Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa morfogenesis manggis secara in vitro tidak dipengaruhi oleh interaksi antara klon dengan media dasar, kecuali pada peubah jumlah nodul. Namun demikian, pengaruh tunggal dari jenis klon dan media dasar berpengaruh nyata terhadap morfogenesis eksplan, yang meliputi persentase eksplan bertunas, jumlah tunas per biji, tinggi tunas tertinggi, jumlah daun terbanyak per tunas, jumlah daun total dan persentase eksplan berakar.
Respon in vitro tiga klon manggis (Leuwiliang, Wanayasa, dan Puspahiang) yang ditunjukkan dengan munculnya calon tunas relatif sama, yaitu pada minggu kedua. Namun demikian, respon in vitro ketiga klon tersebut berbeda untuk peubah-peubah lainnya. Nilai tertinggi dari persentase eksplan bertunas, tinggi tanaman, dan jumlah daun terbanyak per tunas diperoleh dari klon Puspahiang, namun tidak berbeda nyata dengan klon Wanayasa. Jumlah tunas, jumlah daun total, dan persentase eksplan berakar tertinggi diperoleh dari klon Wanayasa, namun tidak berbeda nyata dengan klon Puspahiang (Tabel 1). Sebaliknya, klon Leuwiliang memiliki nilai yang terendah untuk semua peubah yang diamati.
Respon in vitro yang relatif sama antara klon Wanayasa dan Puspahiang mungkin disebabkan oleh tingginya tingkat kemiripan genetik antara kedua klon tersebut dibandingkan dengan klon Leuwiliang. Meskipun manggis termasuk tanaman apomiksis obligat, namun variasi genetik dilaporkan telah terjadi dengan tingkat kemiripan genetik yang berbeda-beda. Mansyah et al. (2003) melaporkan terjadinya variasi genetik dari 23 aksesi manggis dari pulau Jawa dan Sumatera. Selain itu, variasi genetik juga terjadi antara tetua dengan turunannya (Mansyah et al. 2004; Sinaga et al. 2007). Variasi somaklonal pada tanaman apomiksis dapat disebabkan oleh mutasi titik, otosegregasi, pindah silang somatik, amplifikasi atau kehilangan segmen DNA, dan aktivitas perubahan gen oleh transposable element. Kasus sederhana dari otosegregasi adalah ketika sel anakan yang satu menerima lebih banyak kromosom dan yang lain menerima lebih sedikit kromosom dalam pembelahan sel inti dalam kantong embrio (Walbot dan Cullis 1985; Mansyah 2012).
Faktor lain yang diduga mempengaruhi perbedaan respon in vitro antara ketiga klon tersebut adalah pemeliharaan pohon induk di lapang. Berdasarkan pengamatan di lapang, kondisi pohon induk pada klon Leuwiliang kurang terawat. Hal tersebut terlihat dari rusaknya daun-daun muda pada saat berbuah, sedangkan pada klon Wanayasa dan Puspahiang dalam kondisi perawatan yang optimal.
Pengaruh genotipe terhadap keberhasilan kultur in vitro juga telah dilaporkan pada tanaman gandum (Maddock et al. 1983; Keresa et al. 2003), di mana perbedaan kultivar mempengaruhi induksi kalus, persentase embrio berkecambah, perkembangan kalus, dan pembentukan planlet. Pada kultur in vitro
14
regenerasi tanaman (Hoque dan Mansfiels 2004), sedangkan pada Capsicum spp. mempengaruhi perkecambahan embrio somatik (Manzur et al. 2013). Selain itu, pada hasil persilangan interspesifik tanaman Alstroemeria, perbedaan genotipe juga mempengaruhi persentase embrio yang berkecambah serta perkembangan kalus dan tunas (Lu et al. 1996).
Tabel 1. Respon in vitro tiga klon manggis pada tiga media dasar, 10 minggu setelah tanam (MST). Perlakuan Eksplan bertunas (%) Jumlah tunas Tinggi tanaman (cm) Jumlah daun per tunas (helai) Jumlah daun total (helai) Eksplan berakar (%) Klon Leuwiliang 92.4b 9.17b 2.73b 2.88b 19.98b 33.33b Wanayasa 98.5a 15.85a 4.76a 3.25ab 34.16a 53.73a Puspahiang 100.0a 13.62a 4.87a 3.39a 29.88a 52.17a Media
MS 93.7 19.14a 2.68b 2.86b 40.43a 25.39b
WPM 98.6 11.10b 4.64a 3.51a 25.17b 57.97a
B5 98.6 9.07b 4.98a 3.14ab 19.80b 54.29a
Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji selang berganda Duncan.
Berdasarkan jenis media dasar yang diujikan (MS, WPM, dan B5), media dasar tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase eksplan yang bertunas. Media MS menghasilkan jumlah tunas dan jumlah daun total tertinggi dibandingkan dengan dua media dasar lainnya (WPM dan B5) (Tabel 1). Hal ini diduga disebabkan oleh tingginya kandungan nitrogen (N) yang terdapat pada media MS. Total kandungan N pada MS adalah 60 mM (Tabel 2). Menurut Salisbury dan Ross (1992) kandungan nitrogen dalam tanaman akan mempengaruhi nisbah tajuk-akar. Tanaman yang terlalu banyak mendapatkan nitrogen biasanya mempunyai daun berwarna hijau tua dan lebat, dengan sistem akar yang kerdil sehingga nisbah tajuk-akarnya tinggi. Hal ini berarti kandungan nitrogen yang tinggi akan memacu pertumbuhan tunas dan daun, sedangkan pertumbuhan akar terhambat.
Jumlah tunas yang dihasilkan pada percobaan ini cukup tinggi, yaitu lebih dari 19 tunas per biji pada media MS. Jumlah tunas yang dihasilkan pada percobaan ini sama dengan jumlah tunas yang diperoleh dari percobaan Sirchi et al. (2008a), dengan menggunakan media MS yang mengandung BA 20 mg l-1 dan NAA 10 mg l-1. Namun demikian, hasil yang diperoleh dari percobaan ini lebih tinggi dari percobaan yang dilakukan oleh Normah et al. (1995), dengan menggunakan media MS yang dilengkapi dengan 9 mg l-1 BA dan NAA 0.5 mg l-1 yang menghasilkan 16.8 tunas per biji.
Tingkat multiplikasi tunas manggis secara in vitro lebih tinggi dibandingkan dengan perkecambahan di lapang. Menurut Cruz (2001), tingkat keberhasilan perkecambahan di lapang hanya berkisar 21−83% dengan jumlah tunas yang dihasilkan rata-rata 1 tunas per biji. Pemanfaatan teknik kultur in vitro
15 untuk mikropropagasi tentu akan lebih menguntungkan karena persentase eksplan bertunas lebih dari 90% dengan jumlah tunas per biji 9.14–19.17 tunas, tergantung pada jenis klon dan media dasar yang digunakan.
Berdasarkan jenis media dasar, tinggi tanaman tertinggi diperoleh dari eksplan yang dikulturkan pada media B5 dan WPM (masing-masing 4.98 dan 4.64 cm) (Tabel 1). Meskipun tinggi tanaman pada media WPM dan B5 tidak berbeda nyata, terdapat perbedaan morfologi biakan yang dihasilkan. Perbedaan yang paling menonjol adalah warna batang dan daun. Batang dan daun dari biakan pada B5 lebih hijau daripada yang dihasilkan WPM, sehingga secara visual tunasnya terlihat lebih kokoh. Pada media WPM, batang dan daunnya berwarna hijau terang dan agak transparan, sehingga secara visual terlihat agak lemah (Gambar 2). Warna daun pada tanaman sangat dipengaruhi oleh kandungan nitrogen pada media tumbuhnya (Salisbury dan Ross 1992). Pada media WPM daun manggis yang berwarna hijau terang dan agak transparan disebabkan oleh rendahnya kandungan N total pada media tersebut, yaitu 14.8 mM (Tabel 2). Selain itu, tunas pada media B5 juga memiliki ukuran daun yang lebih proporsional antara lebar dan panjangnya, sedangkan pada media WPM, ukurannya kurang proporsional. Tunas yang dihasilkan pada media B5 dan MS relatif mirip dengan tunas yang dihasilkan dari perkecambahan biji di lapang, sedangkan tunas yang tumbuh pada media WPM memiliki daun yang memanjang dan menyempit (Gambar 2).
Tabel 2. Komposisi ion hara makro pada media dasar MS, WPM, dan B5.
Ion Media (mM) MS WPM B5 NH4+ 20.6 5.0 2.0 NO3- 39.4 9.7 24.7 PO4- 1.3 1.3 1.1 SO42- 3.0 14.4 4.0 K+ 20.0 12.6 24.7 Total N 60.0 14.8 26.7 Rasio NO3-/NH4+ 1.9 2.0 12.4
Sumber: George dan Sherrington (1984); Bell et al. (2009).
Menurut Lu (2005), terhambatnya pemanjangan tunas pada media MS disebabkan oleh tingginya kandung nitrogen dan kalium. Nitrogen dan kalium pada konsentrasi tertentu akan menghambat pertumbuhan dan pemanjangan tunas, sebagaimana terjadi pada tanaman Vitis thunbergii (Lu 2005) dan Citrus sinensis
(Kobayashi et al. 2003). Terhambatnya pemanjangan tunas diduga disebabkan oleh kandungan N yang tinggi pada media MS, sehingga menginduksi pembentukan hormon sitokinin. Sitokinin akan memacu pembelahan sel dan menghambat elongasi, sehingga tunas banyak terbentuk namun elongasinya terhambat.
Akar yang dihasilkan terbagi menjadi dua, yaitu akar yang tumbuh pada kepingan biji (tidak menyambung dengan tunas) dan akar yang menyambung dengan tunas. Pembentukan akar tertinggi (57.97 %) terdapat pada eksplan yang
16
dikulturkan pada media WPM, namun tidak berbeda nyata dengan B5. Hal ini berarti, untuk induksi perakaran manggis secara in vitro diduga media WPM dan B5 lebih baik daripada MS.
Gambar 2. Penampilan biakan tiga klon manggis yang dikulturkan pada tiga media dasar: Leuwiliang (baris pertama), Wanayasa (baris kedua), dan Puspahiang (baris ketiga). Media MS (A, D, dan G), WPM (B, E, dan H), dan B5 (C, F, dan I).
Berdasarkan analisis ragam, terdapat interaksi antara jenis klon dengan media dasar terhadap jumlah nodul yang dihasilkan. Pada klon Leuwiliang, jumlah nodul tertinggi (26.60 nodul per eksplan) diperoleh dari eksplan yang dikulturkan pada media MS, sedangkan pada media WPM dan B5 nodul yang dihasilkan rendah (masing-masing 5.17 dan 7.39 nodul per eksplan). Pada klon Wanayasa, jumlah nodul tertinggi diperoleh dari eksplan yang dikulturkan pada media MS, namun tidak berbeda nyata dengan eksplan yang dikulturkan pada media WPM (masing-masing 22.34 dan 17.95 nodul per eksplan), sedangkan jumlah nodul terendah (9.59 nodul per eksplan) diperoleh dari media B5. Menariknya, pada klon Puspahiang jenis media dasar yang digunakan tidak berpengaruh terhadap jumlah nodul yang dihasilkan. Jumlah nodul yang dihasilkan pada ketiga media relatif sama, yaitu 8.60–13.90 nodul per eksplan (Tabel 3).
Nodul yang muncul pada eksplan manggis merupakan calon tunas, namun tidak beregenerasi lebih lanjut pada media yang sama. Diduga dibutuhkan
17 fomulasi media baru dan penambahan periode in vitro untuk meregenerasikan nodul tersebut. Hal tersebut diduga juga berlaku pada tunas-tunas kecil yang muncul pada media MS (Roostika et al. 2008). Berdasarkan jenis media dasar, warna nodul yang dihasilkan pada tiap media dasar berbeda, terutama nodul yang dihasilkan pada media MS. Nodul pada media MS umumnya berwarna hijau terang, sedangkan pada media WPM dan B5 berwarna hijau gelap dan ada yang berwarna merah kecoklatan (Gambar 3).
Tabel 3. Pengaruh interaksi media dasar dan jenis klon terhadap jumlah nodul manggis, 10 MST.
Klon Media Dasar
MS WPM B5
Leuwiliang 26.60 5.17 7.39
Wanayasa 22.34 17.95 9.59
Puspahiang 13.90 11.29 8.60
Keterangan : Terdapat interaksi yang nyata antara media dasar dan jenis klon terhadap jumlah nodul.
Pada media yang diujikan, selain terbentuk tunas dan nodul, juga terbentuk kalus dengan persentase yang relatif rendah (data tidak ditampilkan). Eksplan yang dikulturkan pada media MS banyak menghasilkan kalus, terutama pada bekas luka. Kalus yang muncul tersebut strukturnya beragam, sebagian ada yang kompak dan yang lainnya seperti kapas berwarna putih. Menurut Qosim (2006) kalus yang seperti kapas tidak dapat beregenerasi, lama-kelamaan kalus tersebut akan mengering, mencoklat dan mati. Lainnya halnya dengan eksplan yang dikulturkan pada media WPM dan B5, hampir tidak ada kalus yang muncul, kecuali kalus seperti kapas yang muncul pada bekas luka dengan volume yang sangat kecil.
Gambar 3. Penampilan nodul manggis pada tiga jenis media dasar: (A) MS, (B) WPM, dan (C) B5.
Elongasi Tunas
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa semua perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap penambahan tinggi dan jumlah daun manggis pada umur 10 MST. Penambahan tinggi tunas antar perlakuan berkisar antara 0.31–
0.47 cm dengan penambahan daun rata-rata 1 helai per tunas (Tabel 4). Penambahan tinggi manggis pada perlakuan ini diduga lebih dipengaruhi oleh faktor cahaya, karena semua biakan diinkubasi pada ruang gelap selama 6 minggu. Tujuannya adalah agar terjadi etiolasi, kemudian baru dipindahkan pada ruang
18
terang agar tunas yang terbentuk kembali kuat dan pertumbuhan daun normal. Penambahan tinggi manggis pada percobaan ini 2 kali lebih tinggi dari percobaan yang dilakukan Roostika et al. (2008), di mana penggunaan BA 1–5 mg l-1 menyebabkan penambahan tinggi tunas manggis 0.1–0.2 cm dengan jumlah daun rata-rata1 helai per tunas.
Tabel 4. Pengaruh kinetin (KIN) dan NAA terhadap elongasi tunas manggis klon Wanayasa, 8 MST. ZPT (mg l-1 ) Penambahan tinggi tunas (cm) Penambahan jumlah daun (helai) B5 (tanpa ZPT) 0.41 1.65 KIN 0.5 0.31 1.07 KIN 1.0 0.41 0.80 KIN 1.5 0.31 0.93 NAA 0.5 0.43 1.00 KIN 0.5 + NAA 0.5 0.45 0.87 KIN 1.0 + NAA 0.5 0.47 1.60 KIN 1.5 + NAA 0.5 0.34 1.47
Keterangan: Tidak terdapat perbedaan yang nyata berdasarkan taraf 5% uji selang berganda Duncan.
Gambar 4. Laju penambahan tinggi tunas manggis klon Wanayasa pada perlakuan Kinetin dan NAA (mg l-1), 8 MST.
Keterangan: K = Kinetin, N = NAA
Laju penambahan tinggi tunas dan jumlah daun manggis tertinggi terjadi pada minggu kedua sampai keempat (Gambar 4 dan 5). Setelah minggu keempat
0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0 1.2 0 2 4 6 8 T ing g i t un a s (cm ) Minggu Ke- K0N0 K0.5N0 K1N0 K1.5N0 K0N0.5 K0.5N0.5 K1N0.5 K1.5N0.5
19 penambahan tinggi dan jumlah daun cenderung stagnan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan NAA dan KIN tidak mampu mengelongasi tunas. Penggunaan B5 tanpa ZPT lebih disarankan daripada media lain.
Gambar 5. Laju penambahan jumlah daun manggis klon Wanayasa pada perlakuan kinetin dan NAA (mg l-1), 8 MST.
Keterangan: K = kinetin, N = NAA
Berdasarkan pengamatan, pemberian NAA 0.5 mg l-1 baik tunggal maupun yang dikombinasikan dengan KIN menyebabkan pembengkakan pada bagian pucuk dan pembentukan kalus pada bagian pangkal tunas. Hal ini diduga karena auksin (NAA) dapat menginduksi kalus pada biakan manggis.
Gambar 6. Penampilan tunas manggis klon Wanayasa yang dikulturkan pada media pemanjangan tunas, 8 MST (A) tanpa ZPT; (B) KIN 0.5 mg l-1; (C) KIN 1.0 mg l-1; (D) KIN 1.5 mg l-1; (E) NAA 0.5 mg l-1; (F) KIN 0.5 mg l-1 +NAA 0.5 mg l-1; (G) KIN 1.0 mg l-1 +NAA 0.5 mg l-1; dan (H) KIN 1.5 mg l-1 + NAA 0.5 mg l-1.
0 1 2 3 4 5 6 7 0 2 4 6 8 J um la h da un (H e la i) Minggu ke- K0N0 K0.5N0 K1N0 K1.5N0 K0N0.5 K0.5N0.5 K1N0.5 K1.5N0.5
20
Induksi Perakaran secara In Vitro dan Ex Vitro
Induksi perakaran secara in vitro
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap induksi perakaran secara in vitro. Persentase tunas berakar berkisar dari 0–29% dengan panjang akar sekitar 0.85–2.0 cm. Penambahan tinggi tunas berkisar antara 0.61–1.38 cm dengan penambahan jumlah daun 1–2 helai per tunas (Tabel 5). Penambahan PLG dalam media yang mengandung IBA 10 mg l-1 menurunkan kemampuan tunas untuk berakar. Hasil ini bertentangan dengan yang dilaporkan oleh Te-chato dan Lim (2000) yang mampu menginduksi perakaran manggis dengan tingkat keberhasilan 100% menggunakan PLG 5.6 mg l-1. Hal tersebut mengindikasikan bahwa respon in vitro setiap klon manggis bersifat
genotype dependent (Hoque dan Mansfield 2004; Lu et al. 1996). PLG adalah senyawa fenolik yang bersifat sinergis terhadap auksin. PLG tidak termasuk kelompok fitohormon, tetapi berfungsi untuk meningkatkan aktifitas auksin dan mengurangi aktivitas peroksidase pada saat induksi perakaran (James dan Thurbon 1979; Kumar et al. 2005).
Persentase perakaran tertinggi (29%) diperoleh dari media yang mengandung kombinasi IBA 10 mg l-1 dan PBZ 3.0 mg l-1. PBZ merupakan retardan jenis triazol yang berfungsi untuk menghambat biosintesis GA3 dan sering digunakan untuk menghambat pemanjangan tunas dan meningkatkan kandungan klorofil (Hawkin et al. 1985; Fletcher et al. 2000), sehingga diharapkan akar akan terinduksi dan biakan bertambah tegar. Induksi perakaran dengan menggunakan PBZ juga telah berhasil dilakukan pada tunas sawit yang menghasilkan 88% tunas berakar (Nizam dan Te-chato 2009). Namun demikian, tingkat keberhasilan pengakaran manggis secara in vitro masih tergolong rendah. Hal yang sama terjadi pada tanaman Arabidopsis, pemberian PBZ menurunkan laju pertumbuhan akar. Secara mikroskopis pemberian PBZ menyebabkan pengurangan ukuran meristem akar dan sel dewasa (Ubeda-Tomas et al. 2009; Wen et al. 2013).
Tabel 5. Pengaruh kombinasi IBA, PLG atau PBZ terhadap induksi perakaran secara in vitro dari manggis klon Puspahiang,12 MST.
Perlakuan (mg l-1) Daya hidup (%) Planlet berakar (%) Panjang akar (cm) Penambahan tinggi planlet (cm) Penambahan jumlah daun (cm) IBA 10 90 10 1.50 1.38 2.24 IBA 10 + PLG 2.8 100 7 2.00 1.17 1.80 IBA 10 + PLG 5.6 89 6 1.50 1.16 2.11 IBA 10 + PLG 8.4 92 0 0.00 1.05 2.67 IBA 10 + PBZ 3.0 100 29 1.06 1.07 1.81 IBA 10 + PBZ 6.0 95 24 1.31 0.61 1.44 IBA 10 + PBZ 9.0 100 22 0.85 0.81 2.80
Keterangan: Tidak terdapat perbedaan yang nyata berdasarkan taraf 5% uji selang berganda Duncan.
21 Penambahan tinggi tunas diduga disebabkan oleh terjadinya etiolasi selama inkubasi di ruang gelap. Hal ini ditandai dengan tunas yang tumbuh berwarna putih transparan dan bentuk daun kurang proporsional. Abnormalitas pada batang dan daun tersebut dapat dipulihkan kembali ketika biakan dipindah ke ruang terang. Batang menjadi berwarna hijau dan daun baru yang muncul kembali normal.
Gambar 7. Penampilan perakaran manggis klon Puspahiang pada media induksi perakaran, 10 MST (A) IBA 10 mg l-1; (B) IBA 10 mg l-1 +PLG 2.8 mg l-1; (C) IBA 10 mg l-1 +PLG 5.6 mg l-1; (D) IBA 10 mg l-1 +PLG 8.4 mg l-1; (E) IBA 10 mg l-1 +PBZ 3.0 mg l-1; (F) IBA 10 mg l-1 + PBZ 6.0 mg l-1; dan (G) IBA 10 mg l-1 +PBZ 9.0 mg l-1.
Pengakaran secara in vitro manghasilkan akar primer sebanyak 1−2 akar
per tunas, namun akar sekunder tidak terbentuk di sepanjang akar primer tersebut (Gambar 7). Hal ini diduga disebabkan oleh kondisi media yang optimal, sehingga tanpa adanya akar sekunder serapan air dan hara tetap terpenuhi untuk pertumbuhan dan perkembangan tunas. Hazarika (2006) melaporkan bahwa pengakaran secara in vitro menghasilkan akar yang lemah dan tidak terbentuknya rambut akar.
Induksi perakaran secara ex vitro
Pada percobaan pengakaran manggis secara ex vitro, hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan IBA atau NAA tidak berbeda nyata untuk persentase tanaman berakar, persentase terbentuknya akar majemuk dan jumlah akar sekunder. Untuk peubah lainnya, yaitu panjang akar primer menunjukkan pengaruh yang nyata antar perlakuan.
Pengakaran secara ex vitro menghasilkan tunas berakar yang relatif tinggi (70–90%) (Tabel 6). Tunas yang berakar ditandai dengan batang dan daun yang tetap hijau dan segar setelah dua bulan dipindahkan ke media campuran tanah. Selain itu, sebagian besar tunas sudah memunculkan pucuk baru. Pucuk yang terbentuk secara ex vitro berwarna merah kecoklatan. Roostika et al. (2008) melaporkan bahwa tunas manggis yang berakar (75%) diperoleh dari perlakuan perendaman dalam larutan IBA 100 mg l-1 selama satu jam dan ditanam pada media campuran tanah dan kompos (1:1). Pengakaran secara ex vitro terbukti lebih baik daripada pengakaran secara in vitro (7−80 %) (Goh et al. 1988; Goh et al. 1994; Roostika et al. 2008).
22
Pembentukan akar primer majemuk pada semua perlakuan berkisar antara 11.11–50%. Panjang akar primer terpanjang (12.29 cm) diperoleh dari perlakuan NAA 300 mg l-1. Jumlah akar sekunder antar perlakuan relatif sama dengan kisaran 9.56–13.89 akar sekunder per tanaman (Tabel 6).
Tabel 6. Pengaruh pemberian IBA atau NAA terhadap induksi perakaran secara
ex vitro tunas manggis klon Puspahiang, 5 bulan setelah tanam (BST). Auksin (mg l-1) Tunas berakar (%) Akar primer majemuk (%) Panjang akar primer (cm) Jumlah akar sekunder IBA 100 70 25.00 10.16abc 11.63 IBA 200 90 22.22 10.75ab 13.89 IBA 300 80 33.33 10.67ab 11.56 IBA 400 90 22.22 9.97abc 11.00 NAA 100 90 11.11 10.48ab 9.56 NAA 200 90 50.00 7.36c 13.67 NAA 300 80 12.50 12.29a 12.00 NAA 400 70 20.00 8.30bc 9.60
Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji selang berganda Duncan.
Menurut Jawal et al. (2002) akar ganda atau majemuk dapat memperpendek masa juvenil tanaman manggis. Hal tersebut ditandai dengan penambahan tinggi tanaman, jumlah daun dan cabang lateral yang lebih cepat dibandingkan dengan tanaman yang berakar tunggal. Selain itu, panjang akar primer, jumlah akar sekunder dan luas sebaran akar sekunder juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman manggis.
Gambar 8. Jumlah akar primer pada pengakaran secara ex vitro (A) akar primer tunggal, (B dan C) akar primer majemuk (2 dan 3).
Pada pengakaran tunas secara ex vitro, terbentuknya akar diiringi dengan pertumbuhan pada bagian atas (shoot) yang cukup nyata. Hasil analisis ragam
23 terhadap penambahan tinggi tanaman dan jumlah daun menunjukkan perbedaan yang nyata antar perlakuan. Penambahan tinggi tanaman tertinggi diperoleh dari perlakuan IBA 300 mg l-1 dan NAA 200 mg l-1 (masing-masing 2.47 dan 2.32 cm) (Tabel 7). Secara umum, tinggi tanaman manggis pada umur 5 BST berkisar antara 6.08–7.06 cm. Penambahan jumlah daun terbanyak (5.22 helai) diperoleh dari perlakuan NAA 100 mg l-1 (Tabel 7). Jumlah daun tanaman manggis pada umur 5 BST berkisar antara 6–8 helai.
Tabel 7. Pengaruh pemberian IBA atau NAA terhadap pertumbuhan benih manggis klon Puspahiang pasca-induksi perakaran secara ex vitro, 5 BST. Auksin (mg l-1 ) Penambahan tinggi tanaman (cm) Penambahan jumlah daun (helai) Nisbah panjang tunas/akar Nisbah diameter tajuk/sebaran akar
IBA 100 1.74ab 4.68ab 0.69ab 1.08b
IBA 200 2.09ab 4.98ab 0.61b 1.00b
IBA 300 2.47a 4.27ab 0.62b 1.00b
IBA 400 1.96ab 4.44ab 0.68ab 1.34b
NAA 100 2.03ab 5.22a 0.65b 0.87b
NAA 200 2.32a 3.78ab 0.87a 1.57a
NAA 300 1.82ab 3.86ab 0.54b 1.08b
NAA 400 1.26b 3.37b 0.73ab 1.14b
Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji selang berganda Duncan.
Gambar 9. Penampilan planlet manggis klon Puspahiang, 5 BST (A) IBA 100 mg l-1; (B) IBA 200 mg l-1; (C) IBA 300 mg l-1; (D) IBA 400 mg l-1; (E) NAA 100 mg l-1; (F) NAA 200 mg l-1; (G) NAA 300 mg l-1; dan (H) NAA 400 mg l-1 (tidak terdapat perbedaan morfologi antar perlakuan).
24
Hasil analisis ragam terhadap nisbah panjang tunas/akar dan diameter tajuk/sebaran akar menunjukkan perbedaan yang nyata antar perlakuan. Nisbah panjang tunas/akar berkisar antara 0.61–0.87 dengan nisbah tertinggi diperoleh dari perlakuan NAA 200 mg l-1.
Nisbah diameter tajuk/sebaran akar pada umur 5 BST berkisar antara 0.87–1.57 dengan nisbah tertinggi diperoleh dari perlakuan NAA 200 mg l-1. Secara umum, diameter tajuk dan akar antar perlakuan relatif sama. Nisbah diameter tajuk/sebaran akar menunjukkan keseimbangan pertumbuhan tajuk dengan akar. Semakin mendekati nilai satu berarti diameter tajuk dan akar hampir sama.
Gambar 10. Penampilan planlet manggis klon Puspahiang (pengakaran secara ex vitro)denganperlakuan IBA dan NAA (mg l-1), 5 BST.
Secara umum, perlakuan terbaik untuk pengakaran manggis secara ex vitro
diperoleh dari perlakuan NAA 200 mg l-1. Hal tersebut terlihat dari nilai tertinggi untuk sebagian besar peubah yang diamati. Hal ini diduga disebabkan oleh banyaknya jumlah tanaman yang berakar majemuk pada perlakuan tersebut. Sebaliknya, perlakuaan NAA 400 mg l-1 memiliki nilai terendah untuk sebagian besar peubah yang diamati. Hal ini diduga disebabkan oleh konsentrasi NAA yang terlalu tinggi sehingga bersifat racun bagi tanaman. Pengamatan pada umur 2 BST menunjukkan bahwa pada tunas dari perlakuan NAA 400 mg l-1 belum terbentuk akar sekundernya, sedangkan pada perlakuan lain telah terbentuk. Terhambatnya pembentukan akar sekunder akan menghambat pertumbuhan tanaman tersebut.
Gambar 11. Penampang irisan membujur akar (A) akar primer, dan (B) akar sekunder. (masing-masing dengan perbesaran 40X).
25 Pengamatan secara mikroskopis (perbesaran 40x) pada penampang membujur akar primer dan sekunder, tidak ditemukan rambut akar sepanjang lapisan epidermis akar (Gambar 11). Hal inilah yang diduga menjadi penyebab pertumbuhan dan perkembangan tanaman manggis relatif lebih lambat dibandingkan tanaman berkayu lainnya. Karena rambut akarnya tidak ada, penyerapan hara menjadi kurang optimal.
Aklimatisasi Planlet
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara jenis media aklimatisasi dengan ukuran planlet terhadap peubah-peubah yang diamati, demikian juga halnya dengan faktor tunggal jenis media aklimatisasi. Faktor yang berpengaruh nyata terhadap peubah yang diamati adalah ukuran planlet manggis (Tabel 8).
Tabel 8. Pengaruh jenis media aklimatisasi dan ukuran planlet terhadap pertumbuhan benih manggis klon Wanayasa, 5 BST.
Perlakuan Daya Hidup (%) Penambahan tinggi planlet (cm) Penambahan jumlah daun (helai) Media aklimatisasi TP 60.87 0.90 3.86 TK 52.17 1.18 3.67 TPA 73.91 0.86 3.24 TKA 68.18 1.01 3.67 Ukuran planlet
Tipe 1 100.00a 1.20a 3.70
Tipe 2 52.17b 0.96ab 3.79
Tipe 3 87.50a 0.64ab 3.00
Tipe 4 28.57b 0.38b 2.75
Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji selang berganda Duncan.
Media aklimatisasi: Ukuran planlet:
TP : tanah + pupuk kandang Tipe 1: panjang tunas dan akar ≥3 cm
TK : tanah + kompos Tipe 2: panjang tunas ≥3 cm, akar <3 cm
TPA : tanah + pupuk kandang + arang sekam Tipe 3: panjang tunas <3 cm, akar ≥3 cm