Risiko Produksi merupakan salah satu risiko yang biasa dihadapi oleh setiap usaha, salah satunya usaha dibidang pertanian. Hal ini disebabkan adanya sumber risiko yang mempengaruhi produksi suatu komoditi sehingga menyebabkan komoditi tersebut mengalami fluktuasi hasil produksi. Fluktuasi hasil produksi dan produktifitas akan mempengaruhi penerimaan perusahaan. Dimana, semakin tinggi risiko produksi yang dihadapi perusahaan maka tingkat penerimaan akan semakin kecil.
Risiko pengusahaan sayuran yang dibahas dalam penelitian ini difokuskan Pada tiga komoditas yang diusahakan yaitu Brokoli, Caisim dan wortel. Penentuan risiko produksi pada penelitian ini didasarkan pada penilaian varians, standar deviasi, dan koefisien variasi yang diperoleh dari hasil peluang terjadinya suatu kejadian. Peluang terjadinya suatu kejadian dapat dilihat dari kondisi tertinggi, normal, dan terendah dari rata-rata produktivitas yang dihasilkan oleh masing-masing komoditas.
Tabel 11 Rata-rata Produksi, Produktivitas dan Pendapatan The Pinewood Organic Farm pada Komoditas Brokoli, Caisim dan Wortel
Komoditas Rata-Rata Penerimaan
(Rp) Kondisi Peluang Produks (Kg) Poduktifitas (Kg/m2)
Brokoli Tertinggi 0.29 108.6 1.509 5.215.228 Normal 0.37 92.0 1.277 4.416.533 Terendah 0.33 66.6 0.927 3.361.200 Caisim Tertinggi 0.29 116.6 1.293 3.959.300 Normal 0.54 79.6 0.884 2.706.138 Terendah 0.17 57.9 0.664 1.971.080 Wortel Tertinggi 0.37 118.8 1.319 3.563.666 Normal 0.25 93.03 1.033 2.791.000 Terendah 0.38 79.7 0.885 2.390.333
Tabel 7 menunjukkan peluang yang diperoleh dari tiga kondisi yang terjadi pada sayuran Brokoli, Caisim dan wortel. Peluang tertinggi, normal dan terendah diukur dari proporsi frekuensi atau berapa kali perusahaan pernah mencapai produksi tertinggi, normal dan terendah selama kegiatan produksi berlangung.
Adanya produksi, produktivitas dan pendapatan yang berfluktuasi mengindikasikan peluang perusahaan memperoleh produksi dan pendapatan tertinggi, normal dan terendah dapat diamati dengan mempertimbangkan periode waktu selama produksi. Produktivitas masing-masing komoditas memiliki range yang berbeda-beda yakni Brokoli 0.927 Kg/m2 sampai 1.509 Kg/m2, caisim antara 0.664 Kg/m2 sampai 1.293 Kg/m2dan wortel antara 0.885 Kg/m2 sampai 1.319 Kg/m2. Sedangkan untuk range pendapatan masing komoditas adalah brokoli antara Rp 3.361.300 sampai Rp 5.215.228, untuk caisim antara Rp 1.971.080 sampai Rp 3.959.300, dan untuk wortel mulai dari Rp 2.390.333 sampai Rp 3.563.666.
Produktivitas dan pendapatan tertinggi adalah tingkat produtivitas dan pendapatan yang paling tinggi yang pernah diterima oleh perusahaan selama perusahaan mengusahakan komoditas tersebut. Sedangkan yang dimaksud dengan produktivitas dan pendapatan yang paling rendah adalah produktivitas dan pendapatan paling rendah yang pernah diperoleh oleh perusahaan. Sementara untuk produktivitas dan pendapatan normal dalam hal ini adalah yang sering diterima oleh perusahaan selama mengusahakan komoditas tersebut. Produktivitas yang diharapkan oleh perusahaan adalah produktivitas tertinggi karena akan berimplikasi terhadap pendapatan yang akan diterima oleh perusahaan. Yang menjadi faktor penyebab produksi pada kondisi tinggi, normal dan rendah adalah faktor cuaca, hama penyakit dan teknologi produsi yang digunakan yaitu penanaman pada lahan terbuka dan green house.
1. Curah hujan
Curah hujan merupakan salah satu tolak ukur tingkat ketersediaan air pada suatu daerah. Oleh karena itu ketersediaan air berpengaruh besar terhadap kelangsungan hidup tanaman. Air dibutuhkan mulai dari proses penanaman hingga produksi. Berdasarkan informasi dari lapangan, kondisi cuaca sulit diprediksi, sedangkan cuaca sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan sayuran hingga produksi. Curah hujan yang sesuai untuk sayuran organik adalah curah hujan dengan curah hujan yang rendah, dikarenakan tanaman pada curah hujan yang rendah tidak rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Sedangkan sebaliknya curah hujan yang tinggi akan menyebabkan produktivitas sayuran menurun dikarenakan tanaman rentan terhadap penyakit. Sehingga akan berdampak kepada hasil produksi yang tidak optimal. Oleh karena itu The Pinewood Organic Farm dalam meminimalisir risiko terhadap curah hujan yang tinggi, dengan membangun green house sehingga persentase keberhasilan sayuran dapat dicapai secara optimal. Untuk pemakaian green house baru dapat dilakukan untuk komoditas brokoli dan caisim yang dibudidayakan secara tumpang sari didalam green house, sementara untuk tanaman wortel diusahakan diluar green house.
2. Kabut
Kabut yang timbul disekitar daerah The Pinewood Organic Farm cukup tinggi. Hal ini dapat menyebabkan kelembapan udara menjadi tinggi sehingga membuat tanaman mudah rusak dan busuk. Selain itu kabut merupakan media bagi hama dan penyakit untuk menyerang tanaman. Karena Berdasarkan informasi dilapangan kabut seringkali muncul setiap pagi, setelah hujan, dan saat sore menjelang malam.
3. Serangan hama penyakit
Serangan hama penyakit merupakan slah satu faktor yang dihadapi oleh perusahaan dalam membudidayakan sayuran organic, hal ini disebabkan karena karakteristik sayuran organik yang rentan terhadap hama penyakit dan akan berdampak terhadap produksi yang dihasilkan.
Hama yang sering menyerang sayuran organik adalah ulat tritip (Plutella maculipennis) sedangkan penyakit yang sering meyerang sayuran adalah bercak daun dan busuk daun.
4. Tingkat kesuburan lahan
Karakteristik tanah sangat berpengaruh untuk hasil yang akan diperoleh, karena kesuburan lahan sebagai salah satu penentu tanaman yang diusahakan akan memperoleh hasil yang optimal. Maka rotasi tanaman perlu dilakukan dalam mengusahakan budidaya sayuran dan tanah juga perlu diberakan guna untuk mengistirahatkan tanah dari tanaman sebelumnya.
5. Tenaga Kerja
Kegiatan produksi sayuran organik pada The Pinewood Organic Farm tidak terlepas dari tenaga kerja yang melakukan kegiatan proses produksi. Karena tenaga kerja adalah sumber daya manusia mempengaruhi efektifitas dan efisiensi perusahaan. Perusahaan harus melakukan perekrutan karyawan yang terampil, berpendidikan dan memiliki keahlian sehingga membantu perusahaan mengoptimalkan hasil produksi. Berbeda apabila perusahaan tidak memiliki karyawan yang tidak terampil dan tidak memiliki keahlian maka hal tersebut akan menjadi sumber risiko bagi perusahaan yang mana akan berdampak negatif kepada hasil yang diperoleh.
6. Peralatan dan Bangunan
Peralatan dan bangunan apabila dijaga dengan baik akan menghasilkan fungsi kerja yang baik sehingga akan mampu mendukung keberhasilan suatu usaha. Namun peralatan dan bangunan akan menjadi risiko produksi apabila kondisi peralatan dan bangunan tidak terawat atau bahkan rusak. Maka hal ini akan berdampak terhadap hasil yang tidak optimal.
Green House merupakan bangunan utama dalam kegiatan produksi beberapa komoditas yang diusahakan oleh The Pinewood Organic Farm. Green house memiliki fungsi yang berperan dalam keberhasilan produksi sayuran organik. Fungi green house adalah untuk menstabilkan pengaruh cuaca, angin, hujan dan serangan hama penyakit yang berasal dari lingkungan eksternal. Begitu green
house mengalami kerusakan maka fungsi nya untuk mengisolasi lingkungan yang kondusif didalam green house tidak berjalan dengan baik.
Kerusakan yang terjadi dilapangan adalah kebocoran atap green house
karena terbuat dari plastik Polyvinyl Choride (PVC). Kerusakan tersebut diakibatkan oleh terpaan angin yang kencang. Selain atap green house yang mengalami kerusakan, dinding green house juga mengalami kerusakan antara lain berlubang dan sobek. Hal ini menyebabkan masuknya serangan hama dan penyakit tanaman sehingga menyebabkan hasil produksi yang tidak optimal.
Analisis Risiko
Setelah dilakukan pengukuran peluang dari kejadian yang terjadi maka dilakukan penyelesaian pengambilan keputusan yang mengandung risiko dengan menggunakan expected return. Expected return yang dihitung berdasarkan jumlah dari nilai yang diharapkan terjadinya peluang masing-masing kejadian tertinggi, normal, dan terendah pada komoditas Brokoli, Caisim dam Wortel. Expected return merupakan nilai penerimaan yang diharapkan dapat diperoleh setelah memperhitungkan risiko yang ada. Hal ini dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 12 Penilaian Expected Return Komoditas Brokoli, Caisim dan Wortel pada
The Pinewood Organic Farm
Komoditas Expected Return
Brokoli 4.300.184
Caisim 2.597.898
Wortel 2.936.366
Dari Tabel diketahui bahwa expected return komoditas Brokoli merupakan yang paling tinggi dibandingkan kedua komoditas yang lain. Hal ini disebabkan
The Pinewood Organic Farm lebih berkonsentrasi pada komoditas tersebut dibandingkan yang lainnya. Perusahaan lebih konsentrasi terhadap komoditas brokoli pertimbangan permintaan pasar brokoli cenderung lebih tinggi dan relatif lebih memliki harga jual yang tinggi apabila dibandingkan dengan kedua komoditas lainnya. Hal tersebut menjadi dasar bagi pihak perusahaan yang lebih berkonsentrasi pada produksi brokoli. Produksi yang lebih tinggi ini akan berpengaruh pada penerimaan yang diharapkan (expected return) oleh perusahaan yang juga akan ikut meningkat
Analisis Risiko Komoditas Tunggal
Penilaian risiko produksi pada komoditas tunggal dilihat diawali dengan menentukan peluang dari setiap kejadian yang terjadi pada komoditas Brokoli, Caisim dan Wortel. Nilai peluang masing-masing kejadian menunjukkan frekuensi kejadian dalam periode tertentu. Setelah mengetahui nilai peluang dari masing-masing kejadian, tahap selanjutnya adalah menghitung Expected return, varians, standar deviasi, dan koefisien variasi. Setelah mengetahui nilai perhitungan ini maka dapat dilihat seberapa besar risiko yang dihadapi oleh The Pinewood Organic Farm dalam mengusahakan tiga komoditas tersebut. Tabel 9
merupakan hasil perhitungan besaran risiko yang dihadapi perusahaan dalam usaha sayuran organik.
Tabel 13 Penilaian Risiko Pada Brokoli, Caisim dan Tomat
Komoditas Expected
Return
Varian Standar Deviasi Coefisien Variasi
Bokoli 4.300.184 0,0000539452 0,00734473 0,170
Caisim 2.597.898 0,0000466513 0,00683017 0,262
Wortel 2.936.366 0,0000265131 0,00514908 0,180
Berdasarkan Tabel 13 diatas dapat diketahui bahwa penilaian risiko produksi diperoleh nilai variance berbanding lurus dengan standard deviation
yaitu jika nilai variance tinggi maka nilai standard deviation juga akan tinggi. Hal ini dapat dilihat pada nilai variance dan standard deviation tertinggi dari ketiga komoditas yang dikaji terdapat pada komoditas brokoli yaitu 0,0000539452 dan 0,00734473. Sedangkan variance dan standard deviation yang paling rendah terdapat pada komoditas wortel yaitu 0,0000265131 dan 0,00514908.
Nilai koefisien variasi menunjukkan bahwa untuk satu satuan kg yang dihasilkan ternyata caisim menghadapi risiko paling tinggi sebesar 0,262 persen, diikuti oleh wortel, sedangkan brokoli mengahdapi risiko yang paling rendah. Karena semakin besar nilai koefisien variasi maka semakin tinggi tingkat risiko yang dihadapi.
Berdasarkan wawancara dilapang, didapatkan informasi bahwa tanaman Caisim merupakan tanaman yang rentan terhadap hama penyakit, karena untuk tanaman caisim ada yang ditanam dilahan terbuka yang mana rentan terhadap curah hujan dan hama penyakit. Curah hujan yang tidak stabil menyebabkan tanaman caisim menjadi kerdil sementara hma penyakit yang sering menyerang caisim adalah ulat daun, kutu daun dan tungau. Hama-hama ini menyebabkan kerusakan pada tekstur daun, seperti daun menjadi berlubang dan layu. Produksi komoditas yang secara organik menyebabkan tanaman lebih mudah terserang hama dan penyakit, karena membutuhkan perhatian ekstra dan penanganannya dilakukan secara manual.
Berbeda dengan hasil penelitian Cher (2011), yang didalam penelitiannya juga menghitung tingkat risiko pada sayuran, menyatakan bahwa brokoli mempunyai nilai atau tingkat risiko lebih tinggi diantara komoditas yang lain, sebesar 0.564. alasannya, sayuran brokoli sangat rentan terhadap cuaca serta hama penyakit.
Amelia (2012) menyatakan bahwa perhitunga risiko produksi yang dihasilkan caisim sebesar 0.625. berbeda dengan hasil pada penelitian ini, tingkat risiko yang dihadapi untuk komoditas caisim sebesar 0.26. hal ini dikarena luas lahan yang digunakan berbeda. sehingga penilaian risiko yang diterima pun akan berbeda.
Analisis Risiko Diversifikasi
Sayuran organik yang telah dianalisis risiko produksinya menggambarkan risiko yang dihadapi oleh perusahaan pada masing-masing komoditas yang diusahaan. The Pinewood Organic farm juga menerapkan strategi diversifikasi dalam mengusahakan berbagai jenis sayurannya. Perhitungan risiko tunggal dari
masing-masing komoditas yang dilakukan sebelumnya merupakan gambaran besaran risiko yang dihadapi oleh The Pinewood Organik Fam dari tiap-tiap komoditas.
Diversifikasi yang dilakukan oleh The Pinewood Organik Farm adalah menggabungkkan tiga komoditas yaitu komoditas brokoli, caisim dan wortel. Perhitungan risiko portofolio yang dilakukan mencakup gabungna dua komoditas dan tiga komoditas. Gabungan dari dua aset brokoli dan caisim, brokoli dan wortel serta caisim dan wortel. Untuk gabungan tiga aset yaitu brokoli, caisim dan wortel.
Tabel 14 Penilain Produksi Spesialis Pada Komoditas Brokoli, Caisim dan Wortel Komoditas Expected Return Varian Standar Deviasi Coefisien Variasi Bokoli – Caisim 3.449.041 0,0000386353 0,0641319 0,185 Brokoli – Wortel 3.618.275 0,0000336008 0,0579661 0,160 Caisim – Wortel 2.767.132 0,0000182911 0,0455904 0,164 Brokol–Caisim-wortel 3.196.387 0.0000137114 0,0387352 0,121
Resiko diversifikasi dari kombinasi tiga komoditas adalah gabungan brokoli, caisim dan wortel. Total perhitungan risiko portofolio adalah sebanyak 4 portofolio, yang perhitungannya dapat di lihat pada tabel 10. Hasil penilain risiko diversifikasi tabel 10 merupakan gambaran risiko yang di hadapi perusahaan. Penjelasan hasil perhitungan risiko portofolio dari masing – masing dari kegiatan tersebut di jelaskan sebagai berikut ini.
Analisis Risiko Diversifikasi Dua Komoditas
Berdasarkan koefisien variasi yang paling tinggi adalah brokoli dan caisin sebesar 0.184 dan yang paling rendah adalah gabungan brokoli dan wortel senilai 0.160 dengan expeted return tertinggi senilai 3.618.728.
1. Brokoli – Caisin
Diversifikasi yang pertama merupakan kombinasi komoditas yang memiliki risiko yang terendah dan tertinggi pada kegiatan spesialisasi, penggabungan brokoli dan caisin.
Pada kegiatan diversifikasi menghasilkan nilai varian yang paling tinggi sebesar 0,0000368353 tidak hanya variance, kombinasi komoditi ini juga menghasilkan nilai coefisien variasi yang paling tinggi di bandingkan kombinasi lainnya. Brokoli sebagai komoditas yang mempunyai resiko yang handal dalam budidaya tunggalnya walaupun komoditas ini sangat rentan terhadap perubahan cuaca dan hama penyakit. Diversifikasi brokoli dengan caisin merupakan kombinasi komoditas yang memiliki resiko tinggi karena pada spesifikasi memiliki tingkat resiko yang tinggi pula,selain itu brokoli memiliki harga yang paling tinggi diantara ketiga komoditas dan diikuti dengan expected return yang juga tinggi sehingga kombinasi kedua komoditas ini apabila di terapkan resiko yang di hadapi hampir sama dengan usaha spesialisasinya.
2. Brokoli – Wortel
Strategi diversifikasi yang kedua adalah kombinasi komoditas brokoli –
wortel. Kombinasi komoditas ini merupakan gabungan dari brokoli yang memiliki nilai yang paling tinggi dalam usaha spesialisasinya,sedangkan wortel memiliki urutan kedua untuk nilai expeted return nya, diversifikasi kedua komoditas brokoli – wortel menghasilkan resiko 0.160 lebih rendah apabila di bandingkan dengan kegiatan spesialisasi.
Tujuan penggunaan strategi diversifikasi pada kondisi yang beresiko adalah untuk meminimalkan besarnya resiko pada satu komoditi usaha, hal ini akan efektif apabila hasil pemikiran resiko menunjukan nilai yang lebih kecil apabila di bandingkan dengan nilai resiko pada saat mengusahakan satu komoditi sehingga komnbinasi kedua komoditas brokoli – wortel sangat dianjurkan untuk di terapkan karena hasil expectedreturnnya juga menunjukan nilai tertinggi jika di bandingkan komoditas lainnya.
3. Caisin – Wortel
Strategi penggabungan dua komoditas lainnya adalah caisin dan worel pada kegiatan spesialisasina caisin mempunyai nilai resiko yang sangat tinggi jika di bandingkan dengan komoditas yang lainnya dengan nilai expected return yang paling rendah, komoditas caisin pada kegiatan spesifikasi memilik nilai risiko yang tinggi sehingga apabila di gabungkan dengan komoditas wortel yang juga memiliki nilai risiko yang tinggi tetapi apabila di produksi secara bersamaan akan mampu memiliki risiko maka diversifikasi dua komoditas ini dapat di terapkan diversifikasi caisin dan wortel merupakan gabungan dua komoditas dengan nilai expected return yang tidak berbeda signature dengan kombinasi brokoli dan wortel dari hasil perhitungan diversifikasi pada table dapat di lihat bahwa diversifikasi antara caisin dan wortel nilai expected returnnya yang di hasilkan paling rendah dari pada kombinasi dua komoditas lainnya.
Analisis Risiko Diversifikasi Tiga Komoditas
Strategi tiga asset atau komoditi yang di usahakan brokoli,caisin dan wortel kombinasi ketiga komoditas ini merupakan kombinasi yang mununjukan nilai risiko secara keseluruhan berdasarkan hasil penilain risiko, kombinasi ke tiga komoditas ini menghasilkan expected return yang lebih tinggi apabila di bandingkan dengan spesifikasi komodita caisin dan wortel tetapi untuk komoditi brokoli kegiatan spesifikasinya menghasilkan nilai expected return yang lebih kecil.
Kombinasi ketiga komoditas dapat di pilih oleh perusahan karena nilai risikonya lebih kecil bila di bandingkan dengan kegiatan spesifikasi satu komoditas maupun penggabunagan kombinasi dua komoditas di lihat dari risiko yang di hadapi.
Alternatif Penanganan Risiko
The Pinewood Organic Farm belum melakukan penanganan risiko secara optimal untuk mengurangi risiko produksi yang ada. Analisis risiko diversifikasi adalah suatu rangkaian usaha penangan dan pengendalian tingginya nilai risiko
yang dihadapi oleh perusahaan. Tahapan strategi penanganan risiko merupakan kajian akhir atau tahapan terakhir. Yang mana perusahaan dapat menerapkannya untuk mengurangi dan mengendalikan risiko yang sedang dihadapi.
Upaya yang dilakukan oleh The Pinewood Organic Farm dalam mengatasi risiko yang dihadapi adalah dengan terlebih dahulu mengidentifikasi risiko-risiko yang ada kemudian dievaluasi selanjutnya diambil tindakan untuk meminimalisir risiko. The Pinewood Organic Farm melakukan strategi sebagai upaya pengendalian risiko. Berikut tindakan yang dilakukan oleh perusahaan dalam meminimalisir risiko produki sayuran organik diantaranya :
1. Melakukan Kegiatan Diversifikasi
Kegiatan diversifikasi tanaman dengan menanam lebih dari satu jenis tanaman dan diversifikasi dapat dilakukan pada lahan yang berbeda dan secara tumpang sari tetpai dalam waktu yang sama.dengan adanya diversifikasi maka dapat menutupi kegiatan produksi yang mengalami penurunan dan dapat meminimalisirkan risiko yang ada. Hal ini dapat dibuktikan melalui perhitungan risiko dalam penelitian ini. Namun, kegiatan diversifikasi ini tidak menghilangkan risiko produksi yang ada secara keseluruhan. Namun dengan demikian diversifikasi mampu menurunkan risiko brokoli, caisim dan wortel.
Diversifikasi pada The Pinewood Organic Farm dapat dilakukan berdasarkan pola tanam yang telah diterapkan perusahaan. Penjadwalkan penanaman yang lebih intensif jika melakukan diversifikasi agar hasil yang diperoleh semakin baik. Selain itu diversifikasi dapat mengefisiensikan biaya dimana alat serta tenaga kerja dapat dilakukan sekaligus sehingga biaya yang dikeluarkan untuk peralatan dan tenaga kerja dapat diminimalkan. Oleh karena itu diversifikasi usahatani merupakan alternatif yang tepat untuk meminimalkan risiko sekaligus melindungi dari fluktuasi produksi yang akan berpengaruh pada produkstifitas dan pendapatan perusahaan.
2. Pengendalian Hama dan Penyakit
Sayuran organik merupakan tanaman yang rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Sehingga hama dan penyakit tanaman merupakan faktor risiko pada kegiatan budidaya tanaman organik. Untuk mengatasi hama dan penyakit perusahaan dapat menerpakn sistem rotasi pada tanaman dengan family yang berbeda sera melakukan sanitasi lingkungan secara rutin atau disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan gulma dan memutuskan sistem hidup hama melalui pemberaan lahan
3. Memperbaiki Fasilitas Fisik
Fasilitas yang dimiliki oleh perusahaan harus mendapatkan perawatan yang baik, seperti memlihara green house yang berlubang. Hali ini dimaksudkan agar menghindari hama dan penyakit tanaman yang masuk kedalam. Serta perawatan yang lebih insentif untuk memelihara tanaman sayuran organik harus lebih ditingkatkan.
4. Pemanenan dan Pengemasan
Pemanenan dan pengemasan merupakan hal penting yang harus diperhatikan karena sangat berpengaruh terhadap kondisi fisik sayuran organik yang akan
dipasarkan kepada konsumen. Oleh karena itu panen yang dilakukan harus memperhatikan jenis tanaman (sayuran daun/sayuran buah), serta pertimbangan waktu panen sampai pada pengemasan, hal ini dimaksudkan dengan tujuan agar produk yang dipanen tetap terjaga kesegarannya sampai ketangan konsumen dan keadaan fisik sayuran, karena akan mempengaruhi kualitas yang sangat baik (tidak layu, tidak kotor dan tidak ada bekas serangan hama penyakit)