TINJAUAN PUSTAKA
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Laki-laki Perempuan
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Karakteristik Responden
Dari 105 orang responden yang berhasil diwawancarai sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (87,62%). Responden yang berjenis kelamin perempuan tidak menyebar merata pada keempat kategori. Persentase sebaran responden berdasarkan jenis kelamin disajikan pada Gambar 2.
Gambar 2 Persentase responden berdasarkan jenis kelamin.
Sebagian besar perempuan bekerja sebagai peracik (30%) dan penjual (20%), hanya satu orang yang bekerja sebagai pengumpul dan tidak satupun perempuan yang bekerja sebagai pemungut (Lampiran 1).
Dari empat kategori yang menjadi obyek penelitian umur responden berkisar antara 21–70 tahun. Distribusi jumlah responden berdasarkan umur disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Sebaran responden berdasarkan umur
Umur Kategori
No. responden Pemungut Pengumpul Peracik Penjual Total % (tahun) Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 21-30 5 16,67 1 3,33 2 6,67 1 6,67 9 8,57 2 31-40 12 40,00 8 26,67 7 23,33 3 20,00 30 28,57 3 41-50 7 23,33 8 26,67 14 46,67 5 33,33 34 32,38 4 51-60 4 13,33 8 26,67 6 20,00 5 33,33 23 21,90 5 >60 2 6,67 5 16,67 1 3,33 1 6,67 9 8,57 Total 30 100,00 30 100,00 30 100,00 15 100,00 105 100,00
33,33 59,05 6,67 0,95 1-3 4-6 7-9 >9
Gambar 4 Persentase sebaran responden berdasarkan jumlah anggota keluarga 5,71 14,29 45,71 13,33 17,14 3,81 Tidak sekolah Tidak Tamat SD SD SMP SMU Perguruan Tinggi
Tingkat pendidikan responden umumnya masih rendah karena jumlah responden yang tidak sekolah, tidak tamat SD dan responden yang menamatkan sekolah di bangku SD sebesar 65,71%. Pada kategori pemungut tingkat pendidikan responden tertinggi adalah SMP. Sebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan formal yang ditamatkannya dapat dilihat pada Gambar 3.
Jumlah anggota rumah tangga responden berkisar antara 1-10 orang dengan rata-rata jumlah anggota keluarga sejumlah 4 orang Sebagian besar responden mempunyai anggota keluarga antara 4-6 orang (59,05%) dan responden yang memiliki anggota keluarga lebih dari 9 orang hanya 0,95%. Persentase sebaran jumlah anggota keluarga dapat dilihat pada Gambar 4.
Pekerjaan sebagai pemungut, pengumpul, peracik dan penjual satwa liar biasanya merupakan pekerjaan yang turun menurun. Sebagian responden yang diwawancarai menyatakan bahwa pekerjaan yang ditekuninya sekarang adalah melanjutkan pekerjaan dan usaha orangtuanya dahulu. Sebaran lamanya responden bekerja sebagai pemanfaat satwa liar adalah seperti yang terdapat pada Gambar 5.
28
19,05 15,24
65,71
< 5 tahun 5-10 tahun >10 tahun
Gambar 5 Persentase sebaran responden berdasarkan lama bekerja Lamanya responden bekerja sebagai pemanfaat satwa liar bervariasi, sebagian besar responden telah menekuni pekerjaannya lebih dari sepuluh tahun 65,71% (Gambar 5). Rata-rata lamanya bekerja pemungut adalah 17 tahun, pengumpul 17 tahun, peracik 13 tahun dan penjual 19 tahun. Rata-rata lamanya bekerja peracik menunjukkan angka yang paling kecil karena usaha peracikan satwa untuk obat secara komersial belum begitu lama dibanding dengan pekerjaan pemungutan, pengumpulan dan penjualannya. Beberapa peracik satwa obat mengatakan bahwa pekerjaan semula sebelum menjadi peracik adalah sebagai pemungut atau pengumpul.
Pemanfaatan Satwa Liar sebagai Obat oleh Masyarakat Jenis satwa liar yang digunakan sebagai obat
Dari hasil pengisian kuesioner dan wawancara dengan pemanfaat satwa liar untuk obat, masyarakat yang ada di sekitar hutan dan masyarakat yang dipercaya mempunyai pengetahuan tentang penggunaan satwa untuk obat diperoleh sebanyak 54 jenis satwa yang digunakan untuk pengobatan tradisional (Tabel 5). Dari 54 jenis terdiri dari 42 jenis satwa liar yang bertulang belakang (Vertebrata), 10 jenis satwa yang tidak bertulang belakang (Avertebrata) dan 2 jenis satwa ternak. 42 jenis satwa liar vertebrata tersebut terbagi dalam 5 kelas yaitu amphibia, reptilia, mamalia, aves, pisces dan terdiri dari 30 familia.
Tabel 5 Jenis satwa yang digunakan sebagai obat di Jawa Tengah
No. Nama lokal Nama Indonesia Nama ilmiah Familia
VERTEBRATA AMPHIBIA
1 Kodok ijo Katak sawah Fejervarya cancrivora Ranaidae 2 Kodok saklon Katak saklon Limnonectes macrodon Ranaidae 3 Kodok brungkul Kodok brungkul Bufo sp. Bufonidae AVES
4 Pelatuk bawang Caladi ulam Dendrocopos macei Picidae 5 Sikatan Burung Sikatan Cyornis sp. Muscicapidae
6 Walet Walet Collocalia sp. Apodidae
MAMALIA
7 Bajing Bajing Callosciurus sp. Sciuridae
8 Tupai Tupai Tupaia sp. Tupaiidae
9 Codot Codot Cynopterus sp. Pteropodidae
10 Garangan Garangan Herpestes semitorquatus Herpestidae 11 Kalong/lowo Kalong Pteropus vampyrus Pteropodidae 12 Kethek Monyet ekor panjang Macaca fascicularis Cercopithecidae
13 Landak Landak Hystrix brachyura Hystricidae
14 Luwak Musang Paradoxurus hermaphroditus Viverridae
15 Rase Rase Viverricula indica Viverridae
16 Menjangan Rusa Cervus sp. Cervidae
17 Trenggiling Trenggiling Manis javanica Manidae PISCES
18 Welut Belut Synbranus macrotema Synbracidae
19 Hiu botol Hiu botol Centrophorus squamosus Squamidae
20 Kutuk Ikan gabus Channa striata Channidae
21 Kuda laut Kuda laut Hyppocampus hystrix Syngnathidae REPTILIA
22 Seliro/menyawak Biawak Varanus salvator Varanidae 23 Boyo Buaya muara Crocodylus porosus Crocodylidae 24 Bulus/labi-labi Kura-kura Amyda cartilaginea Trionychidae 25 Celeret gombel Celeret gombel Draco sp. Scincidae 26 Cecak Cicak Hemydactylus frenatus Scincidae
27 Kadal Kadal Eutropis sp. Scincidae
28 Bunglon Bunglon Bronchocela sp. Scincidae
29 King kobra King kobra Ophiophagus hannah Elapidae 30 Penyu Penyu hijau Chelonia mydas Cheloniidae
31 Tekek Tokek Gekko gecko Gekkonidae
32 Ulo dumung Ular kobra Naja sputatrix Elapidae 33 Ulo koros Ular koros Ptyas korros Colubridae 34 Ulo sowo Ular sanca Python reticulatus Pythonidae 35 Ulo jali Ular jali Ptyas mucosus Colubridae 36 Ulo lanang sapi Ular lanang sapi Elaphe radiata Colubridae
30 3 3 11 4 21 0 5 10 15 20 25 Jum lah j e ni s satwa ( jen is )
Amphibia Aves Mamalia Pisces Reptilia
Kelas
No. Nama lokal Nama Indonesia Nama ilmiah Familia 37 Ulo welang Ular welang Bungarus fasciatus Elapidae
38 Ulo weling Ular weling Bungarus candidus Elapidae 39 Ulo taliwangsa Ular cincin emas Boiga dendrophila Elapidae 40 Ulo karung Ular karung Acrochordus javanicus Acrochordidae 41 Ulo pelangi Ular pelangi Xenopeltis unicolor Xenopeltidae 42 Ulo kadut Ular rawa air tawar Homalopsis buccata Colubridae
AVERTEBRATA
43 Kalajengking Kalajengking Diplocentrus whitei Diplocentridae 44 Kerang mutiara Kerang mutiara Pictata maxima
45 Kelabang Kelabang Scolopendra sp Scolopendidae 46 Cacing Cacing tanah Lumbricus rubellus Lumbricidae 47 Lintah sawah Lintah sawah Hirudo medicinalis Arhynchobdellidae 48 Landak laut Landak laut Diadema saxatile Diadematidae
49 Bekicot Bekicot Achatina fulica Achatinidae
50 Teripang mas Teripang Sticophus sp.
51 Undur-undur Undur-undur Myrmeleon sp Myrmeleonidae
52 Tawon Lebah Apis sp. Apidae
TERNAK
53 Marmut Marmut Cavia sp. Cavidae
54 Kerbau Kerbau Bubalus bubalis Bovidae
Jumlah jenis dari masing-masing kelas yang termasuk dalam 42 jenis satwa liar vertebrata yang digunakan sebagai obat ditampilkan pada Gambar 6.
Gambar 6 Jumlah jenis satwa liar yang digunakan sebagai obat pada masing- masing kelas.
Gambar 6 memperlihatkan bahwa reptilia merupakan kelas yang memiliki jumlah jenis satwa yang paling banyak digunakan sebagai obat yaitu 21 jenis dan sebagian besar adalah jenis ular. Berdasarkan informasi dan pengetahuan masyarakat tentang jenis-jenis satwa liar yang digunakan sebagai obat, ular kobra (Naja sputatrix) (Gambar 7) merupakan jenis satwa yang paling banyak dipercaya mempunyai khasiat obat (25,31%). Lima jenis satwa yang paling banyak dipercaya mempunyai khasiat untuk pengobatan disajikan dalam Tabel 6.
Tabel 6 Lima jenis satwa yang paling banyak dipercaya berkhasiat obat
Selain satwa yang diyakini bisa digunakan untuk mengobati penyakit secara umum, ternyata terdapat beberapa jenis satwa yang sering digunakan untuk tujuan
magic yaitu burung gagak (Corvus sp.) dan kukang (Nycticebus coucang) seperti yang diungkapkan oleh responden.
Status Konservasi Satwa Liar Obat
Berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, Daftar Apendiks CITES (Convention on International Trade of Endangered Species of Wild Fauna and Flora) dan IUCN (Internatinal Union for Conservation of Nature and Natural Resources) Red List of Threatened Species
(IUCN 2007); tercatat 5 jenis satwa yang digunakan sebagai obat adalah satwa dilindungi undang-undang, 15 jenis masuk dalam daftar apendiks CITES dan 18 jenis tercatat dalam Red List of Threatened Species IUCN (Tabel 7).
No Nama jenis Jumlah responden %
1 Ular kobra 61 25,31
2 Biawak 28 11,62
3 Tokek 26 10,79
4 Kalong 20 8,30
Status Konservasi
No. Nama jenis Nama ilmiah UU 5 TH 90 &
PP 7 TH 99 CITES IUCN
AMPHIBIA
1 Katak sawah Fejervarya cancrivora Resiko Rendah ver 3,1(2001)
2 Katak saklon Limnonectes macrodon Rentan ver 3,1 (2001)
3 kodok brungkul Bufo sp.
AVES
4 Caladi ulam Dendrocopos macei Resiko Rendah ver 3,1(2001)
5 Burung Sikatan Cyornis sp.
6 Walet Collocalia sp. Apendiks II
MAMALIA
7 Bajing Callosciurus sp. Resiko Rendah ver 3,1(2001)
8 Tupai Tupaia sp. Apendiks II Resiko Rendah ver 3,1(2001)
9 Codot Cynopterus sp. Resiko Rendah ver 3,1(2001)
10 Garangan Herpestes semitorquatus Resiko Rendah ver 3,1(2001)
11 Kalong Pteropus vampyrus Apendiks II Resiko Rendah ver 2,3 (1994)
12 Monyet ekor panjang Macaca fascicularis Apendiks II Resiko Rendah ver 2,3 (1994)
13 Landak Hystrix brachyura Dilindungi Rentan ver 2,3 (1994)
14 Musang Paradoxurus hermaphroditus Apendiks III Resiko Rendah ver 2,3 (1994)
15 Rase Viverricula indica Apendiks III Resiko Rendah ver 2,3 (1994)
16 Rusa Cervus sp. Dilindungi Resiko Rendah ver 2,3 (1994)
17 Trenggiling Manis javanica Dilindungi Resiko Rendah ver 2,3 (1994)
PISCES
18 Belut Synbranus macrotema
19 Hiu botol Centrophorus squamosus Rentan ver 3,1 (2001)
20 Ikan gabus Channa striata
33
Status Konservasi
No. Nama jenis Nama ilmiah UU 5 TH 90 &
PP 7 TH 99 CITES IUCN
REPTILIA
22 Biawak Varanus salvator Apendiks II
23 Buaya muara Crocodylus porosus Dilindungi Apendiks II Resiko Rendah ver 2,3 (1994)
24 Kura-kura Amyda cartilaginea Apendiks II Rentan ver 3,1 (2001)
25 Celeret gombel Draco sp.
26 Cecak Hemydactylus frenatus
27 Kadal Eutropis sp.
28 Bunglon Bronchocela sp.
29 King kobra Ophiophagus hannah Apendiks II
30 Penyu hijau Chelonia mydas Dilindungi Apendiks I Genting ver 3,1 (2001)
31 Tokek Gekko gecko
32 Ular kobra Naja sputatrix Apendiks II
33 Ular koros Ptyas korros
34 Ular sanca Python reticulatus Apendiks II
35 Ular jali Ptyas mucosus Apendiks II
36 Ular lanang sapi Elaphe radiata
37 Ulang welang bergaris Bungarus fasciatus
38 Ular welang Bungarus candidus
39 Ular cincin emas Boiga dendrophila
40 Ular karung Acrochordus javanicus
41 Ular pelangi Xenopeltis unicolor
Gambar 7 Ular kobra (Naja sputatrix), salah satu jenis satwa yang paling banyak dipercaya mempunyai khasiat obat.
Penangkapan Satwa
Semua pemungut menyatakan bahwa satwa yang mereka jual berasal dari penangkapan pada habitatnya di alam. Lokasi penangkapan (habitat satwa) dan cara penangkapan masing-masing jenis satwa bervariasi seperti terdapat pada Tabel 8.
Tabel 8 Habitat dan cara penangkapan satwa
Jenis Lokasi Penangkapan
(Habitat satwa)
Alat yang digunakan dalam penangkapan
Belut sawah tangan
Biawak sungai, sawah tangan
Bulus waduk, sungai dipancing, disetrum
Bunglon pohon tangan
Cicak rumah, kebun tangan
Codot pohon buah jaring
Kalong pohon buah jaring
Ikan gabus sungai dipancing, disetrum
Katak sawah, kolam tangan, jerat
Monyet ekor panjang hutan lindung dikejar
Landak di goa di tebing hutan jebakan
Tokek pohon-pohon besar, kebun tangan
Trenggiling hutan jati, daerah dekat hutan tangan
Tupai pohon, rumpun bambu ditembak
Ular sanca hutan, dekat sungai besar di dekat hutan tangan
Ular jali sawah, tegalan, kebun tangan
Ular kadut sungai, kolam tangan
Ular kobra daratan, sempadan sungai, lubang tanggul sawah
tangan, jerat
Ular lanang sapi daratan tangan
Ular taliwangsa daratan, rumpun bambu, pohon-pohon tangan
Ular welang di lubang dekat tanggul tangan
Ular weling di lubang dekat tanggul tangan
Kuda laut laut jaring
35 Tangan Alat jerat Lainnya 56,00 24,00 20,00 0 10 20 30 40 50 60 P ersen tase (% ) Cara penangkapan
Gambar 8 Persentase cara penangkapan satwa dari alam.
Lokasi penangkapan satwa oleh pemungut adalah habitat satwa yang berada di sekitar tempat tinggal mereka, tetapi bila jumlah tangkapan di daerahnya sedikit pemungut sering menangkap satwa di kabupaten lain yang merupakan habitat jenis-jenis satwa yang mereka cari. Bahkan pemungut yang bertempat tinggal di perbatasan propinsi kadang menangkap satwa di propinsi lain. Seperti terjadi pada pemungut yang bertempat tinggal di Rembang, yang merupakan perbatasan antara Propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, pemungut di Rembang kadang menangkap satwa sampai ke Tuban (Jawa Timur).
Satwa yang dikumpulkan oleh pengumpul berasal dari pemungut maupun pengumpul di daerah dia tinggal, tetapi dapat juga berasal dari kabupaten lain bahkan propinsi lain. Seorang pengumpul di Sragen sering membeli satwa (reptilia) dari para pengumpul kecil di Ngawi (Jawa Timur). Jenis satwa obat yang beredar di Jawa Tengah yang berasal dari propinsi lain diantaranya adalah buaya (Papua), kalong (Madura) dan bulus (Kalimantan Selatan).
Penangkapan satwa dilakukan sepanjang tahun, baik musim penghujan maupun musim kemarau. Namun menurut informasi dari para pemungut, pada musim kemarau satwa susah dicari sehingga biasanya pada musim kemarau hasil yang diperolehnya lebih sedikit daripada musim penghujan. Frekuensi penangkapan satwa oleh pemungut dalam sebulan rata-rata adalah 22 kali. Penangkapan biasanya dilakukan pada malam hari, untuk jenis-jenis tertentu seperti landak, tupai, dan monyet penangkapan dilakukan pada siang hari. Para
pemungut memulai pekerjaannya mulai jam 20.00 sampai 02.00 WIB. Para pemungut biasanya libur untuk mencari satwa pada malam terang bulan purnama dan malam Jumat. Malam mendekati terang bulan purnama biasanya satwa tidak keluar dari sarangnya sehingga jarang mereka bisa menjumpai satwa di lapangan, sedangkan malam jumat dipercaya sebagai malam yang sakral sehingga sebagian besar pemungut menganggap tabu dan tidak baik mencari satwa pada malam Jumat.
Dari pemungut dan pengumpul yang diwawancarai, 78,33% menyatakan bahwa mereka mengambil satwa dengan kriteria tertentu, dan 21,67% yang tidak menggunakan kriteria apapun, satwa yang masih terlalu kecil tidak diambil karena tidak laku dipasaran. Kriteria yang biasa digunakan adalah berat tubuh atau panjang tubuh. Misalnya untuk ular kobra ukuran yang diterima di pasaran adalah yang berukuran minimal 95 cm; sanca minimal 2,7 meter; taliwangsa minimal 1 meter dan ular kadut minimal 60 cm. Bila ukuran satwa kurang dari kriteria yang sudah ditentukan maka harga akan anjlok, seperti untuk jenis ular kobra yang panjangnya > 95 cm harganya Rp.10.000, tetapi bila ukurannya kurang dari itu maka harganya cuma Rp.2000. Beberapa jenis satwa sengaja ditangkap ketika satwa masih kecil sesuai dengan permintaan konsumen, jenis monyet dan kijang biasanya ditangkap saat masih kecil karena dijual untuk pet. Walaupun menurut responden mereka mengetahui kriteria satwa yang laku di pasaran tetapi kadang ada beberapa responden yang tidak memperhatikan kriteria tersebut.
Satwa hasil tangkapan yang mereka kumpulkan biasanya langsung dijual ataupun diracik. Bila satwa tersebut tidak langsung dijual jarang ada pemeliharaan khusus terhadap satwa, satwa biasanya ditaruh waring (karung strimin) atau ditaruh di kandang tanpa diberi makan, hanya kadang-kadang disiram dengan air sampai waktunya untuk dijual. Tidak ada responden yang sudah berhasil menangkarkan satwa liar tersebut walaupun ada beberapa orang responden mengaku pernah mencobanya.
Berdasarkan perhitungan, dugaan jumlah masing-masing jenis satwa yang ditangkap untuk dimanfaatkan sebagai racikan obat tersaji dalam Tabel 9. Penghitungan didasarkan pada pengamatan jumlah satwa yang dijual oleh responden dikalikan frekuensi penjualannya per bulan.
37
Tabel 9 Jumlah satwa liar yang diduga dimanfaatkan sebagai obat di Jawa Tengah.
Jumlah
No. Jenis satwa
Unit/bulan Unit/tahun Unit 1 Tokek 81.240 974.880 ekor 2 Ular koros 14.234 170.808 ekor 3 Ular kobra 10.908 130.896 ekor 4 Cicak 8.800 105.600 ekor 5 Katak 8.525 102.300 kg 6 Ular kadut 5.629 67.548 ekor 7 Kadal 2.608 31.296 ekor 8 Ular jali 2.029 24.348 ekor 9 Ular lanang sapi 1.966 23.592 ekor 10 Ular taliwangsa 1.623 19.476 ekor 11 Biawak 1.085 13.020 ekor 12 Ular pelangi 850 10.200 ekor 13 Ikan kutuk 474 5.688 kg 14 Tupai 335 4.020 ekor 15 Bunglon 180 2.160 ekor 16 Ular sanca 167 2.004 ekor 17 Bulus 161 1.932 ekor 18 Kuda laut 150 1.800 ekor 19 Codot 140 1.680 ekor 20 Ular welang 108 1.296 ekor 21 Hiu 106 1.272 ekor 22 Penyu 101 1.212 ekor 23 Kalong 98 1.176 ekor 24 Bajing 80 960 ekor 25 Landak 54 648 ekor 26 Buaya 50 600 ekor 27 Luwak 14 168 ekor 28 Garangan 10 120 ekor 29 Monyet ekor panjang 6 72 ekor 30 Celeret gombel 4 48 ekor 31 Rase 4 48 ekor 32 Burung Pelatuk bawang 1 12 ekor 33 Burung Sikatan 1 12 ekor 34 Trenggiling 1 12 ekor
Satwa liar yang diketahui jumlah pemanfaatannya adalah satwa liar yang sudah banyak digunakan dan diperjualbelikan oleh masyarakat, sedangkan satwa liar yang tidak banyak digunakan dan masih jarang diperjualbelikan tidak bisa diduga jumlah pemanfaatannya. Satwa yang masih jarang digunakan sebagai obat diantaranya adalah kodok brungkul, rusa dan bunglon.
Bagian Satwa, Kegunaan dan Cara Penggunaannya Sebagai Obat Bagian yang Digunakan Sebagai Obat
Dalam pemanfaatan satwa sebagai obat, bukan hanya jenis satwa yang beranekaragam melainkan bagian tubuh satwa yang digunakan juga beranekaragam. Satwa liar mempunyai bagian tertentu yang dipercaya paling berkhasiat dalam penyembuhan suatu penyakit dan masing-masing bagian tubuh satwa dipercaya mempunyai khasiat yang berbeda-beda, sehingga satu jenis satwa liar bisa digunakan untuk menyembuhkan beberapa macam penyakit.
Ditinjau dari bagian satwa yang digunakan untuk bahan ramuan obat tradisional terdapat 23 macam bagian satwa yaitu: bisa, cangkang/karapas, daging, darah, duri, ekor, empedu, hati, kulit, cairan/lendir, lidah, minyak, otak, paruh, sarang, sisik, sumsum, tanduk, tangkur, telur, tulang, madu dan semua bagian satwa. Pemakaian masing-masing bagian tubuh satwa dapat dilihat pada Gambar 9. Berdasarkan jumlah bagian satwa yang digunakan sebagai bahan obat, lima bagian satwa yang paling sering digunakan adalah seperti terdapat pada Tabel 10.
Tabel 10 Bagian satwa yang paling sering digunakan sebagai bahan obat
No. Bagian satwa Jumlah jenis satwa Persentase (%)
1 Daging 25 24,04
2 Empedu 15 14,42
3 Semua bagian 11 10,58
4 Hati 9 8,65
39
Gambar 9 Jumlah jenis satwa berdasarkan bagian-bagiannya yang digunakan sebagai obat.
Tabel 10 menunjukkan bahwa dari 23 bagian satwa yang digunakan sebagai obat, daging merupakan bagian yang paling banyak digunakan yaitu 24,04% (25 jenis). Empedu menempati urutan kedua dalam pemakaiannya sebagai bahan obat (14,42%) dan urutan ketiga adalah pemakaian semua bagian satwa (10,58%).
Masing-masing bagian satwa kadang mempunyai fungsi yang berbeda-beda sehingga pemakaian masing bagian sangat bervariasi. Terkadang masing-masing bagian digunakan secara tunggal untuk menyembuhkan suatu penyakit tetapi kadang beberapa bagian satwa (2 bagian atau lebih) digunakan secara bersama-sama, bahkan beberapa satwa digunakan secara keseluruhan dalam sebuah ramuan jamu/obat tradisional.
Kegunaan satwa obat
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dengan responden, jenis-jenis satwa tersebut dipercaya bisa menyembuhkan sekitar 50 penyakit diantaranya untuk mengobati penyakit diabetes, batuk, penyakit kulit,
0 5 10 15 20 25 30
Bagian satwa yang digunakan sebagai obat
Ju m lah j e ni s satwa (j e n is ) bisa cangkang/karapas daging darah duri ekor empedu hati kulit cairan/lendir lidah minyak otak paruh sarang sisik sumsum tanduk tangkur telur tulang madu semua bagian
0 5 10 15 20 25 Kelompok penyakit J u ml ah j en is sat w a yan g d ip akai
Sakit kepala, demam, masuk angin dan penurun panas Penyakit saluran pencernaan
Penyakit saluran pernafasan Penyakit pendengaran Pengobatan luka
Penyakit otot persendian dan tulang Kanker,tumor
Kholesterol,darah tinggi dan stroke Penyakit mata
Diabetes Tonikum/Stamina
Penyakit saluran kencing/ginjal Penyakit gigi
Jantung Penyakit dalam Hepatitis, liver,limfa Penyakit kulit
Perawatan rambut, muka dan kulit Penawar racun
Obat kuat lelaki, lemah syahwat Lainnya (lepra,beri-beri, saraf dsb).
penyakit dalam, kanker dan sebagainya (Lampiran 4). Beberapa jenis satwa berkhasiat untuk perawatan kulit, perawatan rambut dan menambah stamina. Berdasarkan jenis penyakit yang disembuhkan, kegunaan jenis satwa liar tersebut dikelompokkan menjadi 21 macam kelompok penyakit (Gambar 10).
Gambar 10 Jumlah jenis satwa obat berdasarkan kelompok penyakit yang disembuhkan
Dari 21 kelompok penyakit tersebut, kelompok penyakit yang dianggap paling banyak dapat disembuhkan seperti terdapat dalam Tabel 11.
Tabel 11 Kelompok penyakit yang dianggap paling banyak dapat disembuhkan dengan pengunaan obat tradisional dari satwa liar
Kelompok penyakit Jumlah jenis satwa Persentase (%)
Penyakit saluran pernafasan 20 14,49
Penyakit kulit 18 13,04
Tonikum/Stamina 14 10,14
Diabetes 10 7,25
Obat kuat lelaki, lemah syahwat 9 6,52
Perawatan rambut, muka dan kulit 8 5,80
Pengobatan luka 7 5,07
Penyakit otot persendian dan tulang 7 5,07
Hepatitis, liver,limfa 6 4,35
41 38,02 33,88 11,57 13,22 0,83 0,83 1,65 0 5 10 15 20 25 30 35 40
dimakan diminum dioles ditelan ditempel dibasuh pipa
Cara penggunaan
P
e
rsentase (%
)
Dari Tabel 11 dapat dilihat bahwa sebagian besar satwa digunakan untuk mengobati kelompok penyakit saluran pernafasan (asthma, TBC, batuk, step/
kejang akibat demam, paru-paru) yaitu sebesar 14,49% (20 jenis), diikuti oleh penyakit kulit 13,04% (18 jenis) dan penambah stamina dan nafsu makan 10,14% (14 jenis). Satwa yang digunakan untuk mengobati penyakit kulit diantaranya adalah segala jenis ular, biawak, tokek, cicak dan kadal; sedangkan satwa yang digunakan sebagai penambah stamina adalah ular, garangan, landak dan luwak.
Selain 21 kelompok penyakit tersebut terdapat jenis satwa yang digunakan untuk penyembuhan semua penyakit secara magic. Satwa yang digunakan sebagai sarana pengobatan secara magic diantaranya adalah burung pelatuk bawang dan burung sikatan. Ada juga satwa yang digunakan untuk mengobati penyakit karena roh halus (santet) yaitu burung gagak dan ukang juga digunakan untuk menjaga
Cara Penggunaan
Berdasarkan cara penggunaan satwa sebagai obat oleh masyarakat dibedakan menjadi 7 macam yaitu: dimakan, diminum, dioles, ditelan, ditempel, dibasuh dan dipakai sebagai pipa rokok. Jumlah jenis satwa menurut cara penggunaannya disajikan pada Gambar 11.
Penggunaan dengan cara dimakan merupakan cara yang paling sering digunakan oleh masyarakat (38,02%), demikian juga dengan penggunaan dengan cara diminum (33,88%). Agak sedikit satwa yang cara penggunaannya dengan cara dioles dan ditelan serta sangat jarang yang penggunaannya dengan cara dibasuh atau dipakai sebagai pipa.
Penggunaan satwa obat dengan cara dimakan mempunyai persentase yang paling besar berkaitan dengan banyaknya bagian satwa yang paling banyak digunakan yaitu daging. Daging biasanya dimasak terlebih dahulu dicampur dengan bumbu dan rempah-rempah dibuat menjadi masakan yang khas seperti rica-rica, sate, swike dan sebagainya. Pada anak-anak untuk mempermudah pemberiannya maka daging diolah menjadi abon.
Penggunaan satwa dengan cara diminum juga merupakan cara yang sering dilakukan. Bagian satwa yang diminum biasanya berbentuk darah atau cairan tertentu, tetapi bagian lain juga sering digunakan dengan cara diminum dengan terlebih dahulu mengolah bagian satwa (daging, empedu, tulang atau seluruh