• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indonesia berada di peringkat 12 dunia dalam Indeks Pembangunan Ritel Global 2015. Tahun 2014 menunjukkan bahwa total penjualan ritel tumbuh 14,5%. AT Karney mencatat bahwa pasar ritel di Indonesia saat ini mencapat USD 326 miliar atau setara dengan Rp. 4 306 trilitun (Sindonews 2015).

Kota Bogor terletak di provinsi Jawa Barat dan memiliki posisi geografis antara 106 derajat 48’ BT dan 6 derajat 26’ LS. Posisi Kota Bogor berada dekat dengan Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi menjadikan Kota Bogor memiliki posisi strategis untuk perkembangan dan pertumbuhan ekonomi, pusat kegiatan nasional untuk industri, perdangan, transportasi, komunikasi, dan pariwisata.

Berdasarkan data dari Disperindag Kota Bogor (2013), diketahui bahwa terdapat 24 unit pusat perbelanjaan moderen di Kota Bogor. Beberapa diantaranya yaitu Pangrango Plaza, Ekalokasari Plaza, Bogor Trade Mall, Botani Square, Pusat Grosir Bogor, Ada Swalayan, Plaza Jembatan Merah, Yogya Departemen Store, Giant, Lottemart, dan lainnya. Jumlah ritel moderen di Kota Bogor mengalami peningkatan yang pesat dalam 8 tahun terakhir. Pada tahun 2005 jumlah supermarket, departemen store, toserba, dan pusat perbelanjaan moderen hanya berjumlah 12 unit, sedangakn pada tahun 2013 berlipat ganda menjadi 24 unit. Data ini menunjukkan bahwa Kota Bogor menjadi salah satu kota yang banyak diminati oleh perusahaan ritel dan penanam modal untuk mengembangkan bisnis ritel.

Karakteristik Konsumen

Total responden yang diperoleh dalam penelitan ini berjumlah 274 orang. Mayoritas konsumen yaitu perempuan sebanyak 88%. Penyebabnya adalah perempuan lebih sering melakukan kegiatan belanja serta lebih mengingat produk- produk bahan pangan yang biasa dibeli. Konsumen terbagi dalam tiga kelompok yaitu pengunjung hypermarket, supermarket, dan minimarket. Masing-masing kelompok market memiliki 102, 92 dan 80 responden. Karakteristik konsumen diperoleh berdasarkan analisis deksriptif terhadap responden yang diperoleh dalam penelitian ini dan kemudian disajikan dalam bentuk tabel frekuensi. Karakteristik konsumen hypermarket, supermarket dan minimarket ditampilkan pada Tabel 6.

33

Tabel 6 Karakteristik konsumen hypermarket, supermarket, dan minimarket

Karakteristik Keterangan Konsumen (%)

Hyper market Super market Mini market

Jenis kelamin Laki-laki 1,0 3,3 36,3

Perempuan 99,0 96,7 63,8 Status perkawinan Menikah 38,2 72,8 46,3 Belum menikah 61,8 27,2 53,8 Usia 15 - 20 tahun 25,5 13,0 20,0 21 – 25 tahun 38,2 18,5 28,8 26 – 30 tahun 12,7 13,0 15,0 31 – 35 tahun 7,8 20,7 8,8 36 – 40 tahun 5,9 10,9 12,5 41 – 45 tahun 2,0 10,9 6,3 46 – 50 tahun 5,9 6,5 6,3 51 – 55 tahun 2,0 2,2 1,3 56 – 60 tahun 0,0 4,3 0,0 >60 tahun 0,0 0,0 1,3 Pendidikan terakhir SD 0,0 1,1 0,0 SMP 2,9 5,4 7,5 SMA 53,9 32,6 47,5 Diploma 13,7 22,8 13,8 Sarjana (S1) 26,5 30,4 28,8 S2 atau S3 2,9 7,6 2,5 Pekerjaan Pelajar 35,3 13,0 21,3 Pegawai negeri 8,8 22,8 3,8 Pegawai swasta 33,3 37,0 32,5 Wirausaha 5,9 4,3 21,3

Ibu rumah tangga 13,7 19,6 20,0

BUMN 0,0 0,0 1,3 Lainnya 2,9 3,3 0,0 Pendapatan per bulan (Rp) < 1.000.000 9,8 8,7 17,5 1.000.000 – 2.000.000 29,4 14,1 26,3 2.000.001 – 3.000.000 19,6 21,7 15,0 3.000.001 – 5.000.000 23,5 27,2 23,8 5.000.001 – 7.000.000 8,8 16,3 11,3 7.000.001 – 9.000.000 2,9 4,3 3,8 > 9.000.000 5,9 7,6 2,5 Pengeluaran per bulan (Rp) < 1.000.000 25,5 15,2 23,8 1.000.000 – 2.000.000 32,4 23,9 36,3 2.000.001 – 3.000.000 23,5 28,3 21,3 3.000.001 – 5.000.000 12,7 21,7 17,5 5.000.001 – 7.000.000 0,0 5,4 0,0 7.000.001 – 9.000.000 2,9 3,3 1,3 > 9.000.000 2,9 2,2 0,0 Pengeluaran per bulan untuk bahan pangan (Rp) < 1.000.000 61,8 40,2 53,8 1.000.000 – 2.000.000 26,5 37,0 41,2 2.000.001 – 3.000.000 4,9 16,3 3,8 3.000.001 – 5.000.000 3,9 5,5 1,2 5.000.001 – 7.000.000 1,9 0,0 0 7.000.001 – 9.000.000 0,0 1,0 0 > 9.000.000 1,0 0,0 0

34

Tabel 6 Karakteristik konsumen hypermarket, supermarket, dan minimarket (Lanjutan)

Karakteristik Keterangan Konsumen (%)

Hyper market Super market Mini market

Frekuensi berbelanja 1 kali 15,7 18,5 16,3 2 kali 16,7 14,1 13,8 3 kali 21,6 16,3 22,5 4 kali 21,6 26,1 11,3 5 kali 5,9 2,2 8,8 >5 kali 18,6 22,8 27,5 Hobi Berbelanja 4,9 5,4 6,3 Membaca 13,7 23,9 7,5 Olahraga 9,8 12,0 35,0 Bepergian 22,5 5,4 1,3 Seni 12,7 9,8 10,0 Kuliner 14,7 27,2 13,8 Menjahit 0,0 2,2 0,0 Hiburan 11,8 8,7 13,8 Lainnya 9,8 5,4 12,5

Berdasarkan hasil analisis deskriptif Tabel 6, karakteristik konsumen dapat dilihat dari dua segi yaitu segi demografi dan segi perilaku pembelian konsumen. Dilihat dari segi demografi segmen hypemarket dan supermarket mayoritas terdiri dari 99% dan 96,7% perempuan, sedangkan minimarket terdiri dari 63,8% konsumen perempuan. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar konsumen yang memiliki kebiasaan berbelanja yaitu perempuan. Sebanyak 61,8% konsumen hypermarket belum menikah, 72,8% konsumen supermarket telah menikah dan sebanyak 53,8% konsumen minimarket belum menikah. Sebagian besar persebaran usia konsumen hypermarket di rentang 15-35 tahun, supermarket sebagian besar menyebar rata di rentang usia 15-45 tahun, sedangkan minimarket sebagian besar menyebar rata di rentang 15-40 tahun. Ketiga segmen ritel memiliki mayoritas konsumen berpendidikan terakhir SMA. Mayoritas konsumen hypermarket berstatus mahasiswa sebanyak 35,3% dan sebanyak 33,3% berprofesi sebagai pegawai swasta. Sedangkan mayoritas konsumen supermarket dan minimarket berprofesi sebagai pegawai swasta masing-masing dengan presentase sebesar 37% dan 32,5%. Berdasarkan pendapatan per bulan, mayoritas konsumen hypermarket dan minimarket berpendapatan 1-2 juta rupiah per bulan, sedangkan mayoritas konsumen supermarket berpendapatan 3-5 juta rupiah per bulan. Terakhir, mayoritas hobi yang dimiliki konsumen hypermarket, supermarket dan minimarket masing-masing yaitu bepergian, kuliner dan olahraga.

Karakteristik konsumen dari segi perilaku pembelian yaitu mayoritas konsumen hypermarket dan minimarket memiliki pengeluaran total per bulan 1-2 juta rupiah per bulan sedangkan mayoritas konsumen minimarket memiliki pengeluaran total 2-3 juta rupiah per bulan. Selanjutnya ketiga segmen ritel memiliki mayoritas konsumen yang pengeluaran bahan pangan per bulannya sebesar < 1 juta rupiah. Mayoritas konsumen hypermarket memiliki frekuensi berbelanja di ritel tersebut 3 dan 4 kali per bulan, konsumen supermarket memiliki frekuensi berbelanja di ritel tersebut 4 kali per bulan dan konsumen minimarket memiliki frekuensi berbelanja di ritel tersebut > 5 kali per bulan.

35

Karakteristik konsumen pada penelitian ini memiliki beberapa perbedaan dan persamaan dengan karakteristik konsumen pada lima penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini. Konsumen pada penelitian ini memiliki proporsi berjenis kelamin perempuan lebih besar dibandingkan laki-laki, temuan ini sama dengan karakteristik konsumen pada penelitian Jaafar et al. (2012) (60% perempuan), Bao et al. (2010) (79,8% perempuan), dan Wu et al. (2011) (79,7% perempuan), sedangkan penelitian Dursun et al. (2011) serta Jin dan Suh (2005) tidak menampilkan karakteristik gender konsumen. Selanjutnya pada penelitian ini proporsi rentang usia konsumen hypermarket dan minimarket terbesar yaitu pada rentang 21-25 tahun serta pada supermarket yaitu 31-35 tahun. Perbandingan karakteristik usia dengan penelitian Jaafar et al. (2012) yaitu rentang usia 18-25 tahun memiliki proporsi terbanyak yaitu 56%, penelitian Bao et al. (2011) memiliki karakteristik usia dengan rata-rata usia konsumen 41 tahun, penelitian Wu et al. (2011) memiliki karakteristik usia pada rentang 21-30 tahun dengan proporsi terbesar, selanjutnya 60% konsumen dalam penelitian Jin dan Suh (2005) berada pada rentang usia 20-39 tahun. Kemudian mayoritas pendidikaan terakhir konsumen pada penelitian ini yaitu SMA/ sederajat, hasil ini sesuai dengan penelitian Jaafar et al. (2012). Mayoritas konsumen pada penelitian ini berstatus belum menikah, temuan ini sesuai dengan temuan Jaafar et al. (2012) yang memiliki proporsi konsumen belum menikah sebesar 60%.

Selanjutnya, frekuensi belanja dan pengeluaran per bulan untuk produk private label dari konsumen juga dikaji. Frekuensi belanja dan pengeluaran produk private label konsumen disajikan pada Tabel 7 dan Tabel 8.

Tabel 7 Frekuensi berbelanja di setiap toko

Toko Frekuensi berbelanja (%)

1 kali 2 kali 3 kali 4 kali 5 kali >5 kali

Indomaret 19,6 10,9 19,6 10,9 8,7 30,4 Alfamart 11,8 17,6 26,5 11,8 8,8 23,5 Superindo 27,1 11,9 11,9 25,4 1,7 22,0 Griyamart 3,0 18,2 24,2 27,3 3,0 24,2 Hypermart 25,0 15,6 21,9 25,0 6,3 6,3 Giant 11,4 17,1 21,4 20,0 5,7 24,3

Berdasarkan Tabel 7, konsumen Indomaret, Alfamart, dan Giant yang menjadi sampel penelitian mayoritas adalah pengunjung dengan frekuensi belanja di masing-masing ritel tersebut sebanyak > 5 kali per bulan. Selanjutnya, konsumen Superindo yang menjadi sampel penelitian mayoritas memiliki frekuensi belanja sebanyak sekali tiap bulan. Konsumen Griyamart yang dijadikan sampel penelitian mayoritas memiliki frekuensi belanja sebanyak 4 kali per bulan. Sebagian besar konsumen Hypermart yang menjadi sampel penelitian memiliki frekuensi belanja sebanyak sekali dan 4 kali tiap bulan.

36

Tabel 8 Pengeluaran per bulan untuk produk private label Besar pengeluaran

private label (Rp)

Persentasi pengeluaran per toko (%) Indo maret Alfa mart Super indo Griya mart Hyper mart Giant < 50 000 52,2 29,4 16,9 42,4 28,1 28,6 50 001 – 100 000 17,4 20,6 16,9 24,2 28,1 25,7 100 001 – 200 000 15,2 32,3 10,2 18,2 18,8 18,6 200 001 – 300 000 4,3 2,9 5,1 6,0 3,1 14,3 300 001 - 400 000 2,2 8,8 5,1 0,0 6,2 2,8 400 001 - 500 000 4,3 0,0 28,8 9,1 12,5 4,3 >500 000 4,3 5,9 16,9 0,0 3,1 5,7 Berdasarkan hasil dalam Tabel 8 dapat dilihat bahwa mayoritas konsumen Indomaret, Alfamart, Griyamart, dan Giant yang dijadikan sampel penelitian adalah pengunjung yang memiliki besar pengeluaran untuk produk private label masing- masing ritel tersebut < Rp50 000 per bulannya. Selanjutnya, mayoritas konsumen Superindo yang dijadikan sampel penelitian adalah pengunjung yang memiliki besar pengeluaran untuk produk private label ritel tersebut Rp450 000 – Rp500 000 per bulannya. Terakhir, mayoritas konsumen Hypermart yang dijadikan sampel penelitian adalah pengunjung yang memiliki besar pengeluaran produk private label toko ritel tersebut < Rp50 000 dan Rp50 001 – Rp100 000 per bulannya.

Perbedaan Variabel Laten antara Hypermarket, Supermarket dan Minimarket

Uji Mann Whitney dilakukan untuk menganalisis ada atau tidaknya perbedaan masing-masing variabel laten antara ritel berjenis hypermarket, supermarket, dan minimarket. Uji Mann Whitney dilakukan dengan tingkat α = 5%. Jika nilai signifikansi hitung < 0,05, maka H0 dapat ditolak. Hasil uji Mann Whitney

tersaji pada Tabel 9.

Tabel 9 Ringkasan hasil uji Mann Whitney

Variabel Perbedaan kelompok Tingkat

signifikansi

Citra toko Hypermarket-supermarket 0,024*

Hypermarket-minimarket 0,001*

Supermarket-minimarket 0,131**

Persepsi risiko Hypermarket-supermarket 0,008* Hypermarket-minimarket 0,226**

Supermarket-minimarket 0,000* Citra private label Hypermarket-supermarket 0,266**

Hypermarket-minimarket 0,719**

Supermarket-minimarket 0,486** Product signatureness Hypermarket-supermarket 0,131**

Hypermarket-minimarket 0,823** Supermarket-minimarket 0,129**

37

Tabel 9 Ringkasan hasil uji Mann Whitney (Lanjutan)

Variabel Perbedaan kelompok Tingkat

signifikansi Persepsi variasi kualitas Hypermarket-supermarket 0,000*

Hypermarket-minimarket 0,935**

Supermarket-minimarket 0,000* Kesadaran nilai Hypermarket-supermarket 0,026*

Hypermarket-minimarket 0,532** Supermarket-minimarket 0,231** Keinovatifan konsumen Hypermarket-supermarket 0,076** Hypermarket-minimarket 0,625** Supermarket-minimarket 0,249** Familiarity Hypermarket-supermarket 0,090** Hypermarket-minimarket 0,000* Supermarket-minimarket 0,018*

Persepsi kualitas Hypermarket-supermarket 0,184** Hypermarket-minimarket 0,052**

Supermarket-minimarket 0,001*

Private label attitude Hypermarket-supermarket 0,255** Hypermarket-minimarket 0,009*

Supermarket-minimarket 0,000*

Ruang rak Hypermarket-supermarket 0,438**

Hypermarket-minimarket 0,481**

Supermarket-minimarket 0,945**

Minat beli Hypermarket-supermarket 0,002*

Hypermarket-minimarket 0,053*

Supermarket-minimarket 0,234** Keterangan : * signifikan

** tidak signifikan

Berdasarkan hasil uji Mann Whitney pada Tabel 9, dapat diketahui bahwa terdapat beberapa variabel yang nilainya berbeda dalam kategori ritel hypermarket, supermarket, dan minimarket. Beberapa variabel tersebut yaitu citra toko, persepsi risiko, persepsi variasi kualitas, familiarity, persepsi kualitas, private label attitude, kesadaran nilai, dan minat beli. Hasil uji Mann Whitney menggunakan SPSS 16 disajikan pada Lampiran 5.

Perbedaan citra toko antar kelompok ritel

Hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa citra toko antara hypermarket dengan supermarket memiliki perbedaan yang signifikan. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan ukuran area belanja antara hypermarket yaitu seluas > 5 000 m2

dengan supermarket yaitu seluas 4 000 – 5 000 m2 (Peraturan Presiden 2007). Selain

itu, terdapat perbedaan dari segi kelengkapan jenis produk yang dijual. Jenis produk yang dijual di hypermarket yaitu makanan, perawatan rumah, elektronik, pakaian dan alat olah raga. Sedangkan jenis produk yang dijual di supermarket umumnya hanya produk makanan dan perawatan rumah. Dua alasan tersebut berlaku sama untuk menjelaskan perbedaan citra toko antara hypermarket dengan minimarket

38

yang cukup signifikan dari segi ukuran toko dan kelengkapan produk barang. Supermarket dengan minimarket relatif tidak berbeda dalam hal citra toko.

Perbedaan persepsi risiko antar kelompok ritel

Hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa persepsi risiko antara hypermarket dengan supermarket dan supermarket dengan minimarket memiliki perbedaan yang signifikan. Hal ini disebabkan adanya perbedaan citra toko antara hypermarket dengan supermarket dan perbedaan familiarity antara supermarket dengan minimarket. Familiarity menunjukan sejauh mana konsumen merasa akrab dan mengenal suatu produk private label yang dijual toko ritel. Perasaan akrab dan mengenal produk private label dapat muncul disebabkan adanya informasi yang tersimpan dalam benak konsumen melalui iklan, katalog, percakapan dengan teman dan keluarga, dan sebagainya.

Perbedaan persepsi variasi kualitas antar kelompok ritel

Hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa persepsi variasi kualitas antara hypermarket dengan supermarket memiliki perbedaan yang signifikan. Persepsi variasi kualitas merupakan penilaian konsumen mengenai seberapa besar beda kualitas produk private label dengan produk merek nasional. Artinya bagi konsumen, dalam hal menyaingi kualitas produk merek nasional, antara private label milik hypermarket dengan private label milik supermarket tidak sama. Persepsi variasi kualitas antara supermarket dengan minimarket juga memiliki perbedaan yang signifikan. Hal ini dapat disebabkan masing-masing merek private label yang dimiliki masing-masing ritel dipersepsikan berbeda dari segi kualitas oleh konsumen. Sehingga bagi konsumen terdapat merek tertentu yang memang sudah mampu menyaingi kualitas produk merek nasional ada juga yang belum bisa menyaingi produk merek nasional.

Perbedaan kesadaran nilai antar kelompok ritel

Hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa kesadaran nilai antara hypermarket dengan supermarket memiliki perbedaan yang signifikan. Temuan ini disebabkan oleh perbedaan usia pada karakteristik responden hypermarket dan supermarket. Persebaran usia responden hypermarket mayoritas pada usia 15-35 tahun, sedangkan supermarket 15-45 tahun. Perbedaan usia dapat menghasilkan perbedaan tingkat sensitifitas terhadap harga.

Perbedaan familiarity antar kelompok ritel

Hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa familiarity antara hypermarket dengan minimarket memiliki perbedaan yang signifikan. Familiarity antara supermarket dengan minimarket juga memiliki perbedaan yang signifikan. Hal ini terjadi akibat pengaruh banyaknya jenis produk private label yang dimiliki serta perbedaan ukuran toko. Pada kategori hypermarket dengan supermarket cenderung memiliki jenis produk private label yang lebih banyak dibanding dengan minimarket. Ukuran toko hypermarket dengan supermarket relatif lebih besar, sehingga memungkinkan untuk lebih banyak meletakan produk private label di berbagai tempat.

39

Perbedaan persepsi kualitasantar kelompok ritel

Hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa persepsi kualitas antara supermarket dengan minimarket memiliki perbedaan yang signifikan. Temuan ini dapat disebabkan adanya perbedaan segmen konsumen. Perbedaan sensitifitas konsumen terhadap harga juga menjadi faktor yang utama. Hal ini dapat diketahui dari karakteristik responden yang menunjukkan bahwa adanya perbedaan total pengeluaran per bulan antara responden supermarket dengan minimarket masing- masing 2-3 juta rupiah dan 1-2 juta rupiah. Perbedaan total pengeluaran per bulan dapat menunjukkan sensitifitas harga konsumen yang dapat mempengaruhi perbedaan pandangan mengenai kualitas produk

Perbedaan private label attitude antar kelompok ritel

Hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa private label attitude antara hypermarket dengan minimarket memiliki perbedaan yang signifikan. private label attitude antara supermarket dengan minimarket juga memiliki perbedaan yang signifikan. Seringkali konsumen merasa senang terhadap produk private label karena mampu memenuhi kebutuhan dan menawarkan harga yang lebih murah serta diskon yang lebih sering. Alasan ini dapat menjadi faktor adanya perbedaan sikap konsumen terhadap private label antara hypermarket dengan minimarket serta supermarket dengan minimarket. Minimarket cenderung jarang untuk memberikan diskon dan umumnya harga murah yang ditawarkan belum signifikan. Minimarket juga cenderung masih sering memberikan diskon untuk produk-produk bukan private label dan justru produk merek nasional.

Perbedaan minat beliantar kelompok ritel

Hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa minat beli antara hypermarket dengan supermarket dan hypermarket dengan minimarket memiliki perbedaan yang signifikan. Hal ini disebabkan masih sedikitnya jenis produk makanan private label yang ditawarkan oleh supermarket dan minimarket. Sedangkan jenis produk private label makanan yang ditawarkan oleh hypermarket relatif lebih banyak dan luas. Hypermarket memiliki private label makanan seperti beras, gula, minyak goreng, makanan beku, telur, kurma, makanan ringan, makanan mentah, bawang goreng, abon, bumbu, bahan es, makanan kaleng, roti dan kue. Sedangkan private label makanan yang dimiliki supermarket umunya yaitu makanan beku, bumbu dapur, makanan mentah, abon, gula, makanan ringan dan roti. Private label makanan yang dimiliki oleh minimarket umumnya yaitu beras, minyak goreng, gula, makanan ringan, roti dan kue, bumbu, makanan mentah, mie instan, abon, roti dan kue. Selain itu jumlah barang yang dijual juga berbeda antara hypermarket, supermarket dan minimarket yaitu masing-masing sebanyak 25 000 barang, 5 000 – 25 000 barang dan < 5 000 barang.

40

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Beli Private Label Makanan Analisis dalam model SEM dapat dibagi menjadi dua tahapan yaitu model pengukuran dan analisis struktural model. Tujuan melakukan model pengukuran yaitu untuk mengetahui seberapa kuat variabel manifes menggambarkan setiap variabel laten eksogen dan endogen. Tujuan melakukan analisis dalam model struktural yaitu mengetahui hubungan variabel laten eksogen dengan variabel laten endogen.

Model Pengukuran

Pengukuran model dilakukan dengan menguji validitas dan reliabilitas konstruk laten melalui analisis faktor konfirmatori. Uji ini dilakukan dalam SEM yaitu uji validitas convergent yang mengharuskan nilai loading faktor lebih dari 0,5 agar tiap indikator dinyatakan valid. Hasil uji validitas model tersaji pada Tabel 10. Selanjutnya hasil diagram jalur untuk nilai loading factor disajikan pada Gambar 8.

Tabel 10 Hasil uji validitas indikator

Variabel laten Indikator Loading

factor Variabel laten Indikator

Loading factor Product signatureness PS1 0,67 Consumer Inovativeness CI1 0,68 PS2 0,94 CI2 0,70

Citra private label PBI1 0,78 CI3 0,92

PBI2 0,87 Kesadaran nilai VC1 0,29

Persepsi risiko PR1 0,74 VC2 0,92

PR2 0,82 VC3 0,20

PR3 0,79 Familiarity F1 0,58

Citra toko SI1 0,69 F2 0,65

SI2 0,60 F3 0,51

SI3 0,66 Private label

Attitude

PBA1 0,89

SI4 0,54 PBA2 0,74

Persepsi kualitas PQ1 0,89 PBA3 0,78

PQ2 0,82 Ruang rak SS1 0,82 PQ3 0,76 SS2 1,00 Persepsi variasi kualitas QV1 0,83 Minat beli PI1 0,89 QV2 0,77 QV3 0,79

Tabel 10 menjelaskan bahwa pada measurement model bagian pertama hanya indikator VC1 dan VC3 yang masih memiliki nilai loading factor dibawah 0,5. Oleh karena itu, analisis dapat dilanjutkan pada tahap berikutnya. Selanjutnya, uji reliabilitas juga dilakukan dalam measurement model. Uji ini dilakukan untuk membuktikan akurasi, konsistensi dan ketepatan instrumen dalam mengukur konstruk. Uji reliabilitas pada program LISREL dapat dilakukan dengan metode composite reliability yang mengharuskan nilainya lebih dari 0,6. Hasil uji reliabilitas tersaji pada Tabel 11.

41

Tabel 11 Hasil uji reliabilitas

Variabel laten Nilai Alpha Reliabilitas

Private label image 0,848 Reliable

Persepsi risiko 0,770 Reliable

Familiarity 0,715 Reliable

Ruang rak 0,803 Reliable

Persepsi kualitas 0,783 Reliable

Kesadaran nilai 0,707 Reliable

Private label attitude 0,760 Reliable Keinovatifan konsumen 0,764 Reliable Product signatureness 0,605 Reliable Persepsi variasi kualitas 0,790 Reliable

Citra toko 0,553 Cukup reliable

Minat beli 0,848 Reliable

Berdasarkan hasil uji reliabilitas menggunakan metode Alpha Cronbach, semua variabel laten telah memenuhi syarat nilai alpha > 0,6, sehingga dapat dikatakan reliabel. Hanya terdapat satu variabel citra tokoyang masih memiliki nilai 0,553 dan dinyatakan cukup reliabel. Oleh karena itu, analisis data masih dapat dilanjutkan pada tahap berikutnya.

42

Gambar 8 Diagram jalur nilai loading factor Store I PL Image P Signature Q variation Value Consc Con Inovat Familiarity Shelf S P risk P quality PL attitude Intention

43

Uji Kelayakan Model

Kelayakan model merupakan indikasi dari perbadingan antara model yang dispesifikasi dengan matriks kovarian antar indikator atau observed variabel. Jika hasil uji kelayakan pada suatu model baik, maka model tersebut dapat diterima. Menurut Latan (2013), penggunaan 4-5 kriteria uji kelayakan model dianggap sudah mencukupi untuk menilai kelayakan suatu model, asalkan masing-masing kriteria dari absolute fit indices, incremental fit indices dan parsimony fit indices terwakili. Uji kelayakan model yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan 6 asumsi yaitu RMR; GFI yang mewakili absolute fit indices; AGFI, IFI dan CFI yang mewakili incremental fit indices; serta PGFI yang mewakili parsimony fit indices. Hasil uji kelayakan model tersaji pada Tabel 12.

Tabel 12 Hasil uji kelayakan model

Goodness-of-Fit Cutt-off-Value Hasil Keterangan

RMR (Root Mean Square Residual) ൑ 0,1 0,08 Good Fit

GFI (Goodness of Fit Indices) > 0,90 0,93 Good Fit

AGFI (Adjusted Goodness of Fit Index) ൒ 0,90 0,91 Good Fit

IFI (Incremental Fit Index) > 0,90 0,94 Good Fit

CFI (Comparative Fit Index) ൒ 0,90 0,94 Good Fit

PGFI (Parsimonious Goodness of Fit Index) > 0.06 0,74 Good Fit

Berdasarkan Tabel 12, dapat diketahui bahwa dari keenam asumsi telah memenuhi cutt-off-value. Oleh karena itu model dapat dinyatakan baik.

Analisa Model Stuktural

Analisa model struktural dilakukan untuk menganalisis dan membahas pengaruh variabel-variabel laten eksogen terhadap variabel laten endogennya. Hipotesis yang terbentuk dalam penelitian ini berjumlah 20 buah. Sedangkan, model SEM yang terbetuk hanya model recursive. Hasil analisa model struktural dengan menggunakan nilai t-hitung ditampilkan pada Tabel 13 dan Gambar 9.

Hasil pada Tabel 13 dan Gambar 9 menjelaskan bahwa terdapat 8 hipotesis yang diterima dan 12 hipotesis ditolak. Hipotesis diterima jika nilai t hitung > nilai t tabel. Nilai t tabel yang ditentukan yaitu 1,96 berdasarkan nilai α= 5%. Hasil uji hipotesis yang telah dilakukan dijelaskan pada bahasan selanjutnya.

Tabel 13 Hasil analisa model struktural

Hipotesis Path Nilai t Pengaruh Keputusan

hipotesis H1-1 Pengaruh keinovatifan konsumen pada

minat beli

-0,53 Tidak signifikan

Ditolak H1-2 Pengaruh keinovatifan konsumen pada

private label attitude

-2,19 Signifikan negative

Diterima H1-3 Pengaruh private label attitude pada

minat beli

2,56 Signifikan positif

Diterima H1-4 Pengaruh product signatureness pada

persepsi kualitas

-0,13 Tidak signifikan

Ditolak H1-5 Pengaruhpersepsi variasi kualitaspada

persepsi kualitas

-6,47 Signifikan negative

Diterima H1-6 Pengaruh persepsi kualitas pada minat

beli

-0,22 Tidak signifikan

44

Tabel 13 Hasil analisa model struktural (Lanjutan)

Hipotesis Path Nilai t Pengaruh Keputusan

hipotesis H1-7 Pengaruh product signatureness pada

minat beli

-0,85 Tidak signifikan

Ditolak H1-8 Pengaruhpersepsi variasi kualitaspada

minat beli

0,77 Tidak signifikan

Ditolak H1-9 Pengaruhkesadaran nilai pada private

label attitude

7,56 Signifikan positif

Diterima H1-10 Pengaruh kesadaran nilai pada minat

beli

0,73 Tidak signifikan

Ditolak H1-11 Pengaruhcitra toko padaMinat beli -0,80 Tidak

signifikan

Ditolak H1-12 Pengaruh citra toko pada Persepsi

kualitas

1,28 Tidak signifikan

Ditolak H1-13 Pengaruh ruang rak pada persepsi

kualitas

-2,01 Signifikan negatif

Diterima H1-14 Pengaruh familiarity pada persepsi

kualitas

11,53 Signifikan positif

Diterima H1-15 Pengaruh familiarity padaminat beli -0,57 Tidak

signifikan

Ditolak H1-16 Pengaruh familiarity pada persepsi

risiko

7,57 Signifikan positif

Diterima H1-17 Pengaruh persepsi risiko pada minat

beli

-0,39 Tidak signifikan

Ditolak H1-18 Pengaruh citra private label pada

persepsi risiko

-9,62 Signifikan negatif

Diterima

H1-19 Pengaruh ruang rakpadaminat beli 0,81 Tidak

signifikan

Ditolak H1-20 Pengaruhcitra private label padaminat

beli

-0,002 Tidak signifikan

Ditolak Sumber : Hasil olah data LISREL 8.3

45

Gambar 9 Path diagram nilai t-hitung Store I PL Image P Signature Q variation Value Consc Con Inovat Familiarity Shelf S P risk P quality PL attitude Intention

46

Pengaruh private label attitude terhadap minat beli

Hasil olah data pada Tabel 14 menunjukkan bahwa private label attitude berpengaruh secara positif terhadap minat beli, dengan nilai t yaitu 2,56 > 1,96. Sikap merupakan perasaan suka atau tidak suka dari konsumen mengenai suatu objek. Sikap juga menggambarkan kepercayaan terhadap atribut dan manfaat dari

Dokumen terkait