• Tidak ada hasil yang ditemukan

Contoh terbagi atas tiga kelompok tingkatan berdasarkan tahun masuk ke IPB. Ketiga kelompok tersebut terdiri dari angkatan 2004 (tingkat 4) sebanyak 39 orang, angkatan 2005 (tingkat 3) sebanyak 41 orang, dan angkatan 2006 (tingkat 2) sebanyak 40 orang.

Jenis Kelamin

Sebaran contoh berdasarkan jenis kelamin disajikan pada Tabel 3. Pada Tabel tersebut terlihat bahwa sebagian besar contoh (87.5%) berjenis kelamin perempuan. Hal ini dikarenakan mayoritas individu pada populasi berjenis kelamin perempuan.

Tabel 3 Sebaran contoh berdasarkan jenis kelamin

Karakteristik

Tingkat Pendidikan di Perguruan Tinggi Tingkat 4 (n=39) Tingkat 3 (n=41) Tingkat 2 (n=40) Total (n=120) n % n % n % n % Laki-laki 4 10.3 7 17.1 4 10.0 15 12.5 Perempuan 35 89.7 34 82.9 36 90.0 105 87.5 Total 39 100.0 41 100.0 40 100.0 120 100.0

Alokasi Pengeluaran untuk Pangan

Besar uang saku diduga dapat mencerminkan status sosial ekonomi contoh. Besar uang saku yang diukur adalah jumlah alokasi pengeluaran untuk pangan yang dikeluarkan contoh dalam setiap bulannya. Besarnya jumlah alokasi pengeluaran untuk pangan ini diduga mempengaruhi praktek contoh tentang pesan-pesan PUGS. Dimana menurut Padmiari & Hadi (2001) seseorang yang memiliki pendapatan tinggi cenderung akan membeli makanan yang mahal. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa semakin besar jumlah uang saku contoh maka akan semakin besar pengeluarannya untuk pangan.

Frankle & Owen (1993) juga menyatakan bahwa untuk merubah perilaku makan seseorang dibutuhkan faktor pendukung, seperti biaya makan. Oleh karena itu, alokasi pengeluaran untuk pangan dapat mempengaruhi praktek gizi seseorang terutama tentang pesan-pesan PUGS.

Persentase terbesar dari uang saku contoh dialokasikan untuk pangan. Rata-rata persentase uang saku contoh untuk alokasi pengeluaran pangan adalah 57%. Alokasi lainnya selain untuk pangan digunakan untuk hiburan, keperluan akademik, keperluan pribadi, transportasi, pulsa, dan lainnya.

Pada Tabel 4 dapat dilihat sebaran contoh berdasarkan besar alokasi pengeluaran untuk pangan.

Tabel 4 Sebaran contoh berdasarkan besar alokasi pengeluaran untuk pangan

Alokasi Pangan (x Rp. 1000)

Tingkat Pendidikan di Perguruan Tinggi Tingkat 4 (n=39) Tingkat 3 (n=41) Tingkat 2 (n=40) Total (n=120) n % n % n % n % 600-800 0 0.0 3 7.3 2 5.0 5 4.2 400-600 15 38.5 12 30.0 9 22.5 36 30.0 200-400 22 56.4 26 65.0 27 67.5 75 62.5 < 200 2 5.1 0 0.0 2 5.0 4 3.3 Total 39 100.0 41 100.0 40 100.0 120 100.0

Berdasarkan Tabel 4 terlihat bahwa lebih dari separuh jumlah contoh memiliki alokasi pengeluaran untuk pangan antara Rp. 200 ribu-Rp. 400 ribu. Masih terdapat contoh pada tingkat 4 dan 2 yang memiliki alokasi pengeluaran untuk pangan dibawah Rp. 200 ribu. Besarnya alokasi pengeluaran untuk pangan terkecil contoh adalah Rp. 112 ribu. Seseorang dengan alokasi pengeluaran untuk pangan yang tinggi dapat mencerminkan pemilihan pangan dengan jumlah dan jenis pangan yang baik. Dimana menurut WHO (2001) seseorang dengan pendapatan tinggi cenderung akan lebih memilih pangan yang baik dalam jumlah maupun jenisnya.

Karakteristik Orangtua Pendidikan Orangtua

Menurut hasil penelitian Yusra (1998) tingkat pendidikan formal memiliki hubungan yang nyata dengan praktek gizi seseorang. Praktek gizi merupakan penerapan dari kebiasaan makan. Oleh karena itu, orangtua dengan pendidikan yang tinggi akan memiliki kebiasaan makan yang baik. Dimana menurut Sajogyo (1994) perilaku makan seseorang dipengaruhi oleh kebiasaan makan dalam keluarga.

Dengan demikian, seseorang yang memiliki orangtua dengan tingkat pendidikan tinggi cenderung akan memiliki perilaku gizi yang baik. Oleh karena itu, pendidikan orangtua diduga berpengaruh terhadap praktek contoh tentang pesan-pesan PUGS.

Selain itu, pendidikan orangtua yang tinggi juga akan mempengaruhi keadaan sosial ekonomi keluarganya. Pendapatan yang tinggi akan berdampak pada besarnya alokasi pangan yang dikeluarkan.

Menurut Padmiari & Hadi (2001) seseorang dengan pendapatan yang tinggi akan cenderung memiliki pengeluaran untuk makan yang besar jumlahnya. Sebaran contoh berdasarkan pendidikan orang tua disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5 Sebaran contoh berdasarkan tingkat pendidikan orangtua

Tingkat Pendidikan

Orangtua

Tingkat Pendidikan di Perguruan Tinggi Tingkat 4 (n=39) Tingkat 3 (n=41) Tingkat 2 (n= 40) Total (n=120)

Ayah Ibu Ayah Ibu Ayah Ibu Ayah Ibu

% % % % % % % % SD 2.6 10.3 4.9 4.9 17.5 17.5 8.3 10.8 SLTP 0.0 7.7 2.4 12.2 7.5 12.5 3.3 10.8 SLTA 41.0 41.0 53.7 34.1 35.0 42.5 43.3 39.3 PT 56.4 41.0 39.0 48.7 40.0 27.5 45.0 39.2 Total 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0

Berdasakan Tabel 5, lebih dari 30% contoh baik pada kelompok tingkat 4, 3, dan 2 memiliki ayah dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi. Sementara itu, lebih dari 40% contoh pada tingkat 4 dan 3 memiliki ibu dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi dan SLTA pada kelompok tingkat 2. Orangtua dengan tingkat pendidikan yang tinggi cenderung akan memiliki pengetahuan gizi baik sehingga akan berdampak pada perilaku gizinya. Namun, pengetahuan gizi yang baik tidak sepenuhnya dapat mempengaruhi perilaku hidup yang sehat sesuai pesan-pesan PUGS. Terdapat banyak faktor yang diduga dapat mempengaruhinya, seperti gaya hidup, sosial ekonomi, dan lainnya.

Pendapatan Orangtua

Pendapatan orangtua contoh diukur dengan pernyataan kisaran pendapatan, yaitu <1 juta, 1 juta-2.5 juta, 2.5 juta-5 juta, dan >5 juta. Pendapatan orangtua juga dapat mencerminkan keadaan sosial ekonomi keluarga. Pendapatan orangtua akan mempengaruhi besarnya alokasi yang dikeluarkan untuk pangan. Semakin besar pendapatan, maka akan semakin besar pengeluaran untuk alokasi pangan. Hal ini sesuai dengan pendapat Padmiari & Hadi (2001) bahwa seseorang dengan pendapatan yang tinggi cenderung akan mengeluarkan uang untuk pangan lebih tinggi. Sebaran contoh berdasarkan pendapatan orangtua disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6 Sebaran orangtua contoh berdasarkan tingkat pendapatan perbulan

Tingkat Pendapatan (x Rp. 1000)

Tingkat Pendidikan di Perguruan Tinggi Tingkat 4 (n=39) Tingkat 3 (n=41) Tingkat 2 (n=40) Total (n=120) n % n % n % n % > 5.000 2 5.1 2 4.9 2 5.0 6 5.0 2.500-5.000 7 17.9 4 9.8 5 12.5 16 13.3 1.000-2.500 29 74.4 29 70.7 23 57.5 81 67.5 < 1.000 1 2.6 6 14.6 10 25.0 17 14.2 Total 39 100.0 41 100.0 40 100.0 120 100.0

Berdasarkan Tabel 6, lebih dari separuh jumlah contoh memiliki orangtua dengan pendapatan antara Rp. 1 juta-Rp. 2.5 juta perbulan. Hanya terdapat 5% contoh yang memiliki orangtua dengan pendapatan di atas Rp. 5 juta perbulan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pendapatan orangtua antara Rp. 1 juta-Rp. 2.5 juta.

Pendidikan Nonformal

Pendidikan nonformal yang diamati merupakan pendidikan nonformal yang pernah diikuti, seperti seminar/pelatihan dan organisasi bidang pangan dan gizi. Keikutsertaan dalam seminar atau pelatihan dan organisasi bidang pangan dan gizi diduga akan mempengaruhi tingkat pengetahuan gizi terutama tentang pesan-pesan PUGS.

Keikutsertaan dalam organisasi bidang pangan dan gizi diukur dari lamanya contoh mengikuti organisasi yang diukur dalam satuan tahun. Tingkat keikutsertaan dalam organisasi bidang pangan dan gizi dikategorikan menjadi 3 kelompok, yaitu tinggi (2.5-4 tahun), sedang (1-2.4 tahun), dan rendah (<1 tahun). Pengelompokkan ini dibuat berdasarkan sebaran data yang diperoleh. Pada Tabel 7 terlihat sebaran contoh berdasarkan keikutsertaan dalam organisasi bidang pangan dan gizi.

Tabel 7 Sebaran contoh berdasarkan tingkat keikutsertaan terhadap organisasi bidang pangan dan gizi

Keikutsertaan Organisasi bidang Pangan dan Gizi

(Tahun)

Tingkat Pendidikan di Perguruan Tinggi Tingkat 4 (n=39) Tingkat 3 (n=41) Tingkat 2 (n=40) Total (n=120) n % n % n % n % Tinggi (2.5-4) 2 5.1 11 26.8 0 0.0 13 10.8 Sedang (1-2.4) 27 69.2 20 51.3 2 5.0 49 40.8 Rendah (<1) 10 25.6 10 25.6 38 95.0 58 48.3 Total 39 100.0 41 100.0 40 100.0 120 100.0

Berdasarkan Tabel 7 terlihat bahwa lebih dari separuh jumlah contoh pada kelompok tingkat 4 dan 3 pernah mengikuti organisasi bidang pangan dan gizi selama 1-2.4 tahun dan kurang dari 1 tahun pada kelompok tingkat 2. Keikutsertaan sebagian besar contoh (95%) pada kelompok tingkat 2 terhadap organisasi bidang pangan dan gizi belum mencapai 1 tahun. Hal ini disebabkan oleh perbedaan lamanya masa pendidikan antara contoh pada kelompok tingkat 4, 3, dan 2. Masa pendidikan contoh kelompok tingkat 2 di bidang pangan dan gizi belum mencapai 1 tahun, sehingga keikutsertaannya terhadap organisasi bidang pangan dan gizi masih tergolong rendah (<1 tahun). Terdapat 5% contoh kelompok tingkat 2 yang telah mengikuti organisasi bidang pangan dan gizi selama 1 tahun karena contoh menjabat didua organisasi sekaligus. Organisasi- organisasi bidang pangan dan gizi yang pernah diikuti oleh contoh dapat dilihat pada Lampiran 5.

Keikutsertaan terhadap organisasi bidang pangan dan gizi merupakan suatu keinginan contoh untuk meningkatkan status sosialnya (Hurlock 1999). Keikutsertaan dalam organisasi bidang pangan dan gizi dapat menambah pengalaman seseorang. Pengalaman akan mengakibatkan perubahan sikap dan perilaku yang relatif mantap (Hamalik 2003). Oleh karena itu, semakin tinggi tingkat keikutsertaan seseorang dalam organisasi khususnya bidang pangan dan gizi akan menyebabkan perubahan sikap dan perilaku yang relatif mantap dalam hal pemilihan makanan.

Pendidikan nonformal yang diduga dapat menyebabkan perubahan pengetahuan, sikap dan praktek seseorang tentang pesan-pesan PUGS selain organisasi bidang pangan dan gizi, yaitu seminar/pelatihan mengenai pangan dan gizi. Pengukuran keikutsertaan dalam seminar/pelatihan mengenai pangan dan gizi, yaitu dengan mengalikan frekuensi dan durasinya sehingga diukur dalam satuan jam.

Tingkat keikutsertaan contoh terhadap seminar/pelatihan mengenai pangan dan gizi dikategorikan berdasarkan sebaran data ke dalam 3 tingkat, yaitu tinggi (43-64 jam), sedang (21-42 jam), dan rendah (< 21 jam). Sebaran contoh berdasarkan tingkat keikutsertaan terhadap seminar/pelatihan mengenai pangan dan gizi disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8 Sebaran contoh berdasarkan tingkat keikutsertaan terhadap seminar/pelatihan mengenai pangan dan gizi

Keikutsertaan Seminar mengenai Pangan dan Gizi

(Jam)

Tingkat Pendidikan di Perguruan Tinggi Tingkat 4 (n=39) Tingkat 3 (n=41) Tingkat 2 (n=40) Total (n=120) n % n % n % n % Tinggi (43-64) 14 35.8 0 0.0 0 0.0 14 11.7 Sedang (21-42) 19 48.7 0 0.0 0 0.0 19 15.8 Rendah (<21) 6 15.4 41 100.0 40 100.0 87 72.5 Total 39 100.0 41 100.0 40 100.0 120 100.0

Pada Tabel 8 terlihat bahwa seluruh contoh pada kelompok tingkat 3 dan 2 memiliki keikutsertaan yang rendah terhadap seminar/pelatihan bidang pangan dan gizi. Sementara pada kelompok tingkat 4, persentase terbanyak memiliki keikutsertaan yang sedang atau selama 21-42 jam dalam mengikuti seminar/pelatihan pangan dan gizi. Hal ini disebabkan kelompok tingkat 4 sebagian besarnya telah mengikuti pelatihan Hazard Analysis and Critical

Control Point (HACCP). Dimana lamanya pelatihan ini mencapai 20 jam.

Terdapat banyak seminar/pelatihan mengenai pangan dan gizi yang telah diikuti contoh. Macam-macam seminar dan pelatihan tersebut dapat dilihat pada Lampiran 5.

Sebagian besar contoh termasuk ke dalam kelompok dewasa awal. Pada masa dewasa awal, seseorang tidak lagi memandang pendidikan hanya sebagai kewajiban yang harus ditempuh. Namun, mereka akan memandang pendidikan menjadi sesuatu hal yang dapat membantu mereka dalam meraih keberhasilan sosial, karier, dan kepuasan pribadi. Sehingga perubahan tersebut dapat memacu seseorang untuk mencari ilmu dengan mengikuti kegiatan belajar di luar pendidikan formal, termasuk seminar bidang pangan dan gizi (Hurlock 1999).

Akses terhadap Informasi Pangan dan Gizi

Pengukuran akses terhadap informasi pangan dan gizi dilakukan dengan cara mengalikan frekuensi dengan durasinya sehingga akses terhadap informasi diukur dalam satuan jam. Akses terhadap informasi pangan dan gizi yang diukur merupakan akses terhadap informasi selama dua minggu terakhir. Hal ini disebabkan keterbatasan contoh dalam mengingat mengenai jenis dan lamanya akses informasi pangan dan gizi. Akses terhadap informasi selama dua minggu ini diasumsikan dapat mewakili pola akses informasi contoh. Pada Tabel 9 dapat dilihat sebaran contoh berdasarkan akses informasi pangan dan gizi.

Tabel 9 Sebaran contoh berdasarkan akses terhadap informasi pangan dan gizi

Sumber Informasi

Tingkat Pendidikan di Perguruan Tinggi Tingkat 4 (n=39) Tingkat 3 (n=41) Tingkat 2 (n=40) Total (n=120) n % n % n % n % Koran 12 30.8 12 29.3 18 45.0 42 35.0 Majalah 18 46.2 18 43.9 18 45.0 54 45.0 Tabloid 1 2.6 7 17.1 5 12.5 13 10.8 Buku 30 76.9 33 80.5 36 90.0 99 82.5 Televisi 23 59.0 34 82.9 28 70.0 85 70.8 Radio 7 17.9 2 4.9 2 5.0 11 9.2 Internet 24 61.5 38 92.7 32 80.0 94 78.3

Tenaga medis (dokter, bidan) 2 5.1 5 12.2 4 10.0 11 9.2

Kader 2 5.1 0 0.0 0 0.0 2 1.7

Lainnya (teman, dosen) 4 10.3 1 2.4 1 2.5 6 5.0

Diantara kesepuluh sumber informasi pada Tabel 9, sumber informasi yang paling banyak diakses oleh contoh adalah buku. Lebih dari 70% contoh baik pada kelompok tingkat 4, 3, dan 2 mengakses informasi pangan dan gizi melalui buku. Hal ini dikarenakan akses contoh terhadap buku mengenai pangan dan gizi lebih mudah dibanding sumber informasi lainnya. Contoh tidak harus mengeluarkan biaya untuk dapat mengakses informasi dari buku karena perguruan tinggi menyediakan fasilitas perpustakaan.

Contoh termasuk ke dalam kelompok usia dewasa awal. Dimana pada masa dewasa awal, seseorang cenderung menyukai surat kabar atupun majalah sebagai media untuk mendapatkan informasi (Hurlock 1999). Lebih dari 40% contoh pada kelompok tingkat 4, 3, dan 2 mengakses informasi pangan dan gizi melalui majalah.

Media massa dapat memicu respon yang akan berdampak pada tindakan nyata seseorang. Namun, pengaruh dari media massa sulit diidentifikasi karena banyak faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku dalam kehidupan dan tidak dapat dipisahkan. Media massa saja tidak dapat membuat perubahan perilaku yang bertahan dalam jangka panjang pada seseorang (Ewles & Simnett 1994).

Namun, akses terhadap informasi pangan dan gizi dapat menambah pengetahuan contoh khususnya mengenai pangan dan gizi. Oleh karena itu, semakin tinggi akses informasi pangan dan gizi seseorang diduga akan semakin baik prakteknya tentang pesan-pesan PUGS. Tingkat akses informasi dikelompokkan ke dalam 3 kategori, yaitu tinggi (18-27 jam), sedang (9-17.9 jam), dan rendah (<9 jam). Pengelompokkan ini berdasarkan sebaran data akses informasi yang diperoleh. Paling lama contoh mengakses informasi pangan dan

gizi selama 27 jam dan terdapat contoh yang tidak mengakses informasi sama sekali. Sebaran contoh berdasarkan tingkat akses terhadap informasi pangan dan gizi dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Sebaran contoh berdasarkan tingkat akses informasi pangan dan gizi

Akses Informasi Pangan dan Gizi (Jam/2 minggu)

Tingkat Pendidikan di Perguruan Tinggi Tingkat 4 (n=39) Tingkat 3 (n=41) Tingkat 2 (n=40) Total (n=120) n % n % n % n % Tinggi (18-27) 1 2.6 2 4.9 1 2.5 4 3.3 Sedang (9-17.9) 4 10.3 9 21.9 5 12.5 18 15.0 Rendah (<9) 34 87.2 30 73.2 34 85.0 98 81.7 Total 39 100.0 41 100.0 40 100.0 120 100.0

Pada Tabel 10 terlihat bahwa lebih dari 70% contoh pada kelompok tingkat 4, 3, dan 2 memiliki tingkat akses terhadap informasi mengenai pangan dan gizi yang tergolong rendah. Rendahnya akses terhadap informasi pangan dan gizi diduga karena rendahnya ketersediaan waktu untuk mengakses informasi dari berbagai sumber informasi. Hal ini dikarenakan contoh pada kelompok tingkat 3 dan 2 masih memiliki aktivitas perkuliahan yang cukup padat.

Jumlah Mata Kuliah bidang Pangan dan Gizi

Banyaknya mata kuliah bidang pangan dan gizi yang telah dipelajari diduga dapat mempengaruhi pengetahuan tentang pesan-pesan PUGS. Pengetahuan tentang pangan dan gizi yang baik akan mempengaruhi kemampuan dalam menjawab pertanyaan mengenai makna dari pesan-pesan PUGS. Pengetahuan yang baik mengenai makna pesan-pesan PUGS diduga akan mempengaruhi praktek tentang pesan-pesan PUGS. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Taren et al (2001) bahwa penambahan kurikulum atau mata kuliah ilmu gizi dapat mempengaruhi kemampuan praktek gizi seseorang. Pada Tabel 11 dapat dilihat jumlah mata kuliah bidang pangan dan gizi yang telah dipelajari contoh.

Tabel 11 Jumlah mata kuliah bidang pangan dan gizi yang telah dipelajari contoh

Mata Kuliah bidang Pangan dan Gizi

Tingkat Pendidikan di Perguruan Tinggi Tingkat 4 Tingkat 3 Tingkat 2

Jumlah 16-19 15-19 4

Rata-rata 18 19 4

Kelompok contoh yang memiliki rata-rata jumlah mata kuliah bidang pangan dan gizi yang telah dipelajari terbanyak adalah kelompok tingkat 3. Seharusnya rata-rata mata kuliah bidang pangan dan gizi yang telah dipelajari

kelompok tingkat 4 lebih banyak dibanding kelompok tingkat 3 karena kelompok tingkat 4 lebih lama menjalani pendidikan di bidang ilmu gizi dibanding kelompok tingkat 3 dan 2. Namun, hasil penelitian tidak menunujukkan demikian. Hal ini disebabkan adanya perbedaan kurikulum. Kurikulum pendidikan antara kelompok tingkat 4 dengan tingkat 3 dan 2 berbeda karena kelompok tingkat 4 termasuk ke dalam Fakultas Pertanian sedangkan kelompok tingkat 3 dan 2 termasuk ke dalam Fakultas Ekologi Manusia.

Perbedaan kurikulum terlihat pada perbedaan jumlah sks antara mata kuliah bidang pangan dan gizi yang dipelajari contoh kelompok tingkat 4 dengan tingkat 3 dan 2. Pada kurikulum yang dijalani contoh kelompok tingkat 4, mata kuliah, seperti pendidikan gizi, konsultasi gizi, percobaan makanan, dan epidemiologi gizi memiliki 3 sks. Sementara dalam kurikulum yang dijalani contoh kelompok tingkat 3 dan 2, mata kuliah tersebut memiliki 2 sks.

Jumlah sks total dari mata kuliah bidang pangan dan gizi yang harus diambil oleh kelompok tingkat 3 dan 2 adalah 70 sks. Sedangkan kelompok tingkat 4 minimal harus mengambil 33 sks dari 65 sks mata kuliah bidang pangan dan gizi. Rata-rata contoh kelompok tingkat 4 mengambil 54 sks dari mata kuliah bidang pangan dan gizi.

Selain itu, persentase jumlah mata kuliah bidang pangan dan gizi pada kurikulum yang dijalani contoh kelompok tingkat 3 dan 2 adalah 51.9% dari keseluruhan mata kuliah dan 38.6% pada kelompok tingkat 4 baik mata kuliah wajib maupun pilihan. Hal ini menunjukkan bahwa kurikulum yang dijalani kelompok tingkat 3 dan 2 lebih mencakup banyak ilmu gizi dibandingkan dengan kurikulum yang dijalani contoh pada kelompok tingkat 4.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa contoh kelompok tingkat 3 dan 2 mempelajari lebih banyak mata kuliah bidang pangan dan gizi dibanding kelompok tingkat 4 tetapi materi yang disampaikannya lebih sedikit. Berbeda pada contoh kelompok tingkat 4, contoh kelompok tingkat 4 mempelajari lebih sedikit mata kuliah bidang pangan dan gizi dibanding tingkat 3 dan 2 tetapi materi yang disampaikannya lebih banyak.

Persentase mata kuliah selain bidang pangan dan gizi pada kurikulum yang dijalani kelompok tingkat 4, yaitu 24.6% mata kuliah umum, 10.5% mata kuliah bidang pertanian, 17.5% mata kuliah wajib bidang keluarga dan konsumen, dan 8.8% mata kuliah pilihan bidang keluarga dan konsumen. Kurikulum yang dijalani kelompok tingkat 3 dan 2 terdiri dari 26.9% mata kuliah

umum, 9.6% mata kuliah bidang ekologi manusia, dan rata-rata 10.6% mata kuliah minor atau bidang ilmu lain yang dipilih contoh selain ilmu gizi. Pada Lampiran 2, 3, dan 4 dapat dilihat secara lengkap daftar nilai mata kuliah bidang pangan dan gizi yang telah dipelajari contoh.

IPK Mata Kuliah bidang Pangan dan Gizi

Banyaknya mata kuliah bidang pangan dan gizi yang telah dipelajari contoh saja tidak dapat mewakili pengetahuan contoh tentang pesan-pesan PUGS. Hal ini dikarenakan contoh yang mendapat nilai lebih tinggi dapat dikatakan contoh tersebut lebih paham terhadap materi yang disampaikan dalam mata kuliah dibanding dengan contoh yang mendapat nilai lebih rendah. Oleh karena itu, IPK mata kuliah bidang pangan dan gizi dapat dijadikan faktor yang diduga dapat mempengaruhi praktek tentang pesan-pesan PUGS.

Rata-rata IPK mata kuliah bidang pangan dan gizi kelompok contoh tingkat 4, 3, dan 2 berturut-turut adalah 3.18, 3.29, dan 3.22. Rata-rata tertinggi terdapat pada kelompok tingkat 3 sedangkan rata-rata terendah terdapat pada kelompok tingkat 4. Daftar nilai mata kuliah bidang pangan dan gizi yang telah dipelajari contoh dapat dilihat pada Lampiran 2, 3, dan 4. Pada Lampiran tersebut juga dapat terlihat nilai IPK mata kuliah bidang pangan dan gizi yang telah dipelajari contoh.

Menurut Suhardjo (2003) materi yang dipelajari menentukan proses dan hasil belajar, seperti belajar pengetahuan, belajar sikap atau keterampilan. Selain itu, faktor individual subjek belajar yang meliputi kondisi fisik individu, seperti (status gizi, kondisi panca indera) dan kondisi psikologis, seperti intelijensi, daya tangkap, ingatan, motivasi dan sebagainya juga dapat mempengaruhi. Oleh karena itu, nilai IPK khususnya untuk mata kuliah bidang pangan dan gizi diduga dapat mempengaruhi praktek contoh tentang pesan-pesan PUGS.

Pengetahuan Contoh tentang Pesan-Pesan PUGS

Pengetahuan gizi dapat diperoleh melalui berbagai cara. Pendidikan formal merupakan salah satu cara memperoleh pengetahuan gizi. Diketahui bahwa pesan-pesan PUGS termasuk ke dalam materi pembelajaran bagi mahasiswa bidang gizi. Oleh karena itu, sudah selayaknya contoh sebagai mahasiswa bidang gizi mengetahui isi pesan-pesan PUGS. Namun, pada kenyataannya seluruh contoh tidak ada yang mengetahui isi pesan-pesan PUGS secara keseluruhan baik pada kelompok tingkat 4, 3, dan 2. Masih terdapat

contoh yang tidak mengetahui pesan-pesan PUGS. Pada Tabel 12 dapat dilihat sebaran contoh berdasarkan pengetahuan tentang istilah pesan-pesan PUGS. Tabel 12 Sebaran contoh berdasarkan pengetahuan tentang istilah pesan-pesan

PUGS

Pengetahuan tentang Istilah Pesan-pesan

PUGS

Tingkat Pendidikan di Perguruan Tinggi Tingkat 4 (n=39) Tingkat 3 (n=41) Tingkat 2 (n=40) Total (n=120) n % n % n % n % Tahu 39 100.0 29 70.7 10 25.0 78 65.0 Tidak tahu 0 0.0 0 0.0 10 25.0 10 8.3 Ragu-ragu 0 0.0 11 26.8 20 50.0 31 25.8 Total 39 100.0 41 100.0 40 100.0 120 100.0

Berdasarkan Tabel 12, terlihat bahwa tidak terdapat contoh pada kelompok tingkat 4 dan 3 yang tidak mengetahui istilah pesan-pesan PUGS, seluruh contoh pada kelompok tingkat 4 mengetahui istilah pesan-pesan PUGS. Namun, hal ini tidak terjadi pada kelompok contoh tingkat 2. Masih terdapat 25% contoh pada kelompok tingkat 2 yang tidak mengetahui istilah pesan-pesan PUGS. Hal ini diduga contoh pada kelompok tingkat 2 bukan tidak mengetahui istilah pesan-pesan PUGS tetapi karena mereka tidak dapat menyebutkan isi dari pesan-pesan PUGS tersebut.

Pada Tabel 13 disajikan sebaran contoh yang dapat menyebutkan isi pesan-pesan PUGS dengan benar. Pengetahuan tentang isi pesan-pesan PUGS diukur dari kemampuan contoh dalam menyebutkan isi pesan-pesan PUGS dengan lengkap dan benar. Ketidakmampuan dalam menyebutkan isi pesan- pesan PUGS diduga karena contoh tidak hafal ketiga belas pesan PUGS tersebut. Menurut Notoatmodjo (2003) hafalan akan hilang, jika tidak langsung dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Diantara 13 pesan PUGS, pesan yang diketahui oleh sebagian besar contoh adalah pesan ke-1 yakni makanlah aneka ragam makanan (Tabel 13). Sementara itu, pesan yang diketahui oleh sebagian kecil contoh adalah pesan ke-12 yakni makanlah makanan yang aman bagi kesehatan.

Pengetahuan tentang isi pesan-pesan PUGS tertinggi pada pesan ke-1, yaitu makanlah aneka ragam makanan diduga contoh lebih mudah menghafal isi pesan yang pertama dibandingkan pesan-pesan selanjutnya karena adanya faktor daya ingat contoh yang terbatas. Menurut Suhardjo (2003) faktor individual subjek belajar, seperti kemampuan intelijensi, daya tangkap, ingatan, dan sebagainya yang terbatas juga dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang.

Tabel 13 Sebaran contoh yang dapat menyebutkan isi pesan-pesan PUGS dengan benar

Pengetahuan tentang Isi Pesan-pesan PUGS

Tingkat Pendidikan di Perguruan Tinggi Tingkat 4 (n=39) Tingkat 3 (n=41) Tingkat 2 (n=40) Total (n=120) n % n % n % n %

1. Makanlah aneka ragam makanan 32 82.1 32 78.0 11 27.5 75 62.5 2. Makanlah makanan untuk memenuhi

kecukupan energi 11 28.2 14 34.1 0 0.0 25 20.8

3. Makanlah makanan sumber karbohidrat

setengah dari kebutuhan energi 23 59.0 10 24.4 4 10.0 37 30.8

4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai

seperempat dari kecukupan energi 14 35.9 23 56.1 1 2.5 38 31.7

5. Gunakan garam beriodium 22 56.4 13 31.7 2 5.0 37 30.8

6. Makanlah makanan sumber zat besi 8 20.5 5 12.2 1 2.5 14 11.7

7. Berikan ASI saja pada bayi sampai umur 6

bulan dan tambahkan MP-ASI sesudahnya 17 43.6 17 41.5 0 0.0 34 28.3

8. Biasakan makan pagi 26 66.7 20 48.8 0 0.0 46 38.3

9. Minumlah air bersih yang aman dan cukup

jumlahnya 23 59.0 32 78.0 2 5.0 57 47.5

10. Lakukan aktivitas fisik secara teratur 28 71.8 26 63.4 3 7.5 57 47.5 11. Hindari minum-minuman beralkohol 23 59.0 19 46.3 0 0.0 42 35.0 12. Makanlah makanan yang aman bagi

kesehatan 3 7.7 3 7.3 0 0.0 6 5.0

13. Bacalah label pada makanan yang

dikemas 17 43.6 10 24.4 0 0.0 27 22.5

Terdapat beberapa pesan PUGS yang tidak diketahui oleh seluruh contoh pada kelompok tingkat 2 (Tabel 13). Pesan-pesan tersebut adalah pesan ke-2 yakni makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi, pesan ke-7 yakni berikan ASI saja pada bayi sampai berumur 6 bulan dan berikan MP-ASI

Dokumen terkait