• Tidak ada hasil yang ditemukan

(+) (-) (+)

HASIL DAN PEMBAHASAN imorfisme Protein Darah Hemoglobin

tik pada lokus hemoglobin (Hb) diperoleh dari merah pada daerah minor hasil elektroforesis.

ahwa hasil elektroforesis dalam penentuan pita gan migrasi sel darah merah daerah mayor denga

h minor dengan mobilitas yang cepat. Berda rah yang diamati yaitu hemoglobin (Hb) disa

oh Tipe Pita Hb Ayam Arab Berdasarkan Teknik P

uksi Tipe Pita Hb Ayam Arab Berdasarkan Tekni memperlihatkan lokus Hb dikontrol oleh 2 ale

Keterangan: M=mayor, m=minor Keterangan: M=mayor, m=minor

(-) (+) (-) (+) dari keragaman s. Maeda et al. ta protein pada ngan mobilitas dasarkan hasil disajikan pada knik PAGE knik PAGE alel, yaitu HbA

Keterangan: M=mayor, m=minor Keterangan: M=mayor, m=minor

(-)

(+)

(-)

21 dan HbBB. Komponen pita mayor dimiliki oleh setiap tipe. Komponen yang membedakan ketiga tipe tersebut adalah komponen pita minor yang dikandungnya. Genotipe yang ditemukan pada penelitian ini adalah HbAA dan HbAB, sedangkan HbBBtidak ditemukan pada lokus hemoglobin ayam Arab. Hal ini dapat disebabkan oleh jumlah sampel yang sedikit, sehingga genotipe HbBB tidak terwakili dalam penelitian ini. Hasil analisis frekuensi alel, frekuensi genotipe, dan nilai heterozigositas pada lokus hemoglobin ayam Arab disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Frekuensi Alel, Frekuensi Genotipe, dan Nilai Heterozigositas pada Lokus Hemoglobin

Jenis Ayam Arab n Frekuensi Genotipe Frekuensi Alel Nilai

Heterozigositas

AA AB BB A B

Silver 8 0,50 0,50 0 0,75 0,25 0,5

Golden 22 0,36 0,64 0 0,68 0,32 0,64

Total Ayam Arab* 30 0,4 0,6 0 0,70 0,30 0,6

Keterangan:*= dihitung dari seluruh ayam Arab penelitian tanpa dibedakan jenisnya

Frekuensi alel tertinggi pada lokus hemoglobin terdapat pada alel A baik pada ayam Arab Silver, ayam Arab Golden, maupun total populasi keduanya pada penelitian ini. Johari et al. (2008) menemukan bahwa alel A mempunyai frekuensi tertinggi pada lokus Hb darah ayam Kedu bulu hitam daging hitam, bulu hitam daging putih, dan bulu putih daging putih, yaitu masing-masing 0,9; 1; dan 1. Frekuensi alel ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu seleksi, mutasi, pencampuran populasi, silang dalam (inbreeding) dan silang luar (outbreeding), serta genetic driftatau perubahan frekuensi alel yang mendadak (Noor, 2008).

Frekuensi genotipe tertinggi terdapat pada genotipe AB, jika dibandingkan dengan genotipe AA, sehingga diperoleh nilai heterozigositas lokus hemoglobin sebesar 0,6 (Tabel 3). Hal ini mencerminkan adanya polimorfik yang tinggi untuk lokus hemoglobin pada ayam Arab yang disebabkan oleh perkawinan yang tidak terkontrol, sehingga masih memungkinkan untuk dilakukannya seleksi pada populasi tersebut. Menurut Baker dan Manwell (1986), bahwa tingginya heterozigositas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain overdominan (heterosis positif), perbedaan frekuensi gen antara jantan dan betina, perkawinan yang tidak terpilih (assortatif mating). Nilai heterozigositas yang tinggi dapat menguntungkan karena

makin jauh hubungan kekerabatannya maka kemungkinan terjadinya inbreeding makin kecil dan kemungkinan alel resesif yang dapat membawa cacat juga rendah.

Hubungan Tipe Hemoglobin dengan Produksi Telur

Produksi telur berdasarkan genotipe lokus hemoglobin serta efek gen terhadap produksi telur disajikan pada Tabel 4. Rataan produksi telur pada ayam Arab Golden dan juga pada total populasi keduanya menunjukkan bahwa genotipe AA mengekspresikan potensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan genotipe AB yaitu 12 butir/ekor/20 hari, kecuali pada ayam Arab Silver yang menunjukkan genotipe AB mengekspresikan potensi yang sedikit lebih tinggi dibandingkan genotipe AA (Tabel 4). Tingginya nilai produksi telur ayam Arab Silver dengan genotipe heterozigot HbABdibandingkan dengan produksi telur ayam yang memiliki genotipe homozigot HbAA diduga karena adanya interaksi gen yang bersifat over dominan, sehingga dalam keadaan heterozigot produksi telur ayam Arab lebih tinggi daripada ayam dengan genotipe homozigot. Pirchner (1981) menyatakan sifat kuantitatif dipengaruhi oleh banyak gen (poligenik), interaksi gen satu dengan yang lainnya ada yang bersifat over dominan sehingga pemunculannya menekan pengaruh gen yang lain.

Tabel 4. Produksi Telur Berdasarkan Genotipe Lokus Hemoglobin serta Efek Gen Terhadap Produksi Telur Selama 20 Hari

Fenotipe Hemoglobin Ayam Arab Silver Ayam Arab Golden Total Ayam Arab* Produksi Telur (Butir)

AA 11 (n=4) 12 (n=8) 12 (n=12)

AB 12 (n=4) 9 (n=14) 9 (n=18)

BB - -

-O (Point of -Origin) 5,5 6 6

m (Nilai Tengah Genotipe) 5,19 3,47 3,66

M (Nilai Tengah Nyata) 10,69 9,47 9,66

Efek Gen

α 1 (A) 0,56 1,57 1,44

23 Berdasarkan hasil perhitungan efek atau pengaruh rata-rata gen diperoleh gen A (α 1) yang berpengaruh secara genetik meningkatkan produksi telur, sedangkan gen B (α 2) berpengaruh terhadap penurunan produksi telur (Tabel 4). HbAAmengandung dua gen A yang berpengaruh meningkatkan produksi telur, sedangkan HbAB mengandung gen A dan gen B yang berpengaruh menurunkan produksi telur, sehingga dalam keadaan homozigot HbAAmemiliki potensi produksi telur yang lebih tinggi dibandingkan HbAB. Apabila dalam populasi terjadi peningkatan atau bertambahnya gen A maka nilai tengah genotipe populasi (m) akan berubah sebesar α 1 (0,56, 1,57, dan 1,44), sedangkan bila terjadi penambahan gen B maka nilai tengah genotipe (m) populasi akan berkurang sebesar α 2 (1,69, 3,35, dan 3,36).

Nilai pemuliaan adalah nilai yang berhubungan dengan gen-gen yang dibawa individu dan diwariskan kepada keturunannya. Pengaruh masing-masing gen tidak dapat diukur, sehingga nilai pemuliaan selalu dinyatakan sebagai jumlah pengaruh rata-rata semua gen yang dimiliki yang mempengaruhi sifat yang diperhatikan (Pirchner, 1981), dalam hal ini sifat produksi telur. Nilai pemuliaan pada lokus hemoglobin disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Nilai Pemuliaan dan Pengaruh Ragam Genetik, Aditif serta Dominan pada Lokus Hemoglobin Terhadap Produksi Telur Ayam Arab

Fenotipe Hemoglobin Ayam Arab Silver Ayam Arab Golden Total Ayam Arab* Nilai Pemuliaan AA 1,12 3,14 2,88 AB -1,13 -1,78 -1,92 BB -3,38 -6,7 -6,72

Total ragam aditif 1,90 10,53 9,68

Total ragam dominan 5,94 1,70 1,59

Total ragam genetik 7,84 12,24 11,26

Keterangan:*= dihitung dari seluruh ayam Arab penelitian tanpa dibedakan jenisnya

Hasil perhitungan nilai pemuliaan diperoleh bahwa ayam Arab dengan genotipe homozigot AA memiliki nilai pemuliaan yang lebih tinggi dibandingkan genotipe lain. Nilai pemuliaan yang diperoleh menunjukkan bahwa genotipe AA memiliki potensi genetik yang lebih tinggi untuk diwariskan kepada keturunannya.

Pirchner (1981) menyatakan bahwa ragam genetik terdiri dari ragam aditif dan ragam dominan (Var G = Var A + Var D). Nilai ragam genetik yang diperoleh pada penelitian ini mengindikasikan bahwa pada sifat produksi telur dipengaruhi oleh faktor genetik.

Produksi Telur

Lesson dan Summer (2001) menyatakan bahwa produksi telur dipengaruhi oleh faktor genetik, pencahayaan, berat badan, imbangan energi dan protein dalam ransum serta imbangan kalsium dan fosfor dalam ransum. Kandungan protein dalam ransum yang lebih tinggi akan menghasilkan produksi telur yang lebih tinggi pula, karena kandungan asam amino yang terdapat pada ransum tersebut lebih lengkap. Kira-kira 80%-85% konsumsi asam amino langsung digunakan untuk produksi telur. Hasil pengamatan rataan produksi telur ayam Arab Silver dan Golden selama 20 hari penelitian dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rataan Produksi dan Bobot Telur Ayam Arab Silver dan Golden

Jenis Ayam Arab N Produksi Telur (butir/ ekor/ 20 hari) Bobot Telur (g/ butir)

Silver 8 11,63 ± 6,30 47,14 ± 2,60a

Golden 22 10,45 ± 6,09 44,09 ± 3,48b

Total Ayam Arab* 30 10,77 ± 6,06 44,94 ± 3,53

Keterangan: Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05).*= dihitung dari seluruh ayam Arab penelitian tanpa dibedakan jenisnya Rataan produksi telur ayam Arab Silver tidak berbeda dengan ayam Arab Golden. Hal ini ditunjukkan oleh hasil analisis statistik yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Hasil ini mendukung pendapat Sulandari et al. (2007) bahwa kualitas ayam Arab yang berwarna kuning kemerahan (Golden) sama dengan ayam Arab putih (Silver). Rataan produksi telur seluruh ayam Arab pada penelitian ini adalah 10,77±6,06 butir/ekor/20 hari. Jumlah ini tergolong rendah jika dibandingkan dengan pernyataan Natalia et al. (2005) bahwa produksi telur ayam Arab tinggi dan dapat mencapai 190-250 butir/tahun. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya ayam Arab yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari campuran ayam Arab dengan jarak tulang pubis lebar, sedang dan sempit. Semakin lebar jarak antar tulang pubis, diasumsikan semakin tinggi produksi telurnya. Selain itu, adanya

25 perlakuan suhu diatas suhu ideal ayam dan beberapa ayam yang mengeram menyebabkan rataan produksi telur ayam Arab pada penelitian ini menjadi rendah.

Hasil uji t terhadap rataan bobot telur ayam Arab yang dikelompokkan berdasarkan jenis ayam Arab (Silver dan Golden) menunjukkan bahwa rataan bobot telur ayam Arab Silver berbeda nyata dengan ayam Arab Golden (P<0,05). Faktor yang mempengaruhi bobot telur antara lain adalah umur masak kelamin, bangsa, umur unggas, tingkat protein dalam ransum, cara pemeliharaan dan suhu lingkungan (Romanoff dan Romanoff, 1963). Telur yang dihasilkan pada penelitian ini relatif kecil (Tabel 6), namun lebih besar dari hasil penelitian Nataamijaya et al. (2003) yang mendapatkan bobot telur ayam Arab sebesar 34,24±1,38 g/butir. Ayam Arab merupakan ayam tipe ringan (Nataamijaya et al., 2003), sehingga menghasilkan telur yang sedikit lebih ringan dibandingkan ayam tipe berat dan sedang, tetapi semakin tua umur induk maka bobot telur semakin meningkat (Lesson dan Summer, 2001).

Ayam adalah vertebrata berdarah panas dengan tingkat metabolisme dan temperatur tubuh yang tinggi, oleh sebab itu diperlukan suhu lingkungan yang nyaman agar produktivitas yang optimum dapat dicapai. Temperatur lingkungan optimum bagi ayam petelur menurut beberapa ahli adalah 12,8-23,9 oC (Nesheim et al., 1979); 13-21 oC (Yousef, 1985); dan 18-24 oC (Bell dan Weaver, 2002). Gunawan dan Sihombing (2004) menyatakan bahwa ayam buras pada suhu tinggi menunjukkan penurunan produktivitas, yaitu produksi dan berat telur yang rendah, serta pertumbuhan yang lambat. Penurunan produksi telur pada suhu lingkungan tinggi dapat mencapai 25% bila dibandingkan dengan yang dipelihara pada suhu nyaman. Adapun rataan produksi telur ayam Arab pada suhu kandang berbeda selama 20 hari dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Rataan Produksi dan Bobot Telur Ayam Arab pada Suhu Kandang Berbeda

Perlakuan N Produksi Telur

(butir/ ekor/ 20 hari) Bobot Telur (g/ butir)

Suhu Lingkungan (± 25oC) 20 11,00 ± 6,29 44,80 ± 3,43

Suhu Panas (± 30oC) 10 10,30 ± 5,89 45,22 ± 3,74

Rataan produksi dan bobot telur ayam Arab pada suhu lingkungan tidak berbeda nyata dengan produksi dan bobot telur ayam Arab pada suhu panas (P>0,05). Hasil yang tidak berbeda nyata ini diduga disebabkan oleh kisaran suhu

lingkungan (± 25oC) maupun suhu panas (± 30oC) pada penelitian ini masih berada diatas suhu ideal ayam. Suprijatna et al. (2005) menyatakan bahwa temperatur lingkungan ideal pada ayam sekitar 21 oC. Di atas temperatur tersebut, ternak menjadi kepanasan dan nafsu makan turun sehingga konsumsi pakan pun akan menurun. Dampak selanjutnya, pertumbuhan dan produksi telur juga akan menurun. Penyebab lain adalah kandungan protein pada pakan yang digunakan pada penelitian ini telah memenuhi kebutuhan ayam. Sugandi et al. (1975) menyatakan bahwa petelur berkerabang putih yang dipelihara pada temperatur yang lebih tinggi yaitu 25,6-26,9oC masih memiliki produksi telur yang cukup baik bila kandungan protein dalam ransum mencapai 18%. Selain itu, tingginya persentase ayam mengeram pada kandang dengan suhu lingkungan (13,33%) dibandingkan pada kandang dengan suhu panas (3,33%) menyebabkan rataan produksi telur ayam Arab pada kandang dengan suhu lingkungan menjadi rendah. Blakely dan Bade (1991) mengemukakan bahwa sifat mengeram merupakan sifat yang menurun dan tinggi rendahnya sifat mengeram tergantung pada faktor genetik seperti bangsa atau strain ayam dan faktor lingkungan seperti lama cahaya dan tata laksana pemeliharaan. Sebelum penelitian ini dilasanakan, ayam Arab dipelihara secara kelompok. Perubahan tata laksana pemeliharaan dari berkelompok menjadi individual ini diduga merupakan salah satu penyebab timbulnya sifat mengeram. Rataan produksi telur ayam Arab pada jarak tulang pubis berbeda selama 20 hari dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Rataan Produksi Telur Ayam Arab pada Jarak Tulang Pubis Berbeda

Perlakuan N (ekor) Produksi Telur (butir/ ekor/ 20 hari)

Jarak Pubis Lebar (3,46-4,33 cm) 12 13,67 ± 3,58a

Jarak Pubis Sedang (2,30-2,86 cm) 9 10,44 ± 6,67ab

Jarak Pubis Sempit (1,07-2,30 cm) 9 7,22 ± 6,65b

Keterangan: Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05)

Hasil uji t terhadap rataan produksi telur ayam Arab yang dikelompokkan berdasarkan jarak tulang pubis yang berbeda menunjukkan rataan produksi telur ayam Arab dengan jarak tulang pubis sedang tidak berbeda nyata dengan rataan produksi telur ayam Arab dengan jarak tulang pubis lebar dan sempit (P>0,05). Namun, rataan produksi telur ayam Arab dengan jarak tulang pubis lebar berbeda

27 nyata dengan rataan produksi telur ayam Arab dengan jarak tulang pubis sempit (P<0,05). Hasil ini mendukung hasil penelitian Ismoyowati et al. (2006) yang menemukan bahwa lebar pubis berkorelasi sangat nyata dengan produksi telur, hanya saja diaplikasikan pada itik Tegal.

Kualitas Eksternal Telur

Kualitas eksternal merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam menentukan pilihan. Bell dan Weaver (2002) menyatakan bahwa komposisi fisik dan kualitas telur ayam dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu bangsa ayam, umur, musim, penyakit, lingkungan (suhu dan kelembaban), pakan, dan sistem pengelolaan ayam tersebut. Kualitas eksternal telur ayam Arab pada suhu kandang berbeda dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Kualitas Eksternal Telur Ayam Arab pada Suhu Kandang Berbeda

Peubah Perlakuan Suhu Lingkungan (± 25oC) Suhu Panas (± 30oC) %

---Warna kerabang Putih 22,96 12,50

Krem 53,33 87,50

Cokelat 23,70 0

Permukaan kerabang Halus 97,78 98,44

Kasar 2,22 1,56

Keutuhan Kerabang tebal 100 95,52

Kerabang tipis 0 4,48

Bentuk telur Oval 89,63 76,56

Lonjong 9,63 20,31

Bulat 0,74 3,13

Indeks telur 77±4 77±5

Warna kerabang telur yang didapatkan pada penelitian ini bervariasi dari putih hingga cokelat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Natalia et al. (2005) bahwa warna kerabang telur ayam Arab sangat bervariasi yakni putih, kekuningan dan cokelat. Perbedaan warna kulit telur disebabkan oleh deposisi pigmen dalam saluran telur (oviduct) yang dipengaruhi oleh genetik (jenis atau bangsa) dari induknya

masing-masing (Nataamijaya, 2008). Telur ayam Arab berwarna putih karena memiliki gen dominan yang berasal dari ayam ras impor, namun di Indonesia telah mengalami perkawinan silang dengan ayam lokal (Nataamijaya et al,. 2003), oleh karena itu, terkadang muncul telur berwarna cokelat. Hal ini diduga hasil mutasi atau penyimpangan gen, sehingga muncul pigmen cokelat pada kerabang telur yaitu porhpyrinyang terdapat di saluran reproduksi ayam.

Pada penelitian ini didapatkan hanya sedikit telur yang memiliki permukaan yang kasar baik pada kandang dengan suhu lingkungan (2,22%), maupun pada kandang dengan suhu panas (1,56%). Umumnya telur ayam lokal mempunyai kerabang yang mulus dan jarang sekali diperoleh telur dengan permukaan yang kasar (Iskandar, 2007). Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas dari kerabang yaitu suhu, penanganan telur, penyakit, umur dan kandungan kalsium dalam pakan (Roland et al., 1985). Faktor utama yang terpenting mempengaruhi pembentukan kerabang telur adalah kalsium karena kerabang telur hampir seluruhnya terdiri dari kalsit (CaCO3), sedikit deposit natrium, kalium dan magnesium (Amrullah, 2004). Ada dua sumber kalsium untuk produksi kerabang telur, yaitu pakan dan tulang tertentu. Sebagian kalsium untuk pembentukan telur secara normal berasal langsung dari pakan, tetapi beberapa berasal dari timbunan kalsium, tulang medulair, terutama pada malam hari bila ayam tidak makan (Suprijatna et al., 2005). Ayam yang sedang bertelur membutuhkan kalsium yang banyak sekali. Ayam yang bobot badannya 1,8 kg dengan telur seberat 56,7 g per tahun membutuhkan kalsium sebanyak 0,56 kg (Amrullah, 2004).

Pengurangan pasokan dan campuran darah dengan maksimal penimbunan CaCO3 dari kerabang telur menyebabkan kualitas kerabang buruk. Demikian pula temperatur lingkungan yang tinggi selama musim panas menyebabkan kerabang telur berkualitas rendah (Suprijatna et al., 2005). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu lingkungan sangat mempengaruhi keutuhan kerabang. Suhu yang tinggi mempengaruhi proses fisiologis pembentukan telur melalui pengaruh panas tersebut terhadap mekanisme transportasi zat-zat makanan ke oviduk. Darah merupakan zat penghantar untuk ketersediaan Ca pada saat pembentukan kerabang telur. Temperatur yang tinggi akan menyebabkan aliran darah menuju ovarium tidak

29 normal dan lebih banyak ke jaringan peripheral untuk mengatasi cekaman panas yang dari lingkungan, sehingga deposisi kalsium lebih sedikit (Antoni, 2003).

Selama cuaca panas, ayam akan terengah-engah (panting) untuk meningkatkan penguapan air melalui saluran pernafasan. Hal ini menyebabkan berkurangnya karbondioksida (CO2) dan ion karbonat dalam darah (Blakely dan Bade, 1991). Keadaan inilah yang diduga menjadi alasan munculnya telur-telur yang berkerabang tipis pada suhu lingkungan tinggi. Beberapa hubungan antara kalsium dalam darah, CO2 dan ion bikarbonat di dalam uterus dalam peristiwa pembentukan kerabang telur dapat dilihat pada Gambar 8. Pada gambar tersebut dapat dilihat bahwa terbentuknya kerabang telur terjadi karena adanya ketersediaan ion kalsium dan ion karbonat di dalam cairan uterus yang akan membentuk kalsium karbonat. Sumber utama ion karbonat terbentuk karena adanya CO2 dalam darah hasil metabolisme dari sel yang terdapat pada uterus, dan dengan adanya H2O, keduanya dirombak oleh enzim carbonic anhydrase (dihasilkan pada sel mukosa uterus) menjadi ion bikarbonat yang akhirnya menjadi ion karbonat setelah ion hidrogen terlepas.

Gambar 8. Pembentukan Kerabang Telur dalam Uterus (Sumber: Nesheim et al., 1979)

Romanoff dan Romanoff (1963) menyatakan bahwa indeks telur yang mencerminkan bentuk telur sangat dipengaruhi oleh genetik, bangsa dan proses-proses yang terjadi selama pembentukan telur, terutama pada saat telur melalui

magnumdan isthmus. Pengamatan bentuk telur dilakukan dengan mengukur indeks bentuk telur, yaitu perbandingan antara lebar dengan panjang telur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa besarnya indeks bentuk telur ayam Arab berkisar antara 0,72-0,82. Hal ini menunjukkan bahwa telur ayam Arab berbentuk elliptical, sesuai dengan pernyataan Romanoff dan Romanoff (1963). Rataan indeks dan bobot telur ayam Arab dengan jarak pubis yang berbeda dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Rataan Indeks dan Bobot Telur Ayam Arab dengan Jarak Pubis yang Berbeda

Perlakuan Indeks Telur Bobot Telur (g/ butir)

Jarak Pubis Lebar (3,46-4,33 cm) 0,7729 ± 0,0394 46,34 ± 3,51a Jarak Pubis Sedang (2,30-2,86 cm) 0,7677 ± 0,0463 43,26 ± 2,28b Jarak Pubis Sempit (1,07-2,30 cm) 0,7698 ± 0,0543 44,14 ± 3,80b Keterangan: Superskrip berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)

Schrider (2007) menyatakan bahwa tulang pubis adalah dua tulang yang membentuk lengkung yang berada pada daerah panggul yang terletak pada kloaka ayam. Jarak antara dua tulang ini pada ayam petelur adalah suatu indikator yang baik untuk menentukan ukuran telur. Indeks telur untuk ketiga jarak tulang pubis pada penelitian ini menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0,05). Hal ini diduga disebabkan karena genetikanya sama. Bobot telur yang dihasilkan oleh ayam Arab dengan jarak tulang pubis lebar nyata lebih besar dibandingkan dengan bobot telur pada perlakuan jarak tulang pubis lainnya (Tabel 10). Semakin lebar jarak tulang pubis, maka semakin besar bobot telur yang dihasilkan.

Dokumen terkait