Mikrob yang berasal dari isolat kultur murni diremajakan menggunakan media agar laut. Komposisi media disesuaikan dengan lingkungan atau area yang akan didegradasi oleh mikroorganisme tersebut. Media agar laut dipilih karena mengandung mineral yang dibutuhkan dalam pertumbuhan mikrob. Hal
ini dimaksudkan agar bakteri yang tumbuh merupakan bakteri yang berperan dalam proses degradasi limbah hidrokarbon (Dwipayana & Herto 2010).
Regenerasi isolat ini dilakukan pada suhu 30 °C selama 24 jam. Regenerasi diawali dengan pengenceran sampel isolat dilanjutkan dengan penanaman sampel ke dalam media NA. Pengenceran bertujuan agar koloni yang tumbuh tidak terlalu padat sehingga memudahkan dalam identifikasi selanjutnya (Dwipayana & Herto 2010). Hasil regenerasi dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1 Hasil regenerasi isolat bakteri. Morfologi Isolat Bakteri
Pengamatan morfologi bakteri dilakukan terhadap isolat bakteri berumur 24 jam. Morfologi yang diamati meliputi bentuk, elevasi, warna, dan permukaan koloni. Pengamatan dilakukan secara visual. Pengamatan ini penting dilakukan sebagai dasar pengujian selanjutnya. Hasil pengamatan morfologi koloni isolat bakteri dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Morfologi koloni Isolat Bentuk Elevasi Warna Permukaan MY 1 Bulat Naik Krem Halus
mengilat MY 3 Bulat Naik Krem Halus
mengilat MY 6 Bulat Naik Krem Halus
mengilat MY 8 Bulat Naik Krem Halus
mengilat MY 9 Bulat Naik Krem Halus
mengilat MY 10 Bulat Naik Krem Halus
mengilat MY 11 Bulat Naik Krem Halus
Mengilat MY 12 Bulat Naik Agak
kuning Halus mengilat MYFLR Bulat Datar Krem Berserabut
halus
Tabel 1 memperlihatkan bahwa isolat dengan kode MY 1, MY 3, MY 6, MY 8, MY 9, MY 10, dan MY 11 memiliki ciri morfologi yang serupa, yaitu bentuk bulat, elevasi naik, warna krem, dan permukaan halus mengilat (Gambar 1) sehingga diduga masuk ke dalam genus Bacillus sp (Lampiran
4). Isolat MY 12 bentuk, elevasi, dan permukaannya sama, tetapi warna koloninya agak kuning. Warna koloni ini dimiliki oleh golongan Pseudomonas sp. Sementara isolat MY FLR memiliki tepian dan permukaan koloni yang berbeda, yaitu elevasi datar, permukaan berserabut halus yang lazim dijumpai pada golongan kapang (Gambar 2).
Gambar 2 Isolat koloni bakteri MY FLR. Fisiologi Isolat Bakteri
Mikroorganisme mempunyai morfologi, struktur, dan sifat-sifat yang khas, begitu pula dengan bakteri. Bakteri hidup hampir tidak berwarna dan kontras dengan air tempat sel- sel bakteri tersebut disuspensikan. Salah satu cara mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah diidentifikasi ialah dengan metode pewarnaan. Pengamatan meliputi pewarnaan sederhana, pewarnaan Gram, pewarnaan spora dan kapsul. Pewarnaan Gram merupakan suatu metode empiris untuk membedakan spesies bakteri menjadi 2 kelompok besar, yaitu Gram positif dan Gram negatif berdasarkan sifat kimia dan fisik dinding sel bakteri.
Berdasarkan pewarnaan Gram, isolat dengan kode MY 1, MY 3, MY 6, MY 8, dan MY 9 tergolong Gram positif yang ditandai dengan sel berwarna ungu (Gambar 3). Bakteri Gram positif dapat menahan senyawaan kompleks kristal violet, sedangkan bakteri Gram negatif tidak mampu menahannya dan karena itu, terwarnai oleh pewarna kedua (Hadioetomo 1993), (Lampiran 5).
Gambar 3 Isolat bakteri Gram positif (kiri) dan Gram negatif (kanan).
Isolat MY 10, MY 11 dan MY FLR diduga bersifat Gram negatif yang ditandai dengan sel berwarna merah (Gambar 3). Isolat dengan kode MY 12 berdasarkan ciri-cirinya, yaitu bentuk sel batang panjang, warna koloni
krem agak kuning (MY12), dan bersifat Gram negatif (sel berwarna merah), diduga adalah Pseudomonas (Gambar 4). Keseluruhan hasil pengamatan fisiologi isolat bakteri dapat dilihat pada Tabel 2.
Gambar 4 Isolat koloni bakteri Gram negatif. Tabel 2 Sifat-sifat fisiologi sel Isolat Bentuk Gram Spora Kapsul MY 1 Batang Positif Ada Tidak ada MY 3 Batang Positif Ada Tidak ada MY 6 Batang Positif Tidak
ada Tidak ada MY 8 Batang Positif Tidak
ada Tidak ada MY 9 Batang Positif Tidak
ada Tidak ada MY 10 Batang Negatif Ada Tidak ada MY 11 Batang Negatif Ada Tidak ada MY 12 Batang Negatif Ada Tidak ada MY
FLR
Batang Negatif Tidak terlihat
Tidak ada
Berdasarkan sifat fisiologi dan morfologi, isolat MY 1, MY 3, MY 6, MY 8, dan MY 9 diduga masuk ke dalam genus Bacillus sp (Fardiaz 1998), sedangkan isolat MY 10, MY 11, dan MY FLR diduga genus Bacillus sp, tetapi dengan sifat Gram negatif. Isolat dengan kode MY 12 berdasarkan cirinya, yaitu bentuk sel batang panjang, warna koloni krem agak kuning, dan Gram negatif diduga termasuk genus Pseudomonas sp. Secara umum, Dharmawibawa (2004) (dalam Darmayasa 2008) mengungkapkan bahwa genus Bacillus sp dan Pseudomonas sp mampu merombak hidrokarbon minyak bumi.
Pewarnaan spora dilakukan untuk mengamati kemampuan suatu bakteri menghasilkan spora yang berfungsi melindungi sel vegetatif dari kondisi ekstrem di luar sel yang dapat membahayakannya (Hadioetomo 1993). Endospora sel memiliki lapisan khusus yang sulit ditembus zat pewarna, maka dilakukan pemanasan dalam preparasi preparat selama proses pengikatan warna dasar (malasit hijau). Pemanasan bukan hanya membuat spora yang terwarnai hijau, melainkan juga sel vegetatif. Oleh karena itu, pencucian dengan air mengalir diperlukan untuk menghilangkan kelebihan zat warna yang menempel pada dinding sel. Dinding sel yang tidak berwarna ini kemudian
diwarnai dengan warna pembanding, yaitu safranin (merah muda), sehingga spora tetap berwarna hijau dan sel vegetatif berwarna merah (Gambar 5).
Gambar 5 Isolat bakteri penghasil spora. Hasil penelitian (Tabel 2) menunjukkan bahwa isolat dengan kode MY 1, MY 3, MY 10, MY 11, dan MY 12 memiliki endospora yang terletak di ujung dan subujung (Gambar 5). Sementara pada isolat MY 6, MY 8, MY 9, dan MY FLR tidak ditemukan endospora.
Endospora dapat bersifat dorman untuk waktu yang cukup lama. Selain itu, endospora sangat tahan terhadap panas tinggi, radiasi gelombang pendek, dan bahan kimia beracun (Anonim 2000). Dengan sifat tersebut, endospora diharapkan dapat membantu mendegradasi cemaran limbah hidrokarbon.
Pewarnaan kapsul dilakukan untuk mengamati keberadaan struktur khusus lapisan pelindung kapsul pada bakteri. Dari hasil identifikasi, tidak terdapat isolat yang memiliki lapisan pelindung kapsul (Gambar 6).
Gambar 6 Isolat tanpa pelindung kapsul. Berdasarkan pengamatan pewarnaan kapsul diduga isolat bakteri mudah diberi perlakuan karena tidak ada pelindung kapsul yang membungkus sel. Karena itu, bakteri ini diharapkan memiliki potensi dalam merombak hidrokarbon.
Aktivitas Biokimia
Bakteri memperlihatkan aktivitas biokimia (pertumbuhan dan perbanyakan) dengan menggunakan bahan baku (nutrisi) dari lingkungan sekitarnya. Setiap bakteri memiliki enzim yang dapat mengurai karbohidrat, lemak, protein, atau asam amino. Metabolisme atau penggunaan molekul organik ini biasanya menghasilkan produk yang dapat digunakan untuk identifikasi dan pencirian bakteri. Karena itu pengamatan
aktivitas biokimia atau metabolisme mikroorganisme digunakan untuk identifikasi dan pencirian mikroorganisme dalam penelitian ini (Djide & Sartini 2006).
Fermentasi Karbohidrat
Fermentasi karbohidrat merupakan proses oksidasi karbohidrat secara biologis dalam keadaan anaerob. Hasil fermentasi berbeda- beda, bergantung pada jenis bakterinya. Pada penelitian ini digunakan 3 media karbohidrat, yaitu glukosa, sukrosa, dan laktosa (Djide & Sartini 2006). Tabel 3 menunjukkan perbandingan hasil fermentasi karbohidrat ke- 9 isolat bakteri dengan kontrol.
Tabel 3 Fermentasi karbohidrat
Isolat Fermentasi
Glukosa Laktosa Sukrosa
MY1 + + + MY3 + + + MY6 - - - MY8 - - + MY9 + + + MY10 + + - MY11 + + + MY12 + - + MYFLR - - - Kontrol - - -
Keterangan: (+) perubahan warna larutan merah menjadi kuning; (-) tidak terjadi perubahan warna
Pada uji fermentasi karbohidrat, hasil positif dilihat dari perubahan warna larutan media dari merah menjadi kuning serta pembentukan gas yang terlihat dalam tabung Durham terbalik. Perubahan warna media disebabkan oleh adanya indikator merah fenol dalam media mengalami penurunan pH dalam keadaan aerob. Hasil positif tersebut ditunjukkan oleh isolat MY 1, MY 3, MY 9, dan MY 11 untuk semua jenis karbohidrat (Gambar 7).
Gambar 7 Fermentasi karbohidrat (glukosa, sukrosa, dan laktosa).
Isolat dengan kode MY 6 dan MY FLR tidak mampu memfermentasikan semua jenis karbohidrat yang diujikan. MY 8 tidak mampu memfermentasi glukosa dan laktosa, MY 10 tidak mampu memfermentasi sukrosa, dan MY 12 tidak mampu memfermentasi laktosa.
Hasil ini dipengaruhi oleh sifat mikrob di dalamnya, media biakan yang digunakan, serta faktor lingkungan seperti suhu dan pH (Reynolds 2009). Berdasarkan kemampuan memfermentasi ketiga jenis karbohidrat, diduga isolat MY 1, MY 3, MY 9, dan MY 11 termasuk ke dalam golongan Bacillus sp (Lampiran 6). Menurut Djide dan Sartini (2006), umumnya spesies Bacillus mampu memfermentasikan glukosa dan laktosa. MY 12 yang inaktif terhadap laktosa diduga termasuk golongan Pseudomonas sp, sedangkan isolat MY FLR memberikan hasil negatif untuk ketiga jenis gula.
Sifat Hidrolisis
Hidrolisis Pati. Salah satu polisakarida yang dapat dihidrolisis oleh mikroorganisme adalah pati (amilum) dengan hasil akhir dekstrin. Hidrolisis ini terjadi karena adanya enzim amilase yang dapat dihasilkan oleh mikroorganisme tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh isolat mampu menghidrolisis pati terlihat dari perubahan warna di sekitar isolat (Gambar 8).
Gambar 8 Hasil uji hidrolisis pati isolat bakteri.
Zona bening (area sekitar biakan tidak menjadi biru) menandakan pati telah terhidrolisis, sedangkan daerah berwarna biru menandakan masih terdapat butir-butir pati. Tabel 4 menunjukkan adanya zona bening di sekitar biakan bakteri pada uji hidrolisis pati, kecuali isolat MY FLR.
Tabel 4 Hasil uji hidrolisis pati Isolat Zona bening Keterangan MY 1 + + :terbentuk zona bening – :tidak terbentuk zona bening MY 3 + MY 6 + MY 8 + MY 9 + MY 10 + MY 11 + MY 12 + MY FLR -
Berdasarkan kemampuan menghidrolisis pati, diduga isolat bakteri termasuk golongan Bacillus (Reynolds 2009). Dengan kemampuan menghidrolisis pati, bakteri diharapkan juga mampu menghidrolisis
ikatan-ikatan hidrokarbon dalam cemaran limbah.
Hidrolisis Lemak. Hidrolisis mengurai
molekul lemak menjadi gliserol dan asam lemak. Asam lemak ini kemudian dibentuk menjadi lemak bakteri atau komponen sel atau sebagai energi. Dari hasil percobaan, hanya isolat MY6 yang mampu menghidrolisis lemak (Tabel 5), dan karena itu diduga termasuk genus Bacillus (Reynolds 2009). Hasil positif ditandai dengan terbentuknya butiran berwarna hijau di sekitar biakan koloni (Gambar 9).
Tabel 5 Hasil uji hidrolisis lemak
Gambar 9 Hidrolisis lemak isolat bakteri. Hidrolisis Gelatin. Gelatin adalah protein yang diperoleh dari hidrolisis kolagen. Kolagen adalah salah satu komponen dalam jaringan penghubung dan otot pada hewan. Gelatin merupakan substrat yang baik untuk menguji adanya enzim proteolitik yang dihasilkan mikrob. Larutan gelatin yang digunakan sebagai medium bersifat cair dalam suhu kamar dan padat dalam suhu es (0–4 °C). Hasil pengamatan hidrolisis gelatin oleh isolat bakteri ditunjukkan pada Tabel 6.
Tabel 6 Hasil uji hidrolisis gelatin
Berdasarkan hasil penelitian, seluruh isolat tidak mampu menghidrolisis gelatin. Media tetap membeku ketika diletakkan dalam wadah berisi es batu (Gambar 10).
Gambar 10 Hidrolisis gelatin pada isolat bakteri (setelah direndam dalam air es)
Umumnya golongan Bacillus mampu menghidrolisis gelatin, tetapi identifikasi di atas menunjukkan hasil berbeda. Kemungkinan hal tersebut terjadi karena isolat bakteri tidak mampu membuat enzim gelatinase yang terbentuk karena pemadatan dan pencairan.
Hidrolisis Kasein. Kasein adalah protein pokok susu, suspensi koloid yang menyebabkan susu berwarna putih mengilat. Apabila mikrob mampu menghidrolisis protein ini, maka akan tampak zona bening di sekitar koloni mikrob. Pengamatan hidrolisis kasein terhadap isolat bakteri dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Hasil uji hidrolisis kasein
Analisis IMViC
Uji produksi indol dilakukan untuk mengetahui mikroorganisme yang dapat menggunakan asam amino baik sebagai komponen protein, komponen sel, atau kadangkala sebagai sumber energi. Asam amino ini dimodifikasi dengan berbagai cara sewaktu metabolisme. Asam amino triptofan lazim terdapat dalam protein dan dapat dengan mudah digunakan oleh mikroorganisme. Hidrolisis oleh enzim triptofanase akan menghasilkan indol dan asam piruvat (Djide & Sartini 2006). Pada Isolat Hasil Keterangan
MY 1 - + : terbentuk butiran berwarna hijau di sekitar biakan - : tidak terbentuk butiran
hijau di sekitar biakan koloni MY 3 - MY 6 + MY 8 - MY 9 - MY 10 - MY 11 - MY 12 - MY FLR - Kontrol -
Isolat Hasil Keterangan MY 1 - +: media menjadi tidak
berwarna/bening –: media membeku kontrol: media putih susu MY 3 - MY 6 - MY 8 - MY 9 - MY 10 - MY 11 - MY 12 - MY FLR - Kontrol -
Isolat Hasil Keterangan MY 1 - +: media tetap cair meski
direndam dalam bongkahan es
- : media membeku kontrol: media tetap beku MY 3 - MY 6 - MY 8 - MY 9 - MY 10 - MY 11 - MY 12 - MY FLR - Kontrol -
penelitian ini digunakan media cair kaya triptofan dalam bentuk tripton 1%. Indol yang terbentuk, dengan penambahan reagen Kovacs akan menghasilkan senyawa p- aminobenzaldehida yang tidak larut dalam air dan membentuk warna merah pada permukaan media (Gambar 11a).
Gambar 11 Hasil pengamatan IMViC isolat bakteri.
Hanya pada sampel MY 11 terbentuk cincin merah di sekitar permukaan media, sampel lainnya tidak (Tabel 8). Hal ini menunjukkan bahwa sampel MY 11 adalah bakteri penghasil indol yang umumnya dari genus Enterobacter atau Pseudomonas. Uji dengan reagen Kovacs harus segera dilakukan setelah inkubasi. Waktu inkubasi yang terlalu lama dapat menyamarkan hasil (hasil yang didapat tidak sesuai dengan yang sebenarnya).
Tabel 8 Hasil uji produksi indol
Uji merah metil digunakan untuk menentukan terjadinya fermentasi yang menghasilkan campuran asam. Beberapa bakteri dapat memfermentasi glukosa dan menghasilkan berbagai produk asam organik sederhana yang menurunkan pH media pertumbuhan. Indikator merah metil digunakan sebagai penunjuk terjadinya perubahan pH dan akan menjadi merah pada suasana asam (pH sekitar 4.4) dan kuning pada suasana basa (pH sekitar 6.2) (Gambar 11b). Hasil positif ditunjukkan oleh isolat dengan kode MY 1, MY 3, MY 8, MY 11 dan MY 12 yang merupakan ciri golongan Bacillus sp dan Pseudomonas sp (Tabel 9).
Tabel 9 Hasil uji MR-VP Isolat Hasil MR VP MY 1 + - MY 3 + - MY 6 - - MY 8 + - MY 9 - - MY 10 - - MY 11 + - MY 12 + - MY FLR - - Kontrol - - Keterangan:
+: larutan berwarna merah –: larutan berwarna sindur atau jernih
Uji Voges–Proskueur juga digunakan untuk mengidentifikasi mikroorganisme yang dapat melakukan fermentasi tetapi dengan hasil akhir 2,3-butanadiol. Pada uji ini ditambahkan larutan KOH 40% dan α-naftol 1% yang dapat menentukan adanya asetoin, senyawa pemula dalam sintesis 2,3 butanadiol. Dengan larutan KOH 40%, asetoin memunculkan warna merah yang dipertegas oleh beberapa tetes larutan α-naftol 1%. Pada uji VP ini, isolat yang diuji menunjukkan hasil negatif, artinya tidak dapat menghasilkan asetoin, asetil, metil karbinol dan etanol (Gambar 12). Ciri ini umum dimiliki oleh bakteri golongan Bacillus sp.
Gambar 12 Hasil pengamatan VP isolat bakteri.
Uji sitrat digunakan untuk melihat kemampuan mikroorganisme menggunakan sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon dan energi. Penelitian ini menggunakan medium sintetik Kosser sitrat dengan natrium sitrat sebagai sumber karbon, amonia sebagai sumber nitrogen, dan indikator pH. Bila mikrob mampu menggunakan sitrat, maka asam akan dihilangkan dari medium biakan, pH meningkat, dan warna medium berubah dari tak berwarna menjadi biru (Gambar 11c). Hasil identifikasi ditunjukkan pada Tabel 10. Isolat Hasil Keterangan
MY 1 - +: terbentuk cincin merah atau lingkaran merah diatas permukaaan media setelah penambahan pereaksi Kovacs
-: tidak terbentuk cincin merah kontrol: tidak berwarna MY 3 - MY 6 - MY 8 - MY 9 - MY 10 - MY 11 + MY 12 - MY FLR - Kontrol -
Tabel 10 Hasil uji Kosser sitrat
Tidak adanya perubahan warna media, berarti isolat bakteri tidak mampu menggunakan sitrat sebagai sumber karbon. Ciri ini lazim dimiliki oleh bakteri golongan Enterobacter (Lampiran 6).
Oksidase-Katalase
Oksidase umumnya bekerja pada respirasi aerob menghasilkan CO2 dan H2O dengan
tujuan akhir akumulasi energi, untuk aktivitas mikroorganisme maupun proses-proses biologis lainnya (Djide & Sartini 2006). Uji oksidase positif ditunjukkan dengan warna koloni keunguan sekitar 2 menit setelah penambahan reagen oksidase (Gambar 13a).
a. uji oksidase b. uji katalase
Gambar 13 Hasil pengamatan oksidase dan katalase isolat bakteri.
Uji katalase dilakukan untuk mengetahui aktivitas katalase pada bakteri. Enzim ini memecah H2O2 (peroksida) menjadi H2O dan
O2 karena itu, uji katalase positif ditunjukkan
oleh gelembung-gelembung O2 hasil
pemecahan H2O2 (Gambar 13b). Hidrogen
peroksida merupakan salah satu produk respirasi aerob bakteri yang toksik sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri itu sendiri dan harus diurai (Todar 2008). Hasil keseluruhan uji oksidase dan katalase ditunjukkan pada Tabel 11.
Tabel 11 Hasil uji oksidase-katalase
Keterangan: (+) oksidase: warna koloni keunguan setelah ditambah reagen (10–15 detik). (+) katalase: timbulnya gelembung udara.
Uji oksidase umumnya digunakan untuk membedakan golongan Pseudomonas dan Enterobacter (Reynolds 2009). Tidak ada isolat yang menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat terjadi karena produksi sitokrom oksidase oleh isolat bakteri tersebut dihambat oleh produksi asam atau bakteri dalam isolat tidak mampu memproduksi sitokrom oksidase atau telah terkontaminasi nitrat sehingga memberikan hasil yang berbeda. Dapat pula terjadi, reagen oksidase telah kehilangan aktivitasnya atau kedaluwarsa.
Katalase dilakukan untuk mengidentifikasi kelompok bakteri bentuk kokus. Hasil positif, yaitu gelembung udara di sekitar koloni setelah ditambahkan H2O2 3%, hanya
ditunjukkan oleh isolat MY 6 (Gambar 13b). Motilitas
Motilitas adalah salah satu ciri makhluk hidup, begitu juga mikroorganisme, namun dengan alat gerak yang sederhana berupa silia atau flagela. Pada percobaan ini, motilitas ditandai dari gerak pertumbuhan dalam agar tegak (bekas tusukan pada media, yang telah diinokulasi oleh biakan dan diinkubasi), ditunjukkan pada Gambar 14.
Gambar 14 Hasil pengamatan motilitas isolat bakteri.
Isolat Hasil Keterangan MY 1 - +: larutan berwarna biru
- : larutan tidak berwarna kontrol: larutan tidak
berwarna MY 3 - MY 6 - MY 8 - MY 9 - MY 10 - MY 11 - MY 12 - MY FLR - Kontrol -
Isolat Oksidase Katalase
MY 1 - - - + - - - - - - - MY 3 - MY 6 - MY 8 - MY 9 - MY 10 - MY 11 - MY 12 - MY FLR - Kontrol -
Tabel 12 menunjukkan hasil pengamatan motilitas isolat bakteri. Sifat motil ini umumnya dimiliki oleh bakteri golongan Bacillus (Hadioetomo 1993).
Tabel 12 Hasil motilitas isolat bakteri
Analisis H2S
H2S diproduksi oleh beberapa jenis
mikroorganisme melalui pemecahan asam amino yang mengandung unsur belerang seperti sistein dan metionin. Keberadaan H2S
ditandai dengan terbentuknya sulfida yang berwarna hitam. Uji ini lazim digunakan untuk membedakan bakteri golongan Enterobacter (Djide & Sartini 2006). Tabel 13 menunjukkan tak satu pun isolat mampu menghidrolisis sulfur yang terdapat dalam medium.
Tabel 13 Hasil uji H2S
Reduksi Nitrat
Reduksi nitrat dilakukan untuk menguji kemampuan bakteri mengubah nitrat menjadi nitrit, umumnya dimiliki oleh golongan Pseudomonas (Reynolds 2009). Tabel 14 menunjukkan, isolat dengan kode MY 1, MY 6, MY 8, MY 9, MY 10, MY 12 dan MY FLR menunjukan kemampuan bakteri mengubah nitrat (merah) menjadi nitrit (kuning) yang ditandai dengan perubahan kondisi lingkungan dalam media (Gambar 15). Isolat MY 11 memperlihatkan perubahan kondisi lingkungan, tetapi tanpa disertai timbulnya gas, dan isolat MY 3 tidak menunjukkan perubahan.
Gambar 15 Pengamatan uji reduksi nitrat. Tabel 14 Hasil uji reduksi nitrat Isolat Hasil Keterangan MY 1 A (A): Larutan berubah asam
(AG): Larutan berubah asam disertai timbulnya gas (O): Tidak menunjukkan Perubahan MY 3 O MY 6 AG MY 8 AG MY 9 AG MY 10 AG MY 11 A MY 12 AG MY FLR AG Kontrol -
Berdasarkan hasil uji biokimia (Tabel 15), isolat bakteri MY 1, MY 3, MY 6, MY 8, MY 9, dan MY FLR diduga termasuk golongan Bacillus, kode MY 10 dan MY 11 termasuk Enterobacter, dan MY 12 Pseudomonas. Dugaan ini berdasarkan identifikasi bakteri teknik konvensional, yaitu membandingkan dengan bakteri yang telah diidentifikasi sebelumnya dalam Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology. Bagan alir identifikasi selengkapnya ditunjukkan pada Lampiran 7.
Bila tidak terdapat bakteri yang ciri- cirinya 100% serupa, maka dilakukan pendekatan terhadap bakteri yang memiliki ciri-ciri paling menyerupai. Teknik identifikasi dengan metode konvensional ini akan selalu menghasilkan bakteri tertentu yang sudah teridentifikasi sebelumnya dan tidak dapat menemukan spesies baru (Cowan 1974 dalam Dwipayana & Herto 2004).
Bakteri yang didentifikasi dari cemaran limbah minyak bumi kemungkinan besar turut berperan dalam proses degradasi limbah minyak bumi secara biologi. Penelitian Nugroho 2006, Saidi et al. (1999) dan Nababan (2008) mengidentifikasi bahwa isolat bakteri dari cemaran limbah minyak bumi merupakan genus Bacillus, Enterobacter dan Pseudomonas. Bakteri tersebut bertahan hidup dalam cemaran hidrokarbon dengan mendegradasi hidokarbon dalam limbah sebagai sumber karbon.
Nama Hasil Keterangan
MY 1 + +: Ada pertumbuhan bakteri melebar ke samping daerah sekitar tusukan atau melebar di atas permukaan agar MY 3 + MY 6 + MY 8 + MY 9 + MY 10 + MY 11 + MY 12 + MY FLR + Kontrol -
Isolat Hasil Keterangan MY 1 - +: terbentuk warna hitam di sekitar tusukan -: tidak terbentuk MY 3 - MY 6 - MY 8 - MY 9 - MY 10 - MY 11 - MY 12 - MY FLR - Kontrol -
Tabel 15 Karakteristik isolat bakteri berdasarkan aktivitas biokimia Isolat F H IMViC O-K M S N Bergey’s Manual G L S I M V C MY 1 + + + - - + - - -- + - - Bacillus MY 3 + + + - - + - - -- + - - Bacillus MY 6 - - - + - - - - -- + - - Bacillus MY 8 - - + - - + - - -- + - - Bacillus MY 9 + + + - - - - - -- + - - Bacillus MY 10 + + - - - - - - -+ + - - Enterobacter MY 11 + + + - + + - - -+ + - - Enterobacter MY 12 + - + - - + - - -- + - - Pseudomonas MY FLR - - - - - - - - -- + - - Bacillus kontrol - - - - - - -- - - - -
Keterangan: F = fermentasi G=Glukosa L=Laktosa S=Sukrosa H = Hidrolisis
IMViC I=Indol M=merah metil V= Voges Proskauer C= Sitrat O – K = Oksidasi katalase
M = Motilitas S = uji H2S
N= uji nitrit