Dari 1108 murid di enam Sekolah Dasar Negeri, hanya 611 anak yang memeriksakan tinja, sedangkan 497 lainnya tidak bersedia. Dari 611 anak yang memeriksakan tinja, 390 anak (63,8%) positif mengandung telur cacing usus, dengan 174 (28,5%) anak mendapat infeksi tunggal, 211 (34,5%) anak mendapat infeksi ganda dan 5 anak (0,82%) mendapat infeksi tiga jenis cacing. Selanjutnya dari 390 anak yang positif mengandung telur cacing usus, 279 anak (71,5%) di antaranya mengandung telur A.lumbricoides, 328 anak (84,1%) mengandung telur
T. trichiura dan hanya 10 anak (2,5%) yang mengandung telur cacing tambang. Di antara 390 anak ini, ternyata 216 anak menderita infeksi campuran (55,4%) dan 174 anak menderita infeksi tunggal (44,6%), dengan 207 (53%) anak dengan infeksi campuran A.lumbricoides dan T.trichiura, 3 anak (0,77%) dengan infeksi campuran T.trichiura dan cacing tambang, 1 anak (0,26%) dengan infeksi campuran A.lumbricoides dan cacing tambang, serta 5 anak (1,3%) dengan infeksi campuran dengan tiga jenis cacing.
Pada penelitian ini, dari 390 anak yang positif mengandung telur cacing usus, hanya 200 anak yang menderita infeksi campuran saja yang dilibatkan lebih lanjut dalam penelitian ini dan dibagi secara acak ke dalam dua kelompok pengobatan, tiap-tiap kelompok terdiri dari 100 anak. Adapun anak yang positif mengandung
telur cacing usus dan tidak dilibatkan lebih lanjut dalam penelitian ini, tetap diberikan pengobatan untuk infeksi cacing yang mereka derita berupa pemberian tablet mebendazol 500 mg dosis tunggal. Dari 200 anak yang telah dipilih untuk mengikuti penelitian lebih lanjut dan diberikan pengobatan sesuai dengan kelompok masing-masing, 176 anak (88%) mengembalikan contoh tinja pada saat pemeriksaan tinja ulang. Terdapat 10 anak dari kelompok I dan 14 anak dari kelompok II yang tidak mengembalikan pot tinja pada pemeriksaan tinja ulang pada hari ke-21 setelah pengobatan.
IV.1.1. Karakteristik sampel penelitian
Karakteristik sampel penelitian untuk usia rata-rata, jenis kelamin dan status gizi dianalisa berdasarkan jumlah anak yang mengikuti penelitian dari awal sampai selesai pada kedua kelompok; 90 anak pada kelompok I dan 86 anak pada kelompok II. Adapun derajat infeksi cacing, jumlah telur dan kesembuhan dianalisa berdasarkan jumlah anak yang menderita infeksi cacing tertentu dari kedua kelompok yang mengikuti penelitian sampai selesai.
Jumlah anak yang dianalisa untuk infeksi A.lumbricoides adalah 87 anak pada kelompok I dan 86 anak pada kelompok II. Pada infeksi T. trichiura, jumlah anak yang dianalisa adalah 89 pada kelompok I dan 86 pada kelompok II. Sedangkan untuk infeksi cacing tambang tidak dianalisa lebih lanjut karena jumlah sampel tidak memenuhi standar minimal.
Tabel 4. Karakteristik sampel penelitian Pengobatan Mebendazol Mebendazol + levamisol No. Karakteristik (n=90) (n=86) P 1. Umur: 5 - 10 11 - 13 63 (70,0%) 27 (30%) 61 (70,9%) 25 (29,1%) 0.892 2. Jenis kelamin: Laki-laki Perempuan 44 (48.9%) 46 (51,1%) 42 (48,8%) 44 (51,2%) 0,995 3. Status gizi: BBL Baik Kurang 7 (7,8%) 59 (65,6%) 24 (26,7%) 6 (7%) 57 (66,3%) 23 (26,7%) 0,979 4. Intensitas infeksi A. A. lumbricoides Ringan Sedang Berat B. T. trichiura Ringan Sedang (n = 87) 52 (59,8%) 31 (35,6%) 4 (4,6%) (n = 89) 76 (85,4%) 13 (14,6%) (n = 86) 49 (57%) 31 (36%) 6 (7%) (n = 86) 75 (87,2%) 11 (12,8%) 0,785 0,727 RTPG sebelum pengobatan A. A.lumbricoides 12548,7 ±18836,2 11613,8 ±16930,7 0,534 5. B. T. trichiura 459,2 ± 661,9 489,3 ± 836,8 0,765
Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat sebagai berikut.
1. Umur
kedua kelompok perlakuan (p>0.05). Terlihat bahwa prevalensi infeksi soil-transmitted helminths tertinggi pada usia 5-10 tahun (70,45%).
2. Jenis kelamin
Pada penelitian ini terdapat perbedaan proporsi laki-laki terhadap perempuan yaitu 48,9% adalah anak laki-laki dan 51,1% adalah anak perempuan. Namun demikian, jumlah laki-laki dan perempuan pada kedua kelompok perlakuan tidak berbeda bermakna ( p=0.995 ).
3. Status gizi
Status gizi diukur dengan cara antropometri, ditentukan dengan menggunakan berat badan menurut tinggi badan yang dibandingkan dengan baku (median) menurut umur dan jenis kelamin (NCHS). Hasilnya adalah tidak ada perbedaan status gizi di antara kedua kelompok perlakuan pada penelitian ini (p=0.979). Status gizi kurang sebanyak 47 kasus ( 26,7%), tersebar pada kedua kelompok masing-masing 24 kasus (26,7%) pada kelompok I dan 23 kasus (26,7%) pada kelompok II.
4. Intensitas infeksi
Tidak ada perbedaan bermakna intensitas infeksi Ascaris lumbricoides
(p=0.785) dan Trichuris trichiura (p=0.727) pada kedua kelompok perlakuan. Pada infeksi Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura kasus yang terbanyak adalah infeksi dengan intensitas ringan. Pada infeksi Trichuris trichiura tidak dijumpai kasus dengan intensitas infeksi berat, sedangkan pada infeksi Ascaris lumbricoides dijumpai 10 kasus dengan intensitas infeksi berat.
5. Rerata Telur per Gram Tinja
Pada infeksi A. lumbricoides dan T.trichiura, rerata jumlah telur per gram tinja pada kedua kelompok, yang diambil sebelum pengobatan tidak berbeda bermakna (p=0.534 untuk A.lumbricoides dan p=0.765 untuk T.trichiura). Berdasarkan data rerata jumlah telur sebelum pengobatan terlihat bahwa sampel termasuk dalam intensitas infeksi sedang pada infeksi A.lumbricoides dan intensitas infeksi ringan pada infeksi T. trichiura.
Berdasarkan data di atas, maka kedua kelompok penelitian ini adalah homogen berdasarkan data awal untuk usia, jenis kelamin, status gizi, jumlah telur dan intensitas infeksi cacing.
IV.1.2. Efek samping obat
Pemantauan efek samping obat dilakukan selama penelitian pada semua anak dari kedua kelompok penelitian. 176 anak yang mendapat pengobatan dari kedua kelompok penelitian dipantau efek samping obat yang timbul mulai satu hari sampai dengan tiga hari sesudah pemberian obat.
Tabel 5. Efek samping obat. Pengobatan No Efek samping obat
Mebendazol (n=90) Mebendazol + Levamisol (n=86) 1. Mencret 0 1 (1,2%) 2. Nyeri kepala 1 (1,1%) 2 (2,3%) 3. Pusing 1 (1,1%) 5 (5,8%) 4. Sakit perut 2 (2,2%) 2 (2,3%) 5. Mual 3 (3,3%) 2 (2,3%) 6. Muntah 0 1 (1,2%)
1. Efek samping Mebendazol
Pada penelitian ini tidak ditemukan efek samping yang berarti. Beberapa efek samping yang ditemukan adalah nyeri kepala (1,1%), pusing (1,1%), sakit perut (2,2%) dan mual (3,3%). Dengan perkataan lain, mebendazol 500 mg per oral/dosis tunggal aman bagi anak sekolah dasar.
2. Efek samping kombinasi mebendazol dan levamisol
Sebagaimana halnya pada pengobatan dengan mebendazol dosis tunggal, pemberian kombinasi mebendazol dan levamisol pada penelitian ini juga tidak ditemukan efek samping yang berarti. Beberapa efek samping yang ditemukan adalah mencret (1,2%), nyeri kepala (2,3%), pusing (5,8%), sakit perut (2,3%), mual (2,3%) dan muntah (1,2%). Dengan demikian, kombinasi mebendazol 500 mg dengan levamisol 50 mg atau 100 mg per oral/dosis tunggal aman bagi anak sekolah dasar.
IV.1.3. Efikasi obat terhadap Ascaris lumbricoides
Tabel 6. Kesembuhan dari infeksi A.lumbricoides setelah pengobatan pada kedua kelompok perlakuan
Kesembuhan setelah pengobatan Obat yang
diberikan
(n)
Sembuh Tidak sembuh AP P
Mebendazol 87 82 5 94,3%
Mebendazol +
levamisol 86 81 5 94,2%
0,985
pada masing-masing kelompok perlakuan sangat baik. Pada infeksi
A.lumbricoides kedua regimen pengobatan mempunyai efikasi yang sangat tinggi. Angka penyembuhan pada pemberian mebendazol tunggal adalah 94,3% serta 94,2% pada pemberian kombinasi mebendazol dan levamisol. Secara statistik kita dapatkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan efikasi kedua regimen obat terhadap infeksi A.lumbricoides. Dengan demikian, pengobatan A.lumbricoides
dengan mebendazol tunggal sama baiknya dengan pengobatan secara kombinasi antara mebendazol dan levamisol.
Tabel 7. Perbedaan Rerata telur A.lumbricoides sebelum dan setelah pengobatan pada kedua kelompok perlakuan
Rerata telur per gram tinja Obat yang diberikan (n) Sebelum pengobatan Setelah pengobatan APJT P Mebendazol 87 12548,7 ± 18836.2 129,1 ± 848 98,97% 0.0001 Mebendazol + levamisol 86 11613,8 ± 16930,7 9,5 ± 61,5 99,91% 0.0001
Tabel 8. Perbedaan rerata telur per gram tinja 21 hari setelah pengobatan pada kedua kelompok perlakuan
Pengobatan Spesies cacing Mebendazol Mebendazol + levemisol P Ascaris lumbricoides 129,1 ± 848 9,5 ± 61,5 0,988 Trichuris trichiura 36,4 ± 92,1 26,6 ± 77,5 0,802
A.lumbricoides seperti terlihat pada tabel 7 mempunyai nilai yang signifikan secara statistik lebih baik pada semua regimen obat dibandingkan dengan sebelum pengobatan (p= 0.0001). Demikian juga sebagaimana terlihat pada tabel 8, kedua regimen pengobatan mempunyai efikasi yang tinggi dan sama baiknya dalam menurunkan jumlah telur (p=0.988). Angka penurunan jumlah telur ditemukan lebih tinggi pada pengobatan kombinasi mebendazol dan levamisol (99.91%) dibandingkan dengan pengobatan tunggal mebendazol (98,97%).
IV.1.4. Efikasi obat terhadap Trichuris trichiura
Tabel 9. Kesembuhan dari infeksi T.trichiura setelah pengobatan pada kedua kelompok perlakuan
Kesembuhan setelah pengobatan
Obat (n) Sembuh Belum
sembuh Angka Penyembuhan P Mebendazol 89 61 28 68,5% Mebendazol + levamisol 86 59 27 68,6% 0,993
Tabel 10. Perbedaan Rerata telur T.trichiura sebelum dan setelah pengobatan pada kedua kelompok perlakuan
Rerata telur per gram tinja Obat yang diberikan (n) Sebelum pengobatan Setelah pengobatan APJT P Mebendazol 89 459,2 ± 661,9 36,4 ± 92,1 92.07% 0.0001 Mebendazol + levamisol 86 489,3 ± 836,8 26,6 ± 77.5 94,56% 0.0001
Berdasarkan tabel 9 terlihat bahwa angka penyembuhan pada masing-masing kelompok perlakuan adalah 68,5% pada pemberian mebendazol tunggal dan 68,6% pada pemberian kombinasi mebendazol dan levamisol. Secara statistik kita dapatkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan efikasi kedua regimen obat terhadap infeksi T.trichiura ( p=0,993). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengobatan kombinasi mebendazol dan levamisol dalam mengobati infeksi
T.trichiura adalah sama efektifnya dengan pengobatan tunggal mebendazol.
Pemantauan jumlah telur serta angka penurunan jumlah telur untuk infeksi
Trichuris trichiura seperti terlihat pada tabel 10 juga mempunyai nilai yang signifikan secara statistik lebih baik pada semua regimen obat dibandingkan dengan sebelum pengobatan (p=0.0001). Sama seperti efikasi obat terhadap infeksi Ascaris lumbricoides, berdasarkan tabel 8 kedua regimen pengobatan juga mempunyai efikasi yang tinggi dan sama baiknya dalam menurunkan jumlah telur (p=0.0802); 92,07% pada pemberian mebendazol dan 94,56% pada pemberian kombinasi mebendazol dan levamisol, dimana angka penurunan jumlah telur lebih tinggi pada pemberian kombinasi mebendazol dan levamisol.
IV.2. Pembahasan
Pada penelitian ini ditemukan prevalensi infeksi soil-transmitted helminths
adalah 63,8%, dengan 28,5% dari anak-anak mendapat infeksi tunggal, 34,5% anak mendapat infeksi ganda dan 0,82% anak-anak mendapat infeksi tiga jenis cacing. Di tempat lain prevalensi infeksi soil-transmitted helminths ini juga
cukup tinggi, seperti di Zanzibar 99,7% dengan 38,3% dari anak-anak mendapat infeksi ganda dan 54,9% mendapat infeksi tiga jenis cacing (Albanico dkk, 2003). Pada penelitian ini terlihat bahwa infeksi campuran antara A.lumbricoides dan
T.trichiura adalah yang terbanyak, yaitu 53%. Needham dkk (1998) mengatakan bahwa ada interaksi positif antara A.lumbricoides dan T.trichiura. Tingginya intensitas infeksi A.lumbricoides secara signifikan berhubungan dengan tingginya intensitas infeksi T.trichiura.
IV.2.1. Umur
Pada penelitian ini terlihat bahwa prevalensi tertinggi ditemukan pada kelompok umur 5–10 tahun pada kedua kelompok perlakuan. Hal ini adalah sama dengan penelitian terdahulu yang menemukan intensitas infeksi untuk ketiga jenis cacing secara signifikan lebih tinggi pada usia 5 – 10 tahun, dan kemudian menurun pada usia remaja sampai dewasa (Elkins dkk, 1986; Norhayati dkk, 1997; Scolari dkk, 2000 dan Albanico dkk, 2003;).
IV.2.2. Jenis kelamin
Pada penelitian ini tidak ditemukan perbedaan bermakna proporsi laki-laki terhadap perempuan untuk mendapatkan infeksi soil-transmitted helminths. Hal ini sama seperti penelitian Scolari dkk (2000) dan Norhayati dkk (1997).
IV.2.3. Status gizi
Pada penelitian ini didapatkan kasus yang menderita gizi kurang sebanyak 47 kasus (26,7%). Gangguan gizi dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti masukan kalori dan protein yang kurang, absorbsi makanan yang terganggu, dan
penyakit infeksi seperti askariasis dan trichuriasis (Hasan dan Alatas, 1985). Pada penelitian ini kami hanya dapat menentukan sebagai penyebab gizi kurang adalah askariasis dan trichuriasis, walaupun faktor-faktor lain belum disingkirkan.
IV.2.4. Intensitas infeksi
Pada penelitian ini yang paling banyak ditemukan adalah intensitas infeksi ringan yaitu 58,4% pada infeksi A.lumbricoides dan 86,3% pada infeksi
T.trichiura. Intensitas infeksi sedang dijumpai sebanyak 35,8% pada penderita
A.lumbricoides dan 13,7% pada penderita T.Trichiura. Sedangkan intensitas infeksi berat hanya dijumpai pada infeksi A.lumbricoides yaitu 5,8%. Northrop-Clewes dkk (2001), mengatakan bahwa intensitas infeksi nematoda usus yang ringan tidak berperan secara nyata pada gangguan pertumbuhan. Watkins dan Pollitt (1996), menyatakan bahwa pemberian obat cacing pada penderita dengan intensitas berat akan berpengaruh terhadap kenaikan berat badan. Albanico dkk (2003) mendapatkan hasil bahwa pemberian mebendazol 500 mg/dosis tunggal dan kombinasi dengan levamisol mempunyai dampak yang nyata terhadap penurunan intensitas infeksi A.lumbricoides dan T.trichiura. Hal ini menunjukkan bahwa program pemberantasan kecacingan dengan pemberian mebendazol ataupun kombinasi mebendazol dan levamisol pada anak sekolah dasar efektif untuk mengontrol intensitas cacing usus di daerah yang transmisi soil-transmitted helmints tinggi.
IV.2.5. Efek samping obat
perut dan mual pada pemberian mebendazol tunggal, kejadian ini hanya ditemukan pada 7 kasus (7,8%). Pada pengobatan kombinasi mebendazol dan levamisol dijumpai 13 kasus (15,1%) mengalami efek samping berupa mencret, nyeri kepala, pusing, sakit perut, mual dan muntah. Apabila ditemukan efek samping ini, obat tidak perlu dihentikan karena efek samping yang terjadi biasanya ringan.
Goodman dan Gilman (1996) menyatakan bahwa mebendazol merupakan obat yang aman, efek samping berupa gangguan saluran cerna seperti sakit perut dan diare jarang terjadi. Demikian juga dengan levamisol, Csaky dan Barnes (1984) mengatakan bahwa levamisol dosis tunggal 3 mg/kgbb cukup aman dan efek samping ringan pada saluran cerna dan susunan saraf pusat jarang terjadi. Dengan demikian, mebendazol 500 mg per oral/dosis tunggal dan kombinasi mebendazol 500 mg dengan levamisol /dosis tunggal, aman bagi anak sekolah dasar.
IV.2.6. Efikasi pengobatan tunggal mebendazol dosis tunggal dan pengobatan kombinasi mebendazol dengan levamisol dosis tunggal dalam mengobati infeksi soil-transmitted helminths
Dari penelitian yang dillakukan oleh Albanico dkk (2003), pengobatan tunggal mebendazol dengan dosis tunggal 500 mg mempunyai angka penyembuhan 96,5% dan angka penurunan jumlah telur 99% untuk ascariasis. Adapun pengobatan kombinasi mebendazol 500 mg dengan levamisol dosis tunggal mempunyai angka penyembuhan 97,7% dan angka penurunan jumlah telur 99,1% untuk ascariasis. Abadi (1985) mendapatkan angka penyembuhan 93,4% dengan
pemberian mebendazol 500 mg dosis tunggal. Pada penelitian ini didapatkan tingkat efikasi yang tinggi dan sama pada pengobatan infeksi A.lumbricoides
dengan menggunakan mebendazol tunggal ataupun kombinasi mebendazol dengan levamisol. Efikasi dari tiap pengobatan adalah sama baiknya terhadap intensitas infeksi pada infeksi A.lumbricoides, dengan angka penurunan jumlah telur mendekati 100%. Hasil ini konsisten dengan hasil percobaan efikasi obat sebelumnya.
Penelitian Abadi (1985) menggunakan mebendazol 500 mg dosis tunggal, mendapatkan angka penyembuhan 77,6% untuk trichuriasis. Dari penelitian yang dilakukan Albanico dkk (2003), pengobatan tunggal mebendazol dosis tunggal 500 mg mempunyai angka penyembuhan untuk trichuriasis 22,9% dan angka penurunan jumlah telur 81%. Adapun pengobatan kombinasi mebendazol 500 mg dengan levamisol dosis tunggal mempunyai angka penyembuhan 22,9% dan angka penurunan jumlah telur 85% untuk trichuriasis.
Efikasi obat yang didapat dalam penelitian ini pada infeksi T.trichiura lebih baik dari pada efikasi yang didapatkan oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Albanico dkk. Penurunan jumlah telur yang signifikan dijumpai baik pada pengobatan kombinasi mebendazol dengan levamisol maupun pada pengobatan tunggal dengan mebendazol. Namun demikian angka penyembuhan antara pengobatan kombinasi mebendazol dengan levamisol dan pengobatan tunggal mebendazol tidak berbeda secara signifikan.
transmitted helminths setelah hari ke-21 antara kombinasi mebendazol dengan levamisol dan mebendazol tunggal memberikan hasil yang sama baiknya dalam mengobati infeksi tersebut dan secara bermakna efektif menurunkan jumlah telur cacing.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN