernaan energi, bahan dan total terjadi karena pakan D juga dapat menurunkan serat kasar dari 5,32% menjadi 4,17% (Tabel 3). Kecernaan energi menyatakan seberapa besar energi pakan (karbohidrat, protein, lemak) yang dapat diserap ikan ke dalam tubuhnya (Silva 1989). Kecernaan bahan merupakan seberapa besar material yang dapat dicerna atau dimanfaatkan oleh ikan.
Penjelasan hasil di atas menunjukkan bahwa hal tersebut dikarenakan kandungan serat dan kabohidrat yang terdapat pada bahan pakan D dapat dihidrolisis oleh bakteri Bacillus megaterium sehingga menyebabkan pakan yang difermentasi dengan bakteri ini mudah dicerna oleh ikan nila. Sehingga hal tersebut mempengaruhi kenaikan nilai kecernaan bahan, kecernaan energi dan kecernaan total. Hal ini diperkuat menurut Halver (1989) semakin tinggi nilai kecernaan energi suatu pakan, maka jumlah energi yang tersimpan di dalam tubuh ikan ikut meningkat. Bakteri Bacillus megaterium ini diduga memiliki kemampuan menghidrolisis protein dan memiliki enzim yang mampu mencerna untuk pakan ikan tersebut. Hal ini diperkuat berdasarkan Martien et al. (1995) dalam Luders et al. (2010) Bacillus megaterium menghasilkan enzim ekstraseluler yang lengkap (protease, amilase, dan lipase) dapat menghidrolisis protein.
Pakan D memiliki kecernaan energinya lebih tinggi yaitu sebesar 72,98%, selain dari penjelasan di atas diguga adanya beberapa faktor yang mempengaruhi naiknya kecernaan energi. Hal ini diperkuat menurut Halver (1989) menyatakan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi kecernaan energi pada ikan diantaranya spesies, stadia, aktivitas, dan temperatur. Dengan demikian ikan yang diberi bahan pakan D mampu untuk mencerna nutrien yang terdapat dalam pakan yang kemudian akan dimanfaatkan sebagai energi tubuh. Hal ini menunjukkan ikan nila mampu memanfaatkan karbohidrat dan lemak dengan baik sebagai sumber energi karena merupakan ikan yang termasuk cenderung hebivor yang dapat memakan biji-bijian seperti jagung. Menurut Pandian (1989), ikan herbivor dan ikan omnivor lebih mampu menyerap energi yang bukan berasal dari protein. Hal tersebut diperkuat menurut Silva et al. (2000) bahwa kemampuan
13 ikan dalam memanfaatkan komponen pakan selain protein memberikan andil yang cukup besar dalam kecernaan energi (protein sparing effect) dengan menggunakan lemak dan kabohidrat sebagai sumber energi. Selain itu, semakin efektif aktivitas enzim menghidrolisis fraksi serat, semakin banyak senyawa yang dapat dicerna, sehingga kandungan serat kasar turun.
Nilai kecernaan menyatakan banyaknya komposisi nutrien suatu bahan maupun energi yang dapat diserap dan digunakan oleh ikan (NRC 1993). Peningkatan nilai kecernaan pada bahan pakan dengan campuran 30% bahan fermentasi tidak hanya disebabkan penurunan serat kasar maupun peningkatan nilai protein, tetapi juga oleh adanya penurunan nilai zat anti-nutrisi pada bahan. Keberadaan zat anti-nutrisi dalam bahan nabati menjadi salah satu kendala pemanfaatan bahan nabati dalam komponen pakan. Beberapa zat anti-nutrisi yang terdapat dalam bahan nabati adalah HCN (asam sianida), fitat, tannin, dan asam siklopropenoat (Oboh 2006). Penurunan zat anti-nutrisi pada bahan akan mendukung kecernaan suatu bahan pakan.
Berdasarkan Tabel 5 Pakan B juga memiliki kecernaan protein, bahan, energi, bahan dan total lebih tinggi dibandingkan pakan kontrol. Hal ini disebabkan karena proses perendaman menggunakan larutan NaOH mampu menurunkan kadar serat kasar. Perendaman jagung menggunakan bahan larutan alkali (NaOH) menjadikannya mudah dicerna oleh ikan. Hal tersebut dikuatkan menurut Sjostrom (1993) NaOH terdapat indikasi adanya ikatan antara lignin dan selulosa yang dapat dipecah oleh alkali. Sedangkan kecernaan pakan kontrol jagung memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan pakan perlakuan, hal ini karena tidak ada mikroorganisme yang membantu dalam menghidrosisi selulosa yang terdapat pada jagung dan tidak mendegradasi anti-nutrisi yang dapat menghambat daya cerna ikan pada pakan tersebut.
Perbaikan kualitas bahan melalui fermentasi belum tentu memberikan pengaruh baik terhadap penerimaan pakan pada ikan. Berdasarkan Lampiran 10, tampak bahwa feed convertion ratio (FCR) pakan dengan campuran fermentasi lebih tinggi dibandingkan pakan jagung kontrol yaitu pada perlakuan C dengan FCR sebesar 1,88% dan pakan D sebesar 2,04%. Tingginya FCR diduga akibat tingginya palatabilitas ikan terhadap pakan. Fermentasi pada bahan menyebabkan
14 terjadinya perubahan aroma dan rasa (Balia 2004). Perubahan aroma dan rasa pada bahan baku tentunya akan berpengaruh pada pakan dengan campuran bahan tersebut terutama dalam hal aroma. Dengan penggunaan bahan fermentasi, aroma tepung ikan yang dominan di dalam pakan tertutupi oleh aroma bahan fermentasi (Endriani 2011).
Tingkat kelangsungan hidup ikan pada perlakuan pakan D memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan pakan A, B, dan C yaitu pada ulangan pertama sebesar 90%, ulangan kedua 80%, dan ulangan ketiga sebesar 60% (Lampiran 8). Sedangkan untuk perlakuan pakan A, B dan C memiliki kelangsungan hidup yang lebih rendah dan untuk pertumbuhannya atau spesifik growth rate (SGR) semua pakan perlakuan maupun jagung kontrol memiliki nilai yang sangat rendah (lampiran 9). Hal ini disebabkan karena banyaknya ikan yang mati tidak disebabkan oleh pengaruh pakan, tetapi dikarenakan adanya faktor eksternal pada ikan yaitu ikan mengalami stress dan adanya ikan yang saling berkelahi satu dengan ikan yang lain. Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan diantaranya adalah keseimbangan antara rasio energi dan protein serta faktor internal dan eksternal (Tytler & Calow 1985 dalam Endriani 2011).
15
IV. KESIMPULAN
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa cara pengolahan bahan baku jagung yang terbaik adalah perlakuan bahan pakan D yaitu fermentasi yang menggunakan bakteri Bacillus megaterium. Nilai parameter kecernaan pakan perlakuan D yang tertinggi terdapat pada kecernaan energi sebesar 72,98%, kecernaan bahan sebesar 86,49% dan kecernaan total sebesar 67,16%.
16
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Kedelai Mahal, Disperindag Jawa Timur Rapatkan Barisan.
http://www.kabarbisnis.com [ 27 Desember 2011].
Arifin, Z. 1996. Optimasi Aktivitas Protease Bacillus megaterium dan Micrococcus luteus Hasil Isolasi dari Teripang (Holothuria sp.) dan Cumi-Cumi (Loligo sp). [Skripsi]. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Hal 8
Balia R. L. 2004. Potensi dan prospek yeast (khamir) dalam meningkatkan diversifikasi pangan di Indonesia. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Ilmu Mutu Pangan. Fakultas Peternakan, Universitas Padjajaran. Bandung. p. 10-22.
Data Statistik Kelautan dan Perikanan. 2011. Statistik Konsumsi Ikan.
http://statistik.kkp.go.id/Statistik Konsumsi Ikan [15 November 2011].
Endriani, G. 2011. Evaluasi Kualitas dan Kecernaan Biji Karet Havea brasiliensis, Biji Kapuk Gossypum hirsitum, Kulit Singkong Manihot utilissima, Palm Kernel Meal Elaeisguineensis, Kopra Cocos nucifera Tanpa dan Dengan Fermentasi oleh Saccharomyces cerevisiae pada Juvenil Ikan Mas Cyprinus carpio. [Skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Hal 15-18
El Sayed M, Fattah MA. 1999. Alternative dietary protein source for farmed tilapia Oreochromis sp. Aquaculture 179: 149-106.
Fardiaz, S. 1988. Fisiologi Fermentasi. Pusat Antar Universitas, Institut Pertanian Bogor. p. 1. Hal 1
Furuichi, M. 1988. Dietary Requirement, p 8-78. In Watanabe, T. (ed). Fish Nutrition and Mariculture. Department of Aquatic Biosince. Tokyo University of Fisheries. JICA. 233pp.
Hadadi A, Herry, Setyorini, A. Surahman, E. Ridwan. 2007. Pemanfaatan Limbah Sawit Untuk Bahan Pakan Ikan. [Jurnal]. Budidaya Air Tawar, 4/1 Mei 2007. Hal 11-12
Halver, E.J. 1989. Fish Nutrition. School of Fisheries., University of Washington Seattle, Academic Press. Inc, Washington, p117.
Hertrampf J. W., Pascual F. P. 2000. Handbook Ingredients for Aquaculture Feeds. Kluwer Academic Publisher. London. p. 445-454.
17 Hidayat, A. 1994. Biopulpig, Kajian Pembuatan Pulp Dari Bahan Baku Bagas Dengan Memanfaatkan Fungi Phanerochaete chrysosporium. [Skripsi]. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Hal 4
Indriyanti, N. 2011. Evaluasi Kecernaan Campuran Bungkil Inti Sawit dan Onggok yang Difermentai Oleh Trichoderma harzianum Rifai Untuk Pakan Nila Oreochromis Sp. [Tesis]. Program Pasca Sajarna. Institut Pertanian Bogor. Hal 21
Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2010. Data base of existing condition on Indonesian marine and fisheries. http://www.kkp.go.id [29 Januari 2011].
Luders Svenja, Florian David, Miriam Steinwand, Eva Jordan, Michael Hust, Stefan Dubel, Ezequiel Franco-Lara. 2011. Influence of the hydromechanical stress and temperature on growth and antibody fragment
production with Bacillus megaterium. Appl Microbiol Biotechnol (2011)
91:81–90 DOI 10.1007/s00253-011-3193-7.
Nafiah, YI. 2009. Kajian Sifat Fisik-Kimia Jagung (zea mays) Pipilan Pasca Proses Pengeringan dan Fermentasi dengan Penambahan Asam Propionat dan Molase Selama Penyimpanan. [Tesis]. Program Pasca Sajarna. Institut Pertanian Bogor. Hal 4-5.
National Academy of Sciences. 1983. Nutrient Requirement of Warm water Fishes and Shellfishes. National Academy Press: Washington Dc. p. 1-42.
Niken. 2011. Mengenal Lebih Jelas Trichoderma viride. Journal.
http://ayyaa.multiply.com/journal/item/27/Mengenal_Lebih_Jelas_Trichoder ma_viride [23 Maret 2011].
[NRC] Nutritional Research Council. 1993. Nutrient Requirement of Fish. National Academic Press, Washington DC. 115pp.
Oboh, G. 2006. Nutrient enrichment of Cassava peels using a mixed culture of Saccharomyces cerevisae and Lactobacillus spp. Solid media fermentation techniques.Biotechnology. 9 (1). 46-48.
Pandian T.J. 1989. Protein Requirement of fish and prawns cultured in Asia, p.11-19. In S.S. De Silva (ed.) Fish Nutrition Research in Asia. Proceedings of the Third Asian Fish Nutrition network Meeting. Asian Fish. Soc. Spec. Pubhl.4. Asian Fisheris Society, Manila, Philippines. 166 p
Rawiniwati, W. 1998. Peran Beberapa Fungsi Selulotik pada Laju Pengomposan Limbah Tanaman dan Aplikasinya pada Jagung (Zea mays L). [Tesis]. Program Pasca Sajarna. Institut Pertanian Bogor. Hal 25.
18 Suarni dan S. Widowati. 2005. Struktur, Komposisi, dan Nutrisi Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia dan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Bogor. Hal 412
Suprayudi. 2010. Bahan Baku Pakan Lokal. Tantangan dan Harapan Akuakultur Indonesia. Disampaikan dalam: Simposium Nasional Bioteknologi Akuakultur III. IPB International Convention Center. Bogor.
Sjostrom, E. 1993. Wood Chemistry, Foundamental and Aplication. Academic Press, Inc. Colorado.
Silva, D. 1989. Digestibility evaluations of natural and artificial diets, p. 36-45. In S.S. De Silva (ed.) Fish Nutrition Research in Asia. Proceedings of the Third Asian Fish Nutrition network Meeting. Asian Fish. Soc. Spec. Pubhl.4. Asian Fisheris Society, Manila, Philippines. 166 p
Steel, R. G. D. dan J. H. Torrie. 1984 Principle and Procedures of Statistics, A. Biometrical Approach. International Student and Ms. Graw Hill Kogakusha Limited. Tokyo, 784
Takeuchi, T. 1988. Laboratory work chemical evaluation of dietary nutrients, p.179-225. In Fish Nutrition and Mariculture. Watanabe, T (ed.). Departement of Aquatic Bioscience. Tokyo University of Fisheries.
Watanabe, T. 1988. Fish and Nutrition and Mariculture. Departement of Aquatic Bioscience. Tokyo University of fisheries. JICA. P:79-82
Widyanti, W. 2009. Kinerja Pertumbuhan Ikan Nila Oreochromis niloticus Yang Diberi Berbagai Dosis Enzim Cairan Rumen Pada Pakan Berbasis Daun Lamtorogung Leucaena leucocephala. [Skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Hal 1
19
Lampiran 1. Jadwal kegiatan
Kegiatan penelitian dilaksanakan Bulan Mei-Juli 2011 sebagai berikut :
No. Kegiatan Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3
1. Tahap Persiapan wadah 2. Tahap perlakuan 3. Tahap pembuatan pakan 4. Tahap pemberian pakan 5. Pengambilan fese 6. Uji Proksimat 7. Sampling 8. Analisa data
20
Lampiran 2. Analisis proksimat