• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pellet penelitian yang dihasilkan memiliki diameter pellet 5 dan 8 mm, bau

dari semua pellet perlakuan hampir sama, hanya saja pada perlakuan A1 tanpa penambahan legum Indigofera sp dan jagung giling memiliki bau yang berbeda. Bau pada perlakuan A2, A3 dan A4 yang lebih dominan adalah bau daun Indigofera sp. Jika dilihat dari penampilan warna, dapat terlihat bahwa adanya perbedaan warna antara perlakuan, namun pada perlakuan A2, A3 dan A4 warna yang dihasilkan tidak berbeda jauh. Pellet tanpa penambahan legum Indigofera sp memiliki warna lebih coklat sedangkan A2, A3 dan A4 berwarna kehijauan. Pada perlakuan A2 warna

pellet lebih hijau gelap, hal ini dikarenakan komposisi legum indigofera lebih besar

yaitu 20% dibandingkan pada A3 dan A4, dan adanya zat hijau daun klorofil yang akhirnya menyebabkan warna pellet lebih hijau gelap, seperti yang disajikan pada Gambar 6 dan 7.

Gambar 6. Pellet Berbasis Jerami Jagung dengan Die ukuran 5 mm sebagai pakan sumber serar untuk ruminansia.

Gambar 7. Pellet Berbasis Jerami Jagung dengan Die ukuran 8 mm sebagai pakan sumber serat untuk ruminansia.

Karakteristik Bahan Penelitian

Bahan penelitian memiliki sifat fisik yang berbeda dari setiap bahan, hal ini dikarenakan bentuk dan teksturnya yang berbeda. Bahan dasar penelitian ini adalah jerami jagung. Pada Tabel 6. disajikan data sifat fisik bahan baku yang digunakan dalam penelitian.

Tabel 6. Nilai Sifat Fisik Bahan Baku yang Digunakan dalam Penelitian

Bahan Kerapatan Tumpukan (kg/m3) Kerapatan Pemadatan Tumpukan (kg/m3) Berat Jenis (kg/m3) Sudut Tumpukan (0) Ukuran Partikel (mm) Jerami Jagung Tanpa

Digiling 26,08 27,48 216,67 27,99 12,7 Jerami Jagung Giling 68,63 69,68 467,04 27,07 2,43 Indigofera 43,23 55,51 411,11 28,28 6,56 Jagung Giling 90,70 93,29 1.333,33 20,07 0,67

Pada Tabel 6. disajikan nilai sifat fisik bahan baku, bahan tersebut belum mengalami proses pencampuran dan proses pengolahan. Jika dalam pengolahan dan transportasi penggunaannya masih kurang efesien, karena memiliki nilai kerapatan tumpukan dan kerapatan pemadatan tumpukan yang lebih rendah dibandingkan dengan bahan yang sudah dicampur dan sudah menjadi pellet.

Kerapatan tumpukan jerami jagung sebelum digiling seperti yang disajikan pada Tabel 6. memiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan dengan jerami jagung giling, indigofera dan jagung giling, hal ini menunjukkan bahwa jerami jagung sebelum digiling membutuhkan ruang penyimpanan yang lebih besar dibandingkan dengan bahan yang lain. Menurut Syarief dan Irawati (1988), kerapatan tumpukan digunakan untuk menentukan volume ruang penyimpanan bahan dengan berat tertentu. jerami jagung giling memiliki nilai kerapatan tumpukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bahan lain sehingga membutuhkan ruang penyimpanan yang lebih sedikit dibandingkan dengan bahan lain.

Menurut Gautama (1998) nilai kerapatan tumpukan hijauan memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan bahan pakan sumber energi dan sumber

mineral. Nilai kerapatan tumpukan dan kerapatan pemadatan tumpukan jerami jagung giling adalah 68,63 dan 69,68 kg/m3, sedangkan Indigofera sp. 43,23 dan 55, 51 kg/m3, jagung 90,70 dan 93,29 kg/m3. Nilai tersebut bervariasi karena hijauan memiliki keambaan dan kadar serat kasar, seperti yang disajikan pada Tabel 6.

Nilai berat jenis pada bahan baku yang paling tinggi berada pada jagung yaitu 1.333,33 kg/m3, hal ini sesuai dengan pernyatan Ruttloff (1981) dalam Gautama (1998) bahwa nilai berat jenis jagung 1.312 – 1.330 kg/m3 sedangkan pakan hijauan jauh lebih rendah yaitu 447,6-550 kg/m3). Perbedaan ini karena perbedaan jenis hijauan dan metode pengukuran yang dipergunakan (Ruttloff , 1981 dalam Gautama , 1998). Dalam penelitian ini, hijauan terlihat mengapung saat pengukuran berat jenis sehingga dipastikan berat jenis hijauan yang diamati lebih kecil dari berat jenis aquades (1.000 kg/m3).

Karakterisitik permukaan partikel, kadar serat kasar dan ukuran partikel lebih mempengaruhi nilai sudut tumpukan (Gautama, 1998). Nilai sudut tumpukan bahan yang digunakan dalam penelitian ini termasuk kategori bahan sangat mudah mengalir, karena masih berada pada selang antara 20-300. Pada bahan hijauan, terutama jerami jagung sebelum digiling memiliki sudut tumpukan yang lebih besar dibandingkan dengan bahan yang lain, hal ini karena bahan memiliki ukuran partikel yang lebih besar yaitu 12,7 mm, sedangkan jagung yang memiliki nilai sudut tumpukan yang rendah, karena memiliki ukuran partikel yang lebih kecil dibandingkan bahan yang lain.

Sifat Fisik Bahan sebelum Dibentuk Pellet

Pada penelitian ini, bahan-bahan penelitian sudah mengalami proses pengolahan yaitu proses pengecilan ukuran, pengeringan dan penggilingan yang kemudian hasil proses terebut dicampurkan menjadi suatu komposisi bahan pellet. Sifat fisik bahan sebelum dibentuk pellet sangat jauh berbeda dengan nilai sifat fisik bahan setelah bahan dicampur, hal ini dikarenakan bahan – bahan yang memiliki ukuran partikel yang berbeda sudah tercampur menjadi satu, sehingga nilai sifat fisiknya pun bertambah. Jika dibandingkan dengan sifat fisik setiap bahan dengan sifat fisik bahan setelah dicampur, bahan setelah dicampur lebih efisien karena bentuknya sudah menjadi tepung, sehingga dalam proses penyimpanan atau

penampungan hanya membutuhkan tempat yang lebih kecil. Tabel 7. disajikan nilai sifat fisik bahan setelah mengalami proses pencampuran.

Tabel 7. Sifat Fisik Adonan Pellet setelah Dicampur dalam Bentuk Tepung.

Sifat Fisik A1 A2 A3 A4 KT (kg/m3) 98,11 83,59 82,71 97,05 KPT (kg/m3) 104,89 99,74 98,38 101,75 BJ (kg/m3) 547,61 542,56 489,98 481,48 ST (0) 24,07 24,28 23,98 24,05 UP (mm) 2,43 2,54 2,66 2,61

Keterangan : KT: Kerapatan Tumpukan, KPT: Kerapatan Pemadatan Tumpukan, BJ: Berat Jenis, ST: Sudut Tumpukan, UP: Ukuran Partikel. A1 = 100% jerami jagung, A2 = 75% jerami jagung + 20% legum Indigofera sp. + 5% jagung giling, A3 = 75% jerami jagung + 15% legum Indigofera sp. + 10% jagung giling, A4 =75% jerami jagung + 10% legum

Indigofera sp. +15% jagung giling.

Komposisi adonan pellet bentuk tepung memiliki nilai kerapatan tumpukan lebih rendah dibandingkan dengan bahan setelah dibentuk pellet, seperti yang disajikan pada Tabel 7. Nilai kerapatan tumpukan tertinggi pada adonan pellet setelah dicampur ditunjukkan pada perlakuan A1 (98,11 kg/m3), dan terendah pada perlakuan A3 (82,71kg/m3). Nilai tersebut berada diantara nilai kerapatan tumpukan jerami padi dan daun kaliandra (69,5 dan 123,5 kg/m3) (Gauthama, 1998). Pada kerapatan pemadatan tumpukan nilai tertinggi juga ditunjukkan pada perlakuan A1 (104,89kg/m3) dan terendah adalah perlakuan A3 (98,38 kg/m3). Rendahnya nilai kerapatan tumpukan dan kerapatan pemadatan tumpukan dibandingkan dengan produk setelah menjadi pellet disebabkan ukuran adonan sebelum dibentuk pellet yang kecil, sehingga membutuhkan lebih banyak ruang untuk menyimpan atau menampung bahan, selain itu bobot bahan yang rendah sulit untuk memadatkan bahan.

Menurut Khalil (1999a), berat jenis memegang peranan penting dalam berbagai proses pengolahan, penanganan, dan penyimpanan, selain itu berat jenis bersama ukuran partikel bertanggung jawab terhadap homogenitas penyebaran partikel dan stabilitasnya dalam suatu campuran pakan. Berat jenis adonan setelah dicampur lebih rendah dibandingkan dengan produk sudah menjadi pellet, karena adonan masih memiliki ukuran partikel yang lebih kecil seperti yang disajikan pada

Tabel 7. Nilai berat jenis adonan dalam bentuk tepung berkisar antara 481,48 – 547,61 kg/m3, nilai tersebut hampir mendekati nilai berat jenis jerami padi dan daun lamtoro yaitu 474,7 dan 550 kg/m3 (Gautama, 1998)

Pada sudut tumpukan bahan, sudut tumpukan paling tinggi ditunjukkan pada perlakuan komposisi bahan A2 (24,280). Sudut tumpukan bahan setelah dicampur dalam bentuk tepung termasuk bahan yang sangat mudah mengalir yaitu antara 23,98 - 24,070, hal ini sesuai dengan pernyataan Fasina dan Sokhansaj (1993) bahwa bahan yang mudah mengalir bebas memiliki kisaran nilai sudut tumpukan 20-300.

Pengaruh Komposisi Bahan dan Perbedaan Ukuran Die terhadap Sifat Fisik Pellet

Kerapatan Tumpukan (Bulk Density)

Kerapatan tumpukan memiliki pengaruh terhadap daya campur dan ketelitian penakaran secara otomatis seperti halnya dengan berat jenis. Sifat fisik ini memegang peranan penting dalam memperhitungkan volume ruang yang dibutuhkan suatu bahan dengan berat jenis tertentu seperti pada pengisian alat pencampur, elevator dan silo. Pada Tabel 8. disajikan nilai kerapatan tumpukan pellet berbasis jerami jagung.

Tabel 8. Nilai Kerapatan Tumpukan Pellet Berbasis Jerami Jagung (kg/m3)

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris dan kolom menunjukkan perbedaan yang nyata (p<0.05). A1 = 100% jerami jagung, A2 = 75% jerami jagung + 20% legum Indigofera

sp. + 5% jagung giling, A3 = 75% jerami jagung + 15% legum Indigofera sp. + 10%

jagung giling, A4 =75% jerami jagung + 10% legum Indigofera sp. +15% jagung giling.

Hasil sidik ragam menunjukkan adanya interaksi antara komposisi pellet dengan ukuran die, artinya kerapatan tumpukan pellet dipengaruhi tidak hanya oleh

Pakan

Diameter Lubang Die

5mm 8mm

A1 510,79 ± 4,04a 380,04 ±12,49e

A2 505,75 ± 9,96b 370,44 ± 6,10e

A3 473,69 ± 2,17c 377,61 ±24,00e

menunjukkan bahwa perlakuan A1 pada die ukuran 5 mm memberikan pengaruh yang berbeda (p<0,05) terhadap A2,A3 dan A4, namun pada die 8 mm A4 berbeda (p<0,05) terhadap A1, A2 dan A3.

Perlakuan yang mengandung legum Indigofera sp. dan jagung giling dengan level yang berbeda cenderung menurunkan nilai kerapatan tumpukan pada pellet yang dihasilkan oleh ukuran die yang berbeda yang menyebabkan kerapatan tumpukan menurun, hal ini disebabkan oleh ukuran pellet yang dihasilkan pada die ukuran 5 mm lebih kecil dibandingkan dengan die ukuran 8 mm. Hasil tersebut sesuai dengan pernyataan Gautama (1998) bahwa kerapatan tumpukan dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran pakan yang dihasilkan yaitu pellet ukuran 5 dan 8 mm.

Rutloff (1981) dalam Khalil (1999a) menyebutkan bahwa bahan yang mempunyai kerapatan tumpukan rendah (<450 kg/m3) membutuhkan waktu mengalir dengan arah vertikal lebih lama dan sebaliknya dengan bahan yang mempunyai kerapatan tumpukan yang lebih besar (>500 kg/m3) sehingga termasuk kategori bahan yang mengalir cepat. Pellet berbasis jerami jagung ini mempunyai nilai kerapatan tumpukan dengan kisaran 399,81 kg/m3 sampai dengan 510,79 kg/m3. Pada perlakuan die 8 mm nilai kerapatan tumpukan termasuk kategori (<450 kg/m3) rendah, sehingga membutuhkan waktu mengalir yang lebih lama. Berbeda halnya pada die 5 mm memiliki nilai kerapatan tumpukan yang lebih besar (>500 kg/m3) sehingga termasuk kategori bahan yang mengalir cepat.

Kerapatan Pemadatan Tumpukan (Compacted Bulk Density)

Kerapatan Pemadatan Tumpukan adalah perbandingan antara berat bahan terhadap volume ruang yang ditempatinya setelah melalui proses pemadatan seperti penggoyangan. Komposisi kimia bahan turut mempengaruhi sifat fisik, terutama terhadap nilai kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan dan berat jenis (Khalil, 1999a).

Hasil sidik ragam menunjukkan adanya interaksi antara komposisi pellet dengan ukuran die, artinya kerapatan pemadatan tumpukan pellet dipengaruhi tidak hanya oleh komposisi bahan tetapi secara bersamaan dipengaruhi juga oleh ukuran

die. Tabel 9. disajikan nilai kerapatan pemadatan tumpukan dan hasil menunjukkan

(p<0,05) terhadap A2,A3 dan A4, namun pada die 8 mm A4 berbeda nyata (p<0,05) terhadap A1, A2 dan A3.

Tabel 9. Nilai Kerapatan Pemadatan Tumpukan Pellet Berbasis Jerami Jagung (kg/m3)

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris dan kolom menunjukkan perbedaan yang nyata (p<0.05). A1 = 100% jerami jagung, A2 = 75% jerami jagung + 20% legum Indigofera

sp. + 5% jagung giling, A3 = 75% jerami jagung + 15% legum Indigofera sp. + 10%

jagung giling, A4 =75% jerami jagung + 10% legum Indigofera sp. +15% jagung giling.

Pada Tabel 9. dapat dilihat bahwa adanya interaksi antara komposisi bahan

pellet dan ukuran die. Komposisi bahan pellet dan ukuran die yang berbeda

memberikan pengaruh yang nyata (p<0,05) terhadap kerapatan pemadatan tumpukan. Sama seperti pada kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan juga cenderung menurun karena adanya penambahan legum Indigofera Sp. dan jagung giling pada setiap perlakuan dengan level yang berbeda. Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (p<0,05) antara perlakuan A1 pada die ukuran 5 mm terhadap A2, A3 dan A4 perlakuan pada ukuran die yang berbeda, namun tidak berbeda nyata (p>0,05) pada perlakuan A1, A2 dan A3 pada die ukuran 8 mm. Semakin besar ukuran pellet yang dihasilkan semakin kecil nilai kerapatan pemadatan tumpukan, hal ini disebabkan oleh ukuran pellet yang semakin kecil lebih mudah dipadatkan dibandingkan dengan ukuran yang lebih besar. Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan Gauthama (1998) bahwa kerapatan pemadatan tumpukan dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran pakan, selain itu, Kling dan Woehlbier (1983)

dalam Khalil (1999) menyatakan bahwa besarnya kerapatan pemadatan tumpukan

dipengaruhi oleh jenis bahan, ukuran partikel serta cara dan intensitas proses pemadatan dan semakin besar nilai kerapatan pemadatan tumpukan maka volume ruang yang ditempati pellet semakin besar (Retnani et al.,2009). Menurut Hoffman

Pakan Diameter Lubang Die

5mm 8mm

A1 531,06 ± 8,21a 392,26 ± 7,69e

A2 521,82 ± 7,79b 384,71 ± 7,39e

A3 495,93 ± 7,04c 389,84 ± 11,49e

(1997) dalam Retnani et al.,(2009) tingkat pemadatan serta densitas bahan sangat menentukan kapasitas dan akurasi pengisian tempat penyimpanan seperti silo, kontainer dan kemasan.

Berat Jenis (Specific Gravity)

Berat jenis (BJ) juga disebut berat spesifik (specific gravity), merupakan perbandingan antara berat bahan terhadap volumenya, satuannya adalah kg/m3. Menurut Kling dan Wolhbier (1983), BJ memegang peranan penting dalam berbagai proses pengolahan, penanganan dan penyimpanan. Pada Tabel 10. disajikan nilai berat jenis pellet berbasis jerami jagung.

Tabel 10. Nilai Berat Jenis Pellet Berbasis Jerami Jagung (kg/m3).

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris dan kolom menunjukkan perbedaan yang nyata (p<0.05). A1 = 100% jerami jagung, A2 = 75% jerami jagung + 20% legum Indigofera

sp. + 5% jagung giling, A3 = 75% jerami jagung + 15% legum Indigofera sp. + 10%

jagung giling, A4 =75% jerami jagung + 10% legum Indigofera sp. +15% jagung giling.

Berat jenis diukur dengan menggunakan prinsip Hukum Archimedes, yaitu suatu benda di dalam fluida, baik sebagian ataupun seluruhnya akan memperoleh gaya archimedes sebesar fluida yang dipindahkan dan arahnya ke atas (Khalil, 1999a). Pada Tabel 10. hasil sidik ragam menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara komposisi bahan pellet dan ukuran diameter die terhadap berat jenis namun berat jenis pellet nyata (p<0,05) dipengaruhi oleh ukuran die, artinya komposisi bahan pellet tidak mempengaruhi berat jenis pellet, namun ukuran die mempengaruhi berat jenis pellet. Pada Tabel disajikan data nilai berat jenis pellet, nilai berat jenis pellet pada die ukuran 5 mm menghasilkan pellet dengan nilai berat

Pakan Diameter Lubang Die Rata-rata

5mm 8mm A1 1305,56±48,11 926,22±66,89 1115,89±214,19 A2 1337,30±89,35 953,82±45,49 1145,56±219,39 A3 1581,89±74,02 971,37±73,59 1276.,28±340,49 A4 1674,44±140,02 974,07±94,19 1324,25±398,19 Rata-rata 1474,63±182,59a 956,37±64,69b

jenis yang lebih tinggi dibandingkan dengan die ukuran 8 mm, sehingga bahan mengisi ruang udara antara permukaan pellet yang dihasilkan lebih rapat.

Sudut Tumpukan (Repose of angle)

Sudut tumpukan adalah sudut yang terbentuk antara bidang datar dengan kemiringan tumpukan yang akan terbentuk bila bahan dicurahkan pada bidang datar melalui sebuah corong serta menunjukkan kriteria kebebasan bergerak dari partikel pada suatu tumpukan bahan. Nilai sudut tumpukan pellet disajikan pada Tabel 11. Tabel 11. Nilai Sudut Tumpukan Pellet Berbasis Jerami Jagung (0).

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris dan kolom menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (p<0.05). A1 = 100% jerami jagung, A2 = 75% jerami jagung + 20% legum

Indigofera sp. + 5% jagung giling, A3 = 75% jerami jagung + 15% legum Indigofera sp. + 10% jagung giling, A4 =75% jerami jagung + 10% legum Indigofera sp. +15% jagung

giling.

Semakin bebas suatu partikel bergerak, maka sudut tumpukan yang terbentuk juga kecil. Pengukuran sudut tumpukan merupakan metode yang cepat dan produktif untuk menentukan laju aliran bahan (Geldrart et al., 1990). Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa pellet dengan komposisi bahan tertentu memiliki sudut tumpukan tertentu yang tidak dipengaruhi oleh perbedaan ukuran die pellet (Tabel 11). Sudut tumpukan paling tinggi adalah 23,590 (A4) dan terendah 20,890 (A3). Pada hasil uji Duncan A2 berbeda terhadap A1,A3, dan A4, hal ini menunjukkan bahwa pellet tersebut merupakan bahan yang mudah diangkut dengan alat mekanik karena bahan berada pada kisaran sudut tumpukan 20-500 (Khalil, 1999b).

Pellet yang dihasilkan dalam penelitian ini memiliki sifat alir yang baik,

karena menurut Fasina dan Sokhansaj (1993) bahan yang mudah mengalir bebas

Pakan Diameter Lubang Die Rata-rata

5mm 8mm A1 21,60±0,7 20,85±1,7 21,23±1,3c A2 25,65±0,8 22,14±1,0 23,89±2,1a A3 21,97±1,7 19,82±0,5 20,89±1,6d A4 24,85±0,9 22,33±1,6 23,59±1,8b Rata-rata 23,52±2,1a 21,28±1.5b

memiliki kisaran nilai sudut tumpukan 20-300 dan merupakan sifat mengalir yang baik. Pada komposisi bahan pellet, ukuran pellet yang lebih kecil akan memiliki nilai sudut tumpukan yang lebih tinggi, seperti data yang disajikan pada Tabel 11. Pada

die ukuran 5 mm sudut tumpukan lebih besar yaitu 23,520 dan berbeda nyata (p<0,05) dibandingkan dengan die ukuran 8 mm dengan nilai sudut tumpukan 21,280, hal ini dikarenakan ukuran pellet yang dihasilkan pada die 5 mm lebih kecil dibandingkan die 8 mm, dan hal ini sesuai dengan pernyataan Anggraeni (2004) bahwa semakin besar ukuran pellet maka sudut tumpukan semakin kecil.

Menurut Soesarsono (1998), nilai sudut tumpukan berperan dalam mendesain lubang pemasukan dan pengeluaran, lubang pemasukan dan pengeluaran harus memiliki sudut kemiringan yang sama atau lebih kecil dari sudut tumpukan bahan supaya bahan dapat dengan mudah mengalir dengan bebas. Sudut tumpukan yang tinggi akan mempersulit proses produksi karena alirannya didalam bin akan lambat sehingga sering menyumbat silo. Bahan yang memiliki sudut tumpukan yang tinggi cenderung untuk terkonsentrasi ditengah, sedangkan bahan dengan sudut tumpukan rendah cenderung menyebar sehingga bahan akan turun serentak.

Pada bahan yang sama, ukuran pellet yang lebih kecil akan memiliki nilai sudut tumpukan yang tinggi dibandingkan dengan ukuran pellet yang besar. Sudut tumpukan juga berguna untuk mengetahui luas ruang penyimpanan secara curah, dimana bahan pakan yang memiliki sudut tumpukan rendah akan membutuhkan ruang penyimpanan yang lebih luas daripada bahan pakan yang memiliki sudut tumpukan tinggi dengan satuan berat yang sama.

Pellet Durability Indeks (PDI)

Thomas dan van der Poel (1996) menyatakan bahwa durability adalah salah satu uji yang digunakan untuk menentukan ukuran daya tahan pellet terhadap kikisan. Kualitas pellet untuk pakan beberapa jenis ternak berbeda-beda, perbedaan ini berkaitan erat dengan daya tahan pellet terhadap proses penanganan dan transportasi (Dozier, 2001). Daya tahan pellet diukur dengan durability pellet tester yaitu uji ketahanan standar pellet. Pellet yang baik adalah pellet yang kompak, kokoh dan tidak mudah rapuh (Murdinah, 1989). Nilai Pellet Durabilty Indexdisajikan pada Tabel 12.

Tabel 12. Nilai Pellet Durability Index (PDI) Pellet Berbasis Jerami Jagung (%)

Keterangan : A1 = 100% jerami jagung, A2 = 75% jerami jagung + 20% legum Indigofera sp. + 5% jagung giling, A3 = 75% jerami jagung + 15% legum Indigofera sp. + 10% jagung giling, A4 =75% jerami jagung + 10% legum Indigofera sp. +15% jagung giling. Durability terkait dengan berbagai proses dalam pemanfaatan pellet seperti

transportasi (pengangkutan) untuk mengetahui kualitas pellet yang dihasilkan, sehingga pellet durability index penting dilakukan (Thomas et al., 1998).

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa komposisi bahan dan ukuran die tidak berpengaruh nyata terhadap pellet durability index, seperti yang disajikan pada Tabel 11. Menurut Dozier (2001), standar spesifikasi durability index minimum adalah 80%, sedangkan pada penelitian ini PDI pellet tidak mencapai 80%, salah satu penyebabnya adalah rendahnya kadar air bahan. Nilai kadar air bahan disajikan pada Tabel 4. Kadar air bahan mempengaruhi kekompakan suatu pellet, dari bahan sebelum dibentuk pellet, bahan sudah memiliki kadar air yang rendah sehingga menyebabkan nilai pellet durability index juga rendah. Nilai kadar air bahan disajikan pada Tabel 4.

Kadar air juga berperan dalam berbagai proses selama pembuatan pellet. Pada proses pembuatan pellet adanya air dan panas akan menyebabkan terjadinya pengembangan pada komponen pati bahan, dan pada suhu 60-800 komponen pati tersebut akan pecah sehingga terjadi proses pengentalan campuran, pengentalan bahan baku pellet akan mempengaruhi karakteristik pellet yang dihasilkan, karena pengentalan pati berperan sebagi perekat dalam proses pembuatan pellet (Thomas et

al,. 1998), sedangkan pada proses pelleting penelitian ini suhu mencapai antara

61-650. Pati pada penelitian ini berasal dari bahan jagung giling dan molases, karena bahan tersebut memiliki karbohidrat yang tinggi. Bahan pakan tersebut yang

Pakan Diameter Lubang Die Rata-rata

5mm 8mm A1 67,00±1.4 76,40±3,0 71,70±5,6 A2 73,20±1,8 77,90±1,5 75,58±3,0 A3 71,19±2,0 75,00±2,2 71,20±2,8 A4 73,50±0,3 77,70±1,0 75,53±2,4 Rata-rata 71,19±3,0 76,79±2,1

merekatkan pellet hingga mencapai nilai PDI, walaupun hasilnya masih di bawah standar.

McElhinney (1994) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi

pellet durability adalah karakteristik bahan baku, dalam hal ini faktor yang dimaksud

adalah protein lemak, serat, pati, density (kepadatan), tekstur dan air serta kestabilan karakterisitik bahan yang akan menghasilkan kualitas pellet yang baik.

Laju Alir (Bulk Gravity Flow)

Menurut Wirakartakusumah (1992), laju alir pakan merupakan kecepatan aliran massa pakan dari wadah melalui lubang pengeluaran. Semakin tinggi nilai laju alir maka waktu pemindahan bahan dari suatu wwadah ke wadah lainnya akan semakin singkat. Sing dan Heldman (1984) menyebutkan bahwa laju alir suatu bahan dipengaruhi oleh sifat kohesivitas, sudut tumpukan dan kerapatan pemadatan tumpukan bahan tersebut. Semakin bebas bahan bergerak, laju alirnya akan semakin besar. Pada Tabel. 13. disajikan data laju alir pakan.

Hasil sidik ragam menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata antara komposisi pellet dan ukuran die pada nilai laju alir. Pada Tabel 13. nilai tertinggi ditujukan pada perlakuan A1 dengan die ukuran 5 mm, yaitu 45 kg/menit, sedangkan nilai terendah pada perlakuan A4 dengan die 8 mm, yaitu 28 kg/menit. Tabel 13. Nilai Laju Alir Pellet Berbasis Jerami Jagung (kg/menit)

Pakan Diameter Lubang Die Rataan

5 mm 8 mm A1 45 ± 1 33 ± 1 39 ± 1 A2 40 ± 1 32 ± 1,5 36 ± 1,25 A3 41 ± 2 35 ± 1 38 ± 1,5 A4 39 ± 1,5 28 ± 1 33 ± 1,25 Rataan 41 ± 1,4 32 ± 1.1

Keterangan : A1 = 100% jerami jagung, A2 = 75% jerami jagung + 20% legum Indigofera sp. + 5% jagung giling, A3 = 75% jerami jagung + 15% legum Indigofera sp. + 10% jagung giling, A4 =75% jerami jagung + 10% legum Indigofera sp. +15% jagung giling.

Hasil rataan menunjukkan bahwa perlakuan A1 memiliki laju alir yang lebih tinggi dibandingkan yang lainnya, hal ini disebabkan perlakuan tersebut memiliki sudut tumpukan yang kecil. Menurut Wirakartakusumah et al,. (1992), semakin

bebas bahan bergerak, laju alirnya akan semakin besar, sehingga semakin kecil nilai sudut tumpukan, bahan akan lebih mudah mengalir.

Laju alir pellet selain dipengaruhi oleh sifat mengalir pellet juga dipengaruhi

oleh kohesivitas pellet tersebut. Semakin kohesivitas suatu bahan, daya alirnya akan semakin rendah dan kohesivitas dipengaruhi oleh kandungan air. Bahan dengan kandungan air tinggi akan memiliki sifat kohesif yang tinggi dan menyebabkan penurunan kelancaran daya alirnya (Wirakartakusumah et al., 1992). Pada penelitian ini kadar air pellet A1 lebih rendah dibandingkan dengan yang lain, sehingga memiliki laju alir yang paling baik, dalam industri pakan pellet yang memiliki laju alir tinggi akan menguntungkan karena waktu yang dibutuhkan dalam penanganannya akan semakin singkat dan cepat.

Komposisi Kimia Pellet Berbasis Jerami Jagung

Dari hasil analisa proksimat pada komposisi bahan yang berbeda didapatkan hasil kandungan zat makanan yang berbeda pada setiap perlakuan seperti yang disajikan pada Tabel 5. Pada perlakuan A2 memiliki kandungan protein lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Protein tersebut sebagian besar berasal dari legum Indigofera sp. yang proporsinya lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan lain. Kandungan protein kasar legum Indigofera Sp. menurut Hassen et

Dokumen terkait