• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil dan Pembahasan

Hasil pengumpulan data ini merupakan hasil dari pengumpulan data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari sampel menggunakan kuesioner SGRQ di Poliklinik paru RS USU. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan teknik consecutive sampling. Terdapat sebanyak 53 orang yang menjadi responden pada penelitian ini. Data yang dikumpulkan kemudian akan dianalisis dalam bentuk univariat untuk melihat distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan, status merokok, pekerjaan, lama menderita PPOK dan kualitas hidup.

Tabel 4.1 Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

Jenis kelamin Jumlah (n) Persentasi (%)

Laki-laki 45 84,9

Perempuan 8 15,1

Total 53 100,0

Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat bahwa dari 53 responden terdapat 45 responden (84,9%) dengan jenis kelamin laki-laki dan 8 responden (15,1%) dengan jenis kelamin perempuan. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Fajrin dkk di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau dengan mayoritas penderita PPOK dengan jenis kelamin laki-laki sebesar 88,4% (Fajrin et al., 2015), Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Fadhil dkk di RSUP

24

menunjukkan penderita PPOK mayoritas dengan jenis kelamin laki-laki sebesar 100% (Naser et al., 2016). Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 juga diperoleh proporsi perokok laki-laki sebesar 47,3%. (Kementerian Kesehatan RI, 2018). Hal ini dikaitkan dengan merokok yang merupakan faktor risiko utama kejadian PPOK sesuai dengan panduan GOLD 2020.(2020 Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease, 2020)

Tabel 4.2Karakteristik responden berdasarkan usia

Usia Jumlah (n) Frekuensi (%)

Dewasa 5 9,4

Lansia 48 90,6

Total 53 100.0

Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat bahwa dari 53 responden terdapat 5 responden (9,4%) dengan usia dewasa dan 48 responden (90,6%) dengan usia lansia.

Pembagian usia ini sesuai dengan kriteria WHO bahwa usia >60 tahun keatas termasuk kategori lansia sedangkan dewasa awal 26-35 tahun dan dewasa akhir 36-45 tahun (WHO, 2015). Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan di Korea selatan dan Belanda dengan mayoritas penderita PPOK merupakan lansia dan risiko akan meningkat seiring bertambahnya usia (Rosha et al., 2018)Gejala PPOK jarang muncul pada usia muda umumnya setelah usia 50 tahun ke atas, paling tinggi pada laki-laki usia 55-74 tahun. Hal ini dikarenakan keluhan muncul bila terpapar asap rokok yang terus menerus dan berlangsung lama(Salawati, 2016). Hal ini sesuai dengan pengertian bahwa PPOK merupakan penyakit paru yang paling umum dan sering dikaitkan dengan riwayat merokok dan bertambahnya usia (Safka et al., 2017).

Tabel 4.3 Karakteristik responden berdasarkan sosiodemografi

Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%)

Pendidikan

Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat bahwa berdasarkan tingkat pendidikan penderita PPOK terbanyak adalah tamatan SMA sebanyak 32 responden (32%), dan terendah tamat SD sebanyak 4 responden (7,5%).

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Lizabetah dkk bahwa tingkat pendidikan penderita PPOK adalah SMA sebesar 40% (Jalan et al., 2017). Hal ini menunjukkan pendidikan yang tinggi tidak menjamin kesadaran untuk mencegah terjadinya PPOK(Sidabutar, 2012). Sedangkan berdasarkan pekerjaan yang tertinggi pensiun sebanyak 35 responden (66,0%), dan terendah Petani, PNS, Satpam, Buruh dengan masing-masing 1 responden (1,9%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Nia dkk bahwa berdasarkan pekerjaan tertinggi yaitu pensiun sebesar 55%

(Permatasari et al., 2016). Hal ini bukan berarti pekerjaan tidak berkaitan dengan kejadian PPOK. PPOK adalah penyakit yang dapat dicegah dan diobati dengan beberapa efek ekstrapulmonal yang signifikan yang dapat berkontribusi terhadap keparahan pada individu; yang ditandai dengan keterbatasan jalan napas yang tidak sepenuhnya reversibel dan bersifat progresif serta berhubungan dengan respon inflamasi yang abnormal dalam paru dari partikel berbahaya atau gas beracun(Fisiologi et al., 2014). Kemungkinan penderita sudah menderita PPOK semasa bekerja namun

26

karena gejala yang masih ringan, penderita lalu menghiraukannya.

(Sidabutar, 2012)

Tabel 4.4 Karakteristik responden berdasarkan riwayat merokok

Karakteristik Jumlah (n) Frekuensi (%)

Merokok 43 81,1

Tidak Merokok 10 18,9

Total 53 100,0

Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat bahwa berdasarkan riwayat merokok dari 53 responden terdapat 43 responden (81,1%) mempunyai kebiasaan merokok sedangkan 10 responden (18,9%) tidak merokok. Merokok merupakan faktor risiko utama terjadinya PPOK(2020 Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease, 2020). Asap rokok merupakan faktor risiko terpenting terjadinya PPOK. Prevalens tertinggi terjadinya gangguan respirasi dan penurunan faal paru adalah pada perokok(Sugiharti and Sondari, 2016). Didalam rokok terdapat ribuan radikal bebas dan bahan iritan berbahaya yang dapat masuk melalui saluran pernapasan yang mampu menempel dan membakar silia sehingga lambat laun terjadi penumpukan bahan iritan dan menyebabkan infeksi. Apabila kondisi tersebut berlanjut maka akan terjadi radang dan penyempitan saluran napas yaitu PPOK.(Susanti, 2015)

Tabel 4.5 Karakteristik responden berdasarkan kualitas hidup Karakteristik Jumlah (n) Frekuensi (%)

Baik 8 15,1

Buruk 45 84,9

Total 53 100,0

Berdasarkan tabel 4.5 dapat dilihat bahwa berdasarkan kualitas hidup dari 53 responden terdapat 8 responden (15,1%) dengan kualitas hidup baik dan 45 responden (84,9%) dengan kualitas hidup buruk. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Muthaimanah dkk bahwa pasien PPOK memiliki kualitas hidup yang buruk sebesar 61,97% (Al, 2015). Sesak napas merupakan gejala utama pada

pasien PPOK, hubungan antara sesak napas dan kualitas hidup sebelumnya sudah dilaporkan pada beberapa penelitian dan menunjukkan bahwa sesak napas memiliki dampak yang besar terhadap kualitas hidup pasien PPOK, dan keluhan yang paling dilaporkan pasien PPOK adalah keterbatasan aktivitas (Okutan et al., 2013).Sedangkan menurut Oemiati Gejala paling umum dari PPOK adalah sesak napas, batuk kronik, dan produksi dahak. Gejala-gejala ini dapat berkontribusi pada pembatasan aktivitas, kelelahan, kecemasan, depresi, dan insomnia.

Keterbatasan aktivitas pada pasien PPOK merupakan keluhan utama yang akan mempengaruhi kualitas hidupnya. Selain itu inflamasi sistemik,penurunan berat badan, peningkatan risiko penyakit kardiovaskuler, osteoporosis dan depresi merupakan manifestasi sistemik pasien PPOK. Sesak napas dan pola sesak napas yang tidak selaras akan menyebabkan pasien PPOK sering menjadi panik, cemas dan akhirnya frustasi. Gejala ini merupakan penyebab utama pasien PPOK mengurangi aktivitas fisiknya untuk menghindari sesak napasnya(Oemiati, 2013).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan pada penelitian ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa:

1. Pada distribusi karakteristik berdasarkan jenis kelamin,sampel paling banyak ditemukan pada laki-laki yakni 84,9%, karakteristik berdasarkan usia paling banyak ditemukan pada usia lansia, yakni sebanyak 90,6%, karakteristik berdasarkan tingkat pendidikan yang tertinggi adalah tamat SMA yakni 60,4%, karakteristik berdasarkan pekerjaan yang tertinggi adalah pensiun yakni 66,0%, karakteristik berdasarkan status merokok, yang tertinggi adalah merokok yakni 81,1%.

2. Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik stabil di Poliklinik Paru RS USU memiliki kualitas hidup baik sebanyak 15,1% dan sisanya memiliki kualitas hidup buruk sebanyak 84,9%, Hal ini dikarenakan pada beberapa pasien memilih mengurangi aktivitas fisiknya untuk menghindari gelaja sesak napas yang mengakibatkan kualitas hidupnya menurun.

5.2 SARAN

Dari seluruh proses penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, terdapat beberapa saran yang sekiranya dapat bermanfaat bagi seluruh pihak, yaitu:

1. RS USU dapat menyediakan layanan konseling dan pelatihan bagi pasien PPOK tentang aktivitas atau kegiatan yang dapat dilakukan pasien PPOK untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

2. Bagi Peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang dapat meningkatkan kualitas hidup pasien PPOK, Pengaruh latihan otot pernapasan terhadap kualitas hidup pasien PPOK dan Hubungan status gizi terhadap kualitas hidup pasien PPOK.

DAFTAR PUSTAKA

2020 Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease, I. i 2020, '2020 REPORT Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease'.

Afiyanti, Y. 2010a, 'Analisis Konsep Kualitas Hidup', Jurnal Keperawatan Indonesia, vol. 13, no. 2, pp. 81–86. Available at:

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=128606&val=1185.

A l,muthmainnahet 2015,'Gambaran Kualitas Hidup Pasien Ppok Stabil DiPoli Paru Rsud Arifin Achmad Provinsi Riau Dengan MenggunakanKuesioner Sgrq', Jom Fk, vol. 2, no. 2, pp. 1–20. doi:

10.1017/CBO9781107415324.004.

Amalaguswan, Junaid and Fachievy, A. F. 2017, 'Analisis faktor risiko kejadianpenyakit tb paru di wilayah kerja puskesmas puuwatu kota kendari tahun2017', Jimkesmas, vol. 2, no. 7, pp. 1–9.

Arto dan Hendarsyah, 2014 2014, 'Penyakit paru obstruktif kronik', Kedokteran perioperatif: evaluasi dan tata lakasana di bidang ilmu penyakit dalam.,vol. 2013, , pp. 142–149. doi: 10.3133/ofr20171089.

Chang, R. 2016, 'The right clinical information, right where it’s needed', pp. 1–35.

Fajrin, O., Yovi, I. and Burhanuddin, L. 2015, 'Gambaran Status Gizi Dan FungsiParu Pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik Stabil Di Poli ParuRsud Arifin Achmad', Jom FK, vol. 2, no. 2.

Ferrer, M., Villasante, C., Alonso, J., Sobradillo, V., Gabriel, R., Vilagut, G.

andMasa, J. F. 2002, 'Interpretation of quality of life scores from the StGeorge 9sRespiratory Questionnaire', pp. 405–413. doi:

10.1183/09031936.02.00213202.

Fisiologi, B., Kedokteran, F. and Kuala, U. S. 2014, 'Efek Paparan Partikel Terhadap Kejadian Penyakit Paru Obstruktif Kronik (Ppok)', Idea NursingJournal, vol. 5, no. 1.

Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease 2019, 'GOLD Report 2019', pp. 1–155.

Ikalius, Yunus, F., Suradi and Rachma, N. 2007, 'Perubahan Kualitas Hidup danKapasitas Fungsional Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronis setelahRehabilitasi Paru', Maj Kedokt Indon, vol. 57, no. 12, pp. 446–452.

Jalan, R., Ii, T., Hijau, P., Bb, K. I., Bulan, M., Simanjuntak, L. Y., Sitompul, D.

F. and Atmawidjaja, R. 2017, 'Gambaran Ansietas Pada Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik ( PPOK )', pp. 297–302.

30

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2013, 'Hasil Riset Kesehatan DasarKementerian RI 2013', Proceedings, Annual Meeting - Air Pollution Control Association, vol. 6, . doi: 1 Desember 2013.

Kementerian Kesehatan RI 2018, 'Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar(Riskesdas) Indonesia tahun 2018', Riset Kesehatan Dasar 2018, pp.

182–183.

Lõpez-Campos, J. L., Tan, W. and Soriano, J. B. 2016, 'Global burden of COPD',Respirology, vol. 21, no. 1, pp. 14–23. doi: 10.1111/resp.12660.

Morishita-Katsu, M., Nishimura, K., Taniguchi, H., Kimura, T., Kondoh, Y., Kataoka, K., Ogawa, T., Watanabe, F., Arizono, S., Nishiyama, O.,

Nakayasu, K., Imaizumi, K. and Hasegawa, Y. 2016, 'The COPDassessment test and St George’s respiratory questionnaire: Are theyequivalent in subjects with COPD?', International Journal of COPD, vol.11, no.1, pp. 1543–1551. doi: 10.2147/COPD.S104947.

Naser, F., Medison, I. and Erly 2016, 'Gambaran Derajat Merokok Pada PenderitaPPOK di Bagian', Jurnal Kesehatan Andalas, vol. 5, no. 2, pp.

306–311.

Oemiati, R. 2013, 'Kajian Epidemiologis Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)', Media Litbangkes, vol. 23, no. 2, pp. 82–88.

Okutan, O., Tas, D., Demirer, E. and Kartaloglu, Z. 2013, 'Evaluation of quality oflife with the chronic obstructive pulmonary disease assessment test in chronic obstructive pulmonary disease and the effect of dyspnea on disease -specific quality of life in these patients', Yonsei Medical Journal, vol. 54, no. 5, pp. 1214–1219. doi: 10.3349/ymj.2013.54.5.1214.

PDPI 2016, 'Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Pedoman Diagnosis

&Penatalaknsanaan di Indonesia',2016

Permatasari, N., Saad, A. and Christianto, E. 2016, 'Gambaran Status Gizi PadaPasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (Ppok) Yang Menjalani Rawat Jalan Di Rsud Arifin Achmad Pekanbaru', Jom Fk, vol. 3, no. 2.

Perwitasari, D. A. 2020, 'VALIDASI St . George ’ s Respiratory Questionnaire (SGRQ) PADA PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK (PPOK) DI RUMAH SAKIT PARU RESPIRA YOGYAKARTA VALIDATION OF St . George ’ s Respiratory Questionnaire ( SGRQ ) IN CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEAS', vol. 7, , pp. 75–

82.

Price, D. B., Yawn, B. P. and Jones, R. C. M. 2010, 'Improving the DifferentialDiagnosis of Chronic Obstructive Pulmonary Disease in Primary Care'.doi: 10.4065/mcp.2010.0389.

Rosha, P. T., Sari, F. and Dewi, T. 2018, 'Faktor-faktor yang memengaruhi kualitas hidup pasien penyakit paru obstruktif kronis', Journal of Community Medicine and Public Health), vol. 34, , pp. 62–66.

Safka, K. A., Wald, J., Wang, H., McIvor, L., McIvor, A. and McIvor, R. 2017, 'GOLD Stage Prevalence Study Journal of the COPD Foundation GOLD Stage and Treatment in COPD: A 500 Patient Point Prevalence Study', Chronic Obstr Pulm Dis, vol. 4, no. 1, pp. 45–55.

doi:10.15326/jcopdf.4.1.2016.0126.

Saftarina, F., Anggraini, D. I. and Ridho, M. 2017, 'Penatalaksanaan PenyakitParu Obstruktif Kronis pada Pasien Laki-Laki Usia 66 Tahun RiwayatPerokok Aktif dengan Pendekatan Kedokteran Keluarga di KecamatanTanjung Sari Natar', Jurnal Agromed Unila, vol. 4, no. 1, pp. 143–151.

Salawati, L. 2016, 'Hubungan Merokok Dengan Derajat Penyakit Paru Obstruksi Kronik',Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, vol. 16, no. 3, pp. 165–169.

Sugiharti, S. and Sondari, T. R. 2016, 'Gambaran Penyakit Paru Obstruktif Kronik (Ppok) Di Daerah Pertambangan Batubara, Kabupaten Muara Enim,Provinsi Sumatera Selatan', Jurnal Ekologi Kesehatan, vol. 14, no.

2. doi:10.22435/jek.v14i2.4668.136-144.

Susanti, E. F. P. 2015, 'Influence of Smoking on Chronic Obstructive PulmonaryDisease ( Copd )', J Majority, vol. 4, , pp. 67–75.

Theresia, M. and Lilyana, A. 2017, 'Jurnal Ners LENTERA, Vol. 5, No.

2,September 2017', vol. 5, no. 2, pp. 178–182.

WHO Department of mental health 1999, 'WHO definition Quality of Life - Annotated Bibliography WHO/MNH/MHP/98.4.Rev.2', no.

October.Available at: http://www.who.int/healthinfo/survey/WHOQOL-BIBLIOGRAPHY.pdf?ua=1.

WHO World Health Statistics 2015: World Health Organization;2015.

32

LAMPIRAN A.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Ayu Azizah

NIM : 160100038

Jenis Kelamin : Perempuan

Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 24 November 1999 Alamat : Jl. Cendana no.1A Medan

No. Telp : 083193162424

E-mail : [email protected]

Agama : Islam

Status : Mahasiswa

Nama Orang Tua :

Ayah : Ridwan

Ibu : Siti Zuaria

Riwayat Pendidikan

1. Taman Kanak-Kanak (TK) Yayasan Pendidikan Rahmat Islamiyah Medan (2003-2004)

2. Sekolah Dasar (SD) Yayasan Pendidikan Rahmat Islamiyah Medan (2004-2010)

3. Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 18 Medan (2010-2013)

4. Sekolah Menengah Atas (SMA) Swasta Panca Budi Medan (2013-2016) 5. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (2016-sekarang)

Riwayat Pelatihan

1. Peserta kegiatan Test Intelegent Quotient (IQ) 2008

2. Peserta Peragaan Manasik Haji dan Festival Takbiran Diniyah Takmiliyah Se-Kota Medan 2010

3. Peserta Kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan ke-XVI 2010

4. Peserta Penyuluhan/Penerangan Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba(P4GN) 2010

5. Peserta PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru) Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara 2016

6. Peserta MMB (Manajemen Mahasiswa Baru) Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara 2016

7. Peserta LKMM (Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa) Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara 2016

8. Peserta Pelatihan Seminar Proposal Penelitian Standing Committee on Research Exchange Pemerintahan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (SCORE PEMA FK USU) 2019

Riwayat Organisasi

1. Pemerintahan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (PEMA FK USU) 2017

2. Standing Committee on Research Exchange Pemerintahan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (SCORE PEMA FK USU) 2017-2018

3. Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (MPM FK USU) 2018-sekarang

Riwayat Kepanitiaan

1. Sekretaris Mahasiswa Membina Pengabdian Masyarakat PEMA FK USU

34

2. Bendahara Pengabdian Masyarakat PEMA FK USU

3. Anggota Administrasi dan Kesekretariatan Kajian Kedokteran Islam FOSKAMI PEMA FK USU

4. Anggota Administrasi dan Kesekretariatan Qurban FOSKAMI PEMA FK USU

5. Koordinator Konsumsi Pekan Ilmiah Mahasiswa SCORE PEMA FK USU 6. Anggota Acara LKKM PEMA FK USU

7. Anggota Sponsorship Scripta Research Festival SCORE PEMA FK USU 8. Koordinator Sponsorship Scripta Research Festival SCORE PEMA FK

USU

9. Sekretaris Pengabdian Masyarakat & Bakti Sosial PEMA FK USU

LAMPIRAN B

36

LAMPIRAN C

LAMPIRAN D

38

LAMPIRAN E

LAMPIRAN F

Lembar Penjelasan

Saya yang bernama Ayu Azizah merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang akan melakukan penelitian berjudul “Gambaran Kualitas Hidup Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik Stabil di Poliklinik Paru RS USU”. Penelitian ini dilakukan sebagai salah satu kegiatan untuk menyelesaikan proses belajar dan mengajar pada semester ketujuh dan syarat untuk memperoleh gelar sarjanakedokteran.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh dampak PPOK terhadap kualitas hidup penderitanya . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pasien PPOK, sehingga diharapkan dari penelitian ini, bapak/ibu dapat menambah pengetahuan dan informasi mengenai dampak PPOK terhadap kualitas hidup.

Untuk keperluan tersebut, saya memohon kesedian bapak/ibu sebagai responden dalam penelitian ini dan mengisi kuesioner dengan jujur. Data pribadi dan jawaban yang diberikan akan dirahasiakan dan hanya digunakan untuk penelitian ini. Jika bapak/ibu bersedia menjadi responden, silahkan mendatangani lembar persetujuan.

Atas perhatian dan kesediaan bapak/ibu menjadi responden dalam penelitian ini, saya mengucapkan terima kasih.

Medan, 2019 Peneliti,

(Ayu Azizah)

*Coret yang tidak perlu

40

LAMPIRAN G

Lembar Persetujuan

Saya yang bertandatangan di bawah ini :

Nama :

Umur :

Jeniskelamin : Pekerjaan : Pendidikan :

Alamat :

Dengan ini menyatakan BERSEDIA/TIDAK BERSEDIA* menjadi responden sebagai sampel dalam penelitian “Gambaran Kualitas Hidup Pasien Penyakit Obstruktif Kronik Stabil di Poliklinik Paru RS USU”

dan disertakan dalam data penelitian.

Saya mengerti bahwa penelitian ini tidak akan berakibat buruk terhadap saya dan keluarga saya serta kerahasiaan semua informasi yang diberikan akan dijaga oleh peneliti dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.

Medan, 2019

Responden

*coret yang tidak perlu

Lampiran H

Data Pasien

1.Usia :

2.Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan 3.Berapa lama anda menderita batuk sesak :

Kurang dari 5 tahun 6-10 tahun

11-15 tahun 16-20 tahun

Lebih dari 20 tahun

4.Riwayat merokok

a.Berapa batang per hari:

……….

b.Berapa lama anda sudah merokok:

………...

c.Sudah berhenti merokok atau belum Sudah berhenti

Belum berhenti

- Berapa lama anda sudah berhenti merokok?

……….

42

Lampiran I

Lembar Kuesioner

ST GEORGE’S RESPIRATORY QUESTIONNARE (SGRQ)

Kami akan menanyakan kualitas hidup bapak/ibu rasakan pada 1 bulan terakhir. Silahkan memberikan jawaban sesuai dengan apa yang dirasakan.

Jawaban yang bapak/ibu berikan akan membantu kami memperoleh lebih banyak informasi tentang masalah pernapasan yang dialami selama 1 bulan terakhir dan bagaimana masalah ini mempengaruhi kehidupan anda. Berikan tanda ceklis ( ) pada pilihan yang dipilih.

Pilihlah jawaban yang menurut anda paling sesuai dengan keadaan dan kondisi yang anda alami dalam 1 bulan terakhir ini.

1. Sejak 1 bulan terakhir ini saya mengalami batuk-batuk Hampir setiap hari (5-6 hari) dalam seminggu Beberapa hari (3-4 hari) dalam seminggu Sedikit hari (1-2 hari) dalam seminggu Jika hanya ada penyakit selain batuk lama Tidak ada keluhan sama sekali

2. Sejak 1 bulan terakhir ini saya mengeluarkan dahak Hampir setiap hari (5-6 hari) dalam seminggu Beberapa hari (3-4 hari) dalam seminggu Sedikit hari (1-2 hari) dalam seminggu Bagian 1

Jika hanya ada penyakit selain batuk lama Tidak ada keluhan sama sekali

3. Sejak 1 bulan ini saya mengalami sesak napas Hampir setiap hari (5-6 hari) dalam seminggu Beberapa hari (3-4 hari) dalam seminggu Sedikit hari (1-2 hari) dalam seminggu Jika hanya ada penyakit selain batuk lama Tidak ada keluhan sama sekali

4. Sejak 1 bulan ini saya mengalami napas yang berbunyi Hampir setiap hari (5-6 hari) dalam seminggu Beberapa hari (3-4 hari) dalam seminggu Sedikit hari (1-2 hari) dalam seminggu Jika hanya ada penyakit selain batuk lama Tidak ada keluhan sama sekali

5. Sejak 1 bulan ini berapa kali masalah napas berat yang anda alami

>3x serangan 3x serangan 2x serangan 1x serangan

Tidak ada serangan

44

6. Berapa lama setiap serangan atau masalah pernapasan yang berat ini berlangsung

>1 minggu 3-6 hari 1-2 hari

<1 hari

7. Selama 1 bulan ini dalam seminggu rata-rata berapa hari anda mengalami hari hari tanpa gangguan sesak napas

Tidak ada sama sekali 1 atau 2 hari

3 atau 4 hari 5 atau 6 hari Setiap hari

8.Jika napas anda berbunyi apakah bertambah parah waktu pagi hari Ya

Tidak

9.Seberapa banyak kesulitan bernapas yang anda alami menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari

Menimbulkan sangat banyak masalah Menimbulkan banyak masalah

Menimbulkan sedikit masalah Tidak menimbulkan masalah

10.Bagaimana dampak masalah pernapasan ini pada pekerjaan yang sedang anda lakukan

Adanya masalah pernapasan membuat saya berhenti bekerja Adanya masalah pernapasan mengganggu/merubah pekerjaan saya

Adanya masalah pernapasan tidak mempengaruhi pekerjaan saya

Pertanyaan berikut ini tentang beberapa aktivitas yang membuat anda menjadi sesak napas, Pilihlah salah satu jawaba sesuai dengan kondisi anda.

11. Duduk dan tiduran Ya

Tidak

12. Mandi dan berpakaian Ya

Tidak

13. Berjalan disekitar rumah Ya

Tidak

14. Berjalan diluar rumah diatas permukaan yang tinggi Ya

Tidak

15. Berjalan naik/turun tangga Ya

Tidak

16. Berjalan naik bukit Ya

Tidak Bagian 2

46

17. Bila berolahraga atau bertanding Ya

Tidak

Pertanyaan berikut ini tentang batuk dan sesak napas yang anda rasakan.

Pilihlah salah satu jawaban yang sesuai dengan kondisi anda.

18. Batuk dan sesak napas yang saya alami menyebabkan saya sakit dada Ya

Tidak

19. Batuk dan sesak napas yang saya rasakan menyebabkan saya merasa lelah Ya

Tidak

20. Saat berbicara saya merasa sesak napas dan batuk Ya

Tidak

21. Saat membungkuk saya merasa sesak napas dan batuk Ya

Tidak

22. Batuk dan sesak napas yang saya rasakan mengganggu tidur saya Ya

Tidak

23. Batuk dan sesak napas yang saya rasakan menyebabkan saya merasa tidak kuat melakukan kegiatan sehari-hari

Ya Tidak

Pertanyaan berikut ini tentang akibat masalah pernapasan yang anda rasakan. Pilihlah salah satu yang sesuai dengan kondisi anda.

24. Batuk dan sesak napas yang saya rasakan menyebabkan saya merasa malu Ya

Tidak

25. Masalah pernapasan saya mengganggu keluarga, teman, dan tetangga saya Ya

Tidak

26. Saya merasa takut atau panic jika saya merasa sulit atau sesak napas Ya

Tidak

27. Saya merasa tidak dapat mengontrol gangguan pernapasan saya Ya

Tidak

28. Saya merasa gangguan pernapasan saya tidak mungkin membaik Ya

Tidak

29.Saya merasa lemah dan tidak berdaya akibat gangguan pernapasan saya Ya

Tidak

30. Batuk dan sesak napas yang saya rasakan membuat saya merasa takut untuk berolahraga

Ya Tidak

48

31. Berhubungan dengan masalah pernapasan yang saya alami, saya melihat semua kegiatan memerlukan banyak tenaga untuk mengerjakannya

Ya Tidak

Pertanyaan berikut ini tentang pengobatan anda. Pilihlah salah satu jawaban yang sesuai dengan kondisi anda.

32. Saya merasa obat yang saya dapatkan tidak banyak membantu mengatasi

35. Obat yang saya pakai sangat merepotkan saya Ya

Tidak

Pertanyaan berikut ini tentang tentang akibat bagaimana aktivitas anda dipengaruhi oleh masalah pernapasan yang anda rasakan. Pilihlah salah satu jawaban yang sesuai dengan kondisi anda.

36. Saya memerlukan waktu yang lama untuk mandi dan berpakaian Ya

Tidak

37. Saya tidak dapat mandi atau memerlukan waktu yang lama untuk mandi Ya

Tidak

38. Saya berjalan lebih pelan daripada orang lain dan memerlukan waktu berhenti untuk istirahat

Ya Tidak

39. Saya memerlukan waktu yang lebih lama untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga atau saya perlu waktu berhenti untuk istirahat

Ya Tidak

40. Kalau saya naik tangga 1 lantai saya harus berjalan pelan-pelan atau saya sesekali berhenti

Ya Tidak

41. Kalau saya terburu-buru dan berjalan dengan cepat saya harus berhenti dan berjalan memperlambat langkah saya

Ya Tidak

42. Masalah pernapasan yang saya rasakan membuat saya sulit bernapas untuk melakukan kegiatan sehari-hari yang ringan seperti berjalan menanjak, membawa barang naik tangga, membersihkan kebun, memotong rumput, atau berolahraga

Ya Tidak

50

43. Masalah pernapasan yang saya rasakan membuat saya sulit melakukan

43. Masalah pernapasan yang saya rasakan membuat saya sulit melakukan

Dokumen terkait