Tabel III. Karakteristik Responden Siswa SMA Angkasa Adisutjipto Karakteristik Persentase (%) N = 100
Usia
Rp 300.000,00 – Rp 500.000,00 Rp 500.000,00 – Rp 700.000,00 Rp 700.000,00 – Rp 1.000.000,00
> Rp1.000.000,00
Penelitian ini dilakukan pada Siswa SMA Angkasa Adisutjipto di Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman. Penelitian ini dilakukan pada siswa SMA mengingat bahwa angka kejadian jerawat paling banyak terjadi pada usia remaja (Tjekyan, 2008).
Siswa SMA Angkasa Adisutjipto yang berpartisipasi dalam penelitian ini sebanyak 100 responden.
Pada tabel III karakteristik responden siswa SMA Angkasa Adisutjipto, diketahui bahwa kelompok usia terbesar responden adalah 17 tahun yaitu sebanyak 45%. Penelitian yang dilakukan pada siswa SMA Angkasa Adisutjipto, dari 100 orang responden yang bersedia mengisi kuesioner, sebanyak 52% (52 responden) perempuan
10
dan laki – laki sebanyak 48% (48 responden). Selanjutnya responden kelas XI paling banyak terlibat dalam pengisian kuesioner yaitu sebanyak 47%.
Berdasarkan tabel III karakteristik responden siswa SMA Angkasa Adisutjipto, uang saku dengan persentase terbesar adalah 41% yaitu < Rp 300.000,00. Dilihat dari jumlah uang saku perbulan yang diperoleh oleh siswa SMA Angkasa Adisutjipto menjadi salah satu faktor responden melakukan swamedikasi, dilihat dari segi biaya ke dokter yang relatif mahal dan pengalaman sering mengalami rasa sakit yang sama dan pengalaman pengobatan yang sama. Dimana tingkat pendapatan seseorang mempengaruhi keputusan seseorang dalam mengambil tindakan.
Jerawat menjadi salah satu masalah kulit yang sering ditemui dan mengganggu penampilan seseorang. Jerawat merupakan suatu kondisi dimana terjadi penyumbatan kelenjar minyak pada kulit dan disertai infeksi dan peradangan. Penyumbatan kelenjar minyak pada kulit biasanya terjadi pada bagian kulit wajah, leher, dada bagian atas, atau punggung yang berisi cairan putih kental, dapat juga berupa bintik hitam atau putih yang menonjol dan tidak sakit (Djunarko dan Hendrawati, 2011).
Berdasarkan pernyataan dari penelitian “Pernah mengalami jerawat pada bagian wajah”, dari pernyataan ini diperoleh hasil sebanyak 100 orang responden pernah mengalami jerawat pada bagian wajah. Penelitian ini dikhususkan jerawat yang terjadi pada bagian wajah karena lebih mempermudah peneliti untuk melakukan penelitian. Namun dalam penelitian ini tidak dilakukan penelitian secara langsung pada responden dikarenakan siswa melakukan pembelajaran secara online, sehingga pernyataan yang diberikan peneliti sudah mewakili.
Pada penelitian ini, peneliti juga memberikan deskripsi singkat terkait istilah – istilah yang digunakan pada penelitian ini untuk mempermudah responden dalam mengisi kuesioner penelitian yang berupa google form. Hal ini dikarenakan istilah yang digunakan merupakan istilah yang asing atau jarang digunakan pada siswa SMA,
11
sedangkan responden yang dituju merupakan siswa SMA. Berikut hasil penelitian dan pembahasan berdasarkan dimensi DAGUSIBU adalah sebagai berikut:
Tabel IV. Hasil Kuesioner Pengetahuan Jerawat pada Dimensi Dapatkan pada Responden Siswa SMA Angkasa Adisutjipto
No. Pernyataan Ya 2. Benzolac® dapat dilayani oleh apoteker di
apotek tanpa resep dokter.
52 (52%) 15 (15%) 33 (33%) 3. Obat jerawat Medi-klin®TR dapat dibeli
bebas tanpa resep dokter.
44 (44%) 23 (23%) 33 (33%) 4. Apoteker dapat melayani pembelian obat
jerawat di Apotek
71 (71%) 8 (8%) 21 (21%) 5. Obat jerawat yang berlogo obat keras
dapat dilayani oleh apoteker tanpa resep dokter.
66 (66%) 14 (14%) 20 (20%)
6. Medi-klin®TR dapat dibeli tanpa berkonsultasi dengan apoteker di apotek
50 (50%) 15 (15%) 35 (35%)
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009, masyarakat dapat memperoleh obat untuk tindakan swamedikasi melalui fasilitas pelayanan kesehatan seperti Apotek, Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik dan Toko Obat.
Berdasarkan tabel IV, pada item pernyataan “Obat jerawat dapat diperoleh di Apotek”
didominasi oleh jawaban ‘ya’ sebanyak 73%, selain itu responden menjawab ‘tidak’
sebanyak 5% dan menjawab ‘tidak tahu’ sebanyak 22%. Hal ini menggambarkan bahwa responden memiliki pengetahuan yang baik tentang obat untuk swamedikasi jerawat harus diperoleh difasilitas kesehatan yang resmi dan legal.
Obat untuk swamedikasi yang dapat diperoleh oleh masyarakat adalah golongan obat bebas, obat bebas terbatas serta obat golongan OWA (Menkes, 2016).
Berdasarkan tabel IV, pada item pernyataan “Benzolac® dapat dilayani oleh apoteker di apotek tanpa resep dokter” didominasi oleh jawaban ‘ya’ sebanyak 52%, selain itu responden menjawab ‘tidak’ sebanyak 15% dan menjawab ‘tidak tahu’ sebanyak 33%.
Selanjutnya pada item pernyataan “Obat jerawat Medi-klin®TR dapat dibeli bebas
12
tanpa resep dokter” didominasi oleh jawaban ‘ya’ sebanyak 44%, selain itu responden menjawab ‘tidak’ sebanyak 23% dan menjawab ‘tidak tahu’ sebanyak 33%.
Berdasarkan jawaban responden yang didominasi oleh jawaban ‘ya’ terkait pernyataan tersebut dapat digambarkan bahwa responden memiliki pengetahuan yang cukup tentang merek obat jerawat dan golongan obat yang dapat dibeli tanpa resep atau dengan resep dokter. Namun, banyak juga responden yang menjawab tidak dan tidak tahu. Hal ini kemungkinan dikarenakan kurangnya pengetahuan responden tentang golongan obat dan bisa juga disebabkan karena responden belum terlalu mengenal merek obat Benzolac® dan Medi-klin®TR secara lazim. Pada item pernyataan “Obat jerawat yang berlogo obat keras dapat dilayani oleh apoteker tanpa resep dokter”
didominasi oleh jawaban ‘ya’ sebanyak 66%, selain itu responden menjawab ‘tidak’
sebanyak 14% dan menjawab ‘tidak tahu’ sebanyak 20%. Obat jerawat Medi-klin®TR merupakan obat dengan golongan obat keras (logo merah dengan lingkaran hitam) yang dimana pembeliaannya harus dengan resep dokter (Badan POM, 2018).
Tenaga kesehatan yang berhak memberikan layanan swamedikasi adalah Apoteker.
Apoteker wajib memberikan informasi terkait obat yang diberikan dalam hal penggunaan obat, penyimpanan dan pembuangan obat (PerPres, 2009). Berdasarkan tabel IV, pada item pernyataan “Apoteker dapat melayani pembelian obat jerawat di Apotek” didominasi oleh jawaban ‘ya’ sebanyak 71%, selain itu responden menjawab
‘tidak’ sebanyak 8% dan menjawab ‘tidak tahu’ sebanyak 21%. Selanjutnya pada item penyataan “Medi-klin®TR dapat dibeli tanpa berkonsultasi dengan apoteker di apotek”
didominasi oleh jawaban ‘ya’ sebanyak 50%, selain itu responden menjawab ‘tidak’
sebanyak 15% dan menjawab ‘tidak tahu’ sebanyak 35%. Berdasarkan jawaban responden pada pernyataan diatas, menggambarkan bahwa responden memiliki pengetahuan yang baik dan cukup tentang tenaga kesehatan yang berhak memberikan pelayanan terkait obat yaitu apoteker. Adanya pemberi informasi obat di fasilitas kesehatan dalam hal ini adalah apoteker maka dapat menjamin mutu serta kualitas obat, sehingga terhindar dari obat palsu atau obat kadaluarsa (Lutfiyati, et al., 2017).
13
Tabel V. Hasil Kuesioner Pengetahuan Jerawat pada Dimensi Gunakan pada Responden Siswa SMA Angkasa Adisutjipto
No. Pernyataan Ya 1. Obat jerawat digunakan untuk
mempercepat penyembuhan jerawat
80 (80%) 2 (2%) 18 (18%) 2. Semua obat jerawat dapat dihentikan bila
merasa telah sembuh
12 (12%) 66 (66%) 22 (22%) 3. Obat jerawat yang mengandung sulfur
dapat mempercepat penyembuhan jerawat
49 (49%) 4 (4%) 47 (47%) 4. Obat jerawat dalam bentuk salep
dioleskan pada jerawat 1-2 kali sehari.
68 (68%) 3 (3%) 29 (29%) 5. Obat jerawat dalam sediaan topikal yang
telah dibuka lebih dari 30 hari masih bisa digunakan
32 (32%) 22 (22%) 46 (46%)
6. Kulit harus dalam keadaan bersih sebelum menggunakan obat jerawat
92 (92%) 4 (4%) 4 (4%) 7. Tidak perlu mencuci tangan sebelum
mengoleskan obat jerawat.
85 (85%) 13 (13%) 2 (2%) 8. Bila obat jerawat yang digunakan
menimbulkan efek samping (gatal, kemerahan, dsb), maka segera konsultasikan kepada dokter
87 (87%) 8 (8%) 5 (5%)
9. Obat jerawat boleh digunakan ketika kulit tidak berjerawat
66 (66%) 11 (11%) 23 (23%)
Penggunaan obat jerawat untuk swamedikasi harus sesuai dengan aturan yang tertera pada wadah atau etiket obat. Penggunaan obat yang rasional meliputi tepat diagnosis, tepat indikasi penyakit, tepat pemilihan obat, tepat dosis, tepat cara pemberian, tepat interval waktu pemberian, tepat lama pemberian, waspada efek samping, tepat penilaian kondisi pasien, tepat informasi, tepat tindak lanjut, tepat penyerahan obat (Kemenkes RI, 2011).
Berdasarkan tabel V, pada item pernyataan “Obat jerawat digunakan untuk mempercepat penyembuhan jerawat” didominasi oleh jawaban ‘ya’ sebanyak 80%, selain itu responden menjawab ‘tidak’ sebanyak 2% dan menjawab ‘tidak tahu’
14
sebanyak 18%. Berdasarkan jawaban responden, dapat digambarkan bahwa responden memiliki pengetahuan yang baik tentang kegunaan obat jerawat untuk mempercepat penyembuhan jerawat. Penggunaan obat secara rasional meliputi tepat indikasi (Kemenkes RI, 2011). Namun banyak responden yang menjawab tidak tahu, hal ini dapat dikarenakan kurangnya pengetahuan responden tentang kegunaan obat jerawat.
Hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan obat yaitu lama pemakaian (obat dikonsumsi sampai habis atau dikonsumsi saat keluhan muncul) (Kemenkes RI, 2011). Berdasarkan tabel V, pada item pernyataan “Semua obat jerawat dapat dihentikan bila merasa telah sembuh” didominasi oleh jawaban ‘tidak’ sebanyak 66%, selain itu responden yang menjawab ‘ya’ sebanyak 12% dan menjawab ‘tidak tahu’
sebanyak 22%. Banyak responden yang menjawab tidak terkait pernyataan tersebut, dapat menggambarkan bahwa kurangnya pengetahuan responden tentang aturan penggunaan obat. Obat jerawat harus digunakan sampai habis dengan tujuan mengoptimalkan pengobatan (Lutfiyati, et al., 2017). Sedangkan pada item pernyataan
“obat jerawat boleh digunakan ketika kulit tidak berjerawat” didominasi oleh jawaban
‘ya’ sebanyak 66%, selain itu responden menjawab ‘tidak’ sebanyak 11% dan menjawab ‘tidak tahu’ sebanyak 23%. Berdasarkan jawaban responden yang didominasi oleh jawaban ‘ya’ dapat menggambarkan bahwa responden memiliki pengetahuan yang cukup tentang aturan penggunaan obat. Penggunaan obat yang salah akan menyebabkan suatu kejadian yang tidak diinginkan berupa medication error seperti kesalahan dosis sehingga terapi tidak efektif atau overdose. Hal tersebut menyebabkan terapi menjadi tidak rasional (Depkes, 2008).
Sulfur bekerja sebagai antibakteri sehingga efektif mengatasi jerawat yang disebabkan oleh bakteri (Djunarko dan Hendrawati, 2011). Berdasarkan tabel V, pada item pernyataan “obat jerawat yang mengandung sulfur dapat mempercepat penyembuhan jerawat” didominasi oleh jawaban ‘ya’ yaitu 49%, selain itu responden yang menjawab ‘tidak’ sebanyak 4% dan yang menjawab ‘tidak tahu’ sebanyak 47%.
Berdasarkan hasil tersebut dapat menggambarkan pengetahuan responden yang cukup
15
tentang kandungan dalam obat jerawat yang dapat mempercepat penyembuhan jerawat.
Namun, banyak juga responden yang menjawab tidak tahu pada pernyataan tersebut.
Hal tersebut kemungkinan dikarenakan kurangnya pengetahuan responden tentang kandungan zat aktif dalam obat jerawat. Adapun terapi farmakologi swamedikasi jerawat yaitu menggunakan obat – obatan yang mengandung sulfur, benzoil peroksida, resorsinol, dan asam salisilat (Djunarko & Hendrawati, 2011).
Berdasarkan tabel VII, pada item pernyataan “obat jerawat dalam bentuk salep dioleskan pada jerawat 1 – 2 kali sehari” didominasi oleh jawaban ‘ya’ sebanyak 68%, selain itu responden menjawab ‘tidak’ sebanyak 3% dan menjawab ‘tidak tahu’
sebanyak 29%. Berdasarkan jawaban responden yang didominasi oleh jawaban ‘ya’
dapat menggambarkan bahwa reponden memiliki pengetahuan yang baik tentang aturan penggunaan obat jerawat. Penggunaan obat jerawat dalam bentuk sediaan salep yaitu dioleskan pada bagian yang berjerawat 2 x sehari saat muka dalam keadaan bersih (Djunarko & Hendrawati, 2011). Pada item pernyataan “obat jerawat dalam sediaan topikal yang telah dibuka lebih dari 30 hari masih bisa digunakan” didominasi oleh jawaban ‘tidak tahu’ sebanyak 46%, selain itu responden menjawab ‘ya’ sebanyak 32%
dan menjawab ‘tidak’ sebanyak 22%. Pernyataan tersebut didominasi oleh jawaban tidak tahu dan juga tidak sedikit responden yang menjawab ‘tidak’. Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya pengetahuan responden tentang aturan penggunaan obat.
Pengetahuan responden yang kurang tentang cara penggunaan obat dapat menyebabkan efek terapi tidak maksimal. Penggunaan obat yang salah akan menyebabkan suatu kejadian yang tidak diinginkan berupa medication error sehingga terapi menjadi tidak efektif. Hal ini menyebabkan terapi menjadi tidak rasional (Depkes, 2008).
Berdasarkan tabel V, pada item pernyataan “kulit harus dalam keadaan bersih sebelum menggunakan obat jerawat” didominasi oleh jawaban ‘ya’ sebanyak 92%, selain itu responden menjawab ‘tidak’ sebanyak 4% dan menjawab ‘tidak tahu’
sebanyak 4%. Pada item pernyataan “tidak perlu mencuci tangan sebelum mengoleskan
16
obat jerawat” didominasi oleh jawaban ‘ya’ sebanyak 85%, selain itu responden menjawab ‘tidak’ sebanyak 13% dan menjawab ‘tidak tahu’ sebanyak 2%. Hasil jawaban tersebut menggambarkan responden memiliki pengetahuan yang baik.
Sebelum menggunakan obat jerawat khususnya obat dalam bentuk sediaan salep, kulit harus dalam keadaan bersih untuk mencegah terjadinya kontaminasi degan kotoran atau debu, dan keringat yang menempel pada kulit (Ameliani, et al, 2019).
Berdasarkan tabel V, pada item pernyataan “bila obat jerawat yang digunakan menimbulkan efek samping (gatal, kemerahan, dsb), maka segera konsultasikan kepada dokter” didominasi oleh jawaban ‘ya’ sebanyak 87%, selain itu responden menjawab ‘tidak’ sebanyak 8% dan menjawab ‘tidak tahu’ sebanyak 5%. Responden memiliki pengetahuan yang baik tentang pernyataan tersebut. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya responden yang menjawab ‘ya’. Obat yang menimbulkan efek samping harus dihentikan penggunaannya dan segera dikonsultasikan kepada dokter untuk mencegah hal yang tidak diinginkan. Obat yang menimbulkan efek samping harus dihentikan penggunaannya karena dapat memperparah gejala yang dialami (Setya, 2018).
Tabel VI. Hasil Kuesioner Pengetahuan Jerawat pada Dimensi Simpan pada Responden Siswa SMA Angkasa Adisutjipto
No. Pernyataan Ya
Kapsida® disimpan pada suhu kamar
71 (71%) 2 (2%) 27 (27%) 2. Obat jerawat dalam bentuk sediaan cair
seperti Cetaphil® disimpan dalam freezer
45 (45%) 14 (14%) 41 (41%) 3. Obat jerawat tidak harus disimpan sesuai
dengan petunjuk pada kemasan obat
68 (68%) 16 (16%) 16 16%)
Penyimpanan obat perlu diperhatikan untuk menjaga kualitas dan stabilitas obat yang digunakan. Penyimpanan obat yang tidak sesuai dengan standar suhu yang telah dituliskan di label atau kemasan obat maka akan mengakibatkan penurunan stabilitas
17
obat yaitu menyebabkan obat menjadi rusak karena adanya degradasi zat aktif maupun adanya kontaminasi oleh partikel asing karena sterilitas (Lutfiyati, et al., 2017).
Penyimpanan yang kurang sesuai juga berpengaruh terhadap efektivitas terapi (Pujiastuti dan Kristiani, 2019). Kebanyakan obat tidak boleh terpapar oleh sinar matahari secara langsung untuk itu obat perlu disimpan di tempat yang tertutup dan kering (Depkes RI, 2008).
Berdasarkan tabel VI, pada item pernyataan “obat jerawat dalam bentuk tablet seperti Kapsida® disimpan pada suhu kamar” didominasi oleh jawaban ‘ya’ sebanyak 71%, selain itu responden menjawab ‘tidak’ sebanyak 2% dan menjawab ‘tidak tahu’
sebanyak 27%. Berdasarkan jawaban responden terhadap pernyataan tersebut dapat digambarkan bahwa responden memiliki pengetahuan yang baik tentang cara penyimpanan obat. Pada item pernyataan “obat jerawat dalam bentuk sediaan cair seperti Cetaphil® disimpan dalam freezer” didominasi oleh jawaban ‘ya’ 45% dan jawaban ‘tidak tahu’ 41%, selain itu responden menjawab ’tidak’ sebanyak 14%.
Responden menjawab benar pada pernyataan tersebut kemungkinan besar karena responden mengetahui bentuk sediaan obat Cetaphil®, namun banyak juga responden yang menjawab tidak tahu. Menurut peneliti, hal ini dapat dikarenakan responden tidak mengetahui bentuk sediaan Cetaphil® dan tidak membaca aturan penyimpanan pada kemasan obat. Cetaphil® merupakan obat jerawat yang berbentuk cair. Jika Cetaphil® disimpan dalam freezer maka akan menyebabkan Cetaphil® membeku dan tidak dapat digunakan. Pada item pernyataan “obat jerawat tidak harus disimpan sesuai dengan petunjuk pada kemasan obat” didominasi oleh jawaban ‘ya’ sebanyak 68%, selain itu responden menjawab ‘tidak’ dan ‘tidak tahu’ sebanyak 16%. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat menggambarkan bahwa responden memiliki pengetahuan yang baik tentang cara penyimpanan obat. Obat harus disimpan sesuai dengan petunjuk pada kemasan dikarenakan setiap obat mempunyai cara penyimpanan yang berbeda – beda.
Oleh karena itu, petunjuk yang terdapat pada kemasan sangat membantu dalam penyimpanan obat. Penyimpanan obat yang tidak memerlukan kondisi khusus
18
sebaiknya disimpan pada kotak obat yang terlindung dari paparan sinar matahari langsung dan tidak terjangkau oleh anak – anak (Depkes RI, 2008). Penyimpanan obat yang tidak sesuai dapat menurunkan stabilitas obat yang pada akhirnya akan berpengaruh pada efektivitas obat tersebut dalam memberikan efek terapi (PP IAI, 2014).
Tabel VII. Hasil Kuesioner Pengetahuan Jerawat pada Dimensi Buang pada Responden Siswa SMA Angkasa Adisutjipto
No. Pernyataan Ya
mengalami perubahan bentuk perlu dibuang dikembalikan ke Apotek untuk dimusnahkan
44 (44%) 21 (21%) 35 (35%)
4. Obat jerawat dapat dibuang langsung pada tempat pembuangan sampah
24 (24%) 51 (51%) 25 (25%) 5. Obat jerawat sudah tidak dapat digunakan
jika sudah melewati tanggal kadaluarsa
91 (91%) 2 (2%) 7 (7%) 6. Obat jerawat dalam bentuk salep dapat
dibuang dengan cara, isi dibuang bersama wadah dengan label ke tempat sampah
22 (22%) 49 (49%) 29 (29%)
Obat jika telah mengalami kadaluarsa atau rusak maka obat tidak boleh dikonsumsi atau digunakan, untuk itu obat perlu dibuang. Selain penyimpanan obat yang tidak boleh sembarangan, pembuangan obat juga harus diperhatikan. Obat tidak boleh dibuang sembarangan, agar tidak disalahgunakan. Pembuangan obat dapat memperhatikan bentuk sediaan obat, hal ini dikarenakan setiap sediaan obat memili cara pembuangannya masing – masing (Depkes RI, 2008).
Berdasarkan tabel VII, pada item pernyataan “obat jerawat dalam bentuk kapsul, jika mengalami perubahan bentuk perlu dibuang” didominasi oleh jawaban ‘ya’
19
sebanyak 76%, selain itu reeponden menjawab ‘tidak’ sebanyak 6% dan menjawab
‘tidak tahu’ sebanyak 18%. Berdasarkan jawaban responden terhadap pernyataan tersebut yang didominasi oleh jawaban ‘ya’ menggambarkan bahwa responden memiliki pengetahuan yang baik tentang cara membuang obat. Pada item pernyataan
“obat jerawat jika mengalami perubahan warna atau bau atau bentuk tidak perlu dibuang” didominasi oleh jawaban ‘ya’ sebanyak 65%, selain itu responden menjawab
‘tidak’ sebanyak 21% dan menjawab ‘tidak tahu’ sebanyak 14%. Obat yang sudah mengalami perubahan warna, bau atau bentuk harus dibuang karena sudah tidak dapat digunakan dan juga dapat berpengaruh terhadap stabilitas dan efektivitas terapi (Pujiastuti dan Kristiani, 2019).
Berdasarkan tabel VII, pada item pernyataan “obat jerawat yang sudah rusak dapat dikembalikan ke Apotek untuk dimusnahkan” didominasi oleh jawaban ‘ya’
sebanyak 44%, selain itu responden menjawab ‘tidak’ sebanyak 21% dan menjawab
‘tidak tahu’ sebanyak 35%. Obat jerawat yang sudah rusak dapat dikembalikan ke apotek untuk kemudian dimusnahkan sesuai dengan prosedur. Obat yang rusak harus dimusnahkan sesuai dengan jenis dan bentuk sediaan. Pada item pernyataan “obat jerawat dapat dibuang langsung pada tempat pembuangan sampah” didominasi oleh jawaban ‘tidak’ sebanyak 51%, selain itu responden menjawab ‘ya’ sebanyak 24% dan menjawab ‘tidak tahu’ sebanyak 25%. Menurut peneliti, hal ini dapat dikarenakan kurangnya pengetahuan responden tentang cara membuang obat yang tepat. Setiap bentuk sediaan obat memiliki cara pembuangannya masing – masing. Obat tidak boleh dibuang langsung pada tempat sampah karena dapat mecemari lingkungan dan dapat dipergunakan lagi oleh oknum yang tidak bertanggungjawab sehingga dapat disalahgunakan (Pujiastuti dan Kristiani, 2019). Obat yang rusak sebelum dibuang seharusnya dikeluarkan terlebih dahulu dari wadah aslinya dan dihancurkan (sediaan padat digerus dan sediaan cair diencerkan), kemudian setelah itu baru dibuang ke tempat sampah dengan wadah tertutup rapat (Lutfiyati, et al., 2017).
20
Berdasarkan tabel VII, pada item pernyataan “obat jerawat sudah tidak dapat digunakan jika sudah melewati tanggal kadaluarsa” didominasi oleh jawaban ‘ya’
sebanyak 91%, selain itu responden menjawab ‘tidak’ sebanyak 2% dan menjawab
‘tidak tahu’ sebanyak 7%. Obat yang sudah mengalami kadaluarsa jika tetap digunakan akan menimbulkan efek samping pada pengguna. Jika obat sudah melewati tanggal kadaluarsa, maka obat sudah tidak boleh digunakan. Pada item pernyataan “obat jerawat dalam bentuk salep dapat dibuang dengan cara, isi dibuang bersama wadah dengan label ke tempat sampah” didominasi oleh jawaban ‘tidak’ sebanyak 49%, selain itu responden menjawab ‘ya’ sebanyak 22% dan menjawab ‘tidak tahu’ sebanyak 29%.
Pada saat akan membuang obat terlebih dahulu harus menghilangkan semua label dari wadah obat, untuk obat berbentuk padat harus dihancurkan terlebih dahulu sebelum dibuang, sedangkan untuk obat berbentuk cair dibuang ke dalam saluran air (PP IAI, 2014). Menurut peneliti, tidak banyak masyarakat awam yang mengetahui cara pembuangan obat yang benar, khususnya dalam penelitian ini yaitu siswa SMA.
Hasil dari 4 dimensi tersebut secara keseluruhan menggambarkan kondisi pengetahuan responden pada tiap dimensi. Persentase kesalahan dalam menjawab pernyataan kuesioner dapat dijadikan kesempatan untuk mengadakan edukasi mengenai DAGUSIBU obat yang digunakan untuk swamedikasi jerawat bagi siswa SMA. Materi edukasi yang disediakan dapat diambil dari pernyataan yang mayoritas dijawab salah per dimensi DApatkan, GUnakan, SImpan, maupun BUang. Hal ini disarankan peneliti dikarenakan alasan kesalahan responden dalam menjawab hanyalah sebuah deduksi peneliti belaka yang masih perlu dibuktikan secara kuantitatif dengan intervensi edukasi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Perspektif kuantitatif yang dimaksud dapat dilaksanakan dengan melakukan pre-test dan post-test.
Tabel VIII. Distribusi tingkat pengetahuan responden tentang swamedikasi jerawat
Kategori Jumlah (n) Persentase (%)
21
Berdasarkan hasil penelitian (tabel VIII), dari total nilai pengetahuan mengenai swamedikasi jerawat, diketahui bahwa responden memiliki pengetahuan kurang sebanyak 64%, pengetahuan cukup 36% dan pengetahuan baik 0%. Penelitian terkait swamedikasi jerawat dilakukan Febryery pada tahun 2012 menunjukkan bahwa responden terkhususnya mahasiswa memiliki pengetahuan yang baik tentang swamedikasi jerawat. Namun dalam penelitian ini diketahui bahwa responden memiliki pengetahuan yang cukup hingga kurang tentang swamedikasi jerawat.
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Menurut WHO (1984) bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku karena adanya 4 alasan pokok yaitu pemikiran dan perasaan, acuan dan referensi dari seseorang, sumber daya dan sosio budaya. Bentuk dari pemikiran dan perasaan salah satunya adalah pengetahuan. Seseorang akan berperilaku didasarkan beberapa pertimbangan yang diperoleh dari tingkat pengetahuannya (Notoatmodjo, 2010).
Berdasarkan hasil dari tabel VIII, responden memliki pengetahuan yang cukup hingga kurang, sehingga diperlukan adanya penelitian lebih lanjut terkait swamedikasi jerawat dan penelitian kuantitatif lanjutan untuk memperkuat hasil dari penelitian deskriptif ini.
22
KESIMPULAN
Siswa SMA Angkasa Adisutjipto di Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman memiliki pengetahuan yang kurang sebanyak 64% hingga cukup sebanyak 36%
tentang swamedikasi jerawat dari aspek DaGuSiBu.
SARAN
Perlu adanya penelitian lebih lanjut terkait gambaran pengetahuan siswa SMA Angkasa Adisutjipto di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman tentang swamedikasi jerawat untuk membuktikan secara kuantitatif dengan intervensi edukasi DaGuSiBu obat yang digunakan untuk swamedikasi jerawat. Data kuantitatif yang diperoleh adalah data pre-test dan post-test. Kuesioner yang telah dibuat dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan atau sebagai instrument penelitian pada penelitian sejenis.
23