Karakteristik individu merupakan ciri-ciri pribadi alumni pelatihan budidaya lebah madu yang dapat menggambarkan keadaan para alumni pelatihan.
Karakteristik individu dapat mempengaruhi individu dalam membudidayakan lebah madu. Karakteristik individu alumni pelatihan budidaya lebah madu dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik Alumni Pelatihan Budidaya Lebah Madu
Karakteristik Kategori Jumlah
(orang)
Persentase (%) Jenis kelamin Laki-laki
Perempuan Pendidikan formal SD/sederajat (rendah)
SMP/sederajat (sedang)
SMA/sederajat-Perguruan Tinggi (tinggi)
15
Pernah mengikuti pelatihan Belum pernah mengikuti pelatihan
14 16
46,7 53,3 Pengalaman beternak 5 bulan-2 tahun (baru)
> 2 tahun (lama)
21 9
70,0 30,0 Pekerjaan pokok Bidang pertanian
Non pertanian
21 9
70,0 30,0 Pendapatan Rp 100.000,00-Rp 400.000,00 (rendah)
Rp 401.000,00-Rp 700.000,00 (sedang) Rp 701.000,00-Rp 1.000.000,00 (tinggi)
8
Alumni pelatihan budidaya lebah madu di daerah penelitian mayoritas berjenis kelamin laki-laki. Hal ini disebabkan dalam membudidayakan lebah madu membutuhkan keberanian lebih yang tidak dimiliki oleh perempuan.
Umur
Berdasarkan data yang diperoleh selama penelitian, umur alumni pelatihan budidaya lebah madu bervariasi antara 19-66 tahun dengan rata-rata 36 tahun.
Sebagian besar alumni pelatihan budidaya lebah madu berumur 19-34 tahun (muda).
Secara umum alumni pelatihan budidaya lebah madu berada pada usia produktif yaitu 19-50 tahun yang artinya kemampuan kerja untuk membudidayakan lebah madu masih baik. Jumlah alumni pelatihan budidaya lebah madu di usia muda cukup
banyak karena mereka pada umumnya memiliki semangat yang tinggi dalam mengikuti pelatihan budidaya lebah madu.
Pendidikan
Sebaran tingkat pendidikan formal alumni pelatihan budidaya lebah madu adalah dari tamat SD/sederajat-Perguruan tinggi. Mayoritas alumni pelatihan budidaya lebah madu (50%) berpendidikan formal tamat SD/sederajat (rendah).
Umumnya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi tingkat penyerapan informasi yang diberikan kepadanya dan cenderung berani mencoba suatu inovasi. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin terlatih dirinya untuk belajar dan semakin banyak cara belajar yang dimiliki, sehingga semakin besar kemampuan belajar.
Mayoritas alumni pelatihan budidaya lebah madu yang belum pernah mengikuti pelatihan cukup banyak (53,3%). Pelatihan yang diikuti umumnya dalam bidang pertanian, seperti pelatihan pengendalian hama terpadu, pembuatan pupuk kompos, dan lain-lain yang tidak terkait langsung dengan budidaya lebah madu.
Pengalaman beternak
Mayoritas alumni pelatihan budidaya lebah madu (70%) memiliki pengalaman beternak 5 bulan-2 tahun. Hal ini berarti pengalaman beternak alumni pelatihan budidaya lebah madu tergolong baru, sehingga sangat tertarik untuk mengetahui lebih banyak mengenai cara membudidayakan lebah madu, khususnya melalui pelatihan.
Pekerjaan pokok
Pekerjaan pokok alumni pelatihan budidaya lebah madu bervariasi, yaitu bidang pertanian dan non pertanian. Pekerjaan pokok di luar pertanian umumnya sebagai pedagang, bordir, ojek, dan lain-lain. Mayoritas alumni pelatihan budidaya lebah madu (70%) memiliki pekerjaan pokok di bidang pertanian, yaitu bekerja sebagai petani dan buruh tani.
Pendapatan
Sebaran pendapatan alumni pelatihan budidaya lebah madu bervariasi dari Rp 100.000-Rp 1.000.000 per-bulan. Mayoritas alumni pelatihan budidaya lebah madu (43,3%) mempunyai pendapatan Rp 401.000,00-Rp 700.000,00 per-bulan
(sedang). Pendapatan alumni pelatihan budidaya lebah madu berasal dari sektor pertanian dan non pertanian (ojek, bordir, penjahit dan pedagang). Pendapatan yang diperoleh dari budidaya lebah madu sendiri rata-rata sebesar Rp. 200.000 per-bulan.
Hal ini dapat diartikan bahwa alumni pelatihan budidaya lebah madu memiliki skala usaha yang relatif sedang.
Persepsi Alumni Pelatihan Budidaya Lebah Madu tentang Kualitas Pelatihan
Persepsi menurut Rakhmat (2004), adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi alumni pelatihan budidaya lebah madu mengenai kualitas pelatihan terdiri dari aspek metode, fasilitas, materi, pelatih dan suasana pelatihan.
Tabel 2. Rataan Skor Persepsi Alumni Pelatihan Budidaya Lebah Madu tentang Kualitas Pelatihan Budidaya Lebah Madu
Kualitas Pelatihan Rataan Skor*
Metode Pelatihan 3,58
Fasilitas Pelatihan 3,32
Materi Pelatihan 3,31
Pelatih 3,41
Suasana Pelatihan 3,34
Total Skor 3,39
Ket *: 1= tidak baik; 2=kurang baik; 3=cukup baik; 4 =baik
Alumni pelatihan budidaya lebah madu secara keseluruhan berpendapat bahwa pelatihan budidaya lebah madu sudah dilaksanakan dengan cukup baik (3,39).
Artinya metode yang digunakan dalam pelatihan sudah sesuai, fasilitas cukup memadai, materinya cukup sesuai, kualifikasi pelatihnya cukup bagus dan suasananya mendukung.
Metode Pelatihan
Metode pembelajaran yang digunakan dalam pelatihan budidaya lebah madu adalah metode andragogik partisipatori, yaitu suatu metode pembelajaran yang menempatkan petani-ternak didik sebagai pusat kegiatan pembelajaran (student oriented) dan pengajar memposisikan diri sebagai fasilitator. Metode ini
menempatkan petani-ternak sebagai manusia dewasa yang berpengalaman. Metode yang digunakan adalah ceramah, tanya jawab, praktek dan kunjungan lapang. Rataan skor persepsi alumni pelatihan budidaya lebah madu mengenai metode pelatihan disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Rataan Skor Persepsi Alumni Pelatihan Budidaya Lebah Madu mengenai Metode Pelatihan Budidaya Lebah Madu
Metode Pelatihan Rataan skor*
Ceramah Tanya Jawab Praktek Kunjungan
3,50 3,73 3,70 3,37
Total Skor 3,58
Ket *: 1= tidak baik; 2=kurang baik; 3=cukup baik; 4 =baik
Total rataan skor persepsi alumni pelatihan budidaya lebah madu mengenai metode pelatihan adalah 3,58. Hal ini berarti metode pelatihan yang diterapkan pada program pelatihan sudah baik. Metode yang paling baik menurut alumni pelatihan budidaya lebah madu adalah tanya jawab (diskusi) dan praktek. Namun ceramah dan kunjungan, meskipun rataannya tidak setinggi dua metode lainnya, tapi sudah termasuk baik menurut pandangan alumni pelatihan budidaya lebah madu.
Alumni pelatihan budidaya lebah madu menganggap baik sesi ceramah dan sesi tanya jawab. Alumni pelatihan budidaya lebah madu dapat mendengarkan mengenai isi materi dari pelatih pada saat sesi ceramah. Pada sesi tanya jawab alumni pelatihan budidaya lebah madu dapat berpartisipasi aktif dengan bertanya mengenai materi yang belum dapat dimengerti dan dipahami.
Metode praktek diterapkan untuk mendukung materi yang di berikan. Alumni pelatihan budidaya lebah madu diberi kesempatan untuk terlibat secara langsung pada saat sesi praktikum, sehingga diharapkan alumni pelatihan budidaya lebah madu mampu mengaplikasikannya sendiri di luar program pelatihan. Selanjutnya pada saat sesi kunjungan, alumni pelatihan budidaya lebah madu diajak ke pusat pelatihan budidaya lebah madu Apriari Cibubur Jakarta untuk melihat langsung lingkungan, stup-stup dan peralatan yang digunakan dalam membudidayakan lebah madu.
Fasilitas pelatihan
Fasilitas pelatihan merupakan sarana yang diberikan kepada peserta pelatihan oleh pihak penyelenggara pelatihan. Fasilitas pelatihan yang diberikan meliputi ruang belajar, buku panduan pelatihan, papan tulis, makanan/minuman dan peralatan untuk praktek. Rataan skor persepsi alumni pelatihan budidaya lebah madu mengenai fasilitas pelatihan disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Rataan Skor Persepsi Alumni Pelatihan Budidaya Lebah Madu mengenai Fasilitas Pelatihan Budidaya Lebah Madu
Fasilitas Rataan Skor*
Ruang Belajar 3,27
Buku Panduan Pelatihan 3,47
Papan Tulis 3,33
Makanan/Minuman 3,30
Peralatan praktek 3,23
Total rataan skor 3,32
Ket *: 1= tidak memadai; 2=kurang memadai; 3=cukup memadai; 4 =memadai
Berdasarkan data pada Tabel 4, total rataan skor persepsi alumni pelatihan budidaya lebah madu mengenai fasilitas yang disediakan adalah 3,32. Nilai ini memberi arti bahwa fasilitas yang diberikan cukup tersedia. Fasilitas tersebut dinilai mampu menunjang jalannya pelatihan. Fasilitas yang paling baik menurut alumni pelatihan budidaya lebah madu adalah buku panduan pelatihan. Namun ruang belajar, papan tulis, makanan/minuman dan peralatan praktek meskipun rataannya tidak setinggi buku panduan pelatihan, tapi sudah termasuk cukup memadai menurut pandangan alumni pelatihan budidaya lebah madu.
Umumnya alumni pelatihan budidaya lebah madu merasa terbantu dengan adanya buku panduan pelatihan yang berisi mengenai rangkuman-rangkuman materi pelatihan, sehingga alumni pelatihan budidaya lebah madu bisa lebih memahami mengenai materi-materi yang diberikan. Fasilitas ruang belajar dan papan tulis yang tersedia juga dapat memberikan alumni pelatihan budidaya lebah madu merasa terbantu dalam menerima materi yang akan disampaikan oleh pelatih. Tersedianya peralatan untuk praktek seperti peralatan utama (stup) dan peralatan pelengkap (fondasi sarang, penyekat ratu, kurungan ratu, mangkokan ratu dan bingkai stimulasi)
dapat memberikan kelancaran, ketertiban pelaksanaan pelatihan budidaya lebah madu.
Materi Pelatihan
Materi yang diberikan dalam pelatihan budidaya lebah madu adalah pengenalan kasta, pengenalan peralatan, pakan lebah madu, pengelolaan koloni lebah madu, budidaya lebah ratu, panen madu dan pollen. Persepsi alumni pelatihan budidaya lebah madu terhadap materi pelatihan yang diberikan terdiri atas ketertarikan, kesesuaian dan kemudahan terhadap materi yang diterima saat pelatihan. Rataan skor persepsi alumni pelatihan budidaya lebah madu mengenai materi pelatihan disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Rataan Skor Persepsi Alumni Pelatihan Budidaya Lebah Madu mengenai Materi Pelatihan Budidaya Lebah Madu
Materi Pelatihan Rataan Skor*
Ketertarikan Materi 3,38
Kesesuaian Materi 3,47
Kemudahan Materi 3,09
Total Rataan Skor 3,31
Ket *: 1= tidak menarik; tidak sesuai; tidak mudah 2= kurang menarik; kurang sesuai; kurang mudah 3= cukup menarik; cukup sesuai; cukup mudah 4= menarik; sesuai; mudah
Total rataan skor persepsi alumni pelatihan budidaya lebah madu tentang materi pelatihan adalah 3,31. Artinya materi yang diterima oleh alumni pelatihan budidaya lebah madu cukup menarik, sesuai dengan kebutuhan dan mudah dipahami.
Kesesuaian materi dengan kebutuhan alumni pelatihan budidaya lebah madu memiliki rataan yang paling baik. Namun ketertarikan dan kemudahan materi meskipun rataannya tidak setinggi kesesuaian materi, tapi sudah termasuk baik yaitu materi yang diberikan cukup menarik dan mudah dipahami.
Alumni pelatihan budidaya lebah madu berpendapat materi yang disajikan dalam program pelatihan cukup menarik, sehingga mereka berantusias mengikuti pelatihan. Ketertarikan terhadap materi pelatihan menyebabkan alumni pelatihan budidaya lebah madu mengikuti dengan seksama mengenai materi yang disampaikan, sehingga dapat memahami segala apa yang telah disampaikan.
Alumni pelatihan budidaya lebah madu menganggap materi program pelatihan yang pernah diikuti sudah sesuai dengan kebutuhan. Terlihat dari rataan
skor dengan nilai cenderung tinggi yaitu 3,47 yang termasuk dalam kategori cukup sesuai. Rataan skor untuk tingkat kemudahan materi adalah 3,09 yang berarti alumni pelatihan budidaya lebah madu menilai bahwa materi-materi yang disajikan cukup mudah dipahami karena isi materi mudah dimengerti.
Pelatih
Instruktur memegang peranan penting terhadap kelancaran dan keberhasilan program pelatihan, oleh karena itu perlu dipilih pelatih yang ahli, berkualifikasi dan profesional (Hamalik, 2005). Penilaian alumni pelatihan budidaya lebah madu mengenai pelatih disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Rataan Skor Persepsi Alumni Pelatihan Budidaya Lebah Madu mengenai Pelatih Budidaya Lebah Madu
Pelatih Rataan Skor*
Penguasaan materi 3,20
Kemampuan mengajar 3,33
Menjalin hubungan 3,60
Penampilan 3,50
Total Skor 3,41
Ket *: 1=tidak menguasai; tidak mampu; tidak menjalin hubungan yang baik; tidak baik 2=kurang menguasai; kurang mampu; kurang menjalin hubungan yang baik; kurang baik 3=cukup menguasai; cukup mampu; cukup menjalin hubungan yang baik; cukup baik 4=menguasai; mampu; menjalin hubungan yang baik; baik
Berdasarkan data pada Tabel 6, total rataan skor untuk penilaian alumni pelatihan budidaya lebah madu mengenai pelatih adalah 3,41. Nilai ini memberi arti bahwa alumni pelatihan budidaya lebah madu menganggap pelatih cukup baik dan cukup menguasai materi yang disampaikan kepada alumni pelatihan budidaya lebah madu. Menjalin hubungan dan penampilan pelatih memiliki rataan yang tinggi.
Namun penguasaan materi dan kemampuan mengajar, meskipun rataannya tidak setinggi dua aspek di atas, tapi sudah termasuk cukup baik.
Alumni pelatihan budidaya lebah madu berpendapat bahwa pelatih cukup menguasai dan cukup baik dalam mengajarkan materi budidaya lebah madu. Alumni pelatihan budidaya lebah madu juga menilai bahwa pelatih memiliki penampilan yang baik dan memiliki kemampuan untuk menjalin hubungan yang baik kepada peserta pelatihan.
Suasana Pelatihan
Suasana pelatihan yang dimaksud dalam penelitian adalah keadaan pada saat proses pelatihan berlangsung. Suasana pelatihan secara keseluruhan disajikan pada tabel 7.
Tabel 7. Persepsi Alumni Pelatihan Budidaya Lebah Madu tentang Suasana Pelatihan Budidaya Lebah Madu
Suasana Pelatihan Rataan skor*
Kenyamanan 3,40 Kebersihan 3,27
Tenang 3,30
Akrab 3,37
Total rataan skor 3,34
Ket *: 1= tidak nyaman; tidak bersih; tidak tenang; tidak akrab 2= kurang nyaman; kurang bersih; kurang tenang; kurang akrab 3= cukup nyaman; cukup bersih; cukup tenang; cukup akrab 4= nyaman; bersih; tenang; akrab
Berdasarkan data pada tabel 7, total rataan skor untuk penilaian suasana pelatihan adalah 3,34. Hal ini berarti alumni pelatihan budidaya lebah madu menganggap suasana pelatihan berlangsung cukup baik. Pelatihan dilaksanakan dalam suasana yang nyaman, akrab, tenang, dan bersih.
Alumni pelatihan budidaya lebah madu menganggap suasana pelatihan cukup memberikan kenyamanan, karena segala sarana dan prasarana sudah tersedia.
Suasana tempat pelatihan dirasakan cukup bersih karena sebelum kegiatan pelatihan dimulai, ada petugas yang membersihkan ruang pelatihan. Pelaksanaan pelatihan dirasakan cukup akrab dan cukup tenang. Hal ini karena hubungan antar alumni pelatihan budidaya lebah madu sudah dekat, saling kenal dan dapat mengikuti pelatihan dengan tertib.
Efektivitas Pelatihan
Efektivitas pelatihan adalah tingkat pencapaian program penyuluhan. Tingkat tercapainya tujuan dapat dilihat dari perubahan yang terjadi pada perilaku alumni pelatihan budidaya lebah madu lebah madu. Efektivitas pelatihan terkait dalam tiga aspek yaitu: (1) pengetahuan, (2) sikap dan (3) tindakan. Pelatihan lebah madu yang diselenggarakan oleh Dinas Kehutanan Jawa Barat secara keseluruhan cukup efektif.
Rataan skor mengenai efektivitas pelatihan disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Rataan Skor Efektivitas Pelatihan Budidaya Lebah Madu
Perilaku Rataan skor*
Pengetahuan 3,08 Sikap 3,24 Tindakan 2,76
Total rataan skor 3,03
Ket *: 1 = tidak efektif; 2=kurang efektif; 3 =cukup efektif; 4 =efektif
Secara umum rataan skor efektivitas pelatihan budidaya lebah madu menunjukkan bahwa pelatihan sudah cukup efektif. Alumni pelatihan mempunyai sikap yang cukup positif terhadap budidaya lebah madu, cukup memahami dan cukup mampu mempraktekannya.
Berdasarkan efektivitas pelatihan budidaya lebah madu, sikap merupakan aspek yang paling efektif. Mayoritas dari alumni pelatihan budidaya lebah madu menganggap baik mengenai budidaya lebah madu. Tindakan merupakan aspek yang kurang efektif, berarti alumni pelatihan budidaya lebah madu belum sepenuhnya menerapkan budidaya lebah madu yang diajarkan pada saat pelatihan. Hal ini disebabkan kurang tersedianya peralatan untuk membudidayakan lebah madu.
Mayoritas alumni pelatihan sudah mengetahui isi materi yang telah diberikan pada saat pelatihan namun belum seluruhnya dilakukan. Materi budidaya lebah ratu merupakan materi yang belum dilakukan oleh alumni pelatihan kaena keterbatasan alat dan faktor ketelitian dalam membudidayakan lebah ratu.
Pengetahuan
Alumni pelatihan dapat memahami sebagian besar aspek-aspek pengelolaan budidaya lebah madu (rataan skor 3,08). Pengetahuan alumni pelatihan budidaya lebah madu mengenai materi lebah madu terdiri atas materi pengenalan kasta, peralatan, pakan lebah madu, pengelolaan koloni lebah, budidaya lebah ratu, panen madu dan pollen. Rataan skor pengetahuan alumni pelatihan budidaya lebah madu mengenai materi tersebut disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9. Rataan Skor Pengetahuan Alumni Pelatihan Budidaya Lebah Madu
Pengetahuan Rataan skor
Pengenalan kasta 3,27
Penggunaan Peralatan 3,42
Pakan lebah madu 3,21
Pengelolaan koloni lebah 3,06
Budidaya lebah ratu 2,36
Panen madu dan pollen 3,14
Total rataan skor 3,08
Ket *: 1= tidak tahu; 2=tahu sebagian kecil; 3=tahu sebagian besar; 4 =tahu
Aspek budidaya lebah ratu hanya dipahami sebagian kecil oleh alumni pelatihan, sedangkan aspek lainnya sebagian besar dipahami. Aspek yang paling dikuasai oleh alumni pelatihan adalah penggunaan peralatan.
Pengenalan Kasta. Berdasarkan Tabel 9 rataan skor mengenai pengenalan kasta adalah 3,27. Alumni pelatihan budidaya lebah madu sudah mengetahui sebagian besar mengenai jenis-jenis lebah madu (Apis cerana, Apis melifera, dan Apis dorsata), strata lebah madu (lebah ratu, jantan, dan pekerja), ciri-ciri lebah ratu (ukurannya dua kali lebah pekerja dan dapat menghasilkan feromon), ciri-ciri lebah jantan (mata dan sayapnya lebih besar dari kedua strata lebah lainnya, pada kaki belakang tidak mempunyai keranjang pollen, juga tidak memilki kelenjar malam), dan ciri-ciri lebah pekerja (ukurannya paling kecil dari kedua strata lainnya).
Penggunaan Peralatan. Alumni pelatihan budidaya lebah madu sudah mengetahui sebagian besar mengenai materi penggunaan peralatan. Alumni pelatihan budidaya lebah madu sudah mengetahui alat-alat yang digunakan seperti bahan, bentuk dan ukuran stup, pondasi sarang yang digunakan untuk mempercepat pembangunan sarang, penyekat ratu yang digunakan untuk menahan gerak atau menghalangi ratu supaya tidak naik ke kotak super, kurungan ratu yang digunakan untuk mengamankan ratu atau untuk mengenalkan ratu sementara waktu pada koloni yang membutuhkan ratu baru, mangkokan ratu yang digunakan untuk membuat calon-calon ratu baru, dan bingkai stimulasi yang digunakan untuk wadah pakan tambahan.
Alumni pelatihan budidaya lebah madu juga sudah mengetahui mengenai alat bantu yang digunakan seperti pengasap untuk menjinakkan lebah, penutup muka untuk melindungi muka dari serangan lebah, pengungkit untuk membantu mengangkat sisiran yang melekat kuat pada stup, sarung tangan untuk melindungi tangan dari
sengatan lebah, dan sikat lebah untuk menghalau lebah dari sisiran sarang yang digunakan terutama pada saat panen madu.
Pakan lebah madu. Alumni pelatihan budidaya lebah madu mengetahui sebagian besar mengenai materi pakan lebah madu. Materi pakan lebah madu yang diberikan dalam pelatihan lebah madu adalah tanaman yang menghasilkan nektar (kaliandra, bunga matahari, dan karet) dan tanaman yang menghasilkan pollen (jagung dan padi). Nektar adalah bagian bunga tumbuhan yang dapat menghasilkan madu.
Sedangkan pollen atau tepung sari bunga diperoleh dari bunga yang dihasilkan oleh anther sebagai sel-sel kelamin jantan tumbuhan dalam bentuk butiran atau serbuk.
Pollen dimakan oleh lebah madu terutama sebagai sumber protein dan lemak, dan sedikit karbohidrat dan mineral.
Pengelolaan koloni. Alumni pelatihan budidaya lebah madu mengetahui sebagian besar mengenai materi pengelolaan koloni. Materi pengelolaan koloni lebah madu yang diberikan dalam pelatihan lebah madu adalah syarat-syarat penempatan kotak lebah madu yang baik (kaya akan tanaman pakan lebah yang mengandung nektar dan pollen, terdapat sumber air bersih, dan tidak ada angin kencang), hal-hal yang perlu diamati saat pemeriksaan di dalam stup atau kandang lebah (pemeriksaan tingkah laku lebah untuk mengetahui tanda-tanda serangan hama, pemeriksaan sarang terutama terhadap sel-sel sarang tempat keberadaan anakan yaitu telur, larva dan pupa serta pemeriksaan terhadap kondisi lebah ratu dan tingkah laku ratu dalam bertelur) dan pemeriksaan luar stup (pemeriksaan terhadap ketersediaan sumber pakan dan juga kemungkinan adanya organisme pengganggu).
Budidaya lebah ratu. Rataan skor mengenai budidaya lebah ratu adalah 2,36.
Alumni pelatihan budidaya lebah madu mengetahui sebagian kecil mengenai materi budidaya lebah ratu karena materinya sulit dimengerti oleh alumni pelatihan. Materi budidaya lebah ratu yang diberikan dalam pelatihan lebah madu adalah cara budidaya lebah ratu dan pengertian grafting. Urutan cara budidaya lebeh ratu yaitu:
1) sel-sel ratu ditempatkan pada sisiran kemudian dikenalkan selama 6 jam ke dalam koloni lebah, 2) sisiran diisi dengan larva umur1-2 hari, lalu dimasukkan kembali ke dalam koloni dan dibiarkan selama 9-10 hari, 3) melakukan pencakokan sel ratu ke
dalam koloni mini dengan hati-hati. Grafting adalah mengisi sisiran lebah ratu dengan larva umur1-2 hari.
Panen madu dan pollen. Alumni pelatihan budidaya lebah madu mengetahui sebagian besar mengenai materi panen madu dan pollen. Materi panen madu dan pollen yang diberikan dalam pelatihan lebah madu adalah cara memanen madu dan pollen serta alat yang digunakan saat panen. Urutan cara memanen madu yaitu sisiran sarang yang penuh madu diambil dari stup kemudian dihentakan agar kuat untuk menurunkan lebah-lebahnya. Lebah yang masih tersisa dan menempel pada sisiran dibersihkan dengan sikat lebah. Untuk membuka sel-sel sarang yang masih berisi madu dilakukan pengupasan menggunakan pisau tajam yang bersih. Setelah tutup sel dibuka, sisiran-sisiran sarang kemudian dimasukkan ke dalam ekstraktor untuk mengeluarkan madunya. Sedangkan pollen dapat dipanen dari lebah pekerja lapangan yang baru kembali dari lapangan ke sarang. Pollen yang berbentuk pellet dan menempel pada keranjang pollen (terdapat pada kaki lebah pekerja) tersebut akan terlepas pada saat lebah pekerja melalui lubang sempit yang merupakan alat perangkap pollen. Pollen yang jatuh akan ditampung dalam wadah penampung pollen.
Sikap
Sikap alumni pelatihan budidaya lebah madu terhadap budidaya lebah madu terdiri atas keuntungan relative, kompatibilitas, trialibilitas, kompleksitas dan observabilitas. Rataan skor sikap alumni pelatihan budidaya lebah madu terhadap budidaya lebah madu tersebut disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Rataan Skor Sikap Alumni Pelatihan Budidaya Lebah Madu terhadap Budidaya Lebah Madu
Sikap Rataan skor
Keuntungan Relative 3,33
Kompatibilitas 3,23
Trialibilitas 3,31
Kompleksitas 3,25
Observabilitas 3,07
Total rataan skor 3,24
Ket *: 1=tidak setuju; 2=kurang setuju; 3=cukup setuju; 4= setuju
Secara umum alumni pelatihan budidaya lebah madu menganggap baik mengenai budiaya lebah madu. Hal ini berarti alumni pelatihan budidaya lebah madu
setuju bahwa budidaya lebah madu memiliki keuntungan, sesuai dengan lingkungannya, dapat dicoba dengan skala kecil, tidak memerlukan teknologi canggih, dan hasilnya dapat dirasakan.
Keuntungan Relatif. Keuntungan relatif dibedakan menjadi dua macam, yaitu 1) manfaat ekonomis adalah keuntungan atau pendapatan yang diperoleh, dan 2) manfaat atau kelebihan teknis adalah keuntungan dari segi biaya opersional. Suatu pelatihan akan cepat diadopsi apabila inovasi tersebut memberikan keuntungan yang lebih dibandingkan teknologi yang ada sebelumnya. Berdasarkan Tabel 10, rataan skor mengenai keuntungan relative adalah 3,33. Alumni pelatihan budidaya lebah madu setuju bahwa budidaya lebah madu memiliki keuntungan dari segi ekonomis
Keuntungan Relatif. Keuntungan relatif dibedakan menjadi dua macam, yaitu 1) manfaat ekonomis adalah keuntungan atau pendapatan yang diperoleh, dan 2) manfaat atau kelebihan teknis adalah keuntungan dari segi biaya opersional. Suatu pelatihan akan cepat diadopsi apabila inovasi tersebut memberikan keuntungan yang lebih dibandingkan teknologi yang ada sebelumnya. Berdasarkan Tabel 10, rataan skor mengenai keuntungan relative adalah 3,33. Alumni pelatihan budidaya lebah madu setuju bahwa budidaya lebah madu memiliki keuntungan dari segi ekonomis