• Tidak ada hasil yang ditemukan

Setelah dilakukan uji pada kedua zat desinfektan, Benzalkonium Klorida dan Fenol, dihasilkan daya bunuh tercepat sampel Benzalkonium Klorida terhadap Psedomonas aeruginosa yaitu pada menit ke 5 pada pengenceran 1/60, sedangkan daya bunuh terlama pada menit ke 30 pada pengenceran 1/100, seperti tertera pada tabel 4.1.

Tabel 4.1 Waktu Bunuh Rata-rata Sampel Benzalkonium Klorida terhadap Pseudomonas aeruginosa

Waktu kontak

Pengenceran Benzalkonium Klorida 1,5%

1/40 1/60 1/80 1/100 1/120 1/140 5 menit - - + + + + 10 menit - - - + + + 15 menit - - - + + + 20 menit - - - - + + 25 menit - - - - + + 30 menit - - - - + + Keterangan:

+ : Keruh (ada pertumbuhan bakteri) - : Jernih (tidak ada pertumbuhan bakteri) - : Waktu bunuh tercepat

- : Waktu bunuh terlama

Pada uji terhadap daya bunuh Fenol, didapatkan hasil yaitu daya bunuh tercepat fenol terhadap Pseudomonas aeruginosa yaitu pada menit ke 5 pada pengenceran 1/100 dan daya bunuh terlamanya pada menit ke 30 pada pengenceran 1/120, seperti yang tertera pada tabel 4.2.

33 Tabel 4.2 Waktu Bunuh Rata-rata Fenol terhadap Pseudomonas aeruginosa Waktu kontak Pengenceran fenol 1/40 1/60 1/80 1/100 1/120 1/140 5 menit - - - - + + 10 menit - - - - + + 15 menit - - - - + + 20 menit - - - - + + 25 menit - - - - + + 30 menit - - - + Keterangan:

+ : Keruh (ada pertumbuhan bakteri) - : Jernih (tidak ada pertumbuhan bakteri) - : Waktu bunuh tercepat

- : Waktu bunuh terlama

Pada tahap selanjutnya, dilakukan penghitungan nilai koefisien fenol dari hasil uji. Waktu bunuh rata-rata sampel Benzalkonium Klorida dibandingkan terhadap fenol untuk mendapatkan nilai koefisien fenol.

Koefisien fenol sampel X = {(60 : 100)+(100 : 120)}:2 = (0,6 + 0,83) : 2

= 0,72

Koefisien fenol sampel Benzalkonium Klorida terhadap

Pseudomonas aeruginosa adalah 0,72. Dari hasil penghitungan ini

menandakan bahwa Benzalkonium Klorida kurang efektif dalam membunuh Pseudomonas aeruginosa.

34 4.2 Pembahasan

Dari tabel 4.1 dan 4.2 didapatkan bahwa Benzalkonium Klorida membutuhkan konsentrasi yang lebih tinggi dan waktu yang lebih lama untuk membunuh Pseudomonas aeruginosa. Dari penghitungan nilai koefisien yang dilakukan didapatkan nilai dibawah 1, yang artinya desinfektan uji dengan bahan aktif Benzalkonium Klorida memiliki efektivitas daya bunuh dibawah kemampuan Fenol. Hal ini menandakan desinfektan uji kurang efektif terhadap bakteri

Pseudomonas aeruginosa. Hal ini didukung pula oleh penelitian yang

menggunakan metode difusi agar yang dilaksanakan oleh Lembah Sulistyaningsih dkk (2012) yang menyatakan bahwa Benzalkonium Klorida tidak efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa.19

McDonnell dan Russell (1999) menyatakan bahwa bakteri-bakteri Gram-negatif secara umum lebih resisten terhadap antiseptik dan desinfektan dibandingkan bakteri-bakteri Gram-positif. Pseudomonas aeruginosa sendiri sangat resisten terhadap agen-agen antibakteri seperti benzalkonium klorida,

benzethonium, cetrimide, heksaklorofen, diamidin, triclosan, klorhexidin, dan

lainnya. Hal ini disebabkan kemampuan fisiknya yang mampu menahan efek dari agen-agen tersebut, dan bakteri Gram negatif memiliki membran terluar yang memiliki permeabilitas rendah sehingga berfungsi sebagai penghalang yang membatasi masuknya agen antibakteri kimia kedalam membran. Pada bakteri mutan, selnya bersifat hidrofobik yang disebabkan oleh fosfolipid yang menempel pada permukaan sel. Bakteri-bakteri ini cenderung hipersensitif terhadap antibiotik dan desinfektan yang bersifat hidrofobik. Molekul hidrofilik yang memiliki berat molekul rendah mampu masuk kedalam sel bakteri Gram-negatif melalui porin, sedangkan molekul hidrofobik harus berdifusi melalui membran bilayer luar sel. Pada bakteri Gram-negatif tipe liar, lipopolisakarida pada permukaan sel mencegah akses masuk molekul hidrofobik menuju internal sel bakteri. Pada Pseudomonas aeruginosa sendiri, membran luarnyalah yang menyebabkan kuatnya resistensi Pseudomonas aeruginosa terhadap desinfektan karena bila dibandingkan dengan organisme lain, komposisi lipopolisakarida dan tingginya kadar Mg2+ sebgai kation membantu memproduksi ikatan antar lipopolisakarida yang kuat dan mempersempit porin.20

35

Robert Hancock (1998) menjelaskan resistensi Pseudomonas

aeruginosa terjadi akibat tiga macam resistensi yaitu resistensi intrinsik, acquired resistance atau resistensi yang didapat, dan resistensi genetik. Resistensi intrinsik

merupakan mekanisme resistensi yang terjadi pada kebanyakan bakteri. Resistensi ini memiliki kemampuan berbeda-beda pada setiap spesies. Pada Pseudomonas

aeruginosa, mekanisme utama resistensi intrinsiknya adalah rendahnya

permebilitas membran luas bakteri. Rendahnya permeabilitas membran mengakibatkan sulitnya desinfektan atau antibiotik untuk masuk kedalam bakteri. Hal ini disebabkan oleh porin-porin Pseudomonas aeruginosa yang selektif dan memiliki kerapatan lebih tinggi dibanding spesies lainnya. Rendahnya permeabilitas membran ini didukung oleh mekanisme efflux yang aktif sehingga membantu mengeluarkan kembali agen antimikroba yang masuk dan enzim-enzim yang mereduksi kemampuan antibiotik. Acquired resistance atau resistensi yang didapatkan oleh Pseudomonas aeruginosa dikarenakan oleh paparan oleh antibiotik atau desinfektan kepada bakteri tersebut sebelumnya sehingga menimbulkan resistensi pada bakteri. Pada Pseudomonas aeruginosa, resistensi genetik disebabkan oleh mutasi sehingga menghasilkan strain-strain yang bersifat liar yang menghasilkan resistensi tersendiri terhadap agen-agen desinfektan maupun antibiotik.21

Pada tahun 1989, Yoshikazu Sakagami dkk meneliti mekanisme resistensi bakteri Pseudomonas aeruginosa terhadap desinfektan Benzalkonium

Klorida. Pada penelitian ini dilakukan dengan membandingkan antara Pseudomonas aeruginosa yang sensitif terhadap Benzalkonium Klorida dan

resisten terhadap Benzalkonium Klorida. Berdasarkan hasil penelitian tersebut terdapat perbedaan berupa kandungan Fosfolipid (FL) dan Fatty and neutral lipids

(FNL) pada dinding sel Pseudomonas aeruginosa, dimana bakteri yang resisten

mengandung FL dan FNL lebih tinggi dibandingkan kandungan pada dinding sel

Pseudomonas aeruginosa yang sensitif pada Benzalkonium Klorida. Bakteri Pseudomonas aeruginosa yang resisten menyerap kadar Benzalkonium Klorida

lebih rendah dibandingkan Pseudomonas aeruginosa yang sensitif. Dengan menggunakan Capillary gas chromatography dan Gas chromatography-mass

36

Kemampuan Benzalkonium Klorida dalam menembus dinding sel berkurang disebabkan oleh peningkatan Asam Lemak seluler. Oleh karena itu kemampuan resistensi dari Pseudomonas aeruginosa kemungkinan besar disebabkan oleh peningkatan kadar FL dan FNL pada dinding sel Pseudomonas aeruginosa yang dapat membantu menurunkan absorpsi Benzalkonium Klorida pada

Pseudomonas aeruginosa yang resisten.22

Penelitian oleh Loughlin M. F. dkk (2002), menyatakan bahwa terjadi peningkatan resistensi Pseudomonas aeruginosa terhadap benzalkonium yang diobservasi pada hampir seluruh strain yang diperiksa terutama strain PAO1 dan OO14. Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan resistensi dari kedua strain tersebut terhadap desinfektan membran aktif seperti cetylpyridinium

chloride dan cetrimide. Resistensi kuman Pseudomonas aeruginosa terhadap Benzalkonium Klorida terjadi dengan cepat dan tetap dipertahankan walaupun

tidak adanya desinfektan.23

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi Benzalkonium

Klorida 1,5% yang paling efektif dalam membunuh P. aeruginosa adalah

pengenceran 1/60 dalam waktu 5 menit.

Keterbatasan pada penelitian ini adalah nilai dari koefisien fenol pada penelitian ini hanya dapat menyatakan keefektifan Benzalkonium Klorida dalam membunuh bakteri Pseudomonas aeruginosa saja. Penelitian ini belum dapat merepresentasikan kemampuan dari zat desinfektan tersebut secara umum kepada seluruh mikroorgansime.

37 BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait