Karakteristik responden yang dibahas dalam penelitian ini meliputi : umur, tingkat pendidikan, pengalaman beternak, alasan beternak dan kendala beternak.
Umur
Umur peternak sapi perah berkisar antara 18 tahun sampai 87 tahun dengan umur rata-rata 41,23 tahun. Berdasarkan batas usia produktif (18 sampai 55 tahun), sebagian besar peternak sapi perah tipe pertama, kedua dan ketiga berada pada umur produktif yaitu masing-masing sebanyak 89,47 persen (68 orang), 89,41 persen (76 orang) dan 89,52 persen (111 orang). Umur peternak berhubungan dengan kemampuan fisik dalam melakukan segala aktivitas. Kemampuan fisik peternak yang tua (lebih dari 56 tahun) relatif lebih rendah daripada peternak yang berada pada kisaran umur produktif. Hal ini akan mempengaruhi produktivitas usaha peternakan. Distribusi responden berdasarkan umur disajikan dalam Tabel 14.
Tabel 14. Distribusi Responden Berdasarkan Umur
Tipe 1 Tipe 2 Tipe 3
Umur (tahun) Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) 18 s/d 55 68 89,47 76 89,41 111 89,52 56 s/d 87 8 10,53 9 10,59 13 10,48 Total 76 100,00 85 100,00 124 100,00 Tingkat Pendidikan
Pembagian peternak menurut tingkat pendidikannya didasarkan pada jenjang pendidikan yang telah dilalui peternak. Berdasarkan Tabel 15, tingkat pendidikan peternak sapi perah yang diamati di lokasi penelitian masih rendah, karena peternak responden di KPSBU sebagian besar berada pada jenjang tamat sekolah dasar (SD) atau sederajat yaitu sebesar 78,95 persen pada tipe pertama, 70,59 persen pada tipe kedua dan 68,55 persen pada tipe ketiga. Hal ini dikarenakan kebutuhan ekonomi yang semakin tinggi, sehingga peternak tidak memiliki dana untuk membiayai pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, ada sebagian responden yang memang tidak ingin bersekolah walaupun mampu dalam hal pembiayaan. Hal ini dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan di sekitar tempat tinggal responden yang
jauh dari lokasi sekolah sehingga masyarakatnya hanya berpendidikan tamat SD atau sederajat. Peternak yang sempat sekolah di jenjang SD atau sederajat namun tidak menamatkan SD (10,59 % pada peternak tipe kedua) dikarenakan kekurangan biaya dan adanya keinginan untuk melakukan hal lain yang dianggap lebih berguna, seperti bertani atau beternak.
Tabel 15. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Formal
Tipe 1 Tipe 2 Tipe 3
Tingkat Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) Tidak sekolah - - 1 1,18 3 2,42 Tidak tamat SD 3 3,95 8 9,40 18 14,51 Tamat SD 60 78,95 60 70,59 85 68,55 Tidak tamat SMP - - 1 1,18 - - Tamat SMP 8 10,52 9 10,59 11 8,87 Tamat SMA 5 6,58 4 4,70 7 5,65 Diploma - - 1 1,18 - - Sarjana - - 1 1,18 - - Total 76 100,00 85 100,00 124 100,00 Pengalaman Beternak
Pengalaman beternak akan membantu peternak dalam menghadapi masalah yang sering terjadi dalam pemeliharaan ternak sapi perah. Berdasarkan Tabel 16, sebagian besar peternak tipe 1, 2 dan 3 memiliki pengalaman beternak antara 1 – 16 tahun. Semakin lama peternak memelihara ternak sapi perah, maka semakin banyak pengalaman yang diperoleh peternak tentang tatacara beternak sapi perah.
Tabel 16. Distribusi Responden Berdasarkan Pengalaman Beternak
Tipe 1 Tipe 2 Tipe 3
Pengalaman beternak Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) 1 s/d 16 tahun 49 64,47 59 69,41 82 66,13 17 s/d 32 tahun 24 31,58 23 27,06 39 31,45 33 s/d 48 tahun 3 3,95 3 3,53 3 2,42 Total 76 100,00 85 100,00 124 100,00 Alasan Beternak
Sebagian besar peternak responden tipe pertama, kedua dan ketiga yaitu masing-masing 71,05 persen, 74,12 persen dan 61,29 persen, menjadikan usaha sapi
perah ini sebagai usaha pokok keluarga. Hal ini dikarenakan menurut responden, usahaternak sapi perah memiliki jaminan pendapatan yang berkelanjutan. Selain itu daerah ini merupakan wilayah yang memang cocok untuk usaha sapi perah yaitu dilihat dari letak wilayahnya dan suhu udara setempat. Alasan beternak ini akan menunjukkan motivasi peternak dalam menjalankan usahanya. Distribusi responden berdasarkan alasan beternak tertera pada Tabel 17.
Tabel 17 Distribusi Responden Berdasarkan Alasan Beternak
Tipe 1 Tipe 2 Tipe 3
Alasan beternak Jumlah (Orang) Persentase (%) Jumlah (Orang) Persentase (%) Jumlah (Orang) Persentase (%)
Usaha turun temurun 13 17,11 16 18,82 32 25,81
Hobi 7 9,21 3 3,53 11 8,87 Usaha pokok keluarga 54 71,05 63 74,12 76 61,29 Tambahan pendapatan 2 2,63 2 2,35 3 2,42 Tidak ada pekerjaan lain - - 1 1,18 2 1,61 Total 76 100,00 85 100,00 124 100,00 Kendala Beternak
Berdasarkan Tabel 18, sebagian besar peternak responden tipe pertama, kedua dan ketiga mengalami kesulitan dalam hal mendapatkan pakan hijauan. Hal ini dikarenakan lahan untuk ditanami hijauan sudah berkurang, selain itu pada saat penelitian sedang terjadi musim kemarau, sehingga hijauan sulit untuk tumbuh. Selain pakan hijauan, kendala yang sering muncul adalah sulitnya mendapatkan obat untuk ternak, khususnya untuk penyakit yang cukup beresiko, seperti abortus. Distribusi responden berdasarkan kendala beternak ditunjukkan oleh Tabel 18.
Tabel 18. Distribusi Responden Berdasarkan Kendala Beternak
Tipe 1 Tipe 2 Tipe 3
Kendala beternak Jumlah (Orang) Persentase (%) Jumlah (Orang) Persentase (%) Jumlah (Orang) Persentase (%) Pakan hijauan sulit
di dapat 55 72,37 54 63,52 94 75,81
Penyakit ternak
yang sulit diobati 15 19,73 18 21, 18 16 12,90
Modal usaha kurang 3 3,95 1 1,18 2 1,61
Air sulit di dapat 3 3,95 12 14,12 12 9,68
Manajemen Usahaternak Sapi Perah Ternak Sapi Perah
Ternak sapi perah yang dipelihara oleh peternak di Wilayah Kerja KPSBU Lembang adalah sapi perah jenis Friesian Holstein (FH). Ternak sapi yang dimiliki oleh peternak terdiri dari tujuh kategori yaitu pedet jantan (PJ), pedet betina (PB), sapi dara (SD), sapi laktasi (SL), sapi kering (SK) dan sapi jantan dewasa (SJD). Pada penelitian ini semua ternak sapi disetarakan ke dalam Satuan Ternak (ST), dimana satu satuan ternak setara dengan satu ekor sapi dewasa atau dua ekor sapi dara atau empat ekor pedet. Usaha peternakan sapi perah di wilayah kerja KPSBU Lembang termasuk usaha peternakan rakyat karena berdasarkan penelitian, rata-rata peternak memiliki sapi laktasi kurang dari 10 ekor atau hanya sebanyak 3,18 satuan ternak (ST) dari rata-rata kepemilikan sapi 4,03 ST (62,62 %).
Kepemilikan ternak sapi perah oleh peternak di lokasi penelitian saat ini rata- rata mengalami penurunan sebesar 0,25 ST di peternak tipe pertama, 0,24 ST peternak tipe kedua dan 0,34 ST di tipe peternak ketiga. Hal ini dikarenakan setahun lalu peternak menjual sapi perah baik sapi laktasi, pedet maupun sapi jantan dengan alasan kenaikan biaya pakan, kesulitan dalam mencari pakan hijauan serta untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga peternak. Perubahan jumlah kepemilikan ternak sapi perah di Wilayah Kerja KPSBU Lembang tahun 2006 dan tahun 2007 ditunjukkan oleh Tabel 19.
Tabel 19. Perubahan Jumlah Kepemilikan Ternak Sapi Perah Responden di Wilayah Kerja KPSBU Lembang Tahun 2006 dan Tahun 2007
Tipe 1 Tipe 2 Tipe 3 Kepemilikan ternak sapi perah
Jumlah (ST) Jumlah (ST) Jumlah (ST)
Tahun 2006 4,16 4,15 4,63
Tahun 2007 3,91 3,91 4,29
Berdasarkan penelitian pada peternak sapi perah di Wilayah Kerja KPSBU Lembang, rata-rata beranak pertama sapi perah di peternak tipe pertama, kedua dan ketiga masing-masing berumur 27,63 bulan, 27,45 bulan dan 27,35 bulan. Umur beranak ini sudah sesuai, karena menurut Sudono, Sapi Frisian Holstein (FH) atau keturunannya dapat beranak pada umur 2 – 2,5 tahun asalkan tata laksana dan pemberian makanan pada anak-anak dan sapi dara cukup baik. Umur beranak
pertama sapi penting untuk diperhatikan dalam usahaternak sapi perah, karena akan berhubungan dengan produktivitas ternak sapi dan efisiensi usaha.
Selain umur beranak pertama, yang perlu diperhatikan dalam usahaternak sapi perah untuk mencapai efisiensi produksi adalah lama laktasi. Rata-rata lama laktasi sapi perah di peternak tipe pertama, kedua dan ketiga masing-masing 9,37 bulan, 9,70 bulan dan 9,73 bulan (mendekati 10 bulan), sedangkan menurut Sudono (1999), lama laktasi yang baik adalah sekitar 10 bulan. Pengaturan lama laktasi yang baik akan meningkatkan produktivitas sapi perah pada periode laktasi selanjutnya.
Produktivitas sapi perah pada periode laktasi selanjutnya dipengaruhi oleh lama laktasi dan masa kering. Berdasarkan penelitian, peternak sapi perah di Wilayah Kerja KPSBU Lembang menghentikan pemerahan susu saat sapi perah mereka bunting 7 bulan karena rata-rata masa kering sapi perah di lokasi penelitian pada peternak tipe pertama, kedua dan ketiga masing-masing adalah 2,05 bulan, 2,10 bulan dan 1,89 bulan. Sementara itu, selang beranak sapi perah di lokasi penelitian aalah sekitar 13 bulan (berdasarkan sevice per conception atau S/C). Tingginya S/C disebabkan oleh siklus berahi induk sapi yang tidak teratur dan atau pengamatan (deteksi) berahi oleh peternak kurang tepat. Masa kering dan selang beranak sapi perah di Wilayah Kerja KPSBU Lembang sudah sesuai, karena menurut Sudono (1999) masa kering yang baik adalah selama ± 2 bulan dan selang beranak yang optimal adalah 12-13 bulan. Selang beranak yang diperpanjang sampai 450 hari akan meningkatkan produksi susu pada laktasi yang akan datang, namun usahaternak yang dijalankan tidak ekonomis, karena perbandingan antara produksi susu dengan pakan ternak yang diberikan tidak sepadan. Data teknis reproduksi ternak sapi perah di peternak rakyat Wilayah kerja KPSBU Lembang tertera pada Tabel 20.
Tabel 20. Data Teknis Ternak Sapi Perah Responden di Wilayah Kerja KPSBU Lembang
Uraian Tipe 1 Tipe 2 Tipe 3
Umur Beranak pertama (bulan) 27,63 27,45 27,35
Masa laktasi (bulan) 9,37 9,70 9,73
Masa kering (bulan) 2,05 2,10 1,89
S/C (kali) 2,48 2,61 2,52
Produksi susu yang dihitung meliputi jumlah susu yang dijual dan jumlah susu yang dikonsumsi oleh keluarga peternak. Pemerahan susu dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore) dengan rata-rata jarak pemerahan 10 jam lebih 46 menit, karena produksi susu pada sapi-sapi di lokasi penelitian hanya 14,86 liter per ekor per hari. Pemerahan yang dilakukan lebih dari dua kali sehari hanya dikerjakan pada sapi-sapi yang berproduksi tinggi (lebih dari 20 liter per ekor per hari).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe peternak kedua menghasilkan jumlah susu sapi yang paling besar diantara tipe peternak yang lainnya. Hal ini dikarenakan adanya tambahan ampas tahu pada pakan penguat dengan rasio bahan kering hijauan dan penguat mencapai 50,29 : 49,71. Semakin tinggi penggunaan pakan penguat pada sapi laktasi, maka produksi susu akan semakin tinggi.
Kandang
Kandang merupakan syarat penting bagi pemeliharaan ternak. Pemeliharaan ternak sapi di lokasi penelitian dilakukan dengan cara mengandangkan ternak sapi sepanjang tahun. Ternak sapi dikandangkan dan tidak pernah digembalakan. Hal ini dikarenakan adanya keterbatasan kepemilikan lahan oleh peternak. Tipe kandang yang digunakan oleh peternak di lokasi penelitian bervariasi, yaitu tipe ganda dan tunggal, serta disekat dan tidak disekat. Tipe kandang ini bervariasi sesuai dengan ketersediaan lahan kandang dan kemampuan ekonomi peternak. Tata letak kandang para peternak anggota KPSBU pun sangat bervariasi, tetapi umumnya (57,91 %) kandang diletakkan di belakang rumah dengan alasan supaya mudah diawasi dan memudahkan perawatan. Lantai kandang terbuat dari semen, namun sebagian besar peternak (42,11 %) melapisi lantai kandang dengan karet yang tahan lama. Hal ini dikarenakan karet dapat membuat sapi lebih aman berpijak. Lantai kandang yang hanya menggunakan semen, dapat menyebabkan sapi terpeleset jika lantai sedang dalam keadaan basah. Selain karet, peternak di lokasi penelitian juga ada yang melapisi lantai kandang dengan papan (16,49 %), yaitu agar dapat mencegah sapi terpeleset.
Dinding kandang sapi di lokasi penelitian terbuat dari semen agar kokoh, sedangkan tiang kandang terbuat dari kayu atau bambu. Atap kandang menggunakan genteng, asbes dan atau seng. Atap kandang yang terbuat dari seng tidak cukup nyaman bagi ternak, karena akan menimbulkan hawa panas pada ternak di siang hari.
Luas kandang yang dimiliki oleh peternak rata-rata 3,84 m2. Ukuran kandang per satu ekor sapi dewasa rata-rata 1,5m x 2,5m dengan ketinggian antara 2,5-3 m. Namun, biasanya peternak menyatukan dua ekor sapi dalam satu lokal yaitu dengan ukuran 3 m x 2,5 m. Luas kandang pedet adalah setengah kali luas sapi dewasa dengan ketinggian yang sama. Setiap ternak memiliki tempat makan dan tempat minum sendiri. Air minum untuk ternak biasanya selalu tersedia di kandang sehingga peternak tidak perlu memberikan air minum setiap waktu.
Pakan
Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha peternakan sapi perah yaitu pemberian pakan. Pakan yang diberikan oleh peternak di Wilayah Kerja KPSBU Lembang terdiri dari hijauan, konsentrat, ampas tahu dan ampas singkong, namun terkadang ada peternak yang menambah pakan penguat dengan ampas bir, dedak, jerami dan atau bonggol pisang pada saat musim kemarau karena sulitnya mencari hijauan. Pemberian pakan selain hijauan, konsentrat, ampas tahu dan ampas singkong hanya dilakukan oleh sebagian kecil (9,09 %) peternak di lokasi penelitian, oleh karena itu peternak yang menggunakan pakan ampas bir, jerami dan atau bonggol pisang tidak dianalisis.
Pakan hijauan yang diberikan oleh peternak adalah jenis rumput lapang, rumput gajah (Pennisetum purpureum) dan rumput raja (Pennisetum purputhypoides). Rumput-rumput tersebut didapatkan dari lahan mereka sendiri, atau lahan yang peternak sewa baik sewa dari perhutani, ataupun sewa dari orang lain. Walaupun peternak sudah memiliki lahan rumput, baik lahan sendiri ataupun lahan sewa, kekurangan dalam pemberian pakan hijauan tetap terjadi. Bahkan ada peternak yang mencari hijauan tersebut ke daerah Subang, karena pada saat penelitian, di Kecamatan Lembang sedang terjadi kemarau panjang dan sulit mendapatkan hijauan. Biaya tambahan pun harus dikeluarkan untuk transportasi dalam mencari rumput.
Pemberian ampas tahu dan ampas singkong bertujuan untuk mengurangi penggunaan konsentrat karena alasan ekonomis. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya pakan. Ampas tahu dan ampas singkong diperoleh dari limbah pabrik pembuatan makanan yang berasal dari kacang kedelai dan singkong. Peternak secara berkelompok membeli ampas tahu dan ampas singkong dalam satuan mobil bak. Hal
ini dapat meringankan biaya pakan bagi peternak. Harga konsentrat Rp 975,00/Kg, sedangkan harga ampas tahu atau onggok Rp 400,00/Kg. Pada saat penelitian berlangsung, sempat terjadi kenaikan harga konsentrat yaitu dari Rp 825,00/Kg menjadi Rp 975,00/Kg atau sebesar 18,18 persen. Kondisi tersebut membuat peternak agak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pakan. Salah satu cara mengatasinya adalah dengan mengurangi pemberian konsentrat dan menambah pemberian ampas tahu atau ampas singkong.
Berdasarkan Tabel 21, pemberian pakan hijauan rata-rata oleh peternak tipe pertama lebih banyak dari pada pemberian pakan hijauan rata-rata oleh peternak tipe kedua dan ketiga yaitu 54,48 kg/ST/hari, sedangkan pemberian pakan penguat yang paling banyak adalah pada tipe peternak kedua yaitu dengan perbandingan jumlah bahan kering (BK) hijauan dan penguat 50,29 : 49,71. Pemberian pakan yang dilakukan oleh peternak anggota KPSBU sudah sesuai karena hampir mendekati standar yang dianjurkan, yaitu 60 persen hijauan dan 40 persen penguat (Sudono, 1999). Komposisi penggunaan pakan akan mempengaruhi jumlah produksi susu yang dihasilkan. Pemberian rumput yang lebih banyak akan menghasilkan susu dengan kadar lemak tinggi, namun dengan produksi susu yang rendah (jumlahnya). Sementara itu, hijauan mengandung serat kasar tinggi yang akan mengakibatkan pakan sulit dicerna jika diberi secara berlebihan.
Tabel 21. Rata-rata Penggunaan Pakan Ternak Sapi Perah Responden di Wilayah Kerja KPSBU Lembang
Tipe Rata-rata kepemilikan sapi (ST) Rumput (Kg/ST) Ampas tahu (Kg/ST) Konsentrat (Kg/ST) Ampas singkong (Kg/ST) Rasio BK hijauan : penguat 1 3,91 54,48 - 8,40 - 66,05 : 33,95 2 3,91 43,30 14,75 9,56 - 50,29 : 49,71 3 4,29 49,64 - 8,51 7,61 60,89 : 39,11
Penelitian menunjukkan bahwa peternak memberi pakan hijauan dan pakan penguat dengan frekuensi dua sampai tiga kali dalam satu hari yaitu pada pagi hari setelah pemerahan, siang hari, dan sore hari setelah pemerahan. Pada pagi hari pakan penguat diberikan setelah pemerahan, sedangkan pada sore hari pakan penguat diberikan sesaat sebelum pemerahan. Sebagai penguat sapi yang sedang bunting, terkadang beberapa peternak menggunakan mineral yang dicampurkan dengan pakan penguat sebanyak 30 gr/ekor/hari. Tidak semua peternak menggunakan mineral, hal
ini disebabkan dengan penggunaan mineral berarti menambah biaya pakan untuk ternak, selain itu peternak mengungkapkan bahwa di dalam konsentrat sudah mengandung mineral.
Pemberian air minum pada sapi di lokasi penelitian dilakukan secara tidak terbatas (ad libitum). Peternak akan segera menambah air dalam ember minum, bila sisa air dalam ember tersebut tinggal sedikit. Hal ini dilakukan agar sapi tidak kekurangan air minum.
Tenaga kerja
Usaha peternakan yang baik harus mempunyai tenaga yang terampil dan berpengalaman. Tenaga kerja dalam usaha peternakan sapi perah sangat berperan dalam pemeliharaan sapi perah. Pemeliharaan sapi perah yang dilakukan oleh peternak di Wilayah Kerja KPSBU Lembang secara rutin diantaranya mencari hijauan, mencacah rumput, memberi pakan, membersihkan kandang, memandikan ternak, memerah susu dan mengangkut susu. Jumlah waktu yang digunakan untuk melakukan kegiatan usahaternak sapi perah di lokasi penelitian dihitung dalam satuan hari kerja pria (HKP). Satu HKP adalah 8 jam untuk kerja pria atau 6 jam untuk kerja wanita atau 4 jam untuk kerja anak (usia < 15 tahun). Jumlah waktu yang digunakan untuk melakukan kegiatan usahaternak sapi perah untuk setiap satuan ternak dalam satuan HKP ditunjukkan oleh Tabel 22.
Tabel 22. Jumlah Waktu dalam Kegiatan Usahaternak Sapi Perah per Satuan Ternak oleh Responden di Wilayah Kerja KPSBU Lembang
Tipe 1 Tipe 2 Tipe 3
Jenis Kegiatan Jumlah
(HKP/ST) Persentase (%) Jumlah (HKP/ST) Persentase (%) Jumlah (HKP/ST) Persentase (%) Memberi hijauan 0,02 6,41 0,02 7,41 0,02 5,70 Memberi konsentrat 0,02 7,64 0,02 7,21 0,02 6,80
Memberi air minum 0,01 4,49 0,01 3,87 0,01 3,67
Membersihkan kandang 0,03 11,07 0,03 11,08 0,03 11,58 Memandikan sapi 0,03 9,91 0,04 11,57 0,03 11,12 Memerah sapi 0,03 10,12 0,03 9,97 0,03 11,07 Mengangkut susu 0,01 3,65 0,02 3,93 0,01 3,90 Mencari hijauan 0,12 36,49 0,13 41,64 0,12 43,36 Mencacah rumput 0,03 10,22 0,01 3,32 0,01 2,80 Total 0,30 100,00 0,31 100,00 0,28 100,00
Tenaga kerja yang digunakan dalam usaha ternak sapi perah dapat dibedakan menjadi tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga. Tenaga kerja yang digunakan pada usahaternak sapi perah di Kecamatan Lembang sebagian besar (90,79 %) berasal dari dalam keluarga. Tabel 23 menunjukkan jumlah dan persentase penggunaan asal tenaga kerja pada semua tipe peternak.
Tabel 23. Penggunaan Tenaga Kerja Usahaternak Sapi Perah oleh Responden Sapi Perah di Wilayah Kerja KPSBU Lembang
Tipe 1 Tipe 2 Tipe 3
Asal Tenaga Kerja Jumlah (Orang) Persentase (%) Jumlah (Orang) Persentase (%) Jumlah (Orang) Persentase (%) Dalam Keluarga 69 90,79 77 90,59 111 89,52 Dalam&Luar keluarga 6 7,89 8 9,41 9 7,26 Luar keluarga 1 1,32 - - 4 3,21 Jumlah 76 100,00 85 100,00 124 100,00
Berdasarkan data penelitian, rata-rata penggunaan tenaga kerja dalam usahaternak sapi perah yang paling sedikit adalah pada tipe peternak ketiga, yaitu 0,28 HKP/ST/hari. Hal ini menunjukkan bahwa satu HKP pada peternak tipe ketiga dapat menangani 3,52 satuan ternak. Secara keseluruhan, penggunaan satu HKP oleh setiap peternak dapat menangani 3-4 ekor sapi dewasa. Rataan ini belum mencapai efisiensi penggunaan tenaga kerja karena satu HKP seharusnya mampu menangani 7-8 ekor sapi dewasa (Sinaga, 2003).
Penggunan tenaga kerja luar keluarga rata-rata berjumlah 1-3 orang pekerja dengan total biaya tenaga kerja berkisar antara Rp 400.000,00 sampai Rp 700.000,00 per bulan per orang. Tenaga kerja luar yang digunakan adalah pria dengan rata-rata berumur 20-40 tahun. Curahan tenaga kerja luar keluarga rata-rata dalam sehari adalah 5 jam 30 menit. Hal ini menunjukkan bahwa usahaternak sapi perah di kecamatan Lembang masih didominasi oleh penggunaan tenaga kerja dari dalam keluarga.
Obat-obatan dan Peralatan
Selain ternak sapi, kandang, pakan dan tenaga kerja, faktor produksi yang digunakan dalam usaha peternakan sapi perah adalah obat-obatan dan peralatan. Penyakit yang menyerang sapi-sapi perah di Wilayah Kerja KPSBU Lembang adalah diare, kembung, kaki bengkak, mastitis dan brucellosis. Pengobatan pertama yang dilakukan peternak jika mengetahui sapinya terkena penyakit khususnya diare atau
kurang nafsu makan adalah dengan menggunakan obat tradisional seperti jamu- jamuan. Peternak langsung melaporkan ternak yang berpenyakit parah seperti
brucellosis atau mastitis ke mantri (dari KPSBU) yang bertugas, jika tidak dapat ditangani oleh mantri maka ditangani oleh dokter hewan. Ternak sapi yang terkena mastitis dan tidak dapat diobati, langsung dibeli oleh KPSBU atau dijual ke tempat pemotongan hewan dengan harga yang relatif murah, yaitu setengah dari harga yang seharusnya.
Peralatan merupakan input produksi yang digunakan sebagai alat bantu usaha yang penggunaannya lebih dari satu tahun, sedangkan perlengkapan merupakan alat bantu usaha yang masa pemakaiannya kurang dari atau sama dengan satu tahun. Peralatan yang banyak digunakan peternak diantaranya cangkul, sekop, garpu kayu
milkcan, selang, timbangan, gerobak dan gentong plastik. Perlengkapan terdiri dari ember perah, ember makan, sabit, golok, pikulan, sikat, sapu lidi, kain lap dan panci. Umur ekonomis peralatan berkisar antara 2 sampai 10 tahun, sedangkan umur ekonomis perlengkapan berkisar antara 1 bulan sampai 1 tahun. Daftar nama, harga dan umur ekonomis peralatan yang digunakan oleh peternak di Wilayah Kerja KPSBU Lembang tertera pada Tabel 24.
Tabel 24. Daftar Nama Peralatan yang Digunakan dalam Usahaternak Sapi Perah oleh Responden di Wilayah Kerja KPSBU Lembang
Nama Umur ekonomis Harga per satuan Satuan
Cangkul 5 tahun 40.000 Buah
Sekop 2 tahun 30.000 Buah
Garpu kayu 5 tahun 40.000 Buah
Selang 10 tahun 1.000 Meter
Timbangan 10 tahun 150.000 Buah (25 Kg)
Milkcan: 10 L 10 tahun 320.000 Buah (10 L)
15 L 10 tahun 370.000 Buah (15 L)
20 L 10 tahun 420.000 Buah (20 L)
40 L 10 tahun 520.000 Buah (40 L)
Karet 10 tahun 370.000 Buah
Gerobak 5 tahun 250.000 Unit
Gentong plastik 5 tahun 25.000 Buah
Biaya Produksi Usahaternak Sapi Perah
Biaya produksi adalah kompensasi yang diterima oleh para pemilik faktor- faktor produksi atau biaya-biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam proses produksi, baik secara tunai maupun secara tidak tunai. Biaya produksi dapat
digolongkan menjadi dua macam yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap dalam usahaternak sapi perah di lokasi penelitian meliputi biaya air, listrik, telepon, biaya penyusutan kandang, penyusutan ternak, penyusutan peralatan, perawatan kandang, dan sewa serta pajak tanah. Biaya variabel dalam usahaternak di lokasi penelitian meliputi biaya pakan, biaya tenaga kerja, perlengkapan, biaya vaselin dan minyak tanah.
Tabel 25. Komponen Rata-rata Biaya Produksi Usahaternak Sapi Perah Responden di Wilayah Kerja KPSBU Lembang Tahun 2007
Tipe 1 Tipe 2 Tipe 3
Komponen biaya (Rp) (%) (Rp) (%) (Rp) (%) Pakan 20.553.354,61 54,00 28.523.328,45 69,17 25.578.779,91 55,71 Tenaga kerja 4.432.998,31 11,65 4.056.813,14 9,84 4.410.291,70 9,61 Air 72.031,58 0,19 116.823,53 0,28 130.570,84 0,28 Listrik 410.289,47 1,08 404.894,12 0,98 511.516,16 1,11 Telepon 74.210,53 0,19 28.941,18 0,07 76.451,61 0,17 Vaselin dan minyak tanah 406.188,95 1,07 173.957,65 0,42 232.057,84 0,51 Sewa dan pajak tanah 245.833,89 0,65 193.432,66 0,47 338.800,34 0,74 Perawatan kandang 2.042.187,50 5,37 1.584.285,71 3,84 1.620.909,09 3,53 Pembelian ternak 8.033.333,33 21,11 4.612.195,12 11,19 10.572.716,05 23,03 Perlengkapan 216.621,34 0,57 174.177,33 0,42 214.424,54 0,47 Penyusutan peralatan 530.692,27 1,39 435.333,77 1,06 608.522,19 1,33 Penyusutan ternak 45.000,00 0,12 47.823,53 0,12 50.201,61 0,11 Penyusutan kandang 996.578,95 2,62 882.289,41 2,14 1.569.915,32 3,42 Total 30.025.987,40 100,00 36.622.100,48 100,00 35.342.441,15 100,00
Sudono (1999) mengungkapkan bahwa biaya pakan dapat mencapai 60-80 persen dari total biaya sedangkan biaya produksi untuk tenaga kerja suatu peternakan berkisar 20 – 30 % dari total biaya. Berdasarkan data pada Tabel 25, biaya produksi terbesar yang dikeluarkan dalam usahaternak sapi perah di Wilayah Kerja KPSBU Lembang adalah biaya pakan, yaitu mencapai 54 persen pada peternak tipe pertama, 69,17 persen pada peternak tipe kedua dan 55,71 persen pada peternak tipe ketiga. Biaya pakan rata-rata pada peternak tipe kedua paling tinggi diantara biaya pakan rata-rata tipe peternak yang lainnya, yaitu Rp 28.523.328,45. Hal ini dikarenakan